
"Ayo sekarang kita masuk ke dalam," ucap Herlin.
"Baik!" Kami semua menurut dan masuk melewati gerbang depan stasiun radio ini.
Kami berhasil sampai ke stasiun radio yang jaraknya cukup jauh dari dome. Rencana gila yang diucapkan Herlin entah bagaimana berjalan cukup baik— meskipun banyak juga kejadian-kejadian tidak terduga, sih.
Pagar stasiun radio ini terbuat dari marmer yang dijadikan sebagai pot bagi semak pagar yang biasa dijadikan pagar alami di gedung perkantoran. Lalu ada juga pagar buka tutup dan pos penjaga yang sudah kosong.
Kalau dilihat-lihat, tempat ini tidak benar-benar aman dari serbuan para orang-orang terinfeksi itu. Apalagi mereka sudah menyadari keberadaan kami.
"Mereka menuju kesini!" ucapku.
Aku dan yang lainnya dengan cepat masuk ke dalam pintu kaca utama dan ingin segera menghilangkan jejak agar tidak terlihat oleh mereka. Tapi tiba-tiba Caramel berhenti sebelum sempat masuk ke dalam pintu kaca utama.
"Caramel?! Apa yang kau lakukan?!"
"Mereka tetap akan bisa masuk kalau seperti ini terus," gumam Caramel.
"Apa?!"
Caramel berhenti berlari dan berbalik menghadapi para orang terinfeksi. Ia melangkah dan kemudian berhenti ketika mendekati pos penjaga masuk. Ia lalu mengangkat satu tangannya dan menjentikkan jarinya keras di udara.
Sebuah tembok transparan yang terbuat dari auranya muncul dari dalam tanah berdiri tinggi sekitar tiga meter ke atas lalu menutup dari seluruh penjuru arah sehingga tidak ada celah untuk masuk dari depan.
Kami yang melihatnya hanya terpana dengan apa yang dilakukan Caramel. Ia kemudian menengok ke arah kami dengan senyum percaya diri di wajahnya. "Kalian bisa pergi duluan, aku akan menjaga agar tidak ada yang bisa masuk kesini."
Ini adalah pemandangan yang sama seperti yang ia lakukan saat di dome. Dia memang ahli dalam hal seperti ini, ya? Aku melihat para orang terinfeksi yang dengan beringas melaju dan kemudian terbentur keras karena menabrak dinding transparan itu. Bahkan sampai ada bekas darah saking kerasnya.
"Sebaiknya kau lakukan dengan benar! Ayo kita ke atas!" Herlin berbicara seperti itu dan langsung mengajak yang lainnya masuk ke dalam.
"Aku tidak ingin dengar itu darimu, sialan." Dan Caramel tidak senang mendengarnya. Sepertinya hubungan mereka belum benar-benar akur walaupun sudah lama bersama, ya?
"Aku mengandalkanmu." Aku hanya bisa bilang begitu sebelum kemudian masuk ke dalam. Sementara Caramel tersenyum senang mendengarnya.
Akhirnya kami pun masuk ke dalam meninggalkan Caramel.
Setelah masuk ke dalam, kondisi di sini cukup gelap karena listrik yang sudah tidak berfungsi lagi, jadi kami berusaha mencari pembangkit listrik darurat untuk menyalakan lampu. Selain itu juga, listrik penting karena kita akan memakai alat elektronik di sini. Beruntung aku menemukannya di bagian basement gedung.
Setelah menyala, kami berkumpul lagi untuk menyusun rencana yang akan kami jalankan di sini. "Jadi, apa yang kita incar di sini?" tanya Oukami.
"Ruang penyiaran. Sepertinya ruangan itu berada di lantai paling atas gedung ini."
Ruangan penyiaran. Di ruangan itu nanti kami bisa membuat suara Arisu terdengar sampai ke penjuru kota. Ini benar-benar rencana yang gila tapi kelihatannya berjalan dengan sangat mulus.
"Tapi siapa yang akan mengatur alat-alat di sana? Aku bahkan tidak tahu apa saja yang diperlukan."
"Aku bisa. Dulu aku pernah melihat orang melakukan penyiaran di TV, jadi setidaknya aku tahu dasar menggunakannya."
Orang ini ... sampai sejauh mana sih pengetahuan yang ia miliki. Rasanya seperti tidak ada yang tidak ia ketahui. Entah kenapa aku merasa iri sekaligus heran.
"Kenapa kau malah diam? Ayo ke atas!" teriak Herlin memanggilku.
"Hah ... iya, iya." Aku pun menuruti perintah Herlin. Akhir-akhir ini dimarahi mulu olehnya.
Degh...
"Iraya, awas!" ucap Tetsu dan Cecilia bersamaan padahal aku masih belum tahu apa yang sedang terjadi.
Tapi tiba-tiba aku merasakan firasat buruk. Sensasi kematian secara acak berada di belakangku saat ini. Tubuhku yang merasakannya menjadi lebih sulit digerakkan dan rasa ngeri menjalar di tulang punggungku.
"Awas!"
Teriakan Arisu juga membuatku semakin yakin kalau ini bukan perasaan acak biasa. Benar-benar ada sesuatu yang mengancam nyawaku di belakangku saat ini. Aku dengan susah payah tapi akhirnya berhasil menengok ke belakang.
Sebuah tinju berada hampir tiada jarak di depan wajahku. Aura yang berpusat serta kuat dapat aku rasakan dalam tinju tersebut, membuatku yakin akan satu hal ketika merasakannya.
Aku akan mati.
Braaagkkhh...
Tapi tinjunya tidak mengenaiku langsung, meskipun bekas benturannya mendorongku dan sesuatu yang ada di depanku yang menghalanginya hingga terpental menabrak meja-meja hingga tembus ke dinding gedung.
"Iraya!"
"Oukami!"
Aku kemudian menyadari sesuatu yang menghalangi tinju tersebut. Itu adalah perisai aura buatan Oukami yang tinggal menyisakan setengah akibat pukulan tersebut. "O-Oukami ...?" ucapku ragu dan masih dalam keadaan terkejut.
"Sialan. Aku benar-benar tidak merasakan keberadaannya sampai di detik-detik terakhir." Dia masih mengomel seperti biasa, itu bisa jadi bukti kalau dia tidak apa-apa. "Oi, apa kau masih hidup?" tanya Oukami.
__ADS_1
"Apa-apaan pertanyaanmu itu? Tentu saja aku tidak akan mati semudah itu! Selain itu menyingkir dari depanku, kau berat."
Punggungku menabrak tembok dengan cukup keras sampai punggungku dapat terlihat dari luar. Dan itu sakit— meskipun aku bisa regenerasi, kalau sakit ya tetap sakit. Oukami pun kemudian bangun setelah aku dorong terus, sementara aku membersihkan punggungku yang kotor akibat hancuran dinding.
"Kalian tidak apa-apa?"
Herlin dan Arisu langsung mendekati kami dan memasang kuda-kuda waspada terhadap orang asing di depan kami.
"Ya, lumayan. Selain itu, apa kau kenal dengannya? Dia tiba-tiba menyerang kita," tanyaku.
Aku melihat ke arahnya. Dan sepertinya aku pernah melihatnya. Tubuhnya menjulang tinggi sekitar 2,5 meter dan memiliki rambut hitam lurus sepanjang bahu yang sebagian poni menutupi wajahnya. Dia juga orang yang memiliki otot-otot besar tapi yang aneh hawa keberadaannya sangat tipis.
"Dia kalau tidak salah ... salah satu Assassin di bawah kendali Astaroth," ucap Herlin.
Itu dia! Pantas saja aku sedikit familiar dengannya. Ternyata aku melihatnya saat diikat di reruntuhan gereja waktu itu, dia duduk diam cukup jauh dariku dan aku tidak benar-benar ingat wajahnya. Tapi aku ingat sekali dengan tubuh besarnya.
"Baram ...." Setelah Herlin mengingatkanku, aku jadi ingat dengan namanya. Ia terlihat sedikit terkejut ketika aku menyebut namanya.
"Kau tahu namanya?" tanya Oukami.
"Ya, dulu saat aku diculik, Astaroth pernah memanggil namanya. Makanya aku tahu."
"Diculik?" Arisu dan Oukami bertanya di saat yang bersamaan. Kelihatannya mereka merasa aneh karena aku pernah diculik.
"Lupakan soal itu. Aku dengar kalau dia adalah tipe Exception Physical Strength. Oleh karena itu, hati-hati dengan kecepatan dan kekuatannya," tambah Herlin.
"Physical Strength, ya?" Oukami membuat seringai dan berjalan beberapa langkah dan berhenti tepat di depan kami. "O-Oukami?" Rasanya aku bisa menebak apa yang sedang ada dalam pikirannya lewat ekspresinya, tapi untuk memastikan saja ....
"Sepertinya menarik! Aku yang akan menghadapinya! Kalian bisa pergi duluan."
Tuh kan! Aku tahu dia bodoh, tapi menghadapi Assassin seorang diri itu sama saja dengan bunuh diri. "Aku mengerti." Eh? "Baiklah." Eh?! Herlin dan Arisu setuju begitu saja dengan Oukami.
"Pastikan jangan sampai dia mengganggu kami!" ucap Herlin yang berlari naik ke lift, disusul aku dan juga Arisu.
Aku tidak tahu apa ini keputusan yang baik atau tidak. Tapi ketika pintu lift ingin tertutup, tatapan Baram menatap tajam tepat ke arahku.
Setelah kami bertiga naik lift, Baram dan Oukami melakukan percakapan yang tidak bisa kami dengar.
"Sekarang, apa kau sudah siap bertarung?"
"Mereka tidak akan selamat." Baram tiba-tiba berbicara.
"Karena yang menunggu di atas sana ... ada orang yang lebih kuat dari diriku."
Ucapan Baram membuat bingung Oukami. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud olehnya, tapi untuk saat ini dia akan fokus menghadapi lawan yang ada di depannya.
Tiing...
Pintu lift terbuka dan kami bertiga telah sampai di lantai paling atas. Lampu di ruangan ini cukup gelap karena tidak ada lampu yang menyala di sini, padahal kami sudah menyalakan listrik darurat pada gedung ini.
Tapi remang cahaya biru rembulan yang masuk lewat dinding kaca membantu kami untuk melihat setidaknya sedikit. Kami kemudian berjalan beberapa langkah keluar dari lift.
Dan di saat itulah kami melihatnya.
Seseorang sedang melihat ke arah luar dari dinding kaca gedung. Ia kemudian menengok ke arah kami seolah sudah menunggu kedatangan kami. Suasana mencekam meliputi orang itu, aku bisa merasakannya dari sini kalau ia bukan orang sembarangan.
Seorang laki-laki kira-kira dua tahun di atasku, memiliki rambut yang urakan dan aura yang mengerikan. Mengeluarkan senyuman misterius kepada kami.
**
Caramel PoV
"Hah ...."
Aku menghela nafas. Beberapa menit telah berlalu semenjak Iraya dan yang lainnya masuk ke dalam. Dan di sinilah aku, duduk di emperan tangga marmer pintu masuk sambil memangku tangan.
Tidak ada yang bisa aku lakukan selain menunggu dan mengawasi barrier buatanku. Sebenarnya kenapa aku tiba-tiba mau ditinggal seperti ini, ya? Harusnya kan mereka tidak bisa menembusnya.
"Apa aku masuk saja, ya?"
Tapi aku tidak bisa tenang jika aku harus meninggalkannya. Berbeda cerita ketika aku bersama dengan Bos, aku bisa lebih santai saat itu. Tapi sekarang aku harus berdiri dengan kekuatanku sendiri.
Jadi untuk beberapa waktu, akan aku lalui masa-masa bosan ini dengan berkhayal yang lain. Apa yang akan aku lamunkan ya saat ini? Apa tentang kehidupan dengan Iraya di masa depan, mungkin.
Entah kenapa itu membuatku tertawa geli, tapi di saat bersamaan juga sedih. Tembok yang harus aku lalui untuk khayalan itu terlalu tinggi dan tebal untuk aku tembus, meskipun tembok itu terlalu bodoh sampai tidak menyadari perasaannya sendiri, tapi itu tetap saja itu berdiri sangat kokoh.
"Hah ... merepotkan."
Aku keluar dari lamunanku. Memikirkannya entah kenapa membuatku semakin tidak bersemangat, jadi lebih baik aku hentikan saja. Tubuhku saat ini juga lengket dan banyak darah di pakaianku. Aku mau ini cepat berakhir dan segera mandi.
__ADS_1
Craashh... Craashh...
"Hnm?"
Tepat setelah aku mengakhiri lamunanku, ada suara berisik yang terdengar dari balik kerumunan manusia terinfeksi ini. Cipratan darah juga melambung tinggi ke udara beberapa kali dan perhatian mereka juga sudah tidak lagi tertuju kepadaku.
Hanya ada satu pemikiranku untuk hal itu saat ini. Sepertinya ada orang yang masih selamat. Dan kemungkinan besar, dia adalah seorang Exception. Tidak mungkin orang biasa bisa bertahan melawan kerumunan orang terinfeksi seperti itu.
Setelah beberapa lama pertarungan terjadi dan semakin lama semakin mendekat, akhirnya aku bisa melihat wujudnya. Tidak hanya satu orang, ada lima orang yang semuanya memakai masker untuk menutupi mulutnya.
Salah satu dari mereka kemudian mengelap darah yang ada di barrier buatanku lalu memukulnya dengan keras seperti orang yang panik. "Tolong biarkan kami masuk!"
Aku berdiri dari dudukku. Lalu mendekatinya secara santai— lagipula tidak perlu terburu-buru bagiku. Jarak tempatku duduk dengan barrier sekitar lima meter dan aku berhenti ketika sudah dua meter dari barrier.
"Siapa kalian?"
"Kami adalah Exception dari White Cloud!"
"Benarkah? Bisa tunjukkan identitas kalian?"
Seharusnya mereka memiliki hal seperti kartu identitas bukti kalau mereka adalah anggota White Cloud— sebenarnya ini hanya alasan agar aku membuat mereka lama dan tidak membiarkannya masuk.
Tapi dia dengan cepat menunjukkannya. "Ini! Sekarang biarkan kami masuk!" Ternyata mereka memang punya hal yang seperti itu. Hitoni Tada. Ya, aku tidak peduli dengan namanya, sih. Tapi sekarang kini aku kehabisan ide untuk membiarkan mereka tetap diluar. "Yang lainnya?" Mungkin dia sudah menunjukkannya, tapi empat lainnya masih berjaga dan bertarung melawan orang yang terinfeksi.
"Tidak ada waktu untuk itu!"
"Selalu ada waktu untuk itu. Jika mereka tidak bisa menunjukkannya, kau dan yang lainnya tidak boleh masuk."
"Tch!"
Dia kelihatannya marah. Tapi aku tidak peduli. Orang yang tidak aku kenal benar-benar tidak menarik perhatianku.
Eh?
Bzztt... Swuushh...
Tiba-tiba orang itu menghilang dari hadapanku dan kembali sambil membawa empat kartu identitas milik temannya. Semuanya ia lakukan dalam waktu sekitar lima detik, aku sempat melihat percikan listrik kecil, jadi kelihatannya dia adalah Exception Elemental tipe listrik.
"Apa ini sudah cukup?!"
"...."
Meskipun masih ada keraguan di dalam hatiku, tapi akhirnya aku membiarkan mereka semua masuk ke dalam. Setelah masuk, mereka terlihat kelelahan dan sampai ada yang tiduran di aspal.
"Kita selamat."
"Tadi itu benar-benar hampir sekali."
Aku berbalik badan dan kembali duduk di emperan gedung. "Tidak ada yang boleh mendekat dari gedung ini dari sana. Jika melanggar, kalian akan kena konsekuensinya."
Aku memberi mereka larangan. Exception yang bertahan diluar bisa dikatakan adalah Exception yang kuat, makanya membiarkan mereka masuk ke sini adalah pertimbangan yang beresiko. Tapi sepertinya diriku sudah melunak, semenjak aku masuk Black Rain aku juga sudah merasakannya.
Diriku yang keras dan apatis sebagai Assassin entah kenapa sudah mulai kembali manusiawi. Apa jangan-jangan karena aku merasa lebih rileks berada di sini.
"Ano ...."
"Apa?" Salah satu orang berdiri. Dia adalah orang yang tadi mengetuk barrier-ku. Dia berdiri dari tempatnya tidak bergerak mendekat dan bertanya padaku.
"Apa kau juga Exception dari White Cloud? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya."
"Bukan. Aku berasal dari Black Rain."
Yang lainnya terkejut mendengar hal itu. Tapi dia menenangkannya dan melanjutkan pertanyaannya padaku. "Black Rain itu kalau tidak salah ... organisasi yang berasal dari Kyoto yang dipimpin oleh Murasaki Oita, tapi sekarang dia sudah tewas, apa aku salah?"
"Tidak, memangnya kenapa dengan hal itu?"
"Aku hanya penasaran apa yang kalian lakukan di sini sekarang?" Dia mulai berjalan satu langkah sambil terus bertanya.
"Apa yang Black Rain lakukan di sini bukanlah urusan kalian, aku tidak perlu menjawabnya."
Dia masih terus bertanya hal-hal lainnya dan aku juga hanya menjawab dengan seadanya. Tapi aku lebih tertarik melihat ke belakang kepada empat orang lainnya. Aku menyipitkan mataku agar lebih fokus.
"Apa ada yang salah?" Dia sepertinya sadar kalau aku tidak memperhatikan ucapannya dan menghalangi pandanganku dari teman-temannya.
"Tidak, tidak ada." Aku memalingkan wajahku melihat ke arah lain, tapi mataku melirik ke wajah Hitoni yang masih terlihat bingung.
Sepertinya sesuatu akan terjadi dari sini. Dan untuk sesaat, aku menyesali pilihanku karena telah membiarkan mereka masuk.
Bersambung
__ADS_1