Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 101 : Assassin


__ADS_3

Dua orang yang seharusnya sudah mati kali ini kembali berhasil dibangkitkan oleh orang yang tidak pernah diduga, seseorang yang memiliki hubungan keluarga dengan Astaroth, Seana Blaircass.


Dan sekarang mereka sedang menuju ke tempat para Assassin yang masih memihak kepada Astaroth. Ia berniat untuk membalas dendam kepada Black Rain dan anggota Kuni no Hashira lainnya.


Kali ini ia yakin dengan kekuatan tempurnya, karena ia memiliki rekan yang diyakini sebagai orang terkuat di negeri ini. Meskipun ia juga masih dalam keadaan baru dibangkitkan dan penampilannya jauh berbeda, tapi jiwanya tetap Murasaki Oita.


Mereka semua kali ini pergi ke luar kota dan menuju ke Nagoya karena Astaroth terakhir kali mendengar semua anggotanya berkumpul di Nagoya setelah gagalnya penyerangan yang mereka lakukan.


Pada malam ini, Astaroth berjalan tanpa arah di daerah rumah susun yang terlihat sudah sepi karena waktu yang sudah menunjukkan lewat tengah malam.


"Paman ... apa masih lama sampainya?"


Seana sepertinya sudah mengantuk karena telah menguap dan mengusap-usap matanya berkali-kali.


"Seana-sama, aku bisa menggendongmu jika anda ingin tidur."


Dillon yang peka dan bersikap seperti pelayan yang dapat diandalkan langsung mengambil posisi agar Seana dapat mudah naik ke gendongannya.


Tapi Seana yang sudah bukan anak kecil lagi langsung merasa kesal kepada Dillon karena selalu diperlakukan seperti anak kecil olehnya.


"Tidak perlu, Dillon! Aku ini bukan anak kecil lagi!"


"Tapi jika anda ingin tidur, aku bisa—"


"Aku bilang tidak perlu, dasar Dillon bodoh."


Omongan Seana barusan benar-benar menusuk ke dalam hati Dillon dan membuat semangatnya yang tadi membara langsung redup untuk membuat tuan putri kesayangannya ini nyaman.


"Ma-maafkan kebodohan saya."


"Apa mereka selalu seperti ini?" tanya Oita-san.


"Biarkan saja mereka, lagipula sebentar lagi kita sudah sampai. Aku bisa merasakan aura milik rekanku di sekitar sini."


Selain Astaroth, yang lainnya juga dapat merasakan aura kuat yang ada di sekitar sini dan datangnya dari salah satu rumah susun di sini. Tapi mereka tidak mengetahui tepatnya aura itu berasal.


Meskipun kuat, tapi lokasi aslinya samar-samar seakan aura tersebut tidak memiliki lokasi yang pasti. Dan hanya satu kemungkinan kenapa hal itu bisa terjadi, yaitu karena pemilik aura tersebut sedang bergerak atau menyembunyikan auranya.


Pemilik aura tersebut seakan tidak ingin keberadaannya diketahui oleh Astaroth dan kawan-kawannya. Sampai tiba-tiba seseorang mendatangi mereka.


Swuuushh...


"?!!"


"Awas, Seana-sama!"


Sebuah cengkeraman dari telapak tangan yang cukup besar berusaha menggapai dan meremukkan kepala Seana yang sedang lengah karena mengantuk.


Tapi Dillon dengan sigap mengeluarkan dart nya lagi dan melemparkannya tepat ke arah telapak tangan tadi dan menangkisnya. Untuk saat ini, Seana aman berkat refleks dari Dillon.


Zwuushh... Buughh...


Meskipun telah aman, Dillon dan Seana masih belum bisa bernafas lega karena serangan berikutnya dari tangan besar yang lain itu datang.


Dillon memasang kuda-kuda dengan tangan berbentuk 'X' di depan tubuhnya untuk menahan pukulan yang ditargetkan kepadanya.


Pukulan itu pun berhasil di tahan oleh Dillon. Tapi ia juga harus terseret mundur dalam keadaan berdiri karena efek pukulan yang sangat besar tekanannya. Walaupun terkena pukulan sekeras itu tidak membuat Dillon mengkhawatirkan dirinya sendiri saat ini.


Ia lebih khawatir terhadap Seana yang kali ini berada jauh darinya karena ia baru saja dipukul mundur oleh orang tadi.


"Seana-sama! Menyingkir dari situ!"


"Eh?"


Swuuushh...


"Baik. Cukup sampai disitu."


Tiba-tiba Astaroth bergerak dan kini sudah berada di tengah antara Seana dan orang yang ingin memukulnya. Seana yang masih terkejut dan seketika rasa kantuknya menghilang, serta orang tadi yang berhenti sebelum mengenai wajah Astaroth.


Seana yang tadinya tegang jatuh lemas dan kemudian terduduk ke lantai yang langsung dihampiri oleh Dillon untuk memeriksa keadaannya. Sementara Astaroth berbicara kepada orang yang menyerang Seana tadi.


"Kau kuat seperti biasanya, Baram."


"B-Bos? Kau masih hidup?"


"Ya, beruntungnya begitu. Mereka semua yang ada di sini adalah rekanku, jadi kau tidak perlu untuk menyerang mereka lagi."


"Ba-baiklah Bos, maaf sudah menyerang temanmu."


Baram menyesali perbuatannya dan menunduk meminta maaf kepada Astaroth, meskipun ia langsung memaafkannya begitu saja.


Sekarang Astaroth meminta kepada Baram untuk mengantar mereka ke tempat yang lainnya berada yang kemudian langsung dipatuhi oleh Baram.


Mereka semua pun langsung pergi menuju ke salah satu kamar di rumah susun tersebut. Kamar rumah susun itu terlihat kecil bagi Baram yang memiliki tinggi lebih dari 2 meter sehingga ia harus menunduk untuk masuk ke dalamnya.


Dan setelah masuk ke dalam, benar saja sudah ada dua orang yang sedang duduk di dalam. Seorang anak kecil dan juga kakek tua—Lennova dan Ivis.


"Aku kembali."


"Apa kau sudah selesai patrolinya? Hn? Siapa mereka?" Lennova bingung ketika Baram membawa banyak orang ke dalam kamar rusun.


"Ehehehe ... apa kau tidak bisa mengenaliku?"


Mata Lennova dan Ivis melebar ketika mendengar suara yang mereka kenal. Itu adalah suara yang menurut mereka mustahil untuk di dengar lagi dari pemiliknya karena ia sudah mati terbunuh.


Mereka berdua yang tadinya sedang duduk santai pun langsung berdiri dan memperhatikan orang yang mendekati mereka itu.


"Suara itu ... Bos?"

__ADS_1


"Benar sekali."


"Tapi bukankah kau—"


"Banyak hal yang terjadi sebelumnya, aku akan menceritakan kepada kalian hal itu nanti."


"Ba-baik."


Astaroth tidak ingin membahas bagaimana cara ia bisa hidup kembali lebih jauh lagi. Baginya masa lalu itu sudah tidak terlalu penting, ia sekarang ingin memperkenalkan orang-orang selain dirinya yang datang kesini.


"Selain itu, aku ingin kalian berkenalan dengan mereka semua."


"Mereka?"


"Perempuan itu adalah keponakanku, Seana dan laki-laki yang berada di sampingnya adalah pelayan pribadinya, Dillon."


"Pelayan? Ah ... aku baru ingat kalau anda adalah orang yang punya darah bangsawan," ucap Ivis.


Sementara Dillon sendiri menundukkan kepalanya sedikit untuk memberi hormat dan Seana tidak terlalu merespon karena dirinya yang sudah lelah dan mengantuk.


"Lalu laki-laki yang terlihat lemah itu siapa? Jangan bilang kau memungutnya dari jalan lalu membawanya kesini, Bos."


Lennova bilang seperti itu karena penampilan baru Murasaki Oita yang hanya seorang laki-laki urakan dan wajahnya yang babak belur karena baru saja dihabisi oleh Astaroth.


Tapi Astaroth menjawab kekhawatiran dari Lennova dengan jawaban yang paling tidak ia duga dan membuat mereka semua terkejut.


"Tenang saja, meskipun kelihatannya seperti ini tapi dia ini lumayan kuat, kok."


"Lumayan? Apa kau mau aku hajar lagi?" ucap Oita mendengar penjelasan yang diberikan oleh Astaroth kepada dirinya.


"Hajar? Memangnya kau siapa berani bilang begitu kepada Bos," balas Lennova yang agak tersinggung.


"Kenyataannya dia memang pernah melakukannya, karena dia adalah Murasaki Oita."


"??!!!"


Sesuai yang telah diperkirakan oleh Astaroth, mereka semua terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Astaroth. Tapi ia bilang akan menjelaskan semuanya kepada mereka nanti. Astaroth sangat ingin secepatnya membalas dendam dan mengatur rencana tersebut.


"Kau baru bangkit dari kematian, Bos. Apa kau yakin mau langsung merencanakan balas dendam?"


"Ya. Hatiku jadi gatal dan harga diriku terasa terinjak jika tidak balas dendam sesegera mungkin. Tapi tubuhku tidak mendukung keinginanku saat ini."


Astaroth melihat ke arah telapak tangannya sendiri yang ia rasa masih sangat lemah dan tidak kuat untuk menahan kekuatannya jika dikeluarkan terlalu besar.


"Maka dari itu, sambil menunggu kemampuanku pulih sepenuhnya, apa kau punya rencana untuk mengisi kekosonganku, Lennova?"


Lennova mengeluarkan seringai ketika ditanya oleh Astaroth seperti itu. Ini adalah kesempatan bagus baginya untuk bisa berbuat sesuka dirinya. Setelah ditanya seperti itu, Lennova langsung menjawabnya dengan semangat.


"Aku sudah menunggumu untuk bicara seperti itu. Apa itu berarti semuanya akan berada di bawah kepemimpinanku?"


"Ya. Lakukan seliar mungkin, itu yang aku selalu bilang pada kalian, kan?"


Lennova kemudian mengambil remot TV dan langsung menyalakan salah satu channel yang menunjukkan sebuah acara konser para Idol yang sedang tren saat ini.


"Aku akan menggunakan mereka."


"Mereka? Orang-orang ini? Apa kau akan melakukan sesuatu pada mereka?"


"Bos tahu kalau popularitas adalah salah satu senjata yang mematikan, bukan?"


Lennova mengeluarkan sebuah kartu remi yang ia keluarkan entah dari mana dan kemudian ia mainkan di sela-sela jarinya berjalan dari satu jari ke jari lainnya.


"Aku akan memanfaatkan hal itu. Kekacauan besar yang hanya aku yang bisa melakukannya, tapi tentu saja aku membutuhkan bantuanmu, Bos."


Sambil terus memainkan kartu remi di tangannya, Lennova terus menjelaskan rencana yang akan ia pakai dengan menggunakan para idol ini.


Astaroth yang melihat rasa percaya diri yang ditunjukkan oleh Lennova pun sudah tidak memiliki rasa ragu kepadanya. Oleh karena itu, ia akan membantu sebisa yang Astaroth bisa untuk saat ini.


"Kalau begitu aku mengandalkanmu."


"Hehehe ...."


Lennova melihat ke arah layar TV dimana para idol itu sedang bernyanyi dan berjoget di atas panggung dengan penonton yang sangat banyak. Sambil terus memainkan kartunya, matanya terfokus ke salah satu idol yang berada di sana karena posisi idol tersebut berada di posisi center.


Wajahnya terlihat riang dengan tawa ceria dan juga tubuh yang penuh dengan keringat. Center idol tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Koyomi Arisu.


Setelah dirasa obrolan mereka malam ini cukup, Astaroth bertanya satu hal lagi kepada mereka. Yaitu tentang anggota mereka yang kini berkurang cukup banyak padahal yang mati pada saat itu hanyalah Astaroth.


"Oh iya ngomong-ngomong, kenapa kalian hanya bertiga di sini? Dimana yang lainnya?"


"Kalau soal itu, Delta izin untuk pulang ke rumahnya di Kyoto. Tapi untuk tiga orang lainnya, aku tidak mendengar kabar dari mereka, dihubungi pun juga tidak bisa."


"Hmm ...." Astaroth memegang dagunya untuk berpikir sejenak.


"... Nimis dan Ardenter sudah berkhianat dari kita."


"Apa?! Mereka berkhianat?!" ucap Lennova kaget.


"Ya begitulah, aku sudah menduga hal itu sejak lama, sih. Tapi kalau untuk Caramel ...."


Astaroth mencoba mencari jawaban yang tepat dari hilangnya Caramel. Ia sempat berpikir kalau ia mati terkena meteor buatannya waktu itu, tapi itu tidak mungkin karena anggota Black Rain berhasil menghancurkannya sebelum itu jatuh ke tanah.


Lalu terbesit sesuatu dalam pikiran Astaroth. Satou Iraya. Selama yang ia perhatikan padanya, sorotan mata Caramel terhadap Iraya berbeda dengan kepada yang lain.


Caramel memang pernah bilang kalau Iraya memang sangat menarik perhatiannya, tapi ia tidak tahu kalau itu bisa membuatnya berkhianat juga seperti dua lainnya.


Lagipula Astaroth dan Caramel telah bersama selama hampir delapan tahun. Tidak mungkin seorang bocah kemarin sore dapat menggoyahkan hati Caramel begitu saja. Hasil pemikiran Astaroth hanya menghasilkan sebuah senyum tipis di mulutnya.


"Apa ada yang lucu, Bos?" tanya Lennova.

__ADS_1


"Tidak, sepertinya aku harus menemui seseorang nanti."


Tapi pemikiran Astaroth tentang berkhianatnya Caramel saat ini hanyalah dugaannya saja, tidak ada bukti kuat untuk membuktikannya. Jadi untuk sekarang, ia akan mengurus hal itu nanti.


**


Sementara itu di Kyoto, di rumah Hasuki Chifu pada malam yang sama. Hasuki membanting pintu depan dan masuk ke dalam dengan terburu-buru.


Blaamm...


Kali ini tidak ada pelayan wanita yang menyambutnya pulang ke rumah seperti biasanya karena ia tidak mengatur jadwal kepulangannya seperti sebelumnya.


Tapi meski begitu tetap saja ada beberapa orang pelayan yang langsung datang ketika mendengar suara pintu terbuka dan sebisa mungkin menyambut kedatangan Hasuki.


"Selamat datang, Chifu-sama."


Tapi sambutan mereka diabaikan oleh Hasuki yang langsung berjalan cepat menuju ke dalam kamarnya. Para pelayannya juga bingung dengan perilaku Hasuki yang aneh.


Lalu saat mereka sedang membicarakan perilaku aneh Hasuki itu, datang ayah sekaligus pemilik rumah ini, yaitu Hasuki Nakamura. Para pelayan itu langsung menghentikan pembicaraan mereka karena takut terdengar oleh Nakamura.


"Apa Chifu datang tadi?"


"Benar, tuan. Chifu-sama langsung berlari menuju ke kamarnya."


"Begitu, ya."


Sementara di kamar Hasuki, ia langsung melemparkan topeng yang selalu ia pakai selama menjadi anggota Assassin bawahan Astaroth secara asal ke tanah. Setelah itu ia langsung melompat ke kasur dan membenamkan wajahnya di dalam bantal.


"Iraya-kun bodoh! Bodoh! Aku membencimu, dasar pembohong!"


Hasuki berteriak dengan wajah terbenam sehingga suaranya tidak terlalu keras terdengar. Ia masih memikirkan tentang ucapan Iraya sebelumnya kepada dirinya.


"Hah?! Kau tidak perlu kekuatan untuk dekat denganku."


"Jangan menipuku! Kau sungkan denganku karena aku ini lemah, kan?! Makanya kau lebih dekat dengan Herlin-chan daripada aku, kan?!"


"Siapa yang bilang begitu?! Aku bahkan menyelamatkanmu saat di atap waktu itu. Itu semua karena aku ingin membuat kita berteman lagi."


Kata-kata dari Iraya terus terngiang-ngiang di kepalanya meskipun itu sudah berlangsung cukup lama. Hasuki bahkan sampai izin pulang ke Kyoto dari Nagoya hanya karena pikirannya terganggu.


Setelah puas berteriak dan menendang-nendang kasur, Hasuki berhenti karena lelah sendiri dan menganggap kalau hal yang ia lakukan barusan tidak ada gunanya.


Lalu setelah itu ia terdiam dan berpikir sejenak. Lagi-lagi memikirkan kata-kata yang diucapkan Iraya waktu itu.


"Kata-katamu tidak bisa dipercaya, dasar pembohong," gumam Hasuki.


"Kelihatannya kau sedang bingung ya, Chifu."


"A-ayah?!"


"Ayah sudah mengetuk pintu dulu sebelum masuk, lalu ayah mendengar sedikit teriakanmu barusan. Makanya ayah langsung masuk ke dalam."


"Ma-maaf."


Nakamura kemudian berjalan mendekat dan mencoba menenangkan Hasuki yang sedang gundah saat ini. Ia duduk di sampingnya dan kemudian mengelus-elus kepalanya.


"Apa ini karena Satou Iraya lagi?"


"I-itu ...."


"Ayah benar, kan?"


Jawaban diam dari Hasuki seolah menjadi pembenaran dari tebakan yang dilakukan oleh Nakamura.


"Sudah ayah bilang bukan kalau Satou Iraya itu adalah pengaruh buruk bagimu. Dia hanya menerima orang-orang kuat untuk menjadi temannya."


"Soal itu ...."


"Apa kau tidak bisa melihat contohnya? Ririsaka Herlin, Murasaki Oita, lalu kakak kelasmu sendiri, Kurobane Mei. Mereka semua adalah orang-orang yang memiliki kekuatannya di bidang masing-masing."


"Ta-tapi Iraya bilang, kalau aku tidak perlu jadi kuat untuk—"


"Lalu kau percaya dengannya? Bahkan dengan bukti-bukti yang sudah ada di depan matamu?"


"...."


Hasuki lagi-lagi terdiam. Ia tidak punya kemampuan untuk membantah perkataan ayahnya karena dari dalam dirinya sendiri menganggap kalau apa yang dikatakan oleh ayahnya benar.


"Bahkan jika kau ingin kembali ke kehidupan lamamu, bukankah kau sendiri yang sudah menghancurkannya?"


"?!!"


Mata Hasuki melebar. Ia ingat kalau dirinya sendiri lah yang menghancurkan masa sekolahnya dengan membakar hidup-hidup temannya.


"Tidak ada jalan kembali bagimu, Chifu. Yang bisa kau lakukan sekarang hanyalah melangkah maju."


Nakamura terus meyakinkan Hasuki kalau jalan yang ia ambil saat ini telah benar. Dan kemudian Hasuki pun terdiam sejenak lalu turun dari tempat tidurnya.


Ia mengambil topeng yang baru saja ia lempar ke lantai lalu membersihkannya sedikit. Terdapat retakan kecil di topeng tersebut tapi itu tidak terlalu berpengaruh dan masih bisa dipakai, seperti yang saat ini ia lakukan.


Dengan penampilan jubah besar yang menutupi seluruh tubuhnya dan topeng yang menutupi wajahnya, Hasuki Chifu telah kembali berubah menjadi Delta.


"Aku mengerti, Ayah."


Seringai tercipta di wajah Nakamura seakan telah berhasil mendapatkan kembali apa yang hampir saja terlepas dari tangannya. Kali ini, Hasuki Chifu kembali berada di genggamannya.


"Benar. Memang seperti itu harusnya, Delta."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2