
Ledakan yang terjadi sangat besar dan aku bisa melihat sekilas sebuah tangan hitam melindungi kami semua dari efek ledakan itu.
Yang lainnya bingung karena mereka tidak terkena ledakan yang sangat dekat dari mereka. Tapi hanya aku yang dapat melihatnya, kalau di detik-detik terakhir Oita-san menggunakan kekuatannya untuk melindungi kami dari ledakan itu.
Setelah ledakannya menghilang, tangan hitam milik Oita-san juga ikut menghilang dan aku tidak bisa merasakan keberadaannya lagi. Aku melihat ke arah tempatnya berdiri sebelumnya, tapi sekarang hanya tinggal tersisa bekas ledakan dan tanah yang hancur saja.
Tidak ada jejak tubuh dari Oita-san atau setidaknya bagian dari tubuhnya saat ini. Aku yang masih shock dan tidak percaya dengan yang aku lihat saat ini hanya bisa berjalan pelan menuju ke bekas ledakan tadi.
"O-Oita-san …? Ini tidak mungkin, kan? Jangan bilang …."
Zwuusshh…
Tiba-tiba di sampingku aku melihat bayangan yang menutupi cahaya bulan sehingga aku menyadari kedatangannya. Tapi itu bukanlah orang yang aku ingin lihat saat ini, karena yang mendekat dengan cepat adalah Astaroth bersiap untuk menangkapku.
"Kau tertangkap, Inang Subject C."
Tangannya sudah hampir sampai ke leherku dan aku juga tidak memiliki niat untuk menghindar atau yang lainnya. Aku bahkan masih belum mengerti apakah semua kejadian ini asli atau hanya mimpiku saja.
Zwuusshh…
Sekelebat angin tajam tiba-tiba melesat ke arah Astaroth yang ingin menangkapku, membuatnya menghindar mundur dan mengurungkan niatnya. Aku melihat ke belakangku dan yang melakukan hal itu adalah Mei-senpai.
"Iraya-kun! Cepat lari dari sana!"
"Lari? Tapi …."
Aku melihat ke arah tempat Oita-san sebelumnya berdiri yang sekarang sudah tidak ada lagi. Setelah sadar dengan hal itu, aku kemudian melihat ke arah telapak tanganku yang dari tadi tidak bisa berhenti bergetar.
"Iraya! Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau diam saja?!"
Cecilia berteriak di dalam kepalaku. Tapi aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas, kepalaku penuh dengan pemikiran-pemikiran liar yang aku hasilkan sendiri. Ingatan yang tiba-tiba muncul di kepalaku, mengingat kembali kejadian ibuku di masa lalu.
"Awas!"
Graab… Blaaaaaarrr…
Ishikawa-san kembali menggendongku menjauh dari tempatku saat ini. Dan beberapa detik kemudian, sebuah bola api besar menuju ke arah tempatku sebelumnya dan membakar tempat itu.
"Sadarlah, Iraya-kun! Kau dari tadi melamun sendiri tidak jelas!"
"Maaf, tapi aku …."
"Cih! Kita mundur dulu dari sini!"
Ishikawa-san memerintahkan kami semua untuk mundur terlebih dahulu mengingat kondisiku dan juga Herlin yang sedang tidak baik. Bersama dengan Nimis dan Ardenter yang juga untuk saat ini berada di pihak kami, kami semua pun mundur secara cepat.
Sementara Astaroth sendiri hanya diam tidak bergerak saat melihat punggung kami semua perlahan menjauh dan menghilang dari hadapannya, ia tidak mengejar kami dan seakan membiarkan kami untuk kabur. Tapi meski begitu, ia sempat bergumam pada dirinya sendiri.
"Ya biarlah, aku juga perlu waktu untuk memulihkan diriku sendiri."
Ia melihat ke arah tubuhnya yang tidak kalah kacau dan parah dari yang lainnya. Namun semua lukanya sudah mulai meregenerasi kembali dan hanya tinggal beberapa luka kecil saja dan sisa darah di bajunya saja yang membuat penampilannya kotor.
Degh…
"Apa ini?"
Walaupun lukanya sudah hampir sembuh semua, tapi tiba-tiba ia merasakan sakit di bagian jantungnya yang belum pernah ia alami sebelumnya. Ia memeganginya sebentar tapi rasa sakit itu perlahan mulai menghilang.
"Ya, biarlah."
**
Sementara itu di pihak kami sendiri, kelompok kami berhenti dan berlindung di salah satu Family Mart yang sudah ditinggalkan pemiliknya mengungsi.
Saat sampai di dalam, kami tidak menyalakan lampu bangunan itu dan hanya membiarkannya gelap begitu saja. Hanya sinar bulan yang lolos dari sela-sela jendela saja yang menjadi penerangan kami.
Ishikawa-san kemudian menurunkanku dari gendongannya, begitu juga dengan Herlin yang masih tidak sadarkan diri. Semuanya terengah-engah kelelahan karena berlari secepat mungkin dari Astaroth.
"Hah … hah … apa kita sudah kehilangan jejaknya?" tanya Ishikawa-san.
"Aku tidak tahu, tapi yang pasti kita sudah menjauh darinya," balas Nimis.
Lalu kemudian Ishikawa-san menghampiriku dan mengguncangkan tubuhku mencoba menyadarkanku dari pikiranku saat ini.
"Oi, Iraya-kun! Apa kau mendengarku?!"
Guncangannya ternyata lumayan efektif bagiku karena aku bisa langsung fokus dan mendengar ucapan Ishikawa-san dengan jelas. Aku kemudian menjawab pertanyaannya dengan lemas meskipun mataku tidak menatap langsung kepadanya.
"Aku dengar, Ishikawa-san," jawabku lemah.
"Hei, hei, lihat mataku. Lihat!"
Setelah Ishikawa-san menyuruh seperti itu, aku pun melihat ke arah matanya meskipun secara terpaksa dan mataku memperlihatkan tatapan kosong dan sedih.
"Aku tahu kau sedang sedih, marah, dan perasaan lainnya, kan? Untuk saat ini bisakah kau mengesampingkan perasaan itu sampai ini semua normal lagi?"
"Aku tahu hal itu, tapi … bisa biarkan aku sendiri dulu?"
__ADS_1
Aku tidak bisa mengiyakan pertanyaan Ishikawa-san untuk saat ini. Hal ini terlalu mendadak bagiku dan perintah yang ia berikan juga terlalu berat untuk saat ini. Setidaknya, kumohon biarkan aku sendiri dulu.
Ishikawa-san kemudian melihat ke arah yang lainnya. Mereka hanya mengangguk sedikit dan setuju untuk membiarkanku sendiri untuk sementara waktu. Pada akhirnya, Ishikawa-san pun berdiri dan meninggalkanku sendirian.
Ia kemudian menghampiri yang lainnya dan mengobrol sesuatu yang tidak bisa kudengar dengan jelas dari tempat dudukku sekarang.
"Apa kau yakin?" tanya Ishikawa-san.
"Kita tidak punya pilihan lain. Dia masih muda dan mentalnya belum sekuat kita, kurasa memberinya waktu akan membuatnya sedikit lebih baik," ucap Nimis.
Mei-senpai juga mencoba mendekatiku dan berusaha untuk membuatku lebih baik dengan kata-katanya, tapi sebelum itu terjadi Ardenter menahan pundaknya dan menggeleng-gelengkan kepalanya tanda hal itu tidak diperlukan. Akhirnya Mei-senpai pun mengurungkan niatnya.
"Iraya …."
Tetsu yang berada di dalam pedang kemudian memanggilku. Dari nada bicaranya, ia terdengar khawatir padaku. Aku pun kemudian berbicara kepadanya.
"Aku tidak apa-apa, Tetsu. Aku hanya butuh sedikit waktu saja."
"Aku mengerti," ucap Tetsu.
Mereka semua hanya menunggu dalam diam sembari berjaga-jaga jika Astaroth berhasil menemukan mereka. Tidak ada sedikitpun obrolan yang keluar dari mulut mereka dan semuanya hanya melamun diam. Dan setelah beberapa menit berlalu, Herlin menggerakkan matanya dan tak lama kemudian ia pun sadar.
Perlahan ia mulai bangkit dari tempatnya berbaring saat ini. Cahaya yang redup membuatnya kesulitan melihat apa yang ada di depannya dan saat matanya sudah mulai menyesuaikan, yang pertama ia lihat adalah rak tempat biasa Family Mart menyusun makanan.
"Dimana ini?"
"Herlin-chan?! Akhirnya kau bangun juga, aku sangat khawatir padamu."
"Mei-senpai."
Mei-senpai langsung memeluk Herlin yang baru saja sadar dari pingsannya. Ia yang masih bingung dengan situasi saat ini hanya membalas pelukan khawatir Mei-senpai. Dan kemudian ia sadar dengan hal sebelum ia pingsan.
"Hah?! Batu besarnya?!"
"Tenang sedikit, kita berhasil menghancurkannya. Jadi tidak perlu khawatir lagi," ucap Nimis.
"Begitu, ya? Syukurlah, lalu bagaimana kondisi Oita-san? Dia masih bertarung dengan Astaroth sampai sekarang? Ya, kurasa itu masuk akal juga kalau berbicara tentang dia, sih."
Tapi tidak ada yang menjawab pertanyaan Herlin. Semuanya terdiam sambil menunduk atau memalingkan wajahnya. Suasana aneh ini membuat Herlin bingung dan memiringkan kepalanya.
Dan setelah beberapa saat diam, Ishikawa-san pun yang berbicara untuk memberitahu kepada Herlin soal kondisi Oita-san sekarang.
"Dia … sudah tidak ada."
Degh…
Empat kata. Hanya empat kata tapi bisa membuat jantung Herlin berdebar. Mulutnya mulai bergetar menahan tangis tapi dengan cepat masih bisa ia tahan, meskipun tidak sepenuhnya.
Setelah mendapat informasi tentang kondisinya saat ia pingsan, akhirnya Herlin dapat menyimpulkan kalau mereka kalah dan Oita-san menjadi korban. Lalu ia melihat ke arah ujung ruangan di mana terdapat diriku di sana.
"Dia …."
"Dia sudah begitu dari tadi. Aku mencoba menenangkannya tapi dia bilang kalau dia butuh sedikit waktu. Aku tidak tahu apa dia masih bisa bertarung atau tidak," ucap Ishikawa-san.
Herlin tidak berbicara apa-apa lagi. Gemetaran di bibirnya sudah hilang ketika ia melihat aku yang putus asa seperti ini. Ia pun kemudian berjalan mendekatiku dan berhenti tepat di depanku.
Aku yang sedang duduk menunduk melihat kedatangan Herlin kemudian mendongakkan kepalaku dan melihat langsung wajahnya.
Plaaakk…
Ia langsung menamparku tepat di pipi sampai membuat bekas di sana. Aku tidak mengerti kenapa Herlin menamparku dan hanya bisa melihatnya kembali dalam kebingungan. Yang lainnya juga sama terkejutnya denganku karena tamparan yang diberikan Herlin terlalu tiba-tiba.
"Menyedihkan sekali."
"Ada apa denganmu?! Kenapa kau tiba-tiba—!"
Aku berhenti berbicara ketika aku menatap langsung ke wajah Herlin. Ekspresinya datar seperti biasanya, tapi tatapan yang ia berikan kosong. Meskipun ia tidak menunjukkannya, tapi aku bisa merasakannya dengan sangat jelas. Luka yang dirasakan oleh Herlin.
"Apa kau pikir Oita-san akan bahagia melihatmu seperti sekarang ini?"
"…."
"Oita-san berkorban bukan tanpa alasan, ia melindungimu karena ia percaya padamu, apa itu tidak cukup bagimu?"
"Tapi apa yang bisa dilakukan oleh orang sepertiku?! Kau yang lebih kuat dariku saja tidak berdaya melawan Astaroth! Lalu bagaimana denganku?! Dia ingin membunuh kita semua dengan mempercayakannya kepada orang lemah sepertiku?!"
Aku yang sudah terlanjur kesal secara refleks mengangkat bagian leher Hoodie Herlin sampai membuatnya mendongak secara paksa. Tapi Herlin tidak melawan balik, ia hanya melihat ke arahku seperti melihat sebuah sampah.
"Makanya aku bilang kalau kau menyedihkan. Jika kau mencoba pasti sesuatu akan terjadi daripada hanya diam saja seperti orang bodoh."
"Mencoba katamu?! Aku sudah mencoba berkali-kali! Tapi yang aku temukan selalu berujung kegagalan! Kematian orang-orang terdekatku! Pertama ibuku, kedua teman-teman kelasku, dan sekarang Oita-san, dan kau bilang aku hanya diam seperti orang bodoh?!"
Aku yang sudah meluapkan segala kekesalanku kemudian berangsur-angsur tenang, karena aku juga sudah lelah berteriak. Herlin yang masih aku pegang bagian leher Hoodie-nya, aku mulai turunkan secara perlahan.
"Aku … aku … tidak bisa melakukan apa-apa. Jika aku melakukan sesuatu pasti hal itu akan berujung dengan kegagalan. Itu pasti."
Aku melihat ke arah lain dan berhenti menatap mata Herlin. Lalu suasana menjadi hening sejenak ketika aku sudah selesai berteriak kepada Herlin. Tapi tiba-tiba Herlin kembali berbicara kepadaku.
__ADS_1
"Kau pernah berhasil."
"Apa yang kau—"
"Aku bilang kau pernah berhasil sekali. Apa kau lupa tentang rencanamu yang menyuruh Cecilia untuk masuk ke dalam tubuhku? Rencana itu bisa dibilang berjalan lumayan sukses. Kau yang memikirkan soal itu, kan?"
"Tapi … itu tidak sebanding dengan kegagalan yang aku—"
"Kau yang memikirkannya, kan?!"
Herlin mendekatkan wajahnya ke arahku sampai hampir tidak ada jarak. Sementara aku langsung memalingkan wajahku dan menjawab pertanyaannya pelan.
"Iya."
"Kalau begitu kau tidak perlu bersedih lagi. Meskipun banyak rencanamu yang gagal, tapi ada momen di mana rencanamu berhasil. Bukankah itu sudah jadi bukti kalau dirimu berguna?"
Aku tidak menjawab pertanyaannya juga tidak melihat wajahnya. Aku tidak tahu apakah satu keberhasilan itu sepadan dengan semua kegagalan yang pernah aku perbuat, lagipula kenapa dia sangat percaya kepada orang sepertiku. Apa dia tidak punya orang lain untuk dipercayai.
"Bukankah jawabannya sudah jelas?" Cecilia tiba-tiba berbicara.
"Apa?"
"Dia orang yang paling dekat denganmu 'kan sekarang? Jadi dia paling tahu tentang dirimu, ya meskipun pertemuan kalian belum berumur lebih dari setengah tahun, sih."
Mungkin Cecilia benar. Tidak …, mungkin itu adalah jawaban yang memang aku cari dari tadi. Ternyata hanya aku saja yang tidak mempercayai diriku sendiri. Pantas saja Spirit-Spirit itu ingin mengambil kesadaranku.
Aku menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya dan melihat ke arah yang lainnya. Mereka semua terlihat khawatir dengan keadaanku. Sepertinya sifat kekanak-kanakanku membuat mereka khawatir, ya?
Aku kemudian menaikkan ujung bibirku dan menunjukkan senyuman positif kepada mereka. Dan hal pertama yang harus aku lakukan adalah menundukkan kepalaku dan meminta maaf kepada mereka.
"Maafkan aku karena sikap bodohku barusan! Aku jadi membuat kalian repot!"
Mereka semua bernafas lega karena aku telah kembali dan suasana yang tadinya dingin pun langsung seketika menghangat. Aku kemudian melihat ke arah Herlin dan meminta maaf sekaligus berterima kasih padanya.
"Terima kasih ya, Herlin."
Tapi ia tidak menjawabnya. Ia malah berjalan menuju ke salah satu kulkas dan mengambil dua kotak jus jeruk di dalamnya. Lalu ia melemparkan salah satunya kepadaku dan membuka yang lainnya untuk ia minum sendiri.
"Isi tenagamu pakai itu."
"Hah … iya, iya, baiklah."
Aku pun kemudian membuka minuman tadi dan meminumnya memakai sedotan, sama dengan yang dilakukan oleh Herlin.
"Hah … kukira bakal memakan waktu lama, ternyata kehadirannya benar-benar merubah segalanya," gumam Ishikawa-san.
"Hubungan mereka benar-benar kuat, ya?" ucap Nimis.
"Ya lagipula mereka itu partner di Black Rain. Aku dengar dari Oita-san kalau awalnya mereka tidak akur, tapi melihat mereka seperti ini aku jadi sedikit lega."
"Ya aku juga dengar begitu. Aku juga merasa kalau kata-kataku tidak akan berpengaruh saat Iraya down tadi dan hanya Herlin yang bisa menaklukkannya," sela Mei-senpai.
Brraaakkhh…
Tapi momen-momen damai itu tidak berlangsung lama karena tiba-tiba tembok Family Mart yang kami tempati saat ini tiba-tiba rubuh seperti ada sesuatu yang menghantamnya dari luar. Dan bersamaan dengan rubuhnya tembok itu, aku bisa melihat wajah Astaroth dibaliknya.
"Akhirnya aku menemukan kalian."
"Iraya! Tebas!"
Teriakan Tetsu langsung dibarengi dengan refleksku yang menjatuhkan minuman yang aku pegang dan menarik pedang di punggungku dari sarungnya.
Slaaasshh… Greebb…
Aku dengan cepat menebaskan pedangku ke arah leher Astaroth tapi masih dengan mudah di tangkap olehnya. Padahal tebasanku lebih cepat dari minuman yang aku lepas tadi dan minuman tersebut baru sampai ke tanah saat Astaroth sudah menahan bilah pedangku.
"Sambutan yang cukup baik. Tapi …."
Kraaakk… Praaankk…
"… Tidak cukup kuat."
Ia menangkap tebasanku lalu kemudian menghancurkan pedangku dengan genggamannya saja seolah pedangku terbuat dari kaca. Aku pun melompat mundur bersama dengan Herlin untuk menjaga jarak darinya.
Aku melihat ke arah pedangku yang sudah menyisakan setengah bilahnya saja. Aku terkejut karena kedatangannya tadi sehingga tidak sempat mengalirkan auraku ke pedang itu, jadi bilahnya lebih lemah dari biasanya.
Meskipun begitu aku tetap mengacungkan pedangku kepadanya sambil memasang kuda-kuda. Aku masih bisa membuat pedangku sendiri dengan auraku, yang aku khawatirkan sekarang adalah Tetsu yang ada di dalam pedang.
"Tetsu, apa kau tidak apa-apa?"
"Tenang saja, pedang itu hanya seperti rumah bagiku. Jadi tidak terlalu berpengaruh bagiku."
"Begitu ya? Baguslah kalau begitu."
Dalam kondisi darurat ini, kami membentuk sebuah formasi dadakan. Aku, Nimis, dan Ardenter berada di paling depan. Lalu ada Mei-senpai dan Ishikawa-san di belakang kami dan di barisan paling belakang ada Herlin yang bertugas sebagai pendukung dan sekaligus melindunginya karena lukanya yang belum sembuh total.
"Aku akan membalaskan kematian Oita-san, dasar sialan."
__ADS_1
Pertarungan antara kami dengan Astaroth yang sempat tertunda akhirnya akan kembali dimulai lagi. Dan kali ini tidak ada kata mundur atau kabur. Hanya ada dua pilihan, menang lalu hidup atau kalah lalu mati.
Bersambung