Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 132 : Pil Elemen


__ADS_3

"Apa ada yang salah?" Dia sepertinya sadar kalau aku tidak memperhatikan ucapannya dan menghalangi pandanganku dari teman-temannya.


"Tidak, tidak ada." Aku memalingkan wajahku melihat ke arah lain, tapi mataku melirik ke wajah Hitoni yang masih terlihat bingung.


Dia masih berdiri menatapku dengan senyuman yang terlihat sangat jelas sekali kalau hal itu dipaksakan. Aku mencoba untuk tidak menggubrisnya tapi lama-lama itu membuatku kesal juga.


"Dengar, ya. Aku tidak akan memberikan kalian perawatan atau makanan meskipun kau menatapku seperti itu. Jika kau tidak menghentikannya, aku akan menendang kalian semua keluar dari sini."


Aku mengancam mereka. Dan sepertinya empat orang lainnya ketakutan dengan ancamanku— kecuali yang sedang berdiri menatapku. Sial, dia membuatku kesal.


"Ahahaha ... tidak perlu jahat seperti itu. Asalkan tidak perlu bertarung, itu sudah cukup untuk kami. Tapi selain itu ... perkataanmu barusan menunjukkan kau bukan orang yang baik, ya?"


Aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan. Tapi barusan dia menghinaku? Atau memprovokasiku? Aku tidak tahu apa tujuannya tapi sepertinya dia mencoba membuatku marah.


"Apa maksudmu?" tanyaku.


"Aku tidak bermaksud menyinggungmu, tapi perkataanmu barusan ... seperti seorang Assassin yang apatis, bukan?"


Dia menekankan ucapannya pada akhir kalimatnya. Sepertinya dia sudah tahu kalau aku adalah mantan Assassin, tapi aku masih tidak mengerti keuntungan bagi dirinya jika mengetahui kalau aku adalah Assassin.


"Apa yang kau inginkan?"


"Hoo ... ternyata kau tidak marah ketika aku menyebutmu dengan sebutan 'Assassin', apakah berarti itu benar?"


"Cepat jawab pertanyaanku."


"Oi, oi, seram, seram. Tidak perlu memasang wajah serius begitu." Tanpa sadar aku mengeluarkan auraku dan memberinya tatapan serius. Ia tertawa bahkan ketika melihatku sudah seperti ini, sepertinya dia menganggap tatapan serius yang aku keluarkan lucu. Bagaikan anak kucing yang mendesis untuk melindungi dirinya dari ancaman, mungkin?


Aku masih tidak tahu apa tujuan aslinya, tapi untuk sekarang lebih baik aku waspada. Dia juga sadar akan hal itu dan menjadi lebih serius— meskipun senyuman belum hilang dari wajahnya.


"Apa kau tahu soal 'bounty'?"


Sekarang aku mengerti. Dia berniat untuk mengincar kepalaku. Di dunia bawah yang gelap nan kotor, mantan Assassin yang sudah tidak beroperasi lagi atau pensiun akan menjadi target dari Assassin lainnya dan kepalanya akan diberi harga.


Berbeda dengan Nimis dan Ardenter yang sudah kembali bekerja, aku sudah lama tidak aktif dan menerima misi. Karena itu mungkin aku dianggap pensiun dan dipasang bounty.


Hah ... padahal aku sudah mulai menikmati masa-masa damaiku di rumah Iraya. Tapi yang mempopulerkan hal ini kuakui memang seorang bajingan.


Para Assassin tidak boleh pensiun dari kehidupannya sebagai seorang Assassin, mereka yang sudah terjerumus ke dalam jurang tak berdasar ini harus mati entah dalam misi atau dibunuh oleh Assassin lainnya.


Cukup sudah membahas tentang kebusukan dunia bawah, aku berdiri dari tempat dudukku dan semakin waspada. "Kalau tahu memang kenapa?"


"Ternyata memang benar kau seorang Assassin! Aku benar-benar seperti menemukan surga di tengah neraka!" Dia kegirangan mengonfirmasi hal ini. Itu berarti mungkin harga kepalaku cukup tinggi. Entah itu harus kubanggakan atau tidak. "Akhirnya aku menemukannya! Aku bisa hidup sejahtera untuk beberapa saat tanpa perlu bekerja!"


"Oi! Jangan lupa bagian kami!"


"Ha?" Hitoni yang tertawa langsung terdiam dan melihat ke arah empat orang di belakangnya. Ekspresi kecewa nampak jelas di wajahnya saat ini. "Ya ... kau benar, aku tidak mungkin lupa dengan kalian."


"Melihat reaksimu, sepertinya aku cukup berharga, ya?" tanyaku.


"Hmm? Ahahaha ...! Cukup katamu?! Kau itu mahal gila, Caramel!" Dia mengeluarkan HP-nya dan menunjukkan layarnya kepadaku. Di sana terdapat fotoku dan harga kepalaku jika siapapun mampu membunuhku. "Aku tidak tahu kau siapa, tapi sepertinya kau mahal karena pernah ikut bersama Astaroth itu!"


Satu juta Yen. Tidak buruk juga untuk seseorang seperti diriku, tapi foto yang mereka gunakan membuatku terlihat sangat jelek! Apa-apaan foto yang diambil saat aku sedang tidak melihat kamera?! Setidaknya pakai foto yang lebih baik, sialan!


Dia benar-benar membuatku naik darah. Tapi aku mencoba mengontrol kemarahanku sebisaku dan menanyakan tentang hal lainnya. "Aku tidak menyangka kalau seseorang dari Organisasi White Cloud ikut dalam perburuan bounty."


"Hnm? Ya itu sudah jelas, kan? Karena bayaran yang ditawarkan berbeda jauh dengan gajiku di White Cloud. Tentu saja aku tidak keluar dari sana, tapi aku hanya mencari uang jajan lebih."


"Begitu. Tapi aku akui kau cukup berani juga, ya? Setelah melihat harga kepalaku, kau masih berani menantangku."


Kebetulan aku bisa merasakan aura semua orang yang berada di dalam barrier-ku. Setidaknya lima orang ini tidak lebih kuat dariku meskipun mereka menyerangku secara bersamaan.


Tapi aku harus tetap waspada dengan Hitoni. Dia yang paling menonjol daripada empat orang lainnya.


"Oleh karena itu, aku membawa rekan. Mereka adalah orang yang setuju dengan rencanaku untuk memburu pensiunan Assassin. Apalagi kau hanya seorang gadis kecil biasa."


"Mencari mangsa yang paling mudah dulu, ya? Apalagi dalam keadaan seperti ini." Aku mengangguk-angguk memahami rencana mereka. Memang benar aku ini terlihat seperti mangsa yang lemah. "Hn, hn, aku mengerti apa yang ingin kalian lakukan."

__ADS_1


"Aku senang karena kau cepat paham. Tenang saja, aku akan membuat kematianmu selembut mungkin."


"Terima kasih atas perhatiannya, tapi sayangnya kalian lupa suatu hal yang penting ...."


"Hn? Apa itu?"


"ARRGHH!!"


"AKKHH!!"


"APA INI? TOLONG AKU!!!"


Empat orang di belakang Hitoni tertusuk barrier yang aku buat tajam di ujungnya. Semuanya. Tanpa terkecuali. Hitoni juga terlihat terkejut saat melihat ke belakang.


"Apa yang kau lakukan?!" tanya Hitoni panik.


"Apa kau lupa ..., kalau kalian sedang berada di dalam barrier-ku?"


Aku juga menyerang dengan barrier tajam dari bawah kaki Hitoni, tapi dia bisa menghindarinya karena pada dasarnya dia adalah yang Exception yang mengandalkan kecepatan.


Dia menempel di dinding barrier. Menatapku dengan tatapan ragu dan juga ketakutan. Tapi sayangnya memegang barrier-ku secara langsung adalah kesalahan besar.


"ARRGHH!! SIALAN!"


Kedua telapak tangannya kini berlubang karena aku menusuk dan menahannya. Tidak hanya itu, kedua lututnya juga aku tusuk supaya ... Ya, ekstra pengaman biar dia tidak kabur.


"Aku tidak menyangka pemburu bounty pertamaku adalah orang kelewat bodoh. Seharusnya jika kau ingin menyerangku, minimal riset sedikit tentang kekuatanku, dasar bodoh."


Aku melirik ke arah empat orang lainnya yang sebelumnya sudah aku serang duluan, sepertinya mereka langsung mati di tempat. Setelah aku menusuk telapak tangan dan kakinya, aku langsung menusuk kepalanya hingga tembus ke wajah, jadi wajar kalau mereka mati.


Hah ..., aku kira aku akan mendapat pertarungan yang seru, sepertinya sampai bencana ini selesai aku akan lumayan bosan.


"Khahaha ...."


"Ha?"


"Tidak, aku tertawa karena kau melewatkan kesempatanmu untuk membunuhku. Sekarang kau sudah tidak punya kesempatan lagi untuk menang, Pensiunan Assassin, Caramel!"


"Sebenarnya apa yang kau— Ah?!"


Aku merasakan aliran listrik menyebar di seluruh barrier-ku. Aliran listrik kuat yang membuat barrier-ku bergetar dan hampir pecah seperti kaca. Tidak sampai di situ, ia menarik paksa kedua tangannya yang sudah aku patri lalu berikutnya kedua kakinya.


Ia pun mendarat di atas tanah. Memandangku dengan senyum kegilaan dan siap bertarung, percikan listrik biru masih menari bebas di sekujur tubuhnya.


Kekuatannya meningkat dari yang sebelumnya— kelihatannya sudah sampai ke puncaknya. Tapi kalau hanya seperti ini, dia masih berada di bawah kemampuanku meskipun jalan pertarungan akan sedikit lebih sulit.


"Oh iya ...." Dia mengajakku berbicara lagi. "... Karena kau seorang Pensiunan Assassin, mungkin kau pernah melihat hal ini." Ia mengeluarkan sesuatu dari kantong bajunya.


Sebuah tabung transparan yang isinya sebuah pil berwarna kuning yang memantul kesana kemari ketika ia mengguncangkan tabung itu. Lalu satu lagi adalah sebuah tabung reaksi kaca yang tertutup sebuah tutup botol bir.


"I-itu ...."


Mataku melebar terkejut. Dua benda yang ada di kedua tangannya saat ini hanya bisa ditemui di pasar gelap tempat para Assassin bertransaksi. Ia tidak mungkin menemukannya di tempat lain.


Aku tidak menyangka dia bahkan bisa mendapatkan hal itu, terlebih lagi kedua benda itu tidaklah murah. "Jadi kau juga datang ke pasar gelap, ya?" tanyaku.


"Tentu saja! Jika aku sudah masuk sejauh ini, aku tidak boleh setengah-setengah!"


Pil kuning yang ada di dalam tabung dinamakan Pil Elemen. Warnanya juga tergantung dengan elemen yang dikandungnya. Merah untuk api, biru untuk air, hijau untuk elemen bumi, dan kuning untuk listrik. Orang yang meminumnya akan mendapatkan kekuatan elemen berkali-kali lipat dalam rentang waktu singkat.


Sementara yang satu lagi yang jadi masalah. Cairan Vampir. Jika disiramkan kepada mayat yang mati kurang dari 24 jam, maka cairan itu akan menghidupkannya kembali dan membuatnya menjadi haus darah. Kecepatan, kekuatan, serta kemampuan regenerasinya akan meningkat. Cara untuk mengalahkan mereka adalah menghancurkan jantungnya dengan cepat atau membunuh orang yang menyiramnya, karena dia menuruti apa yang tuannya katakan.


Ia kemudian meminum Pil Elemen tersebut lalu menyiramkan Cairan Vampir kepada empat orang lain yang telah tewas.


Tiba-tiba aura empat orang itu kembali terasa— menjadi lebih kuat dan gelap. Mereka kemudian bangun dengan kepayahan dan menatapku dengan posisi seperti seekor serigala menatap mangsanya. Air liur jatuh dari mulut mereka dan wajahnya yang telah hancur perlahan beregenerasi menunjukkan iris merah berkilauan.


Sementara Hitoni, percikan listrik yang sebelumnya tercipta kecil di seluruh tubuhnya kini meledak menyilaukan membuatku harus menghalangi sinar berlebih dengan tanganku.

__ADS_1


Tampilannya terlihat sedikit berbeda sekarang. Auranya menjadi lebih kuat dan rambutnya berdiri berubah berwarna biru putih berkilauan seolah rambutnya terbentuk dari energi listrik dan sekitar tubuhnya jauh lebih terang.


"Tch."


"Sekarang ..., apa kau siap untuk menjadi uang jajanku, Pensiunan Assassin?"


Zwuushh...


Hitoni menghilang dari tempatnya berdiri dan tepat berada di depan wajahku. Aku yang terkejut tidak memiliki waktu menghindar ketika ia menyerangku dengan pukulan tepat ke wajahku.


Traaang...


"Hah?"


Beruntungnya saat dia meminum pil tadi, firasatku mengatakan kalau aku harus membuat barrier untuk diriku sendiri, dan aku diselamatkan oleh firasatku. Arus listrik bekas pukulannya menyebar ke seluruh barrier yang melindungiku dan rasanya seperti terpanggang hanya dengan berada di dekatnya.


Kecepatannya berada di luar kemampuan penglihatanku. Pil sialan. Aku tahu dia memang berguna untuk memperkuat orang yang meminumnya, tapi tidak aku sangka sampai sejauh ini peningkatannya.


"Keluar dari sana, pengecut!"


Hitoni terus menerus memukul barrier-ku secara membabi buta. Beruntungnya kekuatannya masih berada di bawah kekuatan barrier-ku. Jadi untuk sementara ini aku aman meskipun hawa panasnya hampir membuatku pingsan.


"Keluar! Keluar! Keluar! Keluar! Keluar, sialan!"


Aku harus mencari cara lain untuk bisa memenangkan pertarungan ini. Kabur juga kurasa percuma karena aku akan langsung terkejar. Kemungkinan dia tidak tahu soal Iraya dan yang lainnya di dalam, karena dia murni mengincarku.


"Apa yang kau lamunkan?"


"Ah?!"


Saat aku tidak fokus selama beberapa detik, tiba-tiba pemandangan di depanku berubah yang sebelumnya Hitoni berubah menjadi empat vampir yang memukul barrier-ku secara bersamaan.


Kraakk... Kraakk... Praang...


"Ti-tidak mungkin ...."


"Berakhir untukmu, Pensiunan Assassin!


Bagian depan barrier-ku berhasil ditembus oleh mereka berempat secara bersamaan hanya dengan satu kali pukulan. Apa-apaan kekuatan tidak masuk akal itu!


Lupakan soal itu. Kini di depan hidungku terdapat tinju penuh tenaga dan percikan listrik yang dapat membakar orang biasa bahkan jika tidak menyentuhnya. Aku harus tenang dan konsentrasi.


Aku menutup mataku. Tidak ada banyak waktu untuk berpikir, jadi aku melakukan sesuatu yang sederhana tapi dapat menghindarkanku dari kematian yang sudah ada di depan mata ini.


Sebuah hantaman terjadi dan debu-debu beterbangan menghalangi penglihatan kami berdua. Bahkan Hitoni sendiri tidak tahu apakah pukulannya mengenaiku atau tidak. Tapi yang pasti, tinjunya mengenai sesuatu.


"Jadi begitu ...."


Setelah debu yang beterbangan ini menghilang, barulah aku dan Hitoni dapat mengetahui posisi kami masing-masing. Aku dan dirinya dapat mengetahui satu hal saat ini. Bahwa tinjunya barusan tidak mengenaiku.


"... Kau dapat menembus barrier buatanmu sesuka hatimu, ya?" ucap Hitoni.


"Aku tidak senang karena kau mengetahuinya, tapi kau benar."


Tinjunya kini memukul barrier tempatku berlindung sebelumnya, sementara aku jatuh terduduk di luar barrier kecil buatanku sendiri. Sebelumnya, di detik-detik terakhir aku melempar diriku sendiri ke belakang menembus barrier dan pukulan Hitoni hanya menghantam barrier milikku.


"Tidak salah kalau kau berharga satu juta Yen."


"Terima kasih atas pujiannya. Matilah."


Aku melakukan gestur jari ke atas dan berusaha mengurung Hitoni beserta empat vampirnya. Tapi dengan kecepatannya, dia bisa keluar dari sana meninggalkan empat vampir yang terkurung dalam barrier penuh duri tanpa celah yang aku ciptakan. Menusuk mereka semua dan membuat mereka berteriak kesakitan— meskipun itu tidak cukup untuk membuat mereka mati.


Aku merasakan sesuatu mengalir dari dahiku dan saat memeriksanya ternyata itu adalah darah segar yang mengalir. Aku sempat tergores, ya? Bahkan aku tidak menyadari kapan itu terjadi.


Sementara Hitoni belum ada luka lain, hanya luka sebelumnya yang sepertinya tidak terlalu berpengaruh baginya. Kondisiku juga tidak berubah— masih sama tidak menguntungkannya. Aku menghela nafasku, ternyata kelemahanku masih lawan yang cepat, ya?


"Pil Elemen sialan." Aku bergumam kecil. Mengutuk pil yang ia minum sambil terus waspada terhadapnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2