
"Cecilia …? Kenapa kau bisa ada disini?"
"Ya bisa dibilang, ini semua karena rencana Iraya."
"Rencana Iraya …?"
"Nn? Cecilia, kau mengenal dia?" tanya Tetsu.
"Tentu saja, dia temannya Iraya. Bagaimana mungkin aku tidak kenal."
Herlin yang masih tidak mengerti dengan perkataan Cecilia pun kemudian dipersilakan masuk olehnya. Herlin memperhatikan seisi rumah Iraya, tidak ada yang berubah saat terakhir kali ia kesini, malahan saat ini terlihat lebih rapih dari sebelumnya. Mungkin saja ini karena ada Tetsu yang bekerja disini pikir Herlin.
"Maaf membuatmu menunggu lama."
Setelah duduk dan menunggu beberapa lama, Tetsu datang dengan membawa tiga gelas dan sebuah teko. Ia kemudian menuangkannya secara hati-hati meskipun masih terlihat gemetar.
"Nah, silahkan."
"Terima kasih."
Setelah menuangkan minuman, Tetsu kemudian duduk di sebelah Cecilia lalu meminum teh yang ia bawa dan tuangkan sendiri tadi. Herlin yang melihat itu menanyakan sesuatu kepada Cecilia.
"Cecilia, sebenarnya anak ini siapa?"
"Nama dia Tetsu, ya setidaknya itulah nama yang diberikan Iraya untuknya. Dan seperti yang dia bilang sendiri, dia ini memang sebuah Spirit."
"Aku adalah sebuah Spirit!" ucap Tetsu dengan ceria.
"Spirit? Iraya menemukan Spirit baru? Dia tidak pernah cerita padaku kalau dia dapat Spirit baru."
"Karena dia memang ingin merahasiakannya darimu. Sepertinya Iraya sangat ingin membuatmu terkesan dengan perkembangannya sampai-sampai menyembunyikan hal seperti ini."
"Perkembangan? Apa maksudmu?"
"Tetsu ini adalah Spirit yang menempati pedang baru Iraya, dan dia juga selalu membantu Iraya saat sedang bertarung."
"Pedang …?"
Sekarang semuanya jadi masuk akal. Herlin sempat memikirkan alasan kenapa dia tiba-tiba menjadi kuat saat pertandingan melawan Hayashi-san waktu itu. Ternyata karena dia menyembunyikan rahasia seperti ini. Karena mustahil untuk orang baru seperti Iraya untuk bahkan menyentuh seorang Hayashi-san.
Sambil berpikir, Herlin menenggak teh yang dibuatkan oleh Tetsu. Rasa pahit dan manis yang seimbang membuatnya menjadi lebih tenang dan bisa berpikir lebih baik. Setelah beberapa saat, ia kemudian menanyakan pertanyaan lagi.
"Lalu bagaimana tanggapan ibunya Iraya soal Tetsu yang menjadi asisten rumah tangga? Apakah dia bisa menerima hal itu?"
Saat Herlin memberikan pertanyaan itu, Cecilia tidak langsung menjawabnya. Tetsu juga bingung dengan Cecilia yang tidak menjawabnya. Suasana sepi dan canggung menyelimuti ruangan ini, tapi dengan polosnya Tetsu memecah keheningan ini.
"Cecilia …? Kenapa tiba-tiba kau murung?"
"Eh?"
Cecilia melihat wajah Tetsu dengan ekspresi bertanya. Ia tersenyum dan kemudian mengelus kepala Tetsu yang membuatnya senang dan melupakan pertanyaan tadi.
"Cecilia … sebenarnya apa yang terjadi? Apa telah terjadi sesuatu?"
"Selain rahasia tentang Spirit dari pedang itu, Iraya juga memiliki satu rahasia lainnya."
"Rahasia lain …?"
Meskipun Iraya sudah melarangnya untuk membocorkan rahasia ini kepada teman-temannya, tapi menurut Cecilia, cepat atau lambat mereka pasti akan mengetahuinya.
"Rahasia kalau ibunya Iraya sudah meninggal."
Mendengar hal itu, Herlin membelalakkan matanya. Iraya menyembunyikan hal seperti itu darinya, Herlin tidak mengerti kenapa dia harus menyembunyikan itu.
"Kenapa … kenapa dia tidak bilang padaku?"
"Iraya bilang kalau dia tidak ingin merepotkan yang lainnya, ia harus membalaskan dendamnya sendiri."
Herlin menundukkan wajahnya. Ia tidak tau harus berekspresi seperti apa saat ini. Bahkan disaat seperti itu, dia masih bisa bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Itu adalah hal terbodoh yang pernah dilakukan seseorang menurut Herlin.
"Bodoh … Iraya bodoh …, berlagak sok kuat di depan orang lain …. Kau pikir dirimu keren?"
Herlin menggumam sendiri dan menghina Iraya atas kebodohan yang ia lakukan. Herlin berusaha sangat keras untuk tidak menangis, bibirnya bergetar menahan air mata yang ingin keluar dari matanya.
Herlin mengingat saat ia berkunjung ke rumah Iraya untuk pertama kalinya dan disambut dengan ramah oleh ibunya Iraya. Ibunya bahkan membuatkan mereka makan siang. Dan ada satu hal yang membuat Herlin selalu kepikiran, yaitu saat pipinya disentuh oleh ibunya Iraya. Ia seakan merasakan sensasi nostalgia di dalam dirinya.
Hal itu semakin membuat Herlin merasa terpukul, seakan yang meninggal adalah orang tuanya sendiri.
Cecilia yang melihat Herlin merasa sangat terpukul kemudian mengelus kepalanya.
"Ce-Cecilia?"
"Kurasa aku tau penyebab Iraya bersikeras untuk tidak memberitahukannya, terutama kepadamu."
Herlin memiringkan kepalanya yang masih terus dielus oleh Cecilia karena bingung.
"Kurasa karena dia tidak ingin melihatmu sedih seperti ini."
"Aku …?"
"Kau kan selalu dingin dan tanpa ekspresi kepada Iraya. Dan bahkan omonganmu selalu membuat dirinya serasa ditusuk-tusuk. Kurasa saat ia melihat wajah sedihmu saat ini, Iraya merasa kalau wajah sedih itu tidak cocok denganmu."
"Tidak cocok denganku, ya?"
Herlin kemudian mendongak keatas dan menutup matanya dengan lengannya. Setelah itu ia menarik nafas panjang dan mengeluarkannya. Ia melakukan itu beberapa kali sampai gemetaran di bibirnya hilang. Setelah itu ia menepis tangan Cecilia yang sudah mengelus kepalanya dari tadi.
"Maafkan aku Cecilia, tapi melihatmu akrab denganku membuatku merasa jijik dan sangat tidak cocok."
"Mungkin kau benar, aku juga merasa jijik saat mengelus kepalamu tadi."
Tapi meskipun mereka berbicara tajam satu sama lain, keduanya merasa kalau hubungan mereka berdua sudah semakin membaik. Tetsu yang bingung dengan hubungan mereka berdua kemudian bertanya kepada Cecilia.
"Nee, nee, Cecilia, sebenarnya kau dengan Herlin itu berteman atau bermusuhan?"
__ADS_1
"Hmm …. Kalau dipikir-pikir aku juga bingung dengan hubungan kami," ucap Cecilia.
"Tapi yang pasti kami ini tidak bermusuhan."
"Berarti kalian berteman! Teman Iraya berarti temanku juga! Salam kenal ya, Herlin."
"Ah iya aku juga, Tetsu."
Dan di pembicaraan kali ini, nampaknya Herlin mendapat satu teman baru lagi.
"Kalau begitu Cecilia, bisa kau beritahu lebih detil tentang rencana yang Iraya buat."
"Baiklah … rencananya tidak sesulit yang kau bayangkan, tapi juga tidak semudah yang kau pikirkan."
"Jangan membuatku semakin bingung, cepat beritahukan saja apa rencananya."
"Baiklah, baiklah, kau ini tidak sabaran sekali, ya."
Cecilia kemudian mengingat saat-saat Iraya memberitahukan rencananya sebelum ia diculik oleh para Assasin. Saat mereka berdua sedang berada di dalam pikiran Iraya.
Sedikit demi sedikit ruangan ini mulai memecah seperti kaca-kaca yang rapuh. Sebelum benar-benar keluar dari sini, Iraya sempat memberitahukan rencananya pada Cecilia.
"Oh iya Cecilia, soal rencanaku itu. Bisakah kau melakukannya untukku?"
"Rencana yang tidak perlu mengorbankan orang lain, kan? Selama aku bisa melakukannya, aku akan membantumu. Lagipula aku juga sedikit penasaran dengan rencana bodoh macam apa yang akan kau lakukan."
"Oi! Jangan menyebutnya bodoh! Ini adalah rencana terhebat abad ini, kau pasti akan terkejut mendengarnya."
"Iya, iya, terserah kau saja. Cepat beritahu sebelum ruangan ini pecah seluruhnya."
Sebelum menyebutkan rencananya, Iraya sempat tersenyum sedikit baru kemudian berbicara.
"Keluarlah dari tubuhku lalu pergilah ke rumahku. Lalu tunggulah sampai Herlin datang kesana."
"Keluar dari tubuhmu? Apa kau ingin aku mati diluar tubuhmu?"
"Kau kan bisa bertahan selama seminggu diluar inangmu, jadi kurasa tidak akan ada masalah."
"Lagipula apa dia sudah tau rencana ini? Kenapa kau yakin sekali dia akan datang ke rumahmu?"
"Tentu saja dia belum tau, rencana ini baru terpikirkan saat ini juga. Tapi aku yakin dia akan datang kesana, karena dia belum mengetahui soal kematian ibuku."
Cecilia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang direncanakan oleh Iraya, kepercayaannya kepada Herlin juga sangat besar. Dan juga dia menyuruhnya untuk keluar dari tubuh Iraya.
"Lalu apa yang harus kulakukan saat bertemu dengannya? Memberitahukan kematian ibumu?"
"Kalau itu sebisa mungkin jangan diberitahu. Ya meskipun kalau dia datang ke rumahku, dia akan tau semuanya sih. Tapi kumohon jangan memberitahunya."
"Baiklah, baiklah, lalu setelah bertemu dengan Herlin apa yang harus kulakukan?"
"Masuklah ke dalam tubuhnya lalu selamatkanlah aku."
"Eh? Tunggu …! Apa aku tidak salah dengar? Masuk ke dalam tubuhnya?"
"Bukan itu masalahnya!"
Kraakk… Praangg…
Tapi ruangan ini sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi dan akan segera pecah.
"Tunggu! Iraya, rencana itu …."
"Sisanya kuserahkan padamu, Cecilia."
Meskipun masih banyak yang belum dimengerti oleh Cecilia, tapi ia memilih untuk mengikuti rencana Iraya dan akhirnya keluar dari tubuhnya secara sembunyi-sembunyi. Sementara Iraya berhasil ditangkap oleh para Assassin.
"Begitulah rencana yang dibuat oleh Iraya."
"Memasukkan Cecilia …, memasukkan Subject C ke dalam tubuhku …. Apa-apaan rencana itu?"
"Aku juga kaget mendengar rencananya waktu itu, tapi entah kenapa tubuhku bergerak sendiri untuk mengikuti rencananya."
Herlin masih memikirkan rencana yang dibuat oleh Iraya. Memang benar kalau membuat Spirit masuk ke dalam tubuhmu itu bisa dilakukan, tapi harus ada kecocokan antara inangnya dengan Spirit yang ada di dalam tubuhnya. Jika tidak, Spirit di dalam tubuhnya bisa meledakkan inangnya karena ketidakcocokan.
Kejadian yang dialami Iraya adalah kejadian langka yang jarang ditemui pada orang biasa. Tapi hal langka seperti itu sangat sulit terjadi pada orang lain. Herlin sekarang benar-benar dalam kebimbangan yang berat.
"Tapi miris rasanya menyebut rencana ini adalah rencana yang tidak perlu mengorbankan orang lain. Memang benar kalau orang lain tidak perlu jadi korban, tapi yang jadi korban justru malah—"
"—Dirinya sendiri."
Herlin menyambung perkataan Cecilia yang belum selesai itu dan ia pun tersenyum mendengarnya. Lalu kemudian ia bertanya pada Herlin.
"Bagaimana?"
"Eh?"
"Apa kau siap menjalankan rencana ini? Apa kau berani untuk mempertaruhkan nyawamu demi menyelamatkan Iraya?"
Herlin terdiam sebentar. Rencana ini adalah rencana yang memiliki resiko sangat besar. Jika Herlin dan Cecilia tidak cocok, maka tamat sudah riwayatnya. Tapi meskipun begitu, Herlin sudah membulatkan tekadnya.
"Apa kau meremehkanku? Jika ini rencana yang dikatakan oleh Iraya maka aku akan melakukannya."
"Sudah kuduga kau akan berkata seperti itu."
Cecilia kemudian mengarahkan telapak tangannya yang terbuka kearah Herlin.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku akan masuk ke dalam tubuhmu dan salah satu caranya adalah dengan kontak fisik langsung. Apa? Atau kau mau aku menciummu seperti yang kulakukan pada Iraya?"
"Tidak perlu," ucap Herlin cepat.
"Ya tentu saja kau akan menolak."
__ADS_1
Herlin menghela nafas berat karena merasa dijahili oleh Cecilia. Tapi kemudian ia menempelkan telapak tangannya ke telapak tangan Cecilia.
"Aku mulai."
Beberapa detik telah berlalu tapi masih belum terjadi sesuatu yang aneh. Dan setelah beberapa menit barulah terjadi sesuatu, cahaya kehijauan yang menyilaukan terpancar dari seluruh tubuh Cecilia yang membuat Herlin dan Tetsu harus menyipitkan matanya agar cahaya berlebihan tidak masuk ke matanya.
Dan bersamaan dengan meredanya sinar yang keluar dari tubuh Cecilia, Cecilia pun menghilang dari pandangan mereka berdua. Herlin melihat kearah telapak tangannya, lalu badannya dan tidak menemukan hal aneh apapun. Tapi ia dikejutkan dengan suara yang ada di kepalanya.
"Kau bisa dengar?"
"Suaramu … ada di dalam kepalaku. Jadi seperti ini yang dirasakan Iraya selama ini."
"Sekarang berada di dalam tubuhmu. Bagaimana? Apa kau merasakan sesuatu yang aneh?"
"Sejauh ini aku belum merasakan hal yang aneh."
"Karena kau belum memfokuskan auramu. Coba kau keluarkan sedikit auramu."
Herlin kemudian menuruti perintah Cecilia. Ia menutup matanya dan berfokus untuk mengalirkan auranya ke seluruh tubuhnya. Tapi tiba-tiba ia merasakan sesuatu seperti terbakar di dalam dirinya.
Degh…
"Akkhh …!!"
Herlin memegang kepalanya sendiri karena merasakan sakit yang luar biasa tepat saat ia ingin mengalirkan auranya. Ia kemudian membuyarkan fokusnya dan auranya pun kembali menghilang. Seketika pula rasa sakitnya juga mereda.
"Hah … hah … hah …."
Keringat bercucuran menutupi seluruh wajah Herlin saat menahan rasa sakit dan panasnya.
"Sudah kuduga ini mustahil."
"Hah … apa hal seperti ini pernah terjadi pada Iraya?"
"Belum pernah, malahan ia menyatukan kemampuan Elemental-nya dengan auraku yang membuat kekuatannya semakin kuat. Meskipun saat awal-awal mencoba dirinya hampir saja meledak."
"Apa-apaan itu …?"
"Pokoknya selama aku berada di dalam tubuhmu, kau sama sekali tidak boleh mengeluarkan auramu, kau mengerti?"
"Lalu bagaimana caranya aku bertarung melawan para Assassin itu? Apa kau menyuruhku untuk bunuh diri?"
"Hmm … benar juga, ya."
Cecilia sempat terdiam sebentar untuk memikirkan cara Herlin bertarung. Dan saat ia melihat kearah Tetsu di depannya, ia menemukan jawabannya.
"Itu dia!"
"Jangan berteriak tiba-tiba seperti itu. Kau mengejutkanku."
"Ah maafkan aku, tapi aku sudah menemukan jawabannya."
"Bagaimana?"
"Apa kau pernah menggunakan pedang? Kau bisa membawa Tetsu bersamamu."
"Aku belum pernah mencobanya, tapi jika kau memberiku waktu, aku akan coba mempelajari dasar-dasarnya."
Herlin kemudian mendekati Tetsu dan memegang kedua pundaknya. Ia kemudian menyamakan tinggi kepalanya dengan kepala Tetsu lalu berbicara kepadanya.
"Tetsu, apa kau mau ikut bersamaku?"
"Ikut bersamamu? Kemana?"
"Kita akan pergi menyelamatkan Iraya."
"Menyelamatkan Iraya? Memangnya apa dia saat ini sedang perlu diselamatkan?"
"Ya, saat ini aku sedang tidak berdaya karena tidak bisa mengeluarkan auraku. Karena itu aku membutuhkan bantuan Tetsu. Maukah kau membantuku?"
Mata Tetsu berbinar-binar dan senyum lebar kemudian tercipta di wajahnya. Ia menyanggupi permintaan Herlin dengan semangat.
"Kau bisa mengandalkanku, Herlin! Ayo kita selamatkan Iraya!"
"Baiklah."
"Oh iya satu hal lagi Herlin …."
"Hn?"
Cecilia tidak menjawab rasa penasaran Herlin. Tapi tiba-tiba luka dan bekas tusukan di pinggang kirinya perlahan menghilang dan akhirnya sembuh total.
"Kau tidak akan bisa bertarung dengan luka seperti itu, kau tau."
"Terima kasih, Cecilia."
"Kalau begitu pedang Tetsu ada di kamarnya Iraya, aku akan kembali kesana sekarang dan siap ikut bersamamu."
"Baiklah."
Herlin dan Tetsu pun naik ke kamarnya Iraya. Ia melihat sebuah pedang yang masih tersarungkan bersandar di tembok samping tempat tidurnya. Tetsu kemudian bersinar persis seperti yang dilakukan Cecilia sebelumnya dan menghilang masuk ke dalam pedang itu.
Herlin pun mengambil pedang itu dan menaruhnya di punggungnya seperti yang biasa Iraya lakukan.
"Kau bisa mendengarku, Herlin?" suara Tetsu terdengar dari dalam pedang itu.
"Ya terdengar. Aku merasa seperti sedang menggendong anak kecil di panti asuhan," gumam Herlin.
"Tidak usah banyak mengeluh dan cepat berangkat."
"Aku tau."
Mereka bertiga pun sudah bersiap untuk menyelamatkan Iraya saat ini. Meskipun ia tau kalau masih ada halangan lain yang akan menghalangi mereka.
__ADS_1
Bersambung