Crisis World XX

Crisis World XX
Special Chapter : Liburan! (2)


__ADS_3

Keberuntungan kami—atau bisa dibilang keberuntungan Anna-san yang berhasil memenangkan undian ke Asamogawa Onsen membawa berkah bagi kami semua.


Anna-san bilang kalau ia ingin mengajak kami semua untuk ikut bersamanya dalam liburan ini dan tentu saja kami tidak akan menolaknya. Aku, Herlin, Anna-san, Kudou, dan Hira yang sudah pasti akan ikut.


Karena pemenangnya bisa mengajak sampai 10 orang sekaligus maka aku pun mengajak anggota Black Rain yang lainnya untuk ikut dan mereka tanpa basa-basi langsung mengiyakannya.


Dan liburan dadakan kami pun segera dimulai.


**


Saat ini aku sedang menunggu di depan rumahku. Sambil melihat ke arah jam tangan karena sudah menunggu cukup lama. Pagi yang terik ini membuatku jadi tidak sabar untuk cepat-cepat sampai ke Onsen.


"Kenapa dia lama sekali, sih? Padahal sudah kubilang tidak usah banyak bawa barang," gerutuku.


"Maaf menunggu lama."


"Ah, itu dia."


Akhirnya setelah aku tunggu-tunggu, Caramel keluar juga dari dalam rumahku. Ia membawa tas ransel yang terlihat kempes dan seperti tidak ada barang yang dibawa di dalamnya. Tapi dia lama sekali dari tadi.


"Lama sekali, tahu."


"Ahaha ... maaf, maaf, aku menyiapkan ini dari tadi."


Ia memperlihatkan kepadaku sesuatu yang tidak biasa dan juga aneh. Sebuah sendok yang diikat dengan menggunakan tali dan membuatnya seperti sebuah kalung.


"Apa-apaan ini?"


"Coba kau perhatikan lebih dekat lagi."


Aku mengikuti instruksi Caramel meskipun awalnya sempat curiga. Aku pun mendekatkan wajahku pada sendok itu dan terkejut saat tiba-tiba suara terdengar dari dalamnya.


"Iraya!"


"Ap—?! Te-Tetsu?!"


"Tentu saja! Caramel bilang kalau kau ingin pergi ke tempat yang menyenangkan, jadi aku juga ingin ikut denganmu. Tapi dia bilang pedang tidak boleh dibawa kesana, jadi ini sebagai penggantinya!" jelas Tetsu.


Dan suara yang berada di dalam kalung sendok itu adalah Tetsu. Jadi ini yang mereka lakukan makanya lama di dalam, aneh-aneh saja. Tapi dengan begini Tetsu juga bisa ikut dan secara teknis kita masih membawa 10 orang.


"Kau lupa denganku?"


"Oh iya, ada kau juga."


"Kenapa kedengarannya seperti aku ini pengganggu bagimu?" tanya Cecilia.


"Tidak, hanya perasaanmu saja."


Daripada akan menjadi lebih panjang lagi, aku lebih baik mengalah dan tidak membiarkannya mengganggu liburan ini. Tapi tiba-tiba Caramel memberikan kalung sendok itu kepadaku.


"Ini pakai."


"Kenapa harus aku?"


"Habisnya aku sudah punya yang lain dan aku juga tidak ingin melepaskannya."


Caramel melihat ke arah kalung yang ada di lehernya dan memegangnya dengan erat. Karena aku tahu darimana asalnya kalung itu, aku jadi tidak ingin memaksanya lebih jauh lagi dan akhirnya aku yang memakai kalung sendok ini.


"Ehehe ... terlihat cocok untukmu," ucap Caramel.


"Kau menghinaku, kah? Hah ... sudahlah, ayo kita berangkat."


"Ayo!"


Kami pun berangkat menuju ke Himawari Orphanage karena janji akan berkumpul di sana. Dan saat sampai di sana, semuanya sudah berkumpul dan kami berdua yang paling terlambat datangnya.


"Lambat!" ucap Herlin.


"Maaf, maaf, perlu waktu lebih lama dari yang aku kira."


"Kan sudah aku bilang tidak perlu bawa banyak barang."


"Itu sudah tidak penting lagi, kan? Sekarang ayo kita berangkat," ucap Ishikawa-san.


Tapi saat ingin berangkat. Aku melihat ada sesuatu yang ganjil, tidak ada mobil Ishikawa-san yang biasanya kami pakai ketika ingin bepergian jauh.


"Eh? Mobilnya?" tanyaku bingung.


"Hm? Tidak ada, kita pergi naik kereta."


"Kau tidak lihat jumlah kita? Satu mobil tidak akan cukup untuk membawa kita semua," ucap Herlin.


"Ya, benar juga sih."


Akhirnya kami pun berangkat. Meskipun tidak naik mobil, tapi perjalanan tetap terasa menyenangkan. Biasanya aku tidur saat perjalanan, kali ini aku sama sekali tidak bisa tidur karena terus bercanda dengan Kudou dan Hira.


Setelah sejam perjalanan naik kereta dan ditambah dengan sedikit berjalan, akhirnya kami sampai juga di tempatnya. Asamogawa Onsen.


"Jadi ini tempatnya?"


"Selamat datang."


Saat baru sampai, kami langsung disambut oleh dua wanita berpakaian kimono khas jepang dan dengan ramahnya membawakan barang-barang kami.


"Apa anda semua adalah pemenang undian itu?" tanya salah satu wanita kimono tadi.


"Ya benar, dia yang memenangkannya. Dan dari yang aku dengar kalau pemenangnya bisa membawa sembilan orang bersamanya, kan?" ucap Ishikawa-san sambil menunjuk ke arah Anna-san.


"Itu benar. Silahkan masuk dan silahkan nikmati keindahan Asamogawa Onsen."


"Asyik! Sudah lama aku tidak ke onsen," ucap Kudou sambil masuk ke dalam dengan semangat.


Aku juga menyusul Kudou yang sudah masuk ke dalam duluan. Tapi tiba-tiba Herlin menarik lengan bajuku dan menghentikan langkahku.


"A-Ada apa, Herlin?"


"Apa kau pernah ke onsen sebelumnya?"


"Ya, tapi itu sudah lama sekali. Kalau kau sendiri bagaimana?"


"Aku belum pernah sama sekali. Oita-san tidak pernah mengajakku ke tempat seperti ini."


"Itu karena kau tidak memintanya, kan?"


"Itu ... benar, sih."


Aku tersenyum melihat tingkahnya, lagi-lagi dia bertingkah seperti gadis kecil yang kikuk dan tidak tahu harus melakukan apa. Aku pun kemudian menggenggam tangan Herlin yang tadinya menarik lengan bajuku.


"Kalau begitu ini akan jadi pengalaman pertamamu. Pastikan kau menikmatinya, ya!"


"Ya, aku coba sebisaku."


Kami berdua pun masuk ke dalam bersama. Tapi tanpa aku sadari, ternyata Caramel memperhatikan kami berdua dari belakang dan melihat kami yang sudah masuk ke dalam. Ia kemudian menggumam sendiri yang sepertinya tidak ia sadari keluar dari mulutnya.


"Tidak ada kesempatan sama sekali, ya?"


"Kau juga berpikir begitu?"


"Eh?"


Gumaman Caramel barusan ternyata terlalu besar dan dapat di dengar oleh Mei-senpai.


"Jika melihat mereka, kau pasti berpikir tidak ada celah yang dapat ditembus, kan?"


"Kurasa kau benar, mereka hanya tinggal membuka mata untuk melihat faktanya. Tapi mereka memilih untuk tidak melakukannya dan hanya meraba permukaannya saja, itu yang membuatku berpikir kalau aku memiliki sebuah kesempatan. Tapi ternyata aku salah. Mereka itu ...."


Caramel memilih untuk tidak melanjutkan perkataannya dan lebih memilih untuk masuk ke dalam onsen dan diikuti oleh Mei-senpai.


Di dalamnya benar-benar luar biasa. Aku, Kudou, dan Hira yang baru masuk melihat pemandangan yang asri nan hijau, selain itu juga ada kaca jendela besar yang mengarah langsung ke arah pantai sehingga pemandangannya semakin indah lagi.


Keseimbangan antara teknologi modern dan tradisional sangat terasa di sini karena di satu sisi mereka masih mempertahankan lantai tatami dan pintu geser khas rumah tradisional Jepang. Tapi di satu sisi lain juga ada bangunan yang modern dan terlihat canggih.


"Aku kira diluar sudah bagus, ternyata di dalamnya lebih bagus lagi," ucapku kagum.


"Benar." Kudou dan Hira membalas berbarengan.


"Silahkan lewat sini, anda akan kami antar ke kamar. Kamar laki-laki dan perempuan akan di pisah, yang laki-laki bisa mengikuti staff kami yang ada di sana."


Kami melihat ke arah dua orang staff laki-laki yang menundukkan kepalanya ramah kepada kami sambil membawa tas kami.


"Lalu bagi yang perempuan bisa ikut dengan kami kesini."


Akhirnya laki-laki dan perempuan berpisah untuk segera menuju ke kamarnya masing-masing. Tapi di pihak perempuan, saat Herlin dan yang lainnya sedang ingin berjalan menuju ke kamar kami, perhatiannya tertuju pada satu ruangan bernuansa khas tradisional Jepang lengkap dengan pintu geser dari kayunya.


Ia merasakan ada perasaan aneh dari dalam sana dan bertanya pada staff perempuan tadi.


"Permisi, ini ruangan apa, ya?"


"Itu dulunya adalah ruangan resepsionis, tapi sekarang sudah tidak terpakai dan beralih fungsi jadi gudang. Konon katanya dari tamu-tamu yang datang kesini, mereka sering melihat penampakan sesosok perempuan dari dalam sana."


"Hiikh!"


Anna-san yang mendengarnya terlihat ketakutan dan bersembunyi di balik tubuh Herlin. Tapi staff itu tersenyum ramah dan menenangkan Anna-san.


"Tenang saja, itu hanya rumor semata. Tapi sayangnya karena rumor itu telah menyebar luas, tempat ini menjadi sepi pengunjung dan membuat kami hampir bangkrut."


"Tidak perlu setakut itu, Anna-chan," ucap Herlin.


"Ma-maaf, a-aku tidak terlalu suka cerita-cerita horor."


"Tapi orang yang menyebarkannya jahat juga, ya? Apalagi itu belum terbukti kebenarannya," ucap Mei-senpai.


"Ya begitulah, tapi beruntung kami bertemu dengan seorang donatur yang dengan baik hati memberikan dananya untuk tempat ini. Ia juga yang menyarankan ide untuk memberikan undian agar pengunjung dapat berlibur gratis di sini."

__ADS_1


"Dan alasannya ...."


"Benar, kami ingin pengunjung itu—dengan kata lain anda semua, untuk membuktikan kalau rumor itu tidak benar," jelas staff wanita itu.


Setelah mendengar cerita singkat itu, Herlin dan yang lainnya lanjut dibawa ke kamar untuk perempuan. Saat sampai di sana, mereka memutuskan untuk mengobrol sebentar.


"Cara yang cukup pintar juga, sih," gumam Mei-senpai.


"Apalagi jika memiliki seorang donatur, cara ini memang yang paling tepat untuk membuktikannya," ucap Nigiyaka-san.


"Tapi aku harap kalau mereka beneran ada sih."


"Ja-jangan dong! Kalau beneran ada, ba-bagaimana nasib kita nanti malam?"


Anna-san yang masih ketakutan mencoba membantah harapan Caramel tentang kebenaran rumor itu.


"Habisnya kalau begini doang bakal bosan, kan?"


"Kan memang begitu harusnya liburan!"


"Ya terserah sih. Tapi aku harap mereka beneran ada, siapa tahu dia akan menangkap dan memakanmu loh, Anna-chan."


"Hiikh! He-Herlin-san, tolong aku."


"Oi, jangan menakuti Anna-chan seperti itu."


Anna-san kembali berlindung di balik tubuh Herlin, sementara Caramel hanya acuh tak acuh saat dimarahi oleh Herlin, ia merasa kalau dirinya hanya bersenang-senang dan sedikit bercanda dengan Anna-san.


"Daripada ini jadi semakin panjang, bagaimana kalau kita berendam? Perjalanan panjang tadi membuat tubuhku jadi lengket," ucap Mei-senpai.


"Benar juga."


"Aku juga ikut."


"Nigiyaka-san bagaimana denganmu?" tanya Mei-senpai.


"Tentu aku ikut."


Mereka semua setuju dan segera berjalan menuju ke pemandiannya. Saat sudah sampai di depan pintu pemandian, mereka bertemu denganku dan laki-laki yang lainnya.


"Oh, Herlin! Kau juga baru masuk?" tanyaku.


"Ya begitulah."


"Oh iya ini sebelum aku lupa."


"Hnm?"


Aku melepaskan kalung sendok yang ada di leherku dan memberikannya kepada Herlin. Ia yang bingung dengan itu tentu saja tidak mau menerimanya.


"Iraya ... aku jadi kasihan denganmu."


"Dengarkan aku dulu!"


"Kau menyuruhku memakai ini? Aku tahu seleramu buruk, tapi aku tidak tahu kalau sampai separah ini."


"Makanya dengarkan aku dulu."


Aku mendekatkan wajahku ke telinga Herlin dan membisikkan sesuatu kepadanya.


"Di sendok ini terdapat Tetsu di dalamnya, dia mau ikut kesini tapi batas orangnya tidak mencukupi. Selain itu pedang juga tidak diperbolehkan di sini, makanya sendok ini jadi alternatifnya."


"Hah ... kenapa kau tidak bilang dari tadi."


"Kau yang tidak mendengarkanku, oi," ucapku datar.


Akhirnya setelah kuberi penjelasan, Herlin pun mau menerima kalung sendok tadi dan setelah itu kami pun masuk ke dalam pemandian masing-masing.


"Aku serahkan padamu, ya."


"Ya."


Di dalam pemandian perempuan saat mereka sedang ingin melepas bajunya dan menggantinya dengan handuk, Herlin berbicara dengan kalung sendok itu.


"Tetsu, kau sudah boleh keluar sekarang."


"Hnm? Okey!"


Syiiing...


Cahaya bersinar terang yang membuat semua orang kecuali Herlin dan Caramel terkejut serta waspada. Tapi kewaspadaan mereka berkurang saat melihat sosok anak kecil yang terlihat ceria—Tetsu.


"Siapa kau?!" ucap Nigiyaka-san.


"Tenang saja, dia salah satu Spirit yang dimiliki oleh Iraya. Dia tidak berbahaya sama sekali."


"Spirit? Dia memiliki Spirit lain?"


"Ekspresimu dapat dimaklumi karena aku juga sama denganmu saat pertama kali mengetahui hal itu," ucap Caramel.


"Sangat sulit terwujud? Ya, memang begitu harusnya. Tapi dia bisa melakukannya," ucap Herlin.


"Memangnya sesulit itu, ya?" tanya Mei-senpai.


"Biasanya jika sang pemilik sudah memiliki satu Spirit dan jika ia ingin memiliki Spirit lain, maka Spirit pertama akan merasa cemburu dan ingin menunjukkan siapa yang terkuat diantara mereka berdua."


"Tapi bukankah pemiliknya bisa melerai pertikaian itu?"


"Itu bisa saja, tapi tetap rasa cemburu itu tidak bisa dihilangkan dengan mudah dan bisa menjadi bumerang bagi pemiliknya. Salah satu Spirit bisa jadi membangkang dan bisa menjadi pertarungan hidup dan mati melawan pemiliknya."


"Heh ... mengerikan juga."


"Benarkah? Tapi Cecilia tidak pernah bersikap seperti itu padaku," ucap Tetsu heran.


"Entahlah, kasus Subject C itu memang unik dan tidak bisa dibandingkan dengan yang lainnya. Karena bagaimanapun dia itu adalah sebuah Spirit yang tercipta dari ratusan ribu Spirit lainnya."


"Tapi untuk sekarang itu tidak penting, kan? Kita kesini bukan untuk membahas soal Spirit," ucap Herlin.


"Kau benar, maaf karena jadi serius begini pembicaraannya. Seharusnya kita bersenang-senang di dalam pemandian saat ini."


"Tidak apa, pengetahuanku tentang Spirit jadi bertambah sedikit," ucap Mei-senpai.


Setelah perbincangan singkat itu dan melepas pakaian mereka, mereka kemudian masuk ke dalam pemandian.


Kembali ke pihak pria, aku dan yang lainnya sudah duluan masuk ke pemandian dan bersantai di sana. Setelah masuk ke dalam air, rasanya seluruh tubuhku kembali sehat dan tidak ada lagi rasa pegal seperti sebelumnya.


Aku kemudian menyenderkan kepalaku ke pinggiran kolam untuk lebih bersantai lagi.


"Hah ... aku tidak menyangka kalau akan semenyegarkan ini. Aku rasa aku harus lebih sering ke pemandian."


"Hah ... benar sekali."


Kami semua menutup mata dan ingin lebih lama berkonsentrasi menikmati pemandian ini lebih baik lagi. Tapi tiba-tiba aku menyadari sesuatu, seseorang masuk ke dalam air dan duduk di sebelahku. Saat aku membuka mata, aku sadar kalau dia adalah Akihito-san.


Beberapa lama aku memperhatikannya yang sedang diam, dia kemudian memandangku balik.


"Apa ada masalah?"


"Ekh?! Ti-tidak ada!"


Tapi pemandangan seperti ini tentunya agak aneh. Beberapa saat lalu kami ingin saling membunuh satu sama lain, tapi sekarang kami malah satu pemandian di kolam yang sama.


"Akihito-san."


"Hn?"


"Setelah masuk kesini kau jadi lebih diam dari biasanya. Biasanya kau ...."


Aku membayangkan diri Akihito-san saat dia masih menjadi bawahan Astaroth. Dirinya selalu berteriak-teriak dan marah-marah tidak jelas, pokoknya selalu membuat telinga siapa saja orang yang mendengarnya sakit.


"Aku tidak selalu seperti itu!"


"Ya ampun ... sebenarnya saat itu aku ingin mencari hiburan dan tantangan baru dengan bergabung bersama kalian, tapi sesuatu yang tak terduga malah terjadi."


"Kematian Oita-san, kan?"


"Ya. Murasaki Oita sudah tidak ada, lalu Astaroth juga sudah kalian bunuh. Sekarang anggota Assassin terbagi menjadi dua kelompok, tiga orang bergabung bersama kalian dan empat lainnya aku tidak tahu keberadaannya di mana," lanjut Akihito-san.


"Heh ..., begitu ya. Lalu apa kau menyesal bergabung dengan kami?"


"Aku tidak tahu. Tapi yang membuatku yakin adalah sesuatu yang ada di dalam tubuhmu saat ini."


"Kau menunggu kejutan lain yang diberikan oleh Subject C, kan?" sela Ishikawa-san yang masuk ke dalam pembicaraan kami.


"Setidaknya itu yang Nigiyaka inginkan, dan dia juga yakin kalau bergabung dengan Black Rain adalah keputusan terbaik. Setidaknya untuk saat ini."


Mungkin dia bergabung kesini karena memiliki alasannya sendiri. Tapi untuk organisasi kecil ini, bergabungnya tiga orang kuat adalah berkat yang sangat baik. Selain itu juga, aku tidak tahu peristiwa besar apa lagi yang akan menunggu kami kedepannya setelah ini.


Tapi untuk sekarang, akan aku nikmati sebisa mungkin. Lagipula Cecilia juga bilang kalau aku harus sebisa mungkin menghilangkan sifat pesimisku.


"Oh iya ngomong-ngomong, kau dan Nigiyaka-san. Kalian itu kekasih, ya?"


Pletaank...


Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi tiba-tiba kepalaku sudah terdapat benjol besar sekali.


"Aduuh ...."


"Bicara seperti itu sekali lagi dan aku akan membunuhmu."


"Aku kan cuma tanya."


"Pertanyaanmu menyebalkan. Aku dan dia hanya seorang partner biasa, tidak ada perasaan sama sekali. Kami itu seorang Assassin, perasaan tidak diperbolehkan di dalamnya."

__ADS_1


"Membosankan sekali hidup sebagai seorang Assassin," ucapku.


"Memang begitu seharusnya. Ketajaman kami akan melemah jika melibatkan perasaan di dalamnya, itu yang selalu aku dan Nigiyaka tekankan sejak kami bergabung dengan Assassin."


"Kalau aku sih tidak mau hidup seperti itu, hidup tanpa perasaan itu bukanlah kehidupan sebenarnya. Apa kau tidak pernah berpikir untuk berhenti menjadi seorang Assassin?"


"Berhenti ...."


Sebuah jeda diam dan tatapan kosong yang dipancarkan oleh Akihito-san membuktikan kalau ia sedang membayangkan sesuatu di dalam kepalanya. Tapi ia langsung menghilangkannya dan menjawab pertanyaanku.


"... Tidak, tidak pernah sedikitpun."


"Entah kenapa aku bisa merasakan kebohongan disitu."


"Mau kupukul lagi?"


"Ekh?! Kau ini tidak bisa santai sedikit, ya. Aku kan—"


Byuuurrr...


"Kyaaa! Tetsu! Jangan berenang di pemandian air panas."


Kami semua melihat ke arah pembatas yang terbuat dari bambu itu dan sedikit terciprat air dari bagian pemandian perempuan. Suara Mei-senpai dan Anna-san yang sedang mengomel dan juga suara Tetsu yang ceria.


"Ramai sekali ya di sana," ucap Hira.


"Asalkan mereka bersenang-senang, biarkan saja," ucap Ishikawa-san.


Sementara di kolam bagian perempuan, Mei-senpai sedang mengejar Tetsu yang berenang dengan cerianya di pemandian air panas.


"Ahahaha .... Coba tangkap aku kalau bisa!"


"Ya ampun, nanti airnya kemana-mana!"


"Hehehe ... tidak kena, tidak kena!"


"Anak satu ini, apa kau memang seliar ini saat di rumah Iraya?"


Saat Mei-senpai dan Tetsu sedang sibuk kejar-kejaran, yang lainnya masih bersantai di pinggir kolam dan tidak ingin waktu berharganya terganggu oleh kejadian kecil seperti itu.


Byuurr... Byuurr...


Nigiyaka-san, Herlin, Caramel, dan Anna-san memejamkan matanya menikmati hidup damai yang sesaat ini. Tapi saat mereka sedang bersantai, ada saja cipratan air akibat kejar-kejaran Mei-senpai dan Tetsu yang terkena wajah mereka.


"Tidak bisa tenang sekali," gumam Nigiyaka-san.


"A-asal mereka bersenang-senang, kurasa tidak apa-apa."


Sementara Caramel dan Herlin tidak menunjukkan tanda-tanda terganggu dengan suara berisik itu dan masih memejamkan matanya. Anna-san yang melihat itu pun kemudian mencoba bertanya pada Nigiyaka-san meskipun ia masih sedikit takut.


"Ano ... Nigiyaka-san."


"Hmm? Ada apa?"


"Ka-kau ini seorang Assassin, kan? Apa yang membuatmu tertarik menjadi seorang Assassin?"


"Hnm ...? Apa itu ada hubungannya denganmu?"


"Be-benar juga, ya! I-itu tidak ada hubungannya denganku! Ahahaha ...."


Nigiyaka-san semakin bingung dengan reaksi takut sekaligus panik dari Anna-san, tapi Herlin kemudian membuka mata dan menjelaskannya kepada Nigiyaka-san.


"Anna-chan itu dia suka mengumpulkan biodata seseorang."


"Biodata?"


"Awalnya aku juga tidak terlalu mengerti. Tapi menurutnya itu adalah hal yang menyenangkan mengetahui sesuatu yang baru dari seseorang. Benar kan, Anna-chan?"


Anna-san mengangguk malu dengan wajah yang merah.


"Itu berarti ... kau seorang pengumpul informasi? Apa kau pernah bekerja sama dengan Assassin? Profesi itu cukup terkenal di dunia bawah."


"Ti-tidak! Aku sama sekali tidak tahu kalau Assassin itu asli sampai bertemu dengan kalian, makanya aku sedikit penasaran. Dan untuk mengumpulkan biodata ini, ini hanyalah hobiku semata."


Anna-san mengucapkannya dengan suara yang kecil dan menundukkan pandangannya. Terlihat sekali kalau belum ada perkembangan signifikan dari sifat malunya.


"Hobi yang menarik, Anna-chan. Tapi aku sarankan hati-hati saja," sela Caramel.


"Ha-hati-hati?"


"Nn, informasi itu berharga. Semakin banyak yang kau tahu, semakin berbahaya kehidupanmu. Setidaknya itulah hukum yang ada di kehidupan seorang pengumpul informasi dan Assassin."


"Semakin banyak yang aku tahu ... semakin berbahaya hidupku?" gumam Anna-san.


"Jangan menakutinya begitu," ucap Herlin.


"Hah ... kalau kau hanya ingin tahu soal itu sih, kurasa tidak apa-apa," ucap Nigiyaka-san.


"Benarkah?! Te-terima kasih banyak!" ucap Anna-san.


"Kau langsung semangat begitu, ya? Ya terserah lah. Pada awalnya aku sama seperti kalian, hanya seorang anak kecil biasa. Tidak ada yang istimewa di kehidupanku dan tidak ada hal menyenangkan juga saat aku kecil. Tapi semuanya berubah karena satu hal ...."


"Satu hal?"


"Rumahku kebakaran dan aku terjebak di dalamnya. Saat itu aku sedang tertidur dan tidak tahu kalau kebakaran terjadi di dalam rumahku. Saat aku sadar, asap sudah memenuhi kamarku dan membuatku kesulitan bernafas.


Saat itu aku masih kelas 1 SMP. Aku mencoba untuk tidak panik dan melawan rasa takutku dengan berusaha menerobos api. Tapi semuanya sia-sia, kebakaran itu telah merobohkan sebagian kerangka rumahku dan menutup jalan keluarku.


Saat aku sudah pasrah, tiba-tiba aku bisa melihat sebuah tangan yang mencoba meraihku dan menarikku keluar. Itu adalah tangan ayahku, ia berusaha menarikku keluar tapi salah satu balok kayu yang terbakar menimpa tangannya dan membuatnya terlepas dari genggamanku.


Tapi mereka masih belum menyerah, dengan bantuan ibuku, kedua orang tuaku menerobos balok-balok kayu yang terbakar itu dan bersama-sama melemparku keluar agar aku bisa selamat. Meskipun aku selamat, tapi kedua orang tuaku tidak. Pemadam kebakaran datang terlambat dan mereka berdua sudah mati duluan di dalam sana."


"I-itu ...." Anna-san merasa bersalah karena sepertinya sudah menginjak ranjau darat.


"Ada apa? Bukankah kau sendiri yang ingin mengetahuinya?"


"Ta-tapi, jika kau ingin menghentikannya aku juga tidak keberatan."


"Tidak apa-apa, lagipula aku sudah tidak terlalu memikirkannya. Boleh kulanjutkan ceritanya?"


"Nn ...."


"Setelah kejadian itu, aku dibawa oleh seseorang menuju ke kantor polisi. Saat itu aku tidak menangis atau merengek, aku hanya memikirkan apa yang akan terjadi pada diriku kedepannya. Setelah memikirkannya dengan matang, aku memutuskan untuk kabur dari kantor polisi saat mereka sedang lengah. Saat itu aku berpikir kalau tidak ada orang lain yang bisa mengurusku kecuali orang tuaku.


Setelah kabur tanpa arah dan tujuan, aku memutuskan untuk beristirahat sebentar di sebuah gedung tua yang sudah tidak terpakai. Aku pikir aku bisa beristirahat dengan tenang sampai aku mrndengar sebuah suara keributan ramai anak kecil di lantai dua gedung itu.


Aku mencoba memeriksanya dan melihat kalau ada seorang anak seumuranku yang sedang dikelilingi oleh sekitar tujuh anak SMA dengan wajah yang mengerikan. Aku ingin segera membantunya tapi malah terkejut saat ia bisa mengatasi semuanya sendirian."


Nigiyaka-san masih mengingat betul kejadian itu di dalam kepalanya.


Buugh... Buugh... Buugh...


"A-ampuni kami ...."


"Maafkan kami, kami berjanji tidak akan berurusan denganmu lagi."


Kumpulan anak SMA yang sudah babak belur itu meminta ampun kepada seorang bocah SMP yang bahkan tidak lebih tinggi dari mereka semua. Bocah itu menarik kerah salah satu anak SMA tadi dan berbicara dari dekat dengannya.


"Pergi dari sini, atau aku akan membunuh kalian sekarang juga."


"Hiikh ...! Lari semuanya!"


Mereka semua pun kabur dan berlari turun dari lantai dua gedung kosong itu. Sementara bocah SMP tadi kembali duduk di sebuah sofa bekas yang ada di sana. Ia meminum jus kaleng yang ia dapatkan dari anak SMA yang mengeroyoknya tadi.


Tapi belum selesai ia menghabiskan minumannya tadi, ia langsung melemparkannya ke salah satu jalan turun yang tidak dilewati anak SMA tadi.


"Mau sampai kapan kau terus sembunyi di sana?"


Nigiyaka-san pun keluar dan menunjukkan dirinya.


"Anak perempuan? Apa yang kau lakukan di sini? Pergi dari sini sekarang, ini bukan tempat untukmu bermain."


Nigiyaka-san tidak menjawab perintah dari bocah SMP itu. Ia malah mendekati dan menghampiri bocah SMP berambut putih itu.


"Hn? Apa yang kau inginkan?"


Kembali ke masa sekarang di pemandian air panas. Saat Nigiyaka-san sedang bercerita, semuanya terdiam dan mendengarkan dengan seksama.


"Laki-laki itu ..., jangan bilang kalau dia Akihito-san?" tanya Anna-san.


"Ya, itu pertemuan pertamaku dengannya. Lalu setelah kami bertemu, dimulailah perjalanan kami menjadi seorang Assassin."


"Heh ... sungguh cerita cinta yang mengharukan," ucap Caramel.


"Hah? Kau mengejekku?"


"Tidak, kenapa kau mengartikannya begitu?"


"Karena semua yang keluar dari mulutmu adalah sebuah kebohongan."


"Tahu apa kau soal diriku, Nimis?"


Suasana menjadi tegang dan pertengkaran hampir terjadi antara Nigiyaka-san dan Caramel. Tapi dengan cepat yang lainnya memisahkan mereka.


"Tcih! Aku membencimu," ucap Nigiyaka-san.


"Sama~" balas Caramel.


"Sudah, sudah, tidak baik bertengkar saat kita sedang liburan. Nanti waktu yang kita punya akan terbuang sia-sia," ucap Mei-senpai melerai mereka.


"Be-benar tuh." Anna-san mengiyakan meskipun sedikit ketakutan.


Tapi meskipun mereka bertengkar, pertengkaran itu tidak berlangsung terlalu lama dan semuanya kembali seperti semula lagi walaupun Nigiyaka-san dan Caramel masih enggan untuk berbicara satu sama lain.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2