
Pertarungan telah di ambang selesai bagi orang-orang yang ada di kota Tokyo, sementara di Osaka sendiri baru akan mencapai puncaknya. Dan kali ini di waktu yang bersamaan pertarungan di Nagoya juga sedang terjadi.
Keadaan juga sedang kacau di tengah malam yang awalnya tenang tiba-tiba menjadi tak terkendali akibat monster-monster yang lepas ke jalan dan menyerang rumah-rumah dan orang-orang yang ada di dalamnya.
Tapi yang paling mengerikan adalah yang berada di atas langit, terbang kesana kemari sambil menyemburkan api dari dalam mulutnya. Dengan warna sisiknya yang dominan oranye gelap, ditambah dengan tatapan tajam dari pupil reptil makhluk itu seakan meneror kota Nagoya malam ini.
Mushino Aoda, pemimpin dari White Cloud tentu saja tidak akan diam begitu saja melihat kotanya dihancurkan. Ia dengan anggotanya yang lain sudah bergerak dari tadi menuju ke arah naga yang sedang membakar kota.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Aoda.
"Sekitar 10% bagian timur kota sudah terbakar habis. Taman di dekat Istana Nagoya sudah rata dengan tanah, beruntung Istananya sendiri masih berdiri," ucap salah satu anak buah Aoda yang ikut bersamanya.
"Tetap fokus pada rencana awal. Aku sudah memberikan bagian monster-monster kecil itu kepada yang lainnya, kita akan mengurus naganya."
"Baik!"
Aoda dan lima orang lainnya tetap berjalan menuju ke arah naga itu. Untuk monster-monster yang menyerang kota, ia sudah memberikannya kepada orang yang tepat.
"Aku mengandalkanmu, Oukami!" gumam Aoda.
**
Sementara itu di bagian lain kota Nagoya, seseorang sedang berdiri melihat kearah kerumunan monster-monster yang sedang menyerang para warga yang sedang berlarian.
Bersamaan dengan rumah-rumah yang rubuh dan terbakar dan teriakan orang-orang tak bersalah, membuatnya terlihat seperti neraka.
"Cih."
Oukami yang melihatnya hanya mengeluarkan ekspresi kesal sekaligus jijik. Ia membuang air liurnya ke samping dan sudah siap untuk menghancurkan monster-monster yang ada di depannya.
Ziiing…
"Aku tidak tahu kalian itu apa … tapi kalian membuatku muak!"
Oukami membentuk sebuah gada besar yang ia buat menggunakan auranya dan langsung tercipta di dalam genggamannya. Ia adalah yang pertama sampai dari bala bantuan White Cloud lainnya, tapi itu tidak membuatnya takut dan terus maju menghabisi monster-monster itu.
"Maju kalian!"
"GrrRrouggHh …!!"
Salah satu monster mencoba menyerang Oukami dengan cakarnya yang tajam, tapi Oukami berhasil menghindarinya dengan mudah dan langsung membalasnya dengan hantaman gada tepat di kepala monster itu yang membuatnya terpental dan menghancurkan tembok yang ia tabrak.
Braakkhh…
Oukami kemudian memeriksanya lagi dan saat ia melihatnya lagi, monster itu sudah mati dengan tengkorak hancur dan leher yang patah akibat kerasnya hantaman Oukami.
"GrrRrouggHh …!!!"
Sebuah serangan kejutan dilancarkan oleh salah satu monster dan mencoba menyerang bagian belakang Oukami dengan kedua cakarnya. Tapi seakan sudah mengetahui hal itu, Oukami hanya bergeser sedikit ke samping dan serangan monster itu pun meleset.
"Grrkh …?!"
Buuugghh… Braakk…
Ia kembali memukul monster itu dengan gada dan membuat monster itu terbang ke arah monster yang lainnya.
"Jangan coba-coba menyerangku dari belakang!"
Ia mencoba memberitahu kepada monster tadi meskipun pastinya mereka tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Oukami. Tapi ia tetap mengatakannya dengan keras.
"Orang itu telah melakukannya dua kali kepadaku … aku tidak akan pernah terkena trik yang sama lagi selamanya!"
Oukami mengingat wajah seseorang yang berhasil menyerangnya dari belakang sebelumnya. Yap, itu terjadi saat Turnamen The One sebulan yang lalu. Ia juga sempat membayangkan wajah orang itu walaupun akhirnya ia kesal sendiri saat sedang membayangkannya.
"Cih! Satou Iraya … aku ingin pertarungan ulang denganmu," gumam Oukami.
"Are~? Kau sudah sampai duluan disini? Cepat sekali."
Saat Oukami sedang melamun, tiba-tiba seseorang yang baru saja datang memanggilnya. Suara ringan dari gadis yang masih muda itu semakin terdengar setelah ia mendekati Oukami.
"Apa kau tidak terlalu terburu-buru?" tanyanya.
Perempuan tersebut memiliki rambut coklat serta warna pupil hijau gelap layaknya emerald yang bersembunyi di dalam matanya. Dengan senyuman ramah tanpa takut ia masuk ke dalam medan pertempuran.
Tapi meski begitu, kedatangannya tidak membuat Oukami senang dan justru malah terlihat seperti seorang pengganggu. Ia memasang wajah bosan dan tidak suka dengan kedatangan perempuan itu.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Oukami.
"Jahatnya! Dengar ya, bukan hanya kau yang mendapat tugas dari Aoda-san! Aku juga dapat!"
"Oh begitu. Bagaimana dengan yang lainnya?"
"Ka-Kau ini … padahal sedang berduaan dengan wanita cantik yang jadi idola banyak orang, tapi sikapmu begini kepadaku."
Perempuan itu seakan tidak senang dengan sikap Oukami kepadanya, tapi Oukami tetap tidak peduli karena itu tidak penting baginya. Sayangnya pembicaraan mereka tidak bisa berlangsung lama, karena monster-monster tadi yang melihat dua teman mereka mati oleh Oukami menjadi marah.
"Oops … sepertinya mereka marah. Hehehe … bahkan makhluk tak berakal itu memihakku—Eh?"
Perempuan yang sedang bicara itu tiba-tiba diangkat bagian kerah belakang bajunya oleh Oukami dan ia pun melemparnya ke tengah-tengah kerumunan monster yang sedang marah tadi.
"Uwaaw …!!!"
__ADS_1
"Kau itu penyanyi, kan? Coba hibur mereka dengan nyanyianmu!"
Duukk…
"Aduduh … Oukami sialan, melemparku ke tengah-tengah monster jelek ini. Lagipula aku ini bukan penyanyi, aku adalah idol!"
"GrrRrouggHh …!!!"
Monster itu berteriak tepat di depan wajah perempuan itu tapi ia seakan tidak bergeming dan hanya menunjukkan ekspresi datar saja. Dan salah satu dari mereka mencoba menyerang kepala belakang perempuan itu.
Triiingg…
"Grrkh …?"
"Aku peringatkan padamu satu hal. Tidak ada yang boleh menyentuh seorang idol, apalagi monster jelek sepertimu. Dan ingat namaku baik-baik …."
Perempuan itu berdiri kemudian membalik badannya dan melihat monster yang menyerangnya. Sementara monster yang menyerangnya tadi bingung karena cakarnya tidak berhasil melukai perempuan itu bahkan menyentuh sehelai rambutnya saja tidak.
"… Namaku Koyomi Arisu! Ingat itu baik-baik."
Craasshh…
Setelah Arisu menyebutkan namanya, kepala monster tadi terbang dan terpisah dari tubuhnya sendiri. Dan orang yang melakukannya adalah Oukami, ia mengubah gada besarnya menjadi sebuah Great Sword yang bisa membunuh monster hanya dengan sekali tebasan saja.
"Aku tahu kalau aku ini jadi umpan, tapi setidaknya perlakukan aku dengan baik, kek," protes Arisu sambil membersihkan bagian belakang celananya yang kotor.
"Yang penting rencananya berhasil. Aku juga malas memperlakukanmu dengan baik."
"Hah … dasar laki-laki."
Arisu kemudian kembali berjalan menuju ke kerumunan monster yang masih terlihat kebingungan dengan apa yang terjadi pada temannya. Tapi itu tidak membuat mereka kabur, justru mereka malah menyerang Arisu secara bersamaan. Sementara Arisu masih berdiri santai sambil menutup matanya.
Triiingg… Triiingg…
"Sudah kubilang bukan kalau tidak boleh menyentuh Idol!"
Setelah mencoba menyerang Arisu, cakar-cakar tajam monster itu seakan tidak bisa bergerak dan seperti ada yang menahan mereka untuk lepas dari sana. Tapi hal itu tidak disia-siakan oleh Oukami yang langsung menebas mereka semua secara bersamaan dan akhirnya mati.
Darah merah gelap dan pekat monster itu tersembur kemana-mana akibat serangan brutal dari Oukami, tidak terkecuali sebagian wajah Arisu yang kotor akibat darah makhluk itu.
"Cih!"
Ia yang tidak senang karena wajahnya kotor meskipun begitu ia tidak bisa apa-apa dan hanya mengusapnya dengan saputangan yang ia ambil dari dalam kantong celananya. Sementara Oukami yang bingung dengan hal itu bertanya pada Arisu.
"Kenapa kau bisa mencegah monster-monster itu menyentuhmu, tapi tidak dengan darah mereka?"
"Hmm? Ah itu, darah bukanlah manusia atau monster, jadi aku bisa membiarkan mereka menyentuhku. Meskipun sebenarnya menjijikkan tapi aku tidak harus sampai menggunakan kekuatanku."
"Oh begitu."
Dan tepat saat mereka sedang beristirahat, Exception lain dari White Cloud muncul. Mereka semua menghampiri Oukami dan Arisu yang sudah berantakan akibat pertarungan sebelumnya.
"Akhirnya kalian datang juga," ucap Oukami.
"Apa disini sudah selesai?" tanya salah satu Exception yang baru datang.
"Masih ada beberapa yang belum selesai diurus. Aku akan menuju ke tempat lain yang masih lebih parah lagi, kalian urus sisanya disini."
"Aku mengerti."
Saat semuanya sudah mulai bergegas untuk melawan sisa-sisa monster yang ada disini, Oukami juga sudah siap untuk berangkat ke tempat lainnya. Tapi sebelum itu, ia melihat kearah Arisu yang sedang sibuk memperhatikan Exception lainnya bertarung.
"Oi kau, apa kau akan terus disini?" tanya Oukami.
"Sepertinya aku sudah tidak diperlukan disini, jadi aku akan pergi ke tempat lain."
"Bagaimana kalau ikut denganku saat ini?"
"Hmm …? Memangnya kenapa?"
"Kau bisa menjadi umpan yang bagus untukku."
Mereka berdua tiba-tiba hening sebentar. Seakan ada yang salah dari yang dikatakan oleh Oukami. Dan kemudian Arisu memecah suasana, ia menutup mulutnya yang ingin tertawa dan menertawakan tawaran Oukami.
"Pwuuh! Ara-ara …? Jangan bilang kalau kau ingin berduaan denganku dan memakai alasan untuk menjadikanku umpan? Apa benar begitu?" goda Arisu.
"Tidak ada yang bilang begitu!" teriak Oukami kesal.
"Ehehem … baiklah, baiklah. Untuk kali ini saja mungkin aku akan menurutinya."
Setelah mendapat jawaban dari Arisu, Oukami tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya berjalan duluan meninggalkan Arisu di belakangnya. Sementara Arisu hanya memakluminya saja dan akhirnya menyusul Oukami.
Tanpa disadari oleh mereka berdua, seseorang memperhatikan mereka dari dalam gedung bertingkat. Orang dengan tinggi 2,5 meter itu tidak melakukan apa-apa saat melihat Oukami dan Arisu pergi, ia hanya mengucapkan satu hal soal Oukami.
"Dia lumayan kuat," ucap Baram.
**
Sementara di tempat Aoda, ia dan kelima anak buahnya sedang menuju ke arah gedung tinggi yang berada di dekat Wyvern itu. Saat dirasa sudah dekat, ia memilih berdiri di gedung paling atas karena ia akan melakukan sesuatu.
Aoda melihat ke belakang dan memeriksa anak buahnya. Sementara anak buahnya sedang berbaris rapi di belakang Aoda seperti sebuah pasukan baris berbaris.
__ADS_1
"Kalian semua siap?"
"Siap!" jawab mereka kompak.
"Bagus."
Aoda kemudian kembali melihat ke arah Wyvern yang ada di depannya dan mulai berkonsentrasi. Ia mengeluarkan aura yang banyak dan terlihat seperti sebuah cahaya yang menari-nari di atas kepala Aoda.
Vuuungg…
Lalu kelima anak buah Aoda tadi menundukkan badannya dan menahan tubuhnya dengan satu lututnya. Sementara aura Aoda yang tadinya masih menari-nari dengan bebas di atas Aoda mulai berubah menjadi sebuah tali panjang yang berjumlah lima buah.
Tali aura Aoda kemudian melesat kearah masing-masing punggung kelima anak buahnya. Dari dalam tubuh anak buahnya keluar sebuah energi yang terserap lewat tali aura tersebut.
Aura tersebut terserap ke dalam tubuh Aoda yang sedang berkonsentrasi dan memejamkan matanya. Ia bisa merasakan energi yang melimpah yang masuk ke dalam tubuhnya saat ini dan saat sudah cukup, ia kemudian membuka matanya.
"Terima kasih kalian semua."
Tanpa sempat menjawabnya, kelima anak buah Aoda pingsan karena kehabisan tenaga akibat diserap oleh Aoda. Ia yang sudah menduga hal itu tidak menunjukkan wajah khawatir ataupun terkejut sama sekali.
"Dan terima kasih Unique Skill milikku."
Unique Skill milik Mushino Aoda, Extract—memungkinkan Aoda untuk menyerap aura dan energi orang-orang yang ia kehendaki sebanyak yang ia mau. Lalu ia bisa mengubahnya menjadi sesuatu sesuai keinginannya meskipun orang-orang yang ia serap memiliki jenis Exception yang berbeda-beda.
"Saatnya untuk menghentikan hewan terbang itu."
Ziiing…
Ia mengarahkan tangannya ke depan dan membuat sebuah senjata api yang ia buat menggunakan auranya. Sebuah pistol magnum dengan kapasitas enam peluru. Aoda kemudian menyipitkan salah satu matanya dan membidik kemana naga itu terbang saat ini.
Dari jarak sekitar 200 meter, Aoda kemudian menembakkan peluru pertama pada naga yang belum menyadari keberadaan Aoda. Sebuah peluru energi yang memiliki kecepatan seperti sebuah laser.
Syiiing… Dooorrr…
Tembakan pertama itu tepat mengarah ke arah sayap Wyvern itu. Tapi sedetik sebelum peluru energi itu sampai ke arah Wyvern, ia terlebih dahulu menyadarinya dan berhasil menghindar di detik-detik terakhir.
"Ap—?!"
"GrRrrAaaaaAaAAAkkKkhhHHh !!!!"
Wyvern itu berteriak seakan menandakan kalau pertarungan antara Aoda dan Wyvern itu akan terjadi. Aoda yang masih terkejut saat tembakan pertamanya dapat dihindari, mulai mengisi ulang peluru magnum tadi dan bersiap untuk tembakan kedua.
Kini fokus Wyvern benar-benar hanya ada pada Aoda dan dengan cepat terbang ke arahnya. Sementara Aoda yang sudah berhasil mengisi ulang pelurunya mulai membidik lagi Wyvern itu.
Doorrr…
Wyvern itu kembali berhasil menghindari peluru Aoda meskipun sambil terbang cepat kearahnya.
"Sebenarnya seberapa cepat sih dia?!"
Jarak 200 meter tadi berhasil dilintasi oleh Wyvern dengan cepat dan saat ini sudah terbang melewati kepala Aoda dan mendarat di belakangnya, di atap gedung yang sama.
"Apa yang ingin kau lakukan, kadal sialan?" gumam Aoda.
"GrRrrAaaaaAaAAAkkKkhhHHh …!!!"
Teriakan yang sama tapi terdengar lebih keras karena Aoda dan Wyvern berjarak tidak lebih dari sepuluh meter satu sama lain. Kelima tali aura masih terhubung ke lima anak buahnya yang sedang tak sadarkan diri. Dan saat ini Aoda memiliki sebuah rencana.
Ia mengeluarkan tali aura yang menusuk anak buahnya dan memadatkannya dan mengikatnya pada kelima anak buahnya sehingga ia bisa membawanya bersamanya.
Hawa panas mulai terasa di sekitar sini. Mulut Wyvern juga sudah mulai bersinar berwarna kemerahan. Itu hanya menandakan satu hal saat ini, yaitu naga itu akan segera menyemburkan api dari dalam mulutnya.
"Sial!"
Blaaaaaarrr…
Bersama dengan kelima anak buahnya yang sedang tidak sadarkan diri, Aoda melompat ke bawah gedung dan membuat satu lagi tali aura yang ia gunakan untuk memecahkan kaca gedung bertingkat itu. Dan ia pun masuk ke dalamnya.
Wyvern yang tertipu oleh pergerakan Aoda malah memilih terbang turun ke jalanan meskipun akhirnya ia bingung karena tidak menemukan Aoda di sana. Sementara Aoda masih sibuk membaringkan teman-temannya. Setelah selesai ia pun berdiri dan pergi menuju Wyvern tadi.
"Aku berjanji akan mengalahkannya. Kalian istirahat dulu saja di sini."
Aoda lompat lewat kaca yang ia pecahkan tadi dan kemudian mendarat di atas atap gedung yang lebih pendek dari gedung sebelumnya. Wyvern yang mencarinya pun berhasil menemukan Aoda yang sedang menunggunya.
"Ayo kita mulai lagi!" ucap Aoda sambil mengokang pistol magnum-nya.
Naga itu kembali menyemburkan api dari mulutnya. Beruntung Aoda masih bisa menghindarinya, tapi semburan yang Wyvern keluarkan kali ini ia kendalikan sehingga mengikuti kemana arah Aoda berlari.
Beruntung ada sebuah AC luar yang dapat Aoda gunakan sebagai pelindung—meskipun itu tidak bertahan lama. Setelah AC luar tadi ludes terbakar dan semburan api Wyvern berhenti, Aoda melompat tinggi keatas lalu menembak Wyvern itu.
Dooorrr…
Peluru ketiganya saat ini akhirnya berhasil mengenai Wyvern. Meskipun Aoda mengincar kepalanya, tapi Wyvern itu melindunginya dengan sayapnya dan membuat sayap miliknya berlubang cukup besar. Setelah terkena tembakan, Wyvern kembali mengeluarkan teriakan yang lebih kearah teriakan kemarahan.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, tapi sepertinya kau marah, ya? Bukankah saat ini skor kita satu sama?"
Ternyata sebelum berhasil melukai Wyvern, Aoda sudah terluka duluan akibat menahan semburan api Wyvern. Seluruh bagian lengan jaketnya habis terbakar dan sekujur lengan kirinya memperlihatkan luka bakar yang cukup parah.
"Sepertinya kau juga tidak mengerti dengan apa yang kukatakan. Kalau begitu kita akan selesaikan hal ini dengan cara yang sama-sama kita mengerti."
Aoda kembali mengokang pistol magnum-nya dan bersiap untuk bertarung lagi. Tiga peluru tersisa dan lengan Aoda juga sudah terbakar. Bukan pertarungan yang menguntungkan baginya, tapi ia harus melakukannya demi kotanya.
__ADS_1
Bersambung