Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 77 : Angin Melawan Api


__ADS_3

Aku membuka mataku lalu kemudian menyadari kalau aku baru saja sadar dari tidurku. Setelah menyesuaikan fokus mataku, akhirnya aku bisa melihat dengan jelas.


Dan saat aku sudah sadar, aku sedang duduk di sebuah ruangan yang cukup kecil dengan suara-suara berisik yang berasal dari luar. Tapi aku tidak bisa terlalu mendengar dengan jelas karena suaranya seperti terhalang oleh sesuatu.


Dan di ruangan yang sama, aku melihat seseorang yang sedang berdiri memunggungiku. Perempuan rambut putih dengan gaya konde dua ala gadis cina.


Dia sepertinya menyadari kalau aku sudah bangun saat ia kemudian menengok ke arahku dan berbicara padaku.


"Kau sudah sadar? Cukup lama juga kau untuk sadar."


Aku yang mengenali suara itu kemudian membalasnya dengan tenang.


"Ca-Caramel? Begitu, ternyata aku masih di sandera, ya?"


Aku melihat ke arah kedua tanganku yang ada di belakangku. Tidak ada tali yang mengikat kedua tanganku, tapi ia masih terasa seperti dikekang oleh sesuatu.


Aku kemudian memfokuskan auraku ke arah mataku dan melihat sebuah kotak transparan yang menyegel tanganku agar tidak bisa lepas.


"Tidak usah mencoba yang aneh-aneh, kau tidak akan bisa lepas dari aura milikku. Sama seperti segel yang berada di dalam tubuhmu itu."


"Di dalam ... tubuhku?"


"Benar, sesuatu yang menghalangimu untuk mendapatkan kekuatan penuh dari Subject C. Kurasa Subject C di dalam tubuhmu sudah menyadari hal itu," jelas Caramel.


Aku melihat ke atas mencoba memeriksa apakah aku bisa mendengar suara berisiknya di dalam kepalaku atau tidak. Dan sesuai dugaanku, dia tidak ada di sini. Aku berhasil mengecoh para Assassin ini yang berpikir kalau Cecilia masih berada di dalam tubuhku.


Lalu aku sedikit terganggu dengan suara berisik yang berasal dari luar. Aku pun menanyakannya pada Caramel.


"Ngomong-ngomong, apa yang dilakukan teman-temanmu di luar? Kenapa dari tadi mereka berisik sekali?"


"Oh itu .... Mereka sedang bertarung."


"Bertarung? Melawan siapa?"


"Sudah jelas, bukan? Tentu saja melawan Black Rain."


"Black—?!"


Aku menyadari sesuatu. Jadi mereka sudah mulai untuk menyelamatkanku, ya? Kalau begitu aku juga harus bersiap-siap untuk bertarung. Aku lalu mengeluarkan seringai yang kemudian di sadari oleh Caramel.


Meskipun begitu, ia tidak terlalu memperdulikannya dan tetap bersiaga dengan apa yang akan aku lakukan.


"Caramel, selagi kita berdua ada disini. Kurasa tidak salah jika kita sedikit mengobrol, kan?" ucapku.


"Apa yang kau rencanakan?" balasnya curiga.


**


PoV Kurobane Mei


Udara malam ternyata ini cukup dingin dan juga langit sedang tidak berawan sama sekali sampai memperlihatkan bulan sempurna yang indah. Tapi kali ini aku sedang berada di kondisi yang tidak mengenakkan. Yap, sedang bertarung melawan seseorang.


Orang itu—kalau tidak salah namanya Nimis, mendongak ke atas untuk melihatku yang sedang melayang menggunakan angin yang ada di bawah kakiku.


Wajahnya terlihat cukup tenang meskipun tahu kalau ia tidak bisa menjangkauku di jarak yang cukup jauh ini. Ia masih memasang kuda-kudanya dan belum berubah dari tadi. Apa mungkin ia sedang menungguku untuk melakukan serangan duluan.


Tapi tiba-tiba mulutnya bergerak seakan merapalkan sesuatu. Aku pun bersiaga untuk serangan yang akan dia lakukan saat ini.


"Hinokami no Chikara : Hi no Zangeki, Ichinen!"


Blaarr…


Nimis menebaskan Katana-nya di udara dan menghasilkan sebuah tebasan api yang diarahkan tepat ke arahku. Tapi meskipun begitu aku masih bisa menghindarinya dengan mudah karena kecepatannya yang tergolong biasa.


"Ninen!"


Blaarr… Blaarr…


Kali ini ia melakukannya lagi. Tapi berbeda dengan sebelumnya yang hanya sebuah tebasan, kali ini Nimis melepaskan dua tebasan api sekaligus kearahku. Meskipun aku kembali masih bisa menghindarinya.


"Sannen! Yonnen! Gonen! Rokunen! Nananen! Hachinen! Kyunen! Juunen!"


Blaaaaaarrr… Blaaaaaarrr…


Kali ini ia melakukannya secara bertubi-tubi. Setiap satu tahap serangannya selalu bertambah tebasan apinya menjadi satu tingkat.


Aku melesat ke kanan, ke kiri, ke atasnya, bahkan melesat ke bawah untuk menghindari setiap serangannya. Serangan yang tidak mengenaiku malah mengacau kemana-mana seperti ke pohon, tanah, bahkan udara kosong sekalipun membuat tempat kami bertarung menjadi seperti neraka.


Aku melesat bagaikan seekor burung yang dikejar oleh pemburu yang menggunakan peluru berbentuk api. Lalu entah itu keberuntungan atau kemampuanku, aku masih bisa menghindari semua serangannya.


Setelah itu aku turun dari atas langit. Menapakkan kembali kakiku ke atas tanah, kembali ke kodratku sebagai manusia yang seharusnya tidak bisa terbang. Lingkungan di sekelilingku benar-benar seperti neraka dan rasa panasnya begitu menguasai tubuhku yang membuatku berkeringat begitu banyak.


Meskipun panas disini membuatku bermandikan keringat, tapi berbeda dengannya. Tubuhnya tidak mengeluarkan keringat sedikitpun, suasana seperti bagaikan hal yang biasa baginya.


Tatapannya juga sekarang hanya terfokus padaku. Ia mengingatkanku pada Herlin, ketika sudah fokus pada targetnya ia akan terus mengejarnya sampai targetnya lenyap. Benar-benar Assassin sejati.


Zwuusshh…


Aku kemudian sedikit memadamkan api yang ada sekitarku dengan kekuatanku agar aku bisa lebih leluasa bernafas.


"Apa seranganmu hanya itu?" tanyaku.


Nimis tidak langsung menjawabku. Ia terlebih dahulu berdiri seperti biasanya dan melepaskan kuda-kudanya, meskipun tidak sampai menyarungkan kembali Katana-nya.


"Apa ini pertama kalinya bertarung di luar turnamen seperti ini?"

__ADS_1


"Hnm? Memangnya kenapa?"


"Hah … itu menjelaskan semuanya." Nimis menghela nafas.


"Aku tidak mengerti apa maksudmu bicara begitu, tapi apa kau meremehkanku?"


Aku belum mengerti dengan apa yang dia rencanakan, untuk sekarang aku hanya akan bersiaga saja menunggunya melakukan sesuatu.


"Entahlah. Tapi tadi aku sengaja membuka banyak celah untuk dirimu menyerangku, tapi yang kau lakukan hanyalah menghindar saja."


"…."


"Kau ini … masih pemula, ya?" ucap Nimis.


Aku yakin dia hanya mencoba memprovokasiku, tapi meskipun begitu aku juga tidak akan bisa menang jika hanya menghindar saja. Maka dari itu aku sudah memutuskannya.


Aku mengeluarkan seringai dan aura pada area sekitar kaki dan tanganku. Mengambil ancang-ancang sebelum melesat tepat kearah Nimis langsung. Aku akan bertarung dengan sungguh-sungguh saat ini.


"Kalau begitu sekarang saatnya giliranku!"


Zwuusshh… Zwuusshh…


Aku menciptakan dua tornado berukuran kira-kira dua meter yang mengarah dengan gerakan zig zag yang membuat Nimis bingung. Tornado itu menghisap apapun yang dilewatinya termasuk api dan benda-benda hancur sehingga membuatnya semakin kacau.


Nimis yang melihat dua tornado datang kearahnya langsung memasang kuda-kudanya lagi. Tapi kuda-kuda yang ia lakukan kali ini berbeda dengan kuda-kudanya sebelumnya.


Kuda-kuda yang ia ciptakan kali ini membuatnya menebaskan pedangnya secara diagonal sebanyak dua kali yang membentuk serangan 'X' dan menebas dua tornado itu dalam satu kali tebasan. Meninggalkan hembusan angin sepoi-sepoi yang meniup pelan rambut dan pakaiannya.


Tidak berhenti sampai disitu. Setelah serangan pertamaku berhasil dihindari, aku langsung melesat lurus ke arah Nimis sesaat setelah ia menebas tornado tadi yang membuatnya sedikit terkejut.


Aku mengarahkan pukulanku tepat kearah wajah terkejutnya ditambah dengan auraku yang dapat membuatnya langsung pingsan. Tapi Nimis memiliki refleks yang cepat sehingga ia bisa menghindarinya walaupun pada detik-detik terakhir.


Lalu tanpa jeda Nimis melakukan serangan saat aku masih berada di sampingnya yaitu mencoba melakukan tusukan pada perutku.


Aku yang sudah menyadari refleks cepat milik Nimis berniat untuk menghindari tusukan Nimis dengan mendorong tubuhku dengan angin yang aku ciptakan pada kedua tanganku sehingga mendorong tubuhku menuju ke belakang dan langsung menangkap Katana yang mencoba menusukku.


Kami berdua sekarang dalam kondisi terkunci. Dimana aku sedang memegang bilah Katana milik Nimis sehingga ia tidak bisa menggunakan pedangnya. Sementara aku masih memiliki tangan kiriku yang bebas melakukan apa saja.


Tanganku yang sedang menggenggam bilah Katana Nimis tidak terluka karena aku melapisi aura disana yang membuatnya aman. Aku mengeluarkan seringai membara akan pertarungan, sementara Nimis juga sepertinya melakukan hal itu juga walaupun lebih kalem daripada aku.


"Kau mau membuat kita begini sampai kapan?" tanya Nimis.


"Sampai kau menyerah, mungkin?"


"Kalau begitu kau harus menunggu lama! Hinokami no Chikara : Bakuretsu!"


"Jangan sombong dulu! Hariken!"


Kami berdua sama-sama melepaskan jurus kami masing-masing untuk melepaskan diri kami yang terkunci saat ini. Nimis menggunakan ledakannya kembali untuk membakarku hidup-hidup. Sementara aku menggunakan putaran angin yang mencegah apapun masuk dalam area Hariken milikku.


Zwuuushh… Blaaaaaarrr…


Teriakan kami menggema seiring dengan hantaman antara kekuatan yang kami keluarkan. Angin dan api beradu membuat suasana, udara, bahkan semangat kami membara akibatnya.


Duaaarrrr…


Ledakan terjadi akibat serangan kami yang membuat kami berdua terlempar menjauh dan area tempat ledakan tadi meninggalkan bekas yang cukup besar. Pipa-pipa aliran air bawah tanah dan jalanan rusak berat akibat pertarungan kami. Meskipun begitu, pertarungan kami masih belum berakhir.


Aku kembali berdiri dengan luka bakar yang cukup parah hampir memenuhi seluruh tubuhku. Sementara Nimis juga berdiri dengan luka sayatan yang hampir merusak bajunya serta wajahnya.


Aku kembali mengalirkan auraku kearah seluruh bagian tangan dan kakiku, kembali bersiap untuk bertarung lagi. Nimis juga sudah kembali bersiap dan memasang kuda-kudanya lagi.


"Kau tahu kan kalau ini masih belum berakhir?" tanya Nimis.


"Aku tahu, makanya aku ingin segera mengakhirinya."


Swuuushh… Sryiiingg…


Nimis bergerak kearahku dengan cepat. Bersamaan dengan api kecil yang menghilang di sekitar tempatnya berpijak sebelumnya, ia mengincar bagian perutku dan membelahnya menjadi dua.


Tapi tidak semudah itu baginya. Aku menaikkan satu kakiku yang sudah kuperkuat menggunakan aura dan melindungi perutku dari tebasan Katana Nimis, menghasilkan bunyi dentingan yang menggema disekitar kami.


Lalu aku membalasnya dengan dua pukulan dari kedua tanganku yang mengincar kearah wajahnya. Ia masih terus bisa menghindarinya, tapi seranganku belum berakhir sampai situ.


Zwuusshh… Zwuusshh…


Menyusul kedua pukulanku tadi, dari belakang muncul hembusan angin kencang yang siap menerjang Nimis. Ia tidak menyangka serangan itu dariku dan memilih untuk mundur, sehingga seranganku hanya menghancurkan tanah yang ada di depanku.


Menapak dengan sempurna, Nimis kembali memasang kuda-kudanya dan bersiap untuk menyerang lagi sambil merapalkan sesuatu.


"Hinokami no Chikara : Hi no Zangeki, Sannen!"


Nimis kembali menebaskan Katana-nya di udara dan menciptakan tiga hembusan api yang mengarah langsung kepadaku.


"Hariken!"


Aku kembali membuat putaran angin yang melindungiku dari tebasan apinya itu. Setelah tebasan api dan Hariken milikku menghilang, aku menyadari kalau Nimis sudah tidak berada di tempat sebelumnya.


Aku mencarinya di sekelilingku sambil menengok ke kiri dan ke kanan, tapi tetap tidak menemukannya. Asap dan api yang dihasilkan dari pertarungan kami benar-benar membatasi penglihatanku saat ini.


Bruukk…


Tiba-tiba tembok pagar yang terbuat batu rubuh di sampingku. Aku menengok kearahnya tapi itu hanyalah tembok yang rubuh karena tidak kuat menahan pertarungan kami.


Lalu aku merasakan ngeri di leher belakangku. Dengan secepat kilat aku menengok kearah sebaliknya dan menemukan Nimis yang sudah bersiap untuk menusukku dari samping.

__ADS_1


Aku mencoba menahan tusukannya, tapi entah bagaimana bilah Katana Nimis menembus tepat di sela-sela jariku, seakan merangsek masuk dan bersiap untuk menusuk kepalaku.


Sryiiingg…


Aku berhasil menahannya dengan telapak tangan kiriku. Meskipun itu menimbulkan luka karena tekanan yang difokuskan lebih besar dari tebasan, tapi aku berhasil meminimalisir lukanya sehingga bilah Katana-nya hanya menembus hingga ujungnya saja.


Mata Nimis sedikit melebar seakan tidak percaya kalau aku berhasil menahannya. Lalu aku melancarkan serangan pada perutnya menggunakan kaki kananku.


Duuukk…


"Tcih!"


Nimis mendecakkan lidahnya seiring dengan aku yang melemparnya ke atas langit, menjauh dari tanah. Lalu dengan cepat aku menghampirinya yang masih berada di udara dan menyerangnya lagi.


Duukk… Triiingg… Triiingg…


Aku semakin memukulnya menjauh dari tanah dan membuatnya terbang semakin tinggi. Jika berada di udara itu adalah kemenanganku, karena aku bisa bergerak lebih bebas.


Saat sudah cukup tinggi, Nimis yang sudah tidak 'dibantu' lagi olehku untuk terbang. Kini kembali jatuh ke tanah perlahan tertarik oleh gravitasi. Di saat seperti ini adalah kesempatanku.


Aku bergerak dengan cepat bagaikan anak panah yang dapat mengatur dirinya sendiri. Saat Nimis sedang terjatuh, aku bisa dengan bebas memukulnya dan menyerangnya. Sementara ia hanya bisa bertahan.


Duuukk… Daaakkh… Daaakkh…


Lalu Nimis sepertinya ingin melakukan serangan lain. Ia sesaat melihat ke bawah yang jaraknya masih cukup jauh dan kemudian ia kembali fokus kepadaku. Ia kemudian melepaskan genggaman Katana-nya dan menendangnya dengan bagian telapak kakinya agar melesat lebih cepat.


Sryiiingg…


Tapi serangan itu tidak terlalu sulit untuk dihindari, apalagi olehku yang bisa bergerak dengan bebas di udara. Jadi itu seperti sebuah serangan putus asa dan sia-sia.


Lalu sebelum benar-benar menyentuh tanah, aku memberinya pukulan terakhirku yang hanya ia bisa tahan dengan menyilangkan tangannya di depan tubuhnya agar pukulanku tidak mengenai organ vitalnya. Dan ia pun jatuh ke tanah dengan lebih cepat.


Bruuuukkkk…


"Ahaakhh …!!"


Nimis mengeluarkan darah dari mulutnya karena menghantam tanah dengan keras. Tanpa ragu aku pun segera mendekat kearahnya dan mencekik lehernya agar ia tidak bisa bergerak kemana-mana lagi.


Ia mencoba untuk melepaskan cekikanku. Tapi kekuatannya sudah jauh melemah, aku mencoba mencekiknya lebih keras lagi saat Katana milik Nimis jatuh dan tepat menancap di tanah.


Meskipun aku sudah mencekiknya dan kekuatannya sudah melemah, tapi tatapan fokus dan ingin membunuh miliknya belum hilang sama sekali. Ia masih berniat untuk membunuhku dengan kondisinya yang sudah seperti ini. Hal itu membuatku tidak nyaman, setidaknya aku harus membuatnya pingsan atau tidak bisa bergerak dulu.


"Hei, apa kau tahu …."


"Eh?"


Tiba-tiba Nimis mengajakku berbicara.


"… Kau memiliki satu kelemahan besar yang tidak kau sadari."


"Jangan banyak bicara."


"Kau sendiri menyadarinya, kan? Kalau kita saat ini sedang dikelilingi oleh hawa panas dan api yang besar."


"Aku bilang tutup mulutmu!"


"Kelemahanmu adalah … kau terlalu ragu untuk membunuh musuhmu."


Zwuusshh… Blaaaaaarrr…


"?!!"


Tiba-tiba suasana di sekeliling kami menjadi aneh. Api yang tadinya normal-normal saja, berubah menjadi ganas dan membakar lebih cepat lagi. Aku melihat kearah Nimis yang sedang aku sudutkan, tapi ia terlihat tidak melakukan apa-apa.


"Oi! Apa yang kau lakukan?!"


"Radius seranganku ini bisa lebih dari 100 meter. Dengan kondisimu yang sekarang, apa kau bisa menghindarinya?"


Api di sekitarku semakin menggila dan membara dengan liar. Sepertinya aku tidak punya pilihan lain dan memutuskan untuk lari dari sini meninggalkan Nimis. Sedangkan itu Nimis yang sedang terbaring di tanah dengan suaranya yang lemah, ia merapalkan sesuatu.


"Hinokami no Chikara : Explosion."


Setelah merapalkan hal itu, api yang tadi membara gila di sekitarku kini membakar apapun yang ia lewati dalam radius 100 meter. Membakar hampir beberapa blok perumahan tempat kami bertarung, seakan ledakan itu mengikuti blok perumahan dan mengabaikan perumahan yang ada di kanan dan kiri jalan.


Sementara aku yang terus berlari melihat ke belakang untuk memeriksa keadaan di belakangku, dan kondisinya buruk. Bisa dibilang sangat buruk. Ledakan api itu merambat dengan cepat, bahkan jika aku menggunakan kekuatanku saat prima, kurasa aku masih belum tentu bisa menghindarinya.


Lalu aku pun mengeluarkan sisa-sisa auraku untuk melindungi seluruh tubuhku, berharap bisa mengurangi dampak luka yang aku terima nantinya. Meskipun aku sangat yakin kalau luka yang aku terima, tidak akan ringan.


Zwuusshh… Duaaarrrr… Duaaarrrr…


Sementara itu di tempat lain, Ardenter, Ishikawa-san, Delta, dan Herlin yang sedang bertarung. Perhatiannya teralihkan dengan ledakan besar yang jaraknya sangat luas. Pertarungan mereka terhenti sebentar untuk mencerna apa yang baru saja ia lihat. Lalu Ardenter yang menyadari siapa dalangnya, kemudian menggumamkan sesuatu.


"Ledakan itu … Nigiyaka!"


Kembali ke tempat pertarunganku dengan Nimis. Keadaannya benar-benar kacau disini, hampir semua bagian jalan dan tembok batu menghitam karena ledakan tadi.


Dan di tengah situasi yang kacau itu, terlihat Nimis yang berjalan mengambil Katana-nya yang menancap di tanah. Lalu berjalan menyeret tubuhnya yang sudah banyak luka di seluruh bagiannya.


Ia berjalan ke sebuah jalan yang tidak jauh dari situ. Melihat kearah bawah dengan tatapan kasihan bercampur ketidakpedulian.


Seorang gadis yang hampir seluruh bagian tubuhnya menghitam. Dengan posisi tengkurap yang dimana satu tangannya mengarah ke depan seolah ingin meraih sesuatu.


Yap, benar sekali. Gadis itu adalah aku. Aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi, aku pikir tadi itu suasananya masih panas, tapi entah kenapa sekarang perlahan-lahan berubah menjadi dingin. Aku juga sudah tidak bisa membuka sebelah mataku dan yang satu lagi hanya tinggal sedikit terbuka.


Hal terakhir yang aku lihat adalah jalanan hitam akibat terbakar. Dan setelah itu, semuanya menjadi gelap.

__ADS_1


"Bodoh sekali," gumam Nimis.


Bersambung


__ADS_2