
Kejutan ulang tahun yang kami berikan kepada Herlin sukses besar— atau begitu yang Herlin katakan. Tapi aku tidak merasa kalau Herlin sangat menikmati kejutan yang kami persiapkan.
Aku tahu kalau dia adalah orang yang wajahnya datar-datar aja atau biasa dibilang poker face. Tapi terkadang aku bisa tahu kalau dia sedang senang atau perasaan lainnya, meskipun tidak ditunjukkan secara langsung. Aku rasa itu kelebihan selalu bersama dengannya.
Dan sekarang, aku tidak merasakan sama sekali perasaan senang dari wajahnya. Wajah datarnya kali ini lebih ke arah dia sedang banyak pikiran dan tidak fokus pada apa yang ada di depannya.
Apa insiden di Nagoya masih membekas di kepalanya? Tidak seperti biasanya hal seperti itu dapat mempengaruhi seseorang seperti Herlin cukup lama. Bahkan saat kematian Oita-san pun, dia hanya menangis sebentar dan setelah itu bersikap seperti biasa lagi.
Apa ada hal lain?
Aku mencoba mengingat apa saja yang terjadi di Nagoya yang berhubungan dengan Herlin. Tapi aku tidak menemukan sesuatu yang spesifik. Apa jangan-jangan kejadiannya terjadi saat aku sedang tidak bersamanya?
"Sepertinya, sifatnya berubah berhubungan dengan perempuan yang menghampirinya di atap waktu itu."
Perempuan? Di atap?
Ah! Maksudmu dia! Orang yang tiba-tiba datang mendekati Herlin dan kemudian pergi begitu saja. Ucapan Cecilia mengingatkanku tentang kejadian itu. Sial. Aku yakin kalau mereka membicarakan sesuatu saat itu, tapi karena sedang terluka dan jaraknya terlalu jauh, aku jadi tidak bisa mendengarnya.
"Apa kau yakin karena itu?" tanyaku pelan.
"Entahlah, itu hanya dugaanku. Mungkin saja ada hal lain," jawab Cecilia acuh tak acuh. Aku bisa membayangkannya mengangkat bahunya tanda tak tahu.
Jadi aku sekarang memperhatikan Herlin. Dia sedang berbicara dengan yang Anna-san dan Hanasaki-san sambil memakan potongan kue ulang tahun. Mungkin ini hanya kekhawatiran berlebihan saja, tapi aku akan menemukan penyebab dia menjadi seperti itu.
Aku kemudian memakan potongan kueku dalam satu kali lahap.
**
Sekarang sudah jam setengah dua belas malam, pesta sudah selesai dan anak-anak panti juga sudah terlelap semua. Mereka bersenang-senang sampai lelah dan tidur secara sembarangan di ruang makan ini.
Ada yang di sekitar mulutnya masih tersisa remah kue, ada juga yang masih memegang piring kecil dan garpu, tapi terdapat raut wajah bahagia pada tidur mereka semua yang membuat Yuuki-san tersenyum. Dan ia pun menggendong mereka ke kamarnya masing-masing.
Lalu untuk yang lainnya, mereka juga akan segera pulang. Anna-san dan Mei-senpai juga tertidur karena perutnya yang kenyang, terutama Mei-senpai yang sangat bersemangat menghibur para anak panti.
"Anna-san, Anna-san." Herlin mengguncangkan tubuh Anna-san lembut tapi itu tidak membuatnya terbangun meskipun ia sempat mengigau.
"Ah, biar aku saja yang mengantarnya pulang," tawar Hanasaki-san.
"Apa tidak apa-apa?" tanya Herlin.
"Tenang saja, rumahku dengannya juga searah. Jadi aku juga tidak akan terlalu jauh dari rumahku. Lagipula jika ada orang yang menggangguku ..., aku akan memanggil teman-temanku."
Hanasaki-san menyeringai sambil membayangkan nasib orang yang andai saja akan mengganggunya saat ia sedang pulang.
"Kau iblis, kah?" ucap Herlin datar.
'Teman-teman' yang Hanasaki-san maksud disini adalah hantu dan arwah yang bisa ia lihat. Sepertinya Herlin juga memberinya beberapa The Unseen untuk menjaganya.
"Kami juga akan pulang," ucap Hira. "Ya, sudah terlalu larut dan orang tuaku bisa khawatir nantinya," lanjut Kudou.
"Pulanglah dengan selamat, ya?"
Mereka berempat pun kemudian pulang. Anna-san juga sudah terbangun meskipun kesadarannya masih belum terkumpul sepenuhnya. "Hati-hati kalian semua." Mereka melambaikan tangannya sambil terus berjalan menjauh.
Sementara Mei-senpai masih sulit untuk dibangunkan. "Mei-senpai, kau ini memang sulit untuk dibangunkan, ya?" ucapku.
"Begitulah. Terakhir kali aku membangunkannya, aku harus menyiramnya dengan air."
"Apa hal seperti itu benar-benar diperlukan?"
"Ya sudahlah, mau tidak mau aku yang mengantarnya." Caramel kemudian memapahnya seperti sedang mengangkat orang yang mabuk berat, padahal tidak ada sake atau alkohol di pesta ini. "Apa kau ikut, Iraya?"
"Ah, kalian boleh pulang duluan. Aku harus membantu Herlin dan Yuuki-san untuk beres-beres dahulu."
"Baiklah kalau begitu. Aku peringatkan saja kalau aku akan mengunci pintu depan, jadi carilah jalan lain untuk masuk, ya?" Caramel melambai-lambai sambil berjalan pergi.
"Oi!" Tapi dia mengabaikanku dan terus berjalan. "Hah ..., anak itu."
"Kami juga akan pergi."
"Aku juga. Masih banyak yang harus aku lakukan."
Nigiyaka-san, Akihito-san, dan Ishikawa-san kemudian berdiri dan berjalan pergi. Akhir-akhir ini mereka jadi lebih bisa diandalkan dari biasanya, terutama Ishikawa-san. Dia terlihat sangat bekerja keras dan aku jadi jarang bertemu dengannya. Yah ..., aku rasa itu hal yang baik untuk dirinya dan kami juga.
Untuk Nigiyaka-san dan Akihito-san, aku mendengar rumor kalau Nimis dan Ardenter sudah mulai kembali terlihat di dunia bawah. Setelah keluar dari organisasi Astaroth, mereka jadi duo Assassin yang terkenal tanpa ampun dan jarang gagal dalam misinya.
Sepertinya kemampuan mereka berdua terus meningkat setiap harinya. Ada rasa lega di dalam hatiku kalau ternyata sekarang dia bukanlah musuhku, meskipun aku tidak ingin mencari musuh selamanya. Tapi jika kedamaian memang sulit untuk dicapai, kurasa tidak ada cara lain selain memperkuat diri sendiri.
Herlin kemudian meregangkan tubuhnya pegal. "Sekarang, bisa kita mulai beres-beresnya?" tanya Herlin.
"Ayo!"
Kami bersemangat membersihkan mulai dari mencuci piring-piring kotor sampai mengepel seluruh ruangan. Jika kalian membayangkan kami bebersih dengan ceria dan penuh tawa, itu sama sekali tidak terjadi di sini.
Kami bebersih cukup lama dalam diam karena semua orang di panti—kecuali kami berdua dan Yuuki-san sudah tidur, terlebih lagi suaraku juga sudah habis untuk bernyanyi dalam acara tadi.
Selama hampir sejam penuh, kami sudah membereskan ruang makan dan Herlin hanya tinggal mengepelnya. Dia mengikat rambutnya menjadi model kuncir kuda agar memudahkannya bergerak saat mengepel.
Dan setelah Herlin mengepel, akhirnya bersih-bersih pun selesai. Dia kemudian memberikanku dua plastik penuh sampah. "Buang ini ke tempat sampah di dapur, aku mau mandi dulu."
"Baik~"
Aku kemudian membuangnya dengan cepat dan suara shower juga sudah berbunyi tanda kalau Herlin sedang mandi. Karena bosan menunggunya selesai, aku pun berkeliling di dalam panti asuhan ini.
Meskipun sudah cukup sering kesini, tapi praktis aku hanya sering ke pekarangan, ruang tamu, dan juga ruang makan. Dan lorong penuh kamar yang sedang aku jelajahi sekarang ini tidak pernah aku datangi.
Sepertinya ini adalah kamar anak-anak panti yang ada di sini dan terdapat papan nama yang menunjukkan pemilik kamarnya. Ada yang bertiga, berdua, dan ada juga yang sendirian.
Perhatianku tertuju pada salah satu papan nama. Sai Haruka. Aku tersenyum melihatnya, dia adalah anak yang aku dan Herlin selamatkan dulu saat menyelesaikan misi di Desa Shibata. Penduduk desa sana melakukan ritual aneh yang mengorbankan anak berumur kurang dari sepuluh tahun untuk kesuburan panen mereka.
Tapi untungnya kami berhasil menyelamatkannya sebelum hal yang buruk terjadi. Dan saat aku bergeser ke pintu sebelahnya, ada nama orang yang menyelamatkannya.
Jadi ini kamar Herlin, ya. Bukannya aku penasaran dengan apa yang ada di dalamnya atau bagaimana, tapi ....
Aku menggelengkan kepalaku menghilangkan imajinasi otakku, setelah itu melihat keadaan sekitar. Suasananya sepi dan gelap. Setelah menelan ludah dan di rasa keadaannya cukup aman, aku pun membuka pintunya perlahan.
"Kalau cuma sedikit kurasa tidak apa-apa," gumamku.
Aku tahu kalau aku akan babak belur olehnya jika ketahuan masuk ke kamarnya, tapi rasa penasaranku mengalahkan rasa takutku. Jadi aku memberanikan diri untuk terus masuk.
Dan aku pun masuk ke kamar tidurnya. Tidak ada interior spesial yang mewah ataupun lucu. Desainnya sangat minimalis dengan meja belajar, meja kecil sebagai tatakan lampu tidur, dan lemari sebagai perabotan besar di kamar ini.
Banyak orang bilang kalau kepribadian seseorang bisa dilihat dari kamarnya dan itu terbukti di sini. Dekorasi simple dan beberapa foto yang dipajang di rak tempel menunjukkan kalau Herlin bukan orang yang ribet.
__ADS_1
Aku juga melihat ke foto-foto yang terpajang dan mengambil salah satunya. Ada foto Herlin bersama Yuuki-san, bersama Oita-san, dan foto ramai-ramai dengan anak panti asuhan.
Ada juga fotonya ketika dia lebih kecil— kemungkinan seumuran SMP. Wajahnya tetap tanpa ekspresi dari dulu. Aku penasaran sejak kapan dia jadi tidak berekspresi seperti itu.
"Kalau aku tanya, dia akan memberitahunya atau tidak, ya?"
"Iraya?"
"Uwaahkh!"
Aku terkejut ketika seseorang memanggil dan dari suaranya, aku sudah tahu siapa dia. "I-itu ... aku tidak bermaksud untuk—" Aku mencoba menjelaskan dengan gelagapan minta pengampunan untuk nyawaku.
"Jangan berbalik."
"Eh?"
"Aku cuma pakai handuk sekarang."
Poof...
Saat Herlin bilang seperti itu, wajahku langsung memerah dan muncul asap dari atas kepalaku. Kenapa kau memberitahunya dengan enteng banget sih, dasar Herlin bodoh!
"Ma-ma-maafkan aku. Aku akan segera keluar dari sini!"
"Sudah aku bilang jangan berbalik."
"Hkkh!"
Dia tidak berteriak. Nadanya juga dingin. Ini membuktikan kalau dirinya sedang marah besar. Bahkan tanpa melihat wajahnya pun aku tahu kalau dia sedang marah.
"E-etto ..., apa yang harus aku lakukan?" tanyaku ragu.
"Tutup matamu lalu menghadap tembok. Aku akan memberitahumu kalau aku sudah selesai berpakaian."
Aku pun menuruti perkataannya, karena tidak ada lagi yang bisa aku lakukan. Beberapa saat aku memejamkan mataku sambil pipiku terus memerah.
Dan setelah itu, Herlin telah selesai dan ia pun memanggilku lagi.
"Kau sudah boleh membuka matamu."
Aku pun membuka mataku dan melihat Herlin yang sedang duduk di kasur dengan kaos putih polos serta celana piyama. Ia memiringkan kepalanya menungguku membuka mata dan menghadap ke arahnya.
Entah ini hanya perasaanku saja atau bukan, tapi sinar bulan yang lolos lewat jendela kamar ini membuat Herlin terlihat lebih cantik dari biasanya. Apalagi dengan wajah tanpa ekspresinya.
"Jadi ...."
"I-iya?!"
"... Apa yang kau lakukan di kamarku?"
Itu dia! Pertanyaan yang aku tunggu-tunggu tapi tidak ingin kudengar! Apa yang harus aku lakukan? Jawaban bohong sama dengan menemui ajal lebih cepat, jadi aku harus berkata jujur padanya.
"A-aku melihat kamarmu terbuka lalu jadi sedikit penasaran, jadi aku masuk. Tapi aku bersumpah kalau aku tidak menyentuh apapun!"
Dia tidak langsung menanggapi jawabanku, lebih ke memutuskan apa yang akan dia lakukan untukku. Semoga saja tidak yang terlalu berat. Please, please.
"Jadi begitu."
Eh? Jawabannya lebih kalem dari yang aku duga. Apa itu berarti nyawaku aman? Ini bukan laut tenang sebelum badai menerjang, kan?
Dia memanggilku lagi. Tapi yang aku kira aku akan dihukum berat, ternyata dia malah menepuk-nepuk lembut kasur di sampingnya, sepertinya menyuruhku untuk duduk di sana.
"Eh? Aku? Duduk di situ?" Aku menunjuk diriku lalu ke kasur di sebelahnya untuk memastikan fenomena aneh ini. Dan dia pun mengangguk. Aku masih belum mengerti apa yang terjadi di sini, tapi apapun yang bisa membuatku tidak dimarahi, aku akan menurutinya.
Setelah itu aku pun duduk di samping Herlin, suasananya jadi lebih canggung dari biasanya. Apa karena ini malam hari dan kami hanya berdua di dalam kamar? Tunggu, situasi tak masuk akal macam apa ini?
Dan sesuatu yang membuat jantungku hampir copot pun lagi-lagi terjadi tanpa peringatan. Benar. Herlin tiba-tiba menaruh kepalanya di pahaku dan matanya langsung menatapku yang sedang menunduk ke bawah.
Aku yakin kalau dia bisa melihat wajah merah serta ekspresi bodoh yang tidak bisa aku tahan saat ini. "He-Herlin-san? Ada apa ini?" Secara refleks aku malah berbicara formal padanya karena sudah tidak tahu lagi apa yang sedang terjadi.
"Elus kepalaku."
"Se-serius?" Dia mengangguk lagi. Apa dia sedang mabuk? Kenapa dia tiba-tiba jadi manja begini? Tapi aku tetap mengelus kepalanya dengan agak perlahan. Dan sepertinya Herlin menikmatinya.
"Iraya ... saat pertama kali, apa yang kau pikirkan tentangku?"
Sekarang dia malah bertanya. "Pertama kali? Aku merasa kalau kau seperti monster pembunuh yang tak berperasaan. Maksudku, kau membantai para manusia kerdil itu di depan mataku tanpa ampun." Sambil terus mengelusnya, aku menjawab pertanyaan Herlin.
"Kau masih mengingatnya, ya?"
"Tentu saja, itu cukup membuatku trauma kalau kau mau tahu."
Mata Herlin melembut. Lalu dia ... tersenyum? Dia tersenyum kan tadi? Ujung bibirnya terangkat meskipun sedikit. Apa aku baru saja menyaksikan fenomena langka?
"Aku dulu tidak mengharapkanmu sama sekali. Aku hanya penasaran kenapa kau tidak pingsan saat yang lainnya pingsan, tapi auramu begitu lemah dan tak jauh berbeda dari manusia biasa."
"Ah ... itu karena ada Cecilia di dalam diriku."
"Dan sepertinya Cecilia saat itu belum lama berada di dalam tubuhmu, ya?"
"Ya begitulah. Dan setelah itu, semuanya berjalan sampai sekarang.
"Ya ...." Jika kupikirkan lebih dalam lagi, kebersamaan ini sudah terjalin cukup lama dan hebat juga karena aku tidak memiliki perasaan dengannya.
Tapi apa aku benar-benar ... tidak memiliki perasaan pada Herlin? Aku melihat wajahnya yang sedang menatapku dan menikmati elusanku. Apa jika aku membiarkannya dengan laki-laki lain aku akan baik-baik saja dengan itu? Tentu saja tidak!
Jadi mungkin saja ... aku memang memiliki perasaan padanya.
"Hei Herlin, apa ada seseorang yang kau sukai?"
"Hmm? Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"
Ga-gawat! Aku keceplosan dan perasaanku keluar lewat mulutku. Dasar Iraya bodoh! "A-ah ...! Tidak apa, tidak apa. Kau bisa melupakan hal itu. Justru malah lebih baik kalau kau melu—"
"Ada, kok."
"Eh?"
"Ada, kok. Orang yang aku sukai."
Jangan. Jangan bilang seperti itu. Jika kau menjawab seperti itu, aku tidak akan tahan untuk bertanya siapa orangnya. Sial. Kenapa kau menjawab seperti itu.
"Apa aku boleh tahu ... siapa orangnya?"
__ADS_1
Wajahku memerah. Arrhh! Peduli setan dengan harga diriku! Aku ingin tahu siapa orang yang disukai Herlin! Aku memang tidak berharap kalau jawabannya adalah diriku, sih. Tapi jika bukan .... Akhh! Sialan! Sialan! Sialan!
Aku menatap wajah Herlin dengan serius. Aku benar-benar ingin tahu jawabannya. Tapi Herlin tidak langsung menjawabnya, ia menghentikan elusanku dan bangun dari pangkuanku. Eh? Apa maksudnya ini?
"Mau jalan-jalan keluar? Di sini lebih panas dari yang aku kira." Dia tidak menjawab pertanyaanku.
"Y-ya ...."
Kami pun akhirnya berjalan keluar. Herlin mengenakan Hoodie-nya kembali dan kami berjalan di tengah malam sampai akhirnya kami tiba di tempat yang familiar, yaitu bukit belakang tempat biasa kami latihan. Saat malam, ternyata tempat ini lebih gelap dari yang aku bayangkan.
Herlin yang berjalan duluan kemudian berhenti dan membalikkan badannya menghadapku.
Sementara aku berinisiatif menjentikkan jariku dan seketika beberapa partikel spirit keluar dari sana. Menerangi tempat ini dengan sinar kehijauan.
"Kau bisa melakukan hal seperti itu sekarang?"
"Ya, hanya baru-baru ini. Para Spirit di dalam tubuhku sudah menerimaku, jadi aku bisa memanfaatkan mereka sesuka hatiku."
Herlin masih memperhatikan partikel yang terbang di sekeliling kami dengan tatapan kagum dan mencoba meraih salah satu partikel itu. "Indah sekali."
"Aku senang karena kau menyukainya."
Tapi meski kata-katanya terdengar kagum, sorotan mata Herlin entah kenapa nampak murung. Apa hanya perasaanku saja?
"Kalau sekarang ...." Herlin tiba-tiba berbicara. "Kalau sekarang, bagaimana pemikiranmu tentangku?" Dia masih bertanya tentang hal itu.
Aku tidak terlalu memikirkan hal itu, sih. Karena aku bertemu dengannya hampir setiap hari. Tapi jika aku ditanya begitu .... Aku memang selalu menganggapnya orang yang sempurna. Ditambah lagi dengan sifatnya yang kikuk dan pendiam.
Tapi setelah mengenalnya cukup lama, dia tidak selalu seperti itu. "Kau adalah seseorang yang ingin aku lindungi, Herlin. Aku tahu kalau kau memang masih lebih kuat dariku, tapi selain bertarung, kau tidak lebih dari seorang gadis perempuan biasa. Kau bersekolah, memiliki teman, dan bermain bersama mereka.
Jadi aku ingin melindungi itu, aku ingin melindungi hari-hari normalmu sebisa mungkin. Aku akan melindungi gadis kikuk dan sulit senyum itu. Karena aku sudah berjanji pada Oita-san dan itu juga menjadi janjiku pada diriku sendiri."
Itu adalah perasaan yang aku miliki padanya. Tidak ada yang bisa menyangkal kalau aku memang menyukainya.
Tapi dia malah tertawa kecil geli. Sambil menutupi mulutnya, Herlin tidak bisa menghentikan tawanya sampai butir air mata tercipta di ujung matanya.
"A-apa sih yang lucu?!" Entah kenapa setelah mengatakan itu aku jadi malu.
"Maaf, wajahmu sangat serius saat mengatakan hal itu. Jadi aku tidak bisa menahan tawaku." Setelah puas, akhirnya ia melanjutkan kata-katanya. "Hah ... kau memang selalu jadi yang pertama, kau tahu?"
"Maksudnya?"
"Kau yang pertama kali membuatku tertawa geli, merasa bangga, kau juga partner pertama dan murid pertamaku, kau juga bisa membuatku marah, juga sedih. Kau selalu jadi yang pertama ...."
Dia berhenti sebentar dan setelah itu tersenyum mengatakan kata yang selanjutnya.
"... Bahkan orang pertama yang membuatku jatuh cinta."
Mataku melebar dan pipiku memerah. Aku tidak mungkin salah dalam mendengarnya kata-katanya yang tadi, karena di sini sangat sepi.
"Awalnya memang terasa aneh, tapi sekarang aku sadar. Aku mencintaimu, Iraya. Apa aku boleh mengatakan itu padamu? Rasa sesak di dada ketika kau bersama wanita lain dan keinginan untuk terus bersamamu. Ternyata itu memang perasaan cinta. Memang memalukan, tapi aku lega karena aku bisa mengatakannya padamu sekarang."
Ahh .... Jadi ini rasanya menjadi pengecut? Padahal aku bisa mengungkapkannya duluan, tapi aku malah keduluan olehnya. Dari dulu aku memang seorang yang pecundang, sih. Tapi meski begitu, Herlin sudah mengungkapkan perasaannya. Jadi aku harus membalasnya.
Aku juga mencintainya. Aku mau bersamanya lebih lama lagi. Bahkan jika aku sudah lulus sekolah dan jika sudah tidak berada di Black Rain lagi, aku masih mau bersama dengan Herlin. Dan aku akan mengatakan itu padanya.
"Herlin, aku juga—"
"Tapi yang mencintaimu adalah Ririsaka Herlin."
"A-apa maksudmu?" Tiba-tiba dia mengatakan sesuatu yang aneh. Tatapan matanya yang awalnya lembut kini kembali berubah menjadi penuh kesedihan.
"Saat di atap gedung radio, ketika pertarungan kita telah selesai, seorang wanita menghampiriku. Wanita yang sangat mirip denganku itu kemudian memberitahu nama asliku."
Ternyata memang ada sesuatu yang Herlin bicarakan saat di atap dengannya. "Nama asli? Apa kau yakin kalau itu bukan hanya bualannya saja?"
"Herlinia. Itu adalah nama asliku. Dan nama Ririsaka Herlin ini adalah nama palsu yang diberikan seseorang agar aku bisa hidup di Jepang."
Tidak. Tidak mungkin. Kehidupan kami baru saja akan dimulai. Herlin sudah menyatakan perasaannya kepada dan aku juga akan melakukan hal yang sama. Tapi kenapa harus ada sesuatu yang menghalangi kami? Kenapa selalu begini?!
"Kau tidak perlu memikirkannya lebih lanjut, ya, Herlin? Aku yakin kalau dia hanya berbicara omong kosong saja. Maka dari itu, mari kita kembali ke panti asuhan."
"Aku tidak bisa."
"Apa?"
"Aku harus mencari tahu tentang orang tuaku. Dan itu berarti aku harus pergi. Oita-san juga bilang sebelum kematiannya kalau wajahku adalah gabungan dari wajah kedua orang tuaku. Aku tidak bisa tidak kepikiran setelah itu. Ayah, ibu, dan wanita itu ... aku harus mencari tahu tentang mereka."
"Tidak adil ...." Aku tiba-tiba bergumam. Karena kepalaku sudah tidak bisa berpikir apa-apa lagi. "Kenapa setelah kau menyatakan perasaanmu, kau malah ingin pergi dari sini?!" Aku berteriak.
"Itu .... Maafkan aku."
"Maaf?! Apa kau pikir 'maaf' saja dapat menyelesaikan hal ini?! Kau sudah menghancurkan harapan yang aku miliki begitu saja! Apa kau tidak memikirkan apa yang aku rasakan beberapa saat lalu?!"
"Lalu aku harus apa?!" Herlin membalas berteriak. "Apa yang harus aku lakukan dengan perasaan tak karuan ini?! Beritahu aku! Aku bahkan tidak bisa menikmati pesta ulang tahunku sendiri karena terus kepikiran dengan hal ini. Aku ini memang yang terburuk! Padahal kalian sudah berusaha keras ... kalian sudah berusaha keras ...."
Kini air mata kesedihan jatuh di pipi Herlin. Ternyata dia memang tidak bersenang-senang. Dan isi kepalanya juga sedang tidak berada di pesta itu. Aku pun kemudian mendekatinya dan mengulurkan tanganku.
"Jika kau bilang butuh pertolongan, tentu saja aku akan menolongmu, dasar bodoh! Kau selalu diam dan tidak bicara apa-apa, mana mungkin orang tahu apa yang ada di pikiranmu."
Sesenggukan Herlin perlahan sudah lumayan mereda dan kini ia melihat ke arah uluran tanganku.
"Ya ampun, kau ini memang sesuatu, ya?"
"Bukankah sudah aku bilang, kalau aku yang akan melindungimu. Jadi sandarkan kepalamu sesering mungkin ke bahuku."
Perlahan Herlin mulai menjulurkan tangannya untuk menerima uluran tanganku. "Aku sungguh, sungguh, berterima kasih dari hatiku yang paling dalam. Dan juga ...."
Craashh...
Tiba-tiba sesuatu yang tak terlihat menusuk perutku. Benda tajam itu cukup ramping. Apa ini pisau— tidak, ada lima tusukan secara bersamaan. Ini kuku seseorang?! Aku kemudian melihat ke arah Herlin. Sekelebat, aku dapat melihat Banshee di depannya.
"... Selamat tinggal."
Banshee kemudian menarik kukunya yang menusukku. Tusukannya cukup dalam bahkan sampai menembus punggungku dan aku juga langsung tersungkur ke tanah dibasahi oleh darahku sendiri yang mengalir deras.
"Iraya! Bertahanlah!"
Aku dapat mendengar Cecilia berteriak panik di dalam kepalaku, tapi aku terlalu fokus pada Herlin yang sedang mengatakan sesuatu.
"Aku titip Anna-san dan Black Rain kepadamu, Iraya. Lalu .... Nama 'Ririsaka Herlin' ini, akan aku buang jauh-jauh." Herlin kemudian berbalik badan dan berjalan pergi.
Sementara aku masih mencoba untuk mengulurkan tanganku meraih Herlin. Tapi itu percuma, dia sudah pergi terlalu jauh. Tubuhku juga sudah tidak kuat lagi dan perlahan kesadaranku pun menghilang.
__ADS_1
Bersambung