Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 139 : Perasaan Arisu


__ADS_3

Aku mendengar ledakan dari bagian rooftop gedung, tapi Herlin-chan dan Satou-kun bilang kalau aku harus menunggu di sini sampai pertarungan mereka selesai.


Argh! Aku tidak punya kesabaran sebesar itu! Terlebih lagi, setelah ledakan dan kilatan silah besar yang terjadi barusan. Aku tidak bisa diam saja. Jadi aku mengabaikan perintah mereka berdua dan naik ke atas tangga.


Dan saat itulah aku melihatnya. Herlin-chan yang terduduk di samping seseorang yang terluka parah dan juga ada dua orang yang berdiri di dekatnya. Apa pertarungannya belum selesai? Bukankah tadi hanya ada satu musuh saja? Apa mereka bala bantuan musuh?


"Ternyata kau memang masih hidup, Herlinia."


Eh? Herlinia? Bukankah nama panjangnya Ririsaka Herlin? Tapi wanita pirang itu memanggilnya dengan sebutan lain. Apa itu bukan nama aslinya?


Tapi itu tidak berlangsung lama. Mereka berdua segera pergi dari sana dan meninggalkan Herlin-chan sendirian. Setelah merasa situasi aman, aku langsung menghampiri Herlin-chan.


"Herlin-chan! Kau tidak apa-apa? Eh?! Lukamu kacau sekali!"


"Aku tidak apa-apa. Tenang saja."


Dia masih bicara seperti itu padahal seluruh tubuhnya luka di mana-mana, aku bahkan tidak bisa menemukan bagian tubuhnya yang tidak terluka. Kaki dan tangannya gemetar, dia harus segera diobati.


"Tidak apa-apa bagaimana?! Ayo kita obati dulu lukamu!"


"Aku masih bisa bergerak. Selain itu, ada sesuatu yang lebih penting yang harus kita lakukan."


Dia mengalihkan pembicaraannya, tapi soal hal penting itu aku rasa kita memang memiliki sesuatu yang lebih penting. Meskipun pertarungan mereka di sini telah selesai, tapi neraka di bawah belum hilang sama sekali.


Aku melihat ke bawah dan pemandangan itu sangat menyesakkan. Orang-orang yang sudah mencapai batasnya dan tergeletak di tanah, benar-benar membuatku merasa tidak berguna. "Aku rasa kau benar," ucapku pelan.


"Sekarang adalah giliranmu, Arisu. Hanya kau satu-satunya yang bisa melakukan ini."


Aku melihat Herlin yang sedang aku papah. Dia mengatakan itu dengan wajah tenang dan aku tahu kalau dia sama sekali tidak bermaksud untuk menghiburku, dia mengatakan apa yang memang harus dikatakan.


"Aku mengerti."


Kemudian aku berbalik dan bermaksud untuk mengantarnya ke ruang rekaman. Tapi aku melihat satu orang lagi yang tergeletak tengkurap di sana.


"Ah, kau di sana. Aku kira kau jatuh ke bawah," ucap Herlin.


Wah. Apa dia tidak kenal dengan yang namanya perasaan? Ucapannya tajam sekali. Dan dia itu kalau tidak salah adalah teman satu organisasinya, Satou Iraya. Tapi jujur, aku tidak melihatnya saat lewat tadi.


"Ara ... ternyata ada orang di sini." Tanpa sadar aku juga berkata kejam padanya.


"Hawa keberadaannya memang tipis, jadi itu bukan salahmu, Arisu." Dan Herlin malah menambahkannya, sepertinya dia memang suka melakukan ini.


"Apa kalian janjian untuk mem-bully ku?" ucapnya pasrah.


Tapi pada akhirnya kami menolongnya dan membantunya berdiri.


Dari yang Herlin-chan jelaskan, sepertinya cahaya terang sebelumnya adalah serangan milik Satou-kun. Itu artinya, dialah orang yang mengalahkan musuh sebelumnya.


Lalu aku juga menyadari sesuatu. Perlahan tapi pasti, Satou-kun bisa berdiri dengan cukup kokoh dan luka luar besar yang ia miliki perlahan menutup secara sendirinya. Apa dia punya kekuatan penyembuhan atau semacamnya?


Tapi semua orang mengabaikan hal itu. Sepertinya itu sudah menjadi hal yang biasa baginya dan kami kembali pada rencana awal.


**


Aku sekarang berdiri di rooftop cukup dekat dengan pinggiran sehingga aku bisa melihat neraka yang sedang terjadi di bawahku. Lalu ada juga Satou-kun yang berdiri cukup jauh di belakang berjaga-jaga jika ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Sementara Herlin-chan berada di ruang rekaman.


"Apa suaraku terdengar?"


Suara Herlin-chan terdengar tepat di telingaku. Itu berarti Headset yang sedang terpasang bekerja dengan baik dan microphone portable di samping mulutku juga demikian.


"Ya, keras dan jelas."


"Kau bisa mulai kapanpun."


"Baiklah."


"Dan satu lagi, Arisu." Saat aku sudah ingin bersiap, tiba-tiba Herlin-chan memotong konsentrasiku. "Ada apa?" tanyaku.


"Keluarkan semua apa yang ingin kau katakan. Semakin besar perasaan pada kata-katamu, semakin efektif juga kata-katamu akan bekerja."


Perasaan pada kata-kataku, ya? Jika aku mengatakannya sekarang, mungkin yang akan aku keluarkan hanyalah ucapan betapa tidak bergunanya diriku. Apa Herlin-chan tidak apa dengan hal itu, ya?


Tapi aku tidak bisa mengatakannya secara langsung padanya. Aku hanya berharap kalau yang aku katakan akan berhasil nantinya. Mereka semua berharap padaku, jadi aku tidak bisa menurunkan ekspektasi mereka. Diharapkan sebuah ekspektasi tinggi adalah bagian menjadi seorang Idol!


"Aku mengerti." Hanya itu jawabanku.


Meskipun aku awalnya tersenyum, tapi saat aku ingin mengucapkan kata pertamaku, senyuman langsung sirna. Berdiri di atas panggung untuk menghibur orang dan berdiri di sini untuk menyelamatkan nyawa orang. Tekanannya benar-benar berbeda.


Aku memejamkan mataku dan menghirup nafas panjang lalu membuangnya. Aku juga menyadari kalau semua layar LED besar yang menempel di gedung mulai menyala dan menampilkan wajahku.


Layar LED, televisi, dan Smartphone. Itu berarti Ayamy-chan dan yang lainnya dapat melihatku, Aoda kemungkinan juga melihatku. Dan bukan hanya mereka, semua orang yang terinfeksi juga bisa mendengarku.


Malam ini tidak sedingin malam biasanya. Hawa panas akibat kebakaran yang menyebar setiap kota dapat terasa bahkan sampai kepadaku yang ada di sini.


Hentikan itu! Hentikan memperhatikan hal-hal yang tak penting!


Fokus. Konsentrasi.


Aku kemudian mengalirkan auraku perlahan menyebar pada bagian kepala sampai tenggorokan. Aku butuh kekuatan di bagian itu untuk memperjelas suaraku dan yang terpenting membuatnya efektif karena auraku.


Setelah semuanya persiapannya selesai, aku membuka mataku perlahan. Tidak ada waktu untuk ragu lagi dan lepaskan semuanya!

__ADS_1


"Semua orang yang terinfeksi sekalian! Aku yakin kalau kalian tidak mengerti dengan apa yang aku katakan saat ini, tapi dengarkanlah sampai akhir!"


Benar. Aku hanya perlu mengeluarkan semua yang terjebak di dalam dadaku saat ini. Tidak ada kebohongan, hanya perasaan yang aku ubah menjadi kata-kata.


Aku bisa melihat perhatian mereka teralihkan dengan cahaya dan suara dari papan LED besar di gedung-gedung itu dan melihat ke sana.


"Namaku Koyomi Arisu. Mungkin kalian sudah mengenalku sebagai Idol nomor satu Jepang dan juga leader dari grup Idol Rainbow Cookies. Tapi aku memiliki suatu rahasia yang tidak kalian ketahui. Aku adalah seorang Exception. Dan aku bergabung dengan organisasi yang melindungi kota Nagoya ini, White Cloud ...."


Keberadaan Exception kini sudah lebih terbuka berkat ulah dari leader Red Flame, Ryuzaki. Dia mengeluarkan kekuatannya di depan kamera yang membuat penyamaran kami selama ini terbuka begitu saja.


Aku tidak tahu apakah itu diperbolehkan atau tidak. Tapi saat aku bertanya kepada Aoda tentang perbuatannya. Dia hanya bilang 'Mau bagaimana lagi.' dengan santainya.


"... Dahulu aku berpikir kalau aku adalah orang paling hebat di dunia ini. Suaraku dapat menghipnotis orang yang mendengarnya! Tarianku bisa menghidupkan semangat orang yang telah mati!"


Saat di sekolah dasar, aku menganggap diriku seorang yang jenius. Aku bisa menyanyikan lagu sulit yang tidak bisa teman-temanku lakukan di sekolah. Aku juga adalah yang paling mahir dalam bermain piano di sekolahku, bahkan aku menang berbagai macam perlombaan alat musik.


Dan soal fisikku, aku tidak kalah dengan anak laki-laki. Aku menang lomba lari dengan mereka, bermain tenis dan badminton juga bukan masalah bagiku. Bahkan semua teman sekelasku bersembunyi di belakangku ketika masuk ke dalam rumah hantu.


Tapi aku menyadari kalau bernyanyi adalah pilihan hidup utamaku.


Tidak ada yang aku takutkan. Tidak ada yang bisa menghentikanku. Sampai banyak orang dari kelas lain mengenalku dan aku menjadi gadis paling populer di sekolah. Para anak laki-laki menyukaiku dan anak perempuan iri padaku. Seolah dunia berputar di sekitarku.


"Sampai ..., aku menyadarinya suatu waktu ...."


Aku melihat di televisi. Anak seumuranku bernyanyi dengan teknik yang sempurna. Semua orang di sana memberinya tepuk tangan yang meriah dan itu membuatku iri.


"... Bahwa aku hanyalah anak kecil naif yang belum tahu seberapa luasnya dunia ini ...."


Aku mencoba menirunya. Tapi anehnya, aku gagal. Aku tidak bisa menirunya. Diriku yang masih polos itu merasakan apa itu kegagalan. Kekecewaan yang aku rasakan saat itu membuatku tidak nafsu makan dan tidak mau keluar kamar. Hal itu benar-benar membuatku tidak memiliki semangat untuk melakukan apapun.


Setelah beberapa hari tidak mau keluar kamar dan menolak sekolah, orang tuaku membawaku ke suatu tempat. Awalnya aku tidak tahu tempat apa itu, tapi setelah aku masuk ke dalam barulah aku sadar kalau itu adalah sebuah konser.


Pada awalnya aku tidak tertarik, tapi saat seorang wanita naik ke atas panggung dan mulai bernyanyi. Di situlah mataku terbuka dan berbinar terkejut.


Dia adalah apa yang orang sebut dengan Idol. Aku tidak tahu kenapa, tapi semua orang melompat kegirangan dan menikmati lagu ini yang membuatku juga mau tidak mau ikut menikmatinya sampai bahkan mengeluarkan air mata.


Teknik bernyanyinya tidak terlalu bagus— bahkan aku yang masih kecil bisa bernyanyi lebih bagus dari itu. Tapi dia bisa membuat semua orang melupakan hal itu dan bernyanyi bersama. Kegembiraan yang ia salurkan lewat gerakan dan suaranya membuatku melupakan kesedihanku.


Dan aku berteriak kepada orang tuaku di dalam riuh pikuk para penonton yang sedang bernyanyi. Kalau aku ingin seperti dia. Aku ingin menjadi Idol!


"... Yang bisa aku lakukan sekarang hanyalah menyanyi dan menghibur orang. Aku masih lemah sebagai seorang Exception dan bahkan tidak bisa membantu teman-temanku dalam pertarungan. Aku masih lemah, sangat lemah!


Tapi meskipun aku lemah, masih ada yang bisa aku lakukan. Aku berdiri di sini dan berbicara dengan kalian semua!"


Meski begitu, masih ada orang yang ingin menerimaku. Teman-temanku di Rainbow Cookies yang sekian lama telah aku bohongi karena tidak memberitahu diriku yang sebenarnya, Ketua Aoda yang tetap menerimaku meskipun aku kesulitan melewati tes masuk White Cloud, dan Oukami yang selalu membuatku tertawa.


Dia bahkan mengajakku ke taman bermain setelah sekian lama tidak ada sesuatu yang benar-benar menghiburku. Berkatnya aku bisa rileks untuk beberapa saat dan kembang api saat tengah malam di atas biang lala saat itu, benar-benar membuatku tergugah. Perasaan gembira yang sama saat aku pertama kali datang ke konser Idol waktu kecil dulu.


Aku menundukkan kepalaku memohon di depan kamera. "... Kumohon sadarlah dan akhiri neraka ini!"


Aku mengeluarkan semua udara di dalam paru-paruku dan berteriak sekeras-kerasnya. Lalu kemudian, muncul sebuah ledakan aura berbentuk bola yang menyebar dan membesar menghempas ke seluruh penjuru kota ini.


Kecepatannya hampir secepat kilat di langit dan bola aura itu membesar dan melebar sembari melewati gedung-gedung, pohon, kendaraan, dan orang-orang yang terinfeksi di kota ini.


Aku bisa melihat aura itu melebar dan menyebar sejauh mataku memandang dan belum hilang ketika itu sudah sangat jauh. Tapi bukan itu fenomena yang membuatku terkejut, kejadian selanjutnya lah yang membuatku sangat terkejut.


Aku dapat melihat dengan jelas dari atas rooftop. Orang-orang yang terinfeksi sebelumnya telah berhenti menjadi agresif dan melihat ke kanan kiri mereka seperti orang yang kebingungan. Aku juga dapat merasakan kalau aura tak mengenakkan keluar dari tubuh mereka masing-masing.


Dan dari masing-masing satu manusia, keluar partikel-partikel cahaya redup berwarna putih yang terbang ke langit dan berkumpul menjadi satu. Langit malam Nagoya bahkan dipenuhi oleh partikel itu dan beberapa detik kemudian setelah partikel terakhir terkumpul, hal itu menghilang, seolah tidak pernah terjadi apa-apa di sana.


Aku jatuh pada kedua lututku setelah kejadian itu. "Aku ...." Akhirnya semuanya selesai. Air mata tanpa sadar keluar dari kedua mataku. "Aku berhasil."


**


Iraya yang melihat dentuman dan bola aura yang melebar dan menyebar itu hanya bisa terdiam dalam keterkejutan. Ia memperhatikan telapak tangan dan tubuhnya. Tidak ada rasa sakit ketika aura itu melewatinya, hanya perasaan sejuk dan nyaman yang ia rasakan.


Sementara Herlin yang melihat dari HP-nya kemudian mematikan rekaman Arisu dan juga HP-nya. Ia melepas headset di telinganya dan duduk bersandar pada kursi putar itu, seolah semua beban yang ia rasakan lepas dari tubuhnya.


Lalu Mushino Aoda yang baru sampai ke kantornya bersama dengan Delta yang ingin ia masukkan ke dalam penjara terdiam sebentar melihat ke langit. Senyuman tidak bisa ia tahan dari mulutnya. "Yap. Tidak ada yang perlu aku khawatirkan," gumamnya.


Pecola, Ayamy, Edna, dan Ria-chan yang menonton dari Dome juga menonton Arisu. Mereka tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan dan rasa syukur mereka karena semuanya telah berhasil.


Ria-chan dan Edna berpelukan satu sama lain. Sementara Pecola dan Ayamy hanya bisa tertawa haru sekaligus tak percaya melihat temannya yang sedang berdiri di atas rooftop.


"Ahaha ...! Ya ampun, apa-apaan dia itu?!"


"Keren banget, oi!"


Dan Oukami masih bersandar meringis kesakitan setelah bertarung dengan Baram. Meskipun begitu, ia tidak bisa menahan senyumnya karena tahu kalau Arisu berhasil menghentikan bencana ini. "Hah ... sepertinya kita semua pulang dengan selamat. Ya kan, Arisu?"


Di bagian lain di Kota Nagoya, tiga orang ingin pergi dari kota ini. Tapi perhatian mereka sempat teralihkan karena aura raksasa yang melewati mereka dengan kecepatan tinggi. Mereka menengok ke belakang ke kota yang akan mereka tinggalkan.


"Sepertinya rencanamu gagal total ya, Paman?" ucap Seana.


"Tidak, itu bukan rencanaku. Lagipula rencana pribadiku sudah tercapai."


"Rencana pribadi?"


"Rencana pribadiku adalah membunuh semua anak buahku di sini. Dan penyerangan tergesa-gesa ini adalah rencana yang sempurna, jadi aku tidak peduli jika mereka berhasil atau gagal. Aku tetap akan pergi dari negara ini dan menyusun rencana baru."


"Hmm ... begitu? Ya aku tidak akan ikut campur, sih. Ayo jalan, Dillon."

__ADS_1


"Baik, Seana-sama!"


Mereka bertiga pun melanjutkan langkahnya untuk pergi dari sini. Pergi dari Jepang.


**


Pada esok harinya, suasana telah kembali menjadi normal. Meskipun masih banyak yang bingung karena sanak keluarga mereka tiba-tiba meninggal dan rumah serta bangunan lainnya hancur tanpa mereka ketahui.


Bahkan polisi tidak bisa berbuat banyak karena mereka juga tidak mengetahui asal usul kejadian ini. Ya tentu saja mereka tidak tahu, bahkan polisi sekalipun juga terinfeksi, jadi mau bertanya pada mereka pun percuma.


Sementara aku sendiri dipanggil ke kantor oleh Aoda untuk melapor. Saat datang ke sini, suasananya menjadi lebih sepi dari biasa dan tidak banyak orang yang ada di sini. Sepertinya kebanyakan orang tewas atau terluka dan berada di rumah sakit sekarang.


Aku mengetuk pintu ruangan Aoda dan setelah dipersilahkan masuk, aku pun masuk ke dalam. "Permisi ...?" Dan di dalam, aku menemukan kalau bukan hanya aku dan Aoda yang ada di ruangan itu.


"Oh? Akhirnya yang ditunggu-tunggu telah datang. Kerja bagus, Arisu."


"Yo."


Orang yang menyapaku dengan 'Yo' itu kalau tidak salah adalah pemimpin dari Black Rain. Herlin-chan memanggilnya dengan sebutan Ishikawa-san tapi aku tidak tahu nama panjangnya— meskipun ada di berkas pendaftaran bodyguard tapi aku tidak membacanya dengan teliti. Maafkan aku.


"Jadi kau ingin mendengarkan laporanku, kan?"


"Yap. Aku sibuk bertarung dengan seseorang kemarin, jadi aku tidak bisa membantumu."


"Kau bertarung? Apa musuhmu mati?"


"Tidak, dia sekarang ada di penjara. Aku bisa menginterogasinya nanti, tapi aku ingin dengar dari yang ada di tempat kejadian dulu."


Dengan kata lain aku. "Hah ... baiklah, aku akan menjelaskannya. Tapi ini akan jadi cerita yang panjang."


"Tenang saja, aku punya banyak waktu."


Aku pun menceritakannya dari awal sampai akhir. Tentang apa yang terjadi di Dome, awal mula orang-orang mulai berubah, penjelasan dari salah satu anggota Black Rain, lalu di stasiun radio, dan yang terakhir saat aku berbicara di depan semua orang. Semuanya, tidak ada yang terlewat. Aku bercerita hampir satu jam lamanya dan membuat mulutku pegal.


"... Jadi begitu ceritanya."


"Ini ulah para Assassin, ya? Aku sudah bisa menebaknya, sih. Tapi aku tidak menyangka kalau serangannya akan jadi sebesar ini," ucap Aoda.


Dia melihat ke arahku lagi setelah berbicara sendiri. "Apa teman-temanmu baik-baik saja? Biasanya kau akan sangat marah dan marah-marah ke setiap orang yang lewat jika temanmu terluka," ucap Aoda.


"A-aku tidak selalu begitu!"


Wajahku memerah karena dia mengatakan hal yang memalukan di depan orang lain. Tapi aku menghela nafasku dan kemarahanku perlahan mereda.


"Mereka tidak apa-apa. Aku bersyukur karena mereka baik-baik saja." Aku tersenyum memberitahunya. Karena aku memang benar-benar lega karena setelah semua itu, aku tidak kehilangan orang-orang yang aku sayangi.


"Begitu, ya?" Aoda juga terlihat senang.


"Ngomong-ngomong, ketua Black Rain rumornya sudah bukan Oita lagi, ya? Apa itu benar?" Aku bertanya pada Ishikawa.


"Ya begitulah, dia meninggal setelah menyelamatkan kota dari serangan Astaroth. Lalu aku secara kebetulan menggantikannya. Bukan karena aku kuat atau semacamnya— aku bahkan lebih lemah dari beberapa anggota Black Rain lainnya. Aku terpilih karena anggotanya kebanyakan masih muda ...."


Jadi itu cerita dibalik dia bisa menjadi ketua. Pantas saja aku tidak merasa kalau dia ini spesial atau bagaimana.


"... Tapi meski begitu, aku tetap bertanggung jawab dengan organisasi ini. Meskipun kekuatanku biasa saja, tapi aku akan menjaga anak-anak luar biasa itu sampai ke tingkat mereka dapat bertahan hidup seorang diri."


Tapi aku merasa kalau dia bisa diandalkan. Aku rasa Herlin-chan, Satou-kun dan yang lainnya beruntung karena memiliki pemimpin pengganti seperti dirinya.


"Ketua! Ketua! Apa anda di sini?!"


Dari luar, tiba-tiba ada seseorang yang berteriak-teriak memanggil nama Aoda. Suara orang itu terdengar tidak asing bagiku dan aku pun tahu siapa yang akan membuka pintu ini sebentar lagi.


Seseorang membuka pintu, dan sesuai dugaanku yang muncul adalah Oukami. "Ah! Disitu rupanya. Eh ...?" Tapi dia terdiam ketika melihat aku juga ada di sini.


Kondisinya berantakan dan banyak perban membalutnya dari kepala, tubuh, tangan, sampai kaki. Bahkan untuk berjalan pun dia kesulitan. Apa yang dia pikirkan, sih?


"Oukami, bukankah sudah aku bilang untuk istirahat dulu di rumah sakit?"


"Tadinya aku ingin melapor padamu sekaligus menanyakan kondisi Arisu. Tapi ternyata dia ada di sini."


"Aku senang kau selamat, Oukami."


Wajahnya sedikit memerah dan gelagatnya jadi gelisah ketika aku berbicara seperti itu. Tapi ia masih berusaha bersikap biasa saja dan tersenyum sebelum berbicara. "Aku kembali, Arisu."


"Ekhem ... kau tahu, jika ingin bermesraan, di sini bukan tempat yang tepat." Tapi Aoda menghancurkan momen itu dengan sangat mudah.


"Kami tidak bermesraan!" ucapku dan Oukami bersamaan.


"Jadi, apa yang ingin kau laporkan?"


Benar-benar tidak punya perasaan, Aoda sialan. Tapi kami juga tidak bisa melawannya karena sepertinya Oukami membawa laporan penting lainnya.


"Aku langsung saja .... Astaroth masih hidup."


"??!!"


Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut mendengar laporan Oukami. Batu ganjalan raksasa yang seharusnya sudah dikalahkan oleh Oita dengan mempertaruhkan nyawanya, ternyata masih hidup.


"Apa kau yakin soal itu ...?" tanya Aoda memastikan lagi.


"Ya, aku sangat yakin."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2