Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 62 : Setelah Misi Selesai


__ADS_3

Satu hari telah berlalu semenjak keberhasilan menjalankan misi menghancurkan Heiwa Pharmacy. Para polisi dan pemadam kebakaran datang ketika kami semua telah pergi dari sana, meninggalkan bangkai bangunan gosong yang sudah hampir rubuh.


Sementara orang-orang yang bekerja di Heiwa Pharmacy hampir semua peneliti yang teridentifikasi tewas, ada yang hanya tersisa beberapa bagian tubuhnya saja, dan ada juga yang dinyatakan hilang.


Para penjaga hanya mengalami cedera ringan dan pingsan saat kejadian berlangsung. Aku memang sengaja hanya menyerang bagian-bagian alat gerak tubuh mereka saja, jadi harusnya nyawa mereka tidak terancam.


Dan para polisi juga menemukan kerangka serta tubuh yang belum teridentifikasi dari jenis apa. Polisi mengidentifikasi kalau mereka adalah manusia dengan kelainan yang tidak biasa dan mengamankan bangkai-bangkai yang masih cukup baik untuk diteliti.


Reporter TV yang ingin mewawancarai para polisi yang telah menyelidiki sumber ledakan dari Heiwa Pharmacy belum bisa mengkonfirmasi apapun karena belum ada cukupnya bukti. Hal itu membuat para warganet heran dan mengatakan dalam cuitannya di media sosial kalau polisi tidak becus dalam bekerja dan berbagai kata-kata hinaan lainnya.


Ada juga warganet lain yang curiga kalau ini kalau polisi sengaja menyembunyikan hal ini karena ada temuan yang mereka tidak ingin perlihatkan ke publik. Berbagai konspirasi dan dugaan terus mengalir dari para warganet yang tidak mengerti apa-apa dan hanya bisa berspekulasi saja.


**


"HARU-SAAAAN …!!!"


"Ahh …?! Jangan pergi!! Eh?"


Aku terbangun di atas tempat tidur rumah sakit. Tubuhku dipenuhi perban sampai ke kepalaku, layaknya mumi. Aku juga belum bisa menggerakkan tubuhku dengan bebas.


"Jangan teriak-teriak, ini di rumah sakit."


Aku melihat seseorang yang sedang duduk di samping tempat tidurku. Orang itu sedang mengupas apel menjadi beberapa bagian kecil agar mudah untuk dimakan dan menaruhnya di atas piring.


"Herlin …?"


"Kau pingsan setelah tos dengan aku dan Senpai, kau ingat?"


"Be-Benarkah? Hnm …?"


Aku mencoba mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Kalau tidak salah setelah tos itu, pandanganku menjadi kabur dan tubuhku menjadi dingin. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.


"Aku kira kau mati saat itu."


"Kenapa begitu?"


"Saat itu hampir seluruh tubuhmu mengalami luka bakar, darahmu juga tidak bisa dihentikan dengan mudah akibat lukamu yang tidak terhitung banyaknya."


Aku menelan ludah pada kondisi tubuhku yang sampai sebegitu parahnya. Tapi saat ini aku tidak merasa kalau tubuhku terluka separah itu. Apa Cecilia telah menyembuhkan ku?


"Tentu saja, kau tidak bisa apa-apa tanpa aku di sampingku."


Mendengarnya mengatakan hal sombong seperti itu menandakan kalau memang dia yang menyembuhkan ku. Walaupun aku tidak senang, tapi aku tetap berterimakasih kepadanya. Lalu aku mencari ke seluruh ruangan ini tapi tidak menemukan apa yang kucari. Aku pun bertanya kepada Herlin.


"Herlin, apa kau melihat Senpai? Aku tidak melihatnya dari tadi."


"Dia sudah bangun dari tadi, lukanya tidak separah dirimu. Tapi luka di kakinya butuh beberapa jahitan. Dan jika kau mencarinya, sepertinya dia pergi ke atap tadi."


Aku pun berusaha bangun dari tempat tidur. Herlin kemudian memperingatkan ku dan mencoba untuk menghentikan ku bergerak.


"Lukamu cukup parah. Kau masih belum boleh banyak bergerak."


"Adu—!"


"Kau dengar tidak, sih?"


Tapi aku tidak menghiraukannya. Aku terus mencoba bangun dan berjalan keluar dari ruangan itu. Tapi sebelum pergi, aku sempat mengambil beberapa potongan apel yang langsung kumakan dalam satu lahap.


"Dia mau kemana buru-buru seperti itu?"


Meskipun Herlin bingung dengan perilaku ku, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa dan membiarkanku pergi begitu saja.


Sementara itu aku terus berjalan ke arah atap rumah sakit menghampiri Kurobane-senpai. Aku khawatir dengan kondisinya, apalagi setelah kejadian itu. Saat ia tidak bisa menyelamatkan Haru-san.


Saat sampai di atap, aku melihat Kurobane-senpai yang sedang diam dan melihat kearah jalan. Angin disini cukup kencang sehingga membuat rambut Senpai terkibar hebat. Ia memakai baju hijau pasien rumah sakit. Sepertinya ia juga dirawat inap disini. Aku pun mencoba memanggil Senpai.


"Senpai!"


"Ahh—! …. Apa-apaan penampilanmu itu?"


Kurobane-senpai heran dengan penampilan ku yang penuh dengan perban dari kepala sampai kaki seperti mumi. Untung saja aku masih memakai baju rumah sakit. Aku pun menghampiri Senpai dan ikut melihat ke arah jalanan di bawah. Lalu aku bertanya kepadanya.


"Senpai, apa kau baik-baik saja?"


"Bukankah aku yang seharusnya bertanya seperti itu padamu?"


"Sudahlah …! Jawab saja pertanyaanku!"


Kurobane-senpai menutup telinganya karena aku yang tidak sengaja berteriak. Lagian dia sedikit membuatku kesal sih.


"Tenang saja, aku baik-baik saja, kok."


"Benarkah?"


"Hn? Memangnya kenapa kau berpikir kalau aku tidak baik-baik saja? Kau yang melindungiku kan waktu itu saat kita dikepung oleh tiga musuh saat itu."


"Memang, sih. Tapi bukan itu maksudku …."


"Hn? Aneh …."


Tatapanku kosong melihat kearah kendaraan yang sedang melintas dan orang-orang yang sedang berjalan di trotoar.


Yang aku khawatirkan tentang Senpai bukan luka fisik atau semacamnya—meskipun itu juga membuatku khawatir, sih. Walaupun begitu ada hal lain yang membuatku lebih khawatir dari itu semua.


"Rasa bersalahnya, kan?"

__ADS_1


Tiba-tiba Cecilia menanggapi pemikiranku. Aku tersenyum kecil karena aku lupa ia bisa membaca pikiranku. Benar, ini tentang rasa bersalahnya. Salah satunya adalah saat ia tidak berhasil menyelamatkan Haru-san. Aku takut Senpai masih membawanya ke masa depan dan di suatu waktu hal itu bisa teringat lagi.


"Nee …!"


"Eh?"


Senpai menyadarkanku dari pemikiran pesimisku terhadapnya. Ia menyadari kalau aku sedang memikirkan sesuatu dari tatapan kosong yang aku pancarkan.


"Apa yang sedang kau pikirkan, sih? Aku masih ada disini loh."


"Ma-Maaf! Aku hanya sedang berpikir saja tadi. Ehehe …."


"Kau mengkhawatirkan ku, ya?"


"Eh? Itu …."


Saat Senpai menatap mataku, aku mengalihkan pandanganku ke arah yang lain. Ia pun kemudian kembali berbicara sesuatu.


"Tuh kan! Aku benar! Kau sedang mengkhawatirkan ku. Apa-apaan itu? Apa kau menyukaiku?"


"Bu-Bukan begitu!"


"Canda deh."


"Ap— Hah … Senpai ini …, jangan menjahiliku terus, dong."


Kurobane-senpai menahan tawanya melihat ekspresiku yang polos dan wajahku yang tiba-tiba memerah karena dijahili olehnya. Sementara aku hanya bisa mengalihkan pandanganku lagi karena malu. Dan juga saat tertawa seperti itu, Senpai terlihat sangat cantik.


Tapi tiba-tiba ia menghentikan tawanya dan sekarang malah menampilkan sebuah tatapan lembut yang ia tujukan kepadaku.


"Aku baik-baik saja, kok. Sungguh. Kau mengkhawatirkan ku karena aku gagal menyelamatkan Haru-san, kan?"


"Ya, itu tidak salah sih …."


"Hah~ kau ini baik sekali, ya."


"A-Aku tidak sebaik yang Senpai pikirkan, kok."


"Kalau begitu, kau ini orang jahat?"


"…. Apa Senpai sedang menguji kesabaranku?"


Ia lagi-lagi tertawa pelan dan kembali melihat kearah bawah. Sementara aku masih memandanginya dengan wajah datar karena sifat jahilnya kepadaku. Setelah jeda hening yang cukup lama sampai tawanya hilang, Kurobane-senpai kemudian mulai berbicara lagi.


"Memang benar, itu tidak bisa hilang saja dari pikiranku. Lagipula aku ini masih manusia yang punya perasaan. Tentu saja aku akan merasa bersalah jika aku gagal dalam sesuatu, apalagi dalam menyelamatkan nyawa seseorang.


Aku kesal, marah, bahkan benci. Aku kesal karena ada orang yang membuatku harus kehilangan orang yang kusayangi. Aku marah dan ingin membalaskan dendamku agar mereka mendapat balasan setimpal dari apa yang mereka perbuat. Dan juga, aku benci kepada diriku sendiri yang tidak cukup kuat untuk melindungi orang yang berharga bagiku.


Semua itu sudah pernah kurasakan dan aku masih terjebak dalam perasaan itu. Tapi …, aku sadar kalau aku tidak bisa seperti ini terus-terusan. Aku mencoba untuk melawan rasa takut itu. Makanya aku bergabung dengan kalian sekarang, kau pasti juga punya alasan sendiri untuk bergabung disini, kan?"


"Ya, begitulah."


"Aku bergabung ke Black Rain ini untuk menghadapi rasa takut dan rasa bersalah yang terus membayangiku. Tapi kemarin … kejadian yang sama kembali terulang. Aku lagi-lagi gagal menyelamatkan seseorang.


Saat itu aku benar-benar sudah kehilangan semangatku untuk hidup dan sudah siap untuk mati. Orang yang gagal menyelamatkan seseorang tidak pantas hidup lagi. Itu menurutku.


Tapi tiba-tiba kau berteriak kearahku. Meneriakkan dengan keras tujuanmu masuk kesini, meminta bantuanku secara egois dan bahkan membuatku mengingat sesuatu yang penting …."


Aku baru menyadarinya sekarang kalau kata-kata yang keluar dari mulutku bisa merubah hidup seseorang.


"… Aku kemudian berpikir sesuatu 'Anak ini mirip denganku, dia juga memiliki tujuan untuk masuk kesini.' dan itu yang membuatku ingin berjuang sekali lagi. 'Jika aku bisa membantunya, apakah aku bisa melihat keberhasilan itu di dalam diriku juga, ya?' Aku berpikir seperti itu. Aku ingin melihatmu berhasil membalaskan dendammu. Karena itu aku sudah memutuskannya kalau aku akan membantumu!"


Aku tersenyum mendengar perkataan Senpai. Aku yang tadinya sempat khawatir dengan keadaannya sepertinya sudah tidak perlu lagi. Dia sudah berubah menjadi lebih kuat sekarang.


"Aku akan bertanya sekali lagi. Apa aku boleh membantumu untuk membalaskan dendammu? Sebagai gantinya, kau juga akan membantuku untuk meraih impianku. Bagaimana?"


Senpai bertanya sekali lagi untuk memastikannya. Padahal jawabannya sudah sangat jelas. Aku pun mengulurkan tanganku dan mengajaknya berjabat tangan.


"Ya! Kalau begitu untuk kedepannya, mohon bantuannya ya, Kurobane-senpai?"


"Hmm …. Ternyata memang benar kalau ada yang terasa janggal."


"Eh? Ada apa?"


"Aku kira kita sudah lebih dekat sekarang. Terlebih lagi, saat itu kau meneriakkan nama depanku tanpa ragu. Apa hal itu masih perlu dijelaskan lagi jika kita sudah lebih dekat?"


"Sa-Saat itu aku …."


Aku mengingat kejadian itu yang membuat wajahku lagi-lagi memerah. Kalau dipikir-pikir, itu benar-benar memalukan. Tapi tidak ada salahnya juga sih untuk memanggilnya seperti itu. Aku pun berdehem membersihkan tenggorokanku dan mengulang kembali kalimatku.


"Ka-Kalau begitu. Untuk kedepannya, mohon bantuannya ya, Mei-senpai?"


"Nn. Aku juga mohon bantuannya ya, Iraya-kun."


Mei-senpai pun menerima uluran tanganku. Tanpa mereka sadari, Herlin lagi-lagi menguping pembicaraan mereka berdua dari tempat yang tidak terlihat.


Ia menggenggam erat Hoodie bagian dadanya. Ia merasakan rasa yang aneh ketika mereka berdua sedang dekat seperti itu. Herlin menggumamkan sesuatu dengan pelan.


"Lagi …, perasaan aneh ini muncul lagi."


**


Pada malam hari di hari yang sama. Astaroth, Caramel, Ardenter, Nimis, serta Delta sedang bersembunyi disebuah rumah yang sedang kosong karena pemiliknya belum pulang. Mereka menghancurkan gembok rumah dan masuk ke dalamnya secara seenaknya.


Delta memakai topeng yang sudah retak tadi dan hanya diperbaiki seadanya sehingga masih terlihat beberapa retakan besar di topengnya. Tapi ia tidak terlalu memperdulikan hal itu. Asalkan wajahnya tertutup, itu sudah lebih dari cukup.

__ADS_1


Keadaan hening yang cukup lama mengelilingi suasana disekitar mereka. Kepala mereka sedang dipenuhi rasa bingung dan marah karena hal yang terjadi kepada mereka kemarin. Mereka masih belum bisa menerima kekalahan telak yang mengakibatkan hilangnya laboratorium dan bahan-bahan eksperimen mereka.


Setelah keheningan yang cukup lama, akhirnya Caramel mencairkan suasana dengan sebuah kata-kata yang ia keluarkan.


"Hah~… Aku tidak menyangka kalau Red Flame ikut dalam penyerangan kali ini."


"Meskipun mereka berada dalam satu wadah yang sama, tapi mereka lebih mementingkan menjaga daerah mereka masing-masing dan sangat jarang mencampuri urusan organisasi lain," ucap Nimis.


"Kali ini kekalahan kita akibat kerja sama dua organisasi itu yang tidak kita antisipasi sama sekali," ucap Astaroth.


"Mereka juga menyerang lebih cepat dari yang kita duga, apalagi menggunakan buruan utama kita sebagai pasukan penyerang utama …, hal itu sangat beresiko."


"Masalahnya adalah mereka mengetahui kalau kita sedang tidak dalam keadaan lengkap. Apakah itu hanya kebetulan? Atau …."


"… Ada pengkhianat diantara kita."


Ardenter melanjutkan kata-kata Astaroth yang membuat mereka semua waspada terhadap satu sama lain. Suasana benar-benar menjadi canggung dan menegangkan akibat kata-kata Ardenter barusan. Tapi Astaroth dengan cepat mencairkan suasana tadi.


"Jika benar ada yang seperti itu, maka aku akan segera menemukannya. Untuk sekarang aku akan menganggap kalau kalian semua dapat kupercaya. Ngomong-ngomong, apa ada yang tau dengan orang baru dari Black Rain yang bersama dengan inang Subject C?"


Mereka memandang satu sama lain, tapi tidak ada yang tau tentang siapa dirinya. Lalu kemudian Astaroth menanyakan kepada Delta dan pandangan semua orang tertuju kepadanya.


"Dan bagaimana denganmu, Delta? Apa kau tau siapa orang itu?"


Delta tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan hanya dengan sebuah anggukan. Melihat itu, yang lainnya terkejut karena dia bisa tau siapa orang baru itu.


"Siapa?!"


"Apa kau bisa memberikan detailnya?!"


Ardenter dan Caramel mendesak Delta untuk memberitahukan mereka secepatnya. Tapi Astaroth memenangkan mereka berdua dan mencoba membiarkan Delta untuk menjawabnya.


Delta terdiam sebentar. Tapi setelah itu ia mengangkat tangannya dan berinisiatif untuk membuka topengnya. Yang lainnya terkejut sekaligus penasaran dengan wajah Delta, tapi Delta hanya membuka sampai kelihatan mulutnya saja dan mulai berbicara.


"Kurobane Mei, dia bersekolah di sekolah yang sama dengan inang Subject C."


Setelah bicara seperti itu, ia kembali menutup wajahnya dengan topeng. Meskipun begitu, yang lainnya dapat melihat kalau terdapat bekas luka yang berbentuk seperti sambaran petir dari bawah mata kanannya sampai ke arah leher.


"Sekarang apa yang akan kau lakukan, Bos?" tanya Caramel.


"Sudah kuputuskan. Kita akan menyerang balik sesegera mungkin."


Caramel yang mendengar hal itu kemudian mengeluarkan seringainya. Nimis dan Ardenter juga bereaksi dengan rencana yang Astaroth berikan.


"Oh iya Delta, kau harusnya lebih sering bersuara. Suaramu cukup manis, tau," goda Caramel.


Kriiieett…


Tiba-tiba suara pintu rumah terbuka terdengar oleh mereka. Sebuah keluarga yang adalah pemilik rumah ini masuk ke dalam rumah. Mereka khawatir karena kondisi kunci pintu rumah yang tidak terkunci, karena takut ada pencuri yang masuk dan mengambil barang-barang mereka.


Tapi mereka dikejutkan dengan rombongan orang tak dikenal yang sedang duduk dengan santainya di meja makan mereka. Sang suami ingin berteriak dan meminta bantuan, tapi tiba-tiba Ardenter dengan cepat melesat kearah si suami.


"Hii …!"


"Mati."


Sebelum Ardenter mengarahkan serangannya kearah si suami. Tiba-tiba ada suara teriakan riang anak kecil yang memanggil keluarganya itu.


"Ayah! Apa yang sedang ayah lakukan? Apa kita kedatangan tamu? Un …?"


Anak kecil itu bingung karena banyak orang yang tidak ia kenal disini. Astaroth pun kemudian berdiri dan memegang pundak Ardenter.


"Hentikan itu, kita pergi dari sini sekarang."


Setelah bicara seperti itu, Ardenter mengurungkan niatnya untuk membunuh si suami dan keluar dari rumah secepatnya diikuti oleh yang lainnya. Si istri memeluk anaknya dengan erat dan sebisa mungkin menjauhkannya dari orang yang tidak mereka kenal itu.


"Heh~ sudah mau pergi? Apa kita tidak bermain dulu?"


Anak perempuan itu dengan polosnya bereaksi kecewa. Melihat itu, Caramel menghentikan langkahnya dan menghampiri anak kecil tadi. Si istri sedikit menjaga jarak dengannya tapi Caramel hanya berjongkok dengan santai agar wajah mereka setara.


"Kami ingin pergi dulu, ya? Bilang pada orangtuamu untuk berterima kasih padamu karena telah datang disaat yang tepat," ucap Caramel dengan senyum ramahnya sambil mengelus-elus kepala anak kecil itu.


Caramel pun langsung keluar dari rumah itu dan menyusul yang lainnya. Diluar rumah mereka kemudian berpisah dan akan bertemu jika rencana mereka akan dijalankan.


Mereka semua berpisah, kecuali Ardenter dan Nimis. Mereka berdua tetap bersama dan tidak pulang. Kemudian Ardenter berbicara kepada Nimis.


"Apa kau yakin dengan hal ini?"


"Entahlah, tapi aku merasa kalau ini bukan jebakan."


"Tch! Terserah kau saja. Kalau begitu ayo kita berangkat sekarang."


"Ya."


**


Mereka berdua pergi ke sebuah tempat yang sudah dijadikan tempat pertemuan. Setelah sampai, mereka berdua masuk dan membuka pintunya. Tapi lonceng yang ada diatas pintu menandakan kedatangan mereka.


Criing…


Di dalamnya sangat gelap dan hanya ada satu sumber cahaya yang hanya menyinari satu tempat saja dan terdapat seseorang disana. Menunggu dalam diam sambil meminum kopinya. Orang itu menyadari kedatangan Nimis dan Ardenter dan kemudian menyapanya.


"Yo …. Lama juga kalian sampainya."


"Kali ini apa rencanamu, Murasaki Oita?"

__ADS_1


Ketika namanya disebut, orang itu langsung mengeluarkan seringai misterius kepada mereka.


Bersambung


__ADS_2