Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 79 : Reuni Teman Lama


__ADS_3

Aku masih terus berbicara dengan Caramel. Berbicara tentang bagaimana caranya ia bisa menemukanku dan yang lainnya. Obrolan kami ternyata berlangsung lumayan lama dan cukup menghabiskan waktu, walaupun aku memang bilang begitu tadi. Tapi ini hanya alasan untuk membuatnya mau membuka segel ini.


Sekarang saatnya mau tidak mau aku harus membuatnya membuka segel ini.


"Jadi apa yang sebenarnya Para Assassin lakukan? Apa kalian hanya melakukan eksperimen-eksperimen pada manusia begitu?"


"Sebenarnya aku juga tidak tahu …."


"Hah?!"


"… Maafkan aku kalau jawabanku tidak memuaskanmu, tapi Bos—Astaroth tidak pernah memberitahukan kepadaku tentang rencana aslinya."


"Kau pasti bercanda," ucapku tidak percaya.


Caramel mengingat kenangannya yang terdahulu saat ia pertama kali direkrut oleh Astaroth. Ia pernah menanyakan sesuatu saat Astaroth sedang sibuk berada di laboratoriumnya. Kira-kira itu sekitar 7 tahun yang lalu.


Ia mengingat bagaimana pertama kali ia bertemu dengan Astaroth.


Malam itu hujan sedang turun sangat deras. Tapi hal itu tidak bisa menghilangkan suara dua orang yang sedang berargumen di sebuah rumah kontrakan kecil yang kotor dan terlihat hampir rubuh.


"Dasar suami tidak berguna! Pulang kerumah bisanya minta makan saja!"


"Aku ini keluar rumah untuk bekerja! Jadi wajar saja aku kelaparan waktu pulang ke rumah. Seharusnya kau sebagai istri menyiapkan makanan bagiku saat aku lelah bekerja!"


"Makan doang bisanya! Kalau tidak ada uang mana bisa makan!"


Di saat kedua suami istri itu sedang ribut sendiri. Dari dalam kamar terlihat seorang gadis kecil yang sedang tiduran meringkuk sambil menutupi telinganya dengan bantal.


Tapi hal itu tidak membantu terlalu banyak karena pintu kamar dan temboknya yang tipis, membuat suara dari luar dengan mudahnya masuk ke dalam. Akhirnya ia pun memutuskan untuk bangun dan keluar dari rumah sambil membawa payung yang terdapat beberapa lubang disana.


"Aku tidak bisa tidur," gumamnya.


Ia terus berjalan di trotoar sambil mencari tempat yang bisa ia tempati untuk tidur sementara waktu. Payung yang berlubang itu seakan tidak bisa menahan terjangan hujan deras malam ini sampai membuat pundak gadis kecil itu—Caramel basah kuyup.


Byuurr…


Tidak berhenti sampai disitu saja, dari jalanan terdapat mobil yang melaju kencang dan melewati genangan air sampai terciprat ke arah Caramel yang membuat tubuhnya basah. Ia sempat terdiam sebentar setelah terkena air cipratan.


"Dingin," ucapnya lemas.


Lalu ia melanjutkan perjalanannya mencari tempat yang ia bisa singgahi untuk sementara waktu. Tapi ia tidak menemukannya, hujan juga tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera reda. Jadi ia berjalan ke arah gang sempit di antara dua bangunan.


Ia duduk di samping bak sampah yang cukup besar. Mencoba menghangatkan dirinya sebisa mungkin meski ia tahu kalau usahanya sia-sia. Ia menjadikan payungnya sebagai pelindung agar tetesan hujan yang sudah jatuh ke tanah tidak terciprat lagi ke arahnya.


"Aku hanya ingin tidur."


Saat ia sudah mulai mengantuk dan matanya mulai berat, tiba-tiba ia melihat kaki seseorang yang berhenti tepat di depannya. Ia kemudian mendongak keatas dan mencoba melihat kaki milik siapa itu.


"Apa kau sendirian, gadis kecil?" tanya laki-laki itu.


"Siapa?"


"Siapa aku itu tidak penting. Apa kau sendirian disini?"


"Ayah dan ibuku ada di rumah, tapi … mereka sedang bertengkar," ucapku pelan.


"Siapa namamu?"


Caramel pun memberitahukan namanya kepada orang itu. Tapi karena derasnya hujan ini, membuat hanya Caramel dan pria itu saja yang mengetahui nama aslinya.


"Kasihan sekali …."


Laki-laki itu kemudian mengulurkan tangannya kepadanya seolah mengajak Caramel pergi ke suatu tempat. Ia tidak tahu tempat seperti apa yang akan aku tempati selanjutnya, tapi ia yakin akan satu hal. Kalau tempat itu akan lebih baik daripada di rumahnya yang dulu.


"… Ikutlah bersamaku, aku akan membawamu ke tempat yang lebih baik daripada sebelumnya."


Tanpa ragu Caramel pun menerima uluran tangannya. Lalu pergi dari rumahnya bersama dengan Astaroth sampai saat ini. Caramel memanggilnya Bos karena ia memang lebih senang dipanggil begitu walaupun ia mengetahui nama aslinya.


Selama bersama Astaroth, ia selalu melihatnya tidur larut malam dan suara-suara berisik selalu terdengar dari luar kamar Caramel yang membuatnya penasaran. Ia kemudian berjalan menuju ke suatu ruangan seperti laboratorium dan menemukan Astaroth disana.


Caramel kemudian menanyakan sesuatu saat Astaroth sedang sibuk berada di laboratoriumnya. Kira-kira itu sekitar 7 tahun yang lalu.


"Bos, apa yang sedang anda lakukan?" tanya Caramel.


"Aku sedang melakukan sesuatu untuk kedamaian dunia. Dan demi tujuanku itu, aku memerlukan semua bahan yang ada disini."


"Semua ini?"


Caramel melihat ke sekeliling ruangan—atau bisa disebut laboratorium ini. Ia melihat beberapa manusia yang sedang berada di dalam tabung air besar seperti dalam kondisi tertidur, lalu ada beberapa bagian anggota tubuh lainnya yang terpisah-pisah ditaruh di dalam toples. Seperti bola mata, tangan, janin bayi, dan lainnya.


"Apa aku juga akan bernasib sama seperti mereka?" tanya Caramel polos.


"Hn? Tentu saja tidak, kau adalah orang yang sudah kuanggap anak sendiri. Kau akan mendapat kursi terdepan untuk melihatku saat meraih kedamaian dunia nanti. Jadi tetaplah bersamaku ya, Caramel?"


"Tapi, namaku bukan …."


"Oh, maafkan aku. Apa kau mau dipanggil dengan nama aslimu?"


Caramel melihat kearah tangan Astaroth yang masih terulur. Ia lalu memikirkannya lagi dan kemudian menggelengkan kepalanya dan langsung menerima uluran tangan Astaroth.


"Tidak apa, nama 'Caramel' itu ... terdengar lebih lucu untukku."


"Kalau begitu, sekarang nama aslimu adalah Caramel, ya?"


"Nn!"


Caramel yang sadar kalau ia sudah terlalu lama melamun memikirkan soal masa lalunya kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali ke masa sekarang lagi.


"Bos memang tidak pernah membicarakan soal tujuannya, tapi aku percaya kalau ia akan melakukannya untuk perdamaian dunia. Setidaknya itu yang ia ucapkan kepadaku," ucap Caramel.


Perdamaian dunia?! Perdamaian dunia matamu! Anak ini benar-benar sudah dicuci otaknya oleh Astaroth itu, bagaimana orang seperti itu bisa dibilang ingin mencapai perdamaian dunia. Untuk sekarang akan aku simpan cacianku kepadanya nanti, aku harus mencari cara agar ia mau melepaskanku. Aku pun mulai bertanya lagi padanya.


"Apa kau baik-baik saja soal itu?" tanyaku.


"Maksudmu?"


"Selama kau bersama dengannya kau tidak pernah tahu tujuan aslinya. Dan bisa jadi ia juga memanfaatkanmu."


"Ehehem … mungkin kau benar. Mungkin ia mengajarkan kekuatan ini kepadaku hanya untuk kepentingannya. Tapi bagiku, itu semua tidak penting …."


Caramel memancarkan sorotan mata sedih saat berbicara tentang hal ini. Meskipun ia membicarakannya sambil tersenyum, tapi ia tetap tidak bisa menyembunyikan nada sedih yang ia keluarkan.


"… Asalkan aku memiliki tempat untuk pulang, itu sudah cukup bagiku. Seseorang yang bisa membuatku merasa berada di rumah, entah siapapun orangnya. Hehe …. Menyedihkan sekali, bukan? Aku …, hanyalah seorang gadis kecil yang kekurangan kasih sayang, kau tahu."


Ia tersenyum padaku seolah yang ia katakan barusan adalah hal yang lucu. Tapi aku yakin kalau Caramel sedang memendam perasaan yang ia sendiri tidak bisa jelaskan saat ini karena senyuman yang ia pancarkan saat ini adalah sebuah senyuman palsu. Lalu aku pun mengatakan sesuatu padanya.


"Hei, Caramel. Dengarkan aku baik-baik.”


"Hn?"


Aku paham yang akan aku katakan selanjutnya bisa dibilang sebuah langkah gila. Tapi aku akan mempertaruhkan hal itu disini.


**


PoV Ririsaka Herlin


Aku menguatkan kuda-kudaku dan memfokuskan pandanganku kearah musuh yang ada di depanku. Orang berjubah itu, anggota baru dari Kelompok Assassin bentukan Astaroth, Delta.


Aku belum pernah menghadapinya sebelumnya, jadi aku tidak tahu seberapa kuat kekuatannya. Tapi yang pasti dia jauh lebih kuat dari pada aku yang sekarang.


"Hati-hati Herlin, Iraya pernah menghadapi dia sebelumnya," ucap Tetsu.


"Iraya …?"


"Ya, kekuatannya adalah Elemental tapi ia juga bisa memperbanyak dirinya menggunakan sejenis clone yang ia buat dengan auranya," jelas Cecilia.


"Jadi maksudmu, dia punya dua kemampuan sekaligus?"


"Ya."

__ADS_1


Dia lebih menyusahkan dari yang aku duga. Kemampuan Elemental-nya saja sudah menyulitkan, ditambah ia bisa menggandakan dirinya sendiri. Sialan.


Aku membuang perasaan gentarku yang muncul sesaat tadi dan mencoba tenang dan memikirkan hasilnya belakangan. Tidak, yang harus aku lakukan adalah menang darinya, tidak ada kata kalah untukku saat ini.


Aku sengaja tidak menyerangnya duluan karena mengikuti instruksi Tetsu pada saat latihan dulu, aku akan menyerangnya saat ia sedang lengah saat sedang menyerangku. Ini memang tidak mudah karena butuh waktu dan perhitungan yang tepat, tapi jika aku bisa memaksimalkan pengetahuan dan pengalamanku. Aku bisa melakukannya.


Tapi saat aku sedang fokus, Cecilia memberitahuku sesuatu yang membuatku terkejut.


"Aku tidak memberitahukan ini pada Iraya, tapi dialah yang membunuh ibunya Iraya."


Mataku melebar ketika mendengarnya. Kata-kata dari Cecilia membuatku merasakan perasaan emosi di dalam diriku. Orang di depanku yang sudah membunuh ibunya Iraya? Sekarang bertambah satu lagi alasanku untuk menang, yaitu membalaskan dendam Iraya.


"Dia mulai bergerak!"


Blaarr…


Tetsu berteriak ketika Delta melakukan pergerakan setelah sekian lama ia diam. Ia membuka telapak tangannya dan menciptakan beberapa bola api berukuran cukup besar yang berotasi di atas telapak tangannya.


Setelah itu ia melemparkan bola-bola api itu tepat ke arahku. Bola api itu hanya terbang lurus dan tidak melakukan pergerakan yang membingungkan. Dan aku pun juga melakukan pergerakan yang sederhana dan mudah, yaitu tidak bergerak sama sekali.


Dan keputusanku cukup tepat. Meskipun bola-bola api itu terasa panas ketika melewatiku, tapi tidak ada satupun darinya yang mengarah tepat ke arahku. Apa jangan-jangan dia sedang mengetesku.


Ia memiringkan kepalanya tanda bingung sekaligus terkejut ketika aku berhasil menghindari serangannya tanpa bergerak sama sekali. Tapi aku tidak menanggapinya dan tetap fokus kepadanya.


"Dia datang lagi!"


Kliink… Kliink… Kliink…


Ratusan jarum es terbentuk di atas kepala Delta saat ia mengarahkan tangannya keatas, lalu mengarahkannya tepat kearahku. Ratusan jarum es itu langsung melesat dan menghujamku bagaikan air hujan.


"Baiklah, ini terlalu cepat!"


Sryiing… Braaakhh…


Aku menebas tanah di bawahku menjadi seukuran tubuhku lalu menginjaknya sehingga ia bisa berdiri dan menjadi perisai dadakan untuk menghalangi serangan jarum esnya. Dan hal itu secara mengejutkan bekerja.


Aku berhasil menahan serangannya tanpa terluka sedikitpun. Saat menjatuhkan pecahan tanah tadi ke bawah, tiba-tiba ia kembali menyerangku dengan kemampuan esnya lagi.


Tapi kali ini ukurannya jauh lebih besar dan lebih pantas disebut duri daripada sebuah jarum. Aku mencoba menggunakan pecahan tanah yang tadi, tapi itu tidak berlangsung lama karena duri itu dapat dengan mudah menembus perisaiku dan membuatku harus melompat ke samping dan perisai tanah itu pun hancur berkeping-keping.


Aku melihat kearahnya lagi, ia masih belum bergerak dari tempatnya berpijak sama sekali. Dan ia juga masih mengangkat tangannya dan beberapa duri es besar juga masih melayang tepat diatas kepalanya.


Aku kembali berdiri dan memasang kuda-kudaku lagi. Serangan barusan terlalu mustahil bagiku untuk kutahan dengan pedangku, jadi lebih baik aku hindari saja.


"Kalau begini terus kita tidak akan bisa menyerangnya balik," ucap Tetsu.


"Aku harus bagaimana?" tanyaku.


"Kita dekati secara perlahan."


"Baiklah."


Karena Delta adalah petarung jarak jauh, tidak ada pilihan lain selain mendekatinya dan menyerangnya dari dekat. Aku kemudian melangkahkan kakiku satu langkah lebih dekat tanpa mengubah kuda-kudaku. Selangkah demi selangkah aku lakukan untuk mendekatinya secara perlahan.


Swuuushh… Triiingg…


Ia sepertinya menyadari rencanaku untuk mendekatinya, jadi ia pun langsung menyerang dengan durinya lagi. Tapi kali ini hanya satu duri per serangan sehingga aku bisa menahannya dengan mudah sambil terus berjalan mendekatinya.


Triiingg… Triiingg… Triiingg…


Duri-duri besar yang ia miliki sudah habis dan kini aku juga semakin mendekatinya. Tapi tiba-tiba langkahku terhenti karena aku mendengar dan merasakan suara getaran tanah yang lumayan besar.


Saat menyadari kalau itu tidak ada di hadapanku, aku dengan cepat menengok ke belakang dan menyadari kalau ada rentetan duri-duri tajam terbuat dari gundukan tanah yang muncul dengan cepat dan banyak mengarah kepadaku dari belakang.


Drrrttt… Drrrttt…


"Tch!"


"Cepat tebas itu!"


Instruksi Tetsu membuatku mengganti kuda-kudaku dan menebasnya dengan posisi horizontal sehingga bagian tajam duri-duri itu pun hilang dan aku langsung lompat ke atasnya.


Aku berdiri di tengah-tengah lautan duri-duri es dan tanah yang mengelilingiku saat ini. Secara teknis, area di sekitar pertarunganku sudah hancur dan hanya menyisakan tanah kosong beserta duri-duri saja. Radiusnya kira-kira hampir mencapai 20 meter.


Drrrtt… Brraaakkhh…


"Di belakangmu! Lalu kiri!"


Serangan tanah tajam lalu menghujamku dari dalam tanah. Aku dengan cepat menebasnya menjadi bagian-bagian kecil, tapi serangan itu tidak berhenti disitu dan pola serangannya juga mengitariku sehingga aku harus menyerangnya sambil selalu waspada terhadap serangan selanjutnya.


Tetsu saat ini sedang sibuk memprediksi serangan selanjutnya lewat indranya yang tajam dan itu sangat membantuku di saat seperti ini.


Tapi meski begitu, saat ini aku hanyalah orang biasa tanpa pelindung aura. Kecepatanku masih belum bisa menandingi kecepatan serangan dari Delta.


Sryiiingg… Sraakk… Sraakk…


"Urgh …!"


Luka tidak bisa kuhindari sama sekali saat ini. Hampir semua bagian gerak tubuhku terluka dan membuat pergerakanku semakin melambat.


Aku pun kemudian menebas salah satu dari tanah yang menerjang kearahku lalu melompat kesana dan menjauh dari tanah-tanah tajam yang menerjang tempatku sebelumnya. Karena tidak ada pijakan yang rata untukku, akhirnya aku memilih untuk berdiri di posisi miring sambil memegangi salah satu tanah itu agar keseimbanganku tetap terjaga.


Aku bersembunyi dari penglihatan Delta sesaat untuk beristirahat sebentar. Tanah-tanah tajam itu menimbul hampir setinggi 4 meter sehingga aku bisa bersembunyi diantaranya dengan baik.


"Kau baik-baik saja, Herlin?" tanya Tetsu.


"Hanya tergores saja."


"Coba kau diam sebentar."


Aku menuruti perkataan Cecilia dan menunggu apa yang akan ia lakukan. Dan kemudian sebuah cahaya hijau mulai bersinar dan menyelimuti tubuhku. Rasanya hangat sehingga membuatku nyaman dan lama kelamaan luka goresanku perlahan menghilang.


"Karena kau tidak terbiasa dengan auraku, aku hanya bisa menyembuhkan sedikit demi sedikit supaya tubuhmu tidak terlalu banyak menerima auraku," jelas Cecilia.


"Tidak apa, ini sudah cukup."


"Jadi sekarang bagaimana rencananya? Kita tidak bisa dengan mudah mendekatinya begitu saja," ucap Cecilia.


"Entahlah, dengan kondisiku yang sekarang, sangat sedikit hal yang bisa kulakukan."


"Herlin, apa kau sedang berbicara dengan Cecilia?" tanya Tetsu.


"Hn? Iya, ada apa Tetsu? Apa kau ingin berbicara dengannya?"


"Apakah dia punya rencana?"


"Sayangnya ia juga tidak terpikirkan sesuatu."


Kami semua berpikir bersama-sama cara apa yang akan kami gunakan untuk melawan Delta saat ini. Beberapa saat telah berlalu dan suasana di tempat lain sangat berisik karena pertarungan yang lainnya masih berlangsung.


Lalu tiba-tiba aku memikirkan sesuatu yang sepertinya bisa aku lakukan untuk setidaknya mendekatinya terlebih dahulu.


"Aku tahu sesuatu."


"Itu dia."


"Aku ada ide!"


Kami bertiga berteriak secara bersamaan. Seakan mendapatkan ide secara bersamaan di dalam kepala kami masing-masing. Lalu aku pun berbicara terlebih dahulu untuk memulai pembicaraan ini.


"Apa kalian juga terpikirkan sesuatu?"


"Ya!" Jawab mereka bersamaan.


"Kalau begitu ayo kita diskusikan."


Kami pun mendiskusikan ide yang kami miliki. Ide milik Tetsu rupanya hampir mirip dengan punyaku sementara ide Cecilia lebih kearah untuk menyokong pergerakanku. Sementara ideku bisa dibilang adalah gabungan dari ide milik Cecilia dan Tetsu.


"Baiklah, semuanya sudah tersusun dengan rapi. Kalian semua siap?"

__ADS_1


"Ayo kita hajar dia!"


"Nn."


Sementara itu Delta yang masih diam saja dan mencari keberadaanku yang sedang bersembunyi saat ini. Ia berdiri tepat diatas salah satu duri tanah yang atasnya tidak tajam sehingga ia bisa berpijak dengan nyaman. Ia sepertinya ingin mencariku tapi terlalu beresiko jika ia bisa diserang tiba-tiba olehku.


Oleh karena itu, aku yang akan menghampirinya.


Aku kemudian muncul dari bawah salah satu itu dan berdiri cukup jauh. Seperti biasanya ia masih terus menjaga jarak denganku. Tapi saat ini berbeda, karena sekarang aku memiliki sebuah rencana.


Aku memasang kuda-kudaku lagi. Kali ini aku sudah siap melesat dengan bantuan aura Cecilia yang berada pada kakiku untuk memperkuat langkahku. Dan aku pun melesat langsung kearahnya.


Swuuushh… Braaakhh… Braaakhh…


Delta langsung mengarahkan tanah tajamnya lagi kearahku dari dua arah berbeda. Aku menghancurkan satu dari tanah itu dan menjadikan satunya lagi sebagai tempatku berpijak dan mendorong diriku untuk melesat lebih cepat lagi menuju ke arah Delta.


Braakkhh…


Tapi Delta tidak tinggal diam. Ia kembali mengarahkan tanah tajamnya dari segala arah mengelilingiku dan mencoba menghentikan pergerakanku. Aku kembali mengganti kuda-kudaku di udara dan menebaskan pedangku secara berputar sehingga aku bisa menembus setidaknya bagian depannya saja.


Braaakhh…


Meskipun aku berhasil lolos dari situ, tapi aku sudah tidak memiliki pijakan lagi untuk mendorong diriku lebih jauh lagi. Saat aku sedang terjatuh ke dalam tanah tajam di bawahku, aku masih sempat melemparkan pedangku kearahnya berharap aku berhasil mengenainya.


Tapi ia dengan mudah menghindarinya dengan hanya memiringkan kepalanya saja. Sementara aku telah jatuh ke bawah. Lalu disaat-saat terakhirku saat aku berada dalam keadaan jatuh, aku meneriakkan sesuatu.


"Maju, Tetsu!"


Delta yang menyadari teriakanku pun dengan cepat kemudian menengok ke belakang. Tapi hal itu telah terlambat, karena Tetsu sudah muncul di belakangnya sambil bersiap-siap untuk menebasnya.


Craaassh…


Tebasan Tetsu tepat mengenai punggung Delta yang membuat jubah bagian belakangnya robek dan darah mengucur dari sana.


Delta sempat sempoyongan sampai hampir saja ia terjatuh ke atas duri-duri tanah buatannya sendiri, tapi ia mengarahkan telapak tangannya ke arah belakang dan mencoba menyemburkan api kepada Tetsu.


Blaaaaaarrr…


Tapi yang ia sedang lawan saat ini adalah Tetsu, kemampuan berpedangnya jauh lebih hebat daripada aku yang sekarang. Ia menebas semburan api itu dengan tebasan vertikal menjadi dua bagian dan terus melaju mendekati Delta.


Tapi Delta masih bisa menghindarinya meskipun luka pada punggungnya cukup dalam. Ia masih dapat dengan lincah bergerak menghindari semua serangan Tetsu.


Kliink… Kliink…


"Akhh …!!"


Saat Tetsu sedang melesat mendekatinya di udara, Delta mengeluarkan serangan dadakan dari telapak tangan kirinya berupa jarum es yang langsung menusuk tepat ke bagian dada dan perut Tetsu. Tanpa jeda, Delta langsung menendang Tetsu menjauh meninggalkan pedangnya yang berputar liar di udara karena lepas dari genggamannya.


Dari bawah, aku yang melihat pedangnya bergerak liar di udara kemudian melompat tinggi dan mengambilnya untuk langsung menebasnya lagi. Tapi sebelum itu aku sempat menendang dagu Delta hingga membuatnya mendongak keatas dan kemudian menebas dadanya secara diagonal.


Buukhh… Craaassh…


Setelah itu aku pun mendorongnya ke sebuah tanah terbuka yang tidak ada tanah-tanah tajamnya dan menodong leher Delta dengan pedang saat ia sedang terbaring.


Aku melihat kearah Tetsu yang tadi terkena serangan dari Delta dan mencoba memastikan keadaannya.


"Tetsu, kau tidak apa-apa?!"


Tetsu yang sedang berbaring langsung bangun saat aku panggil dan mencabut duri-duri es yang ada di tubuhnya. Setelah itu ia memberikan sinyal berupa jempol keatas menandakan kalau ia baik-baik saja.


Aku bernafas lega bersyukur karena Tetsu tidak mengalami luka serius. Lalu aku kembali fokus kepada Delta yang sedang terbaring di depanku.


Ia mencoba bergerak sedikit, tapi aku langsung mendekatkan ujung pedangku sehingga tidak ada jarak antara lehernya dengan pedangku, lehernya bahkan sudah sedikit mengeluarkan darah.


"Jangan bergerak, atau lehermu akan berlubang."


Ia pun berhenti bergerak dan hanya pasrah saja dengan keadaannya saat ini.


"Apa tujuan kalian sebenarnya? Apa kalian mencoba untuk menghancurkan kota ini?"


Tapi Delta tidak bergerak dan tidak menjawab sama sekali. Ia seakan tidak mau menjawab pertanyaan yang diajukan olehku.


"Karena perbuatan kalian, kota ini selalu dalam masalah. Mungkin ini alasan pribadiku, tapi aku akan membalaskan dendam ibunya Iraya. Kau ingat, kan? Orang tak bersalah yang kau bunuh itu?"


Delta seperti biasanya hanya diam saja. Tapi saat mendengar kata 'ibunya Iraya', ia terlihat sedikit tersentak dengan hal itu.


"Ternyata kau ingat. Dan karena perbuatan kalian juga, teman-temanku baruku di sekolah … bahkan Chifu-san juga …."


Aku tidak bisa melupakan hal itu. Ia membakar kelasku sekaligus juga membunuh orang-orang yang ada di dalamnya dan mereka juga membunuh Chifu-san di depan mataku sendiri.


Tanpa sadar, aku jadi terbawa suasana sendiri mengingat hal yang terjadi saat itu sehingga membuatku kehilangan fokus. Aku pun kembali ke kenyataan sekarang dan bersiap untuk menebas kepalanya. Karena sepertinya ia juga tidak mau menjawab pertanyaanku.


"Abadilah di neraka, sialan."


Saat aku ingin menebas kepalanya, tiba-tiba saja ia berbicara kepadaku.


"Ada satu hal yang salah pada ceritamu, Herlin-chan …."


"Ka-Kau …?"


"… Chifu-san yang kau bicarakan itu. Sebenarnya dia belum mati."


"Apa?"


Srrkk… Srrkk…


"Eh—?"


Tiba-tiba tanah yang ada di samping kanan dan kiriku bergerak dan mengunci kedua kaki dan tanganku. Ia kemudian mengarahkan tangan kanannya kearahku dan bersiap untuk membakar wajahku.


"Semoga kau tenang di sana, Herlin-chan."


"Herlin!"


Blaaaaaarrr…


Aku menutup mataku ketika hawa panas mulai terasa di wajahku. Kaki dan tanganku terkunci oleh Delta dan aku juga tidak punya waktu untuk menghindarinya, jadi aku merasa kalau serangan itu sudah pasti mengenaiku.


Tapi tiba-tiba aku merasa terbang. Dan seakan diangkat oleh sesuatu. Alat tubuh gerakku yang tadinya kaku kini terasa lebih bebas dan bisa kugunakan dengan bebas. Apa aku sudah mati? Tapi serangan tadi tidak terasa menyakitkan sama sekali.


Lalu aku pun membuka mataku. Yang pertama kali aku lihat setelah membuka mata adalah wajah seseorang yang matanya sedang waspada memandangi sesuatu. Dengan rambut hijau dan iris mata oranye miliknya membuat tatapannya terlihat lebih tajam. Lalu aku menyadari sesuatu, kalau aku sedang digendong bagaikan seorang putri oleh orang itu.


"I-Iraya …?"


"Yoo, kau bisa berdiri?"


Dia melihatku dengan tatapan lega dan sedikit senyuman yang menenangkan. Aku pun mengangguk pelan tanda aku bisa berdiri dan ia pun menurunkanku dengan hati-hati.


Setelah sedikit reuni itu, aku dan Iraya segera fokus lagi kepada musuh yang berada di depan kami—Delta. Tapi untuk saat ini, aku ingin memastikan sesuatu hal dulu terhadapnya.


"Dia, ya? Hati-hati Herlin, dia bisa mengeluarkan klon dan juga punya tiga kemampuan elemen yang berbeda-beda."


Iraya memperingatkanku soal Delta. Tapi sayangnya aku sudah tahu soal hal itu, jadi aku menghiraukan peringatannya.


"Apa kau masih bisa bertarung, Herlin? Jika tidak, istirahatlah dulu biar aku yang—"


"Tunggu, Iraya. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya."


Aku pun menenangkan Iraya dan kemudian berjalan mendekati Delta. Setelah dirasa cukup dekat, aku pun berbicara padanya.


"Kau … Delta, atau siapapun namamu itu. Bagaimana kau tahu kalau Chifu-san belum mati?"


Aku yakin sekali kalau ia dibunuh di depan mataku oleh Nimis. Tebasan telak kearah lehernya dan juga darah yang bercucuran deras adalah bukti kalau Chifu-san tidak mungkin selamat, tapi orang ini berkata kalau Chifu-san masih hidup.


"Apa kau punya buktinya?" tanyaku.


Ia tidak menjawab pertanyaanku. Yang ia lakukan justru mengarahkan tangannya kearah topengnya lalu membukanya secara perlahan. Dan yang ada di dalam topeng itu membuat mataku dan Iraya melebar.


Kulit wajah yang pucat seperti orang sakit, rambut merah yang di kepang juga sudah hampir kehilangan warnanya, serta bekas luka seperti bentuk sambaran petir di bawah mata kanannya terbentuk sampai ke leher dan mungkin tubuhnya. Orang itu kemudian mengatakan sesuatu.

__ADS_1


"Aku punya buktinya, Herlin-chan. Atau bisa kusebut, Ririsaka Herlin dan Satou Iraya dari Black Rain," ucap Chifu-san.


Bersambung


__ADS_2