
"Nigiyaka-san! Akihito-san! Mereka adalah sumber masalahnya! Mereka menyerap energi kita untuk dijadikan sumber energi bagi para boneka itu!"
Teriakan Mei menarik perhatian yang lainnya. Tanpa pikir panjang lagi dan mengabaikan musuh di depan mereka, Nigiyaka dan Akihito langsung melesat cepat menghancurkan pasukan marching band.
Walaupun Lennova berteriak sambil mengarahkan tangannya ke udara, mencoba meraih sesuatu yang tidak mungkin ia gapai dari tempatnya berdiri, tentu saja itu tetap tidak mampu mencegah Nigiyaka dan Akihito menghancurkannya.
Bahkan Ivis yang sudah secepat mungkin dan berharap dapat menjadi tameng hidup untuk menghalang serangan mereka berdua, tapi rencananya digagalkan oleh Mei yang menyerang secara tiba-tiba dari samping dan membuatnya lengah beberapa detik.
Dan kini mereka sudah rata dengan tanah, hanya bongkahan-bongkahan tubuh boneka mereka saja yang masih tersisa berserakan di lantai tribun, bersama dengan alat musik mereka yang hampir tidak berbentuk dan tidak mungkin untuk dimainkan lagi.
Perlahan namun pasti semua orang yang ada di dalam tenda sirkus itu dapat merasakannya. Aura besar nan melimpah yang keluar secara bersamaan dari dalam tubuh boneka pasukan marching band yang hancur menyebar ke seluruh penjuru tenda.
Mei mengangkat tangannya dan mencoba untuk meraih aura serta energi yang beterbangan kesana kemari itu, tapi usahanya sia-sia. Mereka sepertinya di desain khusus hanya untuk mengalir ke sesama boneka buatan Lennova, jadi mustahil untuk mengambil aura miliknya lagi.
Para boneka lainnya juga serentak jatuh ke tanah, para monyet yang sedang bergelantungan di tali-tali atap tenda juga ikut jatuh kehilangan kekuatan genggamannya. Mereka seperti robot yang dicabut baterainya secara bersamaan.
"Kerja bagus."
Nigiyaka menghampiri Mei dan memberinya ucapan selamat untuk kerja keras karena mau dilihat dari mana pun, Mei lah yang menjadi MVP dari pertarungan ini.
"Kau berhasil menemukan titik lemah dari pihak musuh dan dengan tepat mengeksekusinya dengan sangat baik."
"Ya, bahkan aku sendiri tidak menyangka kalau mereka lah yang menjadi masalah utamanya. Aku kira mereka hanya bermain musik terus menerus sampai gendang telinga kita rusak, tapi ternyata dia memang memiliki kegunaan."
"Mereka mengambil energi aura kita secara perlahan yang membuat kita mengira kalau kita kehilangannya karena pertempuran dan di satu sisi, mereka menggunakan itu untuk menyerang balik kita dengan terus menyembuhkan pasukan garis depan. Benar-benar lawan yang merepotkan," lanjut Nigiyaka.
"A-aku hanya melakukan yang aku bisa."
Pujian yang diberikan oleh Nigiyaka dan Akihito membuat pipi Mei memerah. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa malunya walaupun ia memang senang karena telah dipuji oleh mereka berdua.
Mei berpikir kalau dirinya telah selesai karena luka yang ia terima di kepalanya dan akan sangat kesulitan untuk terus melawan mereka, tapi kali ini keberuntungan berada di pihaknya karena ia secara tidak sengaja menemukan titik lemahnya.
Tapi ia tahu dirinya masih lemah. Kemenangannya saat ini murni hanya dari keberuntungannya, selanjutnya ia mungkin tidak akan seberuntung ini. Jadi ia bertekad untuk menjadi lebih kuat lagi sekarang.
Akihito mengusap-usap kepala Mei yang menunduk menyembunyikan wajahnya yang merah. "Ke-kenapa, sih?" Tapi sepertinya Mei tidak terlalu suka dengan hal itu.
"Jangan terlalu meremehkan dirimu sendiri, tanpamu kita tidak akan bisa memenangkan pertarungan ini. Jadi berbanggalah atas hal itu."
"Tapi, aku hanya beruntung saja."
"Keterampilan atau keberuntungan, yang manapun tidak masalah. Asal kau menang dan selamat pada akhirnya, apa arti semua itu, ya, kan?" Akihito tersenyum menghibur Mei, yang membuat pipinya semakin merona, tapi kali ini karena rasa kagum.
"Tidak mungkin ...."
Saat mereka sedang merayakan kemenangan kecil mereka, perhatian mereka teralihkan pada Lennova yang sedang bergumam. Ia berlutut di tanah sambil kedua tangannya menopang tubuhnya agar tidak jatuh.
Matanya masih membelalak tidak percaya padahal ia sudah yakin kalau sedikit lagi akan mengalahkan trio Black Rain, tapi semuanya hancur berkeping-keping ketika Mei berhasil mengetahui rahasianya.
"Bagaimana mungkin ... harusnya aku bisa mengalahkan mereka ...."
"Baiklah, saatnya mengambil hadiah kemenangan kita." Nigiyaka diikuti dua yang lainnya berjalan mendekati Lennova. Ia pun menyadari hal itu dan mengangkat kepalanya.
Akihito mengangkat tubuh kecil Lennova yang sudah lemas dan tidak berdaya dengan memegang kerah bajunya secara kasar. Itu sedikit membuat Lennova kesakitan tapi masih mampu jika hanya untuk berbicara.
"Sekarang kau sudah kalah, Lennova. Ada baiknya kau cepat beritahu kami cara menghentikan kekacauan ini," ucap Nigiyaka.
"Hehehe ... kalah, ya? Apa menurutmu kau sudah menang?"
"Kau sudah tidak memiliki aura tersisa, dan jika kau masih terus memaksakan diri, kau hanya akan membunuh dirimu sendiri. Ivis juga berada dalam pengawasanku, jadi dia tidak akan macam-macam lagi."
"...."
Lennova tidak langsung menjawab pertanyaan Nigiyaka, ia masih berusaha melepaskan tangan Akihito dari kerah lehernya, tapi tangannya yang kecil serta kekuatannya yang hampir sudah tidak ada membuat usahanya sia-sia. Jadi ia menghentikannya.
"Nimis, Ardenter, dan ... siapa namamu?" Bukannya menjawab, Lennova malah memanggil mereka bertiga. "Namaku Mei." Tapi Mei cukup baik hati untuk memberitahukan namanya pada Lennova karena tidak ada ruginya untuk memberitahukan itu kepada musuh yang sekarat.
"Benar, Mei. Apakah pertarungan tadi menyulitkan kalian?"
"Apa?"
"Apa saat bertarung tadi terbesit dalam pikiran kalian kalau kalian akan terbunuh? Atau mungkin kalian akan terpaksa mengorbankan teman kalian hanya agar diri kalian bisa keluar dari sini? Apa kalian punya pikiran seperti itu?"
Lennova mulai berbicara hal yang tidak berhubungan, tapi mereka bertiga hanya mendengarkan saja. Karena pertanyaannya kebetulan dapat di jawab dengan mudah, bahkan Mei pun bisa menjawabnya. Jadi Mei membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Lennova.
"Ya, itu cukup—"
"Tidak, kau tidak memberikan perlawanan yang cukup untuk kami bertiga. Dan kami juga tidak pernah sedikitpun berpikir untuk meninggalkan masing-masing."
Tapi tiba-tiba Nigiyaka memotong ucapan Mei dan ia hanya bisa menatap datar padanya seolah wajahnya mengatakan, 'Serius? Setidaknya biarkan aku bicara, kek'. Tapi perasaan itu hanya bisa Mei pendam sendiri saja saat ini.
"Hehehe ... begitu, ya?" Dengan tawa lemah yang keluar, Lennova menanggapi jawaban Nigiyaka. Lalu kemudian ia melihat ke arah mereka bertiga, tatapan tajam dan seringai dari seseorang yang sudah sekarat entah kenapa membuat bulu kuduk mereka berdiri.
"Kalau begitu, kau akan merasakannya ... saat ini."
"Lennova, jangan!"
Ivis yang baru bangun karena menabrak dinding tenda sirkus berteriak melarang Lennova melakukan apapun yang akan dilakukannya saat ini, seakan membuktikan firasat buruk yang dirasakan oleh trio Black Rain saat ini.
"...?!!"
Tapi semuanya sudah terlambat. Lennova sudah terlanjur menggigit lidahnya sendiri dan darah keluar deras dari dalam mulutnya sampai mengalir ke pakaiannya sendiri dan tangan Akihito yang sedang mengangkat tinggi kerah Lennova.
Trio Black Rain terpatung dan menganga terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Lennova. Dan teriakan Nigiyaka kemudian menyadarkan yang lainnya.
"Menjauh darinya!"
Akihito melepaskan kerah Lennova dan langsung melompat menjauh darinya— Mei dan Nigiyaka juga melakukan hal yang sama. Tapi bukannya Lennova jatuh ke bawah karena gravitasi, kini ia melayang seolah diangkat oleh seseorang yang tak terlihat.
Di sekitar tubuhnya yang sedang melayang terlihat dengan jelas aura kuat berwarna ungu, hijau, kuning gelap yang bercampur sehingga warnanya tidak begitu jelas. Aura itu bergerak secara cepat dan acak.
__ADS_1
Setelah melayang cukup tinggi, aura yang berada di sekitaran tubuh Lennova menyebar ke seluruh tenda sirkus ini dan masuk ke dalam boneka-boneka sirkus yang sudah hancur sebelumnya.
"Apa itu?"
Keadaan menjadi hening sesaat ketika Mei bertanya. Lennova yang sudah tidak dibaluti dengan aura kuat tadi pun kini terjun bebas di udara, beruntung Ivis melesat dengan sigap dan menangkap Lennova sebelum ia menyentuh tanah, menghindarinya dari luka yang lainnya.
"Apa yang membuatmu sampai memaksakan diri seperti ini?" Ivis melihat wajah Lennova yang berantakan. Kini ia sedang tidak sadarkan diri dan darah keluar dari mulut dan hidungnya.
"??!!!"
Suasana hening itu tidak berlangsung lama. Boneka sirkus yang dirasuki aura kuat sebelumnya kini melayang berkumpul ke satu tempat dan berputar-putar sebentar sampai kemudian siapapun yang melihatnya akan cukup pintar untuk tahu kalau boneka itu membentuk sebuah wujud humanoid raksasa.
Wujud humanoid dengan tinggi sekitar dua puluh meter yang tercipta dari boneka-boneka sirkus yang bergabung. Masih dapat terlihat prajurit kartu, kepala gajah, singa, dan monyet-monyet yang berantakan dari segi penempatan tapi masih berbentuk humanoid.
Ada juga beberapa boneka marching band yang ikut menjadi bagian boneka raksasa itu dan meskipun alat musiknya sudah rusak, tapi ajaibnya mereka masih bisa melantunkan sebuah lagu.
A Little Night Music dari Wolfgang Amadeus Mozart.
Lagu itu berkumandang dengan gagahnya dengan tempo yang lebih pelan serta berat membuat suasananya terasa kelam dan menyedihkan seolah hal itu yang akan terjadi jika mereka berurusan dengan boneka raksasa itu.
Tidak berhenti sampai disitu, perlahan tangan raksasa boneka mulai mengayun dan lehernya mulai bisa menengok menandakan kalau itu bisa bergerak. Leher bonekanya menengok, kali ini menengok ke arah Lennova dan Ivis.
"?!!"
"Dia sudah berada diluar kendali Lennova."
Dia menyerang Ivis yang sedang tidak siap, beruntung dia masih bisa menghindarinya dan melompat ke tempat yang aman, yaitu ke tribun dekat dengan rongsokan para boneka yang tidak dirasuki aura kuat sebelumnya. Membuatnya sulit dilihat dari atas dan tersamarkan.
"Dia menyerang tuannya sendiri?!" tanya Mei.
"Sepertinya itu sudah bergerak dengan keinginannya sendiri. Bahkan Lennova sudah tidak punya kendali atas dirinya," jawab Nigiyaka.
"Jadi maksudmu, kita harus melawannya lagi? Ayolah! Beri aku istirahat sedikit!" Mei mengeluh karena dia akan bertarung lagi padahal dia belum istirahat sama sekali.
"Tidak ada waktu untuk mengeluh."
"Bahkan mengeluh pun tidak boleh! Kalian ini kejam sekali, sih!"
"Bukannya aku tidak memperbolehkan, tapi—!"
"?!!"
Sebuah tiang pancang kayu berdiameter lima meter melayang ke arah mereka. Mei yang tadinya mengeluh langsung membelalakkan matanya karena terkejut dengan tiang yang sudah berada satu meter di depan matanya.
"Ni-Nigiyaka-san."
Beruntung Nigiyaka dengan cepat berlari ke depannya dan memotong tiang kayu itu menjadi dua bagian besar, mengubah arahnya dan membuatnya tidak mengenai mereka bertiga.
"Itu yang terjadi jika kau mengeluh."
"Ma-maaf."
Lemparan boneka raksasa tidak berhenti sampai di situ yang membuat mereka harus segera berpindah dari tempatnya berdiri. Lemparan tanpa henti terus dilesatkan oleh boneka raksasa yang membuat mereka bertiga tidak memiliki waktu istirahat.
Saat mereka berlindung di balik boneka yang mati, itu langsung hancur karena lemparan boneka raksasa, bahkan mereka juga tidak aman ketika berlindung di balik tiang pancang yang masih berdiri. Kemanapun mereka pergi, boneka raksasa itu selalu menemukannya karena mereka masih berada di dalam tenda sirkus yang tak memiliki jalan keluar.
"Tch! Persetan dengan kabur seperti ini!"
Akihito menghentikan langkahnya dan fokus pada boneka yang siap menyerangnya. Tapi dia terlebih dahulu melompat tinggi menyerang.
"Akihito-san?!" Mei mempertanyakan hal yang dilakukan ketika dia juga ikut berhenti berlari.
Kuku tajamnya ia tancapkan dan cakar berkali-kali agar boneka raksasa itu hancur, tapi karena tubuhnya terlalu besar dan bahan penyusunnya yang acak membuat serangan Akihito hampir terlihat sia-sia.
Sebaliknya, boneka raksasa itu menghantam Akihito dari samping dan membuatnya terpental jauh dan baru berhenti ketika menabrak dinding tenda, tabrakan mereka menghasilkan retakan di belakang tubuh Akihito membuktikan kekuatan boneka raksasa itu.
Akihito juga menyemburkan darah dari mulutnya dan sorot matanya perlahan memudar dan kesadarannya menghilang.
Boneka raksasa itu justru berhasil menyembuhkan dirinya perlahan tapi pasti. Bagian yang diserang oleh Akihito kembali pulih saat boneka-boneka yang jatuh kembali ke tempatnya untuk mempertahankan bentuk humanoidnya.
"Sial. Aku akan mengomelinya tentang sifat cerobohnya itu nanti," gumam Nigiyaka.
"Lupakan soal itu sekarang! Apa kau punya rencana untuk melawannya?"
"Yang pertama adalah jangan sampai kena serangan secara langsung, jika itu bisa membuat Akihito pingsan dalam satu serangan, maka itu akan buruk untuk kita."
"Lalu?"
Nigiyaka memperhatikan boneka raksasa lebih teliti lagi. Komponen-komponen boneka kecil penyusun tubuh humanoid miliknya memang kembali ke tempatnya semula, tapi ia sadar sesuatu. Kerusakan yang dibuat Akihito masih tertinggal pada boneka-boneka kecilnya.
Nigiyaka kini sudah membulatkan tekadnya. Ia memiliki rencana di dalam kepalanya, tapi ini adalah do or die. "Apa kau masih bisa menyerang?" tanya Nigiyaka.
"Hah? Soal itu ... mungkin?"
"Aku punya rencana, tapi ini benar-benar bergantung padamu. Jika kau gagal, maka kita semua akan mati di sini."
"Kalau aku gagal, semuanya ... akan mati?" Lagi-lagi Mei mendapat beban yang sangat berat. Semua yang berurusan dengannya selalu tentang hidup dan mati seseorang.
Tapi kali ini berbeda. Mei memejamkan matanya dan mengatur nafas untuk membuat dirinya tenang lalu membuka matanya dengan mantap. Tidak ada lagi waktu untuk takut, lagipula dia masih memiliki janji dengan seseorang.
"Aku siap. Apa rencananya?"
Nigiyaka mengangguk dan kemudian memberitahukan detail rencananya kepada Mei. Setelah mendengar rencananya, keraguan kembali muncul di dada Mei tapi itu tidak membuatnya mundur. Ia menampar kedua pipinya sendiri sampai merah agar semua keraguan dalam dirinya menghilang.
"Aku akan berhasil! Tidak akan ada kata gagal untuk ini!"
"Aku serahkan padamu."
Mei berjalan ke depan Nigiyaka untuk mendapat penglihatan yang lebih baik. Ia mengangkat tangannya searah kepalanya dan mengarahkannya pada boneka raksasa.
__ADS_1
Tapi Mei belum bisa mengarahkannya dengan benar. Tangannya gemetar hebat dan nafasnya berat, pikirannya tidak bisa fokus saat ini karena ini adalah saat yang penting. Ia mencoba keras, tapi masih gagal, mencoba lagi tapi gagal lagi. Gemetarnya tidak bisa hilang.
"Hah ... hah ...!"
Saat ia sedang gelisah, tiba-tiba tangan seseorang menggapainya dari belakang. Lebih pudar dari tangan asli dan juga sedikit bercahaya, ia melirik ke sampingnya dan menyadari kalau itu adalah bayangan ayahnya.
"A-ayah?"
"Kau pasti bisa melakukannya. Karena kau adalah anak kebanggaan ayah."
Tangan ayahnya yang pudar dan bercahaya itu seolah menopang tangan Mei yang kini sedang gemetar, membuatnya stabil dan gemetar pada tangannya hilang sepenuhnya. Nafasnya juga sudah kembali normal dan yang tersisa adalah senyum percaya diri di wajahnya.
"Aku bisa."
"Sekarang lakukan, anakku!"
Perputaran angin terjadi di sekitar boneka raksasa itu. Sementara boneka raksasa itu masih sibuk memulihkan dirinya sendiri, perputaran angin yang diciptakan oleh Mei lama kelamaan makin tinggi dan besar, kecepatannya juga bertambah dan sudah setara dengan angin ribut yang biasa terjadi di alam.
Mungkin tingginya masih tidak bisa dibandingkan dengan angin tornado biasanya tapi untuk sekarang, dua puluh lima meter sudah cukup untuk mengurung boneka raksasa dalam angin tornado buatan Mei.
Suasana di dalam tenda sirkus ini juga semakin berantakan karena boneka rongsokan juga ikut terbawa angin tornado, Nigiyaka yang berada di belakangnya hanya bisa menutup matanya dengan lengannya dan mengintip sedikit dari sana.
"Hebat."
Boneka raksasa itu mencoba menerobos keluar. Tapi ketika ia melakukannya, tangannya yang terdiri dari komponen-komponen boneka kecil tidak kuat menahan terjangan angin tornado dan mereka justru terbawa bersama putaran angin tornado.
Boneka itu mungkin tidak bisa berbicara, tapi suara yang dihasilkan oleh instrumen musik di sekujur tubuhnya mengatakan kalau ia sedang berteriak mencoba sekuat tenaga untuk keluar dari sana, permainan musiknya semakin intens dan cepat dan terus semakin cepat.
"Apa ini sudah cukup, Nigiyaka-san?!"
"Ya, kau sudah melakukannya dengan sangat baik."
Nigiyaka kini mengeluarkan pedangnya dari dalam sarungnya. Ia tidak mengganggu Mei yang sedang fokus pada tornado buatannya, tapi ia malah melompat dari satu komponen boneka ke komponen boneka lainnya sampai ia berada dekat sekali dengan angin tornado.
"Sekarang saatnya giliranku."
"Tu-tunggu!"
Mei tidak bisa menghentikan Nigiyaka yang kini sudah hilang dari pandangannya dan masuk ke dalam tornado buatannya. Tapi sebelum masuk, Mei yakin ia sempat melihat bibir Nigiyaka bergerak.
"Hinokami no Chikara : Explosion."
Sebuah ledakan besar tercipta dari dalam tornado yang membuat itu seperti tornado api, membuat Mei menganga terkejut.
Mei kemudian melihat ke sampingnya, ayahnya telah menghilang tapi ia tahu kalau yang sebelumnya hanyalah imajinasinya saja. Senyuman tercipta pada mulut Mei tapi itu tidak berlangsung lama, perlahan tornado buatan Mei menghilang dan kesadarannya juga ikut hilang.
"Aku ... tidak bisa ... mempertahankannya ... lebih lama lagi ...."
Mei jatuh dari atas tribun, beruntung lokasi jatuhnya tidak terlalu jauh dari tanah yang membuat Mei tidak menderita luka serius.
Sementara itu dari dalam tornado, Nigiyaka berdiri di atas rongsokan boneka yang sudah menghitam dan sebagian menjadi abu. Katana miliknya masih mengeluarkan asap atas ledakannya sebelumnya, tapi sepertinya ia tidak terluka sama sekali karena ledakan barusan.
Bersamaan dengan boneka raksasa dikalahkan, tenda sirkus ini juga memudar dan akhirnya hilang secara utuh, meninggalkan atap langit dengan bintang dan bulan purnama yang cerah.
Nigiyaka melihat keadaan Mei dan Akihito, mereka berdua pingsan tapi nyawanya tidak terancam. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk saat ini, yang harus ia lakukan kini adalah satu.
Nigiyaka berjalan ke salah satu rongsokan boneka yang tidak terbakar sempurna dan masih ada bagian yang belum menghitam, ia melempar bagian itu dan menemukan Ivis dan Lennova berada dibaliknya.
Ivis sedang memeluk erat Lennova yang pingsan tapi kondisinya sendiri penuh dengan luka bakar, ia juga sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk bertarung.
"Kau benar-benar mengalahkan kami, Nimis," ucap Ivis.
"Sekarang apa kau akan mewakili Lennova untuk menepati janjinya?"
Ivis melemparkan sesuatu kepada Nigiyaka yang ditangkap dengan sempurna. Setelah dilihat, itu adalah sebuah kartu remi Joker. Meskipun terlihat seperti kartu remi biasa, tapi Nigiyaka dapat merasakan aura Lennova di dalamnya.
"Apa ini bisa menghentikan kekacauan ini?"
"Aku tidak tahu, tapi Lennova bilang kalau orang-orang akan sembuh jika digunakan dengan tepat."
"Bagaimana aku tahu kalau kau tidak berbohong?"
"Hehe ... Lennova hanya seorang bocah yang menyukai game, walau dia benci kalah tapi dia tidak benci untuk mengakuinya, aku yakin kalau kartu itu asli."
"...."
Nigiyaka dan Ivis saling memandang beberapa saat. Dan kemudian Nigiyaka mengangkat Katananya memasang kuda-kuda.
"Kau tetap akan membunuh kami berdua, ya?"
"Ya. Kita berdua Assassin, kau yang paling tahu apa yang akan terjadi selanjutnya."
Ivis sudah tidak punya kekuatan lagi bahkan untuk berdiri, apalagi untuk melawan Nigiyaka saat ini. Jadi yang bisa ia lakukan hanyalah pasrah dan menunggu hidupnya berakhir di tangan Nigiyaka.
"Nee, Ivis, bisa kau sampaikan ini kepada Lennova di alam sana?"
"Jika bisa akan kulakukan dengan senang hati."
Nigiyaka berhenti sekejap. Ia akan mengatakan kata-kata selanjutnya dengan penuh hormat dari dalam hatinya, tidak seperti sebelumnya yang digunakan untuk memprovokasi Lennova. Kata-katanya selanjutnya adalah bentuk penghormatannya pada Lennova dan Ivis.
"Tadi itu pertarungan yang menyulitkan bagiku."
Bibir Ivis terangkat. Hal itu yang memang ingin di dengar oleh Lennova, tapi sayangnya ucapan itu tidak bisa di dengar olehnya secara langsung. Jadi tugas Ivis adalah menyampaikannya pada Lennova.
"Akan kusampaikan padanya."
Dan pada malam itu, dua kali terdengar suara darah bergema dari sebuah Katana yang memenggal dua kepala manusia.
Bersambung
__ADS_1