
Setelah aku dan Herlin gagal dalam meyakinkan Kurobane-senpai untuk bergabung dalam organisasi Black Rain, pada hari Minggu ini rencananya kami dengan Oita-san akan berkumpul di depan Himawari Orphanage untuk berangkat ke Tokyo.
Tapi Herlin menyuruhku untuk datang lebih pagi karena ada sesuatu yang perlu dikerjakan olehnya. Entah apa itu. Saat ini aku sedang berjalan ke Himawari Orphanage pukul 7 pagi.
"Hooaamm…" Aku menutup mulutku yang terbuka lebar karena menguap.
"Sebenarnya apa yang membuatnya menyuruhmu datang sepagi ini?" tanya Cecilia.
"Entahlah, kuharap itu urusan yang penting sampai mengganggu waktu tidur tambahanku di hari libur."
Setelah berjalan cukup lama, aku akhirnya sampai di depan Himawari Orphanage. Disana juga terlihat Herlin yang sedang berdiri menungguku sambil memainkan HP nya. Aku pun kemudian mendekatinya.
"Yo…"
"Kau telat."
"Itu salahmu karena menyuruhku datang jam segini. Lagipula ada urusan apa?"
"Kau akan segera tau setelah kita datang ke tempatnya. Ayo." Dia langsung berjalan pergi.
Aku kemudian berjalan menyusulnya dan dengan cepat berada di sampingnya.
**
Kami berjalan ke tempat yang belum pernah aku datangi. Ya sebenarnya banyak tempat yang belum ku kunjungi di kota ini karena aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Jadi ini adalah pertama kalinya aku kesini.
Herlin berjalan sambil terus memeriksa HP nya. Dia seperti seseorang yang sedang memeriksa apakah alamat yang ada di HP nya benar atau tidak.
Setelah berbelok dari satu blok ke blok lainnya, akhirnya kami berada di depan sebuah rumah besar bergaya jejepangan kuno.
"Jadi disini tempatnya," gumam Herlin.
"Tempat siapa?"
"Kau akan segera tahu."
Herlin sudah bersiap-siap memencet bel rumah itu. Tapi ada seseorang yang berjalan ke rumah yang sama dengan rumah yang kami tuju. Setelah melihat mereka, Herlin langsung berlari menjauhi pintu gerbang itu.
"Ayo kita sembunyi dulu."
"O-Oi! Ada apa?!"
Meskipun aku sebenarnya tidak tahu mengapa Herlin berperilaku seperti itu. Tapi entah kenapa tubuhku bergerak sendiri untuk ikut sembunyi dari orang-orang tersebut. Kami bersembunyi di balik tembok rumah lain yang tidak jauh dari rumah tujuan kami sebelumnya.
"Oi! Memangnya ada apa sih?!" tanyaku.
"Pelankan suaramu."
Aku pun melihat orang-orang yang tadi. Mereka berjumlah tiga orang dan berperangai garang dan menyeramkan. Salah satu dari mereka memencet bel pintu. Dan keluarlah seorang perempuan yang wajahnya tidak asing bagiku.
"Kurobane… senpai…"
"Ada apa?" ucap Kurobane-senpai kepada ketiga orang itu.
Wajahnya menunjukkan ketidaksukaannya terhadap mereka bertiga.
"Jangan pura-pura tidak tahu! Ini adalah hari terakhir kau akan melunasi hutang-hutang ayahmu, kan?!" ucap salah satu dari mereka.
"Jangan mengada-ada! Batas terakhirnya adalah Minggu depan! Jangan menggantinya seenakmu sendiri!"
Mereka berdebat cukup lama di depan pintu gerbang itu. Meskipun jalanan masih sepi karena waktu masih pagi, tapi perdebatan mereka sudah cukup untuk membuat keributan yang membangunkan warga sekitar.
"Jadi alasan dia mengikuti turnamen The One…?"
"Tentu saja karena uangnya. Sepertinya ayah Kurobane-senpai tidak mampu membayar hutangnya sehingga itu juga menjadi beban bagi dirinya."
"Jadi begitu…"
Aku kembali memperhatikan Kurobane-senpai yang masih berdebat dengan ketiga orang tersebut.
"Ngomong-ngomong, kau tau rumah Kurobane-senpai dari mana? Apa kau mencarinya sendiri?"
"Ah… tidak, aku mendapatkannya dari seseorang di sekolah."
"Di sekolah? Apa dia temanmu?"
"Soal itu…"
**
Beberapa hari sebelumnya, saat di sekolah. Herlin sedang berjalan ke toilet untuk membersihkan tangan dan setelah itu berniat untuk membeli minum. Herlin masih belum mendapatkan cara untuk membujuk Kurobane-senpai agar mau ikut dengannya.
Herlin berpikir , dia tidak sengaja bertabrakan cukup keras dengan seseorang sampai membuat barang-barang yang di bawa orang itu jatuh berserakan ke lantai.
"Aduh…"
"Ma-Maafkan aku! Aku tidak melihat jalan tadi! Aku benar-benar minta maaf!"
Orang yang menabrak Herlin membungkukkan badan sangat dalam tanda ia menyesali perbuatannya.
"Tidak apa-apa, seharusnya aku yang…" ucapan Herlin tergantung.
"… Kau… yang waktu itu?"
"Ah! Ririsaka-san!"
Orang itu memanggil nama Herlin dengan gembira. Sementara Herlin ingat kalau orang ini adalah perempuan yang ia tolong saat di bully di pinggir sekolah oleh anak-anak gadis lainnya.
"Kalau tidak salah… Kurohichi-san?"
"Kuromichi, tau… Kuromichi Anna."
"Ah benar, maafkan aku Kuromichi-san. Aku terlalu fokus sampai-sampai tidak sengaja menabrakmu."
Herlin kemudian mengambil barang-barang Kuromichi yang berserakan di lantai, yaitu sebuah buku tulis dan pensil. Tanpa sengaja Herlin melihat isi buku milik Kuromichi. Ada tulisan namanya dengan titik-titik disebelahnya, di bawahnya juga terlihat tulisan-tulisan seperti tanggal lahir, tempat tinggal, ID Line, dll.
"Kuromichi-san, ini…"
"Aah! Kau tidak boleh melihat isinya!" ucapnya panik.
Kuromichi langsung merebut buku yang ada di tangan Herlin dan menyembunyikannya dalam pelukannya dengan wajah memerah.
"Itu tadi… Apa jangan-jangan kau menulis biodata diriku di buku itu?"
__ADS_1
"..."
Kuromichi tidak langsung menjawabnya. Justru wajahnya semakin memerah karena pertanyaan dari Herlin. Setelah beberapa saat, dia mulai berbicara meskipun dengan terbata-bata.
"Bu-Bukan berarti aku ingin menyebarkannya atau bagaimana. I-Ini hanya hobiku saja."
"Hmm…"
Herlin sebenarnya tidak terlalu mengerti, tapi ia hanya mengiyakan pernyataan dari Kuromichi. Kemudian Herlin pun berinisiatif melakukan sesuatu.
"Ano… Kuromichi-san, mau duduk dan ngobrol sebentar?"
"Eh?"
Mereka berdua kemudian duduk di sebuah bangku taman yang ada di sekitaran area sekolah. Karena jam istirahat masih berlangsung, tidak ada salahnya menurut Herlin untuk berbicara sebentar dengannya.
Meskipun pada akhirnya ini jadi canggung. Kuromichi terus-terusan menunduk dengan wajah yang merah, sementara Herlin hanya memperhatikan tingkahnya dalam diam.
"Jadi…"
"Iya?!"
"Kau tidak perlu sepanik itu, aku tidak akan menanyakanmu yang aneh-aneh."
"Ah… Maafkan aku Ririsaka-san, aku ini orangnya kelewat canggung dan tidak bisa menatap mata lawan bicaraku. Itu akan membuatku tidak nyaman."
"Hmm… Kalau begitu coba tatap mataku," ucap Herlin.
"Eh…?! Ka-Kan sudah kubilang…"
"Coba saja."
"Ba-Baiklah."
Kuromichi menghadapkan tubuhnya ke arah Herlin. Dia fokus menatap iris mata Herlin yang berwarna kehijauan. Sepuluh detik sudah berlalu dan wajah Kuromichi sudah merah padam dan kembali menunduk untuk menyembunyikan wajahnya.
"Sudah kuduga kalau itu mustahil."
"Mungkin kau hanya butuh waktu."
Herlin kembali memperhatikan Kuromichi dalam diam. Dia melihat kearah buku yang ada di pelukannya. Buku yang sepertinya sangat penting baginya.
"Kuromichi-san, apa kau mau tau biodata ku?"
"Eh?! Apa boleh?!"
Ekspresi terkejut sekaligus senang terpancar dari wajah Kuromichi. Walaupun yang diberikan Herlin hanyalah sebuah biodata, tapi entah kenapa rasa senangnya tidak wajar.
"Ya boleh saja. Tapi kenapa kau senang sekali?"
"Ini pertama kalinya aku mendapatkan biodata seseorang dari orangnya langsung. Biasanya aku melakukan riset yang sulit hanya untuk mendapatkannya."
"Ah. Begitu." Herlin tidak terlalu mengerti.
Kuromichi kemudian membuka buku dan memegang pensilnya bersiap untuk menulis.
"Jadi, siapa nama lengkapmu?!" Dia bertanya layaknya wartawan profesional.
"Ririsaka Herlin."
"Selanjutnya, berapa tanggal lahirmu?"
"31 Oktober."
"Wah! Bertepatan dengan perayaan Halloween! Kau pasti orang yang suka dengan hal yang mistis ya, Ririsaka-san?"
"Aku tidak membencinya, sih."
Mereka berdua terus melakukan wawancara singkat cukup lama.
"Wah!" Kuromichi mengarahkan bukunya keatas dan melihatnya seperti sebuah harta karun.
"Apa kau puas?"
"Nn! Terima kasih banyak, Ririsaka-san!"
"Sekarang apa aku boleh bertanya padamu?"
"Eh? Boleh saja sih. Tapi itu tergantung pertanyaannya juga," ucap Kuromichi yang kembali tersipu.
"Kau banyak menulis biodata orang-orang di sekolah, kan?"
"Nn, meskipun aku hanya menulis biodata orang-orang yang menarik perhatianku saja."
"Apa kau tau tentang Kurobane Mei-senpai?"
"Aku tau. Lagipula dia itu orang yang terkenal di sekolah ini. Hah… Parasnya yang cantik dan tubuhnya yang bagus, dia juga pernah memenangkan perlombaan memanah tingkat nasional. Benar-benar perwujudan seorang perempuan sempurna." Kuromichi memujinya sampai-sampai kehilangan fokus.
"Boleh aku melihat biodata nya?"
"Boleh saja sih, tapi untuk apa?"
**
*Sekarang*
Herlin mengingat peristiwa aneh itu yang ia pikir adalah sebuah keberuntungan dari sifat baiknya kepada seseorang.
"… Ya bisa dibilang kalau kami berteman."
"Jadi kau belum yakin kalau kau temannya?"
"Lupakan soal itu untuk sekarang. Lihat itu, sepertinya perdebatan mereka semakin panas."
Aku melihat kearah Kurobane-senpai seperti sedang menahan amarah. Dia menunduk dan menggigit bibirnya untuk membantunya menahan marah.
"Pokoknya…! Aku tidak menerima alasan lagi! Kau harus membayarnya sekarang atau kau harus keluar dari rumah ini!"
"…"
"Oi! Kau dengar tidak?!"
Salah satu dari mereka mengarahkan pisau yang ia keluarkan dari dalam kantong bajunya kearah wajahnya. Tapi Kurobane-senpai tidak terlihat gentar sedikitpun.
__ADS_1
"Ini gawat!" Aku berusaha untuk keluar dan mencoba menyelamatkannya, tapi Herlin mengisyaratkanku untuk berhenti dan diam saja.
Sementara Kurobane-senpai yang tadi diam kini mulai berbicara.
"Bisakah…"
"Hah?!"
"Aku bilang… bisakah… KAU TUNGGU SEBENTAR LAGI ?!"
Swuuushh…
Tiba-tiba sebuah hembusan kencang tercipta di sekitaran tubuh Kurobane-senpai yang menerbangkan pisau yang tadi diarahkan kepadanya. Berbarengan dengan tatapan membunuh yang ia berikan ke tiga orang itu.
"Ap-Apa yang terjadi?"
Dua orang yang lainnya pergi meninggalkan temannya karena ketakutan dan akhirnya mereka semua pergi dari sana.
"Ja-Jangan pikir kau bisa lolos dari hutangmu!" Sambil berlari menjauh.
"Fyuuhh..."
Saat Kurobane-senpai berencana untuk masuk ke dalam. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara yang memanggilnya.
"Cara senpai licik juga, ya. Untuk mengusir mereka."
"Eh…? Kau?" Kurobane-senpai melihat ke arah Herlin dan kemudian kearahku.
Aku hanya memberi salam dengan sebuah senyum kaku. "Selamat pagi."
"Apa yang kau inginkan? Bukankah aku sudah menolakmu?"
"Mungkin itu benar. Tapi sayang sekali, aku tidak akan berhenti sampai senpai menerima tawaranku," ucap Herlin.
"Hah… Kenapa kau sangat bersikeras untuk mengajakku bergabung? Apa tidak ada orang lain?"
"Hanya senpai yang aku tahu untuk saat ini. Lagipula aku juga tidak bisa begitu saja mempercayai orang asing."
"Lalu kau mempercayaiku begitu?"
"Setidaknya senpai satu sekolah denganku. Jadi jika senpai macam-macam, aku dapat dengan mudah menemukanmu."
Herlin dan Kurobane-senpai berbicara cukup lama dengan topik yang berputar-putar, dia sepertinya tetap teguh pada pendiriannya kalau dia tidak ingin bergabung dengan kami. Aku yang ingin berbicara sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk masuk ke dalam percakapan mereka.
"Ano, Kurobane-senpai!"
"Hn?"
Setelah bicara cukup keras, akhirnya perhatian mereka tertuju padaku.
"Saat ini senpai sedang memerlukan uang kan?"
"Itu bukan urusanmu." Jawaban yang singkat dan padat itu serasa langsung menusuk ke dadaku.
"Me-Meski itu bukan urusanku, tapi senpai akan melakukan apapun untuk mendapatkan uang yang banyak secepat mungkin kan?"
"Ya itu benar juga." Pandangannya tertuju kearah lain seolah sedang membayangkan sesuatu.
"Kalau begitu kenapa menolak tawaran kami?"
"Sebelum aku menjawabnya, mari masuk dulu," ucap Kurobane-senpai.
Sepertinya perdebatannya dengan orang sebelumnya sudah mengundang banyak perhatian. Daripada kedatangan kami menjadi sebuah bahan pembicaraan, akhirnya Kurobane-senpai mempersilahkan kami masuk.
Di dalam rumah, suasananya benar-benar seperti rumah Jepang kuno. Dengan pekarangan bunga kecil dan kolam ikan koi di halaman rumahnya. Kami kemudian dipersilahkan duduk di ruang tamu.
"Jadi, menyambung pembicaraan yang tadi. Sebenarnya aku memang benar-benar butuh uang."
"Jadi kenapa…"
"Tapi aku tidak mau sampai mempertaruhkan nyawaku. Orang yang melakukan hal seperti itu adalah orang bodoh."
"Entah kenapa sepertinya senpai harus minta maaf dengan petugas pemadam kebakaran dan tentara atas perkataanmu barusan," gumamku.
"Soal itu ya…" Herlin kemudian berbicara.
"… Bagaimana kalau kami membuktikannya langsung? Jadi senpai bisa percaya kalau kami berdua bisa membuatmu merasa aman."
"Dan bagaimana caramu membuktikannya?"
"Sekarang senpai bisa ikut dengan kami berdua. Kami akan buktikan kalau kami tidak selemah yang senpai kira," ucap Herlin dengan nada serius.
"Tapi bukan berarti aku akan langsung menerima tawaranmu setelah aku melihatnya, loh."
"Terserah, senpai bisa memutuskannya setelah melihatnya sendiri. Kami akan menunggu di depan."
Herlin kemudian berdiri dan berjalan keluar dari ruang tamu. Aku pun kemudian mengikutinya.
Sementara Kurobane-senpai berjalan ke kamarnya untuk mengganti baju dan bersiap-siap. Setelah siap, dia kemudian berpaling ke ruangan tertutup yang ada disebelahnya.
Ia masuk ke dalam dan terlihat seorang pria tua yang sedang berbaring. Kecuali infus yang menancap di nadinya, dia seperti orang yang tidur lelap seperti biasanya.
Kurobane-senpai kemudian mendekatinya dan mengelus lembut kepalanya. Lalu ia membisikkan sesuatu kepada pria tua itu.
"Aku pasti akan melunasinya, Ayah. Aku janji."
**
Sementara itu, Aku dan Herlin sedang menunggu di halaman depan rumah. Aku masih memiliki sedikit keraguan apakah Kurobane-senpai mau bergabung atau tidak.
"Nee Herlin, bagaimana jika dia tetap tidak ingin bergabung dengan kita?"
"Tenang saja, yang saat ini ia butuhkan adalah uang. Dan kita adalah jawaban yang tepat baginya."
"Semoga saja begitu."
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Kurobane-senpai keluar dengan pakaian yang lebih rapi dan siap untuk pergi.
"Jangan anggap ini sebagai jawaban iya dariku. Aku akan memastikannya sendiri disana," ucap Kurobane-senpai.
"Iya, iya."
Akhirnya kami berhasil membujuk Kurobane-senpai untuk ikut kami ke Tokyo. Dan disana kemampuanku yang akan menjadi penentunya.
__ADS_1
Bersambung