Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 102 : Ardenter dan Nimis


__ADS_3

Di sebuah gedung perkantoran, di malam hari yang tenang. Sekitar pukul setengah sembilan malam ketika waktu kerja sudah usai dan kebanyakan orang-orang telah kembali ke rumah.


Tapi kemudian ada sebuah mobil hitam yang berhenti tepat di depan pintu masuk gedung itu lalu segerombol orang dengan pakaian tuxedo lengkap serta kacamata hitam. Tubuh mereka juga terlihat kekar dan berotot.


Setelah memeriksa kalau di sekitar mereka tidak ada pejalan kaki yang sedang lewat, mereka semua pun keluar dari dalam mobil dan masuk ke gedung tersebut.


Mereka juga membawa sebuah koper berwarna hitam yang terlihat sangat dilindungi karena orang yang membawa koper itu dikelilingi oleh para orang bertubuh kekar tadi.


Tapi tanpa mereka sadari, tepat di seberang jalan gedung perkantoran itu. Ada dua orang yang sedang memperhatikan mereka semua. Mereka berdua duduk di sebuah warung angkringan dengan penjual tua yang merupakan pemiliknya.


Setelah memesan sesuatu agar terlihat seperti seorang pembeli asli, mereka berdua kemudian membicarakan rencananya sebentar sebelum masuk ke dalam gedung itu.


Mereka berdua adalah Nigiyaka dan Akihito. Kali ini mereka sedang melakukan pekerjaan mereka sebagai seorang Assassin, sama seperti sebelumnya.


Awalnya mereka berdua ingin berhenti menjadi seorang Assassin karena telah bergabung dengan Black Rain, tapi karena tiba-tiba Black Rain dikeluarkan dari Kuni no Hashira membuat mereka kekurangan dana.


Dan itulah yang membuat mereka kembali pada pekerjaan lama mereka. Kembali menggunakan nama 'Nimis' dan 'Ardenter' lagi.


Meskipun mereka tidak menyukainya karena ini adalah nama pemberian dari Astaroth, tapi karena nama satu ini telah terkenal di dunia bawah. Maka mereka akan menggunakannya lagi.


"Silahkan."


"Terima kasih."


Penjual tadi menyajikan beberapa gorengan pesanan kedua orang tadi dan kemudian kembali pada kesibukannya sendiri.


"Nee ... tujuan kita adalah koper itu, kan?" tanya Ardenter.


"Ya."


"Apa kau tahu isi di dalamnya?"


"Entahlah, aku tidak diberitahu oleh pelanggan. Tapi aku menebak kalau itu hanyalah perhiasan seperti yang biasa kita lakukan."


"Seperti yang biasa kita lakukan, ya?"


"Apa kata-kataku salah?"


"Tidak, hanya saja aku jarang mendengar hal seperti itu darimu."


Nimis tidak membalas lagi perkataan Ardenter. Ia melihat ke arah pesanannya yang belum dimakan sama sekali sementara Ardenter sudah habis hampir setengahnya.


Tiba-tiba ia terpikirkan hal yang jarang ada di dalam pikirannya, yaitu tentang masa lalu mereka dan pertemuan mereka pertama kali.


"Apa kau masih ingat waktu itu? Saat pertama kali kita bertemu."


"Hah? Tentu saja tidak, untuk apa aku mengingat-ingat masa lalu."


"Saat itu kau berhasil menghajar gerombolan anak-anak yang lebih tua darimu, padahal saat itu kau hanyalah seorang anak SMP."


"Aku tidak peduli soal hal itu."


Meskipun Ardenter sudah bilang kalau ia tidak tertarik, tapi Nimis masih terus bercerita. Dan ia memulai ceritanya dari saat kejadian setelah Ardenter menghajar gerombolan anak SMA.


Kembali ke beberapa tahun lalu, saat itu Nimis yang masih berumur sekitaran anak SMP terkejut saat Ardenter melemparkan kaleng minuman ke arahnya.


Ternyata Ardenter telah mengetahui kalau Nimis bersembunyi di sana dari tadi dan menyuruhnya keluar.


"Mau sampai kapan kau sembunyi di sana? Cepat tunjukkan dirimu!"


Nimis kecil pun kemudian menunjukkan dirinya yang membuat Ardenter tidak percaya karena orang yang mengintip perkelahiannya tadi adalah seorang gadis seumurannya.


"Perempuan? Apa yang kau lakukan disini? Cepat keluar dari sini! Ini bukan tempat untuk bermain!"


Ardenter mengusir Nimis yang dari tadi bersembunyi di sana dan setelah itu ia mengambil minuman kaleng yang lain karena yang sebelumnya sudah ia lemparkan ke Nimis.


Saat membukanya dan meminumnya, Ardenter bingung karena Nimis sama sekali tidak bergerak dari tempat sebelumnya. Ia masih terus melihat ke arah Ardenter.


"Oi, apa kau tuli?"


"...."


Nimis tentu saja bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Ardenter, hanya saja ia tidak melakukannya karena ada yang ia ingin sampaikan kepadanya.


Ardenter juga sepertinya menyadari hal itu karena Nimis yang menunduk gugup. Akhirnya Ardenter pun berjalan menghampiri dan menatap langsung ke arah matanya.


"Apa kau ingin mengatakan sesuatu? Lagipula, apa kau ini bisa berbicara?"


"A-apa ...."


"Hah?"


"Apa kau bisa melindungiku?"


Pertanyaan itu membuat Ardenter tentu saja bingung. Karena mana mungkin perempuan yang baru saja ditemuinya meminta Ardenter untuk melindungi dirinya.


Tapi Nimis tidak berhenti bicara sampai disitu, ia menjelaskan alasannya kenapa ia meminta Ardenter untuk melindunginya.


"Aku tidak punya tempat tinggal karena sudah terbakar habis, kedua orang tuaku juga sudah meninggal. Aku tidak memiliki orang yang bisa dipercayai lagi. Orang tuaku bilang kalau jangan percaya dengan apa yang orang asing apalagi dewasa katakan, makanya aku kabur dari orang yang ingin mengurusku."


"Kalau begitu, kenapa kau bisa bilang seperti itu padaku? Aku ini juga orang asing bagimu."


"Tapi setidaknya kau ini seumuran denganku dan terlebih lagi saat aku melihat pertarunganmu tadi, aku jadi yakin kalau kau adalah orang yang tepat untuk melindungiku."


Ardenter mendengarkan penjelasan Nimis dengan seksama. Dan setelah ceritanya selesai, ia juga tidak langsung berbicara. Ardenter malah menghela nafas karena tidak percaya ada orang sepolos dan sebodoh ini.


"Hei kau, siapa namamu?"


"Ni-Nigiyaka."


Greb... Braakhh...


Ardenter kemudian menarik baju bagian leher Nimis dan melemparnya ke tembok sehingga ia menabraknya dengan keras. Dan Ardenter malah marah-marah kepada Nimis karena cerita bodohnya tadi.


"Dengan kata lain, kau ingin aku jadi pengasuhmu begitu?! Mana mungkin aku mau, dasar bocah bodoh!"

__ADS_1


"I-itu ...."


"Kau mau aku melindungimu dan menjadi pengasuhmu?! Siapa yang sudi melakukannya kepada orang yang baru ia kenal?!"


"Ta-tapi jika aku sendirian, maka aku tidak bisa bertahan hidup."


"Itu bukan salahku! Itu adalah salahmu sendiri karena kau lemah! Orang lemah di manapun tempatnya tidak akan bisa bertahan, bahkan jika kau berada dalam perlindunganku!"


"Menjadi kuat? Apa itu ... bisa aku lakukan?"


"Siapapun bisa jadi kuat, bahkan orang bodoh sekalipun! Lemah itu hanyalah pilihan dari orang-orang yang pemalas dan tidak ingin berjuang. Dan langkah pertama untuk menjadi kuat adalah dengan melepaskan semua emosimu!"


"Melepaskan ... semua emosiku?"


"Kau menahannya, bukan? Saat rumahmu terbakar dan orang tuamu meninggal?"


Berbagai macam penjelasan yang diberikan oleh Ardenter membuat Nimis kecil bingung dan juga shock. Tapi ia lebih terkejut ketika Ardenter tahu kalau ia menahan semua emosinya saat hal-hal buruk menimpanya.


"Jika kau pikir melepaskan emosimu adalah perbuatan orang lemah, maka itu adalah kesalahan terbesarmu! Menangis, berteriak, sedih, cemburu, marah, dendam. Itu adalah pertanda bahwa kau adalah orang lemah yang mencoba untuk menjadi kuat."


Penjelasan Ardenter benar-benar bertolakbelakang dari yang selama ini Nimis pikirkan. Ia berusaha menutupi semua emosinya agar orang lain berpikir kalau dia adalah seorang yang kuat.


Tanpa sadar, air mata pertama jatuh setelah sekian lama bagi seorang Nimis. Dan kemudian diikuti oleh air mata lainnya.


"Ayah ... ibu ... mereka semua sudah mati."


"Benar. Keluarkan semua emosimu. Rasakan perasaan menyakitkan yang saat ini sedang menguasai tubuhmu."


"Aku tidak mau .... Kembalikan ... kembalikan kedua orang tuaku!"


Blaaarrr...


Teriakan keras dari Nimis akhirnya keluar. Tapi ada satu hal yang membuat Ardenter terkejut, yaitu ledakan api yang keluar dari tubuh Nimis dan membuat Ardenter terpental membentuk tembok.


Tangisan Nimis masih terus bergema di ruangan ini bersamaan dengan api yang membara semakin menggila. Ardenter yang lengah dan tidak siap dengan api itu pun kemudian bangun dan mencoba menyelamatkan Nimis.


Meskipun ia baru mengenal dan melihatnya, tapi ia tidak bisa membiarkan seorang perempuan dimakan api di depan matanya begitu saja. Ia mencoba menerobos api tersebut meskipun saat ini tubuhnya terdapat banyak luka bakar.


"Sial, ternyata dia juga orang yang sama denganku," gumam Ardenter.


Ardenter masih bisa mendengar tangisan Nimis dari kencang dan panasnya api yang membakar bagian dalam gedung ini. Dan setelah berhasil mendekati Nimis, ia menarik tangannya dan melompat keluar dari jendela meskipun saat ini mereka berada di lantai dua.


Nimis dan Ardenter pada akhirnya berhasil keluar dari sana meskipun gedung itu terbakar habis berkat kekuatan yang keluar dari tubuh Nimis.


Ardenter yang memeluk Nimis dan membiarkan tubuhnya yang menyentuh tanah duluan sehingga tubuh Nimis tidak kesakitan, ia masih bisa merasakan panas yang membakar dari orang yang ia peluk saat ini.


"Ini adalah langkah pertamamu, untuk menjadi lebih kuat."


Nimis juga masih belum berhenti menangis kencang dan untuk beberapa saat, mereka tidak bergerak dari posisi itu.


Kembali ke masa saat ini, Nimis yang dari tadi bercerita sendiri sejak tadi. Tapi sebenarnya ia mengeraskan suaranya sedikit agar Ardenter yang sedang makan juga bisa mendengarnya. Dan saat ceritanya selesai, Nimis pun melihat ke arah Ardenter.


Ardenter yang menyadari kalau ia diperhatikan oleh Nimis jadi merasa sedikit terganggu.


"Ada apa? Sudah kubilang kalau aku tidak tertarik dengan cerita masa lalu."


"Tidak, aku tidak ingat sama sekali."


Ardenter yang piring miliknya sudah bersih kemudian mengambil piring milik Nimis yang belum disentuh sama sekali. Ia tahu kalau Nimis tidak akan memakannya jadi ia langsung mengambilnya tanpa izin.


Sementara Nimis yang melihat hal itu hanya tersenyum tipis dan kemudian berdiri dari tempat duduknya lalu melakukan peregangan sedikit sebelum akhirnya berjalan keluar dari warung angkringan itu.


"Mau kemana kau?"


"Tentu saja menjalankan misi."


"Tunggu sampai aku menyelesaikan makananmu."


"Aku tidak butuh bantuanmu kalau hanya misi seperti ini."


"Oi!"


Zwuuushh... Praang...


Nimis langsung melompat dan masuk memecahkan kaca ke lantai kedua meninggalkan Ardenter yang masih bengong melihatnya pergi.


"Ya ampun, orang itu!"


Ardenter langsung mengangkat piringnya dan memakan semuanya dalam satu suapan. Lalu setelah membayarnya ia pun pergi menyusul Nimis yang sudah pergi duluan.


Sementara itu di dalam, gerombolan orang yang membawa koper hitam yang dijaga dengan ketat itu naik ke lift dan naik sampai ke lantai 17. Saat pintu lift itu terbuka, tiba-tiba seseorang sudah menunggu mereka di depan pintu lift.


Mereka semua terkejut dan bingung kenapa ada orang yang menghalangi jalan mereka. Apalagi ia membawa sebuah pedang di punggungnya.


Dengan tatapan fokus dan mengintimidasi, Nimis fokus ke semua orang yang ada di sana dan orang yang membawa koper itu. Salah satu orang itu pun mengenali Nimis dan berbicara dalam nada yang ketakutan.


"O-orang itu kan ... salah satu Assassin yang terkenal. Nimis!"


"Apa?!"


"Hmm ... sepertinya aku tidak perlu menjelaskan kedatanganku lagi," ucap Nimis.


"Serang dia semuanya! Yang dia incar adalah koper ini!"


Dor... Dor... Dor...


Mereka semua mengeluarkan pistol dari dalam saku mereka dan mulai menembaki Nimis secara beruntun. Tapi Nimis dapat dengan mudah menangkis semua peluru yang melesat ke arahnya dengan pedang yang bahkan belum ia keluarkan dari sarungnya.


Meskipun terbuat dari kayu biasa, tapi sarung pedang itu sudah dilapisi dengan aura oleh Nimis sehingga sarungnya menjadi lebih kuat dari sebuah timah panas.


Melihat serangan mereka tidak berhasil membuat mereka mulai putus asa dan hal itu semakin memudahkan pekerjaan bagi Nimis. Tapi saat Nimis sudah mengeluarkan pedangnya, ada suara dari dalam lift yang mengomentari Nimis.


"Wah, wah, wah, ternyata benar-benar ada yang menginginkan isi koper itu, ya?"


"Benar. Padahal isinya hanyalah benda tidak berguna saja."

__ADS_1


Dua orang yang berbicara itu kemudian berjalan melewati gerombolan orang dengan tuxedo tadi. Mereka berjalan dengan santainya menghadapi Nimis.


"Terlebih lagi yang ingin merebutnya adalah Assassin yang cukup terkenal."


Sepertinya mereka berdua Assassin yang ditugaskan untuk menjaga isi koper itu agar tidak direbut oleh orang. Tapi sayangnya Nimis tidak mengenal siapa kedua Assassin itu.


"Siapa kalian? Kalian sepertinya juga seorang Assassin sama sepertiku," ucap Nimis.


"Hehe ... kau pasti bercanda. Tidak mungkin kau tidak mengenali Assassin terkenal sepertiku."


Nimis menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar tidak mengenali Assassin yang ada di depannya ini. Tapi sepertinya itu membuatnya terpancing emosi.


"Jangan sombong karena kau terkenal, sialan! Ingat nama orang yang akan membunuhmu ini!"


Blaaarrr... Zwuuushh...


Aura yang kemudian berubah menjadi api di sekeliling tubuh Assassin itu. Lalu yang satu lagi juga hampir sama, bedanya ia dikelilingi oleh angin ribut yang menyayat.


"Namaku Hell Stone!"


"Dan aku Windmill!"


"Rasakan kombinasi dari serangan yang dapat membakar habis manusia sampai ke tulangnya ini!"


Zwuuushh... Blaaarrr...


Hell Stone dan Windmill kemudian menggabungkan masing-masing serangannya sehingga menjadi serangan yang lebih besar dan kuat yang langsung tertuju kepada Nimis.


"Fire Burning Ashes!"


Duaaarrr...


Teriakan keduanya bersamaan dengan serangan mereka yang mengenai Nimis secara telak. Sedangkan Nimis tidak bergerak sama sekali dari tempatnya berdiri saat ini dan menerima semua serangan yang diberikan oleh mereka berdua.


Setengah lantai gedung perkantoran ini juga ikut terbakar akibat serangan dari mereka berdua. Dan setelah beberapa detik serangan itu menghilang, mereka berdua terlihat kelelahan karena itu adalah serangan terkuat mereka berdua.


Mereka sama sekali tidak menahan diri karena terbawa emosi tidak dikenali oleh Nimis. Mereka saat ini juga yakin kalau serangan mereka berhasil mengenai Nimis.


"Hah ... hah ... itulah akibatnya karena tidak mengenal Assassin hebat seperti kami," ucap Hell Stone.


"Benar ... sekali."


Tapi dari balik kobaran api itu. Muncul seseorang yang merusak semua khayalan mereka atas kemenangan dari Nimis. Ia sama sekali tidak terlihat kesakitan dan tidak menerima luka bakar sama sekali.


"Kalian bilang kalian sudah mengenaliku? Lalu kenapa kalian menyerangku dengan api?"


"Bagaimana bisa?!" Mereka berdua tampak terkejut karena serangan terkuat mereka bahkan tidak menggores Nimis sedikitpun.


"Dengarkan aku baik-baik, dasar orang-orang bodoh. Orang-orang seperti kalian lah yang membuat nama Assassin jadi rusak ...."


"H-Ha?"


"Menggunakan nama yang konyol dan bahkan menamai jurusmu dengan nama yang tidak kalah konyolnya. Kalian pikir nama bodoh itu bisa memperkuat serangan kalian? Apa otak kalian sudah meleleh?"


Nimis menceramahi kedua Assassin itu dan membuat mereka semakin ketakutan dan juga shock karena masih tidak percaya. Dan untuk mengakhiri pertarungan tak berguna ini, Nimis memberitahu mereka satu hal.


"Aku akan memberitahu kalian satu hal."


"Satu hal?"


"Ya. Bahkan jika planet bumi ini terbakar hangus oleh api, api itu tetap tidak akan bisa membuatku terluka. Itulah yang membedakan Assassin sungguhan dengan Assassin gadungan seperti kalian. Kami memiliki kemampuan unik kami masing-masing."


"Ti-tidak mungkin."


"Kalian orang-orang bodoh tidak mungkin akan percaya, dasar badut."


Baagh... Baagh...


Tapi saat Nimis sedang berbicara, kedua Assassin itu tiba-tiba pingsan dan dari belakang mereka terlihat Ardenter yang memukul tengkuk mereka berdua.


"Akhirnya kau datang juga," ucap Nimis.


"Jangan membuatku membayar makananmu, dasar nenek tua."


"Umur kita hanya berbeda dua tahun. Dan Ngomong-ngomong, terima kasih atas traktirannya."


"Tcih."


Ardenter kemudian berjalan ke arah orang yang memegang koper tadi. Kali ini sudah tidak ada yang berani melawan karena sudah melihat kekuatan Nimis dan membiarkan koper itu diambil oleh Ardenter.


Dan saat Ardenter membukanya, ia terkejut sekaligus kesal dengan apa yang sebenarnya ingin mereka ambil sampai harus membakar setengah lantai gedung perkantoran ini.


"Dasar orang maniak," ucap Ardenter.


"Memangnya apa isinya?"


Nimis kemudian juga ikut melihatnya. Dan isinya hanyalah sebuah sarung bantal Dakimakura dengan gambar idol yang sedang tren saat ini, yaitu Koyomi Arisu. Selain itu ada juga gambar idol yang lainnya seperti Oniri Ayamy dan Usagi Pecola. Dan selain sarung bantal itu, ada juga beberapa perhiasan lainnya seperti foto, gantungan kunci, dan beberapa action figure lainnya.


"Jadi ... ini yang pelanggan kita inginkan?" ucap Nimis.


"Aku sudah tidak peduli lagi, cepat bawa kopernya dan kita akan segera ambil uang pelanggannya."


Nimis dan Ardenter pun kemudian turun menggunakan lift meninggalkan kekacauan yang mereka lakukan di lantai 17 tadi.


Dan saat di dalam lift, Ardenter membuka pembicaraan terhadap Nimis yang juga sedang melamun.


"Hei."


"Ada apa?"


"Waktu itu aku tidak melemparmu ke arah dinding, aku melemparmu ke sofa bekas. Aku tidak sebegitu teganya melempar bocah perempuan ke dinding yang keras," ucap Ardenter.


Mendengar hal itu, ekspresi yang pertama Nimis keluarkan tentu saja sebuah senyuman. Meskipun keras kepala, tapi setidaknya Ardenter tidak melupakan pertemuan pertama mereka.


"Sudah kuduga kau mengingatnya."

__ADS_1


"Berisik, nenek tua."


Bersambung


__ADS_2