Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 117 : Rencana Taman Hiburan (2)


__ADS_3

Di saat Iraya sedang mencoba untuk kabur dari Herlin, kini Oukami sedang berdiri di depan taman hiburan yang sudah ingin tutup. Bahkan pengunjung terakhir sudah melewatinya barusan. Tapi itulah yang diinginkan oleh Oukami, taman hiburan yang sepi ini juga agar Arisu bisa menikmatinya.


Oukami terus melihat ke arah HP-nya. Ia melihat pesan terakhirnya yang berakhir hanya dibaca oleh Arisu, tapi mereka berdua sudah janji untuk bertemu di sini.


"Apa hal ini akan berhasil, ya?" gumam Oukami.


Ia ingat pada siang hari sebelum datang ke kamar Iraya, ia sempat menelepon Arisu untuk bertanya padanya.


*Siang Hari*


Layar HP Oukami sudah menunjukkan kontak Arisu dan hanya butuh satu langkah lagi bagi Oukami untuk menghubunginya, tapi entah kenapa hal itu terasa sangat sulit baginya saat ini.


Jempolnya seakan memiliki penghalang tak terlihat yang membuatnya kesulitan untuk menekan simbol telepon. "Kenapa aku jadi seperti ini, sih?" gumam Oukami menyadari kalau dirinya jadi penakut ketika berurusan dengan hal seperti ini.


Piip...


"Ga-gawat!"


Dan saat Oukami sedang bimbang, jempolnya tidak sengaja menekan tanda memanggil. Meskipun Oukami ingin menutup teleponnya, tapi respon Arisu terlalu cepat karena ia sudah mengangkatnya duluan sebelum Oukami sempat membatalkan panggilannya.


"Halo? Oukami?"


Oukami mencoba diam karena bingung apa yang harus dikatakannya saat ini. Ia merasa kalau dirinya belum siap untuk memberitahunya rencana yang sebenarnya.


"Oukami? Apa kau ada di sana? Hmm ... aneh." Arisu terus mencoba memanggil Oukami yang sedang bimbang saat ini.


"Salah tekan mungkin, ya?" gumam Arisu.


"Tu-tunggu, aku disini!" Pada akhirnya Oukami berhasil membulatkan tekadnya dan memberanikan diri untuk menjawab teleponnya. Karena jika ia tidak menjawabnya sekarang, kesempatannya untuk mengajak Arisu tentu saja akan hilang.


"Oh, ternyata ada. Apa kau meneleponku, Oukami?"


"Y-ya, begitulah."


"Hmm? Suaramu kelihatan ragu? Apa ada sesuatu yang buruk terjadi padamu?"


"Ah, itu tentu saja tidak. A-aku ingin bertanya satu hal padamu, apa kau sedang sibuk sekarang?"


"Waktuku tidak terlalu banyak sekarang, aku sedang istirahat sepuluh menit dari latihan dance ku. Kalau kau ingin bicara, sekarang saatnya."


"Arisu-senpai! Pelatih sudah memanggil!" panggil Aderia memanggil Arisu.


"Iya! Aku akan segera kesana!"


Sementara di tempat Arisu saat ini, ia sedang berada di dance studio untuk konsernya hari minggu nanti.


Celana panjang olahraga ketat serta baju longgar yang membuatnya mudah bergerak serta tubuh dan wajahnya yang penuh keringat, ditambah botol minuman di tangan kanannya saat ini membuktikan kalau Arisu latihan dengan cukup keras.


"Kau dengar itu?"


"Ya."


"Jadi apa yang mau kau bicarakan?"


Oukami menarik nafas terlebih dahulu sebelum mengatakan tujuannya. "Ma-maukah kau malam ini ke taman hiburan bersamaku?"


"...."


Hening terjadi di antara mereka berdua ketika Oukami mengajak Arisu nanti malam. Tapi setelah beberapa saat, Arisu kemudian menjawabnya. "Taman hiburan?" Meskipun dengan nada bingung.


*Saat Ini*


Kembali ke saat ini, mengingat hal barusan membuat wajah Oukami memerah dan menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba menghapus ingatan memalukannya itu.


Arisu sebenarnya sudah setuju dan ia bisa datang jam segini karena latihan dance mereka selesai sekitar jam sembilan malam. Jadi ini adalah kebetulan yang menguntungkan.


"Di situ kau rupanya."


"Hn?"


Seseorang memanggil Oukami yang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri saat ini. Dan orang itu adalah orang yang sudah ditunggu olehnya. Penampilan Arisu saat ini tidak seperti biasanya, ia tidak memakai Hoodie dan masker yang biasa ia lakukan ketika bertemu dengan Oukami.


"Eh? Penampilanmu?"


"Tidak usah kau pikirkan soal itu, waktu sudah malam jadi aku tidak perlu khawatir soal orang yang melihatku. Jadi, kau benar-benar mengajakku kesini, ya?"


"Apa ada yang salah?"


"Tidak, tapi aku curiga kau akan melakukan hal yang aneh-aneh."


"A-Aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu!"


"Aku bercanda, aku bercanda, kenapa kau sampai semarah itu, sih? Pertanyaanku sekarang adalah apakah kita bisa masuk ke dalam di jam segini?"


"Tenang saja soal itu, jika mereka mengetahui identitasku dan menunjukkan kartu nama keanggotaan White Cloud. Aku yakin mereka akan mengizinkanku masuk."


Oukami tersenyum percaya diri karena yakin rencananya akan berhasil. Tapi senyum percaya dirinya seakan sirna begitu saja ketika berbicara dengan petugas taman hiburan ini.


"Yang benar saja?! Apa kartu keanggotaanku tidak cukup?!"


"Maaf, meskipun itu asli, aku masih tidak bisa memberikanmu izin masuk dan memainkan semua wahana yang ada di dalam."


"Ka-kau bercanda ...."


Arisu melihat ke arah Oukami yang sudah lemas dan kehilangan semangat. Tapi dia hanya menghela nafas lalu melepas topinya yang membuat wajahnya terlihat seutuhnya. Kemudian ia pun maju untuk berbicara dengan petugas taman hiburan itu.


"Permisi, maaf, apa anda mengenal saya?"


"Ka-kau ... tidak mungkin! Ko-Koyomi Arisu?! Apa yang idol nomor satu Jepang lakukan di sini?!" Petugas itu terkejut dengan keberadaan Arisu yang tidak disangka olehnya.


"Maaf bila permintaanku semena-mena, tapi apa kami berdua boleh bermain sebentar saja di dalam?"


"Te-te-tentu saja boleh, nona. Jam tutup taman hiburannya bisa kami atur."


Petugas itu melihat ke belakangnya dan terdapat banyak petugas lain yang sedang berebut untuk melihat langsung dari dekat Idol terkenal tersebut.


"Tapi apa aku boleh meminta satu syarat?"

__ADS_1


"Hn? Apa itu?"


"Bagaimana kalau aku dan staff yang lain setelah anda puas bermain, berfoto dan meminta tanda tanganmu sebagai kenang-kenangan? Kami sangat mengidolakan anda, Nona Arisu."


"Itu bukan masalah."


"Yosha!" Teriakan dari staff dan para staff lainnya terdengar ketika Arisu mengiyakan permintaan para staff itu dan mereka pun akhirnya bisa masuk ke dalam.


Oukami tercengang ketika Arisu dapat dengan mudahnya meminta izin untuk masuk ke dalam taman hiburan yang sudah tutup. Sementara Arisu yang melihat Oukami tercengang hanya heran.


"Hah ... sebenarnya kau ini sudah menyiapkan semuanya atau belum, sih?"


"I-itu ...! Hanya sedikit kesalahan teknis saja! Tapi yang terpenting akhirnya kita masuk ke dalam. Ngomong-ngomong, apa kau sudah pernah kesini sebelumnya?"


"Pernah. Kira-kira sekitar 7 tahun lalu, waktu itu aku masih berumur 15 tahun dan merupakan tahun pertamaku aktif sebagai Solo Idol. Aku diundang untuk memeriahkan peresmian taman bermain ini. Tapi aku tidak pernah benar-benar menikmati semua wahana yang ada di sini."


"Kenapa?"


"Kau tahu sendiri kan alasannya? Idol tidak bisa bergerak bebas tanpa topeng penyamaran atau pun bodyguard."


"Sepertinya sulit juga, ya?"


"Hehe ... sudahlah, sudahlah, aku sudah terbiasa dengan hal itu. Sekarang ayo kita nikmati semua wahana yang ada di sini!"


"Ya. Aku pastikan kau tidak akan melupakan hari ini."


Akhirnya mereka pun mulai mencoba satu persatu wahana yang ada di sana. Taman hiburan ini sendiri cukup luas sehingga memerlukan waktu untuk mencoba semuanya, tapi sepertinya itu bukanlah masalah untuk mereka berdua.


**


Sementara aku yang kali ini lolos dari kurungan Herlin sedang berlari menuju ke taman hiburan tempat mereka berdua janjian dan kali ini aku sudah sampai tepat di depan gerbang masuknya.


"Seharusnya sih di sini tempatnya. Apa mereka sudah masuk ke dalam, ya?"


Gerbang masuknya memang sudah dikunci, tapi aku masih bisa mendengar suara-suara wahana yang beroperasi di dalam. Itu berarti mereka memang sudah berada di dalam.


Tiing...


Tiba-tiba aku mendapatkan notifikasi di HP ku dan ketika memeriksanya, ternyata itu adalah pesan dari Oukami yang memberikan stiker jempol keatas. Senyum tercipta ketika aku melihat hal itu, sekarang waktunya bagiku untuk mengawasi mereka berdua.


"Rencana taman hiburan bagiku, dimulai."


Aku memilih untuk masuk secara sembunyi-sembunyi agar tidak mengganggu kencan mereka. Dan tanpa aku sadari, ada seseorang yang mengikuti di belakangku yang juga ikut masuk ke dalam.


Beberapa menit aku mencoba mencari keberadaan mereka dan pada akhirnya aku pun menemukan Oukami dan Arisu. Mereka berdua sedang mengobrol santai sambil menuju ke wahana berikutnya.


Cukup lama aku mengikuti mereka dan sejauh ini tidak ada masalah yang berarti. Malah aku berpikir rasanya kehadiranku di sini sudah tidak dibutuhkan lagi, semuanya berjalan sesuai dengan rencana. Tapi meski begitu, ada satu hal yang hanya aku yang bisa melakukannya saat ini.


Karena bosan mengikuti mereka, aku bahkan membeli permen kapaas di stand yang masih buka di dalam taman hiburan dan memakannya sepanjang mengawasi mereka.


"Oi, siapa kau? Apa yang kau lakukan malam-malam begini di sini?" ucap staff penjaga stand permen kapas itu.


"Sstt! Kenapa kau berisik sekali? Apa kau mau mengganggu kencan mereka?"


"Kencan? Jadi laki-laki itu benar-benar kekasihnya?"


"Oi! Bayar dulu, bocah sialan!" Aku melemparkan beberapa uang koin ke meja stand itu untuk membayarnya. Staff penjaga itu sedikit tenang sebelum sadar sesuatu saat menghitung koinnya. "Masih kurang, woi!" Tapi dia sudah kehilangan jejakku.


Dan kini mereka sudah sampai di wahana terakhir, yaitu biang lala. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam saat mereka berada di depan biang lala. Dan setelah mereka naik, biang lala itu mulai berputar perlahan.


Sementara aku yang mengawasi mereka dari balik pohon hanya bisa menunggu saat yang tepat untuk acara sebenarnya dimulai.


"Hah ... andai aku juga bisa naik kesana."


"Ternyata kau benar-benar di sini."


"Uwaakh—!" Seseorang berbicara padaku saat aku sedang melihat Oukami dan Arisu dari balik pohon. Dan orang itu tentu saja adalah Herlin.


"Ya ampun, Caramel benar-benar berhasil menipuku."


"Ba-bagaimana kau tahu kalau aku di sini, Herlin?"


"Bukankah kau sendiri yang bilang kalau kau ingin melakukan rencanamu di taman hiburan? Ini adalah taman hiburan terdekat di sini, dan sepertinya tebakanku tepat."


Aku baru sadar kalau aku memberitahunya waktu itu, saat itu aku terlalu takut untuk bohong pada Herlin yang sedang marah, sih.


"Jadi ayo kita pulang, sekarang sudah sangat larut."


"Tu-tunggu sebentar. Aku ingin melihat apakah dia berhasil atau tidak."


"Itu bukan urusanmu lagi, kau sudah tidak dibutuhkan lagi di sini." Herlin kemudian menarik telingaku dan menarikku untuk keluar dari sini.


"Adu-du-duh! A-aku mengerti! Lepaskan telingaku, oi! Eh? Awas!"


Aku menarik tangan Herlin untuk bersembunyi di balik pohon dan melihat seseorang yang lewat. Ia adalah penjaga staff taman hiburan yang membawa senter untuk memeriksa keadaan di sini. Pohon ini terlalu sempit bagi dua orang jadi kami harus berbaris dan punggung Herlin menekan dadaku agar kami tidak terlihat.


"Sepertinya aku mendengar sesuatu, apa aku salah dengar, ya?" Ia menyorotkan senternya ke batang pohon tempat kami tapi tidak menemukan apa-apa.


Cukup lama kami berada dalam posisi ini. Aku dapat mencium bau sampo dari rambut Herlin yang menempel di hidungku membuat wajahku memerah dan jantungku berdebar kencang. Cepat pergi, oi! Lama-lama jantungku bisa meledak jika terlalu lama berada dalam posisi ini.


"Yap. Tidak ada apa-apa." Dan ia pun pergi setelah yakin kalau ia hanya salah dengar. Kami pun sudah


"Hah ... hah ... hah ... tadi itu berbahaya sekali." ucapku sambil memegangi dadaku.


"Apanya yang bahaya? Tadi hanya staff biasa."


"Ada yang lebih berbahaya dari staff itu jika kau tahu!"


"Hmm? Ya biarlah, yang penting ayo kita pulang."


"Tunggu sebentar! Kita akan melewatkan hal yang menakjubkan jika kita pulang sekarang!"


"Hal yang menakjubkan?"


Seakan menjawab pertanyaan Herlin, tiba-tiba biang lala itu berhenti berputar padahal Oukami dan Arisu belum turun dan bahkan tempat yang ia naiki berada di paling atas bagian biang lala.


Sementara itu di biang lala paling atas, Oukami dan Arisu sedikit berbincang sambil menunggu mereka turun.

__ADS_1


"Wah! Seru sekali hari ini! Aku berasa seperti masih berumur 12 tahun, aku yakin aku tidak akan pernah bosan main kesini!" ucap Arisu.


"Benarkah? Berarti rencanaku dan Iraya berhasil dengan baik!" gumam Oukami.


"Hnm? Apa kau bicara sesuatu?"


"Ah, tidak, tidak."


"Tapi aku benar-benar berterima kasih padamu, lho. Akhirnya aku bisa merasakan bermain di taman hiburan secara bebas. Kapan-kapan akan aku ajak teman-temanku dari Rainbow Cookies."


"Syukurlah kalau kau menyukainya. Anggap saja ini adalah hadiah dariku sebelum kau mulai konser besok."


"Eh? Ada apa ini? Kok kau tiba-tiba baik denganku? Apa kau merencanakan sesuatu?"


"Mana ada!"


"Ahahaha! Aku bercanda. Tapi aku sungguh bersyukur karena kau yang akan menjadi bodyguard ku, kau adalah salah satu orang kuat yang bisa aku percaya."


Oukami terdiam sebentar mendengar ucapan Arisu. Tapi kemudian ia menyuruh Arisu untuk melakukan sesuatu. "Arisu, bisa kau menengok ke kiri?"


"Ke kiri?"


Meski masih bingung, Arisu kemudian menuruti perintah dari Oukami. Dan setelah ia melakukannya, terdengar rentetan kembang api yang terbang ke atas dan meledak secara bersamaan.


Karena mereka berada di tempat tinggi, pemandangan kembang apinya menjadi lebih dekat dari biasanya dan pancaran warna yang dihasilkan juga lebih terlihat, membuat kembang api ini menjadi jauh lebih indah dari kembang api biasa.


"Aku tahu ini tidak seberapa, tapi ...."


Oukami berhenti berbicara ketika melihat wajah Arisu yang kali ini penuh dengan senyum lebar serta mata berbinar-binar menatap kembang api yang kini sedang menyala.


Oukami tidak melanjutkan ucapannya lagi setelah melainkan kini wajahnya penuh dengan senyuman. "Rencanamu boleh juga, Iraya," gumam Oukami.


Sementara aku dan Herlin yang berada di bawah juga ikut menikmati kembang api yang sedang menyala saat ini. Kalian pikir aku hanya berkeliling dan melihat mereka jalan berduaan saja? Hoho ... aku tidak semenyedihkan itu.


Alasan aku tidak memiliki uang untuk membayar permen kapas terakhir tadi karena uang patunganku dengan Oukami sudah habis untuk membuat pertunjukan kembang api ini.


Aku juga memohon kepada para staff untuk membantu menyalakannya. Dan setelah mereka mendengar nama Arisu, mereka langsung bersedia walaupun awalnya menolak.


"Bagaimana, Herlin?! Untung saja kita tidak pulang duluan, ya kan?! Herlin?"


Tapi Herlin tidak menjawab pertanyaanku. Ia lebih fokus pada kembang api yang sedang menyala dengan indahnya saat ini. Meskipun ekspresinya datar, tapi aku bisa merasakan perasaan senang dalam tatapan fokusnya.


"Hehe ... sepertinya aku sudah menembak dua burung dengan satu batu."


**


Setelah pertunjukan kembang api itu selesai, Oukami dan Arisu pun juga turun dari biang lala. Lalu Arisu juga tidak lupa untuk menepatinya janjinya kepada para staff yaitu untuk berfoto dan meminta tanda tangannya.


Saat ini tengah malam sudah lewat dan sudah saatnya mereka berdua untuk berpisah. Tapi sebelum itu, mereka sempat berbincang lagi untuk menutup kencan hari ini.


"Aku tidak akan melupakan hari ini, Oukami. Terima kasih atas hadiahnya yang hebat!"


"Tentu saja, aku ikut senang jika kau menikmatinya."


"Oh iya, aku juga punya hadiah untukmu."


"Hadiah? Kau tidak perlu membalasnya, lagipula itu hanya—"


Belum sempat Oukami menyelesaikan perkataannya, Arisu dengan cepat mendekat dan berjinjit untuk menyetarakan bibirnya dengan pipi Oukami. Setelah itu, ia pun menciumnya pelan.


"Itu hadiah dariku. Sampai jumpa besok di tempat konser!"


Dan tanpa menjelaskan lebih lanjut, Arisu langsung pergi dari sana meninggalkan Oukami yang wajahnya memerah seperti kepiting rebus.


Aku juga ikut keluar dari sana bersama Herlin dan tanpa sengaja bertemu dengan Oukami yang sedang melamun di gerbang depan. Aku pun langsung menghampirinya dan menyapanya.


"Yo! Sepertinya rencananya berhasil dengan—"


"Iraya!"


"A-ada apa? Kenapa kau teriak tiba-tiba begitu?"


"Dia! Tadi Arisu mencium pipiku! Pipiku dicium olehnya!"


"Wuuooh! Berarti kau sudah berhasil, kan ya?! Kau tadi di atas sudah mengatakannya, ya?!"


"Mengatakannya? Apa maksudmu?"


"Hmm? Kau tidak menyatakan perasaanmu kepadanya?"


"Eh?"


"Eh?"


Oukami yang tadinya bersemangat langsung berubah terkejut karena dia lupa dengan tujuan awalnya datang dan mengajak Arisu kesini. "A-aku lupa," ucapnya dengan polosnya.


"...."


"Bodoh! Lalu uang yang aku keluarkan untuk beli kembang api buat apa kalau kau tidak berhasil?!"


"Ma-mau bagaimana lagi! Aku terlalu menikmati wajah cerianya! Jadi itu bukan salahku kalau aku lupa!"


"Tidak, tidak, tidak! Pokoknya itu tetap salahmu!"


"Tidak, tidak, tidak! Aku seratus persen tidak bersalah di sini!"


"Tidak, tidak, tidak! Mau dilihat dari mana pun ini semua salahmu!"


"Tidak, tidak, tidak!"


"Tidak, tidak, tidak!"


Saat kami berdua saling berteriak dan beradu argumen, Herlin di belakang kami hanya memperhatikan saja. Dia menguap serta mengusap matanya ngantuk karena saat ini sudah lewat tengah malam.


"Dasar dua orang bodoh," gumam Herlin.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2