
Sementara itu di tempat Ryuzaki, ia mencoba menyerang titik lemah dari Gashadokuro itu, tapi tangannya yang lebar dan besar serta hembusan angin yang ia ciptakan ketika menggerakkan tangannya sedikit merepotkan bagi Ryuzaki.
Braakkhh… Braaakhh… Braakkhh…
Setiap gedung yang dijadikan tempat mendarat bagi Ryuzaki selalu saja dihancurkan dengan sekali hempasan tangan Gashadokuro itu membuat Ryuzaki harus memikirkan cara lain untuk mendekatinya.
"Ini bakal jadi cukup sulit," gumam Ryuzaki.
Ia sedang dihadapkan dengan situasi yang cukup sulit karena dirinya tidak bisa mendekat. Tubuhnya yang tinggi besar membuatnya tidak mudah untuk dijatuhkan dalam satu kali serangan.
Ryuzaki kemudian mencoba memikirkan sesuatu agar ia bisa setidaknya melukai The Unseen satu ini. Karena ia tidak punya cara yang terpikirkan di kepalanya, jadi Ryuzaki memutuskan untuk mencobanya satu persatu.
"Sepertinya aku harus mencobanya sendiri," gumam Ryuzaki.
Blaarrr… Blaarrr…
Ryuzaki menciptakan dua buah kobaran api panjang di kanan dan kirinya bagaikan api berekor yang dapat di kendalikan. Ryuzaki kemudian melompat tinggi ke udara agar ia bisa setara dengan kepala Gashadokuro itu.
Tapi Gashadokuro itu dengan cepat menyadari keberadaan Ryuzaki yang mencoba mendekatinya dan menyerangnya. Ia tidak diam begitu saja dan kembali menghempaskan tangan besarnya.
Sebelum angin berhembus kencang akibat hempasan tangan Gashadokuro itu, Ryuzaki sempat melemparkan dua api berekor yang dipegang olehnya. Api itu meliuk-liuk melaju mengitari lengan Gashadokuro yang panjang sambil terus melesat melaju masuk ke dalam bolongan kerangka bola mata Gashadokuro.
Sementara itu Ryuzaki kembali menjauhkan dirinya dari Gashadokuro sekaligus menghindari tamparan dari monster itu. Ia kemudian mendarat sempurna diatas sebuah reruntuhan gedung bertingkat yang sudah hancur berkeping-keping.
"Apa berhasil?"
Blaarrr…
Kedua mata Gashadokuro terlihat tampak menyala akibat api yang dilemparkan oleh Ryuzaki. Tapi itu sepertinya tidak membuatnya terluka ataupun kesakitan, bahkan api tadi langsung menghilang dalam beberapa saat dan Gashadokuro kembali berteriak menggema di malam kota Tokyo.
"RaAahggGhhHh …!!!!"
"Sepertinya itu lebih ke teriakan kemarahan daripada teriakan kesakitan," gumam Ryuzaki.
Gashadokuro yang sudah menghilangkan seluruh api hasil serangan Ryuzaki tadi kembali mencari orang yang menyerangnya. Dan ia pun berhasil menemukan Ryuzaki dengan keadaan yang lebih marah saat ini.
Meskipun kerangka manusia itu tidak bisa mengeluarkan ekspresi yang berlebihan, tapi entah mengapa Ryuzaki bisa mengetahui kalau makhluk itu sedang marah dan kemarahannya ditujukan kepada dirinya.
"Hoo … kau marah padaku? Aku juga marah padamu karena kau telah menghancurkan kotaku!"
Ryuzaki kali ini kembali melesat mendekati Gashadokuro. Ia memiliki rencana lain daripada hanya terus menyerang dari udara dan kabur, kali ini Ryuzaki akan menyerangnya dengan kekuatannya.
Tap… Swuuushh…
Ryuzaki berjalan di lengan kanan Gashadokuro yang ia berhasil hindari hempasan tangannya. Ia terus berjalan dan pada akhirnya sampai ke samping kepala Gashadokuro. Hembusan angin malam yang kencang karena Ryuzaki sedang berlari di ketinggian 30 meter tidak memperlambatnya sama sekali.
Blaaarr…
Ryuzaki kemudian mengumpulkan aura di area kepalan tangannya hingga menghasilkan aura berwarna merah api gelap di kepalannya. Setelah di rasa cukup, dengan sekuat tenaga ia pun menghantamkannya ke bagian tulang rahang dari Gashadokuro.
Buumm…
Saking kerasnya pukulan Ryuzaki sampai membuat dentuman angin akibat pukulannya dan bunyi yang dapat terdengar sampai ke bawah.
Beberapa saat telah berlalu, tapi kepalan tangan Ryuzaki masih menempel di rahang Gashadokuro dan belum terjadi apa-apa dengannya. Tidak ada bekas retakan ataupun lubang karenanya. Malahan Gashadokuro semakin marah dan ingin memakan Ryuzaki yang sedang berada dekat dengan mulutnya.
Tapi Ryuzaki berhasil melompat mundur dan menghindari gigitan Gashadokuro. Meskipun begitu, serangan Gashadokuro belum berakhir, Ryuzaki yang sedang melayang turun di udara ingin dihempaskan dengan tangan kanan raksasa milik Gashadokuro.
"Gawat!"
Ia tidak bisa terlalu banyak bergerak karena dirinya yang sedang berada di atas udara. Jadi yang bisa ia lakukan saat ini adalah menyilangkan kedua tangannya di depannya agar mengurangi dampak hempasannya.
Triiingg…
" Ka-Kau …?!"
"Ma-Maaf aku datang terlambat, Ryuzaki-san."
Tiba-tiba ada seseorang yang menahan telapak tangan Gashadokuro menggunakan pedangnya. Siapa lagi kalau bukan Hayashi yang mampu menahannya. Setelah berhasil mengalahkan banyak monster di pusat kota, ia langsung datang dengan cepat menuju ke tempat pertarungan Ryuzaki.
Bahkan saat baru sampai ia langsung terbang tinggi dan menahan hempasan tangan Gashadokuro agar tidak langsung mengenai Ryuzaki. Hayashi yang sedang menahannya pun kemudian berteriak dengan keras dan mengeluarkan semua kekuatannya agar bisa menangkis tangan Gashadokuro.
"HYAAAHHH !!!"
Triiingg… Kraak…
Akhirnya Hayashi berhasil menangkis tangan Gashadokuro dengan sekuat tenaganya meskipun ia harus jatuh lemas ke tanah, tapi Ryuzaki dengan sigap menangkapnya dan mereka berdua turun dengan sempurna ke tanah.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Ryuzaki.
"Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit kelelahan karena pertarungan tadi."
"Masih bisa bertarung? Jika tidak bisa istirahatlah disini."
"Tentu saja masih bisa, ini hanya kelelahan biasa. Aku juga tidak bisa hanya duduk manis disini, yang lainnya juga sedang bertarung mati-matian. Jika aku berhenti bertarung hanya karena kelelahan, berarti aku tidak pantas berada di Red Flame ini."
"Hayashi …."
__ADS_1
Ryuzaki tersenyum melihat kegigihan yang ditunjukkan oleh Hayashi. Dengan begitu, tidak ada lagi hal yang perlu dikhawatirkan dari dirinya. Ryuzaki pun kemudian berdiri dan kembali melihat ke arah lawan raksasanya saat ini.
"Meskipun kau bersikeras begitu, tapi dari tadi seranganku belum ada yang mempan kepadanya."
"Semua serangan anda? Apa anda sudah mencoba ke lubang-lubang di tubuhnya?" tanya Hayashi sambil bangun dan mendekat ke Ryuzaki.
"Ya, semua seranganku seperti tidak mempan padanya. Mau itu api, air, atau lainnya."
Saat Ryuzaki sedang memperhatikan Gashadokuro yang sedang sibuk mencari keberadaan mereka berdua, tiba-tiba ia menyadari sesuatu. Sesuatu yang mungkin saja bisa menjadi titik balik dari kemenangan mereka.
Ryuzaki memfokuskan pandangannya ke telapak tangan yang sebelumnya ditangkis oleh Hayashi. Terdapat bekas retakan kecil yang tercipta disana, padahal serangan api besar Ryuzaki seakan tidak berpengaruh padanya. Lalu Ryuzaki juga melihat kearah serangannya di rahang Gashadokuro sebelumnya, itu juga menghasilkan retakan yang lumayan terlihat juga.
Ia pun mengeluarkan seringai karena memiliki rencana dengan apa yang baru saja ia lihat.
"Apa anda memiliki rencana?" tanya Hayashi.
"Ya sepertinya begitu."
"Kami datang untuk membantu, Ryuzaki-san!"
Selain itu, terdapat banyak orang yang datang menuju ke Ryuzaki dan Hayashi. Mereka adalah orang-orang yang berasal dari Red Flame dan telah menyelesaikan tugasnya untuk menyelamatkan warga di sekitar sini.
"Jadi kalian juga datang. Apa ini juga karenamu?" tanya Ryuzaki kepada Hayashi.
"Ya, aku menyuruh mereka untuk datang kesini jika sudah selesai dengan urusan mereka."
"Baiklah kalau begitu."
Ryuzaki kemudian menyusun rencana untuk mengalirkan Gashadokuro yang masih berkeliaran bebas di sini. Setelah beberapa menit berdiskusi soal rencananya, akhirnya mereka selesai dan siap untuk menyerang.
"Kalian semua mengerti?" tanya Ryuzaki.
"Ya!"
"The Unseen satu ini tidak mempan jika dilawan dengan menggunakan kekuatan Elemen atau semacamnya, ia hanya bisa dilukai dengan serangan fisik murni saja. Jadi aku yang akan menghajarnya secara langsung. Kalau begitu langsung bersiap di posisi masing-masing!"
Ryuzaki memerintahkan para anggota Red Flame yang lain untuk bersiap di posisi masing-masing dan mereka pun langsung pergi. Dan di tempat ini hanya menyisakan Ryuzaki dan Hayashi berdua saja. Dalam keheningan yang terjadi saat itu, Hayashi memecah suasana dengan bertanya pada Ryuzaki.
"Apa anda yakin kalau rencana ini akan berhasil?"
"Kelihatannya memang mustahil kalau harus melawannya secara langsung, tapi aku yakin kalau rencanaku ini akan berhasil."
"Aku mengerti, ini bukan soal atau bisanya ia dikalahkan, kan? Tapi ini lebih sebuah keharusan untuk mengalahkannya."
"Kau benar."
"Saatnya memakai rencana 'NTR'."
"'NTR'?"
Ryuzaki tidak menjawab pertanyaan Hayashi dan langsung melompat tinggi menuju ke salah satu gedung tinggi yang masih tersisa membuatnya saling dapat melihat antara Gashadokuro dan Ryuzaki. Sementara Gashadokuro menyadari keberadaan Ryuzaki dan langsung berjalan ke arahnya.
"Benar, rencana 'NTR' …."
Ryuzaki memfokuskan aura di kepalan tangan dan kedua kakinya yang ia gunakan untuk melesat langsung ke arah Gashadokuro. Dan setelah terkumpul secara cukup, Ryuzaki langsung melesat menghancurkan pijakan beton yang sebelumnya ia tempati.
"… 'Nyerang Tanpa Ragu'!"
Buuummm…
Gashadokuro dan Ryuzaki beradu tinju yang menyebabkan dentuman keras dan hembusan angin yang tercipta menyebar dari sekitar mereka. Tapi serangan itu sangat belum cukup untuk mengalahkan Gashadokuro dan disaat seperti ini lah para anggota Red Flame berguna.
Grusuukkk… Grusuukkk…
Dari bawah muncul gundukan tanah yang sedikit demi sedikit terbentuk menjulang tinggi. Gundukan tanah yang sudah seperti pilar besar yang berdiri sampai ke lengan Gashadokuro dan menyelimutinya sebagian, membuatnya tidak bisa bergerak untuk beberapa saat.
Pilar tanah itu dibuat oleh beberapa orang Elemental yang memiliki elemen tanah, mereka menyatukan kekuatan mereka dan menciptakan pilar tanah yang hampir setinggi 25 meter itu.
"Bagus sekali."
Ryuzaki yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu pun langsung berlari di atas lengan Gashadokuro yang sedang tidak bisa bergerak. Ia mencoba untuk menyerang bagian yang sudah ia serang sebelumnya, mencoba untuk memperburuk luka yang ia terima.
"Rasakan ini!"
Baaagghh… Baaagghh… Buuugghh…
"RrAaagghhHhh …!!!!"
Serangan bertubi-tubi yang dilancarkan oleh Ryuzaki membuat Gashadokuro marah dan meraung sangat keras. Ia mencoba untuk memukul Ryuzaki dengan tangan kirinya, tapi gerakan Gashadokuro terlalu lambat bagi Ryuzaki dan masih dapat dengan mudah ia hindari.
"Mau mencoba melawan, ya?"
Bruuukkk…
Selain tangan kanannya, di bagian kakinya juga sedang ada yang melakukan tugas lainnya. Hayashi sedang melakukan kuda-kuda untuk menyerang bagian kaki Gashadokuro yang terbuka lebar dan tanpa penjagaan.
"Teknik Pedang Pertama : Aliran Ken, Tahouko Kaiten!"
__ADS_1
Hayashi kemudian melesat dan menebas kedua bagian tumit Gashadokuro secara indah bagaikan menari di udara. Kecepatan gerakannya membuat tebasan yang dihasilkan hampir tercipta dalam waktu yang bersamaan. Dan berkat serangan Hayashi barusan, Gashadokuro itu kehilangan keseimbangannya dan mau jatuh ke tanah.
"Bagus sekali!" ucap Ryuzaki yang masih terus memukuli rahang Gashadokuro secara bertubi-tubi.
Saat Gashadokuro ingin jatuh ke belakang, tiba-tiba ada hembusan angin kencang yang menahan punggungnya agar tidak jatuh ke tanah. Para Elemental bertipe angin yang bekerja sama menahan jatuhnya Gashadokuro itu.
Bersamaan dengan Elemental bertipe tanah yang menahan kedua tangannya menggunakan pilar tanah yang mereka buat sebanyak dua buah, Gashadokuro itu tidak memiliki kesempatan untuk menyerang atau bahkan bergerak. Ia hanya bisa berteriak dan meraung meronta-ronta ingin melepaskan diri.
"RrRraaaAgGggHhhHh …!!!!"
"Berat sekali!"
"Sial!"
"Aku sudah tidak kuat!"
"Tahan sebentar lagi! Biar Ryuzaki-san yang menyelesaikannya! Tugas kita hanya menahan pergerakan raksasa ini!"
Teriakan, rintihan, dan keluhan terdengar dari para anggota Red Flame yang sedang menahan pergerakan Gashadokuro. Dengan tinggi yang hampir 30 meter tentu saja bukan hal mudah untuk menahan pergerakannya, apalagi beratnya bisa mencapai ratusan ton.
Oleh karena itu, Ryuzaki tidak ingin membuat yang lainnya menunggu lebih lama lagi. Ia yang sudah menghancurkan rahang bagian kanan Gashadokuro pun tidak puas dengan hal itu, ia masih ingin menghancurkannya dan membunuhnya agar tidak menjadi masalah lebih lanjut.
Ryuzaki kemudian melompat tinggi ke atas udara sekitar 10 meter dari kepala Gashadokuro itu sendiri. Di udara, ia mengumpulkan aura cukup lama dan mengumpulkan sebanyak yang ia bisa karena ini akan menjadi serangan terakhir.
Blaaaaaarrr…
Ledakan aura tercipta di tubuh Ryuzaki dan kemudian tubuhnya pun dikelilingi aura yang sangat kuat. Setelah itu ia memfokuskannya di area kaki kanannya, aura berwarna hitam itu seakan meledak-ledak karena saking kuatnya.
"Terima kasih … tanpa kalian aku tidak akan bisa mengalahkan monster ini …," gumam Ryuzaki.
"… Aku memang tidak sekuat Murasaki Oita, tapi akan aku lakukan apapun untuk melindungi kotaku!"
Zwuusshh… Blaaaaaarrr…
Ryuzaki kemudian melesat ke bawah bagaikan meteor yang melesat cepat akibat gravitasi bumi. Ia juga menghasilkan cahaya yang dapat terlihat jelas karena waktu malam hari, sebuah api yang berekor sedang menuju ke arah tulang leher besar Gashadokuro yang saat ini sedang tidak bisa bergerak.
"HYAAAAHHH !!!!"
Buuummm… Duaaarrrr…
Gashadokuro yang tidak punya kesempatan untuk menghindar pun menerima serangan Ryuzaki dengan telak. Serangan itu menghasilkan cahaya yang bersinar terang dan membuat Gashadokuro meraung kesakitan.
Retakan pertama tercipta di tulang leher Gashadokuro, lalu diikuti oleh retakan-retakan berikutnya yang melebar semakin besar dan mulai menggerogoti hampir keseluruhan lehernya dan setelah beberapa saat beradu, tengkorak raksasa Gashadokuro terpisah dari tubuhnya dan jatuh ke tanah.
Buuummm…
Semua yang berada di kota Tokyo menyaksikan hal itu, dari Hayashi, Yosuke, Rui dan Sui-chan, bahkan Mitsu dan juga seluruh warga Tokyo yang berada di lokasi-lokasi yang berbeda. Cahaya terang yang seakan menandakan kemenangan bagi pihak Red Flame dan Tokyo.
Sementara itu Ryuzaki yang kelelahan karena sudah mengeluarkan hampir seluruh tenaganya berjalan menuju ke arah kumpulan Hayashi dan anggota Red Flame yang lainnya.
"Ryuzaki-san!"
"Apa kita sudah menang? Kita sudah berhasil mengalahkannya, kan?!"
"Apa anda baik-baik saja?!"
Pertanyaan-pertanyaan keluar dari mulut mereka tapi tidak langsung dijawab oleh Ryuzaki. Ia masih menunduk dan tidak menatap mata mereka semua membuat yang lainnya bingung. Tapi saat mereka sedang bingung dan khawatir, Ryuzaki tersenyum lemah dan berbicara dengan santai.
"Tentu saja, ini kemenangan kita."
"Woo-WOOAAAHHHH !!!!"
"KITA BERHASIL !!!"
"SERANGAN MUSUH BERHASIL DIHENTIKAN!"
Teriakan suka cita karena keberhasilan mereka terdengar di seluruh kota Tokyo. Tapi meski begitu, Ryuzaki tidak berteriak dan melihat ke arah lain seperti ada sesuatu yang aneh. Hal itu pun disadari oleh Hayashi.
"Ryuzaki-san, ada yang salah?"
"Tidak, tidak ada apa-apa. Ayo kita evakuasi warga yang masih terjebak di dalam reruntuhan."
"Baik!"
Meskipun penyerangan telah berhasil dihentikan. Tapi evakuasi warga masih terus berlanjut karena masih banyak warga yang terjebak di dalam reruntuhan bangunan atau pun perumahan. Meski begitu, untuk saat ini Tokyo sedang tidak dalam keadaan berbahaya lagi.
**
Sementara itu di salah satu gedung tinggi yang tidak hancur di waktu yang sama, terdapat seorang anak kecil dengan rambut pink dan sticker love di pipinya sedang melihat ke arah Gashadokuro yang telah dikalahkan.
Ia tidak terlihat sedih ataupun kesal, melainkan hanya tersenyum meskipun senyumannya tidak selebar biasanya.
"Heh … Subject A ternyata bisa dikalahkan olehnya. Ya sudahlah, tidak ada yang perlu disesali juga, yang penting aku sudah berhasil menjalankan tugasku dengan baik."
Anak kecil itu—Lennova kemudian berbalik bersamaan melemparkan kartunya keatas dan saat kartunya jatuh keatas tanah, Lennova telah menghilang dari tempatnya sebelumnya meninggalkan kartu dua wajik merah itu saja diatas tanah.
Bersambung
__ADS_1