Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 31 : Herlin vs Dua Assassin


__ADS_3

Sementara di tempat pertarungan Herlin dan Ardenter, keduanya masih belum mau mengalah dan masih menyerang satu sama lain. Ardenter lebih banyak menyerang dibandingkan Herlin yang kebanyakan bertahan dan menghindar.


Braakkhh...


Kali ini Ardenter mencoba mengincar perut Herlin dan mengoyaknya. Tapi Herlin menarik kaki kanannya ke belakang dan memutar badannya dengan tumit kiri sebagai tumpuannya sehingga ia bisa menghindarinya.


Tetapi Ardenter tidak berhenti sampai di situ. Ia mendarat lalu tanpa jeda langsung mengarahkan serangan bertubi-tubi ke arah wajah dan tubuh Herlin.


Sraakhh...


Beberapa serangannya kali ini berhasil memberikan robekan kecil pada Hoodie Herlin dan angin dari serangannya juga membuka tudung Hoodie Herlin sehingga rambut pirang panjangnya terlihat dan terkibar.


Tapi selain itu, tidak ada luka serius pada tubuhnya dan Herlin memilih untuk melompat jauh mundur ke belakang. Melihatnya menjauh dan menghindar membuat Ardenter sedikit kesal.


"Oi! Kenapa kau tidak membalas seranganku?!"


"... Aku ingin bertanya satu hal padamu."


"Hah?!"


"Kenapa kau mengincar Iraya? Apa dia anak yang berbakat atau semacamnya?" tanya Herlin.


"Itu tidak ada urusannya denganmu. Dia telah mengambil apa yang jadi milik Ayakashi Corp. dan aku hanya mengambil apa yang memang menjadi milik kami."


"Milik perusahaan?"


Herlin sedikit bingung dengan perkataan Ardenter. Ia mencoba menganggap kalau Ardenter berbohong, tapi tidak ada gunanya berbohong disaat seperti ini.


Bagi Herlin, mustahil kalau Iraya tahu soal perusahaan. Bahkan jika pun ia tahu, mengambil sesuatu dari perusahaan adalah tindakan yang bodoh.


Bermacam-macam pemikiran liar terjadi di kepala Herlin saat ini. Ia mencoba mencari alasan yang paling masuk akal dan menemukannya walaupun ini adalah hal yang tidak mengenakkan.


Eksperimen.


Itu adalah jawaban yang paling masuk akal yang bisa dipikirkan oleh Herlin saat ini.


"Apa anak itu adalah salah satu tikus percobaan milik perusahaan?" tanya Herlin.


"Itu bukan urusanmu!"


"Lalu apa yang kau maksud dengan 'Inang Subject C'? Apa dia menjadi wadah suatu makhluk?"


"Sudah kubilang itu bukan urusanmu!"


Ardenter ternyata lebih keras kepala daripada yang Herlin duga. Dia tidak bisa menggali informasi darinya dengan mudah. Jadi Herlin berpikir kalau ia harus mengalahkan Ardenter terlebih dahulu agar ia mau bicara.


"Baiklah kalau begitu. Sepertinya aku harus sedikit memaksamu."


Ziing... Swuuushh...


Herlin akan mulai menyerang saat ini. Ia melihat sebuah puing bangunan besar dan kemudian mengangkatnya dengan kemampuan Mind Power-nya lalu melemparnya ke arah Ardenter.


Braaakkhh...


Puing besar melesat dengan kecepatan tinggi, tapi Ardenter tidak menghindari serangan Herlin tersebut melainkan malah menghancurkannya hingga berkeping-keping dengan satu tinju kuatnya.


Saat puing itu hancur, Ardenter menyadari kalau Herlin sudah tidak berada di depannya. Dia mencoba mencari keberadaannya dengan menoleh ke kanan dan kiri, tapi ia tidak sempat menahan serangan Herlin yang muncul dari belakang.


Buughh...


Herlin berhasil mendaratkan tendangannya ke pipi sebelah kanan Ardenter yang membuat Ardenter sedikit terhuyung tapi itu tidak berlangsung lama.


Serangannya tidak cukup kuat untuk menjatuhkan Ardenter. Sementara Ardenter langsung menangkap pergelangan kaki Herlin yang masih melayang dengan tangan kanan lalu melemparnya ke arah tembok.


Zwuuushh...


Dalam keadaan terlempar, Herlin berhasil memperbaiki posisinya dan menerbangkan dua buah puing yang ia gunakan sebagai pijakan di udara sehingga tubuhnya tidak menabrak tembok dengan keras.


Ziingg...


"??!!"


Dalam waktu yang bersamaan, dari atas Ardenter sudah banyak puing-puing yang melayang dan sekarang melesat menghujamnya dalam kecepatan tinggi.


Braakkhh... Braakhh... Braakhh...


Ardenter melompat ke belakang lalu melakukan salto ketika puing-puing tadi tidak berhenti menghujamnya. Dan selagi ia menghindar, posisinya kali ini juga semakin dekat dengan Herlin dan pada lemparan puing terakhir, Ardenter dapat menghindarinya dan langsung melancarkan pukulan ke wajah Herlin.

__ADS_1


Buummm...


Rambut Herlin berkibar dengan kencang karena hembusan angin akibat dentuman pukulan Ardenter. Meskipun Herlin masih bisa memiringkan kepalanya sedikit sehingga pukulan Ardenter tidak mengenai kepalanya secara langsung.


Tapi karena hembusan angin yang cukup tajam tadi membuat daun telinga dan pipinya tersayat mengeluarkan darah.


"Harus kuakui, kecepatanmu lumayan bagi seorang Mind Power. Tapi sayangnya itu tidak bisa menandingi kecepatanku," ucap Ardenter.


"Tch."


Mereka berdua saat ini sedang dalam posisi saling mengunci ketika kedua tangan Herlin sedang memegang tangan kanan Ardenter yang mencoba memukulnya tadi. Herlin harus mengeluarkan energi yang cukup besar hanya untuk menahan pergerakan Ardenter saja.


"Ada apa? Apa kau tidak ingin menyerangku dengan pukulanmu? Sejujurnya semua serangan fisikmu itu tidak ada rasanya bagiku, sama seperti semua orang berkemampuan Mind Power lainnya, tubuh mereka lemah semua!"


Herlin masih terus fokus pada pergerakan yang akan dilakukan oleh Ardenter tapi tidak terlalu memperdulikan ocehannya.


Tapi perasaan Herlin sudah tidak enak semenjak awal pertarungannya dengan Ardenter. Ia merasa kalau pertarungan mereka sedang diperhatikan oleh orang lain.


"Apa kau hanya sendiri di sini sekarang? Sepertinya anak buahmu sudah pergi ketakutan, ya?" tanya Herlin.


"Oh ... mereka? Daripada anak buah, lebih cocok kalau mereka disebut sebagai pengganggu. Aku tidak suka menerima bantuan dari orang yang lebih lemah dariku, apalagi hanya melawan orang sepertimu."


"Sepertinya kau percaya diri sekali, ya?"


"Ya. Karena aku tidak pernah sendirian saat aku kesulitan."


Ardenter menunjukkan seringai pada wajahnya seakan dia sudah menang yang membuat perasaan Herlin semakin tidak enak.


Degh...


Dan benar saja. Setelah Ardenter bicara seperti itu, Herlin merasakan dingin pada leher belakangnya dan refleks menengok ke belakang. Di depan matanya sudah terlihat bilah Katana yang mengarah langsung ke lehernya.


Craashh...


Terdapat bekas darah tertinggal di bilah Katana tersebut. Tapi ia terkejut karena targetnya belum mati padahal ia menyerangnya dari titik buta. Sementara sang pengguna Katana itu langsung berdiri di dekat Ardenter.


"Ternyata kau benar-benar ada di sekitar sini, padahal aku hanya menggertaknya saja tadi, Nimis."


"Diamlah dan fokus pada musuh yang ada di depanmu," ucap Nimis.


"Sialan, aku tidak perlu bantuanmu!"


"Tch!"


Otomatis saat diserang tadi Herlin melepaskan kunciannya pada lengan Ardenter. Sementara bekas darah yang ada pada Katana Nimis berasal dari telapak tangan Herlin.


Lukanya cukup besar tapi ia beruntung karena serangannya tidak mengenai lehernya. Darah segar menetes sedikit demi sedikit dari luka di telapak tangannya dan membuat kemampuan bertarung Herlin sedikit berkurang.


Keadaan jadi lebih buruk dari yang Herlin duga, ia tidak menyangka kalau ada bala bantuan yang menolongnya. Beruntung ia sudah menyuruh Iraya untuk pergi dari sini, jika tidak maka urusannya akan lebih merepotkan.


"Jadi ... apa dia si pengendali The Beast itu?" tanya Nimis.


"Ya, tidak salah lagi. Terlebih lagi dia juga kenalan dari Inang Subject C, jadi ini seperti jackpot bagi kita."


"Begitu ya, kalau begitu kita harus menyingkirkannya dengan cepat dan membawa Inang Subject C itu kepada perusahaan."


"Hah! Sudah kubilang aku tidak butuh bantuanmu!"


Ardenter yang tadi mengamuk sudah mulai mereda kemarahannya dan menjadi lebih tenang. Semakin tenang musuhnya maka semakin sulit bagi Herlin untuk menang karena kelengahan musuh yang bisa dimanfaatkan oleh Herlin akan berkurang.


Terlebih lagi pertarungan kali ini menjadi pertarungan dua lawan satu. Jadi Herlin memikirkan suatu cara yang bisa meningkatkan persentase kemenangan bagi dirinya.


Menggunakan Banshee adalah salah satu caranya. Tapi ia akan menggunakannya ketika posisinya sudah sangat terdesak, Herlin menganggap kalau dirinya tidak akan berkembang jika ia terus menerus mengandalkan Banshee.


Nimis kemudian mengubah kuda-kudanya dan bersiap untuk menyerang. Begitu juga Ardenter yang sudah lebih tenang sekarang. Sementara Herlin juga bersiap untuk bertarung lagi.


"Bersiaplah."


Zwuuushh... Zwuuushh...


Nimis dan Ardenter dengan cepat melesat dan mempersempit jaraknya dengan Herlin. Mereka menyerang dari arah yang berlawanan, Nimis dengan Katana miliknya dan Ardenter dengan kuku tajamnya.


Braakkhhh... Duaaarrr...


Debu beterbangan di sekitar mereka bertiga setelah ketiganya beradu kekuatan, kali ini Herlin tidak menghindarinya karena kecepatan mereka menjadi jauh lebih cepat.


Ziiing...

__ADS_1


Tapi Nimis dan Ardenter menyadari sesuatu. Pergerakan mereka berdua terhenti sebelum mereka mengenai sesuatu dan mereka berdua dalam kondisi melayang saat ini.


Herlin menggunakan kemampuan Mind Power-nya pada mereka berdua dan mencoba menekan tubuh keduanya dengan kekuatannya saat ini. Nimis dan Ardenter juga merasakan tekanan yang diberikan oleh Herlin tapi masih bisa menahannya.


"Heh ... kekuatanmu lumayan, bocah," ucap Nimis.


"Orang yang akan mati tidak usah bicara padaku."


"Ucapanmu tajam juga."


Dalam keadaan yang sulit bagi mereka bertiga, Nimis mengeluarkan aura yang mengelilingi seluruh bilah Katana-nya. Aura itu kemudian berubah menjadi panas dan terang.


"Bisakah kau menahan ini? Hinokami no Chikara : Bakuretsu!"


"??!!"


Syiiing...


Setelah merapalkan kata tersebut, Herlin merasakan bahaya jika ia masih terus berada di dekat mereka berdua. Tanpa ragu, Herlin langsung melepaskan kemampuannya dan melompat mundur menjauhi mereka berdua.


Blaaarr... Daarrr... Daarrr...


Keputusannya untuk melepaskan mereka berdua benar-benar tepat karena sedetik setelah itu, ledakan yang cukup besar terjadi pada Katana Nimis. Meskipun ia dapat menghindari ledakannya, tapi cahaya yang dihasilkan memaksanya untuk menutup matanya.


Dan saat ia ingin kembali melihat pada posisi mereka berdua, debu dan puing-puing yang kembali berjatuhan menghalangi pandangannya dan Herlin kehilangan mereka berdua.


Herlin menyadari keberadaan Nimis cukup terlambat karena saat ia menengok ke belakang pada posisi Nimis, ia sudah merapalkan jurus lainnya. Kuda-kuda yang dipakai Nimis juga berbeda dan bersiap untuk menebas Herlin dari jauh.


"Hinokami no Chikara : Hi no Zangeki!"


Zlaarrr... Zlaarrr... Zlaarrr...


Nimis menebas udara secara diagonal beberapa kali secara konstan dan tercipta beberapa tebasan api yang melesat langsung ke arah Herlin. Ia melompat ke belakang dan menghindar beberapa kali sebelum akhirnya melompat jauh ke kiri.


"Jangan lupakan aku, sialan!"


"??!!"


Braakkhh... Duaaghh...


Herlin benar-benar melupakan keberadaan dan lengah pada serangan Ardenter sehingga ia tidak kalau melompat langsung ke dekat Ardenter yang membuatnya menjadi makanan empuk bagi Ardenter.


Pukulannya telak mengenai pelipis bagian kiri Herlin yang membuatnya terpental jauh dan berhenti ketika ia menabrak bagian tembok outlet toko lain. Tembok outlet itu pun roboh dan beruntung Herlin tidak tertimpa puing-puing.


Herlin keluar dari puing-puing tadi dengan merangkak menggunakan sisa-sisa tenaganya. Darah keluar dari pelipisnya dan menetes ke lantai.


Seperti pengguna Mind Power lainnya, jika Herlin terkena serangan telak di bagian kepalanya maka kemampuannya akan menurun drastis karena inti dari kekuatannya berada di kepalanya.


Saat dia sedang mencoba berdiri, ada dua orang yang menghampirinya dan salah satunya mengacungkan Katana padanya.


"Tidak aku sangka ada seorang bocah yang bisa mengimbangi Assassin sepertiku. Apa kau anggota salah satu organisasi Kuni no Hashira?" tanya Nimis.


"Jika aku berasal dari salah satunya, apa kau akan mengenalku?"


"Ya tentu saja, tapi aku menikmati pertarungan singkat denganmu, bocah."


Pertarungan mereka berlangsung tidak lebih dari lima menit dan jika ditambah sebelum kedatangan Nimis, maka pertarungan mereka berlangsung selama lima belas menit. Sebenarnya Herlin bisa saja mengeluarkan Banshee, tapi dia tidak melakukannya karena sudah tahu hasil pertarungan ini.


"Lalu bagaimana kalau aku bilang kalau aku adalah salah satu anggota dari organisasi itu?"


"Apa?"


Herlin sudah tahu hasilnya. Pada akhirnya, sudah dipastikan kalau ia akan menang.


Tap... Tap... Tap...


Tiba-tiba terdengar suara langkah sepatu mendekati mereka bertiga. Nimis dan Ardenter yang menyadari suara langkah sepatu itu langsung bersikap waspada karena mereka tidak menyadari ada seseorang yang mendekatinya.


"Bukankah begitu ...."


Seseorang muncul dari balik puing-puing tembok mall. Listrik dari Mall yang sudah padam ini membuat wajah orang yang mendekati mereka tidak terlihat dengan jelas, tapi meski begitu Herlin dapat melihatnya dengan jelas.


Saat wajah orang itu terkena sinar lampu yang dengan redupnya masih menyala, Nimis dan Ardenter terkejut karena orang tersebut adalah orang yang saat ini paling tidak ingin mereka lawan.


"... Oita-san?"


Orang itu—Oita-san tersenyum misterius ketika namanya disebut oleh Herlin dan juga melihat ekspresi terkejut Nimis dan Ardenter.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2