
Pagi ini cukup cerah. Matahari belum terbit sepenuhnya dan suhunya masih sedikit hangat, pagi yang sempurna untuk melakukan hal apapun di luar rumah.
Karena itu sekarang aku berada di luar rumah, lebih tepatnya karena disuruh orang tuaku. Membeli bahan-bahan makanan sarapan yang kebetulan kami lupa untuk memeriksanya dan habis ketika ingin menyiapkannya.
Orang tuaku memang ceroboh. Seharusnya aku masih di rumah saat ini, tapi kurasa tidak apa untuk olahraga pagi.
"Selamat pagi, Edmund."
Wanita tua dengan kerutan memenuhi wajahnya menyapaku. Rambut beruban dan proporsi rentan yang ditopang dengan tongkat kayu tidak bisa menandingi senyum ramah yang ia berikan saat menyapaku.
"Selamat pagi, Nn. Maggiana." Aku menyapa balik dengan ramah.
"Sedang jalan pagi?"
"Ah, tidak. Orang tuaku menyuruhku untuk membeli sarapan. Mereka baru saja kehabisan bahannya"
"Ah~ Sangat ceroboh, sepertinya. Kalau begitu, aku pergi dulu, tubuh tua ini harus sering dilatih untuk berjalan agar tidak terlalu cepat usang."
Ia tertawa kecil ketika menghina tubuh renta miliknya sendiri dan aku tidak bisa bereaksi banyak selain memberi sebuah senyuman. Kami pun berpisah setelah percakapan singkat itu, tapi sebelum itu dia juga menyapa seseorang di sampingku.
"Selalu tampil cantik, ya, Nak Herliana."
"Terima kasih banyak."
Benar. Daritadi aku tidak berjalan sendirian. Ada seorang gadis yang berjalan beriringan denganku. Dia bukan bagian dari keluarga atau kerabat dekat. Maksudku, rambutku yang berwarna silver ini berbeda jauh dengan pirang elegan miliknya.
Dia hanya diam saja selama perjalanan dan bahkan saat berada di rumah. Iya, kalian tidak salah dengar, dia tinggal di rumahku saat ini. Untuk ceritanya ... kurasa akan sedikit aneh dan kalian akan sulit mempercayainya.
Bisa dibilang, aku menemukannya. Dua tahun lalu adalah pertama kali aku bertemu dengannya.
Saat itu, dia terlihat sangat lemah. Dibawah rintikan hujan yang mulai reda, aku yang sedang berjalan pulang tidak sengaja melihatnya meringkuk bersandar di pinggir jalan dengan kulit yang pucat dan gemetar kedinginan.
Saat aku memayunginya, ia menengok ke atas dan aku bisa melihat secara jelas wajahnya. Kecantikannya bagai malaikat, bahkan diriku sendiri tidak bisa percaya kalau aku bisa menemukan seorang secantik dirinya di tempat kotor seperti ini.
Meskipun keadaannya kotor dan tubuhnya yang kurus, kurasa dia sudah cukup lama hidup dalam kesulitan seperti ini. Jadi instingku sebagai manusia, memutuskan membawanya bersamaku ke rumahku, setidaknya untuk membersihkan diri sambil menunggu hujan berhenti.
Awalnya orang tuaku curiga dan menginterogasi ku, tentu saja membawa seorang gadis muda yang sudah terlihat setengah mati bukanlah hal yang sering dilakukan setiap orang di dunia. Mereka bahkan menuduhku menculik anak orang.
Tapi pada akhirnya setelah penjelasan panjang lebar, mereka bisa sedikit mempercayaiku. Dan ibuku merawat, memandikan, dan memberi makan gadis itu sebelum kami menanyakan apapun padanya.
__ADS_1
Setelah semua pembersihan diri itu, aku, gadis itu, dan kedua orang tuaku duduk di meja makan menanyakan semua hal tentangnya. Seperti nama, dari mana ia berasal, dan apa orang tuaku bisa mengantarnya pulang.
Secara mengejutkan, Bahasa Inggris miliknya buruk. Dan dia memiliki aksen yang jarang aku dengar, seperti tidak bisa mengucapkan huruf 'L' dengan lancar dan tidak bisa menyebutkan huruf mati pada akhiran katanya.
Tapi dengan segala keterbatasan pemahaman yang kedua pihak miliki, aku akhirnya mengerti dengan apa yang ingin dia sampaikan.
Perempuan ini berasal dari tempat yang sangat, sangat jauh dari sini. Dia tidak memiliki tempat tinggal di sekitar sini dan hanya mengais makanan sisa dari tempat sampah selama beberapa minggu. Perempuan ini juga memiliki tujuan untuk mengetahui siapa orang tuanya dan petunjuk yang ia miliki sangat sedikit.
"Lalu, siapa namamu?" Saat itu aku bertanya.
"Ri— tidak, namaku Herlinia."
Dia sempat ragu dengan namanya sendiri. Apa mungkin kepalanya terbentur sesuatu, atau mungkin ada sesuatu yang disembunyikan. Masih banyak kejanggalan dari kehadirannya. Penampilannya seperti semua orang yang biasa aku lihat di sini, tapi Bahasa Inggris nya tidak lancar.
"Baiklah! Kau boleh tinggal di sini," ucap Ibuku.
"Eh? Ibu yakin?!"
"Tentu saja, dia terlihat seperti sedang kesulitan. Kita tidak bisa membiarkannya tidur di jalanan begitu saja, kan?" Ayahku juga mendukung pendapat Ibuku.
"Yah ... itu benar, sih."
Dan setelah itu, dua tahun berlalu.
Selama dua tahun itu, Herlinia tumbuh bersama kami dan secara perlahan menjadi bagian keluarga baru kami. Aku menyaksikan pertumbuhan tingginya yang dulu masih lebih pendek dari pundakku kini hampir menjadi se pundak. Aku juga tumbuh setidaknya sepuluh senti selama dua tahun, jadi bisa dibilang dia mengikuti perkembangan ku.
Beruntungnya, selama tinggal di sini Herlinia bukanlah anak yang rewel. Justru pendiam, terlalu pendiam bahkan. Jika tidak sedang membantu orang tuaku atau disuruh melakukan sesuatu, dia akan berdiam diri di kamar seharian hampir tidak pernah keluar kecuali untuk makan.
Wajahnya hampir tidak pernah berekspresi bagaikan boneka porselain. Tapi tidak mengurangi kecantikannya, bahkan membuatnya cantik dari segi aspek lain.
"Ada apa?" tanya Herlinia.
G-gawat! Tanpa sadar aku melamun memperhatikan wajahnya cukup dalam. "M-maaf! Tidak ada apa-apa, kok!" ucapku sedikit panik.
Dan dia tidak bertanya lebih lanjut. Benar-benar acuh dengan hal di sekitarnya dan terlihat sibuk dengan dunianya sendiri. Tapi aku tidak pernah melihatnya terjatuh, tersandung, maupun menabrak apapun meski sedang melamun sambil berjalan.
Tiba-tiba Herlinia berhenti melangkah. Dan aku juga melakukan hal yang sama beberapa meter di depannya. "Ada apa?" tanyaku.
"Aku tidak ingin terluka. Dan aku juga tidak ingin kau terluka."
__ADS_1
Eh? Apa maksudnya? Kenapa dia tiba-tiba berbicara seperti itu? "Apa sesuatu terjadi dan ada hal yang bisa aku bantu?" Herlinia tidak pernah meminta bantuanku sebelumnya, jadi kurasa ini adalah pertama kalinya dia seperti ini. Dan aku ingin membantunya.
"Bisa kau berada di sampingku sekarang? Kumohon."
Pipiku merona ketika Herlinia berbicara seperti itu. Aku tidak menyangka kalau dia punya perasaan seperti itu kepadaku. Apa sudah dipendam sejak lama? Dan baru berani mengungkapkannya sekarang?
"Kalau boleh tahu, kenapa harus sekarang?"
"Karena ada mobil."
"Eh?"
Kalau dipikir-pikir, aku tidak memperhatikan sekitarku dari tadi. Memangnya sekarang aku sedang ada di mana. Setelah sadar, kepalaku menengok dan dari arah kanan ada sebuah mobil yang melaju dengan cepat ke arahku.
"Gawat!"
Aku ingin berlari menghindar, tapi kakiku terasa kaku dan sulit digerakkan. Shock dan rasa takut menguasaiku saat ini, membuat tubuhku kaku. Tapi dengan seluruh usahaku, akhirnya aku bisa menggerakkan kakiku dan melompat ke belakang meskipun itu tidak merubah apapun. Karena lompatanku tak begitu jauh.
Aku akan mati! Tidak mungkin!
Menutup mataku, sedetik kemudian aku bisa merasakan hembusan angin dari mobil yang melaju kencang. Tapi tidak ada sedikitpun rasa sakit di tubuhku. Apa aku sudah mati? Bukankah ini terlalu damai?
Karena penasaran, aku pun membuka mataku dan yang pertama ku lihat saat mendongak ke atas adalah wajah Herlinia. "Apa kau baik-baik saja?" tanyanya.
"Eh, i-iya."
Aku kembali memeriksa sekitar dan sadar kalau sekarang berada di pinggir jalan. Ini aneh, lompatanku tidak jauh sama sekali, tapi sekilas aku merasa kalau tubuhku seperti ditarik sesuatu dari belakang. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Jangan melamun saat sedang jalan," saran Herlinia yang sudah sangat terlambat.
"Memangnya ini salah siapa?! Kenapa tidak bilang saja dari awal kalau aku lagi di tengah jalan?!"
Herlinia tidak menjawabnya. Sementara aku langsung bangun dari sandarannya. Ia dengan santainya berjalan menyebrang setelah lampu lalu lintas menunjukkan warna merah, meninggalkanku yang sedang shock sendirian. Tidak sedikitpun menghibur atau menenangkan.
Benar-benar gadis yang tidak bisa aku prediksi, bahkan kejadian tadi tidak membuatnya mengeluarkan sedikit pun ekspresi. Padahal itu adalah peristiwa hidup mati bagiku.
Sudah kuduga ada yang aneh. Dan setelah dua tahun bersamanya aku semakin yakin. Akan ku selidiki dirimu sebenarnya dan alasanmu di sini. Lihat saja, Herlinia.
Aku pun menyusulnya yang telah berjalan duluan. Sekalian agar lampu merah tidak berubah menjadi hijau sebelum aku menyebrang.
__ADS_1
Bersambung