Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 126 : Tidak Adil


__ADS_3

eadaannya saat ini begitu mencekam dan heboh. Di sekelilingku orang-orang biasa menjadi agresif dan menyerang siapapun yang mereka lihat, terutama yang tidak terkena efek cuci otaknya. Sepertinya ramuan dari putri kerajaan itu bekerja dengan baik dan ditambah oleh trik dari Lennova membuatnya sempurna.


Saat semuanya sudah berjalan dengan begitu baik dan kelihatannya hanya tinggal menunggu waktu untuk kota ini menuju kehancuran, tapi selalu ada orang yang mencoba menghentikannya. Dan salah satu orang yang menentang rencana kami sekarang ada berada di hadapanku. Ketua dari White Cloud, Mushino Aoda.


Aku pernah mendengar desas-desus dengannya dari Bos Astaroth, dia adalah Exception yang memiliki tipe Transformation. Tapi ada sesuatu yang membuat kekuatannya spesial, dia memiliki Unique Skill yang memungkinkannya untuk menghisap aura milik Exception lain dan menjadikan kekuatan untuk dirinya sendiri.


Kira-kira kebalikan dari kekuatan Ivis yang bisa memberikan sebagian auranya bagi orang lain. Kedengarannya memang kekuatannya cukup merepotkan, aku juga dengar kalau dia mengalahkan Wyvern seorang diri. Meskipun aku meragukan cerita itu tapi kalau dia memang melakukannya, maka pertarungan ini akan sedikit merepotkan.


Aku menyuruh Baram menyusul putri kerajaan dan pelayannya untuk pergi membantu mereka. Karena sejujurnya aku kurang suka jika harus bertarung bersama, meskipun lawan yang aku hadapi kemungkinan lebih kuat dariku.


Karena impresi pertamaku padanya benar-benar buruk. Dia memakai kacamata dan penampilannya tidak mencerminkan seorang pemimpin salah satu Organisasi Kuni no Hashira.


Saat pertama kali melihatnya, yang pertama terpikir di kepalaku mungkin dia adalah seseorang pekerja kantoran yang bisa kau temui dimana saja. Dia adalah tipe karyawan yang tidak berani menatap mata bosnya dan biasa dipaksa untuk mentraktir teman-temannya.


Tapi aku harus melupakan pemikiran bodohku tentang impresiku padanya. Aku harus sadar kalau sudah banyak orang yang kekuatannya tidak sama dengan penampilannya.


Salah satunya adalah dia. Satou-kun.


Tanpa sadar aku mendecakkan lidah saat memikirkannya. Dia adalah orang yang secara mengejutkan kekuatannya berada di atasku. Mungkin sebagian adalah berkat bantuan Spirit yang ada di dalam tubuhnya, tapi itu tetap saja bukan menjadi alasan bagiku.


Dan kenanganku saat bertarung dengannya bukanlah pengalaman yang baik. Bukan karena aku kalah atau kesulitan melawannya, karena aku terpaksa harus mundur sebelum bisa bertarung dengannya.


Saat aku sudah menyudutkan perempuan sialan itu dan tinggal melubangi lehernya saja. Tiba-tiba tanpa peringatan, ia datang dari belakang, menyerangku, dan sekaligus menggendongnya menjauh dariku.


Tatapan yang dia berikan kepadaku begitu tajam dan penuh kemarahan tapi berubah secara drastis saat ia melihat perempuan itu. Dia melihatnya dengan senyum menenangkan dan terlihat begitu keren.


Apa-apaan perubahan sikapnya itu?! Meskipun dia belum tahu kalau ternyata lawannya adalah aku tapi tetap saja itu membuatku kesal. Sangat kesal bahkan.


Lalu perempuan pindahan itu juga! Padahal dia baru bertemu dengan Satou-kun tidak lama, tapi sudah seenaknya mendekat tanpa rasa malu sedikit pun.


Mati sana, dasar perempuan ******! Yang diselamatkan oleh Satou-kun duluan adalah aku daripada dia! Dan tidak ada yang bisa membantah fakta itu! Aku juga tidak yakin kalau Satou-kun pernah ke rumah perempuan itu.


Tapi Satou-kun malah bergabung bersamanya ke dalam Black Rain, organisasi setengah mati karena ketuanya, yaitu Murasaki Oita telah dibunuh oleh Bos Astaroth. Dan sekarang putri kerajaan menghidupkannya lagi lalu menggunakannya untuk melawan mereka, tinggal menunggu saja bagi mereka untuk hancur.


"Hey, kau ...."


Pikiranku yang sedang kacau dan penuh dengan amarah langsung dibuyarkan oleh orang yang ada di hadapanku. Entah aku harus berterimakasih karena sudah mengembalikanku ke dunia ini atau marah karena sudah mengganggu lamunanku. Tapi yang mana pun sama saja, karena sekarang aku akan melawannya.


"... Apa kau akan tetap diam begitu saja? Atau ada sesuatu yang ingin kau lakukan?"


Tentu saja aku akan melawanmu! Aku menyuruh Baram pergi bukan tanpa alasan, aku mencoba untuk menghilangkan sifat burukku yang selalu menilai orang dari penampilannya. Jadi sekarang aku sendiri yang akan melawannya.


Meskipun penampilannya seperti pria kantoran biasa, tapi dia tetaplah pemimpin dari White Cloud. Aku bisa merasakan aura yang besar meluap-luap dari dirinya. Mungkin jika aku membandingkannya dengan Bos Astaroth atau Murasaki Oita, dia ada sedikit di bawahnya. Tapi itulah yang ingin aku coba sekarang.


Begini-begini aku adalah Delta. Hasil percobaan Heiwa Pharmacy yang keempat, perwakilan manusia dalam daftar percobaan. Aku hampir menguasai semua elemen dasar bahkan beberapa elemen tingkat lanjutan.


Ketahanan tubuh dan beladiriku juga berada di atas rata-rata dan aku juga punya kemampuanku sendiri, yaitu dapat mengkloning tubuhku. Aku tidak berencana untuk kalah saat ini.


"Tidak ada respon, ya? Aku punya firasat kalau kau tahu sesuatu dan mungkin saja terhubung dengan dalang kekacauan ini, jadi mau tidak mau harus kubuat bicara."


Dia mengusap-usap kepalanya ketika berbicara seperti itu, pertahanannya begitu terbuka sampai aku yakin aku bisa mengalahkannya dalam satu kesempatan ini.


Kakiku menghentak tanah sekali. Dan sebuah pergerakan tercipta dari dalam tanah bagaikan sebuah gempa mini. Dia— yang mulai sekarang akan kupanggil Aoda ternyata menyadari hal itu, dia menyadarinya tapi bingung dengan tujuanku.

__ADS_1


Dan ketika sebuah duri sebesar tubuh manusia yang terbuat dari muncul dengan tanpa diduga olehnya, matanya melebar dan dengan refleksnya yang cepat dia pun langsung melompat ke atas menghindari sebuah duri tanah itu. Tapi jangan pikir kalau seranganku hanya sampai di situ.


"??!"


Ketika ia masih melayang jatuh di udara, sesuatu menarik perhatiannya. Ia melihat ke atas dan menyadari air berkumpul persis di atas kepalanya membuatnya tentu bertanya-tanya. Tapi pertanyaannya langsung terjawab ketika dalam sekejap aku membekukan air tersebut dan menciptakan jarum-jarum yang langsung menembak ke arahnya.


Tidak ada yang bisa ia lakukan selain melindungi wajah dan kepalanya dan mengorbankan bagian tubuh lainnya untuk terkena jarum es tersebut.


Aku masih belum selesai!


Aku tidak akan membiarkannya bernafas bahkan sedetik pun. Aku mengarahkan tangan kiriku kepadanya dan membuat jarum es yang menancap pada tubuhnya langsung mencair dan membasahinya, meninggalkan luka kecil di sekujur tubuhnya.


Tubuhnya yang basah kini adalah sasaran empuk untuk seranganku selanjutnya. Aku berlari mendekatinya sekaligus mengambil sebuah tiang papan rambu jalan yang sudah tidak memiliki kepala rambu dan hanya menyisakan tiangnya saja.


Aku langsung melemparnya dan dia yang masih belum sembuh dari luka jarum tentu saja tidak bisa menghindari lemparan yang menyamai laju tertinggi dari mobil F1 dari jarak sekitar 10 meter.


"Gkkh ...!"


Tiang tersebut langsung menancap tepat di bagian lengannya, meskipun aku mengincar bagian jantungnya tapi gerakan lengannya melindungi bagian vitalnya. Aku harus mengakui kehebatannya karena masih bisa meminimalisir luka, tapi sayangnya ini sudah cukup, karena mau bagian mana pun yang kena, itu sudah cukup.


"Aku tidak akan membiarkanmu— AakHhh!!"


Benar! Aku tidak akan membiarkanmu bicara sama sekali! Dia mencoba untuk berbicara dan menahan seranganku, tapi aku tidak akan membiarkanmu melakukannya.


Bos Astaroth hanya menyuruhku untuk mengulur waktu selama mungkin, dia kemungkinan punya sebuah rencana jadi yang aku perlukan hanyalah menurutinya. Lagipula dia orang yang lebih kuat dariku.


Lupakan untuk itu sejenak, alasan kenapa Aoda berteriak kesakitan hanya karena tertusuk di bagian tangan adalah karena aku memasukkan auraku yang memiliki elemen listrik pada tiang itu sebagai konduktor. Dan ditambah dengan air yang membasahinya membuat rencanaku semakin sempurna.


Kini Aoda jatuh ke bawah tanah dengan tubuh kaku akibat sengatan tinggi listrik. Dia masih bergerak yang membuktikan ketahanan tubuhnya sangat tinggi, meskipun baju dan jaketnya sudah compang-camping. Tapi aku tidak akan berhenti sampai disitu, aku sudah belajar dari kesalahanku agar tidak memberikan musuh kesempatan untuk menyerang balik.


Aku bisa menjamin kalau itu tidak akan melubangi dirinya karena tanahku akan langsung hancur sebelum berhasil menembus kulitnya. Jadi yang aku lakukan adalah menekannya sekencang mungkin agar ia tidak bisa bergerak.


Setelah itu dari tangan kananku aku bisa merasakan auraku yang merambat menuju ke telapak tangan dan akhirnya keluar menembak ke arah Aoda. Beberapa detik aku menahannya sampai aku bahkan memegang pergelangan tanganku dengan tangan kiri agar semburan apinya yang semakin membesar tidak mengarah kemana-mana.


Dan setelah lewat tiga puluh detik, api yang aku semburkan perlahan menipis dan akhirnya menghilang. Hanya tersisa asap hitam tebal saja dan tenagaku juga sudah lumayan terkuras.


Selama hampir lima menit, aku terus mengeluarkan serangan tanpa henti dan dari elemen yang berbeda. Tentu saja itu menguras banyak auraku dan kelelahan adalah hal yang wajar. Jadi ini bukan berarti aku membuat alasan!


Zwuuusshh...


Tapi ketika aku sedang memulihkan tenagaku, asap hitam tebal yang menutupi Aoda tiba-tiba menghilang seakan disapu oleh hembusan angin besar dari dalam.


Mulutku benar-benar menganga saat ini, ekpresiku yang sudah lama aku pendam selama pertarungan untuk pertama kalinya keluar. Tapi beruntungnya ada topeng di wajahku yang membuat siapapun tidak dapat melihat ekspresi terkejutku.


Dari dalam asap tebal itu, muncul Aoda yang berdiri dengan kepayahan. Penampilannya kacau balau karena serangan bertubi-tubi yang aku lakukan. Kulitnya memerah dan masih dapat terlihat sedikit percikan listrik di sekujur tubuhnya, lalu darah mengucur di dahi, lengan, serta dari luka-luka kecil bekas jarum.


"Hei ..., apa aku mengatakan sesuatu yang membuatmu marah? Atau itu hanya tugasmu saja?"


Aku masih terkejut dan tidak menjawab pertanyaannya. Meskipun aku juga tidak ingin menjawab apapun dari dirinya, sih. Suaraku terlalu mahal untuk orang sepertinya.


Tapi ketahanan yang dimiliki orang ini benar-benar gila, bahkan setelah pakaiannya hampir semuanya sudah musnah, dia masih terus saja berdiri. Sekarang diriku sudah lumayan kelelahan, mungkin aku bisa melakukan serangan bertubi-tubi seperti tadi hanya sekali lagi setelah itu aku harus pergi dari sini.


"Lagi-lagi tidak mau menjawab, ya? Ya terserah lah."

__ADS_1


Aoda kemudian berjalan mendekati salah satu Exception yang sudah aku kalahkan sebelumnya. Pancaran aura melayang keluar dari dirinya dan perlahan menjadi bisa terlihat dengan mata telanjang, sebuah aura yang berbentuk tali licin bergerak bebas di udara menyatu dengan tengkuknya.


Mungkin kata 'tentakel' cocok untuk mendeskripsikan aura di belakang tengkuknya itu, walaupun itu sedikit lebih ramping dan tipis. Tapi kesan pertamaku setelah melihatnya adalah menjijikkan, aku harus berhati-hati agar benda itu tidak mengenai tubuhku.


"Apa kau masih sadar?"


"Ketua ... Aoda?"


"Maaf memintamu ketika kau sedang terluka begini, tapi apakah aku boleh menyerap aura milikmu?"


"Te-tentu saja boleh ... anda bisa menggunakannya lebih baik dari saya, jadi silahkan gunakan sesuka anda."


"Terima kasih."


Setelah percakapan singkat itu, tentakel tali milik Aoda menusuk tepat di tengah telapak tangan. Aura milik Exception yang terluka itu perlahan diserap oleh Aoda dan menjadikan hal itu miliknya sekaligus menambah kekuatannya.


Dan setelah itu, Exception yang terluka itu pingsan dan Aoda membaringkannya di tanah dengan lembut.


"Aneh, bukan?"


Dia mulai berbicara lagi padaku. Aku sebenarnya tidak ada niat untuk berbicara padanya, tapi ini bagus untuk sementara waktu memulihkan tenagaku jadi untuk sekali ini saja aku mendengarkannya.


Aku mengendurkan kuda-kudaku dan berdiri seperti biasa seakan menjadi pertanda kalau aku tidak akan menyerang untuk beberapa saat ke depan. Aoda mengerti hal itu dan sedikit tersenyum, lalu ia melanjutkan ceritanya.


"Mereka dengan mudahnya menyerahkan kekuatan mereka kepadaku, orang yang hanya bergelar 'Ketua' di White Cloud. Aku bahkan tidak bisa membayangkan diriku melakukan hal itu kepada orang lain, tapi mereka dengan bangganya masuk ke organisasi ini dan bersedia menjadi energi cadanganku."


Yang pertama, gelar 'Ketua' itu bukanlah 'hanya'. Tentu saja mereka akan memberikan apa yang mereka punya kepadamu, karena kau jelas lebih kuat dari mereka. Tapi sepertinya dia tidak menyadari hal itu.


"Aku dengar kau anggota baru dari Organisasi Assassin di bawah kepemimpinan Astaroth, ya? Apa kau sudah bergabung ketika terjadi 'Penyerangan Satu Malam' beberapa bulan lalu? Waktu itu aku menghadapi naga besar yang tiba-tiba terbang bebas di langit kota ini."


Sepertinya yang ia maksud dengan 'Penyerangan Satu Malam' adalah ketika tiba-tiba ada tiga monster besar ciptaan Heiwa Pharmacy yang menyerang Tokyo, Nagoya, dan Osaka secara bersamaan. Padahal mereka juga bisa menambahkan kota Kyoto di dalamnya karena aku bertarung di sana, tapi pamorku kalah jauh dengan monster-monster jelek itu.


"Pada malam itu, mereka juga sama dengan saat ini. Rela memberikan kekuatannya padaku. Hey, apa kau dengar soal siapa orang yang mengalahkan naga itu?"


Aura yang ia dapatkan kemudian Aoda ubah menjadi dua hal di tangannya yaitu sebuah pistol magnum di tangan kanan dan pedang di tangan kirinya. Sepertinya dia sudah siap untuk bertarung lagi, ini lah kenapa aku tidak ingin memberikan musuhku istirahat sedikit pun.


"Aku yang mengalahkannya. Seorang diri. Lalu jika aku bisa mengalahkannya, kenapa aku sekarat saat melawanmu, jika mungkin kau bertanya?"


"...."


"Soal itu ..., aku punya kemampuan lain." Aoda mengambil sebuah batu berukuran kecil dengan ujung pedangnya yang ia gulirkan langsung meluncur tanpa kendala ke dalam mulutnya dan ia kunyah dengan perlahan lalu ditelan.


Meski tidak banyak, tapi beberapa luka kecil langsung sembuh dan luka besar juga mengecil secara ajaib seperti seseorang memakaikannya skill penyembuh pada lukanya, padahal tidak ada siapa pun yang masih berdiri di sini selain aku dan dirinya.


"Aku menyebutnya kemampuan ini 'Eater'. Karena pada dasarnya Unique Skill ku dapat mengekstrak apapun menjadi keuntungan bagiku, kau bisa menyebut ini adalah tingkat lanjutan dari hal itu. Jadi selama aku masih memiliki sesuatu untuk masuk ke dalam mulutku dan mencernanya, aku bisa terus bertarung tanpa henti. Itu adalah caraku menang dari naga itu."


Jadi begitu, aku mengerti sekarang.


"Sekarang, bisa kita mulai lagi?" Aoda memasang kuda-kuda dengan ujung pistol magnum yang mengarah padaku juga dengan ujung pedangnya.


Aku benar-benar paham sekarang. Aku membuat klon diriku sendiri menjadi lima buah, masing-masing tidak ada yang berbeda dari diriku baik dari kekuatan maupun penampilan. Tapi aku masih tidak bisa melepaskan pemikiranku tentangnya saat ini.


Pemikiran yang sangat aku mengerti saat ini. Kalau kekuatannya sangat tidak adil. Aku dan lima klon ku memasang kuda-kuda dan bersiap untuk menyerang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2