Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 66 : Kompetisi Internal Kelas yang Terganggu


__ADS_3

Hasuki-san yang sudah pulang terlebih dahulu karena ada urusan meninggalkan kami berdua yang masih duduk disini sambil mengkhawatirkannya. Lebih tepatnya, aku yang mengkhawatirkannya.


Dari nada bicara dan senyum palsu yang ia berikan sebelum pergi, sudah cukup bagiku mengetahui kalau ia sedang tidak baik-baik saja. Apa yang terjadi dengannya? Apa terjadi sesuatu? Setelah menerima telepon tadi, ekspresi Hasuki-san yang tadi ceria berubah drastis.


Aku tenggelam dalam pemikiranku sendiri. Apa ada sesuatu yang bisa kulakukan untuknya. Apapun itu. Berpikirlah otakku. Berpikir! Berpikir! Berpikir! Berpikir!


"Untuk sekarang … coba tarik nafas dan tenangkan dirimu dulu."


"Eh?"


Kata-kata lembut yang terngiang di dalam kepalaku mengatakan kalau aku harus tenang. Suara Cecilia saat mengomel dan disaat seperti ini benar-benar berbeda. Tapi lagi-lagi aku hampir melupakan keberadaannya, ia selalu muncul disaat aku sedang terpuruk dan kehilangan ketenangan seperti saat ini. Dan itu sangat membantuku.


Kemudian aku mengikuti arahan dari Cecilia dan menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Seketika pikiranku menjadi lebih jernih dan perasaanku menjadi lebih tenang. Aku kemudian berbisik kecil agar Herlin tidak tahu kalau aku sedang berbicara dengan Cecilia.


"Terima kasih, Cecilia."


"Sudah kubilang, bukan? Sifat pesimis dan pemikiran negatif-mu itu harus dihilangkan?"


"Ahaha … maafkan aku …."


Aku kemudian melihat kearah Herlin. Meskipun ia memegang gelas dan sedotan sudah ada di dalam mulutnya, tapi ia tidak meminum minumannya. Ia malah terdiam melihat kearahku. Aku yang merasa tidak nyaman, kemudian bertanya kepadanya.


"He-Herlin …, apa ada yang salah dengan wajahku?"


"Kau … apa kau sedang berbicara dengan Subject C di dalam tubuhmu?"


"A-Aku ketahuan, ya?"


"Kenapa kau menyembunyikannya?"


"Bukan maksudku menyembunyikannya, sih. Tapi jika aku berbicara sendiri di depan umum seperti tadi, mungkin orang-orang bisa menganggapku tidak waras."


"Aku rasa kau tidak perlu menyembunyikannya di depanku. Lagipula aku sudah mengetahui kalau ada Subject—tidak, siapa nama Subject C itu?"


"Cecilia."


"Lagipula aku sudah mengetahui kalau Cecilia bersemayam di dalam tubuhmu. Jadi kau tidak perlu untuk sembunyi-sembunyi lagi."


"Begitu. Syukurlah … kukira aku harus berbisik-bisik terus selamanya jika harus berbicara dengannya."


Lagipula sangat merepotkan jika berbicara dengannya saja harus sembunyi-sembunyi. Aku bersyukur kalau Herlin memahami kondisiku. Tapi disisi lain, aku penasaran dengan The Unseen milik Herlin. Kalau tidak salah namanya Banshee, ya?


"Kalau kau sendiri, bagaimana caramu berkomunikasi dengan Banshee? Apa mereka bisa diajak bicara seperti Cecilia?"


"Kalau soal itu … aku jarang berbicara dengannya, bahkan hampir tidak pernah. Keberadaannya hanya sebagai pelindung disaat aku dalam kondisi yang berbahaya. Jadi jika dalam kondisi kondusif seperti ini, ia hanya akan diam sambil mengawasiku saja."


"Heh~ begitu, ya? Sekarang dia ada dimana?"


"Disampingmu, menatapmu dalam keadaan siap memenggal kepalamu."


Gubraakk…


Aku langsung berpindah dari tempat dudukku dan berdiri, tapi tidak sengaja kakiku menyenggol kaki meja dan membuat suara yang cukup gaduh.


"A-Apa kau serius?! Ce-Cepat suruh dia berhenti melakukan itu …!!"


"Aku bercanda. Kenapa kau sampai seribut itu?"


Bercandanya tidak lucu! Dan juga mengancam nyawa orang! Dia hampir saja membuatku jantungan. Lebih baik kau tidak usah bercanda, oi!


Tapi tanpa sadar aku berdiri di jalan tempat orang lalu lalang dan menghalangi orang lewat. Di belakangku tiba-tiba ada seseorang yang memanggilku dan menyuruhku minggir dari sana.


"Menyingkir dari jalanku!"


"Eh …? Ahh maaf …, aku—"


Ucapanku terhenti karena aku menyadari orang yang berada di belakangku. Dan orang itu sepertinya juga sadar dan mengenaliku.


"Inang Subject C …."


"Ar … denter …."


Dan dia tidak sendirian, ada juga perempuan yang selalu bersamanya. Tapi kali ini dia tidak membawa pedang yang selalu dibawanya dan memakai pakaian biasa.


Gumpraaang…


Ardenter menjatuhkan nampan yang diatasnya berisi hamburger dan soda yang baru saja ia pesan. Dan mulai mengeluarkan auranya secara cepat dan siap bertarung. Aku juga tidak tinggal diam, dengan cepat aku memfokuskan auraku ke seluruh tubuh dan percikan-percikan listrik sedikit demi sedikit mulai memenuhi tubuhku.


Bzztt… Bzztt…


Tiba-tiba gadis itu—Nimis menghalangi Ardenter yang sudah bersiap menyerangku. Begitu juga dengan Herlin yang dengan cepat sudah berada di depanku untuk menghalangiku.


"Cukup sampai disitu!"


"Apa-apaan kau, Nimis?!"


"Herlin?!"


"Jangan terpancing, Iraya. Lihatlah sekelilingmu."


Aku kemudian melihat ke sekelilingku dan menyadari kalau kami sedang ditonton oleh seluruh orang yang ada disini dan menjadi pusat perhatian. Salah seorang staff restoran kemudian menghampiri kami dan mencoba menanyakan yang terjadi sambil ketakutan.


"Ap-Apa ada masalah?" ucapnya gemetaran.


"Tidak ada masalah. Tapi tolong untuk membersihkan yang disini," ucap Nimis.


"Ba-Baik!"


Setelah staff restoran itu pergi, Nimis kemudian menenangkan Ardenter dan juga kami berdua yang hampir saja bertarung.


"Bagaimana kalau duduk dulu?"


Setelah staff restoran itu membersihkan makanan Ardenter yang jatuh tadi dan ia memesan yang baru lagi, kami berempat sekarang duduk di meja yang sama.


Hening yang cukup lama terjadi antara kami berempat. Ardenter yang masih belum bisa meredakan emosinya masih terus menatapku dengan tatapan kebencian. Aku hanya bisa menghela nafas saja melihatnya begitu. Lagipula Herlin sudah menyuruhku untuk tidak terpancing karena akan menyebabkan keributan yang lebih dari tadi.


Sementara Nimis dan Herlin dengan santainya memakan dan meminum milik mereka masing-masing seperti tidak ada beban sama sekali. Setelah beberapa suapan, akhirnya Nimis mulai berbicara sesuatu.


"Kami tidak sedang dalam misi, jadi kalian tidak lebih dari orang asing bagi kami."


"Kalau begitu baguslah, aku juga sedang tidak ingin bertarung untuk saat ini."


"Lalu kenapa kita bisa bertemu sekarang?!"


Ardenter berteriak cukup keras yang hampir membuat seluruh pelanggan di restoran yang mendengarnya ketakutan.


"Kebetulan."


"Kebetulan."


"Tentu saja kebetulan. Dan juga jangan berteriak seperti itu, kau membuatku malu."


Kata-kata Ardenter langsung dibantah oleh kami bertiga. Bahkan Nimis pun sampai menasihatinya yang membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi dan hanya bisa duduk sambil menggerutu. Sambil memakan makanannya, Nimis terus memperhatikanku. Aku tentu saja sadar dengan yang dilakukan oleh Nimis dan agak sedikit terganggu dengan hal itu. Aku kemudian menanyakannya.


"A-Ada apa, Nimis-san?"


"Satou Iraya …."


"Iya?"


"Aku sudah mendengarnya, tapi aku ingin memastikannya sendiri."


"Apa itu?"


"Apa kau …, benar-benar berteman dengan Subject C itu?"


Berteman? Dengan Cecilia? Jika aku harus menyebutnya berteman, sepertinya itu kurang tepat. Tapi dia selalu membantuku disaat aku sedang kesulitan dan dalam masa terpurukku. Kita juga tidak pernah bermusuhan. Jadi mungkin ….


"Ya, bisa dibilang begitu."


"Apa dia tidak pernah melakukan sesuatu yang buruk kepadamu?"


"Ahaha … kalau itu sih sering."


"Contohnya?"


"Hmm … dia sering teriak tiba-tiba di dalam kepalaku, dia juga sering meneriaki ku, dan juga hal-hal lainnya."


"Oi!" Tiba-tiba Cecilia berteriak seakan ingin menyangkalku tapi aku memilih mengabaikannya.


"Ckk …. BUKAN ITU MAKSUDKU …!!"


"Ni-Nimis-san …?"


Tiba-tiba Nimis berteriak tanpa alasan yang jelas sampai membuat kami bertiga terdiam dan melihat kearahnya. Se-Sepertinya jawaban yang aku berikan salah, ya?


"Yang aku tanyakan adalah apa dia pernah membuatmu kesakitan?! Seperti rasa panas di kepalamu, atau rasa nyeri yang tidak tertahankan, apakah dia pernah mencoba merebut tubuhmu?! Apa dia pernah mencoba hal-hal seperti itu?!"


Nimis berbicara sampai ia terengah-engah. Aku hanya melihatnya saja dalam beberapa saat. Tapi aku sudah menemukan jawaban sebenarnya dari pertanyaan yang ia maksud. Aku pun kemudian menjawabnya.


"Tidak pernah."

__ADS_1


"Eh?"


"Dia tidak pernah melakukan hal yang membuatku seperti itu. Jika pun dia akan melakukannya, aku yang akan menghentikannya."


"Kau … manusia biasa …! Jangan sombong mentang-mentang kau yang dipilih—"


"Aku tidak sedang berbicara sombong. Faktanya aku lah yang menyelamatkan hidupnya, dan itu tidak akan pernah berubah. Aku membiarkannya tinggal di dalam tubuhku dan dia memberiku kekuatan untuk melindungi orang-orang yang kusayangi.


Jadi meskipun kau mengatakan kalau Subject C yang dulu berbahaya, aku akan memastikannya kalau dia tidak akan seberbahaya yang kau bilang. Aku ingin kau mengingat kata-kataku, Nimis-san.


Aku akan bertambah kuat, dan akan menghancurkan organisasimu. Ingat itu baik-baik."


Setelah aku mengatakan hal itu, Nimis terdiam. Dia seakan terkejut dan tidak menduga dengan jawaban yang aku berikan. Setelah tidak ada lagi yang ingin aku bicarakan, aku mengeluarkan beberapa lembar uang dan menaruhnya di meja. Setelah itu menarik tangan Herlin dan segera pergi dari situ, meninggalkan mereka berdua.


Sementara Nimis yang masih terkejut dengan jawaban tidak terduga dari Iraya kemudian terduduk. Selain memikirkan kata-kata Iraya tadi, terlintas dipikirannya juga kata-kata Oita-san di pertemuan sebelumnya.


"Subject C … dengan kata lain hasil percobaan kalian sendiri juga membantunya dalam banyak hal. Aku beberapa kali mendapati kalau Iraya sedang berbicara sendiri, awalnya aku tidak mengerti dengan apa yang dia lakukan. Tapi sekarang aku paham, kalau dia berteman dengannya."


"Berteman … dengannya? Satou Iraya … Murasaki Oita …. Cih! Omong kosong!"


**


*Rumah Hasuki Chifu*


Braakk…


Hasuki-san membanting pintu rumah dengan keras karena kesal dengan permintaan ayahnya yang menyuruhnya untuk segera pulang.


"Selamat datang, Chifu-sama."


Ia tidak memperdulikan para pelayannya sama sekali dan langsung menuju ke sebuah ruangan dimana ayahnya biasanya berada.


Setelah masuk ke ruangan itu, ia menemukan ayahnya yang sedang duduk sambil membaca sesuatu di mejanya. Ia kemudian menghampirinya, ayahnya yang menyadari hal itu menyambut kedatangan Hasuki-san.


"Kau sudah pulang, Chifu?"


"Apa maksud ayah?!" ucap Hasuki-san tanpa membalas sambutan ayahnya.


"Apanya?"


"Aku sedang bermain dengan temanku, lalu kau menyuruhku pulang tanpa memberitahu alasan yang jelas. Sebenarnya apa yang ayah inginkan?"


"Hmm … kita akan segera pergi."


"Pergi? Pergi kemana?"


"Ke tempat teman ayah."


"Tapi aku harus menghadiri sekolah besok! Aku tidak ingin absen hari itu."


"Oh, tentu saja kau boleh pergi ke sekolah. Tapi …."


Ayah Hasuki-san—Nakamura bangun dari tempat duduknya dan berjalan mendekat kearah Hasuki-san. Ia kemudian mengelus kepala dari Hasuki-san.


"… Setelah itu datanglah ke tempat teman ayah."


Hasuki-san sedikit ketakutan mendengar ayahnya berbicara seperti itu. Ia kemudian menepis tangan ayahnya yang mengelusnya dan keluar dari ruangan itu. Setelah Hasuki-san keluar, Nakamura kemudian menggumamkan sesuatu.


"Kau akan aman, Chifu. Asal kau tidak dekat-dekat dengan mereka."


**


*Rumah Satou Iraya*


Tetsu yang sudah menyiapkan bento untuk dibawa Iraya ke sekolah saat ini mulai berjalan dengan semangat ke kamar Iraya. Sambil berjalan, ia tersenyum sendiri sambil sedikit bersenandung. Ia sangat senang ketika Iraya memuji soal makanannya yang enak.


Braaakkk…


"Iraya !! Apa kau sudah bang … un …?"


Kata-katanya melemah saat Tetsu melihat Iraya yang masih bersembunyi dalam selimutnya meskipun jendela kamarnya sudah dibuka dan sinar matahari sudah mengepungnya.


"Unhh … aku sudah bangun …."


Tetsu menggembungkan pipinya menahan marah ketika tau Iraya masih tidur. Ia kemudian mengambil ancang-ancang lalu berlari dan melompat sambil melakukan tendangan tepat kearah perut Iraya.


Gedubraaakk…


"Hiyaaat …!! Sarapan sudah siap!"


"OohHhooEeekk …!!"


Setelah menerima ucapan selamat pagi berupa tendangan dari Tetsu, Iraya kemudian bersiap-siap ke sekolah. Tidak lupa ia mengambil bento milik Tetsu dan menaruhnya di dalam tas. Setelah siap, ia akhirnya siap berangkat.


"Tidak ada. Aku berangkat dulu."


"Selamat jalan."


Saat perjalanan menuju ke sekolah, aku memeriksa apa aku sudah membawa semua bahan-bahan membuat karya 3D-nya. Aku kemudian melihat kearah bungkusan yang sedang aku pegang saat ini.


"Kardus, lem, gunting … sepertinya sudah semua. Yosh! Saatnya membuat anak anjing yang terbaik!"


Saat sampai di sekolah, padahal jam pelajaran sudah dimulai, tapi guru-guru hari ini benar-benar tidak masuk kelas, ya?


Kondisi kelas hari ini juga sedang ramai-ramainya. Masing-masing dua meja disusun untuk setiap kelompok merakit karyanya. Aku juga sedikit membantu mereka memindahkan meja-meja tersebut. Dan setelah semua siap, ketua kelas dan wakilnya maju ke depan kelas untuk meresmikan kompetisi ini.


"Baiklah! Karena semua sudah siap, mari kita mulai kompetisi internal karena guru tidak masuk kelas-nya!"


"Yaaaa!!!"


Nama aneh macam apa yang diberikan ketua kelas pada kompetisi ini. Aku benar-benar tidak mengerti.


"Tapi sebelum itu, mari kita sambut juri pada kompetisi kali ini!! Yang pertama adalah Kuromichi Anna-san!"


"Woooahhh …!!"


Temannya Herlin, Kuromichi-san kemudian masuk ke dalam kelas sambil sedikit malu-malu karena sambutan meriah yang seperti tidak ia kira. Ia kemudian duduk di sebuah kursi yang sudah disediakan.


"Dan juga!! Juri yang sudah kita tunggu-tunggu! Orang yang paling kita semua sayangi! Kurobane …!!!"


"… Mei-senpai!!! Woooahhh …!!"


Mereka menjawab kata-kata menggantung Ketua Kelas. Kalian semua berlebihan! Terlalu berlebihan! Apa kalian tidak malu dengan umur kalian yang sudah bukan anak-anak lagi? Tapi meski begitu, Mei-senpai tetap masuk diiringi dengan sambutan meriah dari teman-teman sekelasku. Ia kemudian duduk di sebelah Kuromichi-san.


"Karena semuanya sudah lengkap …. Mari kita mulai!"


Anak-anak kelas lainnya sudah mulai merakit karyanya. Sementara kelompok kami masih memeriksa apakah bahan-bahannya sudah siap atau belum. Setelah dirasa lengkap, kami pun mulai membuatnya.


Kami pun membagi-bagi tugas dalam membuatnya. Herlin membuat bagian kepalanya, Hasuki-san membuat bagian tubuh dan kakinya, sementara aku bagian finishing atau pewarnaan. Saat Hasuki-san sedang membuat bagian tubuh anjingnya, aku kemudian mendekatinya dan mengajaknya berbicara sedikit.


"Hasuki-san."


"Ada apa, Iraya-kun?"


"Itu … soal yang kemarin …. Apa kau tidak apa-apa? Apa terjadi sesuatu sampai kau disuruh pulang duluan?"


"Ehehe … tenang saja, aku ditelpon ayahku karena ada urusan keluarga mendadak jadi aku tidak bisa menolaknya. Apa ada sesuatu dengan itu?"


"Tidak …. Aku hanya …."


Aku tidak bisa melupakan senyuman palsu dan pandangan sedih di matanya kemarin. Apa itu cuma perasaanku saja? Apa cuma aku yang merasakannya saja? Tapi tiba-tiba Hasuki-san tersenyum dan menjawab kekhawatiranku ini.


"Kau sangat baik ya, Iraya-kun."


"Eh?"


"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Tapi aku baik-baik saja, kok."


"Begitu ya."


"Nn …. Kalau begitu ayo kita membuat anak anjing kita!"


"Kau benar."


Kami pun melanjutkan pekerjaan kami masing-masing dan Hasuki-san kembali merakit tubuh anak anjingnya. Sementara Herlin sedikit melirik kearah mereka, tetapi setelah itu ia melanjutkan lagi pekerjaannya.


Suasana di dalam kelas benar-benar ramai dan penuh canda tawa. Semuanya sibuk dalam pekerjaannya masing-masing membuat karya 3D terbaik mereka. Mei-senpai juga berkeliling melihat anak-anak kelas yang sedang berkarya.


Sementara Kuromichi-san hanya mengekor di belakang Mei-senpai karena tidak tahu harus berbuat apa. Ia terlalu malu untuk duduk sendirian di depan kelas, tapi juga tidak berani untuk berkeliling sendirian. Jadi dia memutuskan untuk mengekor pada Mei-senpai.


Mei-senpai yang menyadari hal itu kemudian memanggilnya.


"Kuromichi-san, kan?"


"I-Iya?!"


"Kenapa kau terus mengikutiku dari tadi?"


"Ha-Habisnya … a-aku malu."


"Kenapa harus malu?"

__ADS_1


"So-Soalnya … aku tidak mengenal orang-orang disini. Da-Dan juga … kehadiran Senpai juga membuatku semakin gugup."


"Hmm …. Kalau begitu lihat caraku melakukannya."


"He—Hehh …?!"


Mei-senpai menarik tangan Kuromichi-san dan kemudian menghampiri salah satu kelompok yang sedang membuat karya 3D. Dengan hanya sedikit obrolan saja, Mei-senpai sudah bisa akrab dengan mereka. Hal itu membuat Kuromichi-san kagum dan matanya berbinar-binar seakan melihat harta karun di depannya.


Herlin yang melihat Kuromichi-san dan Mei-senpai sangat akrab hanya bisa memperhatikan dari jauh. Aku pun kemudian menghampiri Herlin dan menanyakan pekerjaannya.


"Herlin, apa kau sudah selesai?"


"Beruntung sekali Michi-chan bisa akrab dengan Senpai."


"Apa?"


"Kukira Michi-chan orangnya pemalu dan sulit bersosialisasi, tapi berkat bantuan Senpai semuanya bisa dikendalikan."


"Hehehe … bukankah itu tujuan dari kompetisi ini?"


"Tujuan?"


"Membuat semua orang akrab dan bahagia."


Herlin memperhatikan seisi kelas. Anak-anak kelas lain yang sedang sibuk menghias diiringi oleh canda tawa, masa-masa seperti ini. Ini yang terbaik. Lalu dengan sebuah senyum kecil diujung kata-katanya, Herlin kemudian mengucapkan sesuatu.


"Benar. Kau benar sekali, Iraya."


"Herlin … kau, baru saja tersenyum tadi?"


Tapi pertanyaanku tidak dijawab olehnya, ia langsung fokus lagi pada kepala anak anjing yang dibuatnya. Tapi entah kenapa rasa senang yang besar keluar dari dadaku. Melihat Herlin tersenyum, membuatku ikut senang melihatnya dan tidak bisa menahan senyumku.


Setelah beberapa saat dan kami semua sudah menyelesaikan karya kami, sekarang waktunya penjurian. Kami menaruh semua karya kami di depan kelas diatas meja yang sudah dideretkan, lalu Mei-senpai dan Kuromichi-san yang akan menilainya.


Ia mulai memerhatikan karya-karya di depannya secara seksama seolah dia adalah seorang profesional. Aku tidak peduli sih aku menang atau tidak, tapi hadiahnya adalah bento dari Herlin. Entah kenapa tapi perasaanku mengatakan kalau aku harus memenangkan kompetisi ini.


"Aku sudah menentukannya. Bagaimana denganmu, Kuromichi-san?"


"A-Aku juga."


"Baiklah!! Apakah kalian sudah tidak sabar dengan hasilnya?!!" ucap Ketua Kelas dengan semangat.


"YYAAAAA …!!!"


"Benar-benar tidak sabar?!!"


"YYAAAA …!!!"


"Sungguh?!"


Gedubraak… Praang… Bonk…


"Sudah cepat biarkan Senpai berbicara!!!"


Lemparan gunting, bangku, meja, dan lainnya dilemparkan kepada Ketua Kelas oleh anak kelas lain karena terlalu banyak bicara. Alhasil timbul benjolan besar di kepalanya.


"Baiklah … silahkan Senpai …."


"Pemenangnya adalah …."


Kepala kami semua maju dan pandangan kami hanya kepada Mei-senpai akibat ucapan mengambangnya. Semuanya sudah penasaran dengan pemenangnya.


"… Patung malaikat ini!!"


Kuromichi-san menunjuk ke arah patung malaikat itu dengan malu-malu.


"Dengan detail yang teliti serta penggambaran dan kemegahan sayap yang begitu indah, membuatnya terlihat seperti hidup. Bahkan ukiran-ukirannya juga dibuat secermat mungkin. Jadi patung malaikat inilah pemenangnya."


"Hehehem … sepertinya Senpai masih belum mengerti kalau itu adalah patung Dewi Berambut Pirang. Tapi malaikat juga tidak begitu buruk. Karena dia adalah malaikat dihatiku!!"


"Iraya, Iraya, patung itu mirip denganku," ucap Herlin polos.


"Tentu saja karena itu terinspirasi darimu."


Tapi aku tidak menyangka kalau yang menang adalah si maniak itu. Berarti dia berhasil mendapatkan bento dari Herlin. Ya biarlah, aku juga sudah pernah memakannya jadi aku juga tidak terlalu penasaran lagi.


"Kalau begitu, aku akan mengambil hadiahnya dibawah, aku sengaja membuatnya hangat supaya lebih enak," ucap Herlin.


"Ahh, aku akan menemanimu," ucap Hasuki-san.


"Huhuhu … kau sangat baik dewiku, malaikatku. Kau terlalu baik."


Si maniak itu menangis. Menjijikkan! Sementara Herlin dan Hasuki-san mengambil hadiahnya dibawah, aku kemudian menghampiri Kudou dan Hira.


**


Sementara itu Herlin dan Hasuki-san mengobrol sambil berjalan menuju ke gerbang depan tempat security berjaga. Biasanya itu adalah tempat orang luar menitipkan barang mereka ke murid-murid di sekolah ini. Dan saat ini mereka sedang menuju kesana.


"Sayang sekali, ya? Kita bukan pemenangnya."


"Aku tidak masalah jika aku tidak menang, karena aku sudah bawa bekal dari rumah."


"Begitu, ya? Tapi aku tidak menyangka kalau yang menang adalah replika dirimu, Ririsaka-san."


"Bukankah itu cuma mirip?"


"Bukan mirip lagi, itu memang terinspirasi darimu, loh."


"Jadi Dewi Berambut Pirang itu aku?"


"Benar sekali! Apa kau baru sadar?"


"Tapi kenapa ada yang memujiku sampai seperti itu?"


"Tentu saja karena kau imut, Ririsaka-san."


Herlin masih bingung dengan maksud Hasuki-san. Tapi apa hanya dengan imut saja, seseorang bisa dipuja sampai segitunya? Ia masih belum mengerti. Menurutnya masih banyak hal yang lebih hebat daripada sekedar penampilan belaka. Dan dia juga tidak merasa kalau dirinya imut atau cantik seperti yang dibilang teman-temannya di kelas.


"Aneh sekali," gumam Herlin.


Herlin yang sudah berada di depan tempat security mencoba memanggil seseorang tapi tidak ada jawaban dari sana.


"Apa dia sedang pergi?" tanya Hasuki-san


"Entahlah, aku akan coba masuk dulu."


Herlin kemudian masuk ke dalam tempat security itu dan menemukan seorang security yang sedang duduk sambil kepalanya tersandar ke meja seperti seorang yang tertidur. Herlin mencoba membangunkannya namun tidak berhasil. Akhirnya ia mencoba untuk mengambil bento-nya sendiri tapi tidak menemukannya.


"Apa ini yang kau cari?"


Sebuah suara mengejutkan Herlin yang langsung menengok kearah sumber suara. Sosok yang ia lihat adalah seseorang yang tidak asing sambil memegang bungkusan dengan tiga bento di dalamnya.


"Caramel …. Apa yang kau lakukan disini?"


"Daripada menanyakan hal itu, bukankah lebih baik memeriksa keadaan temanmu?"


Herlin yang menyadari bahwa ada Hasuki-san yang menunggu diluar dengan cepat melesat kearah tempat Hasuki-san menunggu. Tapi ternyata Hasuki-san sudah ditodong menggunakan katana oleh Nimis.


"Riri … saka-san? To-Tolong aku …."


"Lepaskan dia!"


"Jangan bergerak! Jika kau bergerak selangkah saja dari situ, maka nyawanya tidak akan selamat."


Herlin sedang berada dalam kondisi terdesak sekarang. Ia tidak bisa kemana-mana karena Hasuki-san yang telah disandera oleh Nimis.


Sementara itu Caramel keluar dari tempat security tadi. Ia mengeluarkan gestur mengangkat dengan satu jarinya dan terbentuk sebuah kotak aura transparan yang memerangkap Herlin di dalamnya. Ia mencoba memukul-mukul kotak itu tapi percuma, kotak itu sangat keras sehingga seperti mustahil dihancurkan.


Caramel kemudian tersenyum dan meneriakkan sesuatu dengan keras seakan memberi penanda.


"Disini sudah selesai! Sekarang giliran kalian!"


Setelah selesai berteriak, tiba-tiba dua orang yaitu Ardenter dan Delta melesat melompati gerbang sekolah dan kemudian orang berjubah itu—Delta menyemburkan api dari tangannya yang ia arahkan langsung ke jendela tempat kelas Iraya berada.


Blaaaaaarrr…


"IRAYA !!! SENPAI !!!"


Herlin meneriakkan teriakan putus asa untuk memberitahu mereka kalau ada serangan terjadi disini. Meskipun ia tahu yang ia lakukan percuma, tapi ia berharap kalau itu sampai kepadanya.


**


Aku tiba-tiba menengok kearah jendela. Entah kenapa tapi leherku bergerak sendiri menengok kearah jendela meskipun tidak apa-apa disana. Mei-senpai juga melakukan hal yang sama denganku. Aku kemudian menengok kearah Senpai. Tapi kami bingung kenapa kami berdua tiba-tiba secara bersamaan menengok kearah jendela.


Blaaaaaarrr…


Lalu akhirnya aku tahu kenapa kami menengok ke arah jendela. Sebuah semburan api mengarah langsung kearah kelas kami.


"SEMUANYA MENUNDUK !!!"


Mei-senpai kemudian menarik Kuromichi-san kebawah menghindari semburan api tadi. Sementara aku menarik Kudou dan Hira kebawah. Tapi sayangnya, teman-temanku yang lain tidak sempat bereaksi dan mereka semua langsung terbakar hidup-hidup.

__ADS_1


"Ap-Apa yang sebenarnya terjadi …? Siapa yang melakukan ini?"


Bersambung


__ADS_2