
Setelah tidak berhasil menemui Oita-san malam kemarin, Herlin akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumahnya dan beristirahat. Meskipun lukanya sudah sembuh tapi ia tetap memutuskan untuk beristirahat karena esok pagi dia akan melatih kemampuan pedangnya.
**
Pagi harinya setelah merasa cukup tidur dan beristirahat, Herlin bangun dari tidurnya sekitar pukul tujuh pagi dan berjalan menuju ke luar kamarnya. Jalan diluar kamarnya berbentuk lorong dan ia pun berjalan menuju ke ruang makan.
Di ruang makan Herlin tidak melihat ada siapa-siapa disana, tapi ia mendengar suara dari dapur. Kemungkinan besar Yuuki-san sedang memasak makanan untuk anak-anak panti. Ia pun segera menuju ke dapur dan menemui Yuuki-san.
Tapi ketika berniat membantu membuat makanan, Herlin malah melihat Yuuki-san yang sedang berbincang dengan seorang anak kecil yang bukan merupakan anak panti asuhan. Jangankan anak panti asuhan, anak kecil itu bahkan bukan manusia.
Herlin yang masih setengah sadar segera mengusap-usap matanya dan kemudian menghampiri mereka berdua. Yuuki-san yang menyadari kedatangan Herlin kemudian menyapanya.
"Herlin-chan, kau sudah bangun. Selamat pagi."
"Herlin selamat pagi!"
"Selamat pagi."
Anak kecil itu menyapanya dengan semangat yang Herlin balas dengan biasa saja. Ia tidak mengerti kenapa dia bisa ada disini dan juga akrab dengan Yuuki-san.
"Tetsu, apa yang sedang kau lakukan disini?"
"Aku sedang membantu Yuuki-san memasak!"
Herlin teringat kalau Iraya dulu pernah menolak bekal yang dibawakan oleh Herlin dan membawa bekal sendiri. Ternyata yang membuat bekalnya adalah Spirit ini. Dan juga dia dengan bangga menyebut dirinya sebagai asisten rumah tangga, Herlin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Iraya kepadanya.
"Jadi memang benar kalau kau ini kenalannya Herlin-chan," ucap Yuuki-san.
"Benar sekali! Aku adalah teman Herlin."
"Yuuki-san, apa tidak apa-apa jika dia membantumu?"
"Tidak apa-apa, aku malah senang jika ada yang membantuku memasak."
"Tapi dia ini bukan manusia, anda tahu?"
"Bukan manusia?"
"Benar! Tetsu adalah sebuah Spirit!" ucap Tetsu dengan gembira seperti biasanya.
"Jadi begitu …."
Yuuki-san nampak sedikit terkejut dengan fakta kalau Tetsu bukanlah seorang manusia melainkan sebuah Spirit. Tapi ia dengan cepat mengganti ekspresi terkejutnya tadi dengan sebuah senyum ramah yang biasa ia lakukan.
"Kurasa tidak ada bedanya, asalkan mereka bisa memasak aku akan senang jika dibantu."
"Asyik! Terima kasih, Yuuki-san!"
"Sama-sama."
Herlin terkejut kalau ternyata Yuuki-san bisa menerima Tetsu yang bukan manusia begitu saja, padahal Yuuki-san hanyalah orang biasa. Mungkin karena dia sudah terbiasa dengan hal-hal aneh di tempat Oita-san membuatnya sudah tidak terlalu terkejut lagi pikir Herlin.
Herlin yang tidak mau diam saja dan posisinya digantikan oleh Tetsu kemudian juga menawarkan bantuannya kepada Yuuki-san.
"Aku akan membantu juga."
"Benarkah? Bagus kalau begitu."
"Memasak bersama? Ini seru sekali!" ucap Tetsu senang.
Akhirnya mereka bertiga menyiapkan sarapan untuk anak-anak panti asuhan pagi ini. Setelah kira-kira setengah jam memasak, akhirnya sarapan mereka sudah ingin selesai.
"Kurasa tinggal menunggu matang saja. Oh iya, Herlin-chan …."
"Iya?"
"Bisa tolong bangunkan yang lainnya? Aku dan Tetsu yang akan mengurus sisanya disini."
"Baiklah."
Herlin kemudian menanggalkan celemeknya dan menggantungnya di gantungan yang berada di dinding setelah itu ia pergi ke lorong lagi dan menuju beberapa kamar yang ada di di lorong tersebut.
Saat ingin membuka salah satu pintu kamar, gerakan Herlin terhenti karena Cecilia yang berbicara di dalam kepalanya.
"Damai sekali ya tinggal disini."
"Cecilia?"
"Benar, ini aku. Apa kau masih terkejut dengan suaraku yang terngiang di dalam kepalamu?"
"Lumayan tidak, aku sudah sedikit terbiasa dengan hal ini."
Herlin tidak jadi untuk membuka pintu kamar tadi dan ia malah bersandar di depannya mengobrol bersama Cecilia.
"Jadi apa kau sudah lama berada disini?"
"Ingatanku samar-samar saat itu, tapi aku ingat aku mulai tinggal disini saat umur enam tahun."
"Lalu bagaimana dengan kedua orang tuamu?"
Herlin terdiam sebentar. Sepertinya ia tidak ingin membahas hal ini terlalu jauh.
"Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?"
"Aku hanya penasaran saja, siapa tahu hal itu bisa mengeluarkan beban di dalam dadamu."
"Jika aku ingin melakukannya, mungkin orang yang akan kuberitahu bukanlah dirimu."
Cecilia hanya mengeluarkan dengusan dan menandakan kalau ia tadi tertawa. Karena sepertinya tidak ada salahnya, Herlin kemudian tidak jadi untuk membuka pintu tadi dan malah bersandar di depannya.
"Kurasa aku sedikit mengingat wajahnya. Tapi nama, asal usul, dan hal lain yang berhubungan dengan orang tuaku, aku sama sekali tidak ingat. Tapi satu yang pasti, kalau aku bukan berasal dari negara ini."
"Kau bukan berasal dari negara ini?"
"Begitulah."
Herlin mulai bercerita. Meskipun samar-samar, tapi ia masih bisa mengingat beberapa tempat yang jauh berbeda dengan disini. Rumah mewah yang lebih mirip istana itu selalu terbayang di ingatan masa kecilnya. Orang-orang dengan bahasa dan perawakan yang berbeda juga masih bisa Herlin ingat meskipun samar-samar.
"Tapi meskipun begitu, kurasa masa laluku sudah tidak penting lagi."
"Benarkah begitu?"
"Setidaknya itu yang selama kutanamkan di dalam kepalaku, sekarang aku mempunyai keluarga yang lebih dekat denganku meskipun bukan keluarga sedarah. Itu yang aku prioritaskan untuk saat ini."
Herlin bisa membayangkan wajah Yuuki-san, Haruka-chan, dan anak-anak panti lainnya ketika menyebut kata keluarga. Lalu juga di Black Rain ada Oita-san, Mei-senpai, Ishikawa-san, dan juga Iraya yang ia anggap sebagai keluarga keduanya.
"Untuk saat ini, itulah yang terpenting bagiku. Maka dari itu aku akan melatih kemampuan pedangku dan menyelamatkan Iraya."
"Begitu, ya. Tapi Herlin …,"
"Ada apa?"
__ADS_1
"… Apa barusan kau marah?"
Herlin melebarkan matanya sedikit karena Cecilia bisa merasakan perasaan yang sedang ia rasakan.
"Kau bisa merasakannya?"
"Ya …, meskipun hanya sedikit dan sekejap, tapi aku bisa merasakan kemarahan di dalam dirimu. Memang mengagumkan bisa menahan emosi sampai sehebat itu, tapi apa kau tidak apa-apa?"
"Maksudmu?"
"Maksudku kau ini masih seorang manusia, berbeda denganku yang sebuah Spirit. Bukankah jika dipendam terlalu lama akan berdampak buruk bagimu?"
Herlin terdiam meresapi kata-kata Cecilia barusan. Ia memang sengaja menahan emosinya dan sudah melakukan sejak lama. Tapi ia belum pernah terpikirkan untuk mengeluarkan emosi itu seperti yang Cecilia barusan katakan.
"Kurasa kau ada benarnya. Tapi mungkin sekarang bukanlah saatnya."
"Benar juga, prioritas kita sekarang adalah menyelamatkan Iraya."
"Kau benar …. Eh?"
Bruukk…
Saat Herlin dan Cecilia sedang fokus berbicara tiba-tiba salah satu anak panti yang berada di dalam kamar membuka pintunya dalam keadaan masih mengantuk. Herlin yang bersandar di depan pintunya secara bersamaan terjatuh saat pintunya dibuka.
"Eh?! Nee-san, kau tidak apa-apa?!"
"Aku … tidak apa-apa."
Herlin terlalu asyik mengobrol sampai ia lupa dengan tugas yang diberikan oleh Yuuki-san, yaitu membangunkan anak-anak. Setelah itu Herlin membangunkan anak-anak panti dan menyantap sarapannya bersama.
Sementara tanpa disadari yang lainnya, Tetsu di dapur malah memakan pensil yang ia bawa dari rumah Iraya sendirian.
"Selamat makan," ucapnya kecil.
**
Saat ini Herlin sedang berada di bukit belakang, tempat ia biasa melatih Iraya. Ia berdiri tegak dan kemudian mengeluarkan pedang Tetsu dari sarungnya.
"Jadi? Apa yang harus kulakukan, Tetsu?"
"Benar juga, ya. Untuk sekarang cobalah menguatkan kuda-kudamu dulu."
Setelah mendengar instruksi dari Tetsu yang berada di dalam pedang, Herlin kemudian memasang kuda-kuda dan bersiap mengayunkan pedangnya.
"Seperti ini?"
"Benar. Ah untuk pertama-tama, lebih baik kau memegangnya dengan kedua tanganmu."
Ketika Herlin memegang pedangnya dengan kedua tangan, tanpa ia sadari kuda-kudanya berubah dengan sendirinya.
"Tunggu sebentar, kuda-kudamu berubah lagi."
".... Kau benar."
"Hmm … ini sulit juga. Baiklah! Aku akan memperbaikinya sendiri."
Tiba-tiba cahaya menyilaukan keluar dari pedang Tetsu setelah ia mengatakan kalau ia akan memperbaikinya sendiri. Dan tak lama muncullah wujud Tetsu di depan Herlin.
"Sepertinya yang harus kita lakukan adalah mencari kuda-kuda yang cocok dulu untukmu."
"Apa itu berpengaruh?"
"Tentu saja! Jika kuda-kudanya kuat, maka akan lebih cepat untuk mempelajari tekniknya. Kau paham itu kan?"
"Kalau begitu akan lebih mudah memahaminya jika kau sudah mengerti dasarnya. Sekarang aku akan coba memperbaiki kuda-kudamu dengan tanganku sendiri."
"Apa maksudmu dengan tanganmu—!"
Ucapan Herlin terhenti karena Tetsu yang tiba-tiba berada di bawahnya dan memegang paha Herlin yang membuatnya terkejut.
"Jangan bergerak dulu, aku sedang mengatur posisi yang cocok dan nyaman bagimu."
Meskipun disuruh tidak bergerak, tapi bahkan seorang Herlin merasa tidak nyaman ketika pahanya disentuh oleh seseorang. Ia mencoba menahannya sebisa mungkin sampai-sampai wajahnya berubah merah padam.
"Ap-Apa kau sudah selesai …?"
"Sedikit lagi."
Mula-mula Tetsu mengatur posisi kaki terkuat Herlin yang membuatnya menjadi tumpuan dan kemudian dibantu dengan kaki terlemahnya sebagai pengatur arah pergerakannya. Dan setelah beberapa saat, Tetsu pun melepas tangannya dari Herlin.
"Yosh, sudah selesai."
Herlin sedikit menghela nafas lega bersyukur karena Tetsu sudah selesai. Tapi kemudian ia memeriksa bagaimana posisinya sekarang. Kaki kanannya berada di bagian depan sementara kaki kirinya berada satu langkah di belakang kaki kanannya.
"Kurasa ini adalah yang paling cocok denganmu. Pemilikku sampai sekarang tidak pernah ada yang seorang perempuan, jadi aku harus mengatur semuanya dari awal lagi. Karena pada dasarnya proporsi tubuh laki-laki dengan perempuan itu berbeda."
"Jadi begitu, aku mulai mengerti sekarang."
"Baiklah! Sekarang kau sudah bisa berlatih mengayunkan pedangmu!"
"Kira-kira berapa kali?"
"Hmm …? Untuk pemula sepertimu … sepuluh ribu kali!"
"Jika kau ingin membunuhku, maka lebih baik kau lakukan sekarang," ucap Herlin datar menanggapi latihan yang diberikan oleh Tetsu.
"Hanya bercanda, hanya bercanda! Untuk sekarang coba ayunkan seratus kali terlebih dahulu, lalu setelah itu istirahat sekitar lima menit dan kemudian ayunkan lagi seratus kali. Terus lakukan itu selama sepuluh kali untuk membiasakan tanganmu pada genggaman pedang."
"Baiklah."
Herlin pun mulai mengayunkan pedangnya dengan kuda-kuda yang sudah diberitahu oleh Tetsu tadi. Pelatihan pun berjalan lancar dan tidak ada kendala. Sesekali Herlin mengayunkan pedangnya terlalu cepat sehingga membuat Tetsu harus memperlambatnya.
Setelah hampir satu jam melakukan hal yang sama, seribu ayunan pertama Herlin pun telah selesai ia lakukan.
"Woah! Kau melakukannya lebih cepat dari yang kuduga."
"Apa hanya seperti ini saja?"
"Ya untuk pemanasannya kurasa segitu saja. Tapi kau ini hebat juga ya, kau bahkan tidak berkeringat sedikit pun."
Tetsu mengelilingi Herlin yang sedang terdiam pada kuda-kudanya, mencoba mencari bagian tubuh mana yang berkeringat. Tapi dia tidak menemukannya di bagian manapun.
"Itu tidak penting, bukan? Yang terpenting sekarang adalah latihan berikutnya."
"Kau benar juga."
Tetsu kemudian berdiri tegak kembali dan memberitahukan latihan selanjutnya.
"Seribu ayunan tadi akan kau lakukan lagi nanti pada sore hari lalu juga pada malam hari. Untuk sekarang aku akan menentukan cara bertarungmu."
"Cara bertarungku?"
__ADS_1
"Benar! Cara bertarung yang cocok untukmu sekarang adalahhhhh …!!"
Tetsu berbicara menggantung dan dengan nada panjang di akhir. Sangat panjang dan seperti tidak ada akhir dan kemudian berhenti saat nafasnya habis.
"… Bertahan dan serang!"
"Bertahan … dan serang?!"
"Yap, karena lawanmu adalah para Exception yang bisa mengeluarkan auranya, kau tidak akan punya kesempatan untuk menyerangnya secara terbuka karena kecepatan dan kekuatanmu sudah dipastikan akan kalah."
"Jadi kau menyuruhku untuk menunggu lawanku melawan kesalahan lalu kemudian menyerangnya?"
"Benar sekali!"
"Lalu bagaimana kalau lawanku bertipe jarak jauh?"
"Dekati sebisa mungkin sambil terus mempertahankan kuda-kudamu. Hanya itu yang bisa kau lakukan jika kau ingin menang."
"Tapi …."
Herlin kemudian membayangkan lawan-lawannya nanti. Caramel dengan kemampuan Transformation-nya, Nimis dengan kemampuan Elemental-nya, dan Ardenter dengan Physical Strength-nya. Melawan mereka semua tanpa menggunakan kekuatan penuh adalah sebuah tindakan bunuh diri. Belum lagi lawan yang tidak diketahui olehnya.
Ia tidak melanjutkan kata-katanya, sebaliknya ia hanya menghembuskan nafas pasrah saja. Tapi tiba-tiba Cecilia berbicara di dalam kepalanya.
"Tenang saja, aku akan membantumu. Meskipun tidak banyak, sih."
"Aku menantikan bantuanmu itu," ucap Herlin lemas.
Saat Herlin sedang sedikit berputus asa, tiba-tiba ada seseorang yang datang menemuinya dari bawah bukit. Orang itu adalah Mei-senpai.
"Ternyata benar kau ada disini!"
"Senpai? Apa yang Senpai lakukan disini?"
"Aku tadi mencarimu di panti asuhan, tapi Aiza-san bilang kalau kau sedang keluar. Jadi aku yakin kau pasti akan kesini. Nn … siapa dia?"
Mei-senpai yang baru sadar kalau ada orang lain disini selain Herlin kemudian menanyakannya.
"Namanya Tetsu. Dia—"
"Halo! Namaku Tetsu!"
"Aku Kurobane Mei, salam kenal Tetsu—Eh? Tunggu sebentar, bukan itu tujuanku datang kesini! Kau harusnya beristirahat di tempat tidur sekarang, lukamu bisa terbuka lagi, kau tahu!" omel Mei-senpai.
"Tapi—"
"Tidak ada tapi-tapian! Ayo kita pulang sekarang."
Mei-senpai bahkan tidak memberikan kesempatan Herlin untuk berbicara. Ia menarik tangan Herlin dan menyuruhnya pulang seperti seorang ibu yang menarik anaknya yang pulang kesorean.
"Aku benar-benar sudah sembuh, Senpai."
"Kau hanya berusaha terlihat kuat, aku tahu itu. Luka seperti itu tidak akan sembuh hanya dalam satu hari."
"Aku sudah sembuh, Cecilia sudah mengobati lukaku."
Saat Herlin bilang begitu, langkah Senpai terhenti dan kemudian menatap ke arah Herlin yang tangannya dari tadi ditarik olehnya.
"Cecilia …? Kalau tidak salah, nama itu …."
"Benar, itu nama Spirit yang berada di tubuh Iraya. Dan sekarang ada di dalam tubuhku."
"Tubuhmu? Maksudnya?"
Herlin pun menceritakan semuanya dari awal. Tentang rencana Iraya dan tentang bagaimana caranya Cecilia berada di dalam tubuhnya. Setelah mendengarnya, Mei-senpai pun kemudian melepaskan tangannya dari Herlin.
"Be-Benarkah?"
"Iya."
"Aku ingin memastikan satu hal dulu. Biarkan aku melihat lukamu."
Herlin pun memperlihatkan bagian pinggang kirinya yang tadinya terluka sekarang sudah benar-benar sembuh tanpa bekas luka.
"Lukanya tidak ada."
"Apa Senpai percaya sekarang?"
"Y-Ya begitulah, tapi tetap saja apa yang kau lakukan sendirian disini? Ada seseorang yang mengkhawatirkanmu, kau tahu?"
"Mengkhawatirkanku?"
Mei-senpai menunjuk ke arah sebuah pohon. Di balik pohon tersebut terdapat seseorang yang sedang bersembunyi malu-malu karena mereka memperhatikannya. Tapi Herlin segera tahu siapa orang yang ada disana.
"Michi-chan?"
"Hekh?!"
Karena merasa dirinya telah ketauan, akhirnya Michi-chan keluar dari persembunyiannya dan menghampiri Herlin.
"Apa jangan-jangan … Michi-chan mengkhawatirkanku?"
Ia mengangguk pelan tanda ia sangat mengkhawatirkannya. Herlin yang sadar akan hal itu kemudian mendekatinya dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Michi-chan yang tertunduk malu.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Michi-chan. Tapi aku sudah baik-baik saja."
"Benarkah?"
"Nn."
"Begitu, ya. Aku sangat senang mendengarnya," ucap Michi-chan yang tersenyum kecil karena lega.
"Jadi sekarang kau sedang melatih kemampuan pedangmu?"
"Ya begitulah."
"Mau mengetesnya denganku?"
"Eh? Tidak …, aku baru saja berlatih tadi—"
"Hoo! Boleh juga! Ini akan jadi latihan yang bagus untukmu, Herlin," ucap Tetsu menyelak pembicaraan Herlin.
"Benar begitu, kan?!"
"Ya benar sekali!"
"Tidak, tunggu dulu …."
Herlin berusaha untuk menghentikannya tapi ia malah secara sedih diabaikan oleh mereka berdua. Dan tidak ada lagi yang bisa dilakukan olehnya selain menerima latihan ini.
"Hah … ya ampun."
__ADS_1
Herlin menggerutu kecil tapi tidak ada yang bisa ia lakukan. Tapi latihan antara Herlin dengan Mei-senpai pun akhirnya akan segera dimulai.
Bersambung