
"Pengguna pedang, ya? Beruntung sekali kau bertemu denganku, karena aku adalah ahlinya."
"Be-begitu, ya?"
Ia tersenyum percaya diri ketika Herlin membicarakan soal pedang. Sepertinya kali ini aku akan mendapatkan senjata yang lebih bagus dari pedang murah sebelumnya. Semoga saja.
Kami berjalan mengikuti ayahnya Nezumi ke ruangan yang sebelumnya kami belum pernah masuki. Di dalam ruangan ini banyak mentahan-mentahan pedang yang terlihat belum jadi. Ada yang hanya bilahnya saja tanpa pegangannya, ada juga yang masih berada di dalam cetakan.
"Ini adalah ruang kerjaku."
"Baru pertama kalinya aku kesini," ucap Herlin yang terlihat kagum juga dengan tempat ini.
"Ini adalah ruangan pribadi ayahku, tentu saja jarang ada orang yang datang kesini. Ia juga tidak terlalu suka kalau orang masuk kesini," jelas Nezumi.
"Itu benar! Tapi kau berbeda, kau berhasil menarik perhatianku jadi aku akan memberimu pengecualian."
"Ehehehe ... te-terima kasih."
Aku tidak tahu maksud dari perkataannya adalah memujiku atau sebaliknya, jadi untuk saat ini aku akan tersenyum saja.
"Oh iya, saking semangatnya aku sampai belum memperkenalkan diriku, ya? Kau bisa memanggilku Kenshin, Satou-kun!"
"A-aku mengerti, Kenshin-san."
Setelah perkenalan singkat itu, Kenshin-san menunjukkan kepadaku beberapa pedang yang sekiranya cocok dan akan kupakai untuk kedepannya. Tapi sepanjang penjelasannya, aku sama sekali tidak tertarik dengan pedang-pedang yang ia tunjukkan dari tadi di sini.
Semua bahan pedang yang ada di sini tidak ada yang bisa menyamai kualitas dari pedang yang diberikan oleh Ryuzaki-san dulu. Hal itu benar-benar membuatku kesal saat Astaroth menghancurkannya.
Kenshin-san yang sepertinya menyadari kalau aku tidak benar-benar tertarik dengan semua pedang yang tadi sudah ia beritahukan, kemudian berjalan mendekatiku.
"Ada apa, Satou-kun? Sepertinya tidak ada yang menarik perhatianmu, ya? Apa kualitas pedang yang ada di sini tidak ada yang memenuhi standarmu?"
"Hn? Ti-tidak! Tentu saja pedang di sini memiliki kualitas yang baik. Hanya saja—"
"Kau tidak perlu berbohong."
"Eh?"
"Aku sudah bertahun-tahun menjadi pembuat pedang di era yang sudah modern ini. Tidak ada yang membeli buatanku selain para Exception karena kebanyakan lebih memilih senjata api untuk pertahanan dirinya."
"I-itu ... jadi?" Aku tidak mengerti apa yang Kenshin-san ingin katakan.
"Meski begitu, aku tahu wajah seorang pelanggan yang tidak puas dengan barang yang ia lihat. Aku sangat tahu itu. Jadi kalau bisa, apa kau bisa menunjukkan kepadaku standar pedang yang akan kau pakai?"
"...."
Aku jadi tidak enak ketika Kenshin-san menyadari kalau pedang yang ada di sini tidak bisa memenuhi standarku. Tapi aku juga tidak bisa memakainya jika itu berada di bawah standarku.
Jadi aku melihat ke arah Herlin sebentar, ia pun juga menyadari kalau aku melihat ke arahnya. Aku tahu kalau Cecilia adalah rahasia yang tidak bisa ditunjukkan kepada sembarang orang begitu saja, tapi kalau aku tidak menunjukkannya, akan sulit untuk mendeskripsikannya.
"Ada apa?" tanya Herlin.
"Apa aku boleh menunjukkan pedang buatan Cecilia?"
"Untuk apa?"
"Aku tahu kalau Cecilia adalah sebuah rahasia. Tapi jika aku tidak menunjukkannya, aku tidak bisa menunjukkan kualitas pedang yang aku inginkan."
Herlin sempat terdiam sebentar. Meskipun Herlin sudah mengenal Nezumi dan ayahnya cukup lama, aku berpikir kalau rahasia sebesar ini tetap saja membutuhkan pertimbangan yang matang untuk diberitahukan.
Tapi setelah beberapa saat diam, Herlin kemudian memberikan jawabannya.
"Terserah kau saja, lagipula kau sudah pernah menunjukkannya di depan semua orang."
"Semua orang? Ah ...."
Aku ingat kalau aku pernah mengeluarkannya saat sedang melawan Oukami Yuu. Waktu itu aku terdesak dan tidak punya pilihan lain. Ya ... meskipun pada akhirnya aku tetap kalah, sih. Tapi dengan begini aku sudah mendapatkan izin dari Herlin.
Syiing...
Aku pun memfokuskan dan memadatkan auraku yang kemudian aku ubah menjadi bentuk pedang yang biasa aku pakai saat bertarung.
Mereka berdua terlihat terkejut dengan pedang yang aku buat.
"Se-sebuah pedang dari aura?!"
"Jadi kau seorang Transformation?"
Meskipun pedang ini kuat, tapi aku tetap saja lebih suka memakai pedang asli. Aku masih belum bisa dengan sempurna mempertahankan bentuknya dalam waktu lama, dan yang paling susah untuk dipertahankan adalah bentuk gagangnya.
Setelah cukup padat dan solid untuk dipegang, aku pun memberikannya kepada Kenshin-san untuk disentuh dan dipegang olehnya.
"Agak sulit untuk aku jelaskan, tapi aku memang bisa membentuk pedang dari auraku sendiri."
"Lalu kenapa kau datang kesini?" tanya Kenshin-san.
"Aku punya alasanku sendiri untuk itu. Tapi untuk sekarang, apa anda bisa membuat senjata yang kualitasnya sama seperti itu?"
"Hmm ...."
Kenshin-san memperhatikan sebentar pedang milikku yang ada di tangannya saat ini. Nezumi juga penasaran dan ikut memperhatikannya.
"Tidak mungkin kami bisa menyamai kualitasnya!" ucap Nezumi.
"Eh? Apa kualitasnya memang sebagus itu?"
"Bukan hanya itu, auranya terasa sangat kuat dan aku yakin ini bisa menembus materi apa saja di bumi ini. Kecuali jika aura orang yang kau lawan lebih kuat dari ini," lanjut Kenshin-san.
"Ja-jadi begitu."
Aku jadi menyesal karena tidak menggunakannya saat melawan Astaroth. Aku malah menghancurkan pedang pemberian Ryuzaki dan juga tempat tinggal Tetsu.
"Jadi memang benar-benar tidak ada bahan yang bisa menyamai kualitasnya, ya?" tanya Herlin.
"Kalau bahan dari alam, aku rasa iya."
Kami semua tertunduk lemas. Sepertinya makhluk buatan Astaroth memang sudah terlalu kuat untuk bahan biasa. Tapi saat semuanya terlihat sudah tidak memiliki harapan lagi, Kenshin-san membuka mulutnya.
"Tapi masih terlalu cepat untuk bersedih."
"A-ayah?"
__ADS_1
Kenshin-san berjalan ke salah satu pojok ruangan di dekat perapian tempat ia melelehkan besi. Lalu di sampingnya, di balik tumpukan bilah-bilah pedang yang baru setengah jadi, ia mengambil sebuah box kayu.
Ia kemudian membawanya dan menaruhnya di hadapan kami. Sebuah box kayu berukuran 120 × 60 cm ini terlihat tersegel dengan baik karena ditutupi dengan kayu yang kemudian di paku dengan paku yang banyak. Kenshin-san pun langsung membuka box kayu itu dan ketika tutup kayunya terbuka, kami semua bisa melihat apa yang ada di dalamnya.
Tulang—tidak, ini adalah sebuah gigi taring yang memiliki panjang setengah tinggi tubuhku. Taring itu terbaring di atas styrofoam yang membuat kualitasnya tetap baik dan tidak ada retak. Dan aku yakin pemilik gigi taring ini pasti memiliki tubuh yang besarnya tidak terbayangkan.
"I-ini?"
"Apa kau tahu naga yang menyerang Nagoya beberapa minggu lalu? Aku mendapatkan hadiahnya dari si pemimpin White Cloud itu, Mushino Aoda."
"White Cloud? Kalau tidak salah itu nama salah satu organisasi di Kuni no Hashira, kan?" tanyaku.
"Benar. Tapi aku tidak tahu kalau ada serangan lain pada malam itu selain di Kyoto," jawab Herlin.
"Bagaimana dengan ini? Aku rasa gigi naga ini bisa menyaingi kualitas dari pedang aura buatanmu ini."
Aku larut dalam lamunanku sebentar. Kalau dipikirkan lagi, monster naga ini berasal dari tempat yang sama dari tempat Cecilia berasal, itu berarti kualitasnya tidak jauh berbeda. Tapi aku masih belum tahu seberapa jauh perbedaannya.
"Bagaimana menurutmu, Cecilia?" gumamku kecil.
"Kau bisa menggunakannya. Itu adalah bahan terbaik yang ada di kota ini yang bisa kau temukan, meskipun itu masih jauh dari kekuatan auraku, sih."
Dia masih saja menyombongkan kekuatannya di akhir kalimat. Tapi dengan begini aku yakin kalau taring naga ini adalah pilihan terbaik dan aku pun menerimanya.
"Baiklah kalau begitu, aku memilih taring naga itu!"
"Yosh! Sudah ditentukan! Kalau begitu kau bisa kembali lagi seminggu dari sekarang. Aku pastikan kalau aku akan memaksimalkan bahan super ini."
"Aku serahkan padamu, Kenshin-san!"
Setelah saling berjabat tangan satu sama lain, kami pun berjalan meninggalkan tempat itu dan berjalan pulang ke rumah. Di perjalanan aku dan Herlin sempat berbincang soal calon pedang baru milikku.
"Akan jadi seperti apa ya desain pedangku?"
"Kau tidak menentukannya?"
"Eh? Memangnya harus?"
Herlin menepuk wajahnya karena menyadari kecerobohanku. "Anak bodoh. Tentu saja kau harus. Bagaimana jika nanti desainnya tidak sesuai dengan keinginanmu?"
"I-itu ...."
Aku membayangkan nanti pedangku akan jadi terlalu panjang sehingga aku kesulitan menaruhnya, atau bisa jadi terlalu besar sampai aku kesulitan mengangkatnya, atau bisa jadi sangat kecil.
"... Sepertinya itu gawat juga. Apa yang harus aku lakukan, dong?! Kenshin-san tidak memberitahu apapun soal hal itu tadi."
"Entahlah, tapi sepertinya dia akan memikirkannya sendiri. Dan yang pasti itu akan menambah harganya."
Aku menghentikan langkahku. Saking senangnya karena pedang baru, aku sampai melupakan hal yang paling pahitnya yaitu soal biayanya. Semoga saja kali ini Herlin mau membayarkannya lagi seperti yang sebelumnya.
"Herlin—"
"Tidak mau."
"Aku belum ngomong apa-apa, oi!"
"Sekali tidak tetap tidak. Kau ingin aku membayarkannya, kan? Keuanganku sekarang sudah terbatas tidak seperti dulu lagi."
"Ta-tapi ...."
**
Minggu berikutnya kami kembali datang ke tempat Nezumi untuk mengambil pedangku. Tapi saat masuk ke dalam sini, perasaanku sangat tidak tenang.
"Selamat da—Oh! Akhirnya kalian datang juga!"
Kenshin-san langsung menyambut kami dengan semangat saat melihat kedatangan kami berdua. Dan dari yang aku lihat sekarang, sepertinya ia sudah menyelesaikan pedangnya.
"I-iya, ka-kami datang untuk mengambil pedangnya," ucapku terbata-bata.
"Ahahaha ... kenapa tegang begitu?! Kau ragu kalau pedang buatanku tidak sesuai ekspektasimu, ya? Tenang saja! Meskipun sulit, tapi aku sudah menyelesaikannya, kok!"
Kenshin-san merangkulku dengan akrab mencoba meyakinkanku kalau hasil pedang buatannya berkualitas tinggi. Tapi sebenarnya bukan itu yang aku khawatirkan saat ini.
"Ehehe ... tidak mungkin aku meragukan pekerjaan anda."
"Bagus kalau begitu! Ayo, akan aku antar ke tempatnya."
Aku dan Kenshin-san pun berjalan duluan. Dan sebelum mengikuti kami, Nezumi dan Herlin sempat berbicara sebentar berdua.
"Dia tidak terlihat seperti biasanya, apa dia sakit?"
"Tidak. Dia begitu karena khawatir harga pedang pesanannya terlalu tinggi."
"Oh ... jadi itu yang dikhawatirkan olehnya."
"Aku lihat dari wajahmu, sepertinya harganya tidak terlalu mahal."
"Aku tidak tahu harga ini mahal untuk kalian atau tidak, tapi ...."
Nezumi mendekatkan mulutnya ke telinga Herlin dan membisikkan harga pedang itu padanya. Dan setelah mendengar harganya, wajah Herlin menjadi kaku dan terlihat merasa bersalah. Ia perlahan menengok ke arah Nezumi yang sudah menjauhkan wajahnya dari Herlin.
"Kau bercanda, kan?"
"Tidak."
"Kau pasti sedang bercanda 'kan sekarang?"
"Tidak, Herlin."
"Kau bercanda karena ingin melihat wajah shock ku, kan?"
"Kau harus mulai menerima kenyataan, Herlin."
Herlin mencoba berpikir tenang dan rasional. Ia yang sedang shock saat ini kemudian berjalan duluan dengan tatapan kosong sambil memikirkan apa yang akan ia lakukan ke depannya untuk menebus harganya. Lalu Herlin berbicara lagi kepada Nezumi.
"Kalau dipikir-pikir lagi, mencuri saat terpaksa itu tidak salah, kan?"
"Hentikan."
Kembali ke Iraya yang saat ini sedang dituntun oleh Kenshin-san saat ini. Ia terlihat sangat was-was seperti seseorang yang sedang dituntun menuju ke kuburannya.
__ADS_1
Kualitas bagus, tentu saja harganya pasti 'bagus'. Itu yang dari tadi ada di pikiranku saat ini. Bagaimana respon yang akan aku berikan ketika nominalnya melebihi uang yang aku miliki saat ini.
Sambil berandai-andai, akhirnya aku sampai di sebuah podium yang atasnya di tutupi oleh kain hitam menutupi sebuah benda panjang yang tentu saja aku tahu isinya apa.
Kenshin-san kemudian melepaskan rangkulannya dariku dan berjalan ke samping podium itu. Ia sudah siap untuk membuka kain hitam yang menutupi sesuatu di atas podium tersebut.
"Apa kau sudah siap, Satou-kun?!"
Aku hanya mengangguk pelan dengan menampilkan sebuah senyuman yang terlihat jelas sedang aku paksakan.
Dan Kenshin-san pun membuka kain hitam yang menutupi benda di dalamnya. Sebuah pedang dengan model broadsword yang memiliki panjang sekitar 80 cm dengan gagang kayu berwarna hitam pada pegangannya. Modelnya memang terlihat sederhana, tapi kilauan pada bilahnya terlihat berbeda karena terbuat dari taring naga asli.
"Aku membuatnya menjadi pedang era medieval eropa karena terinspirasi dari pedang aura milikmu waktu itu. Proses peleburan gigi naganya juga lumayan sulit dan membutuhkan temperatur yang tinggi serta pembakaran yang lama. Bisa dibilang ini adalah salah satu karya terbaikku!" jelas Kenshin-san.
Memang benar kalau pedang itu terlihat sangat luar biasa. Aku bahkan bisa merasakannya dari jarak segini kalau ketajamannya sudah tidak diragukan lagi. Tapi masalahnya saat ini benar-benar bukan itu.
Aku menengok ke belakang dan melihat kedatangan Herlin dan Nezumi. Aku melihat ke arah wajah Herlin yang sudah terlihat seperti orang ingin mati.
"A-ano Kenshin-san ...."
"Hmm? Ada apa?"
"Ini benar-benar pedang yang luar biasa, kualitasnya, ketajamannya, dan bentuknya juga bukan main. Tapi ...."
"Tapi apa?"
"... Tapi kualitasnya pasti setara dengan harganya, kan?"
"Hmm ... benar juga. Pedang sebagus ini tidak mungkin aku beri harga murah."
"Be-benar juga, ya. Hehehe ...."
Aku memalingkan wajahku karena tidak berani untuk melihat wajah Kenshin-san. Aku telah membuatnya menciptakan sesuatu yang luar biasa tanpa bisa membayarnya. Jika aku tidak kenal dengan orang ini, pasti aku tidak akan keluar hidup-hidup.
Dan sepertinya Kenshin-san juga menyadari kesulitanku yang satu ini.
"Satou-kun?"
"I-iya?"
"Apa di malam itu—saat tiga meteor muncul di langit malam, kau melihatnya?"
"Ya, aku melihatnya. Tapi untungnya orang yang menciptakan masalah itu sudah berhasil Black Rain tangani."
Kenshin-san tersenyum tipis. "Ternyata benar itu kalian."
Kenshin-san berjalan mengitari ruangan ini sambil memandangi pedang dan senjata lain yang sudah selesai yang ia gantung pada dinding-dinding ruangan ini.
"Malam itu aku kira riwayatku dan Nezumi sudah tamat. Aku menolak untuk ikut dievakuasi karena aku tidak ingin meninggalkan rumah dan ruang kerjaku ini."
"Itu berbahaya sekali," ucapku.
"Aku tahu itu. Tapi bagiku hidup tanpa ruang kerjaku tidak ada maknanya bagiku. Aku sebenarnya sudah menyuruh Nezumi untuk pergi dari sini dan ikut evakuasi, tapi—"
"Tapi tentu saja aku tidak akan meninggalkan ayahku sendirian di sini. Jika pun aku mati, aku akan mati bersama ayahku dan hancur dengan tempat ini," lanjut Nezumi.
"Begitulah yang ia bilang pada malam itu. Tapi semuanya berubah, ketiga meteor itu hancur berkeping-keping dan kami semua selamat. Itu adalah keajaiban paling mustahil yang pernah aku rasakan dalam hidupku. Dan itu semua berkat kalian."
Kenshin-san kemudian mengambil pedang yang lengkap dengan sarungnya yang di pajang di podium itu lalu memberikannya kepadaku. Aku dengan ragu-ragu pun menerimanya.
"Kau boleh menyicilnya, selama kau masih hidup kau bisa terus datang padaku bahkan sampai aku sudah mati. Kau boleh membayarnya hutangnya kepada Nezumi."
"Be-benarkah?" ucapku yang masih tidak percaya keajaiban di depan mataku ini.
"Tentu saja! Tanpa Black Rain malam itu, aku tidak akan bisa menciptakan mahakarya yang sedang kau pegang saat ini."
Aku kehabisan kata-kata. Tidak ada satupun kata yang bisa keluar dari dalam tenggorokanku, hanya ada ucapan terima kasih yang masih terucap berulang-ulang di dalam hatiku saat ini.
"Te-terima kasih, Kenshin-san," ucapku yang akhirnya bisa mengucapkan kata itu.
"Hehe! Oh iya satu lagi, ini sebagai bonus pembelian keduamu di sini."
Ia memberiku hal lainnya lagi. Sebuah gagang pedang tanpa bilah di atasnya, tapi gagang itu terasa sangat sejuk dan nyaman saat aku pegang.
"Ini ...."
"Itu untuk pedang auramu. Aku tidak tahu bagaimana caramu memegangnya sangat lama karena itu terasa membakar telapak tangan, jadi aku membuatkan gagang pedang itu untukmu."
Aku masih tidak percaya dan mulutku menganga karena kebaikan yang diberikan oleh Kenshin-san untukku. "Baiklah, baiklah, sekarang saatnya keluar dari sini," ucap Nezumi.
Ia mendorongku dan Herlin keluar dari sini yang masih ternganga tidak percaya. Setelah mendorong kami sampai ke pintu depan, ia pun melambaikan tangannya pada kami.
"Baiklah, semoga hari kalian menyenangkan."
Blam...
Dan pintunya pun tertutup. Aku dan Herlin berjalan sebentar keluar dari gang yang sempit dan kotor itu, lalu setelah keluar dari gang dan sampai di trotoar yang lumayan lebih bersih ....
Bruuk...
Aku terlutut lemas di tanah sementara Herlin bersandar lemas di tembok luar gedung. Kami berdua benar-benar tidak percaya kalau Kenshin-san dan Nezumi mau berbaik hati kepada kami.
"Hah ... apa yang terjadi barusan?" tanyaku.
"Aku juga tidak tahu. Semuanya terjadi begitu cepat."
"Tapi dengan begini, setidaknya aku memiliki pedang baru yang jauh lebih bagus."
"Jangan sampai rusak lagi, aku akan membunuhmu dua kali jika kau merusaknya," ucap Herlin.
"Me-memangnya berapa harganya?"
"Delapan ratus ribu Yen!"
"Delapan ra—?!"
Setelah mendengar harga pedang yang sedang aku pegang saat ini, di dalam hati aku pun berjanji. Aku, Satou Iraya, dengan ini berjanji, akan menjaga pedang ini dengan segenap jiwa dan ragaku.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
#info
¥800.000 \= sekitar Rp. 100.000.000