Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 39 : Pertandingan Pertama, Iraya vs Hayate


__ADS_3

"Hayate Kendou melawan Satou Iraya. Kedua peserta silahkan mempersiapkan diri dan segera naik ke atas arena."


Setelah pengumuman dua orang yang akan bertarung pertama, kelompok kami langsung terdiam. Apalagi Herlin yang terlihat terkejut ketika namaku di panggil, sementara Murasaki-san hanya tersenyum — sepertinya dia juga tidak menyangka.


"Semoga beruntung, Iraya-kun."


Kurayami-san memberikanku semangat dan Hayashi-san juga demikian, tapi ini tetap saja terlalu tiba-tiba bagiku. Harus menjadi urutan pertama dalam tahun pertamaku benar-benar merepotkan.


"Aku urutan pertama?!"


"Kau urutan pertama?" Herlin juga malah bingung ketika aku tidak tahu apa-apa.


"Mana aku tahu! Seharusnya aku yang bertanya padamu!"


"Apa kau tidak melihat bagannya? Semua urutan peserta tertulis di sana," jelas Hayashi-san.


Itu dia! Aku tidak sempat melihat bagan pertandingannya karena dua orang ini terus saja berhenti dan mengobrol dengan siapapun yang kami temui. Jadi aku tidak tahu apa-apa dan juga tidak bisa mempersiapkan apapun.


"Dan juga lawannya dia. Hah ... aku tidak tahu kalau takdir sedang bercanda atau bagaimana." Herlin terlihat lemas ketika mengetahui siapa lawanku. Ini agak salah, seharusnya aku yang panik saat ini!


"A-apa ada yang salah dengan lawanku?"


"Tidak ada, tapi aku menyarankanmu untuk mengingat semua latihan yang sudah kau pelajari, terutama soal teknik perluasan aura. Ingat, ini bukan lagi main-main, anggap saja jika kau kalah maka kau akan mati."


"Hah ... bicara sih mudah." Aku menghela nafas pasrah.


Tapi sudah tidak ada yang bisa aku lakukan lagi. Jadwalnya sudah ditentukan dan mau tidak mau aku harus bertanding sekarang. Tarik nafas yang panjang, lalu keluarkan. Anggap saja lawanku tidak lebih mengerikan dari Herlin.


"Oi." Herlin kembali memanggilku.


"Hnm ...?"


"Jangan pernah lupa kalau yang melatihmu adalah aku. Kau tidak akan kalah semudah itu, setidaknya tanamkan itu di kepalamu dan hancurkan lawanmu."


Mendengar kata-katanya membuatku tersenyum dan dadaku sedikit lega. Jadi tadi adalah caranya untuk menyemangati seseorang, ya? Aku dapat sesuatu yang jarang banget, tuh.


Aku mengangkat jempolku tinggi-tinggi pada Herlin. "Tidak ada yang perlu kau khawatirkan!"


Tidak ada reaksi berlebihan darinya, tapi aku tahu kalau Herlin tidak bereaksi, maka ia menganggap kalau semuanya akan baik-baik saja. Lalu bersama dengan yang lainnya, mereka berjalan dan duduk di salah satu tribun untuk menontonku.


Setelah itu, aku mempercepat langkahku menuju arena pertandingan karena lawanku juga menunggu dari tadi. Sorakan serta teriakan terdengar ketika aku naik ke atas arena, tapi entah kenapa aku merasa kalau mereka lebih ke arah ejekan dan cemoohan daripada sebuah dukungan.


Lalu lawanku ....


Hayate Kendou, membawa sebuah busur beserta anak panah di punggungnya. Selain itu, terdapat sebuah ikat pinggang kulit yang tersimpan nyaman dua belati di kedua sisi pinggangnya.


Ia memberikan senyuman percaya diri padaku, seolah ia tahu kalau aku tidak akan membalasnya. Tapi kau salah, Hayate Kendou! Aku akan membalas senyuman itu! Ini adalah adu mental sebelum pertarungan sesungguhnya, sebuah senyuman pun tercipta di wajahku, meski dengan sangat terpaksa.


"Baiklah, baiklah! Akhirnya kedua peserta telah berada di arena! Di sebelah kanan kita ada Hayate Kendou. Woohoo! Semifinalis kita tahun lalu, sayang sekali dia harus kalah dan terhenti di empat besar. Apakah kali ini, dia telah berkembang dan berhasil membalas dendamnya?!"


"WOOOAAAHHH !!!!"


Komentator itu mendeskripsikan lawanku dengan sangat detail dan terlihat jelas kalau dia mendukungnya untuk menang melawanku. Aku melirik ke arah komentator itu — kalau tidak salah Mitsu namanya. Tempat komentator berada di atas tribun terpisah dan dilindungi oleh lapis kaca.


"Lalu di sebelah kiri ada Satou Iraya! Jauh-jauh datang dari Kyoto untuk pertandingan pertamanya di tahun ini. Berasal dari Black Rain, organisasi milik Murasaki Oita, dua tahun lalu juga dia membawa seorang gadis tak dikenal yang secara mengejutkan melaju sampai babak delapan besar. Apa kali ini dia juga bisa mengejutkan kita semua? Mari sama-sama kita saksikan!"


Dan reaksi para penonton lebih lemah dari sebelumnya. Aku beneran tidak di dukung sama sekali, ya? Meski aku masih bisa mendengar beberapa suara tepuk tangan malas, sih.


Wasit kemudian naik ke arena untuk menjelaskan peraturan pertandingan. Dan seperti dugaanku, peraturannya cukup sederhana dan kuno. Kau menang jika bisa membuat lawan pingsan, mengaku menyerah, atau keluar dari arena pertarungan.


Kami benar-benar diberikan kelonggaran sebebas mungkin dalam hal serangan, teknik, intrik, dan hal-hal fundamental lainnya. Bicara tentang peraturan yang bisa dibuat oleh siapapun. Lalu setelah menjelaskan peraturannya, wasit pun turun dari arena.


Wasit kemudian mengangkat satu tangannya setinggi mungkin. "KEDUA PESERTA, BERSIAP!" Dan meneriakkan aba-aba tanda pertarungan akan dimulai.


"Apa ini pertama kalinya bagimu?"


Dia bertanya padaku. Hn? Apa dia mencoba mengganggu konsentrasiku? Tidak, aku rasa tidak mungkin. Itu mungkin hanya pemikiran waspadaku. Karena tidak ada salahnya, aku pun menjawab pertanyaannya.


"Iya, ini pertama kali."


"Sepertinya tidak ada penonton yang mendukungmu di sini, ya? Pertarungan pertama memang selalu tidak mudah, apalagi harus jadi urutan pertama."


"Terima kasih atas perhatiannya. Tapi aku tidak butuh dukungan mereka semua." Aku berbicara sembari menghunuskan pedang dan memasang kuda-kuda.


"Benarkah?"


"Ya, karena aku selalu memiliki ... beberapa orang yang selalu mendukungku."


"Heh~ Boleh juga kata-katamu, bocah." Ia ikut menyeringai. Tidak lupa juga menyiapkan busur dan anak panah di kedua tangannya.


"MULAI !!!"


Wasit kemudian menghempaskan tangannya ke bawah dengan keras. Menandakan kalau pertandingan pertama di tahun ini telah dimulai.

__ADS_1


Bersamaan dengan wasit meneriakkan kata 'mulai', dengan kecepatan tinggi aku melesat ke arah Hayate langsung dari depan wajahnya. Sementara Hayate tidak terlihat terganggu dengan kecepatan gerakku, ia bahkan masih mempertahankan seringai menyebalkan miliknya.


Tapi setelah aku hampir meraihnya dan masuk ke jangkauan serang ku, ia mulai membidik dengan kuda-kuda khas seorang panahan. Dengan presisi dan tanpa ragu, ia menyipitkan sebelah matanya lalu melesatkan sebuah panah tepat ke arahku.


"Jangan terkejut dengan yang satu ini, ya?!"


Dengan sedikit menunduk, Aku berhasil menghindari panah tadi dengan mudah tanpa memperlambat gerakanku untuk mendekatinya. Meski begitu, ada sesuatu yang menggangguku. Hayate tidak menghilangkan senyumannya dan masih berdiri di sana tanpa bergerak.


Akhirnya dia berada pada jarak tebasan. Tanpa ragu, aku menebasnya secara diagonal mengincar bagian pundak sampai perut.


"Mana mungkin aku—!"


Tapi tebasanku hanya membelah angin — sosok Hayate menghilang dari pandanganku. Menengok ke kanan kiri mencarinya hanya untuk sadar kalau Hayate berada di belakangku sambil memunggungiku dengan anak panah yang berada di genggamannya.


"Eh?"


"Ckckck ... sayang sekali kau meleset."


Aku yakin kalau ia baru menembakkan satu anak panah. Bukankah itu berarti ... dia berhasil menghindariku dan menangkapnya saat masih di udara?


"WO-WOOOAAAAHHHHH !!!"


Penonton yang menyaksikan kejadian itu kemudian menggila dan banyak yang terkejut — aku tak bisa menyalahkan mereka, sih. Bisa aku bilang kalau lawanku ini adalah seseorang yang juga mengandalkan kecepatan. Sama sepertiku.


"Itu dia! Apa kalian melihatnya?! Kecepatan luar biasa milik Hayate Kendou! Kecepatan yang membawanya ke semifinal tahun lalu! Kecepatan menyamai busur yang sedang melesat!"


Jadi itu tadi gerakan spesialnya, ya? Dan komentator itu memberiku banyak informasi karena dia sangat mendukung Hayate dalam pertarungan ini.


"Oi~ Kembali ke sini. Kau terkejut hanya karena kecepatannya?" Cecilia berbicara di dalam kepalaku.


"Bisa diam, tidak? Aku sama sekali tidak terkejut!"


"Padahal jelas-jelas kau terkejut tadi," ucap Cecilia datar.


Harus kuakui kalau dia memang lebih cepat dariku, tapi kalian perlu ingat kalau aku belum mengeluarkan elemen listrik milikku. Sebisa mungkin aku ingin menyimpannya dan tidak mengeluarkannya di pertandingan pertama.


"Sekarang ayo kita lihat kekuatanmu, bocah."


"Hnm?"


Hayate kembali bersiap mengarahkan busur panahnya. Dia mengambil delapan anak panah sekaligus dan bersiap untuk melesatkannya dalam satu kali tembakan. Tapi kali ini ada yang berbeda, dia tidak mengarahkannya kepadaku, melainkan ke langit-langit.


"Apa?" Aku bingung.


Delapan anak panah itu melesat keatas yang dengan cepat turun seperti hujan tertarik gaya gravitasi. Aku bersumpah kalau kecepatan turun anak panah itu tidak biasa! Mereka seperti ditarik secara paksa, dan membuatku harus menghindarinya yang membuatku layaknya menari.


Aku berhasil menghindari semuanya dan membuat penonton kagum dengan gerakanku barusan. Tapi kini panah tertancap secara acak di semua sudut arena.


"Hoo~ Tidak buruk juga. Tapi apa kau bisa menghindari yang satu ini?"


"Jangan hilang fokus!"


"Aku tahu!"


Cecilia memperingatkanku, tapi aku tahu apa yang akan datang. Atau mungkin ... tidak?


Dia kembali mengalungkan busur panahnya di punggungnya dan sekarang malah beralih ke dua belati yang ada di pinggangnya. Secara tiba-tiba merubah cara bertarung di tengah pertarungan? Apa maksudnya itu?


Hayate juga memegang kedua belati tadi secara terbalik dengan mata pisau menghadap ke luar seakan itu adalah gerakan spesialnya.


"Aku peringatkan sekali lagi. Jangan mati, ya?"


"Tch!"


Hayate mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu dengan cepat menghilang dari pandanganku meninggalkan sisa-sisa debu pada pijakan sebelumnya. Dia akan kembali menyerang dengan mengandalkan kecepatannya.


Aku memejamkan mataku, menajamkan indera lainnya dan mencoba menebak serangan Hayate selanjutnya. Hembusan angin kecil tercipta di sebelah kiri telingaku yang menerbangkan jambangku yang membuatku langsung membuka mata dan menengok ke arah hembusan angin tadi.


Dan dugaanku tepat.


Hayate muncul dari sisi yang aku perkirakan. Ia kemudian mengarahkan salah satu belatinya ke arah leherku dan berniat menebas urat leher yang sangat vital untuk kehidupanku. Orang ini ... tidak salah lagi, dia benar-benar ingin membunuhku.


Beruntungnya, di detik-detik terakhir aku menarik kepalaku ke belakang dan berhasil menghindari tebasan belati berbahaya itu. Aku mencoba dan berhasil menstabilkan kembali tubuhku dan tanpa jeda, menebaskan pedangku mengincar belakang lehernya.


Bunyi 'Triing!' menggema di udara saat kedua besi beradu dan saling menekan membuat kami sekarang dalam keadaan terkunci. Menggunakan satu tangan yang bebas, aku menekan tangan lainnya dan Hayate yang sedang dalam posisi tidak menguntungkan — posisi membelakangi.


"Tadi kau benar-benar ingin membunuhku, ya, dasar sialan?!"


"Ketahuan, ya? Tapi sekarang kau masih hidup yang berarti serangan tadi bukan masalah, kan?"


Dia tidak menyangkalnya. Dan juga senyuman sombong masih ia keluarkan dari tadi, dia kelihatan sekali meremehkanku. Tapi aku tidak boleh terpancing hanya karena hal seperti ini, seperti yang Cecilia dan Herlin bilang sebelumnya.


"Hah ... tetap fokus dan jangan terpancing." Aku menggumam dan menghela nafas.

__ADS_1


"Tidak terpancing? Padahal masih muda tapi sudah punya kontrol emosi yang baik, aku kagum, lho. Tapi ...."


"??!!"


Hayate mengarahkan tangan kanannya ke belakang untuk menusuk perutku dengan belati walaupun dalam posisi sulit. Dan aku memilih untuk melepaskan tekanan pada salah satu belatinya dan melompat mundur untuk menghindar sekaligus menjaga jarak.


Aku menginjak salah satu anak panah yang menancap di arena dan sedikit kehilangan keseimbangan — meskipun tidak sampai terjatuh. Tapi itu sudah cukup untuk membuatku kembali kehilangan Hayate.


Dengan cepat, mencoba untuk kembali merasakan keberadaannya. Sayangnya reaksiku terlalu terlambat ketika sebuah luka gores dan sayatan mulai tercipta tanpa aku sadari. Aku benar-benar tidak bisa mengikuti kecepatannya.


"Gkkhh—!"


Ia bahkan sempat berhenti sesaat untuk memberikan senyum sombong dan langsung menghilang lagi. Sial. Aku benar-benar dijadikan samsak olehnya yang bahkan tidak bisa keluar dari posisi bertahan melindungi kepala dengan kedua tanganku.


Semua orang bisa mendengarnya dengan jelas. Suara belati yang merobek baju serta celana sedikit demi sedikit dan darah mulai mengucur perlahan. Serangannya selaras dengan ketidakberdayaanku menghadapi kecepatan luar biasa yang tidak bisa aku lihat dengan mataku.


"Oi, oi, apakah ini terlalu cepat bagimu? Sayang sekali kalau begitu."


Ia terus mengeluarkan cemoohannya bersamaan dengan serangan dan sayatan yang hampir ada di sekujur tubuhku. Gawat, jika ini terus dibiarkan, maka aku akan jatuh dengan sendirinya.


"Apa kalian melihat itu para penonton?! Hayate Kendou memojokkan lawannya sampai seperti itu! Woohoo! Apakah wasit akan terus membiarkan hal seperti ini terjadi?!"


"Selama lawan belum kehilangan kesadaran atau menyerah, itu tidak melanggar peraturan!"


"Bagus sekali! Wasit yang terbaik! Baiklah penonton, mari kita saksikan bagaimana pertandingan ini akan berakhir!"


Tentu saja ini tidak melanggar peraturan, apa kalian tidak tahu peraturannya?! Tapi komentar berisik darinya benar-benar menggangguku, aku harus lebih fokus lagi sekarang. Jangan biarkan hal-hal kecil memecah konsentrasi ku.


"Hah ... hah ... hah ...."


Beberapa menit telah berlalu, dan nafasku mulai terengah-engah. Keseimbanganku juga berkurang. Luka bekas sayatan belati yang sangat banyak menghias tubuhku saat ini, bercampur dengan darah dan keringat.


Sementara Hayate mengendurkan sedikit serangannya, ia tahu kalau aku sudah hampir berada mencapai batas. Jadi dia kembali menampakkan senyum sombongnya seolah menunjukkan kalau kemenangan ini sudah pasti jatuh ke tangannya.


"Kau sebenarnya tidak buruk. Tapi sayang lawanmu adalah aku," ucapnya.


Ya, ya, aku lemah. Terserah katamu. Tapi sekarang aku harus mencari suatu cara, sesuatu yang bisa membuatku membalikkan keadaan dan mengatasi kecepatannya itu.


"Kenapa tidak menyerah saja? Kau bisa langsung pulang setelah ini, lho."


Cecilia tiba-tiba berbicara dan langsung berbicara hal tak masuk akal. Jika aku mau begitu, tubuh ini akan babak belur begini dan aku sudah menyerah dari tadi. Aku masih mengincar kemenangan, karena ini adalah ajang yang tepat untuk mengukur kekuatanku.


"Jika kau tidak membantuku, lebih baik diam saja."


"Kasar sekali ... sepertinya suasana hatimu sedang tidak bagus untuk bercanda, ya?"


"Apa matamu buta dan tidak bisa lihat kalau aku sedang kesusahan sekarang?"


Aku bisa mendengar cekikikan Cecilia di dalam kepalaku. Dia benar-benar tidak tahu tempat untuk bercanda. "Butuh bantuanku?" Tapi tiba-tiba dia menawarkan bantuan.


"Apa kau punya sesuatu yang berguna?"


"Jika kau ingin menyembunyikan elemen listrik dan pedang buatanku, maka aku tidak bisa membantu banyak. Tapi aku bisa membantumu mengingat sesuatu yang penting yang dikatakan oleh Herlin."


"Sesuatu yang penting ... dikatakan oleh Herlin?"


"Perluasan aura. Ingat kata-kata itu?"


Setelah Cecilia mengingatkan kata itu, mataku melebar dan otakku langsung bisa berpikir jernih. Dasar bodoh! Kenapa aku bisa melupakan hal paling sederhana seperti itu?!


Saking senangnya, bahkan aku tidak bisa menyembunyikan senyumanku yang disadari oleh Hayate.


"Kau masih bisa tertawa dengan keadaanmu yang seperti itu?"


"Ah, maaf. Aku tidak menertawakanmu, aku sedang menertawakan kebodohanku sendiri."


"Apa?"


Setelah itu, aku merubah kuda-kuda lalu memejamkan mata. Fokus untuk mengalirkan aura milikku ke seluruh penjuru tubuh dan melebarkannya sejauh tiga meter, menjadikanku sebagai pusatnya.


Aura nya memang tidak bisa dilihat semua orang, tapi aku bisa. Aura berwarna kehijauan tipis berputar lembut mengelilingiku. Setelah itu, aku beralih ke posisi berlutut sambil terus waspada dan konsentrasi.


Hayate yang melihatnya tentu saja bingung. "Ada apa? Kau sudah menyerah?"


Aku membuka mataku. "Menyerah? Aku tidak melihat kalau posisiku begitu kesulitan sampai harus menyerah." Lalu tersenyum.


Dia menyeringai dan sepertinya emosinya tersulut. "Baiklah kalau begitu, aku akan menghilangkan senyuman di wajahmu secara paksa!"


Dan seperti sebelum-sebelumnya, Hayate kembali menghilang dari pandanganku. Tapi kali ini keadaannya berbeda, aku tidak panik ketika dia mulai bergerak cepat. Aku lebih memilih konsentrasi dan beberapa saat kemudian, seringai muncul di wajahku.


"A-Apa?!"


Suara 'Triing!' menggema di udara. Tapi kali ini dapat terdengar lebih jelas karena penonton yang sebelumnya berteriak semangat langsung termenung melihat ini. Melihat aku menahan belati Hayate yang menyerang dari titik butaku tanpa menengok sama sekali.

__ADS_1


"Maaf, ya. Tapi kami sudah mengetahui trikmu."


Bersambung


__ADS_2