
Hari ujian akhir semester tiba.
Suasana menjadi lebih sunyi dan tegang dari biasanya. Baik di sekolah, maupun di kelompokku. Aku dan Herlin sudah melakukan yang kami bisa dalam menghadapi ujian akhir semester ini. Bahkan Kudou dan Hira juga membantu kami.
Mengapa kami belajar begitu keras, kalian bertanya? Karena kami berdua tidak boleh gagal. Dan jika gagal, pelajaran tambahan sudah menunggu kami di liburan musim panas yang artinya tidak ada waktu untuk Turnamen The One.
Turnamen yang bertujuan untuk mengetahui apakah kemampuanku sudah berkembang atau belum. Setidaknya aku harus memenangkan beberapa pertandingan di sana dan mungkin saja membalaskan dendam Herlin.
Dari yang aku dengar, Herlin pernah punya pengalaman tak mengenakkan di turnamen itu. Jadi itu mungkin kesempatan bagiku untuk menjadi keren di depan matanya.
Tapi sekali lagi.
Itu akan terjadi jika aku bisa melewati ujian akhir semester ini dengan baik.
"Kalau begitu, silahkan dimulai."
Aku dan semua teman kelasku membalik kertas ketika guru telah memperbolehkannya dan mulai menjawab. Kami semua mengerjakan dengan tenang dan hari-hari menegangkan itu berlangsung selama seminggu penuh.
**
Seminggu kemudian, setelah pulang sekolah guru membagikan hasil ujian kami dan kemudian aku juga menerimanya.
Mataku melebar ketika melihat semua hasil ujianku dan tanpa bisa menahannya lagi, aku pun mengeluarkan semua yang ada di dalam kepalaku dengan berteriak sambil mengangkat kertasku tinggi-tinggi.
"AKU LULUS SEMUA PELAJARAN!!!"
Pada perjalanan pulang pun wajahku masih tidak bisa menyembunyikan ekspresi bahagia yang terpancar di sana. Sampai kemudian Herlin mengomentarinya.
"Bisa kau hentikan wajah senangmu itu?"
"Kau ini tidak bisa melihat orang senang, ya?" ucapku datar. "Ngomong-ngomong, bagaimana hasil ujianmu?" lanjut tanyaku.
Dia tidak menjawabnya secara langsung, tapi malah mengeluarkan semua hasil ujiannya dari dalam tas. Semua kertasnya berisikan kertas ujian yang rata-rata nilainya adalah seratus dan sembilan puluh. Nilai paling kecil adalah pelajaran matematika yang memiliki nilai sembilan puluh.
"Hasilku jelek. Aku tidak dapat seratus semua."
"Darimananya yang jelek dari itu semua?!"
Aku hanya bisa menghela nafas karena sifatnya. Entah dia itu sombong atau hanya polos saja, tapi yang penting kami berdua berhasil lulus.
Lalu langkah selanjutnya juga tidak kalah penting dan juga menegangkan — setidaknya untukku. Yang akan kami lakukan selanjutnya adalah meminta izin kepada ibuku.
Herlin bilang padaku, supaya diriku bisa lebih fokus di turnamen nanti, aku harus menyelesaikan semua urusan yang bisa mengganggu konsentrasi ku dalam pertandingan.
Yah ... untuk yang satu ini aku setuju pada Herlin. Aku tidak ingin membiarkan ibuku khawatir lagi sama seperti sebelumnya. Jadi di sinilah kami sekarang.
"Tapi apa kau benar-benar perlu ikut? Aku bisa mengurusnya sendiri, tahu."
"Jika kau tewas dalam turnamen itu, Ibumu bisa tahu akan datang kemana nantinya," ucap Herlin.
"Te-tewas?! Turnamen itu juga sampai mengorbankan nyawa pesertanya?!"
Aku tidak diberitahu soal yang ini! Apa-apaan turnamen menyeramkan satu ini! Semangat dalam diriku yang awalnya sudah membumbung setinggi langit, kini langsung hancur seketika ketika mendengar hal itu.
"Tentu saja tidak. Sudah, cepat masuk duluan." Tapi ternyata dia berbohong. Dasar perempuan sialan.
Aku tidak bisa tahu kapan dia serius dan kapan dia bercanda. Semua ucapannya keluar dari wajah sedingin robot itu yang terdengar sama. Ngomong-ngomong, kami berdua langsung masuk ke dalam rumah.
"Aku pulang! Ibu, ada temanku datang!"
"Selamat datang! Apa Kudou dan Hira datang berkunjung?"
Tapi ucapannya melemah ketika tebakannya salah dan yang ia lihat adalah seorang perempuan berambut pirang. Oh iya, aku baru ingat kalau aku tidak pernah membawa teman perempuan ke rumah. Itu menjelaskan wajah terkejut yang ditampilkan ibuku.
Tapi aku mohon hentikan, Bu. Kau membuatku jadi terlihat menyedihkan.
"Dia teman sekelasku, Ririsaka Herlin." Aku memperkenalkan Herlin dan dia langsung menundukkan kepalanya sebagai tanda salam. "Maaf mengganggu," ucap Herlin.
Tapi ibu tidak mengucapkan sepatah kata lagi, dan secara tiba-tiba menghampiri Herlin dengan cepat lalu memegang pipinya sambil memperhatikan seluruh bentuk wajahnya dengan sangat serius.
"Ibu ... apa yang Ibu lakukan?"
Herlin ingin menjauhkan wajahnya dari Ibuku karena merasa sedikit terkejut, tapi sejauh ini ia masih bisa menahannya. Sejujurnya aku juga bingung dengan apa yang ibuku lakukan.
"P-permisi ...?" Herlin mencoba bersuara agar ibuku kembali ke kesadarannya dan melepaskan pipi Herlin dari tangannya.
"Ternyata dia benar-benar perempuan!" Ibuku tiba-tiba berbicara senang dan setelah itu menjauhkan tangannya dari Herlin.
__ADS_1
"Tentu saja dia perempuan. Apa ada yang salah dengan hal itu?"
"Ibu tidak pernah melihatmu dekat dengan perempuan selama enam belas tahun kau hidup. Tapi akhirnya bakal ada titik terang untuk masa depanmu! Ibu bahagia sekali!"
Gkkh! Hatiku serasa ditusuk oleh panah, lalu dibelah menjadi dua, dan kemudian dihancurkan di mesin press. Aku tidak percaya kalau Ibuku sendiri sangat meremehkan anaknya yang populer ini.
Aku memang tidak pernah membawa teman perempuan ke rumah, tapi bukan berarti perlu dikhawatirkan. Anakmu ini perlu dipeluk oleh perempuan dan menangis di dalam pelukannya, Bu! Aku tidak semenyedihkan itu kok, sumpah!
"Kasihan." Herlin melihat ke arahku.
"Hentikan." Aku tidak akan membiarkan Herlin menabur garam di atas lukaku lebih dari ini. Jadi aku langsung menghentikan apapun yang ingin ia katakan selanjutnya.
"Mari hentikan membicarakan betapa menyedihkannya anakku. Ayo, Herlin-chan! Aku sudah membuat sesuatu untuk makan siang ini."
"Tidak, aku—"
Tapi Herlin tidak mendapat kesempatan untuk mengucapkan satu patah kata pun lagi dan tangannya langsung ditarik oleh Ibu. Sementara aku hanya menghela nafas melihatnya dan ikut masuk ke dalam.
"Padahal sudah kubilang aku akan melakukannya sendiri," gumamku.
"Oh iya, bagaimana soal nilai ujian kalian?" Ibu membuka pembicaraan ketika kami sedang makan.
"Ibu tidak perlu mengkhawatirkan apapun soal hal itu, aku lulus semua pelajaran."
"Heh~ Bagaimana denganmu, Herlin-chan?" Entah kenapa reaksi ibu yang biasa saja membuatku merasa terpinggirkan.
"Tidak terlalu bagus. Aku tidak dapat seratus di semua pelajaran."
"Sudah kubilang, kalau nilaimu itu bagus banget!"
"Tapi bukankah akan lebih baik kalau misalnya bisa dapat seratus semua?"
"Itu memang benar, tapi aku tidak pernah melihat seseorang yang bisa mendapat seratus di semua pelajaran. Makanya mendengar ocehanmu bilang kalau nilaimu jelek membuatku kesal."
"Hmm ... jadi begitu. Aku kira Yuuki-san menyuruhku untuk dapat seratus semua ketika bilang 'lakukan yang terbaik'." Herlin menyentuh dagunya mengingat kembali apa yang dikatakan Yuuki-san sebelumnya.
"Aku tidak mengerti darimana datangnya pemikiran liar itu."
Yah .... aku tidak bisa menyalahkannya. Ia selalu melatih dirinya untuk sempurna dalam segala hal, bahkan dalam hal kecil seperti ini. Melatihnya untuk rileks sepertinya akan butuh waktu.
Tapi aku sadar kalau Ibu hanya memperhatikan kami berdua sambil memangku dagunya dan tersenyum, membuatku sedikit salah tingkah.
"Kalian cukup akrab, ya? Kau tidak pernah bilang kalau punya teman perempuan seakrab ini, Iraya."
Aku dan Herlin saling berpandangan. Tidak pernah terpikirkan sedikitpun untuk mengenalkan Herlin sebelumnya kepada Ibuku karena — kau tahu lah kenapa. Tapi aku baru sadar, membawa Herlin secara tiba-tiba begini membuat suasana cukup canggung.
"Baiklah, aku merestui kalian!" Tiba-tiba Ibu berbicara sesuatu yang tidak masuk akal lainnya.
"Eh?!! Tunggu sebentar! Apa maksudnya 'merestui kami'?!"
"Hm ...? Kalian kesini tidak datang untuk meminta restu Ibu?"
"Tentu saja tidak!"
"Iraya, apa maksudmu? Kita kesini memang untuk meminta restu Ibumu, kan?" ucap Herlin polos.
"Tuh, ternyata benar."
"Bukan itu!"
Aku yakin otak barbar Herlin tidak akan sampai dengan apa yang sebenarnya dimaksud oleh Ibuku. Jadi aku mencoba meluruskan kesalahpahaman yang terjadi di sini sebisa mungkin.
Kami pun melanjutkan makan kami sambil aku meluruskan situasi sebelum semuanya menjadi semakin runyam. Beruntungnya, Ibu mengerti dan sekarang malah menyuruhku untuk mencuci semua piring bekas makan kami.
"Jadi kalian ingin pergi ke suatu tempat? Dan maka dari itu ingin minta izin dari Ibu?"
"Benar sekali." Herlin mengangguk.
"Ini bukan tempat yang aneh-aneh, kok." Aku berteriak dari arah dapur sebelum Ibu menuduhku akan pergi ke tempat yang aneh lagi.
"Kalian mau pergi kemana?"
"Himawari Orphanage, tempat tinggalku. Panti asuhan kami mengadakan acara saat musim panas nanti dan karena Iraya bilang ingin membantu menyiapakannya, maka aku dengan senang menerimanya. Tapi acaranya cukup memakan waktu, membuat Iraya harus menginap di sana selama kurang lebih seminggu."
Herlin menjelaskan situasinya. Tentu saja itu hanya alasan yang ia buat-buat. Tidak ada acara musim panas di panti asuhan selama musim panas, aku akan menghadiri Turnamen The One di Tokyo nanti. Dan untuk membuat Ibu tidak khawatir, aku terpaksa berbohong padanya. Lagi.
"Jadi ... kalau bisa, apa Iraya diizinkan untuk pergi?" pinta Herlin.
__ADS_1
"Aku juga memohon, Bu!" Aku ikut berteriak dari dapur.
Ibu tidak langsung menjawab. Dia sempat berpikir sebentar dalam diam yang membuat kami juga ikut tegang. Saking heningnya, hanya terdengar suara keran di dalam rumah untuk beberapa saat.
"Kalau boleh tahu, apa Herlin-chan sudah berada di panti asuhan sejak kecil? Dan apa kau ... kesepian?" tanya Ibu.
"Kedua orangtuaku meninggal saat aku kecil. Meski tidak terlalu mengingat wajahnya, tapi aku ingat hangatnya pelukan yang ia berikan dulu. Jadi hanya dengan mengingat itu, sudah cukup untukku. Aku juga punya orang-orang yang aku sayangi di panti asuhan."
Ibu mengulurkan tangannya dan meraih pipi Herlin, menatapnya dengan tatapan iba. Aku ingin kembali melepaskannya, tapi kali ini Herlin tidak melawan. Matanya justru melebar seolah merasakan sesuatu pada sentuhan sederhana Ibuku.
"Tentu, akan ibu izinkan. Dan juga, jangan sungkan untuk mampir kesini setelah itu. Rumah ini selalu terbuka menyambut kedatanganmu."
"...."
Herlin tidak berbicara sepatah kata lagi. Ia berdiri dan menundukkan kepalanya sebagai ucapan terima kasih karena diterima dengan baik dan untuk makanannya, lalu pergi dari sini.
"Iraya, aku akan menunggu diluar," ucapnya sambil pergi keluar.
"Hey, tunggu aku!" Sifatnya tiba-tiba menjadi aneh. Dan setelah menyelesaikan cuci piring, aku langsung menyusul Herlin.
"Oi!"
Herlin menunggu tepat di depan pintu luar sambil termenung menungguku. Ia memegangi pipi bekas dielus oleh Ibuku, seolah itu adalah sesuatu yang berarti. Padahal hanya sebuah elusan biasa.
"Kenapa kau kabur, sih?" tanyaku.
"Iraya ... Kau masuk ke Black Rain untuk bertambah kuat, kan? Untuk bisa melindungi orang yang kau sayang, kan?"
"Ada apa ini tiba-tiba?"
"Jawab saja."
Sifatnya jadi aneh ketika Herlin bertemu dengan Ibuku. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan dari tadi, tapi untuk pertanyaannya barusan tentu saja jawabannya sudah jelas.
"Apa aku perlu memperjelasnya lagi? Tentu saja itu tujuanku."
"Aku mengerti. Kita akan bertemu lagi besok di panti asuhan. Untuk hari ini, kau istirahat saja dulu."
"Baik ...."
Dan Herlin pun langsung pulang. Aku menawarkan untuk mengantarnya, tapi dia menolak dan menyuruhku untuk beristirahat karena besok kita akan pergi ke Tokyo.
Aku kemudian kembali masuk ke dalam sambil berpikir tentang perubahan sifat Herlin yang tiba-tiba itu. Ia terlihat seperti terbebani oleh sesuatu di dalam kepalanya. Entah apa itu.
"Apa Herlin-chan sudah pulang?" tanya Ibu.
"Ah, iya."
"Sayang sekali, padahal Ibu ingin memberikan makanan untuk ia makan di panti asuhan."
Ibuku sedang sibuk membereskan meja makan bekas makanan kami dan berbicara tanpa melihat ke arahku. Tapi ini adalah saat yang tepat untuk bertanya padanya, apalagi perubahan sifatnya terjadi setelah ia berbicara dengan Ibuku.
"Bu, apa Ibu bilang sesuatu yang membebani Herlin?"
"Membebani? Tidak ada, ah. Ibu hanya bertanya tentang sejak kapan tinggal di panti asuhan dan apa ia merasa kesepian, hanya itu saja."
Pasti ada sesuatu terjadi saat sedang mencuci piring yang tidak aku ketahui. Entah itu akan berpengaruh padanya nanti atau tidak, aku harus segera mencari tahu.
"Kau tidak perlu terlalu khawatir." Cecilia tiba-tiba berbicara.
"Apa?"
"Dia hanya teringat kenangan masa lalu. Aku rasa tidak lebih dari itu dan tidak ada yang bisa kau lakukan juga."
Kenangan masa lalu? Tapi kenapa dalam waktu yang sangat acak. Aku benar-benar tidak mengerti yang sebenarnya terjadi atau mungkin dia ini hanya mengarang saja.
"Tahu apa kau soal perasaan manusia."
"Apa kau bicara sesuatu?!"
Tapi ucapanku terlalu keras sampai-sampai Ibu bisa mendengarnya dan menganggap kalau aku mengomentari perkataannya. Ia dengan senyum yang mengerikan berjalan perlahan ke arahku sambil membawa pisau dapur.
"I-itu ... aku bukan ... tunggu sebentar, Bu!"
"Sudah berani menjawab, ya?!"
"Ini salah paham!"
__ADS_1
Dan pada hari itu, aku hampir saja tidak bisa melihat matahari musim panas lagi.
Bersambung