Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 57 : Iraya vs Delta


__ADS_3

Saat ini aku sedang berhadapan dengan orang aneh yang seluruh tubuhnya ditutupi jubah kecuali wajah dan telapak tangannya—itu pun dia juga masih menutupinya dengan topeng dan sarung tangan.


Ia memiliki sihir elemen bertipe es. Aku belum pernah bertemu dengan pengguna elemen es sebelumnya jadi aku tidak tahu seberapa berbahayanya atau seberapa kuatnya elemen tersebut.


Aku berhasil menghindari serangan pertamanya dan sepertinya orang ini masih mengetes kemampuanku. Aku melihat kearah pabrik. Selain sirine peringatan yang sudah terngiang dari tadi, di bagian dalam pabrik sepertinya sudah terjadi pertarungan. Senpai juga sudah mulai bertarung ya? Kuharap dia baik-baik saja.


Aku kembali fokus ke orang berjubah di depanku ini. Setelah melancarkan serangan pertama, ia hanya diam sambil terus fokus kearahku.


Tap…


Dia mulai melangkahkan kakinya selangkah, tapi setelah itu ia berhenti lagi. Tubuhnya gemetaran dan ia berusaha untuk bergerak. Orang berjubah itu melihat kearah telapak tangannya dengan susah payah yang gemetaran.


"Iraya! Ini kesempatanmu! Herlin telah menghentikan pergerakannya!"


"Yosh!"


Tap… Swuuushh…


Aku melangkahkan kakiku dan kemudian melesat kearahnya yang masih mencoba untuk bergerak. Tapi saat ingin mengarah ke lehernya agar pertarungan ini langsung selesai. Orang berjubah itu tiba-tiba membelah dirinya menjadi dua dan menggeser tubuhnya sehingga yang tertebas adalah klonnya.


Sryiiing…


"Ap—?!"


"Tidak mungkin …."


"K-Klon?!"


Aku, Cecilia, dan Tetsu secara bersamaan terkejut dengan kemampuannya yang bisa membelah dirinya dan mengorbankan klonnya untuk diserang musuh sekaligus juga menghindar.


Aku yang masih terkejut menggeleng-gelengkan kepalaku untuk membuatku fokus kembali kepada orang ini. Ia memiliki dua kemampuan Exception sama sepertiku, tapi aku masih ragu jika hanya ini yang dia miliki.


Orang ini … aku tidak tahu batas dari kemampuannya, tapi dia adalah musuh yang berbahaya.


Dia melihat ke arah telapak tangannya lagi, kali ini ia mencoba menggenggam dan membukanya. Orang berjubah itu dapat melakukannya dengan bebas. Aku yang melihat itu menyadari sesuatu.


"Ah! Herlin?!"


"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya, tapi aliran aura yang ia keluarkan di bawah tanah sedikit demi sedikit mulai berkurang. Itu artinya sesuatu terjadi kepadanya," ucap Cecilia.


"Kalau begitu aku harus—"


"Jangan!"


"Eh? Kenapa tidak boleh?!"


"Jika kau ke tempatnya sekarang, musuh akan tahu tempat persembunyiannya dan akan membawa lebih banyak masalah!"


"Tapi tetap saja …."


"Tidak apa-apa, aku yakin dia bisa mengatasinya. Percaya saja padanya dan kalahkan musuh yang ada di depanmu ini."


"Tch!"


Aku melihat ke arah orang berjubah itu lagi. Ia tidak melakukan apa-apa sejak aku berdebat dengan Cecilia dari tadi. Ia memiringkan kepalanya seakan bertanya tentang apa yang sedang kulakukan dari tadi. Orang berjubah itu seperti menungguku untuk melakukan persiapan.


"Baiklah kalau begitu …."


"Aku percaya padamu, Herlin."


Bzzztt… Bzzztt…


Aku mengalirkan elemen listrik ku ke pedang Tetsu dan setelah men-charge nya beberapa lama, lalu melepaskannya dengan kekuatan penuh.


"Aku harus mengalahkanmu dulu!"


Blaaaarrr…


Kecepatan elemen listrik yang aku keluarkan tadi setara dengan kecepatan petir sungguhan. Dengan begini aku yakin jika dia tidak bisa menghindarinya lagi.


"Eh?!"


Dari balik kepulan asap bekas seranganku, tidak ada siluet orang berjubah itu. Hanya tanah yang hancur dan percikan-percikan listrik yang tertinggal disana. Dia bisa menghindari yang satu itu?


Aku menengok ke kanan dan kiri untuk mencari keberadaannya. Tapi tiba-tiba teriakan Tetsu mengalihkan perhatianku.


"Iraya! Diatasmu!"


Merespon teriakan Tetsu, aku langsung melihat keatas. Selagi dia di udara, ia telah menciptakan sesuatu yang berbentuk seperti kubah dari es yang cukup besar yang bisa memerangkap orang di dalamnya. Ia kemudian menjatuhkannya di atas kepalaku dan mencoba menangkapku dengan itu.


"Awas!"


Braaakkk…


Aku berhasil menghindari kubah es itu, tapi dia menciptakan beberapa kubah es lagi yang ia lemparkan kembali kearahku sampai bisa menangkapku.

__ADS_1


Braaakkk… Braaakkk… Braaakkk…


Semua kubah es nya berhasil kuhindari. Tapi dia masih belum menyerah dan masih membuat beberapa kubah es lagi. Aku yang kembali bersiap untuk menerima serangannya berhasil menghindari satu kubah es.


Tapi tanpa aku sadari, ada puing-puing aspal yang timbul karena efek seranganku tadi dan tidak sengaja tersandung oleh puing aspal itu dan terjatuh.


Orang berjubah itu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan langsung melemparkan sebuah kubah es yang berhasil untuk memerangkap ku di dalamnya.


Kubah es ini memiliki ruang kosong di dalamnya jadi aku masih bisa sedikit bergerak meskipun ruangannya sangat sempit. Aku mencoba memerhatikannya dan menemukan lubang-lubang kecil yang membuatku bisa melihat keluar.


Saat mencoba melihat keluar, aku dikejutkan dengan jarum-jarum es yang tidak terhitung jumlahnya mengarah kearahku dari seluruh penjuru kubah es ini. Jadi itu adalah fungsi lubang-lubang kecil tadi.


Syiiingg… Sraakkk… Sraakkk…


Aku mencoba menebas jarum-jarum es itu. Kebanyakan dari mereka berhasil aku hancurkan. Meskipun kecepatan tebasanku melebihi kecepatan gerak jarum-jarum itu, tapi tetap saja ada beberapa jarum es yang lolos dan berhasil mengenai tubuhku.


"Tch …!"


Bzzztt… Sryiiingg… Sryiiingg…


Aku mengalirkan elemen listrik ku ke pedang Tetsu dan menebas kubah es ini berkali-kali sampai membuatnya menjadi potongan-potongan kecil. Aku berhasil keluar dari kubah es itu, tapi kepulan asap yang membumbung tinggi membuatku tidak bisa melihat dimana orang berjubah itu berada sekarang.


Aku mencari ke sekitar dan pandanganku saat ini adalah kepulan asap. Tapi tiba-tiba aku merasakan hawa panas yang berada di belakangku yang membuatku reflek menengok ke arahnya.


Blaaaarrr…


"Tidak semudah itu!"


Semburan api yang berasal dari orang berjubah itu mengarah kearahku sekaligus menghilangkan kepulan asap yang menghalangi pandanganku sedari tadi.


Beruntung aku masih memiliki pedang Tetsu yang menjadi pelindung ku dan berhasil membelah semburan api itu dengan tebasannya.


"Fyuuhh …."


"Iraya, sejauh ini kau berhasil menahan serangannya. Tapi aku tidak tahu seberapa lama lagi kau bisa menahannya," ucap Tetsu.


"Benar, lawanmu kali ini sepertinya benar-benar jauh diatasmu," ucap Cecilia.


Aku mengerti itu. Dengan luka-luka yang telah aku terima sejauh ini, ia bahkan tidak tergores sedikitpun. Tentu saja dia merupakan lawan yang tidak bisa aku kalahkan dengan mudah.


"Tapi …!"


"Eh?"


"Aku tidak akan kalah semudah itu! Jika aku kalah, maka yang lain akan berada dalam bahaya!"


Duuuuaaarrrr…


"…?!!"


Tiba-tiba gedung pabrik itu meledak tanpa sebab yang jelas. Aku menengok ke arah ledakan pabrik itu, begitu juga dengan orang berjubah itu. Aku berpikir jika Kurobane-senpai sedang bertarung juga di dalam. Tapi aku mendengar suara teriakan aneh menggema di dalam.


"GeEeyyYyaaAAhh …!!"


Teriakan atau raungan-raungan aneh terdengar dari dalam. Dan suaranya sangat banyak dan keras. Senpai tidak bisa menghadapi ini sendiri. Aku pun memutuskan untuk menuju tempat Senpai. Tapi saat aku ingin berlari menuju ke arah pabrik, tiba-tiba Cecilia menghentikanku.


"Jangan lupakan lawan yang di depanmu!"


Langkahku langsung terhenti. Di satu sisi, Cecilia benar. Tapi di sisi lain, aku ingin segera menolong Senpai. Aku menenangkan diriku untuk sesaat. Maafkan aku Senpai, tapi saat ini aku lebih mempercayai kekuatan Herlin daripada kekuatanmu. Aku akan segera menuju ke tempatmu setelah ini!


Aku kembali menghadapi lawanku saat ini—orang berjubah itu. Saat ini aku tidak boleh plin-plan dan harus memutuskan sesuatu dengan cepat. Dan ini adalah keputusanku!


"Maafkan aku Cecilia, aku ragu dengan keputusanku."


"Y-Ya tidak apa-apa, lalu apa kau sudah memutuskannya sekarang?"


"Ya. Setelah ini aku tidak tahu apa aku masih bisa berdiri atau tidak, tapi cuma ini satu-satunya cara. Tetsu!"


"Waa—! I-Iya?!" Tetsu terkejut karena aku berteriak.


"Maafkan aku, tapi bisakah kau menahan yang satu ini?"


"Heh! Tenang saja! Aku sudah hidup ratusan tahun lebih lama darimu, jangan meremehkanku!"


"Baiklah."


"Dan juga, Iraya …!"


"Hn?"


"Jika kau sudah merasa tidak bisa berjalan lagi. Tenang saja, masih ada aku disini!"


Ujung bibirku terangkat karena mendengar jawaban dari Tetsu dan Cecilia. Aku sangat beruntung karena memiliki mereka berdua di sisiku.


Aku menghela nafas panjang dan kemudian menatap dengan penuh percaya diri. Orang berjubah itu seperti biasa masih berdiam diri menunggu apa yang akan kulakukan. Dia seakan membiarkanku untuk menyerangnya duluan.

__ADS_1


Aku menutup mataku supaya lebih fokus dan mengangkat pedang Tetsu tinggi-tinggi mengarah ke langit. Aku mengumpulkan auraku lebih banyak lagi.


Aura kehijauan secara samar-samar terlihat di seluruh tubuhku dan pedang Tetsu. Kemudian aku mengalirkan percikan-percikan listrik di sekujur tubuhku dan mengumpulkannya di ujung pedang.


"Hngh…!! AaaArRggghh!!"


Blaaaaaarrr…


Sebuah tembakan pancaran elemen listrik yang sangat besar mengarah ke arah langit dan menembus awan-awan dan menciptakan sebuah lubang di awan tersebut.


Setelah beberapa detik kemudian, tembakan listrik itu berhenti dan aku menjadi sangat kelelahan dan terengah-engah setelah melakukan hal itu.


"Hah … hah … hah …."


"Iraya, sebenarnya apa yang sedang kau lakukan?"


"Iya tuh, kau tidak menyerangnya dan malah menyerang langit. Apa kau punya dendam pribadi?"


Cecilia dan Tetsu masih kebingungan dengan hal yang aku lakukan. Orang berjubah itu juga hanya menengok sedikit keatas dan kemudian melihat kearahku lagi, sepertinya dia juga mempertanyakan perilaku ku barusan.


Ia kemudian mengarahkan tangannya ke arahku lagi dan bersiap untuk menyerangku. Tapi perhatiannya teralihkan oleh sesuatu.


Gluuduk… Gluuduk…


Suara gemuruh guntur tiba-tiba terdengar, padahal sebelumnya langit sangat cerah dan bulan bersinar dengan terangnya. Tapi setelah seranganku, awan badai mulai terbentuk dan guntur-guntur mulai berbunyi.


Orang berjubah itu masih melihat keatas dan terheran dengan fenomena langit yang terjadi malam ini. Sampai ia menyadari, kalau ia sedang dalam bahaya.


"…?!!"


Blaaaaaarrr…


Sebuah petir menyambar tepat di kepala orang berjubah itu. Kilatnya sangat silau dan suaranya sangat kencang sampai aku harus menutup mata dan telingaku. Tapi setelah itu aku tersenyum kecil. Semuanya sesuai rencana. Ya meskipun ini menguras banyak sekali energiku.


"Pe-Petir …?"


"Bagaimana bisa?! Oi Iraya! Sebenarnya apa yang kau lakukan?! Apa itu tadi perbuatanmu?"


"Ya bisa dibilang begitu."


Aku mengeluarkan senyum bangga dan sombong meskipun tercampur dengan nafas yang terengah-engah.


"Kau … berhenti bersifat sok keren dan cepat beritahu aku!" teriak Cecilia marah.


"Ba-Baiklah! Baiklah! Jangan teriak-teriak di kepalaku kumohon. Yang kulakukan tadi hanyalah merubah cuaca."


"Me-Merubah cuaca?"


"Ya, aku menembakkan elemen listrik tadi keatas dan menghasilkan panas di atmosfer yang membuat awan badai berkumpul dan menciptakan hujan petir yang menyambar."


Tiik… Tiik… Syuurr…


Saat aku baru selesai bicara, tiba-tiba rintik-rintik hujan mulai turun dan lama kelamaan menjadi semakin deras.


"Ahaha … baru dibicarakan sudah kejadian."


"Merubah cuaca? Lalu bagaimana kau bisa mengarahkan petir itu ke arahnya?"


"Ah, itu … keberuntungan, mungkin?"


Aku melihat kearah orang berjubah itu yang baru saja tersambar petir. Hujan yang deras dan kepulan asap menghalangi pandanganku saat ini, tapi lama kelamaan aku bisa melihatnya dengan jelas. Tapi yang kulihat justru diluar dugaanku.


"Ap—?!"


"Bagaimana bisa?!"


Sebuah menara yang terbuat dari tanah terbentuk dan menghalangi petir itu menuju orang berjubah tadi. Aku sangat terkejut karena ia juga memiliki elemen tanah. Berarti saat ini ia sudah menunjukkan tiga elemennya.


Bruuukk…


Menara tanah itu rubuh dan orang berjubah itu berdiri dan kembali menghadap kearahku. Tapi saat ini kondisinya benar-benar kacau. Hampir seluruh bagian jubahnya menghitam karena terkena efek petir tersebut. Tubuhnya juga gemetaran dan terlihat percikan-percikan listrik kecil di beberapa bagian tubuhnya.


Meskipun ia sudah membangun menara tanah sebagai pelindung, tapi efeknya tetap saja sangat berasa. Dan juga ….


Kraakk…


Topeng yang ia gunakan pecah menjadi beberapa bagian besar dan jatuh ke tanah. Aku mencoba untuk melihat wajahnya tapi ia dengan cepat menutupnya dengan tangannya dan ditambah hujan ini menjadi semakin tidak jelas.


Ia pun kemudian memutuskan untuk mundur dan menghilang dari tempat ini.


"Se-Sepertinya … aku berhasil …?"


"Jangan senang dulu! Apa kau lupa dengan tujuanmu selanjutnya?"


"Benar! Aku bisa menolongnya sekarang!"

__ADS_1


Aku pun berlari ke dalam pabrik dan menuju ke tempat Kurobane-senpai. Tunggu aku, Senpai!


Bersambung


__ADS_2