
Keesokan harinya, aku akhirnya datang ke Himawari Orphanage setelah mendapatkan izin dari Ibuku kemarin. Herlin menunggu di depan pintu panti asuhan dengan wajah bosan walaupun masih terlihat sangat datar, tapi aku tahu kalau dia sedang bosan dan menggerutu.
"Lama sekali."
"Maaf, maaf. Aku harus membantu Ibuku dulu sebelum kesini."
"Alasan. Aku tahu kau baru bangun, kelihatan dari rambutmu yang masih berantakan sedikit."
Ia melihat ke arah rambutku. Sial, orang ini tidak bisa dibohongi. Padahal aku sudah mandi dan menyisir rambutku agar tidak terlihat bangun kesiangan, tapi dia masih bisa tahu soal itu.
"Jadi, apa kita akan langsung berangkat atau bagaimana?" tanyaku.
"Kita akan berangkat bersama Oita-san, jadi tunggu dulu sebentar di sini. Aku juga harus menyiapkan sesuatu."
"Baik~"
Herlin kemudian masuk ke dalam panti asuhan sementara aku menunggu. Tidak ada yang bisa dilakukan juga jika aku masuk ke sana, jadi lebih baik aku menunggu di sini.
Ngomong-ngomong, aku baru beberapa kali datang kesini. Kami selalu bertemu di bukit belakang untuk latihan dan pemandangan panti asuhan selalu menjadi hal yang asing bagiku.
Aku pernah datang kesini saat membantu Herlin menyiapkan pesta ulang tahun salah satu anak panti asuhan. Dan mereka semua adalah anak-anak yang baik dan ceria, bukti bahwa Yuuki-san membesarkan mereka dengan baik dan benar.
Lalu hal yang paling aku ingat di sini adalah ketika aku dan Herlin datang setelah pulang dari misi di Desa Shibata. Waktu itu kami membawa satu orang lainnya bersama kami, yaitu Haruka-chan. Seseorang yang menjadi korban pengorbanan aneh untuk seekor The Unseen.
Aku tidak pernah mengerti apa yang terjadi di sana, tapi yang pasti bukan sesuatu yang baik. Apalagi jika sekumpulan serigala zombie menyerang dan membunuh para warga desa. Beruntungnya, hal itu sudah selesai.
Dan bicara tentang Haruka-chan, kebetulan sekali karena dia sedang berlarian — sepertinya bermain kejar-kejaran dengan anak-anak lain, dari halaman belakang.
Aku memperhatikan mereka dan tanpa sadar tercipta sebuah lengkungan di ujung bibirku. Perasaan senang karena Haruka-chan bisa tersenyum bahagia tanpa memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak ia pikirkan.
Lalu kemudian, ia secara tidak sengaja melihatku dan kemudian menghampiriku dengan antusias bersama dengan yang lainnya juga, sampai menghentikan permainan mereka.
"Wah! Ada Iraya-niisan!" ucap Haruka-chan. "Ada Iraya-niisan!" Yang lainnya juga ikut memanggil dan menyapaku.
"Yahoo!" balasku singkat dan mengelus kepala Haruka-chan.
"Apa yang Iraya-niisan lakukan di sini?" tanya Haruka-chan.
"Nee, nee, Iraya-niisan! Ayo bermain bersama kami!" ucap salah satu anak laki-laki.
Meskipun baru beberapa kali datang ke sini, tapi sepertinya aku sudah diterima baik di sini. Yang tentu saja itu adalah hal yang baik. Tapi sayang sekali, saat ini aku tidak punya waktu untuk bermain dengan mereka.
Aku berjongkok agar tinggiku setara dengan anak laki-laki yang mengajakku bermain. "Sebenarnya aku ingin sekali, tapi sayangnya aku masih ada urusan di tempat lain."
"Ehhh~" Nada kecewa mereka lontarkan secara bersamaan.
Yang aku dengar dari Herlin dan Yuuki-san, mereka tidak tahu apapun soal Exception dan sebagainya. Herlin bilang kalau mereka tidak perlu tahu soal hal-hal seperti itu. Jadi aku tidak bisa memberitahu mereka yang sebenarnya.
"Setelah semua ini selesai, aku janji kita akan bermain bersama kalian, okay?"
"Janji, ya?!"
"Iya."
"Baik, Iraya-niisan sudah berjanji. Sekarang kalian bermain di tempat lain sana." Tiba-tiba Herlin datang dan masuk ke dalam pembicaraan kami.
Setelah Herlin datang, mereka semua dengan patuh langsung pergi dari sini. Penguasa panti asuhan memang hebat, satu perintah dan semuanya langsung melakukannya.
Ngomong-ngomong dia keluar berdua bersama Oita-san dan di tangan Herlin terlihat membawa sesuatu. Sesuatu yang membuatku sangat bersemangat dan tidak sabar, itu adalah sebuah pedang! Pedang yang lengkap dengan sarung dan tali pengikat.
"Woah! Jangan bilang kalau ini ...!"
"Ini pedangmu."
"Hebat sekali!"
Tali pengikat itu juga tidak kalah keren, memiliki bentuk 'X' yang terbuat dari bahan kulit berwarna coklat muda dengan plakat besi belah ketupat di bagian depannya dan sarung pedang di bagian belakangnya.
Tanpa basa basi, aku langsung memakainya dan berpose di depan mereka berdua. Menunjukkan seberapa kerennya diriku saat memakai ini.
"Bagaimana?"
"Biasa saja." Herlin menjawab datar.
"Tch, kau benar-benar tidak suka melihat orang senang sedikit, ya?"
Dan kami bertiga pun berangkat menuju Tokyo. Kami berangkat menggunakan kereta Shinkansen dan memakan waktu sekitar dua setengah jam. Yah ... itu masih mending daripada mobil yang bisa dua kali lipatnya.
Perjalanan yang cukup panjang dengan kereta itu akhirnya selesai dan kami berjalan menuju ke sebuah gedung dengan logo besar terpampang di atasnya, 'Akatsuki Corp.' tertulis di sana.
Kami masuk dan pemandangan di dalam bisa dibilang cukup biasa. Tidak seperti yang aku bayangkan akan terlihat garang atau kotor dan menyeramkan, tempat ini malah terlihat seperti perkantoran biasa.
Oita-san berjalan menuju meja resepsionis dan langsung disambut olehnya. "Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya resepsionis wanita itu.
"Aku ingin pergi ke bawah. Atas nama Murasaki Oita."
__ADS_1
Setelah memeriksa buku list yang ia pegang selama beberapa saat, ia kembali berbicara. "Baiklah, silahkan ikuti saya."
Kami bertiga mengikutinya untuk menaiki sebuah lift. Anehnya, meskipun kami berada di lantai dasar, lift kami tidak bergerak naik — melainkan sebaiknya.
Setelah indikator lift menunjukkan simbol "B10", pintu lift kemudian terbuka. Dari dalam lift aku memang bisa mendengar sayup-sayup suara meriah, tapi melihatnya secara langsung tetap saja membuatku terkejut saking meriahnya.
Arena pertarungan segiempat yang dikelilingi tribun dengan ramainya penonton menjadi pemandangan pertama yang aku lihat.
"Selamat datang di Event Kuni no Hashira, Turnamen The One!"
Kami disambut oleh beberapa orang perempuan dengan pakaian yang bisa kalian bilang 'menarik' mata para lelaki. Yang menunjukkan banyak sekali kulit mereka di sana sini.
Tapi selain pemandangan 'menarik' itu, aku bisa merasakan perbedaan paling mencolok dari ruangan ini dan lantai sebelumnya, yaitu aura yang dikeluarkan oleh masing-masing individu. Aku tahu kalau ruangan ini dipenuhi oleh orang-orang kuat, yang membuatku hanya bisa menelan ludah kering.
"Ada apa? Sudah mulai takut?" Herlin mengejek seakan bisa merasakan kegelisahanku.
"Ta-takut? A-apa kau mengejekku?" Suaraku tanpa sadar bergetar.
"...." Tapi dia tidak membalas dan hanya menghela nafas. Apa aku memang terlihat segugup itu? "Sudahlah, mari kita lihat bagan pertandingannya."
"Ba-baik."
Herlin berjalan beberapa langkah dan aku mengikutinya, tapi tiba-tiba berhenti dan membuatku menabraknya. "A-aduh ... ada apa, sih?"
"Apa sebegitu menakutkannya?"
"Eh?"
"Apa kau takut karena mereka kuat? Atau karena mereka menyeramkan? Atau karena kau takut dikalahkan dengan buruk dan mengecewakanku? Sebenarnya apa yang kau takutkan?"
"So-soal itu ...."
Aku tidak bisa menjawabnya. Entah apa yang dikatakannya itu benar atau salah, tapi yang pasti aku saat ini sedang ketakutan. Tapi tiba-tiba dia meraih tanganku dan menggenggamnya, yang tentu saja membuat wajahku merah.
"A-apa yang kau lakukan?! Lepaskan, oi!"
"Sekarang, masih takut?"
Aku berhenti meronta dan melihat tanganku yang digenggam oleh dua tangan Herlin. Aku bisa merasakan kelembutan dan kehangatan dari tangannya, tangan seorang gadis muda.
Tidak. Aku tidak boleh membuatnya lebih khawatir dari ini. Merasa takut seperti ini membuatku tidak keren sama sekali, bukankah aku sudah memutuskan untuk selalu terlihat keren di depannya? Tidak ada waktu untuk takut, dasar sialan!
Aku kemudian menggenggam tangan Herlin yang menggenggam satu tanganku. "Aku sudah baik-baik saja, terima kasih," ucapku.
"Kalau begitu lepaskan tanganku, dasar mesum."
"Eh?"
"Apa kau begitu putus asa karena tidak pernah memegang tangan perempuan dan menggenggam tanganku sangat lama?"
Aku langsung melepaskan tanganku dengan cepat. Dia ini bisa berubah dari dapat diandalkan menjadi menyebalkan dengan sangat cepat. "Hah?! Kau yang memegang tanganku duluan, dasar cewek aneh!"
Tapi tanpa sadar, aku berteriak cukup keras sampai menarik perhatian satu orang di dekat kami. Ia melihatku dengan tatapan sinis dan seakan merendahkan, sampai ia sadar dengan keberadaan Herlin.
"Kau ... Ririsaka Herlin? Akhirnya kau datang lagi setelah bertahun-tahun! Kebetulan sekali, aku akan menghancurkan berkeping-keping tahun ini!"
Apa-apaan laki-laki sok asik ini. Padahal baru bertemu tapi sudah membuat keributan. Perawakannya seperti pria berusia 19 sampai 20an awal, tingginya lebih tinggi dariku dengan rambut hitam berantakan dan iris mata merah.
Salah satu yang membuat orang ini mengintimidasi selain tingginya adalah bekas luka di sekujur tubuh dan di wajahnya.
"Siapa?" Dan seperti biasa, mulut Herlin tajam ke semua orang.
"Apa?! Beraninya kau melupakan orang yang sudah kau hancurkan di turnamen ini dua tahun lalu! Lalu aku ...."
Pria itu terus berbicara dan memaksa, Herlin sepertinya sadar kalau dia adalah tipe orang yang tidak akan berhenti bicara sampai Herlin ingat, jadi ia segera menjelaskan situasinya.
"Begini ya ... maaf kalau mengecewakan, tapi aku tidak bertanding. Aku hanya akan menjadi penonton tahun ini."
Dan wajah penuh semangatnya langsung menghilang ketika Herlin bilang seperti itu. "Tch, dasar penakut! Siapa orang yang akan ditonton oleh seseorang sepertimu?" Dan Herlin malah diejek penakut.
Herlin menunjukku. "Dia."
Pria itu kemudian mendekatiku. Sial, aku tidak suka ini. Dia seakan melemparkan masalahnya kepadaku. Ngomong-ngomong, dia memperhatikanku cukup lama dan detail.
"Aha ... Hahaha ...!! Menarik sekali!"
Dan ... dia malah tertawa. Perubahan dari marah-marah, semangat, lalu ke tertawa hanya dalam sekejap. Sip. Penilaianku sudah bulat padanya, dia orang aneh.
"Kau akan menonton bocah kerempeng ini? Apa kau suka melihat seseorang di hajar habis-habisan? Sekarang aku tahu selera tontonanmu."
Dia menertawakanku dan tentu saja, meremehkanku. Sebenarnya aku sangat kesal saat ini, tapi membuat keributan sekarang tidak akan membawa hasil baik.
"Jangan terpancing, Iraya." Bahkan Cecilia sampai memperingatkan ku. Yah ... aku hanya bisa sabar saat ini.
Tapi ....
__ADS_1
Sebuah kejahilan kecil tidak akan menyakiti siapapun, kan?
Aku mendekat dan berbicara padanya. "Mmm ... sepertinya obrolan kalian seru, ya?" Dan tersenyum.
"Hah?! Kau bilang sesuatu, bocah?!"
"Aku tahu kalau aku ini lemah. Tapi, bukankah memprovokasi lawan yang lebih lemah sebelum bertanding membuatmu terlihat seperti pecundang?"
"Apa katamu?!"
"Baiklah, sudah cukup. Jika kalian ingin bertarung satu sama lain, nanti pasti ada waktunya, kan?"
Dan Murasaki-san pun memisahkan kami berdua sebelum keadaannya menjadi lebih kacau. Kelihatannya dia juga tahu reputasi mentereng milik Murasaki-san dan memilih untuk pergi, meskipun dengan wajah kesal.
"Hah ... bahkan pertandingan belum dimulai dan sudah ada kejadian seperti itu." Aku menghela nafas. "Ngomong-ngomong, apa kau mengenal orang aneh itu? Sepertinya dia punya urusan denganmu," lanjut tanyaku.
"Sepertinya dia salah satu lawan yang aku kalahkan dua tahun lalu. Kalau namanya aku sama sekali tidak ingat."
"Dia Oukami Yuu, kekuatannya adalah transformation."
Oita-san melengkapi informasi yang dibutuhkan oleh Herlin untuk mengingat orang tadi. Dan otakku juga langsung mematri namanya di kepalaku, semuanya berkat sifat menyebalkannya.
"Wah! Oita, Ririsaka-chan! Tidak aku sangka akan bertemu kalian berdua di sini!"
Lagi-lagi ada suara orang yang tidak aku kenal yang memanggil nama Herlin dan Murasaki-san. Aku bersumpah kalau semua orang di ruangan ini mengenal mereka berdua. Bicara tentang menjadi orang terkenal.
Sementara aku hanya berharap kalau yang datang kali ini bukanlah orang menyebalkan.
"Senang bertemu denganmu lagi, Ryuzaki dan Hayashi juga," sapa balik Murasaki-san.
"Aku juga." Herlin juga ikut menyapa.
"Apa ada sesuatu yang terjadi? Apa Herlin-chan akan ikut Turnamen The One lagi tahun ini?" tanya pria dewasa yang awal menyapa Murasaki-san tadi.
"Tidak, kali ini Herlin-chan hanya menonton. Dan yang akan bertanding adalah anak ini."
Murasaki-san menepuk pundak ku dan mengenalkan mereka berdua kepadaku. "Iraya-kun, mereka adalah Kurayami Ryuzaki dan Hayashi Satou. Mereka berasal dari organisasi Red Flame yang beroperasi di Tokyo. Dan kalian berdua, dia adalah anggota baru di Black Rain, Satou Iraya," lanjutnya.
"Senang bertemu dengan kalian."
Red Flame. Organisasi yang tugasnya sama seperti Black Rain yang ada di Kyoto. Jadi wajah para Exception dari kota lain seperti ini, ya? Aku dengan jelas bisa merasakan aura kuat dari mereka.
"Senang bertemu denganmu juga, Iraya-kun. Namaku Hayashi Satou, kebetulan aku juga ikut dalam turnamen ini."
Hayashi Satou, sepertinya dia lebih lemah dari Kurayami Ryuzaki, tapi bukan berarti aku bisa meremehkannya. Dia memiliki rambut hitam klimis dengan poni bagai gigi hiu serta pakaian serba hitam. Aku juga tidak boleh mengabaikan Katana di punggungnya yang sepertinya adalah senjata utamanya.
"Semoga kita bisa bertarung dengan baik, Hayashi-san" Kami saling berjabat tangan.
Dan yang satu lagi adalah Kurayami Ryuzaki, perawakan yang lebih tua dari Hayashi-san tapi wajahnya berada pada puncak dewasa. Dia memakai jubah coklat terang yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali bagian kepala dan memiliki bekas luka di mata kirinya.
Aku juga tidak lupa menjabat tangannya.
Saat kami sedang asyik mengobrol, suara dengungan mic yang menggema di seluruh ruangan menarik perhatian kami. Kami semua langsung tahu apa yang akan terjadi setelah itu. Benar. Turnamen The One akan segera dimulai.
"Etto ... check, check ...! Apa suaraku bisa terdengar? Ah, sepertinya bisa." Muncul suara ringan perempuan yang semakin menarik perhatian semua orang di ruangan ini.
"Ekhehem ...! Semuanya! Terima kasih karena sudah menunggu dengan sabar! Sebentar lagi, pertandingan pertama Turnamen The One edisi ke delapan akan segera dimulai. APA KALIAN SIAP?!!"
"YEAAAAAHHHHH !!!!"
"Benar, benar! Memang seharusnya reaksi seperti itu yang kalian keluarkan untuk acara ini. Bersama dengan komentator kesayangan kalian yang sudah empat tahun menemani kalian di turnamen ini, Mitsu!
Lalu juga dengan rekan baruku yang sedang menunggu aku selesai bicara di sampingku, Caramel! Kami berdua akan menemani dan memandu jalannya semua pertandingan pada edisi kali ini. Jadi jangan bosan-bosan dengan suaraku, ya?"
"YEEEAAAAHHHHH !!!!"
Aku tidak yakin apa mereka lebih tertarik dengan si komentator atau pembukaan pertandingan ini, tapi aku pikir teriakan semua orang di sini terlalu berlebihan untuk sebuah pembukaan.
"Kalau begitu, partner ku, Caramel-chan akan memanggil nama dua peserta yang akan bertanding pada pertandingan pertama di tahun ini."
"Etto, yang akan bertanding adalah ...."
Sebentar lagi pertandingan pertama akan dimulai. Turnamen pertama dalam hidupku, ya? Entah kenapa rasanya mendebarkan. Kurasa akan lebih bagus jika memperhatikan dan menilai lawan terlebih dahulu sebelum giliranku.
"... Hayate Kendou melawan Satou Iraya. Kedua peserta silahkan mempersiapkan diri dan segera naik ke atas arena."
Suara datar bak robot memanggil nama kedua peserta. Tidak, bukan suara dinginnya yang sangat tidak cocok untuk membawakan pertandingan bergengsi seperti ini yang menjadi masalahku. Masalahnya ada pada nama orang yang akan bertanding.
Herlin dan Murasaki-san melihat ke arahku. Yang paling terkejut adalah Herlin sampai mulutnya sedikit terbuka. Aku rasa bukan hanya dia yang kaget seperti itu.
"Eh?"
Aku juga.
Bersambung
__ADS_1