Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 29 : Operasi Penangkapan Subject C


__ADS_3

Di dalam sebuah ruangan yang serba putih. Ruangan ini terlihat seperti sebuah kamar karena memiliki tempat tidur satu orang di ujung kamarnya serta memiliki meja dengan banyak kertas berceceran di atasnya.


Selain kamar sederhana ini, ada seseorang yang sedang tertidur di atas mejanya seperti kelelahan setelah melakukan sesuatu. Seseorang dengan wajah sedikit keriput dan uban yang sudah muncul dari serat-serat rambutnya.


Tok... Tok... Tok...


"Hekh?!"


Tiba-tiba sebuah bunyi ketukan pintu dari luar ruangan itu mengejutkan serta membangunkan pria yang sedang berada pada puncak tidurnya itu. Ia mengangkat kepalanya perlahan yang masih belum sadar sepenuhnya.


Tok... Tok... Tok...


Barulah pada bunyi ketukan kedua, ia sadar sepenuhnya karena menganggap suara itu mulai mengganggu. Ia kemudian berdiri dan membuka pintu untuk menemui orang yang mengetuk pintu.


"Ada apa?"


"Subject C telah ditemukan, pak."


Setelah mendengar kata-kata itu, rasa kantuknya langsung menghilang dan wajahnya menjadi segar. Sekelebat seringai tipis tercipta di wajahnya dan kemudian ia langsung mengambil jas lab yang tergantung di belakang pintu.


"Segera lacak orang yang mengejarnya. Kita akan menangkap Subject C dan inangnya. Pastikan juga kalau kau menangkapnya hidup-hidup."


"Baik, pak!"


**


*Tiga Bulan Lalu*


Seorang pria berjalan ke luar rumah mewahnya dan memasuki sebuah sedan berwarna hitam. Pintu mobil dibukakan oleh salah satu pelayan laki-lakinya.


Setelah masuk dia melihat ke arah luar jendela mobil, melihat kearah rumah krem mewah yang di dalamnya sedang merayakan sebuah pesta. Pria itu hanya tersenyum kecil melihat rumahnya dipakai oleh anaknya bersenang-senang bersama teman-temannya.


"Kuharap kau cukup bersenang-senang, Chifu."


Brruum...


Setelah berbicara seperti itu, mobil yang dinaiki pria itu kemudian bergerak meninggalkan rumah besar miliknya.


Perjalanan yang tak sebentar ia lalui dengan mobilnya sebelum akhirnya ia sampai di depan area gedung. Pengamanan yang dilakukan cukup ketat terhadap orang-orang yang masuk. Tapi bagi pria itu, para penjaga hanya perlu melihat wajahnya sebelum ia akhirnya diperbolehkan masuk.


Sebuah area gedung dengan bentuk yang tidak terlalu tinggi tapi luas. Daripada disebut sebuah perkantoran, tempat ini lebih cocok disebut sebagai laboratorium.


Setelah masuk ke dalam, pria itu disambut oleh beberapa pekerja yang sedang berlalu lalang seperti memberikan rasa hormat kepadanya. Pria itu kemudian mengambil jas lab putih yang tergantung di gantungan jas lalu memakainya.


Selain dia, banyak juga orang-orang dengan jas lab lainnya sedang melakukan berbagai macam hal.


Pria itu kemudian berjalan menelusuri sebuah lorong ruangan serba putih. Saat berjalan melewatinya, ia melihat ke sampingnya dan melihat ruangan dengan kaca besar anti peluru yang di dalamnya dapat terlihat jelas isinya.


Orang-orang dengan jas lab putih sedang memeriksa tabung-tabung kaca yang berisi manusia-manusia telanjang yang berada dalam air sedang terlelap yang entah bagaimana masih hidup.


Pria itu tersenyum dan mengomentari hal-hal yang sebenarnya ia kerjakan bersama dengan salah satu 'temannya'.


"Pengorbanan kalian akan terbayar sebentar lagi," gumamnya.


Setelah melewati tempat penuh tabung kaca tadi, pria itu kemudian masuk ke sebuah ruangan yang terlihat seperti sebuah ruangan pertemuan karena banyak meja-meja untuk tempat seseorang mendengarkan orang presentasi di depan.


Dan di sana telah terdapat lima orang yang sepertinya sudah menunggu kedatangannya dari tadi.


"Selamat datang, aku mengucapkan terima kasih karena bersedia repot-repot datang kesini," ucap pria itu membuka percakapan.


Tapi tidak ada yang terlihat tertarik dengan basa basi yang diucapkan pria itu. Semuanya terlihat tidak peduli dan terlebih lagi waktu saat ini sudah hampir lewat tengah malam.


"Cepat lewatkan basa-basinya dan jelaskan kenapa kita semua disuruh datang ke tempat seperti ini. Ini sudah malam dan aku ingin segera tidur," ucap salah satu dari mereka.


"Ahahaha ... maaf-maaf, aku lupa kalau kalian adalah orang yang tidak suka berbicara dan lebih menyukai pertarungan yang mengancam nyawa layaknya orang bodoh."


"Apa katamu?!"


"Tapi dengarkan aku baik-baik. Ada kabar yang mungkin bisa menarik perhatian kalian semua."


"Apa itu penting untuk kami?"


Pria itu menyeringai dalam diam. "Apa kalian pernah dengar berita tentang penyerangan makhluk aneh yang menyerang sekolah?"


"Tentu saja kami dengar, itu hanya serangan The Beast normal pada umumnya, kan?"


"Awalnya aku juga berpikir demikian. Tapi kemudian aku melihat langsung bangkai dari para The Beast yang telah mati itu, mereka adalah jenis yang tidak pernah keluar dari sarangnya ...."


Mereka semua terdiam mendengarkan penjelasan pria itu. Sementara pria itu yang sudah melihat mereka semua sudah serius, kemudian melanjutkan penjelasannya.


"... Dari yang aku lihat, mereka adalah tipe The Beast yang memiliki penglihatan yang buruk, lalu menyerang ketika seseorang masuk ke dalam kawasan sarangnya. Tapi sekarang, mereka dengan anehnya menyerang sekolahan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan sarang mereka. Apa terpikirkan sesuatu oleh kalian kenapa hal ini bisa terjadi?"

__ADS_1


"Ada seseorang yang mengendalikannya?"


Jawaban yang tepat berasal dari mereka memudahkan pria itu untuk melaju ke tahap yang selanjutnya.


"Tepat sekali. Pasti ada seseorang yang mengendalikan makhluk-makhluk tadi untuk menyerang sekolah itu. Tapi aku masih belum mengerti tujuan mereka, oleh karena itu aku mengumpulkan kalian semua malam ini untuk hal itu."


"Dengan kata lain, kau menyuruh kami untuk menyelidiki pelaku yang mengendalikan The Beast tadi sekaligus motifnya?"


"Benar. Lalu aku akan memilih salah satu dari kalian untuk menjalankan tugasnya."


Pria itu kemudian melihat ke sekitar untuk mencari orang yang tepat untuk misi kali ini dan akhirnya menemukannya.


"Nimis ...."


"Hn?"


Pria itu memanggil seorang wanita yang sedang duduk di barisan paling belakang dari yang lainnya. Ia memiliki rambut berwarna ungu terang dengan rambut berantakan yang ia kuncir dengan gaya kuncir kuda. Selain itu, ia juga membawa sebuah Katana yang ia ikat di pinggang sebelah kirinya.


"Aku ingin kau untuk menyelidikinya. Selidiki siapa yang mengendalikan makhluk itu dan juga cari dimana Subject C berada."


"Aku mengerti."


"Tunggu sebentar!"


Saat mereka berdua sudah sepakat, tiba-tiba ada seseorang yang menyelak pembicaraan mereka. Seorang laki-laki dengan rambut putih urakan yang memakai model pakaian jaket dan celana kulit hitam.


"Ada apa, Ardenter?"


"Kenapa kau menyuruhnya untuk melakukan tugas ini? Bukankah tugas seperti ini lebih cocok untuk orang sepertiku?!"


"Apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan?"


"Tugas mengintai seperti itu, lebih baik jika aku yang mengerjakannya. Asal kau memberitahukan padaku lokasi penyelidikannya, maka aku akan dengan cepat menemukan pelakunya."


Pria itu sempat terdiam mendengar pengajuan diri dari orang itu—Ardenter. Dan kemudian ia bertanya pada Nimis soal ini.


"Bagaimana, Nimis? Apa kau bersedia jika tugasmu diambil alih olehnya?"


"Terserah kau saja. Asalkan dia bisa melakukannya dengan baik, maka itu bukan jadi urusanku. Malah aku senang karena tidak perlu turun tangan."


"Baiklah. Kalau begitu aku akan menyerahkan tugas ini kepadamu, Ardenter."


"Lalu dimana tempatnya serangan tersebut terjadi? Di sekolah mana?" tanya Ardenter.


"Anakmu? Hasuki Chifu? Sepertinya ini akan jadi misi yang menarik."


"Aku harus memberitahumu satu hal, Ardenter. Jangan sampai kau menyentuhnya. Karena dia adalah harta yang paling berharga untukku."


Setelah rapat selesai, kelima orang itu kemudian pergi dari ruang pertemuan ini, kecuali Nimis.


Saat ia ingin keluar, tiba-tiba ia ditahan oleh pria itu karena ia masih ingin membicarakan sesuatu. Pria itu kemudian membisikkan sesuatu kepada Nimis yang kemudian disetujui olehnya.


"Baiklah. Jangan lupa untuk memberikanku bayaran lebih untuk hal ini. Karena ini akan sedikit merepotkan."


"Tidak perlu khawatir soal hal seperti itu."


"Apa masih ada lagi? Kalau tidak ada, aku ingin pulang."


"Ngomong-ngomong kalian hanya berlima di sini? Dimana dua orang lainnya?"


"Soal itu aku tidak tahu .... Itu tidak pernah jadi urusanku."


Setelah memberikan jawabannya, Nimis kemudian pergi dari ruangan ini meninggalkan pria itu sendirian di ruang pertemuan.


**


Ardenter pun kemudian memulai penyelidikannya untuk mencari pengendali The Beast yang menyerang Keisatsu School. Tapi sayangnya pencarian yang dilakukan oleh Ardenter, tidak semudah yang ia bayangkan.


Pertama-tama ia mendatangi langsung sekolahan tersebut dan memeriksa apakah ada yang aneh di sana. Semuanya berjalan normal seperti sekolah pada umumnya, rumor tentang pengendali The Beast pun juga tidak ada sama sekali karena tidak ada yang menyadari hal tersebut.


Selama beberapa hari, ia mencoba menunggu murid-murid pulang dari sekolahnya dan mencari ada wajah-wajah yang mencurigakan atau tidak. Tapi semuanya normal, benar-benar normal dan tidak ada yang aneh sama sekali.


Ardenter juga terkadang melihat Hasuki Chifu, anak dari orang yang menyuruhnya melakukan misi ini. Ia pulang bersama dengan teman-temannya dan tidak ada wajah trauma atau apapun yang menimpanya meskipun baru tiga bulan kejadian itu berakhir.


"Jadi dia Hasuki Chifu," gumam Ardenter.


Meskipun begitu ia sama sekali tidak menemukan orang yang mencurigakan di sekitarnya. Semuanya terlihat akrab dan Hasuki Chifu juga berteman baik dengan hampir semua orang di sekolah, yang semakin menyulitkan misi Ardenter.


Karena dirasa penyelidikan biasa tidak menemukan hasil, ia mencoba cara kedua. Yaitu dengan mengenali aura para murid-murid sekolah itu.


Ardenter tahu betul perbedaan antara manusia biasa dengan seorang Exception. Kapasitas mana serta pengendalian auranya juga dapat terasa dengan jelas, setidaknya sebagai sesama Exception tentu saja mereka saling mengenal satu sama lain.

__ADS_1


Seperti biasa ia menunggu ketika murid-murid sudah mulai keluar dari gerbang depan sekolah dan kali ini ia mulai mengidentifikasi aura mereka. Setelah beberapa saat menyaring orang-orang, caranya berhasil ketika ia merasakan aura yang lebih besar dari yang lainnya.


"Itu dia!"


Ardenter kemudian mencoba mengikutinya dan berharap dapat menangkap pemilik aura besar itu. Ia mengikuti dengan melompat dari satu atap ke atap rumah yang lainnya sampai pada akhirnya ia melihat dua murid yang kemudian ia langsung hampiri.


"Akhirnya aku mendapatkanmu."


Ardenter meraih pundak salah satu murid perempuan yang langsung sadar ketika pundaknya disentuh.


"Si-siapa kau?!"


"Kyaaa! Ada orang aneh!"


"Eh? Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba auranya berubah?" gumam Ardenter.


Ardenter kemudian membiarkan dua orang murid perempuan itu pergi sebelum ia di cap sebagai orang aneh ataupun penguntit—meskipun ia sudah dianggap begitu oleh orang-orang disekitar yang melihatnya.


Tapi Ardenter masih merasa bingung karena ia sudah sangat yakin kalau ia sudah menangkap orang yang benar. Tapi setelah memegangnya, auranya berubah menjadi orang biasa.


Meskipun masih dalam keadaan bingung, ia pun memutuskan untuk mengakhiri penyelidikannya pada hari ini. Dan tanpa ia sadari, ada dua orang yang sedang bersembunyi di balik tembok jalanan perumahan ini.


"Herlin, sebenarnya ada apa sih?"


"Jangan berisik."


Herlin kemudian sedikit mengintip ke arah Ardenter yang perlahan berjalan menjauh dari sini dan untuk sementara mereka selamat dan tidak tertangkap oleh Ardenter. Ia kemudian menghela nafas lega bersyukur.


"Nee, Herlin, kenapa kau menempelkan auramu pada murid perempuan itu?" tanya Iraya.


"Iseng saja." Jawab Herlin sambil kembali berjalan pulang.


"Hah?! Alasan macam itu?! Kau pasti sedang menyembunyikan sesuatu, kan?!"


"Tidak ada."


"Bohong! Kau pasti bohong!"


Semenjak hari itu, Ardenter sudah tidak bisa menemukan aura yang ia rasakan pada hari kemarin. Jadi ia memutuskan untuk mengakhiri penyelidikan di daerah sekolah.


Tanpa ia sadari, sebulan lalu kemudian tiga bulan telah berlalu dan Ardenter sudah ditagih tentang hasil misinya. Tentu saja ia masih belum dapat apa-apa yang membuat kepalanya pusing.


Tidak ada cara yang berhasil yang ia lakukan dan ia belum ada kemajuan sama sekali kecuali aura yang ia rasakan waktu itu. Tapi setelah itu, seakan sudah ketahuan oleh targetnya, Ardenter sudah tidak pernah merasakannya lagi.


Ia juga sudah hampir menyelusuri seluruh daerah ini kecuali satu daerah, yaitu area bukit belakang. Meskipun harapannya kecil terhadap tempat ini, tapi ia tetap menyelidikinya karena sudah putus asa.


Degh...


Dan baru beberapa langkah ia masuk ke dalam area bukit belakang, ia merasakan aura besar dan juga aura yang pernah ia rasakan ini.


"Aura ini ...."


Ia langsung berlari mendekat dan menyusuri jalan setapak bukit ini. Lalu kemudian ia menemukan target yang ia cari. Ardenter bersembunyi cukup jauh dan melihat dua orang yang sedang berlatih.


"Aura ini ... Subject C?!"


Ia juga mengenali aura yang berasal dari perempuan berambut pirang. Ardenter berpikir kalau ia adalah pengendali The Beast yang sedang ia cari selama sebulan ini.


Ardenter sudah mendapatkannya dan saat ini ia akan menangkapnya dengan tangannya sendiri. Tapi sebelum itu, ada seseorang yang menahannya keluar dari semak. Dan saat ia menengok ke belakang, ternyata itu adalah orang yang ia kenal.


"Nimis?"


"Apa yang kau rencanakan tadi?"


"Rencanaku? Tentu saja aku akan menangkap mereka berdua. Ini adalah kesempatanku untuk menangkap dua burung dengan satu batu."


"Aku tahu itu. Tapi apa kau tidak ingat sesuatu?"


"Apa itu?"


"Kemungkinan besar mereka berdua berada di bawah perlindungan penguasa kota ini."


"Penguasa kota ini? Maksudmu ...."


"Benar. Yang aku maksud adalah Murasaki Oita. Oleh karena itu kita tidak boleh sembarangan, kita diperintahkan hanya untuk menyelidiki dan mencari tahu bukan untuk bertarung."


Meskipun sedikit kesal, tapi pada akhirnya Ardenter menuruti perintah Nimis dan melaporkan apa yang sudah ia dapatkan saat ini kepada atasan mereka.


Pria itu—Hasuki Nakamura. Setelah kembali ia menginstruksikan Ardenter untuk menunggu mereka sampai dua orang itu berada di tempat yang ramai orang agar mereka sulit bergerak.


Setelah itu, Ardenter terus mengikuti mereka berdua sampai pada saat dan waktu yang tepat. Herlin dan Iraya pergi ke Mall yang tentu saja tempat dengan banyak orang.

__ADS_1


"Aku akan menangkapmu, Subject C! Lihat saja!" ucap Ardenter.


Bersambung


__ADS_2