
Semua orang hening ketika bunyi bilah pedang beradu. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka, para penonton mencondongkan tubuh mereka ke depan untuk mendapat pemandangan yang lebih jelas, masih tidak percaya kalau yang mereka lihat adalah kenyataan.
Begitu juga dengan Mitsu, komentator yang daritadi mendukung kemenangan Hayate kini juga tidak bisa berkata-kata untuk sesaat. Tapi dengan cepat ia kembali ke kenyataan, karena sebagai komentator, ia tidak bisa membiarkan pertandingan hening dan mengomentari hal yang sedang ia saksikan.
"Tertahan .... SERANGAN HAYATE KENDOU DI TAHAN OLEH SATOU IRAYA !!!"
"WOOOAAAHHHHH !!!"
Baru setelah Mitsu menjelaskan apa yang baru saja terjadi, penonton yang membeku kagum akhirnya dapat mencerna kejadian yang berada di arena. Mereka tidak menyangka kalau pertandingan menarik akan terjadi bahkan saat masih pertarungan pertama.
Apalagi pertarungan ini bagaikan Daud melawan Goliath. Ayam melawan seekor elang. Semifinalis tahun lalu menghadapi kontestan debutan tahun ini, tentu saja hal ini menjadi semakin menarik.
"Apa yang baru saja aku lihat tadi?!"
"Dia punya mata! Bocah debutan itu punya mata di belakang kepalanya!"
"Ini baru pertandingan pertama, lho! Apa-apaan turnamen tahun ini?!"
Para penonton juga masih tidak percaya dengan apa yang mereka lihat barusan. Seorang bocah yang tidak diketahui asalnya dari mana, datang secara tiba-tiba dan memberikan tontonan yang sangat menarik, membuat mereka tidak menyesal membayar mahal untuk menonton turnamen ini.
Di samping Mitsu, komentator yang tidak terlalu banyak bicara sekaligus anak baru — Caramel, juga menampilkan ekspresi terkejut melihat pertandingan itu. Padahal dari awal, ia terlihat tidak tertarik sama sekali. Bahkan ia sampai menyunggingkan seringai kecil yang ia tutupi dengan kertas.
Selain para penonton yang berteriak menggila dan komentator yang terkejut, keterkejutan yang sama juga ditunjukkan oleh Oita-san. Meskipun ia juga senang akan perkembangan Iraya yang jarang dirinya lihat — karena ia selalu sibuk.
"Fyuuh ...." Herlin menghela nafas lega melihat apa yang dilakukan Iraya.
"Perkembangannya lumayan pesat padahal hanya sekitar sebulan dia bergabung dengan kita. Apa kau yang mengajarinya, Herlin-chan? Bagaimana caramu melatihnya sampai bisa seperti itu?"
"Tidak ada sesuatu yang spesial, aku hanya memberikan dasar penjelasan dan mempraktikkannya di depan wajahnya langsung. Sisanya, tergantung dengan kemampuannya bisa cepat beradaptasi atau tidak."
"Dasar penjelasan? Bukankah ada berbagai macam yang harus dijelaskan? Tapi jika kau yang melatihnya, mungkin kau akan memberikan pelatihan yang ...."
"Tepat sekali. Aku mengajarkannya tentang latihan memperluas jangkauan aura dan menggunakan tubuhnya sebagai pusat." Seakan sudah tahu apa yang Oita-san maksud, Herlin langsung menjawab pertanyaannya.
"Itu hal yang kau pelajari dua tahun lalu setelah kalah di turnamen ini, kan? Dan kalau tidak salah, lawan terakhirmu waktu itu ...."
Oita-san berhenti sejenak untuk berpikir lawan Herlin dua tahun lalu saat ia kalah, tapi Herlin mengingat orang yang mengalahkannya dengan sangat baik. Ia tidak lupa sama sekali dengannya.
"Hayate Kendou. Orang yang sedang dilawan Iraya saat ini adalah lawan yang sama saat aku dikalahkan dua tahun lalu. Saat itu, dia benar-benar membuatku frustasi karena kecepatan miliknya yang tidak bisa aku ikuti dengan mataku, hasilnya aku kalah dengan banyak luka di sekujur tubuhku.
Sejak saat itu, aku terus berlatih, bereksperimen, dan mencari cara yang tepat untuk melawan seseorang dengan kecepatan luar biasa sepertinya. Dan aku menemukan cara paling tepat dengan teknik dasar yang tidak aku sangka, ternyata cukup mudah. Yaitu teknik perluasan aura."
"Teknik perluasan aura?"
"Benar, teknik yang sekarang menjadi andalanku dalam setiap pertarungan yang aku lakukan. Jika lawan telah masuk ke dalam jangkauan perluasan aura milikku dan menyentuhnya, maka aku bisa mengetahui darimana datangnya serangan tidak peduli seberapa cepat lawanku bergerak."
"Jadi, kesimpulannya adalah?"
"Aku tidak akan kalah lagi dengan orang yang mengandalkan kecepatan semudah itu. Bahkan jika aku mengajak Hayate Kendou bertarung ulang saat ini, dia tidak akan memiliki kesempatan untuk menyentuhku sama sekali."
Oita-san tersenyum mendengar penjelasan Herlin. Karena mau bagaimana pun, ia tetap seorang pemimpin Black Rain meskipun jarang melihat mereka. Dia juga senang karena bukan hanya Iraya yang berkembang, karena Herlin juga tidak berhenti tumbuh.
"Sungguh teknik pemalas yang merepotkan, ya?"
"Pemalas?"
"Jika tidak bisa mengikuti pergerakan lawanmu, yang perlu kau lakukan hanya membuat lingkaran aura di sekitarmu. Membiarkan musuh masuk sendiri ke dalam lubang kuburannya, dan tugasmu hanya menutup lubang kuburan itu. Bukankah itu bisa disebut sebagai pemalas?"
"Aku lebih suka menyebutnya cara 'simple', karena 'pemalas' akan membuatku terlihat buruk. Meskipun aku tidak bisa menyangkalnya," ucap Herlin.
"Hahaha ... Aku rasa memang seperti itu."
Setelah menjelaskan panjang lebar, Herlin kembali melihat ke pertandingan di depannya. Tapi Oita-san masih memperhatikan Herlin yang melakukan gerak-gerik tidak biasa. "Aku juga baru tahu kau bisa merasa tegang saat menonton seseorang," ucapnya.
"Tegang? Kenapa anda bisa berpikir seperti itu?" Herlin menengok dan memiringkan kepalanya bingung.
Oita-san melihat ke arah tangan Herlin. Kedua tangannya mengepal erat pada pegangan tribun yang menandakan kalau dia juga ikut terbawa atmosfer pertandingan ini.
"Tanganmu terus mengepal kencang dari tadi ketika Iraya di serang habis-habisan, lho. Apa kau tidak sadar?"
Herlin baru menyadarinya. Ia langsung merilekskan tangannya dan melepaskannya dari pegangan tribun. Setelah itu, ia mengalihkan pandangannya dari Oita-san dan fokus pada pertandingan Iraya.
"Aku tidak tegang." Herlin menyangkalnya dengan cepat.
Dan Oita-san juga berhenti menanyakan hal itu kepada Herlin yang menyangkalnya, meskipun sikapnya mengatakan sebaliknya. Ia kini juga ingin fokus pada pertandingan Iraya melawan Hayate.
**
Satou Iraya PoV
Baiklah, baiklah, mari apresiasi dulu pertunjukan yang aku lakukan sebelumnya. Bukankah yang tadi itu keren banget? Maksudku, aku ini sama sekali tidak diunggulkan. Tapi secara tiba-tiba menahan serangan semifinalis tahun lalu tanpa melihat! Tanpa melihat! Aku yakin setelah pertarungan ini selesai, aku akan jadi bahan obrolan di sini.
Tapi mari kita pikirkan ketenaran tak terelakkan milikku itu nanti, ketika aku menengok setelah menahan serangan Hayate, wajahnya terlihat begitu shock karena block yang aku lakukan.
__ADS_1
"Apa kau terkejut? Yah ... sebenarnya aku juga, sih."
"Tch!"
Tapi kini posisiku kurang menguntungkan, berada di dekat batas arena pertarungan bukanlah hal yang baik bagi siapapun. Hanya butuh sedikit dorongan dan pertarungan ini akan berakhir, aksi yang aku lakukan sebelumnya seratus persen juga akan sia-sia.
Jadi aku mengarahkan tendangan ke belakang dan mencoba mengenai Hayate menggunakan tumitku. Tapi responnya masih cepat meskipun sempat terkejut, dia kembali menghilang dan mundur cukup jauh dariku untuk mengambil jarak.
Posisinya dekat dengan salah satu anak panah yang tertancap di lantai beton putih arena ini. Dan itu sudah tidak membuatku terkejut, karena seperti yang aku bilang sebelumnya, aku — atau kami, sudah mengetahui rahasianya.
Dalam jarak yang cukup jauh, Hayate memandangiku dalam diam. Tatapannya serius dan sudah tidak terpampang senyuman menyebalkannya lagi. Oh? Apa mungkin dia marah?
"Apa maksudmu?" Hayate tiba-tiba bertanya. "Hah?!" Yang tentu saja membuatku bingung.
"Apa maksudmu sudah mengetahui trik milikku?"
Tentu saja dia akan bertanya. Sebenarnya aku bisa saja langsung memberitahunya, tapi jadinya tidak seru. Akan aku buat dia lebih marah dulu, deh.
"Trik? Hmm ... Aku tidak mengerti maksudmu. Apa kau yakin tidak sedang mengada-ngada?"
Hahaha ...! Rasakan itu, sialan! Siapa yang tertawa sekarang?! Begini rasanya dipermainkan, aku akan membuatmu merasakan racunmu sendiri.
"Cepat jawab aku, dasar bocah sialan!"
"Hah ... kenapa kau harus marah-marah begitu? Kau harus mengontrol emosi dalam pertarungan."
"Jangan mengguruiku! Cepat jawab atau kau akan merasakan akibatnya!" Hayate tambah marah.
"Sudah, kasih tahu saja dia." Cecilia berbicara di dalam kepalaku. "Sepertinya hanya itu trik yang ia punya, aku jadi kasihan dengannya."
Eh? Serius, nih? Padahal aku ingin membuat emosinya tersulut lebih jauh lagi, tapi sepertinya Cecilia ada benarnya. Yang ada nanti popularitas ku akan menurun karena sombong. Jadi ... ya terserah lah. Aku menghela nafas dan kemudian memberitahunya.
"Apa kau tau teknik perluasan aura?"
"Sebuah teknik dasar. Tapi apa hubungannya itu dengan mengetahui rahasiaku?"
"Memang dasar. Lalu aku memperluasnya sejauh beberapa meter, setelah itu baru aku bisa mengimbangi kecepatanmu yang merepotkan itu."
"Jangan bercanda! Teknik itu memerlukan konsentrasi tinggi dan tingkat kesabaran yang tidak rendahan! Tidak mungkin bocah sepertimu bisa menguasainya hanya dalam beberapa saat saja!"
"Oh! Kau mengerti beratnya latihan itu?! Ternyata bukan aku saja yang kesulitan dengan latihan itu! Sudah kuduga, Herlin itu memang iblis," gumamku.
"Herlin? Maksudmu bocah SMP, Ririsaka Herlin itu?"
"Ririsaka ... Herlin? Dia ada di sini?"
"Kau tahu soalnya? Herlin datang kesini untuk menontonku, jadi dia tidak ikut andil dalam turnamen tahun ini."
"Tentu saja aku tahu. Dia adalah orang yang aku kalahkan dua tahun lalu."
Aku mengerti sekarang. Pantas saja wajah Herlin agak cemberut sebelumnya ketika mendengar namanya. Seseorang dengan harga diri tinggi sepertinya pasti akan kesal jika mengalami kekalahan.
"Jadi kau yang mengalahkannya dua tahun lalu? Tapi aku tidak yakin kau bisa mengalahkannya dengan mudah sekarang. Aku tidak tahu dia dulu seperti apa, tapi sekarang dia itu iblis tanpa ampun."
"Kau menceritakan pengalaman pribadimu, ya?" Cecilia terkekeh mendengar ucapanku barusan.
"Bisa dibilang begitu," ucapku kecil sambil mengingat kenangan pahit soal latihan sebulan belakangan ini.
"Bukankah sudah saatnya memberitahu semua orang di sini soal rahasia kecepatannya?"
Cecilia kembali berbicara. Kali ini adalah pertunjukan sebenarnya, aku akan membongkar rahasia kecepatannya yang ia banggakan itu. Meskipun aku tidak yakin kalau aku adalah orang yang pertama kali sadar.
"Ngomong-ngomong Hayate-san, soal gerakanmu itu. Sebenarnya ... kau ini tidak terlalu cepat, kan?"
Matanya sedikit melebar, tapi kembali normal dan serius sepersekian detik kemudian. "Apa kau menghinaku? Kau pikir aku tidak menyadari kalau sebelumnya kau kewalahan menghadapi kecepatanku?"
"Awalnya memang benar. Tapi setelah aku melihatnya, aku sadar ...."
Dengan ucapanku yang masih menggantung, aku berjalan ke salah satu panah yang ia lesatkan, lalu mengambil dan memperhatikannya sedikit. Setelah cukup memperhatikan dan membuangnya ke luar arena, aku melanjutkan kembali kata-kataku.
"... Kalau itu hanya sebuah trik kecil."
Hayate tidak berbicara apa-apa. Ekspresinya juga masih penasaran sejauh mana aku akan bicara, jadi tanpa sungkan aku melanjutkannya.
"Tembakan pertama adalah sebuah umpan, agar aku mengira kalau senjata utamamu adalah panah. Tapi tujuan sebenarnya kau menembakkan anak panah itu bukan untuk mengenai ku, melainkan untuk menyebar anak panah itu ke seluruh bagian arena agar kau bisa bergerak bebas ...."
Matanya melebar, wajahnya kaku, dan keringat mengucur dari dahi Hayate. Sepertinya aku menebaknya dengan benar, meskipun hampir semuanya berkat kejelian Cecilia, sih.
"Tentu saja berkat aku! Bisa apa kau tanpa aku di dalam dirimu?!"
Nada membanggakan diri dan sombong Cecilia bergema di kepalaku. Ya, ya, ya, kali ini aku harus berterima kasih padamu, wanita pembaca pikiran.
"... Kau menempelkan aura pada setiap anak panah yang tersebar, kau mampu bergerak dengan cepat asalkan ada sisa aura yang tertinggal di sana. Dengan kata lain, itu adalah sebuah Unique Skill! Kemampuan andalanmu, Teleportasi!" lanjutku tegas.
__ADS_1
Penonton yang hening tiba-tiba menjadi ribut. Aku sebenarnya tidak tahu bagaimana bentuk dan cara kerja Unique Skill sebelumnya, tapi itu adalah kemampuan yang bisa dibilang curang.
Setelah mendengar penjelasan Cecilia, Unique Skill tercipta dari imajinasi dan hasrat pemiliknya, membuat wujud Unique Skill tidak terbatas — salah satunya adalah teleportasi ini. Meskipun aku yakin mendapatkannya tidak akan mudah.
"...."
Sekarang, aku menunggu reaksinya. Apa yang akan dia katakan setelah aku mengungkap senjata terbesarnya? Aku tidak tahu kalau ini termasuk jahat atau tidak, tapi dia duluan yang memancing amarahku. Anggap saja ini sebagai balasan.
"Hah ..., siapa sangka kalau rahasia terbesarku bisa diketahui oleh bocah sepertimu."
Eh? Ekspresinya melembut dan kata-katanya berubah menjadi halus. Tentu saja ini termasuk hal baik, tapi aku tidak menyangka perubahan sikap seperti ini yang akan dia tunjukkan.
"Siapa namamu, bocah? Aku lupa."
"Aku Satou Iraya."
"Iraya-kun, kah? Sepertinya bocah dari Black Rain memang selalu merepotkan, ya? Tapi karena rahasiaku telah terbongkar, maka aku akan mengeluarkan semua yang aku punya di sini. Bagaimana soal itu?"
"Tentu, kenapa kau memberitahuku hal itu? Aku sudah menunggunya dari tadi."
Hayate tersenyum bersama denganku. Kuda-kuda kami kembali menguat setelah obrolan singkat itu. Dan setelahnya, Hayate menghilang dari tempatnya berpijak lagi dan menyerang ku lebih cepat dari yang sebelumnya.
Percikan api akibat gesekan bilah dan suara dentingan besi yang tak terhitung jumlahnya menjadi pemandangan yang disaksikan para penonton dan komentator.
Aku masih menggunakan teknik perluasan aura yang sekarang lebih pendek dan membuatku lebih bebas bergerak, karena aku tidak ingin menjadi samsak dan menahan serangannya saja.
Aku yakin kalau kami seperti menghilang dari arena sekarang, tapi sebenarnya kami hanya bergerak terlalu cepat untuk diikuti mata biasa. Hayate menggunakan Teleportasi berkali-kali, lalu aku menahan dan membalas serangannya sesekali. Membuat pertandingan ini terlihat seimbang untuk beberapa menit ke depan.
Dalam gerakannya yang cepat itu, aku bisa melihatnya jelas. Bercampur dengan keringat dan goresan di tubuhnya, sebuah senyum terukir di wajahnya. Tapi bukan senyumannya menyebalkan seperti sebelumnya, itu adalah senyum menikmati pertarungan. Sesuatu yang membuatku juga tidak bisa menahan senyumku.
'Aku tidak menyesal ikut Turnamen ini'.
Itu adalah yang sekilas terbesit di kepalaku ketika beradu senjata dengan Hayate saat ini.
Setelah lima menit solid penuh pertarungan, pertandingan mulai menunjukkan kalau sebentar lagi akan menjadi akhirnya.
Aku berhasil mementalkan salah satu belati dari tangannya — sekaligus membuatnya sedikit kehilangan keseimbangan. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan itu, aku menyapu kaki Hayate dan membuat keseimbangannya kali ini benar-benar runtuh.
Aku duduk di perutnya dan menahan pergerakannya, dan menodongkan ujung pedang pada hidung Hayate.
"Skakmat."
"Kenapa berhenti? Jika kau membuang kesempatanmu, maka aku akan segera teleport."
"Silahkan, coba saja."
Aku menantang Hayate untuk melakukan teleportasi. Tapi ketika dia ingin melakukannya, matanya melebar karena sadar sesuatu yang sudah aku lakukan dari tadi sembari bertarung dan menahan serangannya.
"Apa kau menyadarinya? Kau terlalu sibuk menyerang dan berteleportasi sampai tidak sadar kalau aku sudah menghancurkan dan membuang semua panahmu keluar arena."
"Bagaimana kalau begini?"
Dia melempar pisaunya ke atas. Serangan putus asa? Aku juga bisa menghindarinya dengan mudah. Sampai aku menyadari kalau itu bukan serangan putus asa biasa.
"Bukan hanya media panah yang bisa aku pakai."
"Ap—?!"
Dan dia menghilang dari bawahku. Aku sudah tahu kemana gerakannya selanjutnya, tapi tetap saja dia masih sangat cepat. Ketika aku membalikkan badanku, Hayate telah siap untuk menusukku.
"Kena kau!"
Tapi aku langsung mengarahkan ujung pedang ke arah Hayate dan karena saking paniknya, tanpa sadar membuat aura listrik keluar dari ujung bilah pedang dan menyetrum Hayate.
"Arrkgh ...!!" Dan Hayate terpental keluar arena.
"Kendou Hayate keluar arena! Pemenangnya adalah ... Satou Iraya!"
"WOOOAAAAGHHH !!!!"
Dan ... aku berhasil menang. Para penonton juga bersorak semangat, sebagian tidak menyangka kalau Hayate akan kalah. Ada juga yang awalnya mendukung Hayate, tapi tetap bersorak riang ketika aku menang. Kurasa dia hanya fans karbitan.
Ngomong-ngomong, aku tidak mendengar suara Mitsu atau komentator satunya lagi sejak tadi. Sepertinya mereka juga masuk ke bagian orang yang terkejut atau aku-nya saja yang terlalu fokus pada pertarungan. Entahlah ... mungkin salah satu dari itu.
Aku kemudian berdiri lalu menyarungkan pedangku seperti semula, tidak lupa melihat ke arah tribun dimana Murasaki-san dan Herlin berada. Satu tersenyum dan satu biasa saja, aku rasa kalian sudah tahu siapa yang aku maksud.
Aku hanya memberi pose 'victory' pada mereka berdua.
"Padahal aku tidak berniat mengeluarkan elemen listrik, sih," gumamku.
Tapi bodo amat, lah. Menang tetaplah menang. Meski aku berpikir kalau aku harus meminta maaf pada Hayate.
Bersambung
__ADS_1