Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 34 : Oita-san & Ishikawa-san


__ADS_3

*Sebuah Pabrik Bekas, Kyoto*


Setelah berhasil mengusir dua Assassin tadi, kini Oita-san bersama dengan Ishikawa-san ingin membicarakan sesuatu. Tapi Oita-san bilang kalau ia ingin bertemu dengan komplotan Ishikawa-san yang lainnya, jadi di sinilah mereka sekarang.


Di sebuah pabrik terbengkalai yang jauh dari jalan utama. Sepertinya pabrik ini sudah lama ditinggalkan tapi belum juga dirubuhkan, alat-alat pabrik penuh berada di sini dalam kondisi berdebu.


Orang biasa juga jarang datang ke tempat seperti ini karena tidak ada yang menarik di sini, kecuali mereka ingin mencari hantu atau menjual barang-barang tak terpakai di sini.


"Apa kalian tinggal di sini?" tanya Oita-san.


"Hmm? Tentu saja tidak, ini adalah tempatku berkumpul dengan teman-temanku. Dan di jam-jam seperti ini biasanya mereka berkumpul di sini. Karai, Hisui! Aku sudah kembali!"


Ishikawa-san memanggil nama teman-temannya dengan cukup keras. Karena di sini luas dan sudah cukup kosong, teriakannya sampai menggema. Tapi meski sudah begitu, tidak ada jawaban dari mereka.


"Apa mereka sedang tidak di sini, ya?" Ishikawa-san menengok ke kanan dan kiri untuk mencari keberadaan temannya yang tidak membalas teriakannya. "Tunggu di sini sebentar, ya? Aku akan mencari temanku dulu," ucap Ishikawa-san.


"Tentu, aku akan menunggu di sini," ucap Oita-san dengan senyum ramah.


Ishikawa-san kemudian keluar dari pabrik bekas ini untuk mencari kedua temannya, sementara Oita-san menunggu sendirian.


Suasana sepi dan lampu remang-remang di pabrik ini membuat suasana menjadi lebih kelam dan seram dari biasanya. Meski begitu, hal ini tidak mengganggu Oita-san sama sekali. Dengan tenang, Oita-san duduk di atas sebuah kotak kayu besar.


Cukup lama ia menunggu di dalam sini dan Ishikawa-san masih belum kembali. Karena bosan, Oita-san kemudian mencoba mencari hiburan dan menajamkan panca inderanya. Dan tepat saat ia melakukan itu, sebuah hembusan angin cukup besar mengarah padanya.


Zwuushh...


Meskipun hembusan angin yang datang cukup besar, tapi Oita-san hanya menghalanginya dengan tangan dan tidak bermaksud menghindarinya.


"Tidak usah sungkan, silahkan keluar saja. Aku tidak bermaksud buruk di sini," ucap Oita-san yang lagi-lagi masih dengan nada yang ramah.


Seseorang kemudian keluar dengan waspada dari balik bayang-bayang benda besar yang gelap. Seorang pria dengan rambut berwarna kastanye dan memakai baju warna kuning.


"Oh iya kau juga. Seseorang di belakangku, yang sepertinya mencoba menyerangku diam-diam, ya?"


Tebakan Oita-san sangat tepat, satu orang lagi muncul dari bagian gelap pabrik di belakang Oita-san. Pria itu memiliki rambut coklat dan memakai baju Hoodie merah dan celana jeans. Mereka berdua kemudian mendekati Oita-san dari arah yang berbeda.


"Apa yang kau lakukan di sini? Ini bukanlah tempat yang bisa orang asing kunjungi sembarangan," ucap si pria rambut kastanye.


"Oh benar juga, kalian tidak tahu apa-apa soal kedatanganku. Kebetulan aku datang kesini bersama dengan teman kalian, Ishikawa Kyujiro."


"Kyujiro? Lalu dimana dia?" tanyanya lebih lanjut.


"Kalau soal itu, sepertinya dia sedang keluar mencari kalian."


Seakan waktu sedang berpihak pada Oita-san saat ini, Ishikawa-san datang di saat yang tepat ke dalam pabrik dan membuktikan kalau Oita-san tidak berbohong.


"Oi, oi, tunggu sebentar Karai, Hisui! Jangan asal menyerang begitu saja dong! Orang ini adalah kenalanku. Perkenalkan, namanya adalah Murasaki Oita-san."


Karai dan Hisui berpandangan satu sama lain lalu kembali melihat ke arah Oita-san. Meskipun masih belum sepenuhnya percaya padanya, tapi dari tadi memang Oita-san tidak melakukan balasan sama sekali.


Malahan mereka yang menyerangnya duluan dan itu justru tidak sopan karena mereka tidak tahu tujuan sebenarnya Oita-san datang kesini dan juga tidak tahu kalau mereka bersama dengan Ishikawa-san.


"Maaf sudah menyerangmu, Murasaki-san. Aku hanya tidak terbiasa ada orang asing datang ke sini," ucap Hisui.


"Ah, tidak apa-apa. Aku sedikit mengerti perasaan kalian, kok."


Mereka bertiga kemudian duduk di atas kotak kayu besar yang mirip dengan yang diduduki oleh Oita-san sekarang dan mereka pun memulai pembicaraan karena itu memang tujuan awalnya.


"Jadi, apa yang anda ingin bicarakan dengan kami bertiga?" tanya Ishikawa-san.


"Dia ingin bicara dengan kita?"


"Kyujiro, sepertinya dia memang orang yang mencurigakan."


Keduanya kembali menaruh curiga dengan Oita-san. Meskipun begitu, Ishikawa-san tetap bersikeras kalau Oita-san bukanlah orang yang perlu dikhawatirkan. Tapi ketika mereka bertiga sudah sedikit percaya pada Ishikawa-san, nada bicara Oita-san tiba-tiba berubah menjadi serius.


"Jadi ... Apa kalian bertiga yang membuat kekacauan di daerah Kyoto akhir-akhir ini?" tanya Oita-san.


Tidak ada lagi senyuman yang dari tadi menghiasi wajahnya. Suasana yang sedetik lalu baru saja mencair, seketika kembali menjadi tegang karena pertanyaan Oita-san.

__ADS_1


Mereka bertiga juga bisa merasakan perubahan suasana yang tidak biasa, suasananya menjadi lebih dingin dan tidak mengenakkan secara tiba-tiba.


"Apa maksudmu?" tanya Karai.


"Aku sempat mendengar berita bahwa ada beberapa kasus sepasang kekasih menjadi korban luka dan bahkan ada yang sampai meninggal. Tidak ada bukti yang ditemukan di sana, sih. Tapi di salah satu kasus, sidik jari di sebuah pisau yang dipegang korban pun hanya ada sidik jari miliknya."


"Bukankah itu kejadian biasa? Lalu apa hubungannya dengan kami?"


"Oh iya, ada satu bukti lagi. Salah satu korban pernah bersaksi bahwa mereka diserang oleh tiga orang tidak dikenal. Dia bilang kalau salah satu dari mereka memberinya pisau dan tangannya bergerak sendiri membunuh kekasihnya, lalu setelah itu menusuk dirinya sendiri. Tapi karena bukti yang ia miliki tidak cukup, justru malah dia yang menjadi tersangkanya."


Oita-san kemudian mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah mereka bertiga. "Tiga orang itu kalian, kan?"


"Jangan bicara omong kosong, kau tadi bilang sendiri kalau bukti yang dia miliki tidak cukup. Dan kau dengan seenaknya menuduh kami begitu saja. Aku bisa saja melaporkanmu kepada polisi tentang laporan palsu, lho!"


Karai kembali mengelak, dia merasa bahwa dirinya tidak bersalah karena kasus-kasus yang disebut Oita-san sebelumnya tidak memiliki bukti kuat yang membuktikan kalau mereka adalah pelakunya.


Bahkan dia tidak segan untuk mengancam Oita-san dan berencana melaporkannya ke polisi.


Tapi Oita-san masih tetap tenang. Dia menyunggingkan senyum karena perlawanan sia-sia yang dilakukan oleh Karai.


Oita-san yakin sekali kalau dia tidak salah. Karena dia memiliki kemampuan khusus untuk itu. Untuk membuat mereka bertiga lebih percaya lagi, Oita-san mengeluarkan sedikit auranya yang berhasil mengintimidasi mereka.


"A-apa ini?!"


"Perasaanku tidak enak."


"Di-dia mau bertarung melawan kita bertiga?"


Mereka semua merasakannya dan itu sudah cukup untuk membuat mereka gentar dan wajah berani yang sebelumnya seketika melenyap.


"Aku punya kemampuan untuk mengetahui aura seseorang. Yang perlu aku lakukan hanyalah menyentuh benda yang terdapat aura itu dan aku sudah bisa mengetahui asal mereka ada di kota ini ...."


Dan Oita-san menunjuk mereka bergantian untuk menebak jenis Exception yang mereka miliki. "Kau yang berambut coklat adalah seorang Mind Power, yang berambut hitam Elemental, sedangkan Ishikawa-san adalah seorang Transformation, ya, kan?" Oita-san menunjukkan seringai karena dia yakin berhasil menebaknya dengan benar.


Semuanya terdiam. Meskipun dari awal mereka sudah tertekan dengan aura yang dikeluarkan oleh Oita-san, tapi dengan tebakan benarnya, membuat mereka semakin tidak bisa berkata apa-apa.


"Karena sudah tidak ada pembelaan lagi, aku bisa saja membawa kalian ke penjara. Tapi aku tidak datang kesini untuk itu, aku ingin berbicara—"


Sebelum Oita-san menyelesaikan ucapannya, Karai sudah lebih dulu menyerangnya dan menciptakan lesatan angin yang tajam, yang ia ciptakan dengan membelah udara dengan tangannya. Tapi dengan mudah dapat dihindari oleh Oita-san.


"Hoo ... Kau malah menyerangku. Apa itu artinya kau tidak tertarik dengan negosiasiku?" tanya Oita-san.


"Diamlah! Hisui, Kyujiro! Cepat bantu aku!"


Hisui yang belum berpindah dari belakang Oita-san, kemudian mengeluarkan sebuah pisau dari kantong Hoodie dan bersiap menusuk jantung Oita-san dari belakang. Tapi Oita-san dengan sigap dapat membelokkan badannya tanpa melihat ke belakang.


"A-apa?!"


"Jangan pikir aku melupakanmu, ya."


"Tunggu sebentar! Karai, Hisui!"


Ishikawa-san berteriak kepada kedua temannya. Tapi itu percuma karena mereka berdua tidak mendengarkannya sama sekali.


Sementara Oita-san menangkap tangan Hisui dan mengambil pisau yang sedang ia genggam, lalu setelah itu mendorongnya ke arah Karai. Beruntung Karai dapat menangkap Hisui dan meminimalisir dampak yang diterima olehnya.


"Apa kalian sudah melihat perbedaan kekuatan di antara kita?" ucap Oita-san.


"Tch!"


Oita-san memainkan pisau milik Hisui dengan melemparnya sedikit ke atas lalu menangkapnya lagi. Ia memegang pisau dengan bilah terbalik dan kemudian mulai menatap tajam ke arah Karai dan Hisui.


"Bisa kita mulai lagi?"


Oita-san menghilang dari tempatnya sebelumnya dan kini sudah berada di belakang Karai dengan posisi membelakanginya. Pisau yang ia pegang secara terbalik juga sudah penuh dengan darah segar.


"Ce-cepat sekali ...." Mata Karai tidak bisa mengikuti pergerakan cepat dari Oita-san dan dia pun terjatuh sambil memegangi lehernya yang terkoyak cukup dalam karena serangan Oita-san.


"Karai! Sialan, akan kubunuh ka—?!" Oita-san sudah berada di depan Hisui yang bahkan belum menyelesaikan kata-katanya. Matanya melebar karena tidak menyangka pergerakan cepat itu.

__ADS_1


"Kenapa? Kau ingin marah?"


Hisui tiba-tiba merasa kaku pada seluruh tubuhnya dan gemetaran yang tidak bisa berhenti. Benar. Ini adalah perasaan takut pada kematian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dan kematian itu kini ada di depan matanya.


Craaashh...


Dengan satu tebasan horizontal, membuat Hisui jatuh tersungkur hampir sama dengan keadaan Karai. Oita-san yang sudah selesai dengan cepat kemudian menjatuhkan pisau Hisui yang penuh dengan darah ke tubuh Hisui yg semakin lama semakin pucat.


Sementara Ishikawa-san tidak bisa apa-apa, diahanya bisa terdiam dan terjatuh lemas pada lututnya menyaksikan apa yang dilakukan oleh Oita-san kepada teman-temannya.


Dan kini perhatian Oita-san tertuju pada satu-satunya musuh yang masih hidup, yaitu Ishikawa-san. Dia terlalu kaku untuk melarikan dan juga sadar dengan perbedaan kekuatan mereka, lari adalah hal yang sia-sia.


"Apa ... kau ingin membunuhku juga?" tanya Ishikawa-san pasrah.


"Itu memang niatku."


Ishikawa-san tidak tahu perasaan apa yang dimilikinya saat ini. Dia benar-benar kebingungan dengan yang baru saja ia saksikan dan belum mencernanya dengan sempurna. Tapi dia juga tidak bisa menolak untuk tidak dibunuh. Atau itu yang ia pikirkan sebelumnya.


"Tapi jika kau melakukan apa yang aku minta, maka ada kemungkinan kalau nyawamu akan aku ampuni."


"Eh? Kau tidak akan membunuhku?"


"Aku akan lihat kondisinya. Tapi untuk sekarang aku memiliki penawaran untukmu."


Oita-san berbicara sambil mengelap darah yang ada pada tangan dan pakaiannya menggunakan sapu tangan. Membuat pembicaraan ini menjadi semakin menegangkan.


"Penawaran?"


"Bergabunglah dengan organisasi milikku, Black Rain. Aku masih membutuhkan bantuan tenaga orang."


Ishikawa-san masih terdiam karena ini terlalu mendadak. Kedua temannya baru saja di bunuh dan orang yang membunuh temannya malah menawarkannya untuk bergabung dengannya. Tapi Oita-san masih terus berbicara.


"Anggap saja ini adalah penawaran untuk nyawamu. Sebagai balasannya, asalkan kau tidak berbuat onar, kau bebas melakukan apapun yang kau mau. Bagaimana?" ucap Oita-san yang sudah selesai mengelap tangannya sampai bersih.


"Apa aku punya pilihan lain?"


"Tidak ada. Ingat kalau sekarang nyawamu berada di tanganku."


Ishikawa-san melihat keatas dan membayangkan hal-hal di masa lalu yang dia lakukan bersama dengan Karai dan Hisui. Masa-masa itu sudah tidak akan pernah mereka rasakan lagi karena mereka sudah tiada.


Tapi dia menarik nafas panjang dan kemudian menjawab.


"Baiklah, aku bergabung."


Oita-san meresponnya dengan sebuah senyuman. Dia juga mengulurkan tangannya dan membantu Ishikawa-san bangun dari posisi terlutut.


"Aku senang karena kau kooperatif. Kau tetap akan dapat bayaran dari setiap misi, kok. Kekuatanmu akan berguna dalam melawan monster dan itu adalah bagian dari misi-misimu."


"Monster ... makhluk-makhluk aneh yang muncul semakin banyak akhir-akhir ini? Jadi aku akan memusnahkan mereka mulai sekarang?"


"Yap. Bisa dibilang begitu."


Setelah negosiasi selesai dan berakhir Ishikawa-san bergabung ke Black Rain. Mereka berdua kemudian mengubur mayat Karai dan Hisui secara layak walaupun dengan sederhana. Setelah menguburnya, Ishikawa-san berdoa di depan kedua kuburan mereka.


"Kekuatan mereka berdua sebenarnya lumayan dan sangat sayang untuk dibunuh, tapi mau bagaimana lagi."


"Ya, mereka memang hebat."


"Kalau begitu, aku akan kembali. Akan ku kabari jika aku punya pekerjaan untukmu," ucap Oita-san yang berjalan pergi meninggalkan Ishikawa-san.


"Baik."


"Oh, iya. Aku hampir lupa ...." Tapi sebelum benar-benar pergi, dia sempat menghentikan langkahnya dan menengok ke belakang untuk memberikan satu pemberitahuan terakhir.


"Jangan pernah bicara soal hal ini di depan kedua anak itu. Ini ada di antara aku denganmu, mereka tidak perlu tahu apapun." Dan Oita-san pun benar-benar pergi dari sini.


Sementara Ishikawa-san hanya bisa melihat Oita-san pergi menjauh. Dalam kesunyian dan dinginnya angin malam hari ini, Ishikawa-san melihat ke arah telapak tangannya.


Keringat dingin dan gemetaran belum berhenti sejak tadi dirinya bersama Oita-san. Ketakutan akan kematian yang ia rasakan sudah berada di puncaknya dari tadi. Menghela nafas panjang untuk menenangkan diri pun juga kelihatan percuma dan dia hanya bisa bergumam pada langit malam.

__ADS_1


"Hei, apa keputusan yang aku ambil benar? Tolong katakan padaku. Karai ... Hisui ...."


Bersambung


__ADS_2