
"Kau …! Assassin Sialan!"
Aku mengacungkan pedangku dengan kuda-kuda yang sudah melemah kepada mereka. Nimis, Ardenter, dan juga Caramel. Aku bersiap bertarung demi dirinya. Demi Kurobane-senpai!
Ini gawat. Tiga orang dari mereka bergabung disaat seperti ini. Kondisi Senpai juga sedang tidak baik akibat hal tadi. Aku mengingat kejadian Haru-san barusan yang tidak berhasil kami selamatkan. Lalu aku meyakinkan diriku sendiri. Itu bukan salahku, ini adalah salah tiga orang di depanku yang telah melakukan hal ini kepada mereka.
"Ara-ara, Iraya-kun … tidak usah sebegitu marahnya kepadaku. Bukankah ini terasa sudah lama setelah terakhir kali kita bertemu?" ucap Caramel.
Cara bicaranya berubah. Sikapnya juga berubah. Bahkan aura yang dia miliki juga berbeda saat terakhir aku bertemu dengannya di turnamen. Aku tidak menyangka kalau dia adalah orang yang sama.
Caramel kemudian menyentuh bibir mungilnya yang sedang mengeluarkan seringai kecil. Ia juga menatapku dengan tatapan yang aneh.
"Nee, Iraya-kun …. Apa kau masih ingat dengan ciuman kita saat itu?"
"Apa?"
"Saat itu kita sedang ditengah suasana yang bagus. Tapi sayang sekali, sebelum kita melakukan hal yang lebih jauh ada pengganggu datang mengacaukan semua rencana indah kita."
Dia mulai membual hal-hal yang tidak masuk akal. Ia mulai mengingatkan ku dengan malam itu. Dan bahkan menyebut Herlin sebagai pengganggu. Aku mencoba menahan amarahku dengan menggigit bibir bawahku.
"Kau …. Jangan pernah menyebutnya sebagai pengganggu!"
"Ara …?"
"Orang sepertinya tidak cocok menjadi pengganggu. Sebaliknya, yang cocok menyandang panggilan tersebut adalah kau."
"Aku? Jadi kau ingin bilang kalau semua itu adalah salahku?"
"Tentu saja, kan?! Apa kau bodoh?!"
"Jadi kau benar-benar bertemu dengannya saat berada disana. Kenapa kau sampai berbohong seperti itu?"
Nimis tiba-tiba berbicara kepada Caramel. Dia menjadi orang yang seakan memberitahukan keberadaanku kepada Caramel. Sementara Caramel tidak menanggapinya dengan serius dan malah menggoda Nimis.
"Ara, soal itu ya? Memang niatku. Ehehe …."
"Kau …! Sikap main-mainmu itulah yang membuatku membencimu!"
Caramel menjawab sambil menjulurkan lidahnya sebagai tanda mengejek. Sementara Nimis yang terpancing dengan sikap Caramel, lalu malah berdebat dengannya. Tunggu dulu. Ini adalah kesempatanku untuk kabur.
Aku melirik kearah Kurobane-senpai yang masih berbaring sambil menutupi matanya dengan lengannya. Aku bisa dengan cepat melesat dan menggendong Senpai pergi dari sini. Benar, ini adalah—
Zwuuushh…
"Iraya! Awas!"
"…?!"
Teriakan Tetsu menyadarkan ku yang sedang tenggelam dalam pikiranku. Ardenter tiba-tiba melesat dengan sangat cepat kearahku. Dan mencoba memukulku, tapi aku masih bisa menahannya dengan pedangku.
Triiingg…
Ia memakai sebuah sarung tangan khusus yang di punggung tangannya terdapat tonjolan-tonjolan besi, membuatnya dapat digunakan untuk bertahan melawan benda tajam seperti pedang ataupun besi lainnya.
"Tadi kau berpikir untuk kabur, kan? Jangan harap bisa!"
"Tch! Jangan menggangguku, sialan!"
Bzztt… Bzztt…
Aku mengalirkan listrik ke arah pedangku untuk membuatnya menjauh dari pedangku dan jika tidak, dia akan tersetrum oleh aliran listrik ku. Tapi sebelum aliran listrik itu menyambar kearah tangannya, ia mencoba untuk memukul perutku yang terbuka penjagaannya.
Hal itu membuatku terpaksa melompat mundur dan Ardenter juga melakukan hal yang sama.
Braaakkk…
Sebelum aku mendarat di tanah, saat di udara punggungku terasa seperti menabrak sebuah tembok beton keras tak terlihat yang membuatku jatuh.
"A-Apa itu tadi?"
"Apa kau menyadarinya? Ehehem … aku sudah membuat barrier yang mengelilingi kita semua disini."
Aku kemudian berdiri dan mencoba berjalan ke arah belakangku tadi. Aku mengulurkan tanganku dan merasakan ada sesuatu yang keras tapi tidak terlihat disana. Saat itu aku menyadari, kalau aku sudah dijebak oleh mereka.
"Sial … Senpai! Apa kau sudah sadar?!"
Aku mencoba memanggil Senpai, tapi tidak ada balasan darinya. Senpai sudah tidak menutupi matanya jadi aku bisa memastikan kalau dia masih sadar. Tapi tatapannya saat ini benar-benar kosong. Bahkan teriakanku tidak di dengar olehnya.
"Ayah … aku tidak bisa menyelamatkan seseorang … kenapa aku sangat tidak berguna?" gumam Kurobane-senpai.
"Iraya, kita harus mengamankan Kurobane-senpai dulu. Ia sepertinya masih tenggelam dalam rasa bersalahnya sendiri."
"Aku harus bagaimana?! Kita sedang dikurung dan tidak ada jalan keluar!"
Saat aku sedang berdebat dengan Cecilia, Nimis melirik kearah Kurobane-senpai yang masih terbaring diatas rumput. Ia kemudian mengalihkan fokusnya kearahnya dan bersiap untuk menyerangnya.
"Pertama-tama, kita habisi dulu yang sudah tidak memiliki niat hidup."
Nimis menguatkan kuda-kudanya. Berfokus sebelum menyerang lalu mengalirkan aura ke bagian pedangnya. Setelah beberapa saat, keluar kobaran-kobaran api kecil di bagian mata pedangnya.
"Hinokami no Chikara : Hi no Zangeki!"
Blaarrr… Blaarrr…
Nimis menebaskan pedangnya di udara beberapa kali. Gesekan antara udara dengan pedang yang ia aliri aura menciptakan sebuah kobaran api yang melesat dengan cepat ke arah Kurobane-senpai.
"Sial!"
Aku langsung melesat kearah Kurobane-senpai dan menggendongnya untuk menghindari serangan Nimis. Tapi aku tidak menyadari bahwa ada barrier tak terlihat sehingga kepalaku membentur barrier tersebut.
Bruuukk…
Aku yang masih sedikit pusing karena benturan tadi kemudian mencoba membangunkan Senpai yang masih tenggelam dalam pikiran dan rasa bersalahnya sendiri.
"Senpai! Senpai! Sadarlah! Apa kau mendengarku—?"
Blaarrr…
Sebelum aku sempat menyadarkan Senpai, serangan api milik Nimis kembali menyerangku. Dengan serangan bertubi-tubi yang terus menggempurku, aku tidak bisa bebas untuk membalas serangannya. Ditambah aku harus melindungi Kurobane-senpai.
"Senpai!"
"Iraya, dibelakangmu!"
"Aggh …!!"
Baaghh…
Aku terlalu sibuk untuk menyadarkan Kurobane-senpai dan menghindari serangan Nimis, sampai aku tidak memperhatikan Tetsu yang mencoba memperingatkan. Aku kemudian terkena sebuah serangan di punggung dari Ardenter.
Melihatku yang sedang dibombardir oleh serangan Nimis dan Ardenter, Caramel yang daritadi hanya diam setelah membuat sebuah barrier tak terlihat kemudian sedikit menggumamkan sesuatu.
"Serangan kombinasi dari mereka berdua benar-benar menyeramkan. Temanmu juga sepertinya sudah tidak bisa diandalkan. Sekarang … apa yang akan kau lakukan, Iraya-kun? Aku ingin melihatnya."
Gawat, gawat, gawat, gawat. Ini terlalu gawat. Serangan mereka tidak ada henti-hentinya. Tetsu saat ini sedang sangat fokus membaca pergerakan lawan-lawanku saat ini, sementara Cecilia juga sibuk untuk menyembuhkan lukaku. Apa yang harus kulakukan?
Tiba-tiba Kurobane-senpai memanggilku, tatapan matanya juga sudah tidak kosong lagi dan sudah kembali sadar sepenuhnya.
"Sa-Satou-kun?"
"Senpai! Kau sudah sadar?!"
Blaarrr…
"Tch! Si brengsek itu …!"
Mereka bahkan tidak memberikanku kesempatan untuk berbicara sedikitpun. Ardenter lagi-lagi berhasil mengenaiku dengan serangan tajamnya yang kemudian menggores lenganku.
Craasshh…
"Urgh …!!"
Aku sempat beristirahat dan bersandar di barrier tak terlihat itu. Mereka masih berusaha untuk menyerangku. Tapi serangan mereka tidak ada yang mengenai bagian vitalku. Mereka ingin melumpuhkan ku, ya?
__ADS_1
"Satou-kun, kau tidak apa-apa?! Bagaimana kau bisa sampai babak belur seperti ini?!"
"Ahh itu … aku sedikit melakukan pertarungan saat Senpai melamun tadi dan sekarang Senpai harus membantuku menghadapi mereka."
"Mereka?"
Kurobane-senpai melihat kearah Nimis, Ardenter, dan Caramel. Ia tidak mengenali mereka sama sekali. Tapi dia bisa merasakannya kalau mereka itu berbahaya. Tubuh Senpai tiba-tiba gemetar, matanya lagi-lagi menunjukkan tatapan ketakutan.
"Aku tidak bisa …."
"Apa?"
"Jika aku mencoba menolong seseorang lagi, aku pasti tidak akan berhasil. Semua yang aku lakukan percuma saja. Aku tidak mau kau mati, Satou-kun. Tapi aku takut. Aku tidak bisa menolong siapa pun. Aku—"
"Aku tidak akan mati!"
"Eh?"
"Aku tidak akan mati sebelum aku membalaskan dendamku. Aku tidak akan mati—lebih tepatnya tidak boleh. Setidaknya untuk saat ini."
"Satou-kun …."
"Maka dari itu aku membutuhkan bantuanmu, Senpai! Aku tidak bisa membalaskan dendamku sendirian. Makanya aku bergabung dengan Black Rain, makanya aku bersusah payah berlatih dengan Herlin, makanya aku mau membahayakan nyawaku seperti ini …. Semua itu hanya untuk balas dendamku!"
"Tapi—"
"Kumohon Senpai … bantu aku. Bantu aku mewujudkan keinginan egois ku ini. Aku mohon, Kurobane—tidak, Mei-senpai!"
Saat aku memanggil Senpai dengan nama depannya, ekspresinya berubah. Ia seakan mengingat sebuah peristiwa yang saat itu ia tidak pernah rasakan lagi.
Benar. Saat ayahnya terkena batu tepat di kepalanya. Disaat-saat terakhir sebelum ayahnya benar-benar tidak sadarkan diri—koma, ayahnya sempat mengatakan sesuatu kepada Kurobane.
"Ayah!"
"Terima kasih ya. Meskipun pada akhirnya jadi begini, hal ini tidak merubah fakta kalau kamu menyelamatkan ayah …."
"Eh? Apa yang ayah katakan? Tentu saja aku akan menyelamatkan ayah! Tapi aku juga yang menyebabkan ayah seperti ini."
"Itu tidak benar …."
"Eh?"
"Hal lainnya tidak penting. Yang paling penting adalah aku sangat bersyukur memiliki anak kuat sepertimu. Kau tidak pernah menunjukkan kelemahanmu di depan ayah. Dan juga mulai sekarang, tolong jaga ayah, ya, Mei?"
"Ayah? Tidak …. Ayah!"
Kata-kata terakhir yang ayahnya katakan, ia mengatakannya dengan sebuah senyuman hangat tanpa ada rasa menyalahkan. Ayahnya hanya bisa memandangi wajah Kurobane-senpai yang sudah dipenuhi air mata.
Setelah mengingat kata-kata itu, tubuh Kurobane-senpai berhenti gemetaran. Matanya sudah berhenti memancarkan tatapan ketakutan dan yang tersisa saat ini hanyalah tatapan optimis akan kemenangan.
"Terima kasih, Satou-kun. Sekarang aku sudah tidak apa-apa."
"Be-Benarkah?"
"Setelah permintaan tulus nan egois yang kudengar dari adik kelasku tadi, mana mungkin aku diam saja setelah mendengar hal itu."
Wajah Kurobane-senpai sudah berbeda dan saat ini dipenuhi oleh senyuman. Ia berdiri dan sebisa mungkin menguatkan kuda-kudanya. Aku yang melihatnya jadi tak bisa menahan senyumanku. Aku pun juga ikut berdiri dan siap menghadapi mereka lagi.
"Jadi niatmu untuk hidup sudah kembali? Baiklah kalau begitu, aku bisa menyerangmu dengan sungguh-sungguh kali ini," ucap Nimis.
Sementara Caramel di bagian paling belakang menutupi sebagian wajahnya dengan telapak tangannya. Ia tidak bisa menahan seringai yang keluar dari mulutnya dan berusaha untuk menutupinya.
"Bagus sekali. Memang begitu seharusnya. Kau bisa menahan Subject C di dalam tubuhmu, kau juga bisa mengajak orang untuk bertarung bersamamu. Ini gawat, gawat sekali. Aku jadi semakin tertarik denganmu, Iraya-kun," gumamnya pelan.
"Wah … sekarang kau jadi pintar merayu seseorang, ya? Tapi pacar tidak punya," ucap Cecilia meledek.
"Berisik! Nanti akan kucari."
"Tapi …."
"Hn?"
"… Kerja bagus Iraya, kesempatan menang kita jadi bertambah."
Aku mengalirkan auraku ke seluruh tubuh dan memusatkannya kearah kaki ku. Lalu melakukan tolakan kuat kearah Ardenter secara langsung, sehingga menciptakan hentakan yang dapat membawaku melesat dengan cepat kearah Ardenter.
Swuuushh…
"…?!"
Ctiiing…
Meskipun sempat terkejut dengan kecepatanku. Tapi dengan refleks nya yang baik, Ardenter berhasil menahan tebasan pedangku dengan tangannya. Aku mengalirkan lebih banyak aura dan tenaga ke pedangku yang semakin lama dapat memukul mundur Ardenter.
"Haaarrgghh …!!"
"Jangan meremehkan ku, sialan!"
"Aku akan mengalahkan mu disini!"
Ardenter melancarkan pukulan ke arah wajahku, sementara aku membalasnya dengan tendangan lutut kearahnya. Baku hantam terjadi antara kami berdua untuk beberapa saat. Semua perhatian kami berdua tertuju kepada lawan yang berada di hadapan kami saat ini dan mengabaikan sekitar.
Nimis yang menyadari hal itu berusaha untuk membantu Ardenter. Tapi tiba-tiba hembusan angin cepat nan tajam melesat kearahnya.
Zwuuushh…
Beruntung ia masih bisa menghindarinya dengan tepat. Serangan itu berasal dari Kurobane-senpai. Dengan senyuman di wajahnya, ia berbicara kepada Nimis.
"Lawanmu adalah aku!"
"Ckk! Jangan sombong dulu, bocah!"
Zwuuushh… Blaaaaaarrr…
Mereka berdua sudah mendapatkan lawannya masing-masing dan telah fokus ke dalam hal itu. Sementara Caramel hanya melihat mereka dari jarak yang cukup aman, meskipun masih berada di dalam barrier miliknya sendiri.
"Sepertinya aku tidak perlu turun tangan."
Tapi tiba-tiba bulu kuduk Caramel berdiri. Pikirannya mengatakan kalau sesuatu yang berbahaya mendekat. Ia menengok kearah jalanan sebuah perumahan kosong.
Ia kemudian keluar dari barrier miliknya sendiri dan memeriksa jalanan kosong di luar area pabrik. Tapi ia tidak menemukan apa-apa.
"Aneh, aku pikir aku merasakan sesuatu."
Degh…
Ia kemudian menengok ke arah sampingnya dan sudah terdapat sebuah bongkahan batu besar melayang dan melesat cepat kearahnya. Caramel dengan segera melakukan gestur seperti mengangkat keatas dengan tangannya dan tercipta sebuah barrier tak terlihat dari bawah tanah yang menahan bongkahan batu tersebut dan kemudian hancur berkeping-keping.
Braakkhh… Braakkhh…
Ia melihat sebuah tatapan mata tajam dari siluet hitam yang wujudnya tertutupi oleh gelapnya malam. Tapi ia tidak memerhatikannya terlalu lama karena bongkahan batu besar yang datang dari berbagai arah melesat ke arahnya.
Caramel kemudian kembali melakukan gestur mengangkat berulang kali dan tercipta beberapa barrier tak terlihat yang secara berurutan muncul dari tanah menahan batu itu agar tidak mengenai dirinya.
"…?!"
Setelah barrier itu tercipta mengelilingi Caramel. Ia menyadari kalau serangan itu belum selesai. Ia pun mendongak ke atas dan dari atas melesat turun ratusan bongkahan batu bermacam variasi yang menghujam Caramel dengan kecepatan turun yang tinggi.
Tanpa berlama-lama, Caramel kembali melakukan gestur mengangkat lalu menyebar dengan tangannya. Tercipta sebuah barrier yang lebih tinggi dari barrier lainnya dan kemudian barrier tersebut meluas menutupi Caramel dan sekitarnya dalam jarak dua meter.
Serangan hujan batu itu tidak satupun yang berhasil mengenai Caramel. Orang yang menyerangnya pun keluar dari bayang-bayang gedung dan mulai menampakkan dirinya. Setelah melihatnya, Caramel pun menunjukkan seringainya.
"Ehehem …. Seharusnya aku tahu siapa yang melakukan ini. Ya, kan, Ririsaka Herlin?"
"Kau tidak perlu repot-repot menebaknya."
Caramel berbicara melalui barrier yang ia ciptakan, sehingga dia cukup percaya diri untuk berbicara santai dengan lawannya sembari melakukan sesuatu. Ia sedikit melirik kebawah dengan cepat dan kembali menatap Herlin lagi.
"Apa kau ingin balas dendam kepadaku?"
"Aku tidak perlu menjawab hal itu. Malahan aku sangat ingin membunuhmu."
"Ara … seramnya. Jangan seperti itu dong, aku jadi takut."
__ADS_1
Caramel kemudian mengangkat jarinya ke arah bibirnya. Ia kemudian menyentuh bibirnya dan kemudian bertanya kepada Herlin.
"Apa jangan-jangan … kau cemburu karena aku telah mencium Iraya-kun?"
Ekspresi Herlin sedikit berubah. Ia berusaha setenang mungkin tapi tetap saja provokasi Caramel tadi mengganggunya. Ia pun memilih untuk diam dan tidak menanggapi provokasi Caramel. Tapi Caramel mengerti akan hal itu. Jadi dia mencoba untuk memprovokasinya lebih lagi.
"Ara, ara … apa kau tidak cemburu aku berhasil merebut ciuman pertamanya darimu? Hei, kau menginginkan hal itu, bukan?"
"Kata-kata seperti itu tidak akan membuatku terprovokasi. Apapun yang kau katakan tidak ada artinya bagiku."
"Kalau begitu, bagaimana kalau aku bilang … 'sebentar lagi kau akan mati' …?"
"…?!"
Kraakk… Braaakkk… Braaakkk…
Caramel dengan cepat melakukan gestur mengangkat dan sebuah barrier berbentuk tajam tercipta di bawah kaki Herlin. Herlin yang menyadarinya kemudian mencoba melompat keatas, tapi barrier itu terus tumbuh bercabang dan bergerak mengejar Herlin.
Ziiing…
Ia pun kemudian menghentikan pergerakan dari barrier tajam milik Caramel dengan kekuatannya dan kembali menatap Caramel.
Ziiing…
"Apa?!"
Herlin pun melesat kearah Caramel sambil menggunakan kekuatannya untuk menahan pergerakan Caramel. Ia pun menghancurkan beberapa bongkahan batu berbentuk tajam yang bersiap menghujam Caramel.
"Mati!"
Grab… Grab…
"Eh?!"
Tiba-tiba dari belakang mereka masing-masing muncul seseorang yang sama-sama menarik keduanya ke belakang dan setelah itu mengadu pukulan yang menciptakan ledakan yang dahsyat dan menghancurkan area disekitarnya dalam jarak kira-kira sepuluh meter.
Buuuummm…
Herlin dan Caramel terpental hempasan angin akibat pukulan dua orang itu. Saat mereka menyadari siapa dua orang itu. Herlin dan Caramel terkejut sekaligus bingung melihat dua orang itu sampai meneriakkan namanya secara bersamaan.
"Bos?!"
"Oita-san?!"
Setelah melakukan adu pukulan, Astaroth dan Oita-san melompat ke belakang mendekat kearah Herlin dan Caramel yang sama-sama terpental akibat efek serangan tadi.
"Murasaki Oita …. Nampaknya kau sudah berkembang dari saat pertama kali kita bertemu."
"Yo … aku sangat tidak senang melihat kedatangan mu disaat yang pas seperti tadi."
Mereka berdua berbicara dan mengeluarkan seringai secara bersamaan bagaikan teman lama yang baru saja bertemu setelah sekian lama.
"Apa kau tidak apa-apa, Herlin?"
"Y-Ya."
"Kau terluka?" tanya Astaroth.
"Sehat dan cantik seperti biasanya," ucap Caramel.
Herlin dan Caramel sama-sama tidak mendapat luka yang serius. Pertarungan keduanya terhenti sebelum memakan korban dari salah satu pihak.
"Aku tidak menyangka rencanamu adalah menyerang laboratorium kami dengan menggunakan target buruan kami. Entah itu bisa dibilang bodoh atau apa."
"Ahaha … apa kau menyukai hal itu? Kupikir kau akan menyukainya makanya aku memilih cara itu."
"Ya … aku tidak membencinya sama sekali."
Astaroth mengeluarkan banyak aura disekelilingnya, membuktikan bahwa dia sudah sangat siap bertarung. Apalagi lawannya saat ini adalah salah satu orang terkuat yang pernah ia lawan.
"Akhirnya saat ini datang juga."
"Kau sangat bersemangat, ya? Tapi untuk saat ini, bukan itu tujuan utamaku."
"Apa?"
Syiiiing… Duuuuaaarrrr…
Sebuah ledakan beruntun tercipta mengarah ke arah pabrik Heiwa Pharmacy. Ledakan-ledakan itu diciptakan oleh orang-orang yang berasal dari Red Flame yang bersembunyi dan menunggu disaat yang tepat.
"Ledakan …?"
Ledakan itu menarik perhatian semua orang yang ada disitu termasuk Astaroth, Herlin, Caramel, bahkan Nimis dan Ardenter yang juga sedang bertarung. Menghentikan pertarungannya sejenak karena teralihkan perhatiannya oleh ledakan itu.
"Apa hanya itu saja tugas kami?"
"…?! Red Flame?!"
Astaroth terkejut karena kehadiran Ryuzaki disini. Sebuah organisasi yang terkenal tidak pernah mencampuri urusan organisasi lain, sampai repot-repot membawa orang sebanyak ini hanya untuk menghancurkan pabrik atau yang bisa dibilang juga laboratorium mereka.
"Ya, hanya itu saja."
Setelah bicara dengan Ryuzaki, Oita-san kemudian mengalihkan pandangannya kearah Astaroth.
"Sekarang apa yang akan kau lakukan, Astaroth?"
Astaroth hanya diam dan memberikan tatapan kebencian kepada Oita-san yang hanya dibalas dengan sebuah seringai sombong karena berhasil memenangkan misi kali ini. Setelah beberapa saat, Astaroth pun kemudian berbicara.
"Kita mundur."
"Eh?! Apa bos yakin?!"
"Laboratorium kita sudah hancur, bahan eksperimen kita juga semuanya sudah mati. Tidak ada untungnya lagi berada disini. Jika lama-lama disini, hanya akan membuang-buang waktu saja."
"Ahaha …! Pilihan yang bagus."
Sebelum pergi, Astaroth sempat meninggalkan satu pesan kepada Oita-san.
"Aku pasti akan membunuhmu!"
"Aku menantikannya, loh."
Sementara itu Nimis dan Ardenter juga ikut mundur dan meninggalkan pertarungannya dengan Iraya dan Kurobane-senpai. Saat melewati Oita-san, mata mereka berdua sempat beradu pandang tapi kemudian langsung melesat pergi begitu saja.
Aku yang tidak mengerti mengapa mereka memilih untuk mundur pun pada akhirnya paham setelah melihat kedatangan Oita-san dan Herlin. Bahkan disini ada Ryuzaki-san dan Hayashi-san.
"Ryuzaki-san dan Hayashi-san?! Kenapa mereka bisa ada disini?"
"Mereka datang membantu kita."
"Kenapa kau bingung begitu? Ini semua kan gara-gara kemenanganmu waktu itu, jadi aku harus menepati janjiku," ucap Ryuzaki.
"Eh?! Aku?"
Aku mengingat-ingat kembali kejadian waktu itu dan yang ia maksud adalah kemenanganku melawan Hayashi-san waktu di Tokyo dulu.
"Ahh … yang itu, ya?"
Aku melihat kearah Kurobane-senpai dan sedikit tersenyum. Meskipun sempat melewati masa-masa yang sulit tadi, tapi ia masih bisa berdiri dan bertarung. Entah kenapa aku merasa bersyukur.
"Kenapa kau senyum-senyum?" tanya Herlin.
"Eh?! Ahh … tidak ada apa-apa. Aku senang semuanya baik-baik saja. Dan pada misi kali ini, kita berhasil melakukannya dengan baik. Ya, kan?"
Aku mengulurkan tanganku kearah Kurobane-senpai dan Herlin untuk mengajak tos. Senpai dan Herlin saling memandang satu sama lain dan kemudian menyambut tos di tanganku.
Prok…
"Ya!"
Dengan begitu, misi penghancuran Heiwa Pharmacy dan manusia eksperimen Ayakashi Corp. berhasil selesai dengan baik.
Bersambung
__ADS_1