Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 124 : Sumber Masalah


__ADS_3

Apa yang sebenarnya terjadi?!!


Rasanya aku ingin meneriakkan kalimat itu saat ini. Biarkan aku menceritakan semuanya dari awal, kalian mungkin tidak percaya tapi ini adalah alasan kenapa aku menjadi bingung sekarang.


Mula-mulanya aku diajak oleh Akihito-san dan Nigiyaka-san karena mereka menerima sebuah surat aneh yang ditulis di atas sebuah kartu remi. Tentu saja aku ikut, karena tentu saja aku senang jika aku bisa membantu mereka.


Tapi setelah itu keadaannya menjadi kacau sekali. Seorang bocah laki-laki berpakaian meriah dan kakek tua dengan pakaian Butler ternyata adalah orang yang mengirim surat kartu remi tersebut.


Dari yang aku simak dari pembicaraan mereka sebelumnya, kedua orang itu adalah Assassin. Dan terlebih lagi mereka juga merupakan mantan rekan Akihito-san dan Nigiyaka-san. Pembicaraan tak masuk akal mereka terus terjadi sampai pada akhirnya sang Assassin Butler berdiri di belakang si Assassin bocah.


Lalu kami semua selanjutnya berakhir di sini. Di dalam sebuah tenda sirkus yang entah bagaimana caranya mereka berdiri megah di tengah jalan dan kami ada di dalamnya saat ini.


Menurut penuturan Nigiyaka-san, ini adalah kekuatan milik si Assassin bocah yang didukung dengan bantuan aura si Assassin Butler.


Padahal dia masih bocah tapi dia bisa menghasilkan hal-hal luar biasa seperti ini. Meskipun aku tahu kalau dia mendapat bantuan tapi tetap saja ini luar biasa keterlaluannya.


Tidak hanya tenda sirkus besar ini, di dalamnya juga terdapat hewan-hewan yang sepertinya tidak asli yang bersifat agresif dan menyerang kami. Hewan-hewan yang identik dengan sirkus seperti gajah, monyet, dan bahkan singa ada di sini.


Lalu kemudian ada grup marching band yang terus menerus memainkan lagu tema sirkus yang pasaran itu. Mendengarnya saja sudah membuatku sakit kepala, sekarang itu juga diputarkan berulang-ulang kali tanpa henti. Ah! Aku ingin menghancurkan alat musik mereka.


Tapi beruntungnya yang mereka lakukan hanyalah bermain musik, setidaknya mereka tidak menyerangku dengan serangan fisik. Meskipun harus kuakui musik yang mereka mainkan sangat mengganggu.


Dan terakhir, yang paling aneh dari semuanya. Aku yakin aku pernah melihat yang satu ini di salah satu video game atau mungkin film. Tapi saat ini aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Benar. Para manusia kartu itu.


Anatomi ras manusia apapun tidak ada yang mirip dengan mereka. Dengan tubuh kartu remi yang tipis, di kedua ujungnya mereka memiliki alat gerak yang sama seperti manusia, dua kaki dan dua tangan. Tapi anehnya kepalanya berada di tubuh kartu remi mereka, tanpa leher atau apapun.


Ya, kurasa aku tidak bisa protes soal bagaimana bentuk mereka. Karena mereka bertarung dengan cukup baik dengan tombak mereka. Meskipun saat aku lihat, mereka dihancurkan oleh Akihito-san yang terkenal bar-bar saat masih di bergabung bersama Astaroth.


Tapi hal itu bisa aku serahkan kepada Akihito-san, kali ini aku sedang melayang dengan bantuan anginku yang aku tempatkan di bawah kedua telapak kakiku. Lawanku saat ini adalah mereka.


Aku menatap tajam ke arah mereka saat ini. Para monyet yang sedang bergelantungan di tali-tali atap tenda sirkus seakan itu disediakan hanya untuk mereka. Mereka tidak terlalu pintar, harus kuakui. Tapi jumlah mereka yang banyak dan gerakan yang lincah menyulitkanku untuk mengenai mereka.


Lagipula jika aku misalkan sudah mengalahkan mereka semua, masih ada yang lainnya yang menunggu di bawahku. Mereka adalah para gajah. Mereka memang tidak sebanyak dan selincah para monyet, hanya ada sekitar lima belas dari mereka yang kali ini siap bertarung, lima lainnya sudah dilumpuhkan oleh Nigiyaka-san dalam sekejap sebelumnya.


Tapi aku harus berhati-hati dengan akurasi lemparannya. Secara mengejutkan lemparan balok kayunya sangat akurat sehingga itu hampir tidak pernah meleset.


Meski begitu, aku sudah memutuskannya. Aku akan mengalahkan yang diatas dulu! Tatapanku fokus pada para monyet dan mereka juga menyadarinya.


Aku menunduk dan kedua kakiku menghadap ke belakang, setelah itu aku melakukan tolakan yang dibantu dengan ledakan angin di telapak kakiku, menciptakan kecepatan tinggi yang membuatku sampai ke kawanan para monyet dengan sangat singkat.


"Groogh?!!"


Mereka terkejut karena kecepatanku. Kelengahan yang terjadi dalam beberapa detik aku manfaatkan untuk memukulnya. Bukan hanya pukulan biasa, aku memfokuskan aura pada sikuku dan membuat angin yang mendorong agar pukulanku menjadi lebih merusak.


Dan dampaknya, monyet itu terpental cukup jauh hingga menabrak beberapa temannya dari belakang. Aku juga melihat beberapa tetesan darah dari atasku dan menyadari kalau itu adalah tangan monyet tadi yang sudah terpisah dari tubuhnya.


"Hikh?!"


Aku berteriak seperti orang bodoh. Padahal aku sendiri yang mengharapkan hasil yang menakjubkan, tapi ketika melihat hasilnya aku malah terkejut. Tenanglah, wahai diriku.


"Graakkhh!!"

__ADS_1


Sepertinya teman-temannya tidak menyukai hal yang barusan aku lakukan dan mereka tampak lebih marah lagi. Beberapa dari mereka dengan cepat melemparkan pisau dan ada juga yang datang ke arahku.


Tapi aku dapat menghindarinya dengan mudah karena semua pisau datang dari depanku, jadi aku masih memiliki keuntungan di sini. Dan untuk mereka yang mendekatiku, aku cukup merendahkan ketinggianku agar tidak terlalu dekat dengan bagian atap.


Sejauh ini semuanya berjalan cukup lancar. Jika keadaannya begini terus, aku akan menang meskipun memakan cukup banyak waktu.


"Eh?"


Tepat saat aku berpikir demikian, dua monyet melepaskan genggamannya dari tali dan jatuh bebas di udara, tapi tidak terlalu lama sampai mereka kemudian berpegangan satu sama lain.


"Gawat!"


Monyet yang paling bawah menyembunyikan pisau yang ia lilitkan pada ekornya dan menyerangku menggunakan serangan kejutan. Di detik-detik terakhir aku berhasil menghindarinya, meskipun goresan besar tercipta di pipi kananku sampai meneteskan beberapa darah.


Aku tarik kata-kataku sebelumnya mengenai mereka. Para monyet ternyata pintar, oi! Mereka belajar dari kesalahan sebelumnya dan menganalisis kemampuan musuhnya dengan baik.


Tapi tetap saja, itu tidak akan bisa mengalahkanku. Aku hanya tidak boleh lengah, dengan begitu aku pasti akan bisa menang melawan mereka. Aku tidak tahu sampai mana batas kepintaran mereka, tapi aku harus waspada.


"Boleh juga— Ahaakh!"


Sebuah tumbukan, rasanya seperti dipukul oleh seseorang tapi tinjunya hampir menyamai besar tubuhku menghantam kepalaku yang membuatku kehilangan keseimbangan sebentar.


Rasa sakitnya membuatku meringis tapi aku terlalu penasaran dengan sesuatu yang menyerangku. Aku melihat ke bawahku dan menyadari sebuah balok kayu terjun bebas dari atas, kemungkinan besar benda itu yang telah menghantamku barusan.


Aku turun terlalu rendah sehingga aku berada pada jarak lempar dari gajah-gajah itu. Sialan. Kesadaranku perlahan mulai memudar dan itu pertanda yang tidak baik. Pandanganku juga berubah merah dan aku bisa merasakan darah menutupi mataku.


Saat aku mulai jatuh, dunia tampak seakan melambat meskipun aku tahu itu hanyalah imajinasi yang kepalaku ciptakan. Tapi berkatnya, aku dapat melihat Nigiyaka-san dan Akihito-san yang sedang bertarung.


Nigiyaka-san masih pada kuda-kudanya yang mulai melemah tapi keringat serta ekspresinya mulai kelelahan. Sementara Akihito-san, aku bisa tahu kalau dia sedang mengumpat lewat gerakan bibirnya karena pasukan kartu remi yang menyerangnya seperti tidak ada habisnya.


Pada saat bertarung sebelumnya, aku juga merasa kalau tubuhku perlahan-lahan melemah walaupun mereka sama sekali tidak menyerangku. Tapi mungkin itu adalah salah satu kemampuan para monyet atau gajah itu. Mungkin saja.


Apakah ini akhirnya? Entahlah, mungkin saja secara ajaib aku bisa saja terbangun di kasur rumah sakit dan dikelilingi oleh teman-temanku yang lain. Tapi rasanya itu sedikit sulit diwujudkan, aku bahkan tidak tahu keadaan mereka saat ini, para warga juga masih bersikap agresif.


Sialan. Aku malah memikirkan hal yang aneh-aneh pada waktu seperti ini. Mungkin otakku ingin aku tidak memikirkan hal yang terjadi saat ini. Sepertinya aku harus berterima kasih pada otakku sendiri, karena aku memang ingin mengabaikannya.


"Bantu aku, Senpai!"


"?!!"


Suara seseorang terdengar di kepalaku. Tapi berkatnya kesadaranku kembali dengan cepat dan mataku terbuka. Entah darimana, tiba-tiba saat ini aku memiliki sedikit kekuatan untuk menggerakkan tubuhku.


Tubuhku terlalu lemah untuk menahanku kembali melayang jadi aku mengangkat tanganku ke bawah— karena saat ini posisiku sedang terbalik. Lalu aku mengalirkan sedikit auraku sehingga angin dapat mendorongku tubuhku berubah menjadi horizontal, setelah itu aku langsung menciptakan angin di belakang telapak kakiku dan menjadikannya tolakan untuk aku bergerak maju.


Aku berhasil di detik-detik terakhir. Kini aku sedang terbaring di tribun penonton dengan beralaskan salah satu boneka anggota marching band. Aku berhasil menciptakan angin yang menarik salah satu anggota marching band yang sedang bermusik dan kemudian menjadi alas jatuhku.


Tadinya aku memang membenci suara berisik yang ia hasilkan, tapi untuk sekarang aku harus berterima kasih karena berkatnya aku tidak perlu menabrak tribun yang keras.


Tapi suara dari kepalaku benar-benar menyelamatkanku, meskipun aku tidak benar-benar melihat wajahnya di dalam bayanganku, aku bisa memastikan kalau suara itu adalah suara Iraya. Dia tidak mungkin menerobos masuk kesini hanya untuk memanggilku, jadi itu sudah jelas adalah imajinasiku.


Aku menekan dadaku lembut dan merasa berterima kasih pada Iraya di dalam hati, janji yang kami ucapkan dulu saat aku ingin menyerah terngiang di kepalaku dan sekali lagi menyelamatkanku.

__ADS_1


"Terima kasih, Iraya." Pipiku memerah ketika mengingatnya.


Ngomong-ngomong boneka marching band ini masih berusaha memainkan alat musiknya, yang kebetulan adalah sebuah snare drum yang biasa dibawa di depan lalu dimainkan dengan tongkat stik. Nadanya berantakan dan tubuh bonekanya sudah hancur dan sekarang suaranya jadi lebih menyebalkan untuk di dengar. Merusak suasana saat aku mengingat-ingat suara Iraya barusan.


"Eh? Apa ini?"


Saat aku sedang menghina suaranya, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang aneh. Aku dapat merasakan aura keluar dari dalam tubuhnya dan terlebih lagi, berlimpah. Bagaimana mungkin hal ini terjadi? Padahal yang dia lakukan hanyalah bermain musik.


Lalu aku terus merasakan auranya terbang ke segala arah dan berhamburan seperti tanpa tujuan. Seolah tujuan dia diciptakan hanyalah untuk mengumpulkan aura, mereka bahkan bukan tipe petarung garis depan yang membuatnya lebih aneh lagi.


Aku kemudian melihat ke pasukan marching band yang dari tadi masih terus bermain tanpa henti. Terdapat begitu banyak aura dan energi yang dapat aku rasakan berkumpul di sana. Tapi aku harus benar-benar memperhatikannya, karena akan sangat mudah melewatkannya jika aku tidak sangat fokus.


Dan itu semua secara teratur mengalir ke para boneka yang telah rusak! Ajaib sekali! Mereka dapat kembali seperti sedia kala dan dapat melanjutkan pertarungannya. Tapi darimana mereka mendapat energi yang berlimpah itu.


Aku membelalakkan mataku ketika aku menyadarinya. Agar semakin yakin, aku melakukan sebuah percobaan. Aku memfokuskan auraku dan mengalirkannya ke seluruh tubuh. Lalu perlahan tapi pasti, aura yang aku keluarkan terserap oleh para boneka marching band itu.


"Ternyata benar."


Aku melirik ke arah Assassin bocah dan Assassin Butler, mereka sama sekali tidak memperhatikanku dan fokus pada Nigiyaka-san dan Akihito-san. Sepertinya mereka menganggapku bukan ancaman, tapi sayangnya mereka salah. Aku hampir tertawa karena kelengahan mereka telah menguntungkanku.


Tapi sekarang aku akan menjadi sumber kegagalan mereka. Aku lalu berdiri, meskipun dengan kepayahan tapi aku berhasil melakukannya. Setelah itu aku menarik nafas sebanyak yang aku bisa lalu kemudian berteriak.


"NIGIYAKA-SAN! AKIHITO-SAN!"


Teriakanku cukup besar. Walaupun masih sedikit tertutup oleh permainan musik, tapi itu sudah cukup untuk mendapat perhatian mereka berdua— bahkan kedua Assassin itu juga ikut menengok.


Lalu dengan tegas aku mengarahkan telunjukku ke pasukan marching band itu. "Mereka adalah sumber masalahnya! Mereka menyerap energi kita untuk dijadikan sumber energi bagi para boneka itu!"


Aku terlalu lemah untuk mengalahkan bahkan sesuatu yang tidak melawan seperti itu, jadi aku akan menyerahkan yang satu itu kepada mereka berdua. Maaf aku hanya jadi beban, Nigiyaka-san, Akihito-san.


"Dia mengetahuinya?!"


Sementara itu bocah Assassin nampak tidak percaya kalau aku menyadarinya. Hehehe .... Bagaimana rasanya rahasiamu diketahui oleh orang yang kau remehkan? Tidak enak, bukan?


Akihito-san dan Nigiyaka-san langsung mengubah fokus mereka dan menghilang dari tempat mereka berpijak. Bukan secara harfiah, tapi bergerak dengan sangat cepat sampai meninggalkan debu pada pijakan sebelumnya dan tidak bisa diikuti oleh penglihatan orang normal.


"Ivis!"


"Baik!"


Assassin bocah berteriak pada Assassin Butler dan ia pun langsung memahaminya. Dia bergerak ke depan pasukan marching band untuk menghalangi Nigiyaka-san dan Akihito-san menyerang mereka. Dia memasang kuda-kuda bertahan dan sudah siap menahan serangan dari mereka berdua.


Tapi sayangnya dia lupa satu hal.


"Tidak akan kubiar—" Kata-katanya terpotong.


Hembusan angin yang tak terlalu besar namun kencang menerjang dari samping yang membuat Assassin Butler terpental, ia siap untuk menerima serangan dari depan, tapi lengah ketika dari samping. Dan tentu serangan angin itu berasal dari aku.


Sekarang tidak ada yang menghalangi mereka. Sambil di udara, Nigiyaka-san menyiapkan Katana nya dan bersiap untuk menghancurkan mereka. Sementara Akihito-san san kali ini bukan dengan pukulan, tapi kedua telapak tangannya terbuka menampilkan kuku tajamnya.


"Hentikan!"

__ADS_1


Bersamaan dengan teriakan putus asa Assassin bocah, Nigiyaka-san dan Akihito-san juga selesai menghancurkan seluruh pasukan marching band menggunakan tebasan dan cakaran yang cepat namun akurat. Itu tidak butuh lama, kurang dari lima detik mereka semua telah rata dengan tanah.


Bersambung


__ADS_2