Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 116 : Rencana Taman Hiburan


__ADS_3

Masa hukuman kami telah berakhir kemarin dan sekarang adalah hari Sabtu. Masa hukuman kami sedikit dikurangi karena aku dan Oukami akan menjalani misi pada hari Minggu besok. Tapi meski begitu, dendanya tetap tidak berkurang. Sial.


Setelah selesai makan siang di ruang makan, aku kembali ke ruanganku untuk menghabiskan siang ini di dalam kamar saja. Sekaligus menunggu seseorang untuk datang berkunjung hari ini.


"Aduh ... tubuhku pegal-pegal semua." Aku merebahkan badanku di atas kasur.


"Kau tidur pagi sih semalam," ucap Cecilia.


"Mau bagaimana lagi, aku terlalu lelah untuk tidur dan baru bisa tidur sekitar jam tiga."


Benar. Bekas pertarungan dan hukuman patroli membuat tubuhku seakan tidak mau mematuhi perintahku. Belum lagi omelan dari teman-teman Black Rain-ku saat tahu kalau kami terkena denda.


Lalu juga Cecilia yang mengomeliku karena aku memberitahukan keberadaannya di dalam tubuhku kepada Oukami. Entah apa juga yang merasukiku yang membuatku memberitahukan hal sepenting itu kepadanya. Terbawa suasana, mungkin?


"Tapi tetap saja, kau tetap akan menerima hukuman dariku karena telah memberitahukan keberadaanku," ucap Cecilia.


"Kau sudah memberitahuku berulang kali."


"Habisnya, kau terlampau bodoh sampai-sampai berbicara hal tak penting seperti itu."


"Aku tahu aku salah, tapi kata-katamu barusan cukup menyakiti hatiku," ucapku datar. "Tapi aku tidak tahu ini adalah hal yang bagus atau tidak, setelah aku memberitahu tentang dirimu, sikapnya kepadaku langsung berubah drastis begitu," lanjutku.


"Tentu saja, karena ada aku di dalam tubuhmu."


Kurasa itu alasan utamanya. Menjinakkan satu Spirit adalah hal yang sangat sulit bahkan mustahil jika aura mu dengan Spirit itu tidak cocok. Skenario terburuknya jika kau memaksakan, maka tubuhmu yang akan meledak.


Aku pernah bertanya pada Cecilia, tapi dari ratusan ribu ingatan yang ia miliki, ia tidak menemukan satupun ingatan di mana tubuh manusia dapat bertahan jika tidak cocok dengan aura Spirit di dalam tubuh mereka.


"Terlebih lagi, kau memiliki kekuatan banyak Spirit."


"Benar. Bahkan walaupun aura kita cocok, proses penyatuanmu dulu masih memerlukan bantuanku."


Proses penyatuan, ya? Sudah lama aku tidak mendengar kata itu. Kalau tidak salah dia bilang Cecilia akan menyatu denganku, tapi aku tidak tahu prosesnya sudah sampai mana.


Ya, aku rasa aku sudah tahu alasannya. Tapi tetap saja perubahan tiba-tiba yang dilakukannya membuatku sedikit tidak nyaman. Apa-apaan yang awalnya memandangku rendah, tapi sekarang begitu segan kepadaku.


Terlebih lagi sikap malu-malunya ketika aku membicarakan soal Arisu di depannya. Entah kenapa rasanya sedikit .... "Menjijikan." Kata itu keluar dari mulutku ketika membayangkannya.


"Siapa yang kau sebut menjijikan?"


"Uwaakh!" Aku terkejut ketika ada seseorang yang tiba-tiba berbicara di sampingku. Aku yang tadinya dalam posisi rebahan kemudian langsung terduduk dan melihat siapa orang lain yang ada di kamarku saat ini.


"He-Herlin?!"


"Apa-apaan ekspresi berlebihanmu itu?"


"Ketuk dulu kalau mau masuk, oi."


"Aku sudah melakukannya, tapi tidak ada jawaban darimu dan pintunya juga tidak terkunci." Herlin kemudian menaruh sebuah bungkusan yang ia bawa dari tadi di atas tempat tidur.


"Be-begitu, kah? Lalu apa yang kau lakukan di sini?"


"Ishikawa-san sudah mendapatkan seragam untuk pekerjaan kita besok. Aku datang kesini untuk mengantarkannya kepadamu."


"Seragam?" Aku mengambil bungkusan yang ditaruh Herlin tadi dan membukanya. Di dalamnya terdapat setelan jas tuxedo berwarna hitam lengkap dengan atribut yang lain.


"Woah! Keren sekali! Tinggal butuh alat penghilang ingatan dan kacamata hitam, lalu penampilanku akan sama persis seperti di film yang berhubungan dengan Alien itu!" ucapku.


"Alien?" Herlin memiringkan kepalanya karena tidak mengerti dengan referensi yang aku ucapkan. "Ya terserahlah, aku akan kembali ke kamarku sekarang. Jangan pergi keluar kalau tidak perlu hari ini," ucapnya sambil membuka pintu kamarku.


"Nn. Terima kasih, Herlin. Aku tidak akan keluar kamar hari ini."


Herlin sedikit memicingkan matanya saat aku menjawab pertanyaannya. Tapi ia tidak terlalu memperdulikannya dan langsung keluar kamar.


"Hah ... aku kira orang lain."


Blaam...


"Waakh!" Tiba-tiba seseorang membanting pintu kamarku yang lagi-lagi membuatku terkejut. Aku memegangi dadaku yang dalam keadaan tidak sehat karena sudah terkejut dua kali dalam waktu yang sangat dekat.


"Instingku bilang ada yang tidak beres dengan perkataanmu."


"Ja-jangan bikin orang jantungan, oi! Lagipula kenapa kau masih di sini?!"


"Aku tidak percaya kalau kau akan diam di sini malam ini. Kau terlalu patuh dengan jawabanku."


"Lalu aku harus jawab apa?!"


"Aku hanya akan terus berada di sini sampai besok."


"Nanti orang-orang yang datang kesini salah paham bagaimana?" Herlin kemudian mendekatkan wajahnya denganku sehingga membuat wajahku memerah dan membuang muka.


"Kau mencoba mengusirku, sudah kuduga ada yang aneh denganmu."


"Sudah kubilang, aku harus jawab apa?!"


Dia kemudian menyuruhku untuk duduk di bawah sementara dia berada di atas kasur. Suasana hening tercipta cukup lama dan Herlin tidak terlalu memperdulikannya karena dia sibuk dengan HP-nya. Sementara aku terus memperhatikannya.


"Nee, apa kau benar-benar akan terus ada di sini?"


"Ya. Sebelumnya kau lepas sedikit dari mataku dan kau sudah membuat banyak masalah."


"So-soal itu ...." Aku tidak bisa protes tentang hal itu. Karena sebagian memang salahku. "Tapi aku berjanji akan tetap di dalam kamar hari ini!"

__ADS_1


"Benarkah?"


"Ya! Aku janji!"


Blam...


Tiba-tiba seseorang kembali membuka pintu cukup keras dan ia pun langsung menghancurkan semuanya. Yap. Orang itu adalah Oukami.


"Iraya! Aku sudah datang! Apa kita akan melaksanakan rencananya malam ini? Eh—?"


Aku dan Herlin melihat Oukami yang baru datang. Aku hanya bisa memegangi dahiku karena dia datang dengan semangatnya menghancurkan semua sandiwara yang telah aku lakukan.


"Rencana ...?"


"Gekh!" Aku menelan ludah keringku dan saat menengok ke belakang, aku melihat Herlin dengan tatapan yang dalam serta aura kuat. Dan saat itulah aku tahu kalau hidupku sudah tidak bisa diselamatkan lagi.


Beberapa menit telah berlalu semenjak kedatangan Oukami, dan saat ini kondisinya sedang runyam. Aku duduk bersimpuh di lantai bersama dengan Oukami yang juga melakukan hal yang sama. Sementara Herlin duduk dengan menyilangkan kaki dan tangannya sambil menatap tajam kami berdua.


"Kenapa aku juga kena?" bisik Oukami kepadaku.


"Siapa yang menyuruhmu bicara?" ucap Herlin.


"Ma-maaf."


Kami berdua tidak berani menatap wajah Herlin saat ini. Oukami secara tidak sengaja membocorkan rencana kami dan membuat Herlin tahu.


"Jadi, rencana apa yang akan kalian lakukan nanti malam? Iraya, jawab. Jangan mencoba berbohong padaku atau kau tahu sendiri akibatnya."


"Ba-baik, Bu!" Herlin benar-benar menyeramkan saat ini. Jadi aku tidak punya pilihan lain selain memberitahu yang sebenarnya. "Aku menamakan rencana ini dengan sebutan Rencana Taman Hiburan."


"Rencana Taman Hiburan? Apa itu?"


"Jadi itu adalah rencana untuk ...."


Aku kemudian menjelaskannya pada Herlin. Saat aku melihat ekspresinya kemarin, aku sadar kalau sebenarnya Oukami ini menyukai Arisu. Dia yang awalnya sombong dan harga dirinya begitu tinggi tiba-tiba menjadi lebih kalem ketika bersama dengan Arisu.


Jadi aku mau membantunya untuk mengajaknya berkencan di taman hiburan. Jadi mereka berdua akan masuk ke dalam taman hiburan pada malam hari karena aku berpikir akan cukup sulit Arisu masuk ke sana pada siang hari.


Mengingat dirinya adalah leader member dari Grup Idol nomor satu di Jepang saat ini. Jadi pastinya akan banyak menarik perhatian, selain itu Oukami juga bilang kalau Arisu tidak memiliki waktu saat siang hari karena latihannya.


Aku pun selesai menjelaskannya pada Herlin. "Oleh karena itu, Herlin. Aku janji kali ini aku tidak akan melakukan keributan!" Aku memohon kepada Herlin agar bisa keluar pada malam hari nanti.


"Hmm ...." Sementara Herlin menutup matanya dan berpikir sebentar. Aku dan Oukami menunggu dengan gugup jawaban apa yang akan diberikan oleh Herlin.


"Tidak boleh."


Padahal sudah berharap tinggi dan memasang muka berharap. Tapi Herlin seperti yang sudah kuduga memang tidak mudah dikalahkan.


"Itu bisa kalian lakukan nanti setelah misi ini, kan? Lagipula sejak kapan kalian akrab, sih? Padahal awalnya aku kira saling benci."


"Setelah Iraya memberitahuku kalau dia memiliki Spirit buatan Ayakashi Corp. semenjak itu aku sadar kalau aku masih jauh darinya soal banyak hal, makanya aku menghargainya dan menganggapnya sebagai lawan yang pantas," ucap Oukami.


"Eh? Eh?! Oukami, apa yang kau lakukan?! Kau bodoh sekali! Kenapa kau memberitahukan hal itu kepadanya?!"


Aku memegang kerah baju Oukami dan mengguncang-guncangkan tubuhnya karena telah berbicara bodoh seperti tadi.


"Memangnya kenapa? Bukankah itu tidak apa-apa?"


Oukami dengan polosnya merasa tidak bersalah. Sementara aku yang saat ini dalam masalah kemudian menengok ke arah Herlin yang cuma diam.


"He-Herlin ... ini tidak seperti yang kau pikirkan! A-aku hanya— Herlin?"


Herlin kemudian bangun dari posisi duduknya dengan tatapan tidak percaya. Ia kemudian berjalan ke pedang yang aku sandarkan di dinding di samping tempat tidur dan mengeluarkannya dari sarungnya.


"He-Herlin-san ... ma-mau kau apakan pedangku itu?"


"Tidak cukup hanya membuat kerusakan yang membuat Black Rain kena denda, dan sekarang kau memberitahukan rahasia besarmu kepada orang luar."


"Ma—"


"Kau pantas mati!"


"MAAFKAN AKU!!"


**


Setelah kejadian pembunuhan itu, aku kembali hidup dan saat ini Mei-senpai datang ke kamarku untuk merawatku—Tenang saja, aku tidak mati secara harfiah, tapi serangan yang Herlin lakukan tadi bisa saja membunuhku beneran. Aku bersumpah.


Oukami juga sudah pulang dan dia juga ikut diancam oleh Herlin untuk tidak memberitahukan tentang Cecilia kepada orang lain menggunakan pedangku.


"Adu-du-duh ...." Aku meringis kesakitan ketika Mei-senpai ingin mengobati lebam di pipiku.


"Apa kau tidak berlebihan, Herlin-chan?" tanya Mei-senpai sambil mengoleskan minyak pereda lebam dengan kapas.


Yap. Mei-senpai bilang begitu karena wajahku saat ini berantakan dan terdapat lebam hampir di keseluruhan wajah.


"Ini bukan salahku. Dia terlalu bodoh dan membuatku harus melakukannya," ucap Herlin.


"Lalu kenapa juga kau memberitahunya soal Cecilia, Iraya? Apa kau lupa kalau dia adalah rahasia?"


"A-aku terbawa suasana saat itu, jadi aku lupa kalau Cecilia tidak boleh ku beritahukan kepada orang lain— Adu-du-duh!"


Setelah Mei-senpai selesai mengobatiku, ia pun keluar dari kamarku. Mei-senpai juga sempat bertanya pada Herlin dan dia tetap bersikeras ingin tidur di sini mengawasiku.

__ADS_1


"Kalau begitu kalian yang akrab, ya? Besok kita masih ada misi, lho."


"Baik~" Hanya aku yang menjawab peringatan dari Mei-senpai, sementara Herlin sudah sibuk dengan HP-nya dan dengan santainya rebahan di atas tempat tidurku.


"Nee, setidaknya biarkan aku tidur di atas kasur."


"Aku tidak mau satu kasur denganmu, kalau kau tidur di sini, lalu aku tidur di mana?"


"Tidur di kamarmu sendiri sana!"


Tapi Herlin juga tetap tidak membiarkanku tidur di kasur, ia malah melemparkan selimut kepadaku. "Nanti kau pakai itu saja untuk tidur," ucapnya.


"...." Aku menatap datar Herlin. "Kalau jahat itu ada batasannya, tahu."


"Kalau aku jahat, aku akan mengambil lagi selimutnya. Itu juga sebagai tanda rasa bersalahku karena telah memukulmu."


"Me-ne-bas. Kau tidak memukulku, kau menebasku dengan pedang!"


"Ya, sama saja."


"Mana ada!" Tapi perdebatan ini tidak dapat aku menangkan sejak awal. Jadi aku tidak mau membuang-buang waktuku hanya untuk hal itu. Sekarang yang aku bisa lakukan adalah melebarkan dan menyusun selimutnya untuk tempat aku tidur nanti dan setelah itu aku pun merebahkan badanku.


"Keras ...." Tidak ada rasa nyaman yang bisa aku rasakan dari alas selimut ini. Aku mencoba merubah posisiku menjadi menghadap kesamping, lalu tengkurap, lalu kaki di atas tembok. Tapi itu tidak ada gunanya kalau alasnya keras, semuanya tetap saja tidak nyaman.


Aku kemudian membuka HP-ku. Sekarang sudah sekitar pukul 08:50 malam. Awalnya aku janji untuk bertemu dengan Oukami pukul sembilan malam, tapi sepertinya rencana kami harus dibatalkan.


"Maafkan aku, Oukami," gumamku sambil mematikan HP-ku dan menaruhnya di dada.


Tunggu sebentar. Aku masih punya cara itu. Benar. Rencana ini tidak batal! Tiba-tiba aku mendapatkan ide yang brilian. Aku masih punya orang itu, seseorang yang akan selalu memihakku apapun yang terjadi.


Tiing...


Bunyi notifikasi pesan berbunyi di kamar lain. Orang itu—Caramel kemudian memeriksa pesan yang masuk. 'Caramel, bisa bantu aku sedikit di sini?' dari Satou Iraya. Setelah melihat itu, ia tersenyum dan membalas pesannya.


Yosh. Seharusnya sudah tidak ada yang tidak perlu dikhawatirkan. Aku harap dia bisa menyelesaikan masalahku yang di sini. Dan beberapa saat kemudian, suara ketukan pintu terdengar dan Herlin pun membukanya.


"Caramel?"


"Ara, kelihatannya kalian sedang bersenang-senang. Maaf sudah mengganggu malam romantis kalian."


"Diamlah, cepat beritahu aku apa yang kau lakukan di sini."


"Oh soal itu, sebenarnya aku hanya ingin melihat wajah tidur Iraya, tapi ternyata dia masih bangun." Herlin tidak ingin mendengar omong kosong dari Caramel lagi dan segera menutup pintunya, tapi di tahan oleh Caramel.


"Oh ayolah, aku cuma bercanda."


"Jika kau main-main akan aku tutup pintunya."


"Baiklah, baiklah, nona serius. Tadi Ishikawa-san menyuruhku untuk memanggilmu, sepertinya dia ingin membahas misi untuk besok."


"Ishikawa-san? Kalau begitu Iraya, ayo ikut aku."


"Eh? Yang dipanggil hanya kau, kan?"


"Aku tidak bisa menjagamu kalau kau jauh dariku, makanya—"


"Oops! Sepertinya itu tidak perlu." Caramel kemudian masuk ke dalam kamar lalu berdiri di sampingku. "Aku bisa mengurusnya dengan baik selama kau pergi, jadi kau tidak perlu khawatir." Ia tiba-tiba langsung memelukku dari samping.


Herlin terdiam sebentar lalu kemudian menengok ke wajahku yang saat ini sedang memerah karena perbuatan Caramel. "Tch. Awas saja kalau kau sampai keluar." Herlin kemudian pergi.


"Ca-Caramel, kau sudah boleh melepaskanku, kok." Ia pun kemudian melepaskan pelukannya. "Hehe ... kau berhutang satu hal padaku, Iraya."


"Ya! Terima kasih, Caramel! Aku pasti akan membalasnya. Kalau begitu aku pergi dulu, aku sudah hampir terlambat."


Aku pun langsung berlari setelah Herlin berjalan cukup jauh dan melihat keadaan diluar aman, meninggalkan Caramel sendiri di dalam kamarku. Ia juga sempat bergumam sendiri ketika aku sudah keluar kamar.


"Tapi sayangnya, kau mungkin tidak bisa membalas permintaanku yang satu ini."


**


Sementara Herlin datang ke kamar Ishikawa-san yang sedang bersantai. Herlin kemudian menanyakan urusan apa yang membuatnya memanggil dirinya.


"Eh? Aku tidak memanggilmu, kok."


"Eh?"


"Herlin, apa kau baik-baik saja?"


Tiba-tiba Herlin sadar akan sesuatu dan ia pun menggertakkan giginya. "Si sialan itu."


"Apa kau bilang sesuatu?"


Tapi Herlin tidak menjawab pertanyaan Ishikawa-san dan langsung berlari kembali ke kamarku. Dan sayangnya ia sudah terlambat, yang ada di sana hanya Caramel seorang.


"Yo, kau kelihatan terburu-buru," sapa Caramel.


"Hah ... seharusnya aku tidak mempercayaimu dengan mudah."


"Ara, kenapa begitu? Ucapanmu membuat hatiku sakit, lho."


Herlin tidak menjawab lagi perkataan Caramel. Sebaliknya saat ini ia merenung tentang kemana Iraya pergi. Dan setelah beberapa saat berpikir, ia pun menemukan jawabannya dan segera berjalan pergi.


Sementara Caramel yang melihat itu tidak mengejar ataupun menghentikannya karena itu sudah lebih dari cukup untuk membantunya. Sisanya Caramel menyerahkan semuanya pada Iraya.

__ADS_1


"Semoga beruntung, Iraya."


Bersambung


__ADS_2