Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 89 : Berkumpul Kembali


__ADS_3

Kembali ke pertarungan anggota Black Rain yang ada di Kyoto. Dua jam telah berlalu semenjak Astaroth menelepon Assassin yang berada di kota lainnya. Pertarungan mereka sampai saat ini belum menunjukkan akan segera berakhir meskipun dari kedua kubu sudah kelelahan.


Terutama Oita-san dan Astaroth yang bertarung selama dua jam di atas kota Kyoto. Jual beli serangan terjadi antara mereka berdua tanpa henti yang membuat malam kota Kyoto saat itu seakan sedang terjadi banyak kilat.


Di permukaan juga hampir tidak ada bedanya, dengan terungkapnya kalau Delta adalah Hasuki Chifu, sama sekali tidak menurunkan niat Iraya dan Herlin untuk bertarung.


Justru Iraya malah semakin bersemangat karena tahu kalau Delta lah yang membunuh ibunya. Jadi pertarungan dua lawan satu itu juga tidak bisa dihindarkan.


Sementara yang lainnya seperti Mei-senpai yang masih terkapar pingsan di tengah jalan yang rusak dan hitam terbakar. Di pinggir jalan terlihat Nimis yang sedang duduk sambil mengistirahatkan tubuhnya agar luka-lukanya yang sebelumnya tidak terbuka lagi. Ia sedang melihat ke arah pertarungan Astaroth dan Oita-san di atas langit.


"Siapa pun pemenangnya, aku sama sekali tidak peduli," gumam Nimis.


Sementara di tempat Ishikawa-san dan Ardenter, mereka berdua sedang sama-sama terkurung di dalam kurungan kubus sebesar 5 × 5 meter buatan Ishikawa-san.


Setelah pingsan selama dua jam lebih, akhirnya Ishikawa-san sadar juga. Saat ia sadar, ia melihat Ardenter yang sedang menatap ke atas seakan sedang melihat sesuatu.


"Adu-du-duh …."


"Akhirnya kau sadar juga, sialan."


"Hmm?"


Meskipun telat sadar selama beberapa detik, tapi akhirnya Ishikawa-san ingat kalau dirinya sedang berada di tengah pertarungan melawan Ardenter. Jadi ia mencoba berdiri dan memasang kuda-kudanya lagi meskipun kepalanya masih sakit dan tubuhnya masih dalam keadaan lemah.


Ardenter yang menyadari tindakan yang ingin dilakukan oleh Ishikawa-san tidak merespon berlebihan dan malah mengatakan sesuatu yang tidak diduga oleh Ishikawa-san.


"Sebaiknya kita tunda dulu pertarungan kita."


"Apa?"


"Entah kenapa aku memiliki firasat yang buruk tentang pertarungan mereka berdua," ucap Ardenter yang masih melihat ke atas.


"Mereka berdua? Sebenarnya dari tadi kau melihat kemana?"


Saat Ishikawa-san menatap ke arah yang dilihat oleh Ardenter, ia terkejut karena di langit terdapat kilatan-kilatan kecil seperti sebuah petir yang menyambar.


"Apa itu?" tanya Ishikawa-san.


"Pemimpinmu melawan pemimpinku. Astaroth melawan Murasaki Oita. Mereka sudah berada di sana kurang lebih dua jam dan sepertinya masih belum ada kata berhenti untuk mereka."


"Murasaki-san … melawan pemimpin kalian?"


Zruutt…


Keheningan menyerang mereka berdua setelah itu. Tapi tiba-tiba saat mereka berdua sedang serius melihat ke atas, kubus yang dibuat oleh Ishikawa-san perlahan menghilang dan kemudian menghilang sepenuhnya.


"Apa yang kau lakukan?"


"Sepertinya batas waktunya sudah habis, jadi dia menghilang dengan sendirinya."


"Hmm? Ya … aku sudah tak peduli lagi soal itu."


Meskipun mereka berdua sudah terlepas dari kubus penghalang, tapi tidak ada yang bergerak dari tempatnya masing-masing. Ishikawa-san dan Ardenter lebih fokus kepada pertarungan yang sedang terjadi sekarang.


Di tempat lainnya, dengan sebagian area sudah hancur berantakan. Duri-duri besar terbuat dari tanah berjumlah ratusan buah yang berdiri kokoh. Lalu di tengah-tengah itu semua, terdapat tiga orang yang sedang bertarung.


Sepertinya hanya mereka bertiga yang tidak terpengaruh dengan pertarungan Oita-san dan Astaroth dan lebih memilih untuk mengalahkan musuh yang ada di depan mereka masing-masing.


Satou Iraya PoV


Pertarungan dua melawan satu ini masih terus berlangsung sampai sekarang. Entah apa yang membuat Hasuki-san jadi sekuat ini, tapi yang aku tahu dulunya dia adalah seorang anak yang manja. Dan sekarang malah berakhir menjadi musuhku.


Blaaaaaarrr…


Hasuki-san menyemburkan api lewat tangannya ke arahku, tapi aku masih bisa membelahnya menjadi dua dan tidak ada dari serangannya yang mengenaiku.


Ia juga mencoba untuk memerangkap kakiku dengan kekuatan tanahnya. Tapi beruntung ada Herlin yang mencegah hal itu terjadi dengan kemampuannya. Aku yang tidak menyia-nyiakan hal itu langsung melesat ke arah Hasuki-san.


Beberapa kali tebasan aku arahkan kepadanya tapi semuanya masih dapat dihindari dengan mudah olehnya. Saat ia terus berjalan mundur untuk menghindari seranganku, punggungnya menabrak salah satu duri yang cukup besar yang membuatnya tidak memiliki tempat lagi untuk mundur.


Kliink… Triiingg…


Dengan cepat ia membuat bilah es yang ia genggam dan digunakan untuk menangkis seranganku. Kami berdua sama-sama mencoba untuk saling menyudutkan, tapi kekuatan kami setara sehingga masih belum ada yang mengalah. Saat sedang beradu seperti itu, aku mengajak Hasuki-san bicara.


"Kenapa kau bergabung dengan mereka, Hasuki-san?! Apa yang mereka tawarkan padamu?!"


"Mereka menawarkanku kekuatan! Mereka bilang jika aku memiliki kekuatan maka aku akan bisa mendekatimu."


"Hah?! Kau tidak perlu kekuatan untuk dekat denganku."


"Jangan menipuku! Kau sungkan denganku karena aku ini lemah, kan?! Makanya kau lebih dekat dengan Herlin-chan daripada aku, kan?!"


"Siapa yang bilang begitu?! Aku bahkan menyelamatkanmu saat di atap waktu itu. Itu semua karena aku ingin membuat kita berteman lagi."


"Berisik! Kau bohong! Tidak usah bicara denganku lagi, dasar pembohong!"


Perdebatan yang terjadi antara aku dan Hasuki-san berlangsung cepat dan membuat kami semakin lama semakin kuat dan sama-sama saling mendorong senjata masing-masing.


Sadar kalau cara yang sekarang tidak akan berhasil, Hasuki-san melepaskan genggaman tangan kanannya dan kembali mengarahkan semburan api ke wajahku dari jarak yang sangat dekat.


Blaaaaaarrr…


Beruntung aku masih bisa melompat mundur dan menghindarinya, tapi tanpa jeda Hasuki-san langsung membuat banyak duri-duri es tajam yang berada di atasnya.

__ADS_1


"Rasakan ini—Eh?!"


"Tidak akan kubiarkan!"


Herlin yang dari tadi bersiap di belakangku melakukan tugasnya dengan baik. Ia menahan pergerakan Hasuki-san sehingga aku yang masih berada di udara dapat mendarat dengan baik dan mendekat ke arah Herlin.


"Sial!"


Hasuki-san kemudian membatalkan duri-duri esnya dan menghancurkannya sebelum diluncurkan kepada kami berdua. Ia kemudian melihat kami dengan tatapan marah dan mulai berbicara.


"Aku membenci kalian berdua. Kukira aku bisa setidaknya masuk ke dalam pertemanan kalian, tapi ternyata aku salah. Aku bahkan tidak dianggap oleh kalian."


"Chifu-san, aku—"


"Diam!"


Saat Herlin ingin berbicara, ucapannya langsung dipotong begitu saja olehnya. Hasuki-san seakan tidak ingin mendengar suara Herlin lagi.


"Jangan bicara padaku lagi. Sepertinya aku salah dalam menggunakan kekuatan ini, aku tidak perlu untuk masuk ke dalam hubungan kalian. Aku hanya perlu menghancurkannya saja, sekaligus dengan orangnya!"


Ia menampilkan seringai yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Ekspresi yang penuh dengan perasaan dendam dan amarah, semuanya ada dalam wajah Hasuki-san saat ini.


Sebisa mungkin aku ingin menyelamatkannya dari pandangannya yang salah, tapi aku rasa sudah terlambat.


Aku membayangkan saat di sekolah dulu waktu kami bertiga makan bersama, diiringi dengan wajah cemburu dari teman-teman kelas lainnya. Meskipun momen tersebut menyebalkan entah kenapa hal itu adalah hal yang paling aku rindukan.


Tapi itu semua hanya kenangan sekarang, mereka semua telah pergi dari dunia ini. Hasuki-san juga nampaknya sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Aku menampilkan senyum miris saat sedang melamunkan hal tersebut.


"Sepertinya kita sudah tidak bisa menyelamatkannya," gumamku.


"Apa?" Herlin sepertinya mendengar gumaman kecilku.


Aku hanya menjawabnya dengan gelengan kepala yang menandakan kalau itu bukan apa-apa. Lalu aku memasang kuda-kuda lagi untuk kembali melawan Hasuki-san, tapi ada yang aneh dengan dirinya.


Hasuki-san melihat ke arah langit seakan sedang melihat sesuatu yang aneh disana. Aku dan Herlin mau tidak mau juga ikut melihat apa yang dilihat olehnya. Tapi kami hanya melihat dua titik kecil yang bercahaya.


"Apa yang sedang dilihatnya?"


"Itu Oita-san," sela Herlin menjawab pertanyaanku.


"Oita-san?!"


"Ya, dia sedang melawan pemimpin anggota Assassin. Kalau tidak salah namanya Astaroth."


Aku tidak tahu kenapa Hasuki-san sangat tertarik terhadap pertarungan mereka berdua sampai menghiraukan kami yang ada di depannya, tapi ini adalah kesempatan yang bagus untuk menyerangnya. Tapi tiba-tiba Hasuki-san mengatakan sesuatu.


"Kita lanjutkan pertarungan kita nanti, aku harus pergi."


"Tunggu! Oi!"


Dia tiba-tiba menghilang begitu saja. Aku tidak mengerti dengan apa yang ada dipikirannya tapi sepertinya ini adalah hal yang bagus. Aku bisa memeriksa keadaan yang lainnya sekarang.


"Apa-apaan sih dia itu?"


"Tidak usah pedulikan dia, ayo kita ke tempat yang lainnya."


"Kau benar."


Aku dan Herlin pun menuju ke tempat yang lainnya. Tempat yang pertama kami tuju adalah tempat dimana Mei-senpai dan Nimis bertarung. Kondisinya sangat kacau, bau gosong dan abu mendominasi di sekitar sini. Masih ada juga beberapa benda yang terbakar dan jalanan juga hancur parah.


Suasana di sini sangat parah dan hawanya juga panas. Aku mencoba mencari keberadaan Mei-senpai saat ini dan akhirnya menemukannya.


"Senpai!"


Saat mendekatinya, tubuhnya benar-benar dalam kondisi yang gawat. Hampir sebagian besar tubuhnya menderita luka bakar, salah satu matanya juga mengeluarkan darah, dan ia sedang dalam kondisi tak sadarkan diri.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Herlin.


"Aku tidak tahu, dia tidak merespon ucapanku dan nafasnya sangat lambat."


Saat aku sedang bingung dengan apa yang harus kulakukan terhadap Senpai, di pinggir jalan aku melihat Nimis yang juga sedang terluka. Ia melihat ke arahku dengan santainya dan tidak menunjukkan sikap siaga atau apapun.


Meskipun begitu aku tidak mempercayainya begitu saja dan mengacungkan pedangku padanya. Tapi ia malah dengan santainya berbicara dan merespon sikapku padanya.


"Kurasa pertarungan sudah tidak diperlukan lagi di sini."


"Apa maksudmu?"


"Bukankah lebih baik kau menyelamatkan temanmu daripada harus melawanku?"


Di satu sisi apa yang dikatakan oleh Nimis benar, tapi di sisi lain aku tidak percaya dengan yang akan dia lakukan nanti. Aku melihat ke arah Herlin dan sepertinya Herlin lebih setuju dengan apa yang dikatakan oleh Nimis.


"Kita prioritaskan Mei-senpai terlebih dahulu, kita urus dia belakangan. Lagipula dia sudah terlalu lemah untuk menyerang kita secara diam-diam."


"Baiklah, aku mengerti."


Aku pun kembali melihat keadaan Mei-senpai dan memikirkan hal apa yang bisa aku lakukan untuknya. Dan aku ingat kalau aku bisa menyembuhkan diriku sendiri dengan kemampuan Cecilia, seharusnya itu bisa digunakan untuk orang lain. Tapi aku bertanya terlebih dahulu kepada Cecilia untuk memastikannya.


"Cecilia."


"Ada apa?"


"Apa aku bisa menyembuhkan orang lain dengan auramu?"

__ADS_1


"Itu hal yang mudah asal kau bisa melakukannya dengan benar."


"Baiklah kalau begitu."


Aku kemudian menutup mataku dan berkonsentrasi sebentar. Yang harus aku lakukan adalah menyalurkan aura hangat ke tanganku lalu menyalurkannya keluar ke orang lain lewat tanganku.


Aku menggenggam tangan Mei-senpai dan mulai melakukan hal itu. Perlahan namun pasti aku bisa merasakan aura berjalan dari dalam tubuhku menuju ke tanganku. Dan perlahan luka-luka yang ada di tubuh Mei-senpai mulai sembuh dan tubuhnya kembali hangat.


Nafasnya mulai normal lagi, detak jantungnya juga sama. Dan tidak lama kemudian Mei-senpai membuka matanya yang kemudian langsung melihat ke arahku dan Herlin.


"Ka-Kalian berdua?"


"Aku berhasil!"


"Hebat sekali. Lukanya langsung menghilang dalam beberapa saat saja."


Aku dan Herlin sama-sama terkejut dengan keberhasilanku menyembuhkan Mei-senpai, tapi yang paling terkejut adalah Nimis. Ia masih tidak percaya kalau Subject C di dalam tubuhku bisa bekerja sama dengan manusia.


Setelah siuman, Mei-senpai tidak bisa langsung berdiri karena tubuhnya yang masih lemas. Jadi aku membiarkan Herlin untuk membantu Mei-senpai agar bisa beristirahat di pinggir jalan.


Dan setelah melakukan itu, aku pun menghampiri Nimis. Aku memperlihatkan gestur seperti meminta kepadanya, ia yang tidak mengerti dengan apa maksudku pun kemudian bertanya.


"Kenapa tanganmu?"


"Mana tanganmu, akan aku sembuhkan kau sekalian."


"Eh? Apa?!"


Cecilia, Tetsu, dan Herlin yang mendengarku bicara seperti itu langsung berteriak secara bersamaan yang membuatku menutup telingaku.


"Apa maksudmu dengan menyembuhkannya?!" tanya Cecilia.


"Kau ini bodoh, ya?!" ucap Herlin.


"Dia itu musuh, lho! Musuh!" teriak Tetsu.


Sebenarnya aku mengerti kenapa mereka sampai kaget seperti itu. Aku mau menyembuhkan lawanku sendiri, hanya orang bodoh yang akan melakukannya. Tapi perasaanku mengatakan kalau aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja.


"Aku mengerti, aku mengerti. Tidak usah teriak-teriak seperti itu. Aku tidak mengobatinya sampai sembuh total, hanya luka-luka yang besar saja."


"Tapi, tetap saja …!!"


"Tidak apa, aku tahu aku bodoh. Tapi sekali-kali biarkan melakukan hal yang aku mau," ucapku.


Mereka semua tidak langsung menjawab. Jeda hening tercipta sebelum akhirnya Herlin berbicara sesuatu.


"Hah … terserah kau saja."


"Sepertinya tuanku kali ini adalah yang paling bodoh," ucap Tetsu.


Mereka semua akhirnya setuju dengan apa yang akan aku lakukan. Dan aku pun kembali meminta tangan Nimis, meskipun awalnya ia waspada dan tidak percaya, sih. Tapi pada akhirnya ia mau juga untuk aku obati.


Seperti yang aku bilang sebelumnya, aku tidak menyembuhkan Nimis sampai sembuh total. Melainkan hanya luka-luka besar saja. Setelah beberapa saat, aku pun telah selesai mengobatinya dan ia pun bisa bergerak lebih banyak dari sebelumnya.


"Aku tidak tahu apa yang kau rencanakan, tapi aku berhutang padamu soal ini," ucap Nimis.


"Hehehe … sudahlah, santai saja."


Saat kami sedang sedikit bersantai, tiba-tiba datang dua orang yang membuat kami waspada. Tapi hal itu tidak lama karena kami menyadari kalau yang datang adalah Ishikawa-san dan Ardenter.


"Ishikawa-san!" panggilku.


"Yahoo! Aku lihat kalian sehat-sehat saja."


Meskipun nada bicara Ishikawa-san masih santai, tapi penampilannya berkata lain. Sama seperti yang lainnya, ia juga terlihat seperti habis dihajar habis-habisan dan pelakunya sepertinya ada di sebelahnya.


"Ishikawa-san, kenapa kau bisa bersama dengannya?" tanyaku sambil menunjuk ke arah Ardenter.


"Ah, itu …, banyak hal yang terjadi sebelum ini dan kami memutuskan untuk menunda pertarungan kami."


"Jadi begitu, ya."


Sepertinya untuk saat ini tidak ada kata musuh antara Assassin dan Black Rain. Mereka semua saat ini sedang berkumpul layaknya kenalan biasa.


Aku juga tidak lupa untuk menyembuhkan Ishikawa-san yang terluka dan juga Ardenter. Awalnya Ardenter menolak dan keras kepala seperti biasanya, tapi setelah diyakinkan oleh Nimis akhirnya ia melunak dan mau diobati olehku.


Entah kenapa rasanya malam itu menjadi lebih hangat dari biasanya. Meskipun awalnya kami ingin saling membunuh, tapi setelah bertarung malah berkumpul dan berbincang-bincang seperti seorang teman.


"Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu," ucap Cecilia tiba-tiba.


"Hehe … tenang saja, aku juga kadang begitu."


Benar. Kadang-kadang aku juga tidak mengerti dengan apa yang aku lakukan. Seperti malam ini.


Degh…


Saat aku sedang bersantai, tiba-tiba aku merasakan bulu kudukku merinding dan jantungku berdetak kencang. Hal itu membuat wajahku sampai terlihat pucat.


Tapi kelihatannya bukan aku saja yang merasakan hal itu. Yang lainnya juga merasakan hal yang sama karena kami semua terdiam secara bersamaan. Dan seakan mengetahui asalnya dari mana, kami semua melihat ke arah yang sama.


Melihat ke arah langit, tempat pertarungan Oita-san dan Astaroth sedang bertarung.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2