Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 28 : Penyerangan Mall


__ADS_3

Kecepatan, stamina, dan juga keefisienan dalam bergerak. Tiga hal itu yang selalu ditekankan oleh Herlin pada setiap latihannya. Aku memasuki bulan keempat pelatihan bersama Herlin sekaligus masuk ke dalam dunia ini. Dan aku pikir aku sudah lumayan berkembang.


Aku sudah lulus pada latihan dasar pengembangan stamina, kecepatanku juga telah meningkat dan sekarang aku bisa melesat lebih cepat dari manusia normal manapun.


Dan setelah melewati hal itu, sekarang aku difokuskan untuk lebih mempertajam instingku dan dilatih untuk bergerak seefisien mungkin. Hanya dengan sedikit gerakan saja aku diharuskan bisa menghindari semua serangan Herlin agar staminaku tidak cepat terkuras.


Menghindari setiap serangan kerikil yang dilancarkan oleh Herlin dengan kekuatan Mind Power miliknya. Kedengarannya sederhana dan mudah, tapi nyatanya tidak. Coba saja sendiri kalau tidak percaya.


Bayangkan saja, dilempari batu oleh manusia biasa saja pasti sudah membuatmu panik, sekarang aku harus menghindari kumpulan batu dari berbagai arah yang melesat kearahku dengan kecepatan setara peluru. Tidak … mungkin peluru sedikit berlebihan, tapi aku tidak dapat mendeskripsikan nya dengan kata-kata lain.


Intinya melihatnya pergerakan batunya saja sudah sulit, apalagi harus menghindarinya. Oh iya dia juga memberiku satu latihan lagi.


"Berlatihlah mengembangkan luas auramu."


Mengembangkan luas aura, ya? Herlin bilang jika aku bisa menguasai itu maka aku bisa merasakan benda yang bergerak di sekitarku. Misalnya saja saat kau berjalan di tengah hujan, jika kau mengembangkan luas auramu, kau bisa merasakan dan menghitung setiap tetes air hujan yang menyentuh area perluasan auramu.


Aku sudah mencobanya. Dan mempertahankan aura itu sendiri butuh stamina yang tidak sedikit. Saat ini aku baru bisa meluaskannya sekitar sepuluh sentimeter dari tubuhku.


Tapi aku merasa kalau sepuluh sentimeter masih belum cukup. Kecepatan batu yang dilemparkan Herlin sangat cepat sehingga ketebalan segitu masih kurang. Minimal aku harus bisa meluaskannya sekitar satu meter atau lebih.


Aku kemudian terus melatihnya. Fokus dan konsentrasi yang tinggi adalah kuncinya dan salah satu media latihan yang tepat untuk itu adalah bermeditasi. Setelah latihan dengan Herlin, setiap malam di kamar aku mencoba bermeditasi untuk mengembangkan luas auraku. Contohnya seperti saat ini.


Saat ini aku masuk ke tahap awal meditasi, aku bisa merasakan nafasku sendiri. Lalu di tahap kedua aku bisa menghitung detak jantungku. 1 detak, 20 detak, 100 detak, dan seterusnya. Aku terus menguatkan konsentrasiku dan suara-suara kecil yang ada di ruangan ini seperti dentingan jam, dengungan nyamuk, dan sebagainya. Aku bisa menghitung dan merasakan semuanya.


Sampai suatu saat dimana aku terus menerus menguatkan fokusku sampai tidak sadar kalau sekitarku berubah menjadi hening. Aku kemudian membuka mataku dan mendapati kalau aku sedang berada di suatu tempat gelap dengan satu sumber cahaya yang berasal dari atas.


"Tempat ini …."


Aku kemudian menghampiri cahaya itu dan terdiam di depannya. Tapi tiba-tiba aku merasakan perasaan ngeri di tulang belakangku, ada sebuah tangan yang melewati pundakku dari belakang dan mencoba meraihku. Dengan cepat aku kemudian menangkapnya dan menoleh untuk melihat orang yang melakukan ini.


"Kau benar-benar sudah berkembang ya, Iraya? Aku berniat untuk melumpuhkan pergerakanmu seperti awal pertama kali kita bertemu."


"Ce-Cecilia?"


Ternyata orang yang membuatku merinding tadi adalah Cecilia. Jadi aku bisa masuk kesini tanpa harus tidur, ya? Tapi tiba-tiba aku mengingat sesuatu.


"Jadi apakah sarana untuk bertemu denganmu adalah lewat mimpi? Atau ada sarana lain?"


"Ada. Yaitu lewat meditasi."


Aku ingat Cecilia pernah bilang kalau aku bisa kesini lewat meditasi, ternyata hal itu benar, toh. Aku kemudian melepaskan tangan Cecilia.


Keheningan canggung menyerang kami berdua. Tidak ada yang ingin kubicarakan dengannya saat ini jadi aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Tapi tiba-tiba Cecilia berinisiatif memulai pembicaraan.


"Jadi ini pertama kalinya kita bertemu melalui media meditasi, bukan?"


"Ya begitulah."


"Sekarang apa yang akan kau lakukan disini?"


"Entahlah, bukankah jika aku bertemu denganmu secara langsung kita hanya sekadar mengobrol?"


"Hah … kau tidak akan pernah punya teman jika pembicaraanmu membosankan seperti ini. Aku jadi kasihan pada mereka yang mencoba berbicara padamu," ucapnya mengejek.


"Be-Berisik! Aku punya cara sendiri, tahu!"


Cecilia tersenyum. Dia kemudian mendekat kearahku dan berhenti saat jarak kami sudah sangat dekat. Cecilia kemudian mendekatkan wajahnya ke telingaku dan mulai berbisik.


"Tadinya aku ingin memberitahumu sesuatu. Tapi aku rasa ini bukanlah saat yang tepat untuk itu."


"Apa?"


Tiba-tiba bagian atas ruangan ini mulai menciptakan retakan yang tidak biasa. Retakan itu semakin besar dan kemudian Cecilia berbicara satu hal terakhir kepadaku sebelum aku pergi.


"Sampai jumpa, Iraya."


Aku kemudian membuka mataku dan yang kulihat sekarang adalah tembok kamarku sama seperti sebelumnya. Posisiku juga sama yang sedang duduk bersila di atas tempat tidur.


"Adu-duh …."


Aku memegangi kepalaku. Setelah keluar dari tempat Cecilia, tiba-tiba kepalaku terasa sangat pusing seperti orang yang sedang mabuk kendaraan. Aku kemudian berbaring di tempat tidurku dan menatap langit-langit. Aku memutuskan untuk melanjutkan latihanku nanti.


"Hah … lelahnya."


**


Minggu yang cerah ini aku awali dengan menyantap sarapan ibuku sambil menonton TV.


"Jangan lupa dibereskan setelah makan, ya!"

__ADS_1


"Baik bu."


Tiiing… Tiiing…


Tiba-tiba notifikasi hp ku berbunyi. Aku kemudian memeriksanya dan itu berasal dari Oita-san. Di dalam pesannya tertulis kalau ada suatu urusan sehingga mengharuskanku untuk datang. Sepertinya aku akan dapat misi baru. Karena Oita-san tidak pernah menghubungiku kecuali memberikan misi.


Setelah mendapat pesan itu, aku dengan cepat menghabiskan sarapanku dan membereskannya. Dan setelah itu aku pergi menuju Haiiro Cafe.


Disepanjang perjalanan aku melihat banyak anak-anak kecil yang bermain di taman dengan riang bersama orang tuanya. Aku kemudian tersenyum tipis melihat hal itu. Akhir-akhir ini, intensitas serangan monster memang menurun dan sedikitnya dapat membuat masyaraka lebih tenang.


Tapi bukan berarti serangan itu sudah menghilang sepenuhnya, setiap hari ada saja satu sampai dua kasus penyerangan oleh makhluk-makhluk aneh.


Sebagai orang yang mengetahui cara mengatasi makhluk itu, aku dan orang yang ada di Black Rain tentu saja tidak akan tinggal diam. Aku bergabung dengan Black Rain untuk menjadi lebih kuat dan melindungi ibuku yang kusayangi. Dan di misi kali ini aku akan lebih berguna!


Setelah berjalan cukup lama, aku telah sampai di Haiiro Cafe. Tapi aku tidak melihat Aiza-san yang biasanya selalu berdiri di depan pintu untuk menyambut tamu, Cafe pun juga terlihat lebih sepi dari biasanya. Tanpa memperdulikan hal itu lebih lama, aku kemudian masuk ke dalam ruangan Murasaki-san.


Disana aku melihat Murasaki-san yang sedang duduk sedang mengobrol dengan Herlin yang juga berada disini. Ternyata benar kalau aku akan mendapatkan misi baru.


"Kau sudah datang, Iraya."


"Jadi, ada apa memanggilku, Murasaki-san?"


"Soal itu … aku ingin kau menemani Herlin-chan untuk berbelanja keperluan dekorasi Cafe ini, Iraya-kun."


"Keperluan dekorasi Cafe? Jadi aku dipanggil kesini bukan karena akan mendapat misi baru? Lagipula kenapa aku harus ikut belanja bersamanya."


"Ah, soal itu …."


Murasaki-san mendongak keatas seperti ingin mengingat sesuatu.


"… Dulu aku pernah menyuruhnya untuk melakukan hal yang sama dan aku memberikan kebebasan baginya untuk memilih. Tapi Herlin-chan malah memilih dekorasi natal untuk cafe ini padahal waktu itu masih musim semi," ucap Murasaki-san.


"Dekorasi natal?"


Aku menengok kearah Herlin yang entah polos atau bodoh ini, tapi dia juga balas menatapku.


"Apa?" ucapnya dengan nada sinis.


"Kau ini … bodoh ya?"


"Yuuki-san sedang ada urusan dengan panti asuhannya. Untuk itu aku menyuruhmu, Iraya-kun. Anggap saja ini adalah misi, jadi lakukanlah dengan benar ya?"


Murasaki-san tersenyum dengan jawabanku dan ia pun memberi kami sejumlah uang serta memberikan kebebasan bagiku untuk memilih dekorasinya. Dan akhirnya begitulah, misi keduaku sudah berjalan—meskipun bukan misi yang berbahaya sih.


**


Tempat yang akan kami tuju adalah sebuah mall. Tempat mall itu berada tak jauh dari pusat pertokoan, jadi kami lebih memilih untuk berjalan kaki kesana.


Di sepanjang perjalanan aku sesekali melirik kearah Herlin, dan dia terlihat sibuk dengan smartphone nya dan bahkan tidak memperhatikan jalan sama sekali. Aku kemudian menegurnya.


"Oi, kalau jalan lihat ke depan."


"Tenang saja. Aku bisa berjalan tanpa melihat ke depan karena aku sudah mengembangkan auraku sejauh satu meter. Jadi aku bisa merasakan jika ada sesuatu yang menghalangi jalanku seperti tiang listrik atau orang lewat."


Bukankah ini termasuk penyalahgunaan kekuatan? Dia menggunakan kemampuannya untuk hal yang tidak penting seperti ini. Tapi karena penasaran, aku pun mengalirkan sedikit aura ke mataku dan aku bisa melihat sebuah aura transparan tanpa warna berbentuk bola yang mengelilingi tubuh Herlin.


"Lalu bagaimana dengan latihanmu?"


"Aku bisa baru bisa mempertahankan selebar sepuluh sentimeter."


"Berarti perjalananmu masih panjang, ya?"


Herlin menghentikan langkahnya dan kemudian terdiam sebentar. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu setelah beberapa saat, ia menengok dan berbicara kepadaku.


"Apa aku perlu menambah porsi latihannya sepuluh kali lipat?"


"Kau ingin membunuhku?!"


"Hah … kuasai dulu itu, baru kita melangkah ke latihan selanjutnya."


"Iya, iya. Ngomong-ngomong, sebentar lagi kita sampai."


"Aku tau."


Setelah sampai di mall yang dituju, kami berdua masuk dan langsung mencari toko yang dimaksudkan. Suasana di mall ini lumayan ramai dikarenakan hari libur. Aku dan Herlin langsung menuju ke toko dekorasi yang berada di lantai dua mall.


Setelah menemukan toko yang dimaksudkan, kami berdua langsung masuk ke dalam dan segera memilih dekorasi yang sekiranya cocok untuk Cafe itu. Aku memilih desain yang simple karena cocok di semua jenis tempat. Setelah kurasa cukup dan berniat ingin membayar, aku melihat Herlin yang sedang diam di depan sebuah rak gantungan kunci.


"Kau sudah selesai, Her—"

__ADS_1


Herlin yang dari tadi diam di depan rak gantungan kunci itu kemudian mengambil sebuah gantungan kunci berbentuk panda.


"Kau suka itu?"


"Tidak juga. Aku hanya suka saat dia memakan bambu. Suaranya seperti seseorang yang tulangnya dipatahkan."


"Dasar psikopat aneh, cepat buang pikiranmu itu pada panda lucu ini!"


Herlin kemudian menaruh kembali gantungan kunci itu pada tempatnya semula. Setelah itu dia kemudian keluar dari toko itu.


"Sudah selesai? Cepat bayar dan segera pulang."


"Ba-Baik."


Sifatnya tiba-tiba berubah dingin lagi. Tapi aku harus menahannya. Seperti yang Murasaki-san bilang, Herlin sebenarnya adalah orang yang peduli meskipun ia tidak menyadarinya. Aku kemudian pergi ke meja kasir dan membayar semua yang kubeli. Dan aku juga membeli sesuatu tambahan yang sepertinya bagus.


**


*Area Parkir Mall*


Seseorang sedang bersandar sambil meminum kopi di pinggiran tembok mall. Setelah menghabiskan minumannya, dia kemudian mengambil sesuatu dari kantung celananya. Sebuah pemicu dengan satu tombol merah ditengahnya. Dia sedikit berjalan menjauh dari gedung mall, setelah dirasa olehnya cukup jauh, dia kemudian menekan tombol pemicu yang dari tadi ia pegang.


"Keluarlah, Subject C," gumamnya.


Piip… Bleedaaarrr… Daarr… Daarr…


Setelah menekan tombol itu, ledakan beruntun terjadi di hampir setiap bagian mall. Orang-orang yang melihat ledakan itu langsung panik dan berlari menjauhi mall secepat yang mereka bisa. Sementara orang yang menekan pemicu itu kemudian masuk ke dalam mall dengan santai sambil diikuti oleh sejumlah orang dibelakangnya.


"Ayo kita masuk dan menangkapnya."


**


Sementara itu, Iraya dan Herlin yang mendengar suara ledakan dari luar mall merasakan getaran di dalam mall yang membuat mereka mulai waspada. Herlin juga merasakan beberapa aura orang kuat yang berjalan mendekati mereka berdua.


Iraya PoV


"Gempa bumi? Tidak, tadi aku mendengar suara ledakan."


"Iraya, ikuti aku!"


Herlin kemudian berlari ke salah satu toko baju yang sudah ditinggal penjaganya. Kami bersembunyi di salah satu ruang ganti baju dengan tirai sebagai pintunya. Herlin kemudian memberikanku sebuah penutup mulut.


"Pakai itu dan hilangkan hawa keberadaanmu."


Ia kemudian juga memakai penutup mulut miliknya.


"Oi Herlin! Sebenarnya apa yang sedang terjadi?!"


"Aku tidak tahu, tapi aku merasakan aura seseorang kuat sedang menuju kearah kita."


Seseorang yang kuat? Jadi yang kita hadapi saat ini adalah manusia? Dengan kata lain, Exception lainnya. Tiba-tiba dadaku berdebar begitu kencang. Sial! Memikirkan kalau lawan yang aku hadapi membuatku gemetaran. Aku juga bisa merasakan hawa membunuh yang orang itu berikan.


"Aura ini …."


Tiba-tiba Cecilia berbicara di dalam kepalaku. Ia seakan merasakan sesuatu pada aura orang kuat ini.


"Ada apa, Cecilia?"


"Aku pernah merasakan aura yang sama seperti ini, saat aku masih berada ditempat saat aku diciptakan."


"Aura … yang sama?"


Jadi yang akan kita lawan adalah orang-orang dari tempat yang menciptakan Cecilia. Perusahaan itu, dia sudah bisa melacak keberadaannya. Berarti sasaran mereka adalah aku.


Aku mengatur nafasku agar tenang dan setelah itu aku menghilangkan hawa keberadaanku. Menghilangkan hawa keberadaan prinsipnya sama dengan mengeluarkan aura, hanya saja dilakukan secara kebalikannya.


Sementara itu, orang-orang yang meledakkan mall ini sudah berada di depan toko baju tempat Iraya dan Herlin bersembunyi. Dia kemudian memasukinya dan berdiri di depan kamar ganti baju. Sambil menahan orang-orang lain yang ikut bersamanya, pria itu kemudian berteriak.


"Keluarlah Subject C! Aku tahu kau ada di dalam! Keluarlah atau aku akan membunuhmu!"


**


*Ruangan Murasaki-san*


Sementara itu Murasaki-san yang sedang menulis di ruangannya tiba-tiba tersentak seakan dikejutkan oleh sesuatu. Air putih yang berada di pinggir mejanya mengeluarkan riak aneh yang membuat perasaannya tidak enak.


"Hmm …?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2