
Oukami Yuu PoV
Arisu dan yang lainnya telah pergi dari sini. Aku akan menyerahkan misi penyelamatan kota ini pada mereka. Kondisi kota Nagoya menjadi lebih kacau daripada perkiraanku dan ini adalah ulah dari seseorang— kemungkinan besar salah satu Assassin.
Tapi kita kesampingkan dulu hal itu, Assassin lain kini tepat berada di depanku. Tinggi menjulang hampir 3 meter dan tubuhnya yang hampir tidak memiliki lemak, otot adalah keseluruhan tubuh yang dia miliki saat ini.
Iraya sempat menyebut namanya. Baram, kalau tidak salah. Aku pernah mendengarnya meskipun agak samar. Dia adalah salah satu Assassin yang bekerja sama bersama Astaroth dan Ayakashi Corp.
Tapi dari desas-desus yang kudengar, Astaroth sudah mati dan kelompok mereka dibubarkan. Bahkan dua dari mereka— Nimis dan Ardenter, yang saat ini sedang berjaga di dome bergabung dengan Black Rain.
Melakukan serangan sebesar ini setelah kehilangan ketua mereka terlihat seperti .... Entahlah, serangan putus asa bercampur dengan sedikit dendam? Mereka seharusnya menyingkir sebentar untuk memulihkan kekuatannya.
Sepertinya mereka punya pemikiran sendiri. Jadi aku tidak bisa menilainya.
"Kau ...." Dia membuka mulutnya.
"??"
Berhenti menebak-nebak, Yuu. Lawan di depanmu lah yang penting sekarang. Aku sempat menerima serangannya dan aku bisa merasakan kalau dia adalah seorang yang kuat serta jenius. Dia bisa menghilangkan keberadaannya dengan sempurna dan menyerang secara tiba-tiba.
"... Siapa namamu?"
Dia menanyakan namaku. Aku tidak tahu apa tujuannya tapi sepertinya itu bukan sesuatu yang perlu disembunyikan. "Namaku Oukami Yuu. Namamu Baram, kan? Sebelum bertarung, aku punya pertanyaan untukmu."
"Oukami Yuu? Baiklah, aku sudah mengingatnya. Apa yang ingin kau tanyakan, Oukami Yuu?"
"Kenapa terburu-buru?"
"Apa?"
"Aku dengar pemimpinmu baru saja tewas, tapi kenapa kalian sangat terburu-buru untuk kembali menyerang lagi? Apa kalian se-putus asa itu? Atau mungkin kalian menyimpan dendam pada kami? Pada organisasi Kuni no Hashira?"
Dia terdiam sebentar. Sepertinya pertanyaanku mengenainya cukup telak. Karena aku yakin dia ini cukup pintar untuk menyusun sebuah strategi, tapi dia malah ikut ke dalam rencana yang terlihat seperti sebuah rencana setengah matang ini.
"Ada satu kesalahan dari pernyataanmu barusan."
"Apa?"
"Bos kami belum mati."
Mataku membelalak. Tidak mungkin informasi yang disebarkan oleh Aoda-san palsu, apalagi dia tipe orang yang mengecek kebenarannya dulu sebelum memberitahukannya pada kami.
"Apa kau sedang mempermainkanku saat ini? Tidak mungkin Ketua Aoda memberikan berita palsu pada kami."
"Dia tidak salah, tapi di satu sisi sedikit keliru. Aku tidak akan memberitahukan lebih lanjut bagaimana caranya, tapi yang aku katakan saat ini adalah sebuah kebenaran."
Aku tidak mempercayainya. Tidak, aku malah bingung yang mana yang harus aku percaya. Ketua Aoda tentu saja tidak mungkin berbohong, aku kenal sekali sifatnya yang tidak pernah bercanda ketika memberikan informasi sebesar itu. Meskipun begitu ....
Aku melirik ke arah mata Baram. Jika yang dikatakannya adalah kebenaran, maka itu akan menjadi masalah baru bagi kami. White Cloud yang sudah lebih rileks ketika mendengar kabar kematian Astaroth, jika mengetahui hal ini ... aku tidak tahu akan jadi separah apa.
Tapi kita kesampingkan dulu hal yang masih belum pasti itu. Dia tetap tidak menjelaskan tentang penyerangan ini. "Tapi tetap saja itu tidak menjawab pertanyaanku."
"Misalkan saja yang kau katakan itu adalah sebuah kebenaran, tapi aku rasa Astaroth tidak akan memberikan keputusan buru-buru seperti ini. Apalagi kalian tidak sedang dalam kondisi terbaik kalian setelah bertarung di Kyoto waktu itu. Makanya aku menganggap kalau penyerangan ini ganjil," lanjutku.
Dia kembali terdiam dan melihat ke lantai. Aku tidak tahu dia sedang merangkai cerita baru atau menyadari kesalahannya— Atau bisa saja ada debu yang masuk ke matanya tiba-tiba. Tidak, lupakan kata-kataku yang terakhir itu.
Aku masih menunggu balasannya. Pada dinginnya malam dan kegelapan ruangan kantor yang hanya diterangi benderang cahaya bulan. Kesunyian ini membuat dunia seakan melambat.
"Kurasa kau benar. Ini memang rencana yang terburu-buru." Akhirnya ia berbicara lagi. Sudah kuduga dia menyadarinya. "Jika kau tahu hal itu, kenapa kau masih ikut dalam rencana ini? Apa sebenarnya rencana Astaroth dan apa yang ada di dalam kepalamu?" tanyaku.
"Sepertinya ... dia ingin membunuh kami semua dalam rencana ini."
"Apa?!"
"Rencana ini terburu-buru, bahkan Bos sendiri tidak ikut ke dalamnya. Dia bilang dia ingin memulihkan tenaganya akibat pertarungan di Kyoto. Jadi aku tidak punya dugaan lain selain dia mencoba membunuh kita semua dalam rencana ini."
__ADS_1
Entah kenapa aku kesal mendengarnya. Meskipun dia musuhku, tapi perasaan panas di dalam hatiku ini meluap keluar. Padahal dirinya sudah tahu kalau ini adalah rencana bunuh diri, tapi dia tetap mengikutinya dengan patuh.
"Lalu kenapa?! Kenapa kau mengikutinya?! Apa kau ingin mati?!"
"Tentu saja tidak."
"Terus kenapa?!"
"Aku adalah seorang ahli beladiri, dengan kata lain aku adalah ksatria pada zaman ini. Aku sudah tidak punya hal yang ingin ku lindungi lagi selain Bos dan yang lainnya, makanya aku tetap mengikutinya. Dan jika aku mati karena rencana ini, itu berarti memang sudah takdirku untuk mati di sini. Aku tidak menyesali pilihanku."
"Sialan, kau membuatku kesal! Apa kau ini sangat bodoh, ya?"
"Bodoh? Kurasa kau tidak mengerti. Ini adalah kebanggaanku karena bisa berguna bagi rekan-rekanku, aku adalah bodyguard dari Bos. Dan tentu saja aku siap mati untuknya."
"Kebanggaan? Harga diri? Itu semua omong kosong! Kalau kau ingin hidup, hindari pertarungan yang mustahil. Persetan dengan kebanggaanmu itu! Manusia hidup dengan menghindari bahaya, apa hal sesederhana itu begitu sulit kau mengerti, hah?!"
"Itu yang membedakan dirimu dengan aku, kau sama sekali tidak mengerti apa itu kehormatan dan kebanggaan menjadi seorang ksatria."
"Sepertinya aku harus mengajarimu lewat teknikku, ya?"
"Jika aku ingin kembali hidup-hidup, maka yang harus aku lakukan pertama kali adalah mengalahkanmu. Dan itu akan aku lakukan."
Kami berdua sepertinya tidak memiliki kesamaan. Sifat keras kepalanya entah kenapa mengingatkanku padanya— Tiba-tiba wajah menyebalkan Iraya muncul di kepalaku. Aku menghapuskan wajah menjengkelkannya dari benakku dan kembali fokus.
Kalau tidak salah dia itu tipe petarung tangan kosong, ya? Kalau begitu aku akan menyesuaikannya. Perisai aura buatanku perlahan menghilang dan berubah menjadi partikel kecil yang juga menghilang. Aku memfokuskan auraku dan membentuk sebuah senjata baru.
"Hmm?" Dia terlihat bingung dengan apa yang akan kulakukan.
Aura berkilauan di tanganku dan berubah menjadi sepasang brass knuckles. Bukan hanya itu saja yang telah kuciptakan, zirah tanpa lengan yang melindungi tubuhku, lalu di bagian kaki juga tidak ketinggalan, dan terakhir pada bagian kedua lenganku— terpisah dengan baju.
Setelah semuanya siap, aku memasang kuda-kuda menyerang. "Aku siap!"
"Jika kau pikir itu bisa membuatmu menang dariku, maka kau salah besar."
"...."
"...."
Kami berdua menghilang dari tempat pijakan kami berdiri— lebih tepatnya bergerak dengan cepat, tapi terlalu cepat dan membuatnya terlihat seperti menghilang. Lalu berhenti ketika mulai bertarung dan menimbulkan efek dentuman angin yang menghempaskan kertas serta barang-barang kantor kecil lainnya.
Aku mencoba menembus pertahanannya dan mengarahkan pukulan brass knuckles-ku pada dadanya, tapi dia menangkap lenganku dan menahannya dengan satu tangan. "Tch!" Aku mencoba untuk melepaskannya tapi dia menyerang dengan tangan lainnya.
Pergerakan yang cepat namun berbobot dari setiap pukulannya membuktikan kalau dia memang seorang ahli beladiri sejati. Tapi aku masih bisa menahan semua pukulannya— meskipun cepat, tapi aku juga tidak kehilangan fokusku.
Pertarungan dengan satu tangan ini tidak bertahan lama, Baram menendang dengan tendangan vertikal mencoba mengincar daguku yang dapat kuhindari dengan mendongak dan mundur sedikit ke belakang.
Dalam keadaan yang tidak menguntungkan baginya itu, aku memanfaatkannya dengan melakukan tendangan ke arah telinganya. Tapi Baram masih bisa menahannya dengan satu tangan yang bebas itu.
Efek tendanganku sepertinya cukup berdampak sehingga membuat genggaman Baram pada lenganku melemah. Aku langsung menariknya dan lepas dari genggamannya, tanpa jeda aku langsung mengarahkan pukulan bertubi-tubi.
Ia dapat menahan serta menghindarinya dengan cukup mudah dan di saat terakhir, mundur dan salto ke belakang mengambil jarak. Sial! Padahal tubuhnya besar, tapi dia bisa bergerak selincah itu.
Baram mendarat sempurna. Ia kembali menguatkan kuda-kudanya dan tidak membuang banyak waktu dengan langsung bergerak dari tempatnya berdiri. Aku sedikit kehilangan dirinya tapi tahu darimana dia akan menyerang jadi aku membentuk pertahanan dengan kedua tanganku menjadi 'X'.
"Lumayan."
Aku sempat mendengarnya memujiku ketika aku menerima pukulan telak yang mengenai kedua lenganku. Meskipun tidak berdampak besar, tapi itu mendorongku dan membuatku tidak seimbang.
Baram langsung melesat maju dan siap kembali memukul pertahananku yang terbuka. Tapi pada detik akhir, aku menciptakan dua belati pada genggamanku yang langsung ku lemparkan tepat ke kepalanya.
Triing... Triing...
Dia masih bisa menangkisnya dengan ketebalan kulitnya dan bunyi yang dihasilkan seperti belatiku menabrak bongkahan besi.
"Aku paham kalau kau bajingan yang suka bermain kotor, jadi aku sudah siap jika hal seperti ini akan terjadi," ucapnya.
__ADS_1
"Oh, ya? Apa kau juga siap dengan hal seperti ini?"
Aku menarik rantai aura yang ku lingkarkan di kedua lenganku, menarik dua belati yang sebelumnya berhasil ditangkis Baram kembali menyerang kepala belakangnya.
Baram menyadari hal itu dan sedikit melirik ke belakang. Tanpa melihat, Baram menangkap kedua belati itu dan tangannya, lalu menyerangku dengan belati milikku sendiri.
Bibirku terangkat ketika dia melakukan itu. Dia secara bersamaan mencoba menusuk dadaku dengan dua belati itu. Tapi sebelum belati itu mengenaiku, keduanya berubah menjadi partikel kecil dan menghilang.
"??!!"
Baram terkejut dengan hal itu dan aku langsung membalasnya dengan tendangan yang mengarah ke dagunya. Kami berdua sedang melayang di atas lantai saat ini dan tendangan keras yang aku lakukan membuat Baram mendongak dan terbang ke atas.
Ia juga sampai menabrak langit-langit dan menempel di sana. Tanpa jeda, aku langsung mendarat dan melompat memanfaatkan momentum untuk memukulnya tepat di perutnya sampai ia menembus ke lantai lima. Beruntungnya stasiun radio ini punya delapan lantai, jadi lantai paling atas tempat Arisu dan yang lainnya berada masih aman.
Dengan keramik lantai lima berlubang, aku masuk ke sana dan mengejar Baram yang terpental ke sini. Menengok ke kanan dan kiri karena tempat ini penuh dengan debu reruntuhan. Mataku melebar saat dari balik debu, muncul sebuah tinju yang kena telak ke pipiku, membuatku terpental jauh dan bahkan sampai menembus stasiun radio ini.
Sialan. Refleks tubuhku tidak cukup cepat jika dari jarak segitu. Saat di luar, aku sempat melihat pemandangan di pintu utama stasiun radio. Kalau tidak salah, salah satu anggota Black Rain membuat barrier besar, bukan? Tapi sekarang hal itu menghilang dan menyisakan sebuah barrier kecil yang muat untuk satu orang, aku juga tidak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di dalamnya.
"Apa itu?"
"Lihat kemana kau?!"
"Sial!"
Baram kembali memukulku, tapi kali ini aku lebih siap dan dapat menahannya. Meskipun begitu, efek pukulannya tetap saja membuat diriku yang sedang melayang di udara terpental lebih jauh ke belakang— bahkan sampai masuk ke gedung perkantoran sebelah.
Sudah cukup! Aku tidak akan terus terpental sampai entah kemana! Aku memutar diriku dan mencoba berpijak sebentar pada dinding, setelah itu aku kembali melontarkan diriku pada Baram yang sedang melesat menuju ke sini.
"Heaaah !!!"
"Haaghhh !!!"
Dengan sebagian besar aura yang aku alirkan pada tinjuku ini, aku bersiap untuk meninjunya kembali ke stasiun radio. Tapi sepertinya dia juga memikirkan hal yang sama denganku dan bersiap memukulku juga.
Buuumm...
Kami kembali beradu tinju, tinju kami berdua tidak terpisah sampai kaki kami menapak. Bekas adu pukulan itu juga menghasilkan dentuman besar yang memecahkan setiap kaca jendela pada lantai gedung ini. Langit-langit dan lantai juga retak, serta meja perkantoran juga terdorong menjauh bagai sudah terjadi angin topan di dalam sini.
Beberapa detik setelah debu-debu itu menghilang, aku akhirnya dapat melihat dengan jelas. Beberapa tetes darah jatuh di bawah tinju kami. Brass knuckles yang sedang aku pakai menusuk ke tinju Baram saat ini.
"Ternyata kau bisa membuatku meneteskan darah, ya? Sudah kuduga kau ini cukup kuat."
"Heh! Apa kau pikir kau akan menang mudah dariku?!"
"Tidak, tidak sama sekali. Tapi aku sedikit menyayangkan sifat bajinganmu itu."
"Apa kau sebegitu bencinya pada trik kotor dalam sebuah pertarungan?"
"Ya, karena itu tidak mencerminkan sifat ksatria yang sesungguhnya."
"Kau seorang Assassin tapi masih menganut nilai-nilai seperti itu, ya? Ya ampun."
"Dan kau seseorang yang berasal dari organisasi di mana seharusnya kau melindungi kotamu, tapi malah bertarung dengan penuh trik kotor seperti itu."
"Hnm ...? Aku akan menggunakan apapun untuk menang. Dalam pertarungan tidak peduli apa yang kau lakukan, selama kau yang berdiri paling akhir di dalam pertarungan, maka tidak akan ada yang bertanya soal pertarunganmu. Aku juga bertanggungjawab dalam menjaga nyawa orang-orang yang ada di sini. Makanya aku tidak peduli kalau kau menyebutku bajingan atau kotoran sekalipun, aku akan tetap menang!"
"Begitu ...."
Baram tiba-tiba menyerangku dengan tinju kirinya, tapi aku masih bisa menghindar dengan melompat ke belakang. Ia juga berdiri dan tidak memperdulikan darah yang menetes pada buku-buku jarinya.
"Kalau begitu aku akan serius."
"Sudah aku tunggu dari tadi, dasar sialan."
Kami berdua kembali memasang kuda-kuda, tidak akan aku biarkan dia menang dan merebut lebih banyak nyawa orang tak bersalah. Aku pasti akan menang.
__ADS_1
Bersambung