
Suara dentingan lift menandakan kalau kami sudah sampai. Di lantai paling atas. Di lantai ini ruang rekaman berada dan aku bersama Herlin dan Arisu siap untuk menghentikan bencana ini.
Tapi seakan tidak membiarkan kami untuk melakukannya semudah itu, selalu saja ada yang menghalangi jalan kami. Sebelumnya kami bertemu dengan Baram, dan demi menghemat waktu Oukami lah yang menghadapinya sendirian saat ini.
Dia itu. Mencoba terlihat keren di depan banyak orang— terutama Arisu. Yah ... dia pantas mendapatkannya sih karena juga dia berhasil menyelamatkan nyawaku dari serangan kejutan Baram. Jadi untuk yang satu itu, julukan 'keren' akan kuberikan padanya.
Untuk Caramel sendiri, dia memutuskan untuk menjaga pintu depan. Awalnya aku pikir itu tidak dibutuhkan, tapi setelah dipikirkan lebih mendalam lagi, menjaga agar para orang terinfeksi tidak masuk ke sini itu cukup penting juga. Apalagi ada di antara mereka yang seorang Exception.
Dan setelah itu semua terjadi, tersisa lah kami bertiga di sini. Saat pertama menginjakkan kaki di lantai ini, kami langsung disambut oleh seseorang. Perawakannya kira-kira dia sudah kelas tiga SMA, atau mungkin semester pertama kuliah? Entahlah, yang penting usianya di sekitar situ— kurasa.
Lalu rambutnya yang urakan dengan warna biru gelap, menyatu dengan gelap malam bermandikan sinar bulan yang lolos lewat kaca gedung.
Dan setelah aku lihat baik-baik. Bagaimana ya mengatakannya .... Dia terlihat lemah. Bukan. Bukan berarti aku meremehkannya, tapi lihat saja tubuhnya itu! Badan kerempeng dan tinggi yang cebol— apalagi dia lebih tua dariku. Mata bulat yang melambangkan kepolosan tanpa tatapan intimidasi sedikit pun, lalu kulit putih pucat seolah tidak pernah keluar terkena sinar matahari.
Kalau melihatnya sekilas, mungkin aku akan berpikiran kalau dia seumuran denganku. Tapi berbeda setelah aku perhatikan baik-baik.
Okey, cukup dengan deskripsi dirinya. Kini dia berdiri menghadang kami. Itu berarti dia adalah musuh kami, kan? Tapi aku sama sekali tidak mengenalnya— bukan berarti aku tahu banyak soal musuh, sih.
Aku melirik ke arah Herlin. Mungkin saja dia memiliki petunjuk tentang siapa orang ini.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Oh! Seperti yang diharapkan dari Herlin. Nampaknya dia tahu lawan kita kali ini. Terlebih lagi, tidak ada wajah terkejut maupun ekspresi berlebihan lainnya dari wajahnya. Itu berarti ini lawan yang mampu kita hadapi, kan? Iya, kan? Jelas, dong!
"Apa kau mengenalnya?" tanya Arisu.
"Tidak. Tapi aku ingat kalau dia pernah datang ke Cafe sekali."
Eh? Tunggu. Itu berarti dia hanya seorang pelanggan biasa.
"Kau mengingat wajah setiap pelangganmu?"
"Kadang-kadang, aku punya kebiasaan seperti itu untuk menghindari penjahat atau stalker yang mungkin mengancam Cafe."
Se-seram. Aku baru tahu dia punya hobi seperti itu. Tapi tetap saja, itu berarti dia tidak tahu tentang kekuatannya. Aku pun menghela nafas kecewa. "Hah ... aku kira aku bisa mengandalkanmu. Ternyata aku salah," ucapku.
"Kenapa kau terlihat kecewa?"
"Jadi kalian telah datang, Herlin-chan, Iraya-kun. Dan satu orang lagi aku rasa kau adalah Idol itu, ya?"
"Herlin ... chan?"
"Iraya ... kun?"
"I-Idol itu?! Beraninya kau menyebutku dengan sebutan 'itu'! Awas kau, ya!"
Dia berbicara seolah sudah akrab dengan kami. Tapi mau dilihat dari mana pun aku sama sekali tidak mengenalinya, meskipun dia sangat akrab dan ramah, aku bahkan ragu kalau dia adalah musuh. Lagipula darimana dia tahu nama kita berdua?
"Apa kau mengingat namaku?" tanyanya.
"Dengarkan aku, oi!" Tapi tidak ada yang menanggapi Arisu.
"Ya, kalau tidak salah namamu Okita."
"Benar, itu adalah namaku. Dan aku sudah tidak sabar menghadapi kalian berdua."
Langsung pada intinya, ya? Jadi dia tipe orang tidak sabaran. Aku tidak tahu dari mana dia tahu namaku dan Herlin, tapi sepertinya itu adalah informasi yang umum bagi musuh.
"Iraya ..., hati-hati." Cecilia berbicara tiba-tiba. "Hah? Kenapa?" tanyaku.
"Ada yang aneh dari dia."
"Apa maksudmu?"
"Fisik dan aura yang ia miliki tidak sinkron. Seolah-olah aura besar yang ada di dalam tubuhnya dipaksakan masuk ke tubuh kecilnya itu."
Aku tidak mengerti apa yang Cecilia katakan. Apa yang dia maksud dua orang berbeda berada di dalam satu tubuh, begitu? Jika benar, bukankah aku juga mengalami hal yang sama.
"Maksudmu seperti yang terjadi pada kita?" tanyaku.
"Tidak, ini sedikit berbeda. Percampurannya begitu acak dan tidak ada kesamaan sama sekali."
"Hah? Aku masih tidak mengerti."
"Pokoknya, hati-hati saja dengannya. Dia mungkin bisa mengejutkanmu." Tetsu juga memperingatkanku.
Meskipun masih banyak hal yang tidak aku pahami, tapi aku hanya memiliki satu pilihan. Aku harus mengalahkannya. Untuk menghentikan bencana ini, mengalahkan semua orang yang berhubungan dengan ini adalah satu-satunya cara.
"Herlin." Aku melihat ke arah Herlin lalu melirik ke Arisu. Ini bukannya bertujuan untuk sombong, tapi jika Arisu tidak bisa berkutik melawan Herlin sebelumnya, maka dia tidak bisa membantu banyak.
Herlin sepertinya juga mengerti maksudku dan menganggukkan kepalanya. "Arisu." Dia berbicara padanya. "A-ada apa?" jawabnya.
"Mundurlah, kau tidak perlu membantu dalam pertarungan ini."
"Hah?! Apa kau meremehkanku?!"
__ADS_1
"Iya, kau itu masih lemah."
"Gkh." Seperti biasa, ucapan Herlin tanpa saringan dan langsung menusuk ke hati. Aku berharap Arisu juga menyadari hal itu dan segera mundur. "Meski begitu .... Meskipun aku lemah, aku tetap akan membantu! Terserah kau mau menjadikan aku umpan atau apa, tapi aku tetap akan membantu."
"Tidak perlu."
"A-apa ...?"
Okey, sepertinya itu terlalu berlebihan. Herlin langsung memotong semangatnya begitu saja. Setidaknya berikan dia kata-kata penyemangat atau semacamnya, kek. Lihat dia! Wajahnya langsung muram dan lesu begitu.
"Setidaknya untuk saat ini tidak perlu ...."
"Eh?"
"... Apa kau lupa kalau kau masih memiliki tugas penting untuk membangunkan orang-orang yang terinfeksi di kota ini? Jika kau menghabiskan tenagamu di pertarungan sepele seperti ini, maka itu akan merepotkanmu nantinya."
Herlin akhirnya menjelaskannya. Dengan alasan yang paling logis dan sederhana. Tentu saja Arisu mengerti dengan hal itu, meski begitu kurasa ia masih sedikit tidak terima.
"Ta-tapi ...."
Akhir-akhir ini Arisu jarang mendapat kesempatan bertarung, apalagi ia seorang Exception dari White Cloud yang seharusnya bertugas untuk menyelamatkan orang-orang di kota Nagoya. Jadi aku pikir itu pasti sedikit mengganggunya.
Tapi Herlin kembali berbicara, seolah dapat membaca pikirannya. "Tidak usah murung, aku dan Iraya saat ini adalah bodyguard-mu. Jadi sudah tugas kami berdua untuk melindungimu. Dan juga, satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan semua orang di kota ini ... hanya kau, Arisu."
Herlin mengangkat jempolnya ke atas. Arisu yang berada di belakangnya pun terdiam, tapi aku sadar kalau tatapan keraguannya telah menghilang.
"Aku akan menunggu kalian di ruang rekaman." Arisu kemudian berlari menuju ke ruang rekaman.
"Ya."
"Ya ampun, ternyata kau bisa berkata-kata manis juga, ya?" ucapku.
"Hal itu perlu untuk mendapatkan rekan dan teman. Jika kau tidak bisa menguasai hal sesederhana itu, aku tidak kaget jika kau tidak punya teman."
"Sudah kubilang aku bisa! Cuma tidak mengeluarkan seratus persen kemampuanku saja."
"Terserah."
Setelah urusan kami dengan Arisu selesai, kami berdua kemudian memasang kuda-kuda menyerang. Lawan yang tidak pernah kami hadapi sebelumnya, lalu penjelasan aneh dari Tetsu dan Cecilia. Aku tidak boleh lengah menghadapinya.
"Sudah selesai bicaranya? Apa aku masih harus menunggu lagi?"
"Tidak perlu, terima kasih telah menunggu."
Aku mendecakkan lidahku. Entah kenapa mendengarnya sok akrab begitu membuatku kesal. Aura berubah menjadi percikan listrik di kakiku lalu aku melesat cepat sambil mencabut pedang dari sarungku.
Matanya sempat melebar sedikit. Tapi ia berhasil menghindarinya. Tebasan vertikal yang aku lakukan menghantam lantai dan menghasilkan kerak yang menjalar sampai ke depanku. Aku menatapnya dengan tatapan serius, sementara dia masih dengan senyum terkejutnya.
"Aku tidak tahu siapa dirimu. Tapi hanya orang-orang tertentu saja yang boleh memanggilku dengan sebutan itu!"
Kali ini aku menyerangnya dengan tebasan diagonal mencoba mengincar dada dan jika beruntung kepala atau lehernya. Tapi dia secara tepat waktu menarik kepalanya ke belakang.
Aku tidak memberinya banyak kesempatan. Pedang ini adalah pedang bermata ganda, jadi aku langsung menebasnya lagi dengan bilah lain pedangku.
Dia mencoba menghindar lagi, kali ini mencoba lompat mundur ke belakang. Tapi tubuhnya terhenti di tengah gerakannya yang membuat ia terkejut.
"Tu-tubuhku ...?!"
"Sekarang! Iraya!"
Herlin membantuku dari belakang dengan mempersulit pergerakannya. Kali ini pertahanannya terbuka, aku dapat menyerangnya dengan bebas sekarang. Kena kau!
Tapi tiba-tiba sesuatu menghempasku ketika aku ingin menebasnya. Hempasan udara yang tidak aku ketahui asalnya membuatku terpental cukup jauh, tapi aku berhasil memutar tubuhku di udara dan menapak dinding lalu mendarat sempurna.
"Apa-apaan itu?"
"Jangan lengah. Kekuatannya masih belum kita ketahui, kita tidak tahu apa yang akan dia lakukan." Herlin mendekat ke sampingku waspada.
"Sepertinya kalian belum menemukan petunjuknya, ya? Kalau begitu aku akan menyamar sampai kalian menyadarinya sendiri."
Lagi-lagi dia berbicara sesuatu yang tidak kami mengerti. Tapi menghiraukan ucapannya, aku sadar sudah dapat bergerak bebas. Itu berarti dia sudah lepas dari pengaruh Mind Power Herlin.
"Oi."
"Sial. Aku lengah."
"Fokus, woi! Kau yang bilang sendiri untuk fokus, kan?!"
Aku menggelengkan kepalaku. Jalan pikiran Herlin memang selalu sulit untuk aku tebak. Kami kembali fokus ke musuh, dia melakukan kuda-kuda yang berbeda kali ini. Kesepuluh jari tangannya bermain seolah ada sesuatu di ujung jarinya.
Aku kemudian mengalirkan auraku ke kedua mata— Herlin juga melakukan hal yang sama. Aku dapat melihat aura tipis berbentuk benang yang menari bebas yang digerakkan oleh sepuluh jarinya.
"Mau dimulai lagi?" ucapnya menantang.
"Gkh." Menyebalkan. Dia menyebalkan.
__ADS_1
"Iraya, boleh pinjam pedangmu?"
"Eh? Boleh saja. Tapi kau akan ikut bertarung, apa kau yakin? Ini bukan sparing, loh."
"Orang yang kalah denganku dilarang menceramahiku."
Gkh. Ini juga sama menyebalkannya. Semua orang di sini semuanya menyebalkan. Aku pun melemparkan pedang yang sedang aku pegang kepada Herlin dan aku mengambil gagang pedang yang aku gantungkan di gantungan dekat ikat pinggangku.
"Pedang? Hoo~ aku ingin sekali melihat hasil latihan pedangmu, Herlin-chan."
"Kau bicara seolah kau tahu aku baru belajar berpedang akhir-akhir ini, siapa kau sebenarnya?"
"Entahlah. Bagaimana kalau kau mencari tahunya sendiri?"
Orang misterius ini seolah tahu segalanya tentang kami berdua. Bahkan sampai ke tahap Herlin yang baru belajar berpedang, apakah informasi sedetail itu sudah sampai kepada para Assassin?
"Bagaimana ini?" Aku bertanya pada Herlin. Musuh punya informasi lebih banyak daripada yang kami kira, sementara kami tidak tahu apa-apa tentangnya.
"Aku tidak peduli. Terus serang sambil mencari informasi tentang dirinya."
"Baiklah, jika itu maumu."
Percikan listrik kembali tercipta di telapak kakiku dan kemudian aku melesat duluan. Sementara Herlin berlari di belakangku.
Aku telah sampai duluan dan menyerang dengan pedang auraku. Kedua aura kami beradu, benang yang keluar dari jarinya ternyata lebih keras daripada yang aku duga dan itu tidak putus akibat sekali tebasanku.
Ia menggerakkan beberapa jarinya dan beberapa utas benang bebas yang masih tersisa mencoba menjeratku. Tapi puing-puing gedung menabraknya dan yang terikat adalah puing tersebut.
Ujung bibirku terangkat. Meskipun ia bilang akan menggunakan pedang, bukan berarti Herlin tidak akan menggunakan kemampuannya. Tapi itu tidak cukup lama menahannya, puing itu terlalu lemah dan langsung hancur karena tekanan benang aura tersebut.
"Sekarang, Herlin!"
Ia yang masih fokus beradu antara pedangku dengan benangnya seketika terkejut ketika aku berteriak. Ia melihat ke belakang dan di sana terdapat Herlin yang sudah melompat dan bersiap menebasnya secara vertikal.
"Kena!"
"Tidak buruk juga."
Tapi tidak ada kepanikan di belakang wajahnya— malah ia mengeluarkan seringai. Benang aura yang menahanku tiba-tiba menghilang dan membuatku kehilangan keseimbangan dan maju terus ke depan, sementara ia melesat ke belakangku.
"He-Herlin ...! Berhenti!"
"?!!!"
Herlin yang sudah bersiap untuk menebas di detik terakhir dipaksa untuk mengurungkan niatnya. Tapi karena ia sedang di udara, arah jatuhnya tidak bisa dikontrol dengan baik dan ia pun jatuh menabrak tubuhku.
"Adu-du-duh ...."
Dia menjadikanku sebagai alas jatuhnya. Dan dia juga tidak segera bangun sehingga kami sekarang berada dalam posisi yang canggung. "He-Herlin?!" Wajahku memerah karena wajahnya kini berada sangat dekat dan tubuhnya tengkurap di dadaku.
"Jangan bergerak dulu."
"E-Eh?!"
Bukan masalah itu, oi! Jika kau tidak bergerak dari posisi ini, maka mungkin aku tidak bisa fokus ke pertarungan. Setidaknya jangan menempel! Jangan menempel!
"Hentai ...." Cecilia dan Tetsu bicara bersamaan dengan nada datar.
Itu dia! Kelihatannya sekarang aku yang salah! Padahal dia yang jatuh ke tubuhku!
"Ckckck ... ini membuktikan kalau kalian jarang bertarung bersama. Bahkan menabrak rekan kalian di tengah pertarungan." Orang itu— Okita, tidak bisa membaca situasinya!
"Kau benar-benar tahu betul, ya?" Herlin melihat ke depan. Sementara aku mendongak dan menengok ke belakang, karena posisi kami masih belum berubah.
"Ya, informasi yang aku punya tentang kalian cukup banyak, loh." Dia tersenyum bangga dengan hal itu. Yah ... jika aku jadi dirinya mungkin aku juga akan besar kepala, sih.
"Oh, begitu."
Herlin kemudian melakukan gestur turun ke bawah dengan satu jari telunjuknya yang membuat Okita— bahkan aku bingung dengan hal itu. Tapi kemudian dia menyadari sesuatu dan melihat ke atas.
"Apa?!"
Sebuah puing yang terdiri dari kerangka pilar, keramik, tembok, serta kaca bangunan bersatu menjadi kumpulan puing besar yang jatuh ke atas kepalanya.
Dan dia pun tidak memiliki waktu untuk menghindar karena saat ia menengok ke atas, puing itu sudah hampir menyentuh batang hidungnya. Jadi kesempatannya untuk menghindar sangatlah kecil.
Herlin menghela nafas berat lalu bangun dari atas tubuhku. Dia lalu melihat ke arahku. "Apa kau baik-baik saja? Wajahmu memerah. Apa ada luka dalam di wajahmu?"
"Ah ...! Tidak, aku baik-baik saja. Tapi sejak kapan kau mengumpulkan puing sebanyak itu?"
"Sejak kau melesatkan serangan pertama. Dan kita berharap saja kalau itu cukup untuk mengalahkannya."
Herlin melihat ke arah puing-puing itu. Puing-puing yang cukup besar yang bahkan dapat melubangi atap rumah jika menimpa dari atas.
Bersambung
__ADS_1