
Kurobane Mei PoV
Sekarang sudah pukul 11 malam. Dan seharusnya aku sudah rebahan di kamarku untuk sekedar menonton film atau menunggu mataku kelelahan lalu tertidur. Tapi sekarang, aku tidak melakukan itu.
Bunyi pancaran air shower yang menunjukkan kalau aku sedang berada di dalam kamar mandi sekarang, tidak mengatakan satu patah kata pun dan membersihkan tubuhku dalam diam. Meskipun tubuh ini penuh luka dan tidak cantik sama sekali, tapi ini tetaplah milikku. Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya aku mematikan shower dan keluar.
Saat di kamar, perlahan mengeringkan rambut yang sedang basah lalu mengikatnya menjadi model kuncir kuda untuk mempermudahku dalam bergerak nanti. Aku kemudian memakai baju yang kemungkinan biasanya tidak orang pakai pada jam segini.
Benar. Aku mengambil sebuah kimono dengan lengan panjang yang lebar pada bagian lengannya. Itu termasuk kimono pendek karena ukurannya yang tidak sampai paha, jadi aku memadukannya dengan celana pendek hitam ketat dan fishnet pendek sampai atas lutut. Ditambah dengan kaos kaki penghangat dan juga heels.
Setelah selesai memakainya, aku sedikit melihat pada cermin untuk memastikan kalau pakaianku sudah rapi atau belum. Tapi reaksi yang bisa aku berikan setelah melihat diriku sendiri hanyalah sebuah senyuman getir.
"Berapa kali pun aku melihatnya, tetap saja masih terasa tidak cocok," gumamku pelan.
Setelah selesai mengejek diriku sendiri, aku keluar dari kamar untuk segera menemui orang yang saat ini sudah menungguku di depan rumah. Tapi seperti biasa sebelum keluar rumah, aku selalu berpamitan ke kamar ayahku meskipun tidak yakin kalau dia bisa mendengarnya.
Dan sekarang adalah saatnya untuk pergi.
Aku membuka pintu depan. Pintu geser dari kayu dan kertas khas perumahan Jepang Kuno. Lalu ada dua orang yang sudah menungguku dengan wajah bosan karena sepertinya aku terlalu lama.
"Akhirnya kau keluar juga."
"Iya."
Aku akan pergi bersama mereka berdua— Nimis dan Ardenter, untuk menyelesaikan misiku. Sebagai Assassin.
Sudah sekitar dua tahun semenjak kejadian Herlin-chan meninggalkan kami semua tanpa pamit. Ya. Kalian tidak salah dengar, dua tahun. Aku kini sudah lulus dari sekolah dan Iraya-kun sudah kelas tiga.
Waktu berlalu begitu cepat ketika kau tidak terlalu memikirkannya. Dan seperti yang kalian mungkin sudah tebak, aku tidak melanjutkan pendidikanku. Aku lebih memilih untuk mencari uang untuk pengobatan ayahku— yang sayangnya belum ada tanda-tanda membaik.
Dan karena aku sudah terjebak ke sisi dunia ini membuatku tidak punya banyak pilihan. Kejadiannya kira-kira dua tahun lalu, saat Black Rain mendapat tugas untuk menjadi bodyguard konser Rainbow Cookies.
**
Sehari sebelum konser berlangsung, kami tidur di kamar masing-masing yang memang sengaja disediakan untuk para bodyguard.
Tapi aku tidak bisa tidur dan hanya bisa melamun memikirkan banyak hal di dalam kepalaku. Salah satunya adalah masa depanku. Masa depan yang membuatku bisa mendapatkan banyak uang dalam waktu cepat.
Mungkin memang terlihat seperti seseorang yang serakah, tapi aku bisa jamin kalau aku bukan orang yang matre atau sebagainya. Aku memang sedang butuh uang yang banyak, hanya itu.
Sebenarnya aku sempat berpikir untuk mendapatkan uang dengan cara yang normal. Kalian tahu, mendapatkan pekerjaan yang layak setelah lulus sekolah, pekerja kantoran, bla bla bla. Tapi aku sadar kalau itu terlalu lama, para penagih hutang itu bisa datang lagi kapanpun mereka mau dan aku tidak bisa terus menerus mementalkan mereka begitu saja.
Aku juga tidak pernah berniat untuk tidak melunasinya— jika aku mampu akan kulakukan. Tapi sayangnya, diriku yang masih sekolah ini tidak memiliki uang sebanyak itu, dan juga tidak tahu cara untuk mendapatkannya dengan cepat.
"Apa ada yang bisa aku lakukan, ya?" gumamku.
Lalu tiba-tiba pemikiran gila datang ke kepalaku yang aku sendiri tidak menyangka kalau aku bisa memikirkan hal seperti ini. Sosok Nigiyaka-san dan Akihito-san muncul di kepalaku secara tiba-tiba, seolah menjadi jawaban yang selama ini aku cari.
Tapi entah kenapa, aku masih sedikit ragu dengan pemikiran barusan. Karena selain itu adalah keputusan paling besar yang mungkin bisa mengubah seluruh kehidupanku, ada satu hal lagi yang masih menjadi pertimbangan.
Aku mengalirkan sedikit aura ke ujung jari telunjukku menciptakan sebuah tornado mungil yang tak lebih besar dari ibu jari. Kemampuanku masih payah atau bisa dibilang, lemah.
Bahkan mungkin aku yang paling lemah di antara anggota Black Rain lainnya. Iraya-kun yang aku anggap mungkin sedikit di bawah kemampuanku, ternyata memiliki kekuatan yang bahkan bisa menahan beberapa Assassin saat sedang melindungiku yang tidak sadarkan diri waktu itu.
Itu membuatku tersadar kalau sebenarnya akulah yang paling lemah dari semuanya. Jadi aku perlu meningkatkan kemampuan Elemental yang aku miliki ini.
Elemental angin. Saat kecil, aku pikir kalau mendorong balok kayu mainan dengan telapak tangan tanpa menyentuhnya adalah hal biasa. Tapi aku baru tahu kalau itu adalah hal yang tidak bisa dilakukan oleh manusia normal.
Lalu tanpa diketahui siapapun, aku mencoba berbagai hal dengan kekuatan aneh yang aku miliki. Mulai dari mengangkat sapu di udara, memeras pakaian, sampai mengangkat air selama beberapa detik ke udara. Semua itu aku lakukan tanpa menyentuhnya.
Meskipun setelah melakukan hal itu, tubuhku langsung lemas seolah seperti melakukan hal yang sangat melelahkan. Bahkan aku pernah sampai demam beberapa hari karena melakukannya terlalu berlebihan.
Tapi tetap saja, itu membuatku merasa spesial dan berbeda dari orang lain. Maksudku, Hei! Aku ini orang yang sangat hebat tapi teman-temanku tidak tahu itu?! Haha ...! Dasar orang-orang lemah! Aku bahkan sempat berpikir begitu sampai sekitar kelas dua SMA.
Semua berubah ketika ada kejadian aneh di sekolah. Ya, waktu itu ada sebuah serangan makhluk yang tidak bisa aku deskripsikan dengan jelas. Semacam kadal? Tapi punya ukuran sebesar manusia.
Ketika teman-teman kelasku tenggelam dalam kepanikan, aku yang memiliki kekuatan spesial ini tidak merasa takut sedikitpun. Aku bahkan berniat untuk mengalahkan mereka semua dan menjadi pahlawan sekolah ini. Terdengar seperti khayalan semua bocah laki-laki, kan?
__ADS_1
Dengan tenang, aku memutuskan keluar kelas dan berjalan ke lapangan. Kondisinya sangat kacau di sana dan kebetulan aku berhasil mengalahkan tiga dari mereka. Singkat cerita, dua adik kelasku tiba-tiba datang dan menawarkanku untuk bergabung ke organisasi mereka, tentu saja seperti yang kalian sudah tahu, itu adalah Iraya-kun dan Herlin-chan.
Di situlah aku baru sadar kalau aku bukanlah apa-apa, kekuatanku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan orang-orang yang ada di sana. Hal itu tanpa sadar membuatku kesal dan ingin berkata kasar. Sialan.
Haah ... aku berucap kasar. Dan sepertinya kita juga sudah keluar topik terlalu jauh.
Aku menghilangkan tornado mini yang sedari tadi menari bebas di atas jariku lalu setelah itu, membulatkan tekad untuk menghampiri Nigiyaka-san.
"Yosh!" Aku menyemangati diriku sendiri.
Saat sampai di depan pintu kamarnya, setelah dia membuka pintu tanpa basa-basi aku langsung memberitahukan tujuanku datang ke sini.
"Kau, kalau tidak salah ...?"
"Ada yang ingin aku bicarakan, Nigiyaka— tidak, Nimis-san."
Wajahnya menjadi bingung ketika aku menyebut nama panggilannya. Dan karena dia merasa kalau pembicaraannya akan menjadi sedikit lebih sensitif, dia kemudian mempersilahkanku masuk terlebih dahulu.
"Jadi, apa yang ingin kau katakan?"
"Aku ingin menjadi sepertimu. Lebih tepatnya, Assassin sepertimu."
Benar. Itulah yang aku pikirkan dari tadi. Menjadi Assassin memang tidak semudah seperti pekerjaan normal lainnya karena membutuhkan skill dan kemampuan yang di atas rata-rata. Terlebih lagi, pekerjaan itu berurusan dengan nyawa seseorang.
Makanya ekspresi Nigiyaka-san terlihat lebih ke arah bingung daripada waspada.
"Apa kau tahu dengan apa yang sedang kau bicarakan saat ini?"
"Aku tahu."
"Menjadi Assassin bukanlah pekerjaan yang bisa kau ucapkan dengan teriakan seperti tadi. Dan itu juga tidak mudah. Maaf, biar kuralat. Itu adalah pekerjaan paling bajingan yang bisa kau pikirkan."
"I-itu ...." Aku tidak tahu apa yang telah ia lalui hingga menjadi seperti ini, tapi sekarang aku tidak punya banyak pilihan. "Tapi meski begitu, aku tetap ingin menjadi Assassin!" tegasku.
"Baik, baik. Pertama-tama mari pelankan suaramu dulu. Lalu yang selanjutnya, apa motivasimu untuk menjadi seorang Assassin?"
"Aku butuh uang yang banyak."
"Apa aku salah?"
"Tidak, justru ini adalah pekerjaan paling cocok jika ingin mendapat uang dengan cepat. Tapi kau ini masih sekolah, masa depanmu terlalu terang untuk bekerja di dalam kegelapan seperti kami."
"Aku tahu. Tapi sekarang aku adalah tulang punggung keluargaku, dan masih banyak biaya yang harus ku tanggung sendirian. Makanya aku tidak boleh ragu. Tidak boleh ragu sama sekali." Aku menunduk dan mengepalkan tanganku erat.
Sepertinya Nigiyaka-san melihat hal itu. Jadi mau tidak mau dia hanya menghela nafas pasrah. "Aku tidak akan menghentikanmu, lagipula kau punya alasanmu sendiri," lanjutnya.
"Benarkah?!"
"Tapi ... Kau akan langsung mati jika menjadi Assassin dengan kekuatanmu yang sekarang. Apa kau bisa menerima itu? Kau tentu sadar kalau kau yang paling lemah di antara kami semua, kan? Aku rasa kau bahkan tidak bisa bertahan satu detik jika sedang menjalankan misi."
Wajahku yang tadi senang langsung kembali merenung karena Nigiyaka-san memberitahukan tentang kelemahanku. Yang sebenarnya sudah aku ketahui.
"Aku tahu. Makanya aku datang kesini."
"Hm?"
Aku berdiri di depan Nigiyaka-san dan kemudian membungkukkan badanku, memohon padanya untuk melatihku dalam pelatihan yang ekstra.
Bukannya aku tidak bersyukur karena telah dilatih Herlin-chan, tapi pelatihan yang diberikan olehnya lebih mementingkan untuk bagaimana caranya aku bisa bertahan hidup dalam pertarungan. Jarang sekali aku mendapatkan latihan untuk melumpuhkan musuhku.
"Bukannya kau berlatih dengan Ririsaka Herlin dan Satou Iraya?"
"Pelatihan mereka masih kurang jika aku mau menjadi Assassin, makanya aku lebih baik untuk dilatih oleh seorang Assassin langsung."
"...."
Dia masih terdiam. Sementara aku belum berubah dari posisi membungkuk memohon. Tapi setelah beberapa saat, akhirnya Nigiyaka-san kembali berbicara.
__ADS_1
"Angkat kepalamu. Seorang Assassin tidak akan membiarkan titik butanya terbuka begitu saja."
"Eh? Itu berarti ...?!"
"Akan kulakukan sebisaku. Untuk sekarang kembali ke kamarmu, besok kita masih ada misi."
Senyum berseri-seri keluar dari mulutku. Aku tidak bisa menahan perasaan senangku karena langkah pertama berhasil terlewati. Saat aku ingin kembali ke kamarku, Nigiyaka-san tiba-tiba memanggilku.
"Ngomong-ngomong, siapa namamu?"
"Hn? Aku Kurobane Mei."
"Bukan itu, Assassin harus menyembunyikan nama aslinya. Jadi aku bertanya namamu sebagai seorang Assassin."
"Kalau soal itu ...."
**
Kira-kira seperti itulah ceritanya aku bisa menjadi seorang Assassin, dan semua telah berjalan selama dua tahun semenjak saat itu.
Apa? Kalian pikir menjadi Assassin itu mudah? Maka kalian belum pernah merasakan metode latihannya. Bisa dibilang, jika iblis mempunyai guru lalu gurunya iblis itu memiliki guru lagi, maka begitulah gambaran paling tepat untuk mendeskripsikan metode latihan Nigiyaka-san.
Pada hari pertama latihan, yang aku lakukan adalah push up. Jika kalian berpikir hanya push up saja tidak berat, maka bayangkan jika kalian harus melakukannya dari terbit fajar sampai matahari terbenam tanpa istirahat. Aku ulangi, tanpa istirahat!
Bahkan ketika aku muntah beberapa, Nigiyaka-san tidak melembut sama sekali. Dia berjaga bergantian dengan Akihito-san supaya aku tidak curang dan berhenti di tengah jalan.
Lalu untuk menutup hari pertama yang bagai neraka itu, dia membawaku ke pinggir tebing lalu menendangku ke bawah.
Sumpah! Dia mau membunuhku, oi! Beruntungnya aku masih punya sedikit tenaga untuk membentuk pusaran angin kecil pada kedua kakiku sehingga jatuhnya tidak terlalu parah. Dan masih banyak latihan-latihan tidak manusiawi lainnya yang entah darimana idenya.
Tapi aku merasa berkat hari-hari seperti neraka itu dapat terlewati membuatku menjadi lebih percaya diri dalam menjalani misiku. Karena misi-misiku terasa tidak lebih berat daripada latihan yang aku jalani.
Kecuali satu hal. Yaitu membunuh.
Ini bukanlah hal kecil bagiku. Tidak ada yang merasa menghabisi nyawa seseorang adalah hal kecil, kecuali dia punya suatu penyakit atau seorang psikopat.
Saat pertama kali membunuh seseorang, perasaan mual langsung tercipta di dalam perutku. Melihat darah orang yang kubunuh mengalir ke telapak tanganku, lalu tatapannya saat dia sudah mati menghantuiku sampai ke dalam mimpi setiap kali aku tidur.
Tapi Nigiyaka-san dan Akihito-san selalu bilang kepadaku untuk tidak memikirkannya lebih jauh. Mereka adalah bajingan yang pantas dibunuh, makanya mereka menjadi sasaran seorang Assassin. Itulah yang selalu ditanamkan oleh mereka berdua kepadaku untuk mengurangi bebanku.
Tapi tetap saja itu tidak semudah prakteknya. Makanya sekarang aku merasa kalau diriku sudah tidak seceria dulu. Apa ini konsekuensi menjadi seorang Assassin, ya?
"Kau memikirkan hal yang aneh-aneh lagi."
"Eh?"
Nigiyaka-san sepertinya menyadari kalau aku melamun saat sedang jalan. "Tidak, hanya teringat masa lalu saja," ucapku.
"Fokus pada misi. Atau kau akan jadi target sasaran empuk musuh."
"Baik."
Ngomong-ngomong soal misi, kami mendapat misi dari seorang klien. Yang menyewa kami adalah seorang bos geng mafia. Ada sebuah geng baru yang tiba-tiba muncul dan menjadi pembicaraan di dunia bawah.
Dan sepertinya itu bukan hanya sebuah desas-desus saja, salah satu anggota geng mafia yang menyewa kami terlibat perkelahian dengan mereka dan membunuh mereka semua. Pada akhirnya, bosnya pun menyewa kami. Meskipun kami belum tahu siapa bos geng mafia baru ini karena dia sangat ahli merahasiakan identitasnya, tapi dia lah target kami saat ini.
Yah ... sebenarnya awalnya hanya Nimis dan Ardenter saja, tapi mereka merekomendasikanku karena berada di bawah pelatihan mereka langsung. Dan bos mafia itu tanpa ragu langsung menyetujuinya. Punya kenalan orang hebat itu enak, ya?
"Kita sudah sampai," ucap Akihito-san.
Akhirnya kita sampai di depan sebuah gang. Sepertinya ini adalah area tempat tinggal geng baru itu. Gelap tapi cukup bersih, itu adalah yang bisa aku deskripsikan dari luar sini.
"Apa kau sudah siap?" tanya Nigiyaka-san.
"Ya ...."
Aura telah menyebar di seluruh tubuhku, sehingga aku tidak akan langsung mati jika terkena serangan dadakan. Ini adalah salah satu pelajaran yang diberikan oleh Nigiyaka-san. Selalu fokus apapun yang terjadi.
__ADS_1
"... Dantalion siap menjalankan misi," ucapku.
Bersambung