Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 45 : Pertandingan Kedua, Iraya vs Oukami


__ADS_3

Kurasa memang lebih baik seperti itu. Aku akan fokus menyelesaikan pertandingan ini. Setelah itu baru aku akan memikirkan cara berbaikan dengan Herlin.


"Kalau begitu ... DIMULAI !!!"


Penonton terdiam ketika teriakan 'dimulai' keluar dari mulut wasit, menunggu pergerakan kami. Sementara sang komentator—Mitsu yang tidak menyia-nyiakan keheningan itu langsung memenuhinya dengan suara semangat seperti biasa.


"Sekarang kita lihat, pertandingan pertama babak 16 besar turnamen The One telah dimulai! Siapa yang akan memenangkan pertandingan ini?! Apakah Oukami Yuu, sang Transformation berbakat yang bisa mengubah auranya menjadi berbagai macam senjata. Atau si anak baru, sang Physical strength yang mempunyai kecepatan yang luar biasa?! Mari kita lihat bersama-sama!"


Suara Mitsu yang menggema lewat speaker-speaker di dalam ruangan ini mendominasi semua suara di sini. Memancing semangat para penonton yang ikut berteriak tak henti-hentinya.


Tapi satu hal yang aku perhatikan, mereka masih menganggap ku seorang Physical Strength, ya? Sepertinya penyamaranku masih berjalan dengan baik.


"Aku rasa bukan itu alasannya, kau belum mengeluarkan semua yang kau punya. Baik kemampuan Elemental ataupun Transformation milikmu. Jadi wajar mereka masih terkecoh," selak Cecilia.


"Mungkin."


Ngomong-ngomong, lawanku masih belum bergerak dari tadi.


Oukami Yuu tidak memasang kuda-kuda atau memfokuskan kemampuan Transformation-nya. Dia masih melihatku dengan tatapan tajam dan rasa bangga terhadap dirinya sendiri.


Apa itu? Apa dia berniat untuk mengintimidasiku? Kalau itu yang ingin dia lakukan, maka itu tidak akan berhasil, Tuan Menyeramkan. Karena ada intimidasi yang lebih menakutkan darinya.


"Maksudmu Assassin itu?" tebak Cecilia.


"Yap. Kalau dibandingkan dengan mereka, dia tidak ada apa-apanya."


Akhirnya setelah menatapku cukup lama, Oukami Yuu mengeluarkan ucapan pertama dari mulutnya, "Hei bocah, lebih baik kau mengeluarkan semua yang kau punya saat melawanku," ancamnya.


"Apa maksudmu?"


"Jangan coba membodohiku. Aku tahu kalau yang kemarin kau lakukan hanyalah sebuah ajang percobaan. Kau mencoba teknik yang baru saja kau kuasai ke lawanmu dan itu terlihat jelas dari pergerakanmu kemarin.”


Hmm? Dia ini sedang menceramahiku, ya? Tapi seperti yang Oukami bilang, aku belum mengeluarkan semua yang aku punya. Melawan Hayate-san kemarin hanya sebagai ajang latihan untukku. Maafkan aku, Hayate-san. Padahal aku bilang kalau aku akan mengeluarkan semuanya, tapi maaf karena aku berbohong.


"Maka dari itu ...!!" Dia tiba-tiba berteriak.


“??!!”


Oukami Yuu kemudian membuat sebuah gada besar dan perisai yang ia buat dari auranya yang berwarna merah kehitaman. Gada besar yang dapat menghancurkan apapun serta kekuatan dari perisainya yang tidak mudah ditembus.


"... Lawanlah aku dengan semua kekuatanmu, dasar brengsek!"


Mitsu dan para penonton yang melihat itu berteriak semangat seperti orang kesetanan. Merasa kalau pertandingan seru akan segera terjadi.


"Wuuoohh! Oukami Yuu lagi-lagi membuat senjata yang berbeda dari pertandingan sebelumnya! Kali ini adalah sebuah gada besar lengkap dengan perisainya! Hebat! Sebenarnya ada berapa banyak senjata yang dia kuasai, sih?! Bagaimana pendapatmu tentang ini, Caramel-san?!"


Mitsu menyodorkan mic yang ia pegang tepat ke depan mulut Caramel. Dia yang masih dengan wajah tak berekspresi kemudian berniat mengeluarkan sepatah dua patah kata.


"Soal itu—!"


"Ya begitulah pendapat dari komentator di sebelah saya. Sungguh, Oukami Yuu benar-benar seorang Exception yang berbakat!"


Sebelum Caramel sempat berbicara, Mitsu langsung mengambil kembali mic-nya dan berbicara seperti biasanya lagi. Caramel yang melihat itu hanya terdiam walaupun dalam hatinya ada perasaan kesal.


"Dasar ... brengsek ...?"


Sementara aku mengingat hal tak mengenakkan ketika mendengar kata itu. Ucapan yang sama seperti yang dikeluarkan oleh Herlin semalam, tanpa sadar membuatku mengingat kembali kejadian semalam beserta wajah sedih dan marah yang ditunjukkan Herlin.


"Padahal aku mempercayaimu. Tapi aku tidak menyangka kalau kau serendah ini, dasar brengsek!"


Kata-kata Herlin semalam terngiang di kepalaku saat ini. Membuat tanpa sadar kuda-kudaku melemah, konsentrasi yang sudah aku bangun buyar, dan merasa seperti berada di kejadian semalam lagi.


Meski Ada suara pelan seseorang yang berkali-kali memanggilku, seperti berusaha mengembalikan kesadaranku. Sampai pada akhirnya aku tersadar dan mengingat kalau aku sedang di tengah pertarungan.


"Iraya! Cepat sadar!"


"Eh?"


Sebuah serangan gada besar telah mengayun tepat di depan mataku ketika aku baru saja kembali ke kesadaranku. Oukami telah mempersempit jaraknya dan sampai padaku dengan cepat.


“??!!”


Aku berhasil menghindar, melompat ke belakang pada detik-detik terakhir sebelum gada besar itu mengenai kepalaku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika mengenai kepalaku secara langsung, karena dampaknya dapat menghancurkan tempatku berpijak sebelumnya.


Tapi seakan tidak peduli kalau serangan sebelumnya dapat membunuhku, para penonton malah berteriak kegirangan karena serangan yang diberikan oleh Oukami. Kalian ini psikopat apa gimana, woi?!


"Kekuatan yang luar biasa! Bahkan lantai arena pun sampai retak dibuat olehnya! Tapi Satou Iraya masih bisa menghindarinya di detik-detik terakhir, apakah itu cuma keberuntungan? Apa ia bisa menghindari serangan selanjutnya? Mari kita saksikan bersama-sama!" ucap Mitsu dengan penuh semangat.


"Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan?! Apa kau mau mati?!" bentak Cecilia.


Cecilia memarahiku. Baiklah, aku bisa menerimanya. Karena itu adalah kesalahanku sampai bisa kehilangan fokus di tengah pertarungan.


"Tenang saja, aku tidak akan mati," jawabku percaya diri.

__ADS_1


"Kau bisa menghindari seranganku yang barusan?! Refleks mu memang hal yang bisa kau andalkan, tapi apa kau bisa menghindari yang satu ini, dasar brengsek?!”


"Breng ... sek ..."


Kuda-kudaku kembali melemah saat mendengarnya. Kata-kata itu seakan menjadi trauma yang mendalam di diriku saat ini.


"Iraya!"


Cecilia lagi-lagi berteriak untuk menyadarkanku.


"Aku tahu!"


Tapi kejadian yang sama tidak akan terulang lagi kepadaku. Aku bisa langsung fokus pada serangan Oukami yang berikutnya.


Oukami mengarahkan gada besarnya ke kepalaku dengan gerakan dari atas ke bawah mencoba memanfaatkan gravitasi untuk membuat kecepatan turun gada menjadi lebih cepat. Kali ini aku tidak menghindar, aku mengangkat pedangku ke atas kepala dan menahannya dengan bilah pedang.


Tekanan yang dihasilkan membuat lantai pada pijakan ku retak, tapi kini kuda-kuda yang aku pasang jauh lebih kuat, membuatku masih bisa berdiri dengan senyum sombong terpancar dari mulutku. Walau sebenarnya tubuh ku saat ini gemetaran akibat menahan gada milik Oukami.


"J-Jangan meremehkanku, sialan!"


"Hah! Bodoh!"


"Ahakkh ...!!"


Sial, aku lengah! Saat kedua tanganku terkunci karena menahan gada di atas kepalaku, sebuah tendangan dengan lutut melesat ke arah perutku yang pertahanannya terbuka lebar, membuat tubuhku sedikit terhuyung lalu dihempaskan menggunakan perisai yang akhirnya membuatku jatuh terguling. Beruntung tidak terguling keluar arena.


Aku berusaha bangkit dengan susah payah, kembali memasang kuda-kuda yang lebih lemah dan mengacungkan pedang sekali lagi kepadanya.


Saat melakukannya, ia malah tersenyum miris. Seolah mengejekku yang masih berusaha bangun setelah terkena serangannya.


"Hoo ... kau masih bisa berdiri? Tapi sepertinya tidak lama lagi kau akan kalah.”


Oukami menunjuk ke arah keningnya sendiri menandakan kalau aku harus memeriksa keadaan keningku. Dan saat aku menyentuhnya, aku melihat darah segar yang mengucur dari sana. Darah yang terus mengucur sampai ke bagian pipi melewati mataku.


"Are are~ Sepertinya salah satu peserta sudah ada yang terluka! Apakah pemenang pada pertandingan kali ini sudah terlihat jelas?! Apa kalian tidak sabar melihat akhir dari pertandingan ini?!"


"YEAHH !!!"


Seperti biasa Mitsu membakar semangat para penonton dengan sangat baik. Dia membuat pertandingan berjalan menjadi tidak membosankan. Tapi walaupun begitu, sepertinya pertandingan kali ini tidak berjalan terlalu baik untukku.


Sialan, gara-gara semalam aku jadi tidak fokus. Ini bukan alasan atau semacamnya, pikiranku seakan melayang di tempat lain dan tidak berada di sini.


Dan oleh karena itu, kening ku berdarah, pandanganku sudah sedikit kabur, dan kuda-kuda milikku juga semakin melemah. Menghadapinya dengan adu fisik sepertinya memang bukan jawaban yang tepat.


Aku jadi ingat dulu mungkin Herlin bisa mengalahkannya karena dia adalah seorang Mind Power. Jadi mau sekuat apapun Oukami, selama dia tidak bisa menyentuh Herlin, maka serangan apapun yang dilancarkannya akan jadi tidak berguna.


"Hei, aku punya saran untukmu, bocah. Bagaimana kalau kau menyerah saja? Untuk berdiri saja kau sudah kepayahan, tidak perlu menyakiti dirimu lebih dari ini.”


Itu dia! Akhirnya keluar juga kata-kata untuk membuatku menyerah dari turnamen ini. Tapi tentu saja aku tidak akan menyerah begitu saja. Karena aku masih memegang janji dengan Herlin untuk memenangkan turnamen ini!


"Haha. Maaf saja, tapi aku tidak akan menyerah. Aku sudah berjanji kepada seseorang.”


"Janji, ya? Apa yang kau maksud adalah janji dengan Ririsaka Herlin? Aku tidak tahu apa yang membuatnya berpikir kalau kau bisa memenangkan turnamen ini. Dia bahkan tidak pernah memenangkan turnamen ini. Seseorang yang menumpahkan keinginannya kepada orang lain hanyalah seorang pecundang."


"Pecundang?"


Orang yang kelewat kuat begitu? Orang yang bahkan tidak pernah mengeluarkan keringat saat berlatih denganku. Dia bahkan sudah mengalahkanmu, sialan! Kau tidak berhak memanggilnya sebagai seorang pecundang.


Tanpa sadar kepalaku menjadi panas ketika dia menjelekkan Herlin. Seseorang yang sudah membuatku bisa berdiri dan bertarung di sini dengan mengalahkan Hayate di babak pertama. Seseorang yang selalu memperhatikan kekurangan ku dan membuatku bisa memperbaikinya.


“Kau akan menyesalinya ....”


Amarahku kini meluap. Percikan listrik mulai menyebar dan terlihat di seluruh tubuhku, membuat Oukami sedikit bingung. Benar. Bingung lah, takutlah! Karena aku menghabisimu di sini! Setidaknya ini adalah ucapan maaf ku pada Herlin soal kesalahpahaman yang terjadi semalam.


Aku tidak akan membiarkan seseorang merendahkannya.


"Iraya! Jangan terpancing dengan apa yang dia katakan! Fokus saja pada proses penyembuhanmu."


“Eh?”


Cecilia tiba-tiba berbicara lagi. Seolah membatalkan semua motivasi yang telah aku bangun tadi, ia membuatku mengingat kembali rasa sakit sebelumnya. Dan percikan listrik yang mengitari tubuhku juga menghilang.


“Adu-duh ... aku lupa soal penyembuhannya,” gumamku.


Cecilia dari tadi sedang membantuku melakukan proses penyembuhan. Tapi ketika aku memfokuskan auraku untuk menciptakan percikan listrik, hal itu malah menghambatnya. Tapi aku tidak merasa kalau penyembuhannya berjalan mulus dari tadi. Apa sesuatu terjadi di dalam tubuhku?


"Huh? Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan dari tadi?"


Oh iya, aku lupa kalau Oukami juga sedang menungguku. Ia pasti melihatku seperti orang bodoh sebelumnya karena membatalkan seranganku. Apa penyamaranku ketahuan olehnya, ya?


“Yah ... apapun yang kau lakukan, itu tetap tidak merubah hasil akhirnya. Aku tetap akan menghancurkanmu berkeping-keping!”


Yap. Sepertinya tidak. Aku lupa kalau dia hanya orang aneh yang bodoh. Jadi tidak ada yang perlu aku khawatirkan secara berlebihan. Tapi aku tetap tidak bisa membiarkannya karena sudah merendahkan Herlin, jadi aku akan sedikit menghajarnya.

__ADS_1


"Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya!"


Itu pun kalau aku bisa melakukannya.


Aku memegang erat pedang dengan kedua tanganku. Sisa-sisa tenaga yang kebanyakan aku gunakan untuk proses penyembuhan, aku kemudian menguatkan kuda-kudaku. Akhir pertandingan ini ... semakin dekat.


**


Sementara Herlin dan Oita-san yang berada di tengah-tengah penonton yang sedang riuh kegirangan pun dapat merasakannya, kalau Iraya sedang tidak fokus saat ini. Karena penasaran, Oita-san kemudian bertanya kepada Herlin.


"Sepertinya ada sesuatu yang membuat Iraya-kun menjadi tidak fokus saat ini. Apa kau tau penyebabnya, Herlin-chan?" tanya Oita-san.


Herlin memalingkan wajahnya ke arah lain dengan cepat ketika ditanya seperti itu, "Aku tidak tahu." Dan menjawabnya dengan singkat.


"Hmm?"


Oita-san kali ini lebih mendekatkan wajahnya ke wajah Herlin dan sekarang berada tepat di samping wajahnya. Herlin yang masih memalingkan wajahnya lama kelamaan merasa tidak nyaman dengan apa yang dilakukan oleh Oita-san.


Lalu dia secara tidak sengaja berteriak, "Sudah dibilang aku tidak tahu! Eh ...?" Herlin menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena baru saja berteriak kepada Oita-san.


"Wah ... Ini pertama kalinya kau membentakku, ternyata sudah ada perkembangan dari dirimu, ya?"


Oita-san tidak marah dengan bentakan Herlin dan justru malah bangga terhadapnya, terbukti dengan senyuman di wajahnya.


"Maaf ...." Herlin meminta maaf.


Oita-san tidak keberatan akan hal itu. Kini ia kembali bertanya, dengan lebih lembut. "Jadi, kau tahu sesuatu penyebab tidak fokusnya Iraya-kun sekarang?"


Herlin mengangguk dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi semalam, "Kemarin malam, saat aku ke ruangannya untuk memberikan makanan yang dibuat oleh Yuuki-san, aku melihatnya sedang berdua dengan perempuan lain."


"Perempuan lain? Apa kau mengenalnya?"


"Tidak, aku tidak kenal. Tapi dari auranya, aku bisa tahu kalau perempuan itu adalah seorang Exception."


“Hmm ....” Oita-san berpikir sebentar, tapi setelah itu kembali bertanya. "Lalu apa yang kau lakukan setelah itu? Memukulnya atau memarahinya?"


Herlin terdiam sebentar, ia menunduk malu tidak ingin menatap wajah Oita-san langsung dan seperti sedang mencari kata-kata yang tepat untuk jawabannya. Lalu setelah itu, Herlin pun menjawabnya.


"Aku lari."


"Lari?"


"Harusnya aku bisa saja memukulnya atau semacamnya, lalu setelah itu bertanya alasan Iraya melakukannya. Tapi saat itu, aku tidak sanggup melakukannya. Aku terlanjur marah dan tidak ingin melihat wajah Iraya lagi.”


"...."


"Aku bahkan sempat mengatakan hal yang kasar kepadanya. Lagipula aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat itu. Setelah kejadian malam itu, aku tidak bisa menatap wajah Iraya. Karena setiap aku melihat wajahnya, aku hanya terbayang wajahnya saat dia sedang berdua dengan perempuan itu."


Herlin menggenggam Hoodie dengan erat dan semakin erat. Dia benar-benar bingung dengan apa yang harus dilakukannya sekarang, "Apa yang harus kulakukan, Oita-san? Apa yang harus kulakukan agar bisa berbicara lagi dengannya? Dengan Iraya?!"


"Herlin-chan, apa kau menyukai Iraya-kun?"


Oita-san tidak bisa berpikir hal lain lagi selain menumpahkan fakta kalau Herlin menyukai Iraya. Tanda-tanda yang ditunjukkan Herlin juga sudah terlihat jelas dari perilakunya saat ini.


"Aku membencinya. Dia lemah, bebal, naif, dan seorang yang ceroboh. Aku selalu membenci sifat yang seperti itu. Itu tidak salah lagi." Pemikiran Oita-san langsung disangkal dengan cepat oleh Herlin.


"Benarkah?"


"Tapi ...." Herlin belum selesai berbicara, ia masih ingin melanjutkan kata-katanya.


"... Dia adalah murid pertamaku sebagai langkah awal mimpiku menjadi seorang guru. Dan saat aku melihatnya dengan perempuan lain, hatiku tidak karuan dan kepalaku jadi tidak bisa berpikir jernih."


Oita-san menutup matanya dan tenggelam dalam pikirannya untuk membantu Herlin. Dia melipat tangannya ke depan dan diam sebentar. “Jadi begitu.”


"Oita-san?"


Lalu beberapa saat kemudian, Oita-san membuka matanya dan berbicara lagi. “Untuk sekarang, apa kau bisa memberikan apa yang paling dibutuhkan Iraya saat ini?” saran Oita-san.


"Yang paling dibutuhkan Iraya?"


"Benar, keadaan Iraya sedang sulit saat ini, jadi mungkin kau bisa memberinya sorakan untuk menyemangatinya. Aku tidak tahu seberapa efektif hal itu berpengaruh, tapi aku rasa anak laki-laki menyukai hal seperti itu.”


Herlin terdiam sebentar dan kemudian melihat ke arah Iraya. Dia memandangi Iraya yang sedang terpojok oleh lawannya. Herlin menaruh tangannya di sekitar mulut untuk membantu mengeraskan suaranya. Lalu kemudian membuka sedikit mulutnya bersiap untuk berteriak.


"Se ... Sema ...."


Dia mencoba beberapa kali untuk berteriak, tapi tetap tidak bisa. Seolah ada sesuatu yang menahan suaranya. Oleh karena itu, ia pun membatalkan usahanya dan menutup mulutnya rapat-rapat.


"Maaf, aku tidak bisa."


“Mungkin itu masih terlalu sulit untukmu. Tapi tidak apa-apa, aku yakin kau menemukan momen yang tepat untuk berbaikan dengannya.”


“Aku harap begitu.”

__ADS_1


Dan mereka berdua kembali fokus pada Iraya. Yang kini, masih dalam kesulitan menghadapi lawannya yang menang dalam segi kekuatan, keterampilan, dan juga pengalaman.


Bersambung


__ADS_2