Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 99 : Ressurection


__ADS_3

Setelah keluar dari kastil yang mengisolasi dirinya, kini Seana yang sedang bersama dengan Dillon berada di tanah dan pulau yang baru untuk mereka dengan budaya dan orang-orang yang berbeda pula.


Seana dan Dillon turun dari pesawat dan hal yang pertama kali Seana rasakan adalah rasa penasaran yang tinggi serta semangat yang berapi-api. Matanya berbinar-binar ketika melihat banyak orang yang mondar-mandir di bandara saat ini.


Dillon yang bertugas menjaga Seana selama di sini pun juga jadi kerepotan karena tingkah Seana yang terlalu bersemangat dan selalu meninggalkan Dillon sendirian di belakang. Apapun hal baru yang dilihat oleh Seana pasti membuatnya senang dan terkejut.


"Wah! Tokyo ramai sekali!"


"Seana-sama, saat ini kita berada di Kyoto bukan Tokyo. Anda yang bilang sendiri kan kalau kita akan pergi ke Kyoto."


"Hn? Apa itu dua hal yang berbeda?"


"Benar. Kyoto dan Tokyo adalah dua kota yang berbeda."


Seana sepertinya baru mengetahui soal hal itu. Karena dalam sekelebat ingatan yang ia terima saat itu, samar-samar ingatan tersebut menyebutkan nama Tokyo atau Kyoto. Tapi karena ada banyak hal baru yang ada di Jepang ini membuat perhatian Seana jadi teralihkan.


"Jadi Seana-sama, kota yang anda lihat di dalam ingatan anda itu, apakah Kyoto atau—"


"Ada sesuatu yang lucu di sana! Ayo cepat Dillon kita kesana!"


"Tunggu! Seana-sa—"


Tapi ucapan dari Dillon sama sekali tidak didengarkan oleh Seana, Dillon saat ini hanya bisa pasrah dan menghela nafas berat saja. Yang harus ia lakukan saat ini adalah menjaganya agar tidak pergi terlalu jauh dan hilang dari penglihatannya.


"Hah ... apa dia benar-benar ingin menemui pamannya?" gumam Dillon lemas.


Dan begitulah perjalanan Seana dan Dillon berlanjut. Mereka mengunjungi beberapa tempat yang masih asing bagi mereka, seperti layaknya seorang turis. Salah satu yang mereka kunjungi adalah sebuah kuil yang paling terkenal di Kyoto.


"Dillon! Bangunan itu terlihat aneh, apa namanya?"


"Itu namanya kuil, Seana-sama. Orang-orang Jepang biasa berdoa di depan kuil untuk meminta pengampunan dan berkah kepada Dewa Dewi di langit."


"Aneh sekali. Bukankah kalau itu kita bisa menghasilkannya sendiri?" tanya Seana.


"Itu kepercayaan mereka, Seana-sama. Aku juga tidak terlalu mengerti."


Mereka berdua kemudian berjalan menyusuri kuil itu dan menemukan banyak gerbang Tori yang biasa terdapat di depan kuil-kuil Jepang yang membuat mereka seakan berada di dalam terowongan mereah. Nama kuil yang mereka kunjungi saat ini adalah Fushimi Inari Taisha.


"Tempat apa ini?! Keren sekali!"


"Kalau tidak salah ini namanya Senbon Tori, gerbang-gerbang yang ada di sini katanya sumbangan dari seseorang atau bisa juga perusahaan."


"Heh~ Indah sekali. Kau tahu banyak ya, Dillon."


"Tidak, sebenarnya saya mencari informasi itu di Google."


"Jadi begitu. Aku kira kau ini orang yang pintar."


"Se—"


Duukk...


Dillon pun langsung berlutut dan menundukkan kepalanya. Ia merasa bersalah karena telah menjadi seorang yang bodoh dan tidak berpendidikan bagi Seana.


"Maafkan atas kebodohan saya!"


"Ti-tidak perlu minta maaf seperti itu. Aku hanya bercanda, kok."


Seana kemudian mencoba mendirikan Dillon yang sedang dalam kondisi berlutut. Selain itu bukanlah apa-apa, ia juga sedikit malu karena banyak orang yang melihat mereka di sini.


Dan setelah berjalan-jalan hampir selama satu jam di sekitaran kuil itu, mereka berdua memutuskan untuk beristirahat sejenak dan duduk di kursi panjang di bawah sebuah pohon rindang.


"Uwah! Perjalanan tadi membuatku haus!"


"Oh?! Aku mengerti, Seana-sama! Aku akan segera membelikan minum!"


Dengan cepat Dillon pergi meninggalkan Seana sendirian untuk membelikannya minuman. Kondisi siang ini memang cukup panas dan membuat banyak keringat keluar dari tubuh Seana.


Karena saat ini Seana sedang sendirian, ia mengeluarkan sebuah pecahan keramaik yang ia simpan di pouch bag di pinggangnya. Di sini ia jarang melihat orang mengenakan pouch bag, padahal menurutnya itu adalah benda yang berguna.


Kembali ke pecahan keramik tadi. Ia hanya bisa mengaktifkan ingatan seperti sebelumnya ketika benda yang memiliki aura orang lain menyentuh darahnya.


Jadi boneka keramik yang ia pecahkan saat itu memiliki aura dari Astaroth atau yang memiliki nama asli Griffin, sehingga sekelebat ingatannya dapat dilihat oleh Seana.


"Coba kita lihat sekali lagi," gumam Seana.


Syiing...


Seana kembali menyayat tangannya dan darah segar keluar dari sana. Lalu setelah pecahan keramik tadi menyentuh darahnya, sekelebat ingatan kembali muncul di dalam kepalanya.


Sebelumnya ia sudah melihat mayat Astaroth dengan kepala yang terpenggal. Tapi saat itu ia memutuskan untuk berhenti melihatnya karena sedang shock karenanya, kali ini ia akan melihatnya secara tuntas.


Seana menutup matanya dan mulai melihat semuanya. Sebelumnya Astaroth bertarung dengan seorang pria berambut ungu selama beberapa jam sampai pada akhirnya Astaroth menciptakan tiga bola meteor besar.


"Pria yang melawan paman ... dia sekuat itu?"


Ia masih terus melihatnya dengan teliti. Setelah pria itu menghancurkan dua meteor besar itu berkeping-keping, ia mencoba untuk menghancurkan yang ketiga tapi usahanya gagal.


Dan pada saat kelengahan pria itu, Astaroth memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerangnya tepat di ulu hati. Sementara bola meteor ketiga berhasil dihancurkan dengan seseorang yang tidak dapat dilihat oleh Astaroth.


Lalu mereka berdua jatuh dengan cepat secara bersamaan dari langit. Selain pria berambut ungu tadi, ada lagi beberapa orang lain di belakangnya. Tapi pandangan Astaroth terlalu buram akibat darah dan kotoran sehingga orang-orang selain pria berambut ungu itu tidak terlihat dengan jelas.


"Ayo lebih fokus!"


Seana mencoba memfokuskan ingatan serta pandangannya agar lebih jelas. Ia perlu tahu orang-orang yang membunuh pamannya agar pekerjaannya kali ini lebih mudah.


"Harus ... lebih fokus ... lagi ...."


Seana mencoba memfokuskan pandangannya ke satu orang setidaknya agar ia memiliki petunjuk lebih. Ia memfokuskan ke seseorang dengan rambut warna pirang, karena itu lebih mudah dicari.


Seana kali ini sedikit demi sedikit sudah mulai bisa melihat satu orang di belakang pria berambut ungu tersebut. Ia berusaha sangat keras dan jika ia berusaha sedikit lagi, ia pasti akan berhasil.


Bagian bawah wajahnya telah jelas dan sekarang tinggal matanya yang masih buram. Seana mencoba memfokuskan lebih keras lagi sampai keringat bercucuran di wajahnya. Hidungnya telah jelas juga dan tinggal satu langkah lagi.


"Akhirnya aku menemukanmu, dasar—"


Braaghh...


"Hakh?!"


Namun sebelum ia berhasil mengungkap identitasnya, sebuah suara besar mengagetkannya dan semua usaha yang ia lakukan dengan keras itu menjadi sia-sia.


"Kyaaa! Ada monster!"


"Waakhh! Lari dari sini!"


"GraaaAagkkKkHhh !!!!"


Sesosok monster dengan tinggi 5 meter tiba-tiba muncul tidak jauh dari tempat Seana beristirahat kali ini. Kumpulan orang-orang yang sedang berkunjung di kuil ini pun lari kocar-kacir menjauh darinya.


Monster yang memiliki bentuk mirip gorila tapi dengan tubuh berwarna biru lebih gelap serta tubuh yang sangat besar menyerang secara membabi buta seolah sedang melindungi dirinya dari semua orang yang ada di sini.


"Apa itu?" gumam Seana.


"Seana-sama!"

__ADS_1


Dillon kemudian kembali dari membeli minuman penyegar tapi ia malah membawa dua es krim di genggamannya kali ini, ia berlari mendekati Seana khawatir dengannya karena kemunculan monster yang tiba-tiba itu.


"Oh, Dillon kau sudah kembali?"


"Seana-sama, apa anda tidak apa-apa?"


"Tenang saja, jarakku dengannya cukup jauh. Dia tidak akan menyerang kita kecuali kita melakukan hal bodoh."


Seana memperhatikan monster itu dari jauh secara seksama. Ia terkejut ternyata ada monster seperti ini juga di negara ini, Seana kira itu hanya ada di negaranya saja.


"Jadi ada makhluk seperti itu di sini, ya?"


"Seana-sama, kita tidak usah berbuat apa-apa. Itu tidak ada hubungannya dengan kita dan jika makhluk itu mendekatimu, aku akan langsung menghabisinya."


Tep... Tep...


"Seana-sama?"


Seana tidak mendengarkan ucapan Dillon dan tetap berjalan mendekati monster yang mengamuk tadi.


"Tidak ada hubungannya? Jelas-jelas tadi dia mengganggu urusanku."


Seana kali ini benar-benar marah kepadanya karena tinggal sedikit lagi ia bisa menemukan pembunuh pamannya. Jadi Seana tidak akan memaafkan monster ini.


Tep...


"Gkh?"


Monster itu kemudian menyadari Seana yang berjalan mendekatinya dengan santainya. Tanpa rasa takut yang terlihat di wajahnya, ia memandangi monster itu dengan tatapan marah.


"Seana-sama?!"


Dillon langsung menjatuhkan dua es krim yang baru saja ia beli dan berlari mendekati Seana yang bertindak gegabah ingin melawan monster itu sendirian. Tapi sebelum mendekatinya, Seana langsung menghentikan Dillon.


"Tunggu Dillon, bukankah ini latihan yang bagus untukku?"


"Latihan? Tapi ini bukan saatnya untuk—"


"Tidak apa, tidak apa, aku bisa mengatasi ini. Kau tidak perlu ikut campur."


Krek... Krek...


Seana membunyikan buku-buku jarinya pertanda kalau ia siap untuk bertarung. Sementara monster gorila itu pun juga pandangannya kali ini fokus ke dirinya.


"GraaAkkhHh!!!"


Braaghh...


Dengan tangan besarnya, monster itu langsung menumbuk Seana secara vertikal. Tapi saat diperhatikan lebih lagi, Seana sudah tidak berada di sana dan berhasil menghindarinya.


"Hyaat!"


Buugh... Braakhh...


Saat sedang melayang di udara, Seana memberikan monster tadi sebuah tendangan berputar yang langsung mengarah tepat ke pipi monster itu dan membuatnya terpental cukup jauh. Kekuatan yang dimiliki Seana cukup besar juga karena dapat mementalkan makhluk setinggi 5 meter.


"Yes!"


"Kekuatannya sudah lumayan untuk gadis berumur 20 tahun, meskipun masih jauh dari kata kuat dan sama sekali belum mendekati pamannya."


Dillon yang melihat Seana dari belakang mulai menilai pergerakan yang dimiliki oleh Seana dan menganggap kalau pergerakannya sudah lumayan meski masih jauh dari kata baik.


Karena kurangnya pertarungan sungguhan yang dilakukan oleh Seana membuat pengalamannya sangat minim. Apalagi dengan sifatnya yang ceroboh dan kurang fokus pada sekitarnya, pikir Dillon.


Saat masih di udara, Seana menengok ke arah Dillon yang sedang memperhatikannya. Ia pun tersenyum lebar dan membentuk simbol 'peace' dengan dua jarinya. Seana sepertinya meminta penilaian langsung dari Dillon.


Zwuuush...


"Hn?"


Tiba-tiba sebuah stand makanan melayang dan melesat dengan cepat menuju ke Seana yang sedang melayang jatuh ke tanah. Ia yang sedang tidak siap dan juga posisinya yang tidak bagus membuat Seana tidak bisa menghindarinya lagi.


"Ga-gawat!"


Braaakkhh...


Seana yang sudah pasrah terkena stand makanan tadi, tiba-tiba terkejut karena benda itu hancur berkeping-keping tepat di depannya seperti ada yang menghancurkannya dengan keras. Dan Seana sadar kalau ada benda yang bukan dari stand makanan tadi, yaitu sebuah biji dart.


Biji dart yang melesat menghancurkan stand itu sempat berhenti dan kembali ke arah pemiliknya, yaitu Dillon.


"Nice save!" Seana yang sudah mendarat sempurna memberi jempol ke atas pada Dillon.


"Hah ... fokus, Seana-sama."


"Jangan khawatir, kau seperti tidak tahu diriku saja."


"Justru karena aku sangat mengetahui dirimu, makanya aku khawatir," gumam Dillon.


Tapi dengan senyum optimis di wajah Seana kali ini, menandakan kalau ia sudah tidak akan ceroboh lagi. Seana memasang kuda-kudanya lagi dan kali ini dia yang akan melesat duluan.


"Ayo kita mulai lagi!"


Craasshh...


"Eh?"


"GyaAaakkKhhGhh !!!"


Seana terkejut karena tiba-tiba salah satu tangan dari monster gorila itu jatuh dan putus. Ia meringis kesakitan dan menyerang secara membabi buta apapun yang menyerangnya tadi.


"Apa itu anda, Seana-sama?" tanya Dillon.


"Tidak ..., aku tidak bisa melakukan hal seperti itu."


Craasshh... Craasshh...


Monster gorila itu terus diserang dan satu persatu bagian tubuhnya terpotong secara cepat tanpa ampun. Sampai pada akhirnya, saat hampir semua bagian tubuhnya sudah terpisah, sebuah serangan terakhir mengakhiri hidup monster itu.


Craasshh...


"GyaAakHh ...."


Bruukkhh...


Kepalanya terjatuh ke tanah, lalu sedetik kemudian tubuhnya juga jatuh ke tanah. Monster itu kali ini benar-benar sudah mati dan orang-orang yang berada di sana sudah merasa sedikit tenang.


Saat Seana dan Dillon masih bingung, tiba-tiba seseorang yang tidak dikenalnya menghampiri mereka dan menanyakan keadaan mereka.


"Kau tidak apa-apa?"


"Eh? Aku?" tanya Seana menunjuk dirinya sendiri.


"Tentu saja, aku datang begini ingin menanyakan keadaanmu."


"A-aku tidak apa-apa. Kau ... apa kau yang mengalahkan—"

__ADS_1


"Herlin-san!"


Sebelum Seana menyelesaikan pertanyaan, seorang perempuan datang meneriaki nama orang yang menanyakan keadaan Seana tadi. Ia pun tidak bisa apa-apa selain memperhatikan mereka berbicara.


"Oh, Anna-chan. Sudah aku bilang jangan dekat-dekat saat aku bertarung, kan?"


"Tapi tadi sangat berbahaya buatmu, tahu! Lagipula aku mendekat karena musuhnya sudah mati."


"Aku tidak akan kenapa-napa, Anna-chan."


"Kau selalu bilang begitu, Herlin-san. Oh iya! Kita sudah ada janji dengan Iraya-san dan yang lainnya, kan?"


"Kau benar, kita tidak boleh lama-lama di sini."


Herlin kemudian menengok ke arah Seana yang dari tadi masih memperhatikan mereka berdua mengobrol. Karena dirasa bisa ditinggal dan tidak apa-apa, ia pun berniat meninggalkan Seana di sana. Tapi Seana menghentikannya.


"Tunggu sebentar!"


"Hn?"


Seana sempat ragu untuk menanyakan hal ini. Tapi ia bisa merasakan kalau gadis yang ada di depannya ini berbeda, ia memiliki aura yang kuat dan sepertinya mengalahkan monster barusan dengan mudah.


Jadi semua keraguan yang ada di dalam diri Seana hilang dan ia pun menanyakan hal penting ini kepadanya.


"Apa kau tahu orang yang namanya Griffin?"


"Ap—?! Seana-sama?!"


Seana menghentikan Dillon yang terkejut saat Seana tiba-tiba menanyakan hal berbahaya seperti itu. Tapi Seana mengisyaratkan Dillon untuk diam dan menunggu jawaban dari Herlin.


"Apa kau tahu sesuatu dengan nama itu?" tanya Seana sekali lagi.


"Griffin? Aku tidak pernah kenal dengan nama orang seperti itu. Hanya itu saja yang ingin kau tanyakan, kan? Kalau begitu aku pergi dulu. Ayo, Anna-chan!"


"Nn."


Mereka berdua kemudian pergi. Meninggalkan Seana dengan jawaban yang tidak memuaskan bagi dirinya, sementara Dillon yang bersyukur karena tidak ada hal buruk yang terjadi kemudian menghampiri Seana.


"Tadi itu berbahaya sekali. Apa yang akan terjadi kalau dia mengetahuinya, Seana-sama?"


"Dalam penglihatanku ...."


"Seana-sama?"


"... Sebelum Paman Griffin terbunuh, aku melihat ia di kepung oleh banyak orang. Dan salah satu orang yang mengepungnya memiliki rambut pirang panjang."


"Jadi karena itu anda berbuat nekat."


"Kita sudahi main-mainnya, Dillon. Sekarang kita akan menemui Paman Griffin."


Seana berbalik dan melihat Dillon dengan tatapan tajam tapi juga penuh dengan kesedihan. Dillon yang melihat hal itu tidak bisa mengomentari banyak dan hanya bisa berlutut dan menurutinya.


"Baik."


Diam-diam Dillon juga melirik ke arah Herlin yang mulai menyamar di dalam kerumunan banyak orang dan pada akhirnya kehilangan jejaknya.


**


Waktu sudah mulai malam hari di Kyoto dan angin dingin juga mulai menusuk ke dalam kulit. Dalam kedinginan malam itu, Seana dan Dillon di depan sebuah tempat yang sudah rusak berat dan ditinggalkan.


Tep...


Sebuah Family Mart yang sudah ditinggalkan dan ditutupi oleh garis polisi.


"Kau bisa merasakannya, kan?" tanya Seana.


"Ya, aura yang sangat pekat dan menyebar kemana-mana. Kemungkinan penyebabnya ada di dalam bangunan itu."


Mereka berdua juga dapat merasakan aura yang sangat besar milik Astaroth di dalam. Orang-orang biasa akan langsung merasakan perasaan tidak enak dan ingin muntah serta cepat-cepat pergi dari sekitar bangunan itu.


Tapi itu tidak berpengaruh bagi mereka berdua bagi karena dengan santainya mereka masuk tanpa ada halangan yang berarti. Setelah masuk ke dalam, mereka menemukan apa yang mereka cari sampai sejauh ini.


"Akhirnya aku menemukanmu, Paman."


"Griffin-sama ... anda benar-benar sudah mati," gumam Dillon.


Mereka menemukan mayat Astaroth yang kepalanya terpenggal dan berada di sampingnya. Seana pun langsung menghampirinya dan berlutut untuk melihatnya lebih dekat.


"Lukanya tidak terlalu parah. Musuh Paman menghabisinya dengan satu serangan telak yang diarahkan tepat ke lehernya, sepertinya aku masih bisa melakukannya."


Meskipun umur mayat itu sudah beberapa minggu, tapi tidak ada tanda-tanda pembusukan di mayat tersebut. Sepertinya hewan-hewan kecil dan pengurai pun tidak berani mendekati Astaroth karena aura yang dikeluarkan oleh tubuh tersebut.


Seana pun melipat lengan baju panjangnya menjadi di atas siku. Ia akan segera melakukan sesuatu kepada mayat pamannya itu. Lengan Seana juga terlihat banyak terdapat bekas luka sayatan baik besar maupun kecil.


"Dillon, aku akan segera melakukan prosesnya. Aku sarankan agar kau tidak terlalu dekat denganku."


"Tapi ... apa anda akan baik-baik saja?"


"Tenang saja, Dillon. Dalam pertarungan mungkin kau boleh mengkhawatirkanku, tapi kalau di saat seperti ini ... aku ahlinya."


"Saya mengerti."


Dillon memang sering mengkhawatirkan Seana karena sifatnya yang ceroboh dan penasaran. Tapi ada satu saat dimana ia tidak perlu mengkhawatirkannya sama sekali. Ia sudah mengenal Seana sangat lama, jadi dia mengerti akan hal itu.


Seana memang suka bermain-main dengan boneka, tapi yang paling ia sukai adalah tubuh manusia. Ia sering melakukan percobaan terhadap tubuh-tubuh manusia saat berada di kastil.


Berkat teknik, rasa keingintahuan, serta semangatnya yang luar biasa itu, membuatnya membangkitkan Unique Skill miliknya sendiri.


Crrkk...


Seana menggigit lidahnya sendiri dan darah segar mengalir dari dalam mulutnya. Ia kemudian mengambil kepala Astaroth dan menaruhnya di tempatnya semula setelah meluruskan tubuh Astaroth. Darah Seana pun juga jatuh tepat di tubuh Astaroth dan prosesnya pun bisa dimulai.


"Ressurection."


Flaap...


Setelah mengucapkan kata itu, sepasang sayap hitam dengan bulu warna hitam muncul di punggung Seana berkat kekuatan auranya. Kedua sayap itu kemudian bergerak ke depan dan menutupi tubuh Astaroth layaknya sebuah pelindung.


Syiing...


Dan tiba-tiba dari dalam pelindung sayap Seana itu muncul cahaya yang sangat terang yang berlangsung selama beberapa menit.


"Kau belum boleh pergi dulu, Paman," gumam Seana.


Setelah beberapa menit berlalu, cahaya menyilaukan itu pun lama-lama menjadi gelap dan akhirnya menghilang seutuhnya. Sayap Seana kembali ke tempatnya semula dan tidak lagi menutupi Astaroth.


Tubuh Astaroth pun kini sudah bersih sempurna dan kepalanya yang terpenggal juga sudah tersambung kembali. Dan sayap milik Seana pun juga perlahan menghilang.


Setelah prosesnya selesai, mata Astaroth mulai menunjukkan pergerakan yang membuat Seana tersenyum dan Dillon terkejut. Setelah matanya terbuka sempurna, Astaroth kemudian bangun dan duduk dalam keadaan bingung.


"Selamat datang kembali, Paman."


"Seana? Jadi begitu ... kau yang membangunkanku dari mimpi buruk tanpa akhir itu."


Meskipun masih dalam keadaan lemah, tapi proses pembangkitan Astaroth pun berjalan sukses.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2