
"Cukup sampai disitu!"
Teriakan seseorang menyita perhatian kami semua dan langsung menengok kearah sumber suara. Seseorang naik dari bawah tangga dan dengan santainya masuk ke tengah-tengah pertarungan kami bertiga.
Seorang laki-laki dewasa dengan perawakan tinggi berambut pirang dengan iris mata berwarna hijau berniat menghentikan pertarungan kami.
"Siapa kau?"
Laki-laki itu tidak menjawabku. Ia hanya menatapku dengan tatapan serius dan tajam.
"Oi! Aku bilang siapa kau?!"
"Inang Subject C—tidak, Satou Iraya … hentikan perlawanan sia-siamu."
"Kau … apa kau juga bersama dengan mereka untuk menangkapku? Kalau begitu tidak usah banyak bicara lagi!"
Zwuusshh…
Aku kemudian melesat kearahnya. Melewati Ardenter yang terkejut dan bahkan tidak bisa bereaksi dengan kecepatanku. Aku mengarahkan pedangku dan mencoba menebas lehernya.
Tapi seranganku terhenti karena aku melihat beberapa orang yang berada di samping kanan dan kirinya babak belur dan sedang tidak sadarkan diri.
"Me-Mei-senpai?! Kuromichi-san?! Kudou, Hira!"
Aku pun mengurungkan niatku untuk menyerangnya dan kemudian berpijak ke tanah lagi dengan jarak yang cukup dekat dengannya.
"Apa yang kau lakukan pada mereka?! Lepaskan mereka?!"
"Mereka semua tidak mati, aku hanya membuatnya pingsan saja."
Dia melihat ke salah satu dari mereka yaitu Mei-senpai dan kemudian mengangkatnya dengan cara menjambak rambutnya. Ia kemudian mengarahkannya ke arahku dan ia mendekatkan tangannya kearah leher Mei-senpai.
"Oi! Lepaskan dia!"
"Kalau tidak salah, dia adalah anggota baru Black Rain, ya? Kurobane Mei …."
Ia memperhatikan wajahnya sebentar tapi tidak menjauhkan tangannya dari lehernya.
"Kau tahu aku sangat marah karena apa yang diperbuat oleh Murasaki Oita saat penyerangan beberapa hari yang lalu? Aku rasa kematian salah satu anggota kalian tidaklah cukup untuk membalaskan kehancuran laboratorium itu."
Tangannya sangat dekat dengan leher Mei-senpai sampai-sampai terdapat sedikit goresan di lehernya yang mengeluarkan darah segar. Sial! Ini tidak bagus.
Aku berusaha untuk kembali melesat, tapi sebelum bergerak ia mengatakan sesuatu padaku.
"Secepat apapun kau bergerak, tanganku yang sudah menempel dilehernya tetap saja akan lebih dahulu memotong lehernya. Pikirkan baik-baik, Satou Iraya."
"Tch!"
Aku kemudian memutuskan untuk tidak bergerak terlalu ceroboh dahulu dan memilih untuk menunggu apa yang akan ia lakukan.
"Hidup dan mati Kurobane Mei ini tergantung pada keputusanmu. Tidak, sejak awal hidup dan mati orang yang berada di sekitarmu tergantung padamu. Dan sebelumnya kau sudah gagal, kau membiarkan teman-teman sekelasmu mati."
"Itu semua karenamu!"
"Karena aku? Heh … kau hanya berpura-pura tidak tau, tapi sebenarnya kau lah yang paling tau, Satou Iraya. Kau adalah penyebab kematian mereka. Jika kau tidak ada disini, maka mereka tidak akan mati. Kau pasti menyadari hal itu, bukan?"
"Tidak, bukan …."
Tidak! Ini bukan salahku. Tidak mungkin ini adalah salahku. Mereka yang membunuhnya, jadi ini adalah salah mereka. Benar, itu adalah salah mereka. Tapi … tapi ….
"Kau juga bersalah, bodoh."
"Eh?"
Tiba-tiba ada suara yang sama persis dengan suaraku berbicara kepadaku. Aku melihat kearahnya dan melihat sosok seseorang yang mirip bahkan sama persis denganku.
"Si-Siapa kau?"
"Aku adalah kau dan kau adalah aku. Kita berdua adalah Satou Iraya."
Ia berjalan mendekatiku dan kemudian berhenti tepat disampingku. Aku yang masih belum mengerti kemudian berbicara lagi.
"Tidak, aku adalah yang asli. Dan kau hanyalah tiruanku."
"Tiruan? Tega sekali kau menyebut dirimu yang asli ini tiruan. Yah meskipun aku mengakui ada beberapa perbedaan dari aku dan kau, tapi aku rasa itu adalah sesuatu yang bagus."
Apa-apaan ini? Bukankah seharusnya aku sedang berada di lorong kelas melawan para Assassin itu? Tapi kenapa tiba-tiba aku berada di tempat yang bahkan aku sendiri tidak tau ada dimana. Dan bahkan di depanku ada seseorang yang sangat mirip denganku.
Orang yang mirip denganku itu mengeluarkan sebuah seringai menyebalkan. Aku bahkan jarang sekali mengeluarkan ekspresi seperti itu. Ternyata benar, kalau dia hanya seorang tiruan.
"Apa yang kau maksud dengan perbedaan?"
"Kau itu terlalu naif, sementara aku adalah orang yang berpikir realistis."
"Naif? Aku tidak naif, aku hanya optimis!"
"Itulah yang kumaksud. Kau hanya ingin semua orang bahagia, padahal itu adalah sesuatu yang mustahil. Harus ada yang dikorbankan dalam setiap keputusan. Dan dengan sikap 'optimis'mu itu, kau berpikir bisa menyelamatkan semuanya. Memangnya kau siapa? Dewa atau semacamnya?"
Dia berbicara panjang lebar tentang hal-hal yang tidak masuk akal. Orang bodoh seperti ini, dia benar-benar bukan diriku.
"Lalu apa kau punya rencana?"
"Tentu saja aku punya."
Dia kemudian mengulurkan tangannya kearahku dan kembali berbicara.
"Biarkan aku mengambil kesadaranmu untuk sesaat. Aku yang akan melawan para Assassin itu."
"Kesadaranku?"
"Kau tinggal menonton saja dari sini. Aku sudah memikirkan rencana yang terbaik untuk kita saat ini."
Aku masih belum mempercayainya. Aku juga tidak bisa mempercayakan tubuhku begitu saja kepadanya. Tapi di satu sisi, aku sudah tidak mempunyai rencana lagi untuk melawan mereka. Aku tidak tau cara menyelamatkan Cecilia tanpa membuat Senpai dan yang lainnya terbunuh, begitupun sebaliknya.
Apa sebaiknya kupercayakan kepadanya?
Aku melihat kearah wajahnya, tidak salah lagi dia sangat mirip denganku. Lalu aku melihat tangannya yang terulur dari tadi. Secara perlahan aku mengarahkan tanganku untuk menerima uluran tangannya.
Tapi tiba-tiba tersirat sesuatu di dalam pikiranku yang membuatku berhenti sebelum menjabat tangannya. Aku kemudian menanyakan hal itu kepadanya.
"'Kita'? Apa kau tadi bilang 'kita'?"
"Benar, aku sudah memikirkan rencana terbaik untuk kita. Jadi kau tenang saja dan bisa menonton dari sini."
"Apa 'kita' itu termasuk menyelamatkan Mei-senpai dan yang lainnya?"
Dia terdiam dan tidak menjawab pertanyaanku. Meskipun begitu dia masih mengulurkan tangannya dan setelah itu mulai berbicara lagi.
"Ini yang terbaik untuk kita, bukan untuk orang lain."
Setelah ia mengucapkan hal itu, aku kemudian menepis uluran tangannya dan kemudian menarik kerah bajunya.
"Jangan bercanda! Sudah kuduga ada yang aneh dari tawaranmu!"
"Kau tidak bisa menyelamatkan semuanya. Kau harus memilih salah satu. JANGAN BERPIKIR KALAU KAU ITU HEBAT, SIALAN !!!"
Duukk…
Ia berteriak kemudian membenturkan kepalanya ke kepalaku yang membuatku terjatuh ke belakang. Setelah itu ia balas menarik kerahku dan lanjut meneriakiku.
"Sudah kubilang sifat naif mu itu tidak akan membuatmu bertambah kuat!! Kau ingin bertambah kuat, bukan?! Kalau begitu tinggalkan kebodohanmu itu dan berpikir realistis sedikit!! Apa kau mau kejadian yang sama pada ibu terulang lagi?!"
__ADS_1
Ia membuatku mengingat kematian ibuku. Dia juga kembali menyalahkanku, padahal itu sama sekali bukan salahku.
"Jangan bawa-bawa kematian ibuku kesini!"
Baakkhh…
Aku memukul wajahnya yang membuat ia melepaskan tangannya dari kerahku.
"Harusnya kau mengerti, wahai diriku. Kau tidak akan bisa menyelamatkan siapapun jika terus bimbang seperti ini."
"Jika kau adalah aku, harusnya kau mengerti. Mei-senpai adalah orang yang berharga bagiku, begitu juga Kudou dan Hira. Lalu Kuromichi-san adalah orang yang berharga bagi Herlin. Aku tidak bisa membiarkan mereka semua mati begitu saja!"
"Lalu apa kau punya rencana setelah bicara sombong seperti itu?!"
"Aku punya."
"Apa?"
"Aku bilang aku punya rencana! Rencana yang tidak perlu untuk mengorbankan orang lain. Ya ampun kau ini, atau bisa kubilang 'aku' ini? Ah pokoknya sama saja! Sekarang aku yakin kalau kau itu adalah aku dan bukan tiruan."
"Darimana keyakinan itu datang?"
Aku kemudian mengarahkan kepalan tanganku kearah dadanya dengan lembut.
"Kau itu tidak percaya pada dirimu sendiri, makanya kau menyuruhku untuk duduk dan diam saja, kan? Kuberitahu kau satu hal, wahai diriku …."
"… Percayalah sedikit pada dirimu sendiri, sialan."
Dia terdiam. Wajahnya terkejut sekaligus bingung saat aku bicara seperti itu. Ia kemudian mundur beberapa langkah dan menghilangkan ekspresi bingungnya. Lalu setelah itu ia mulai berbicara.
"Lagi-lagi kau berhasil melewatinya."
Tubuhnya kemudian mengeluarkan sinar terang yang menyilaukan mata. Sinar berwarna kehijauan itu setelah beberapa saat bersinar akhirnya redup juga dan menampilkan sosok lain dari balik cahaya itu.
"Kau memang benar-benar istimewa ya, Iraya."
"Cecilia?! Apa yang menyamar menjadi diriku tadi adalah kau?"
"Bukan aku sepenuhnya, sih. Bisa dibilang kalau itu adalah Spirit yang aku berikan kepadamu saat proses penyatuan."
"Proses penyatuan?"
"Saat kau merasakan panas seperti terbakar dan rasa sakit yang menusuk itu karena proses penyatuan itu. Dan sepertinya Spirit yang kuberikan belum sepenuhnya percaya padamu makanya kau tiba-tiba berada di tempat ini."
"Tempat ini …?"
"Iya, dia ingin menguasai dirimu dan mengambil kesadaranmu. Awalnya aku sudah ingin menolongmu seperti sebelumnya, tapi ternyata tidak perlu. Dan sekarang Spirit-Spirit itu sudah percaya padamu sepenuhnya, jadi kau bisa menggunakan mereka sesuka hatimu."
"Jadi iris mataku berubah menjadi oranye karena aku sudah sedikit bersatu denganmu begitu? Ah?! Cecilia, matamu!"
Aku baru menyadari kalau iris mata Cecilia berwarna abu-abu dan sudah tidak memancarkan sinar di matanya lagi.
"Kau akhirnya menyadarinya, ya? Tenang saja, aku masih bisa melihat walaupun tidak sebaik dulu."
"Begitu, ya. Aku bersyukur sekali."
Cecilia tersenyum setelah mendengar ucapanku. Tapi kemudian aku menyadari sesuatu yang membuatku sadar kalau aku harus bergegas keluar dari sini.
"Oh iya! Bukankah aku sedang melawan para Assassin itu? Aku juga harus menyelamatkan Mei-senpai dan yang lainnya! Cecilia, bagaimana caranya keluar dari sini?"
"Tidak usah terburu-buru, disini waktunya lebih lambat dari dunia luar. Jika kau berada disini sepuluh menit maka diluar waktu baru berjalan sekitar lima detik saja."
"Bagus kalau begitu—eh, bukan bagus! Meskipun begitu aku harus tetap keluar dari sini!"
Cecilia sedikit terkekeh karena aku yang sedang panik. Sial, apa orang yang panik itu lucu, ya? Setelah puas tertawa, ia kemudian memberitahuku bagaimana caranya keluar dari sini.
"Hah … pertama-tama fokuskan auramu pada seluruh tubuhmu lalu bayangkan kau meledakkannya ke seluruh penjuru ruangan, dengan begitu kau bisa keluar dari sini."
"Yosh!"
Kraakk… Kraakk… Praaang…
Sedikit demi sedikit ruangan ini mulai memecah seperti kaca-kaca yang rapuh. Sebelum benar-benar keluar dari sini, aku memberitahukan rencanaku pada Cecilia.
"Oh iya Cecilia, soal rencanaku itu …."
Aku memberitahukannya kepada Cecilia. Tapi ia terlihat terkejut dan tidak senang mendengarnya. Tapi hanya ini cara terbaik untuk menyelamatkan semuanya.
"Iraya, rencana itu …."
"Aku mengandalkanmu, Cecilia."
Praaang…
Pecahan terakhir ruangan itu telah hancur dan aku kembali ke dunia nyata. Saat dimana aku berdiri di depan orang yang menjambak dan menodong Mei-senpai.
"Apa kau sudah menentukannya, Satou Iraya?"
Ia menanyakan pertanyaan yang sama kepadaku. Tapi kali ini aku sudah berbeda, aku sudah tau jawabannya. Aku kemudian menghilangkan pedangku dan mengangkat kedua tanganku sebagai tanda menyerah.
"Baiklah, kalian boleh membawaku. Tapi lepaskan yang lainnya."
"Bagus kalau begitu."
Ia melepaskan tangannya dari rambut Mei-senpai dan membiarkannya jatuh begitu saja. Aku sedikit marah dengan perbuatannya tapi masih bisa menahannya. Yang penting semua yang ada disini selamat dan tidak terbunuh.
"Sesuai janjimu, lepaskan yang la—"
Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, orang itu memukul perutku sangat keras yang membuatku tersungkur. Pukulannya sangat keras sampai kepalaku pusing dan pandanganku menjadi buram.
"Sisanya kuserahkan padamu …, Herlin."
**
Beberapa saat sebelum Iraya menyerahkan diri ke Astaroth dan yang lainnya, ditempat lain Herlin masih berusaha keluar dari kurungan yang dibuat oleh Caramel ketika seseorang datang.
"Hooaamm … bukankah mereka terlalu lama di dalam? Apa yang mereka lakukan sebenarnya?"
Caramel menguap bosan karena yang dilakukannya hanyalah menunggu Ardenter dan Delta menangkap Iraya di dalam. Meskipun begitu, tugas mereka juga tidak kalah penting dengan Ardenter dan Delta karena mereka ditugaskan untuk menahan anggota Black Rain lainnya.
"Nimis, kau jaga mereka berdua ya? Aku ingin ke dalam memeriksa mereka."
"Jangan bercanda! Kau tidak bisa mempertahankan wujud auramu jika kau terlalu jauh darinya, kan?"
"Y-Ya … itu benar sih."
"Kalau begitu tunggu sebentar saja disini."
"Hah … kau ini membosankan sekali, Nimis."
Meskipun Caramel tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh Nimis, tapi dia tetap menurutinya karena ia akan dimarahi oleh Astaroth jika Herlin mengganggu penangkapan Inang Subject C.
"Kalau begitu biar aku saja yang ke dalam."
Tiba-tiba dari luar gerbang sekolah terdengar suara seseorang yang Herlin kenal. Ia begitu terkejut ketika melihat wajahnya secara langsung. Ia mengingat kenangan buruk ketika berhadapan dengannya pada saat penyerangan laboratorium beberapa hari lalu.
"Hmm … Bos?"
"Kalian berdua tetap disini melakukan tugas kalian. Biar aku yang masuk ke dalam."
"Yah … jika Bos yang bilang begitu, aku tidak bisa protes lagi."
__ADS_1
Caramel dengan kecewa menuruti perintah Astaroth dan ia pun pergi ke dalam. Sebelum pergi, ia sempat melirik dan bertatapan mata langsung dengan Herlin, tapi itu tidak berlangsung lama dan segera berjalan ke dalam gedung sekolah.
Herlin tanpa sadar menahan nafas cukup lama karena tegangnya. Setelah menenangkan dirinya sendiri, ia masih tetap melanjutkan rencananya yaitu menggali tanah dengan bagian ujung sepatunya.
Sejauh ini rencananya berjalan lancar dan tidak mengalami kendala. Herlin dengan hati-hati memperhatikan pengawasan kedua orang ini yang sedikit melemah.
Herlin sudah bisa mengalirkan auranya sedikit, tapi itu masih belum cukup. Ia butuh akses yang sedikit lebih besar lagi agar auranya bisa setidaknya bisa menahan pergerakan setidaknya salah satu dari mereka.
"Oh iya!"
Caramel tiba-tiba berteriak yang membuat Herlin yang sedang fokus sedikit terkejut. Ia kemudian merogoh kantongnya dan mengeluarkan sesuatu. Ia menunjukkannya kepada Herlin dengan perasaan bangga.
"Apa kau tau ini?"
Caramel menunjukkan gantungan kunci berbentuk panda kepada Herlin. Ia yang melihat itu tentu saja mengingat gantungan kunci, tapi kenapa benda itu bisa berada di tangannya.
"Kenapa … itu bisa berada di tanganmu?"
"Tentu saja karena Satou Iraya yang memberikannya kepadaku!"
"Bohong …."
"Ara, ara …, ada apa? Apa kau sebegitu terkejutnya?"
Herlin hanya terdiam. Ia tidak menanggapi provokasi dari Caramel, sebaliknya ia malah memikirkan hal lain. Herlin mengingat kalau waktu itu Iraya mau memberikannya sesuatu, tapi entah kenapa tidak jadi. Jadi yang ingin ia berikan adalah gantungan kunci itu.
"Iraya …. Kau benar-benar bodoh," gumam Herlin.
"Ada apa, ada apa? Apa kau sebegitu terkejutnya sampai tidak bisa mengucapkan sesuatu?"
Degh…
"A-Apa-apaan ini …?"
"Aku berterima kasih atas kebodohanmu, Caramel. Pekerjaanku jadi lebih mudah."
Tiba-tiba tubuh Caramel menjadi kaku dan tidak bisa digerakkan. Ia mencoba meronta melepaskannya tapi itu percuma. Caramel sudah terjerat dalam Mind Power milik Herlin.
"Se-Seharusnya kau tidak bisa menggunakan auramu diluar kotak ini. Tapi kenapa …."
"Pikirkan hal itu sendiri. Sekarang saatnya pembalasan."
Greb… Kraakk…
"AaakKkhhh …!!"
Teriakan Caramel yang terjadi seiring dengan bunyi retakan pada tulang rusuknya yang diakibatkan kemampuan Herlin yang menekannya sampai diluar daya tahan tubuh Caramel.
Kotak transparan yang dibuat oleh Caramel pun menghilang saat ia sedang kesakitan. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan itu, Herlin pun langsung menempatkan dirinya di belakang Caramel dan sekaligus menjadikannya sandera.
Ia berencana untuk menukar Caramel dengan Hasuki-san. Karena jaraknya dengan Nimis cukup jauh, jika saja Nimis berada lebih dekat, maka Herlin akan langsung menyerangnya. Tapi untuk sekarang, ini adalah pilihan terbaiknya.
Nimis yang melihat itu langsung memegang Hasuki-san lebih erat dan menodongkan pedangnya lebih dekat lagi pada leher Hasuki-san yang membuatnya semakin ketakutan.
"Lepaskan dia!" gertak Herlin.
"Seharusnya aku yang bilang begitu!"
Mereka berdua sama-sama tidak mau mengalah dan menunggu salah satunya melepaskan sandera masing-masing.
"Ri-risaka-san … tolong aku …."
"Kau diam saja!"
"Kyaa!"
Hasuki-san mencoba memanggil nama Herlin tapi itu percuma. Hal itu membuat Herlin menjadi semakin marah dan tidak sabar. Ia kemudian menekan tubuh Caramel lebih keras lagi yang membuatnya semakin kesakitan.
"AaAakkKkhh …!!"
Darah segar mulai mengucur dari mulut Caramel akibat serangan yang diberikan Herlin. Meski begitu, Nimis masih belum berniat untuk melepaskan Hasuki-san.
"Temanmu bisa mati, Nimis-san. Cepat lepaskan Hasuki-san sekarang juga!"
"AhHhakhh …!!"
Darah semakin banyak keluar dari mulut Caramel. Matanya sudah kehilangan sedikit sinarnya yang menandakan kalau ia sudah mulai kehilangan kesadarannya.
Hening menyerang mereka berdua untuk beberapa saat, tapi kewaspadaan mereka belum turun sama sekali. Dan pada akhirnya Nimis menghela nafas dan sedikit mengendurkan todongan pedangnya pada leher Hasuki-san.
"Baiklah," ucap Nimis.
Herlin juga sedikit mengendurkan kekuatannya agar membuat Caramel tidak kehabisan nafas sampai mati. Dan setelah mendapat sedikit udara untuk bicara, meskipun dengan terbata-bata dengan darah yang tercampur dikata-katanya, Caramel berbicara kepada Herlin.
"Hehehe … kau membuat dua kesalahan besar, Ririsaka Herlin. Yang pertama, orang itu bukanlah temanku dan tidak pernah kuanggap sebagai teman. Lalu yang kedua …."
Ucapannya sedikit terhenti karena batuk dan muntah darah yang ia keluarkan. Tapi Caramel masih tetap melanjutkan ucapannya.
"… Yang kedua adalah, dia sama sekali tidak peduli dengan nyawaku!"
Mendengar hal itu, Herlin langsung melihat kearah Nimis yang sudah bersiap-siap menebas leher Hasuki-san.
"Dia benar, aku tidak peduli dengan nyawanya."
Craasshh…
Semburan deras darah yang keluar dari leher Hasuki-san bersamaan dengan mata Hasuki-san yang terbelalak terkejut. Tanpa pikir panjang, Herlin langsung melepaskan kemampuannya pada Caramel dan berlari kearah Hasuki-san yang mulai ambruk ke tanah.
"HASUKI-SAN !!"
Jlebb…
Herlin yang kehilangan ketenangannya menjadi lengah dan tanpa sadar, pinggang sebelah kirinya berdarah seakan ditusuk oleh sesuatu. Ia melihat kearah luka itu dan menyadari kalau yang menusuknya adalah aura transparan solid berbentuk tajam.
"Itu balasan dariku, sialan."
Herlin ambruk ke tanah sambil memegangi lukanya yang terus mengeluarkan darah. Meski begitu, ia tetap berusaha menyeret tubuhnya yang sudah lemah kearah tubuh Hasuki-san yang mulai memucat dan terdapat genangan darah dibawahnya.
"Bertahanlah … Hasuki … san."
Belum sempat ia mencapai tubuh Hasuki-san, kesadarannya sudah hilang duluan dan hanya tangannya saja yang sampai ke telapak tangan Hasuki-san.
Sementara itu Nimis yang telah selesai menghabisi Hasuki-san menghempaskan Katana-nya kebawah untuk membersihkan sisa darah milik Hasuki-san dan kemudian menyarungkannya kembali.
Tidak lama kemudian Ardenter, Delta, dan Astaroth datang dengan cepat kearah Nimis dan Caramel. Mereka membawa Iraya yang sedang tidak sadarkan diri.
"Apa kalian sudah selesai disini?" tanya Astaroth.
"Ya, lalu mereka mau kita apakan?"
Nimis melihat kearah mayat Hasuki-san dan Herlin yang sedang pingsan sambil bersimbah darah.
"Tinggalkan saja mereka, kita harus cepat pergi dari sini sebelum bala bantuan mereka datang."
"Baik."
Ardenter yang melihat Caramel terluka tergeletak di tanah kemudian menggendongnya layaknya menggendong seorang tuan putri.
"Lepaskan aku! Aku tidak ingin digendong olehmu!"
"Siapa juga yang mau menggendongmu! Aku terpaksa melakukannya!"
__ADS_1
Meskipun ia rewel begitu, tapi Ardenter tetap memaksa menggendongnya dan rombongan Assassin itu pun pergi meninggalkan area sekolah. Penculikan mereka terhadap Inang Subject C pun berhasil.
Bersambung