
Kembali ke para Assassin yang berada di Nagoya. Mereka terlihat cukup santai dan luang untuk beberapa hari belakangan ini. Lagipula tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu persiapan dari Seana. Karena dia adalah aktor utama di penyerangan berikutnya.
Dan sambil menunggu dan mengisi waktu luang itu, Astaroth memberikan kebebasan pada mereka untuk melakukan apapun. Ivis memilih untuk bekerja di sebuah restoran sebagai tukang masak, ia melakukannya karena hobinya dan juga sekaligus mencari uang untuk membayar sewa kamar rumah susun ini.
Lalu Baram akhir-akhir ini sering pergi ke bagian hutan yang jarang dimasuki oleh manusia. Ia memilih untuk melatih daya tempurnya sebagai persiapan bertarungnya. Sementara Lennova yang masih bocah, ia sering berjalan-jalan di sore hari—meskipun jalan-jalannya dari satu atap gedung ke atap gedung lainnya.
Sementara Oita-san yang kini sudah kembali dari kematiannya dengan memakai tubuh orang lain, dengan sangat cepat sudah bisa menyesuaikannya dan sudah bisa membangkitkan kemampuan Exception-nya lagi.
Rumah susun yang ditempati oleh para Assassin saat ini bisa di bilang tidak begitu luas karena pada awalnya mereka berpikir untuk tinggal dengan tiga orang saja, tapi sekarang jumlahnya bertambah menjadi tujuh orang. Jadi mereka berpikir untuk mencari tempat yang lebih luas lagi.
Kesampingkan dulu masalah itu. Kali ini kita akan berfokus pada Oita-san. Karena ruangan di dalam sangat sempit, jadi tempat kesukaannya di tempat ini adalah balkon rumah susun. Ia sering melamun dan memperhatikan orang-orang lalu lalang di bawahnya.
Kali ini ia sedang melakukan hal yang disukainya setelah bangkit dari kematian, yaitu melamun. Ingatan sebelum ia mati terlintas samar-samar di kepalanya saat ini, apalagi ia memakai tubuh baru yang baru ia pakai selama beberapa minggu. Jadi ingatan orang sebelumnya dan ingatannya bercampur sehingga ia suka pusing sendiri.
Meskipun ingatannya samar-samar, tapi ia tidak sedikitpun melupakan Black Rain. Ishikawa-san, Iraya, dan juga Herlin masih terpatri di dalam benak terdalamnya meskipun sudah berganti tubuh. Dan sekarang ia merasakan rindu dan ingin bertemu dengan mereka.
Tapi Oita-san memiliki sebuah masalah.
Ia melihat pada telapak tangannya lalu mengepalkannya. Ia menyadari kalau ia tidak bisa mengendalikan tubuhnya terlalu bebas, di dalam otaknya selalu saja merasa kalau ada mata yang selalu mengawasi setiap pergerakannya. Dan dengan cepat Oita-san sadar kalau ini adalah teknik dari anak itu—Seana.
Dan kalaupun Oita-san melawan, pasti tubuhnya akan mengalami sakit luar biasa yang membuatnya dapat pingsan. Jadi ia tidak bisa bergerak terlalu gegabah.
"Yosh ...." Oita-san kemudian memutuskan untuk berjalan turun. Tapi saat turun, langkahnya terhenti karena ada seseorang yang berdiri bersandar di tembok di depannya.
"Kau mau kemana?" Orang itu adalah Astaroth.
"Apa aku harus memberitahumu setiap kali aku ingin pergi? Bukankah itu bukan urusanmu."
"Oh ayolah, kita ini sekarang sudah bekerja bersama. Semua urusanmu adalah urusanku."
Ucapannya itu entah kenapa membuat Oita-san kesal. Tapi ia tidak mau menunjukkannya karena berpikir itu tidak perlu. Jadi dia tidak menghiraukannya lebih jauh lagi dan melanjutkan langkahnya.
"Kau ingin pergi ke Kyoto, kan?"
"...!"
Seakan bisa membaca pikirannya, jawaban tepat dari Astaroth membuat langkah Oita-san kembali berhenti, kali ini karena terkejut.
"Sepertinya dugaanku benar."
"Lalu apa yang akan kau lakukan? Melaporkanku pada bocah perempuan itu?"
"Haha .... Tentu saja tidak. Aku perlu membangun kepercayaan denganmu agar kita bisa bekerja sama untuk kedepannya nanti. Lagipula aku tidak perlu melakukan hal itu, karena dia sudah pasti mengetahui semua yang kita lakukan itu."
"Jadi apa maumu?"
"Aku hanya penasaran dengan tujuanmu pergi ke Kyoto. Tidak mungkin kau mengaku kalau kau adalah Murasaki Oita di depan mereka, kan? Kau bisa dianggap gila soalnya."
"Aku bisa saja melakukannya. Dengan sedikit penjelasan aku yakin mereka akan percaya kalau aku adalah Murasaki Oita yang mereka kenal. Tapi ...."
"Tapi?"
Oita-san kembali melihat ke arah telapak tangan miliknya. "... Bukan itu tujuanku."
"Aku hanya ingin melihat mereka dengan mata kepalaku sendiri. Sudah sejauh mana perkembangan yang mereka lakukan selama aku tidak ada. Aku perlu tahu hal itu, karena aku akan menghadapi mereka nantinya."
Benar. Oita-san sudah meyakinkan dirinya dengan tubuh ini dan kebangkitan dirinya, dia akan melawan Iraya dan yang lainnya dalam waktu dekat ini. Oleh karena itu selagi masih sempat, ia ingin menemuinya dalam keadaan damai.
"Jadi kau berharap pada mereka?"
"Ya." Oita-san kemudian menengok dan memberikan tatapan serta senyuman optimistis kepada Astaroth. "Aku yakin hanya mereka yang bisa membunuhku dan aku juga yakin meskipun tanpa diriku, rencanamu akan gagal lagi, Astaroth."
Perasaan optimistis yang ditunjukkan oleh Oita-san membuat Astaroth sedikit terkejut. Orang terkuat yang pernah ia lawan berharap pada sekumpulan bocah yang kekuatannya hanya sebesar kerikil. Tapi rasa optimis itu kemudian dibalas dengan seringai oleh Astaroth.
"Aku menantikannya, lho."
Astaroth yang bersandar di tembok kemudian berjalan turun melewati Oita-san, tapi sebelum itu ia sempat berbisik padanya.
"Silahkan saja kalau kau ingin ke sana. Rencananya hari ini aku juga akan pergi ke sana untuk menemui seseorang."
"Hn?"
Tapi Astaroth tidak membahasnya lebih lanjut dan langsung pergi meninggalkan tempat itu. Oita-san juga tidak peduli dengan apa yang diucapkan Astaroth meskipun ia sedikit bingung.
**
Setelah berjalan—lebih tepatnya berlari dari Nagoya ke Kyoto, seperti yang ia lakukan ketika dirinya ingin berdiskusi dengan Ryuzaki dari Kyoto ke Tokyo, akhirnya ia sampai juga di Kyoto.
"Hah ... hah .... Kenapa aku sangat kelelahan begini? Padahal biasanya tidak semelelahkan ini. Ahh~"
Oita-san baru ingat kalau ia tidak memakai tubuh lamanya. "Aku lupa kalau ini tubuh orang lain."
Tubuh barunya saat ini benar-benar mempengaruhi kekuatannya cukup besar. Tapi ia malah tersenyum senang karena itu, hal itu berarti dirinya tidak sekuat saat sebelum ia mati.
__ADS_1
Oita-san menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pemikiran dan senyumannya. Ia saat ini sudah berada di depan Cafe yang ia bangun serta menjadi markas dari Black Rain.
Tidak banyak yang berubah semenjak ia terakhir melihatnya, hanya cat luarnya yang diperbaharui dan suasananya yang lebih ramai dari biasanya. Dan setelah itu, Oita-san pun masuk ke dalam.
Kriing...
Setelah di dalam, ia melihat kondisi Cafe yang cukup ramai di dominasi oleh banyak murid-murid berseragam. Karena kebetulan Oita-san datang saat murid-murid sudah jam pulang sekolah.
Lalu kemudian ada juga Yuuki-san dan Iraya yang sedang sibuk meramu serta menyajikan minuman dan makanan yang dipesan oleh para pengunjung. Iraya memakai celemek berwarna hitam dengan logo Haiiro Cafe kecil di atas tengah mengisyaratkan kalau ia juga telah bekerja di sini.
Saat Oita-san sedang melamun memperhatikan sekeliling di depan pintu, Iraya tiba-tiba melihat ke arah Oita-san dan melambaikan tangannya, bahkan ia juga menghampirinya. Itu membuatnya sedikit bingung karena tidak mungkin Iraya kenal dengan wujud Oita-san yang sekarang.
Kriing...
"Akhirnya kau datang juga, pengunjungnya sudah mulai ramai, nih," ucap Iraya.
"Aku tahu, aku tahu."
Saat Oita-san ingin membalas lambaian tangan Iraya, tiba-tiba bel pintu berbunyi dan seseorang melewati Oita-san—ia adalah Herlin. Iraya langsung memberikannya celemek hitam serta kertas catatan untuk mencatat pesanan para pelanggan.
"Selamat datang di Haiiro Cafe, anda mau pesan apa?" Setelah memakai celemeknya, Herlin langsung siap sedia menanyakan pesanan Oita-san yang dari tadi berdiri di sana.
"Aku mau pesan ... kopi, dan juga roti kalau bisa."
"Makan di sini atau di bawa pulang?"
"D-di bawa pulang."
"Nama anda?"
"Y-ya?"
"Saya harus mengetahui nama anda, agar bisa memanggil anda saat pesanan anda sudah siap."
Ini cukup buruk bagi Oita-san. Tidak mungkin ia memperkenalkan diri dengan nama Murasaki Oita, tapi ia juga belum punya nama pengganti. Jadi ia harus memikirkannya dengan cepat saat ini.
"O-o ...."
"O?"
"Okita ...."
Oita-san sadar kalau ia sangat buruk dalam memberikan nama. Nama dari Unique Skill-nya saja hampir tidak mempresentasikan kemampuan Unique Skill-nya itu sendiri. Sekarang dia hampir memperkenalkan dirinya dengan nama yang mirip dengan nama aslinya.
"Baik, Okita-san. Silahkan bayar terlebih dahulu di meja kasir dan akan kami panggil saat pesanan anda sudah jadi."
Pada akhirnya, Oita-san berhasil melewati hal itu dan kini tinggal menunggu saja pesanannya sampai dan ia akan segera pergi dari sini. Tujuannya untuk melihat keadaan Herlin dan yang lainnya telah terpenuhi dan setelah menunggu sekitar sepuluh menit, pesanan Oita-san akhirnya datang.
"Okita-san!" panggil Herlin.
"Hadir!" Oita-san kemudian berdiri dan mengambil pesanannya. Tapi sebelum ia benar-benar pergi, ia masih ingin sedikit berbincang-bincang dengan Herlin.
"Cafe ini cukup ramai, ya?"
"Hmm? Ah, iya begitulah. Tapi suasana ini baru terjadi akhir-akhir ini, biasanya Cafe kami tidak seramai ini."
"Aku rasa kalian sudah bekerja keras."
"Ya, aku pikir begitu. Tapi kami hanya melanjutkan Cafe ini saja, orang yang memulainya sudah tidak ada di dunia ini lagi."
"Begitukah? Aku turut berduka untuknya."
"Terima kasih. Tapi meski begitu, dia orang yang tidak pernah mengeluh, meski sebesar apapun kesulitan yang dia alami, ia selalu tersenyum dan membuat kami tenang. Dan perkataan yang selalu membuat kami tenang itu adalah 'semuanya—"
"... Akan baik-baik saja', ya kan?"
"Y-ya, dia selalu berkata seperti itu kepada kami."
"Aku rasa dia bisa tenang sekarang. Karena kalian semua melakukan pekerjaan yang baik."
Herlin merasakan sesuatu yang aneh pada orang ini. Entah kenapa ia merasa familiar dengan tatapan serta ucapan orang yang baru ia lihat ini. Bahkan tanpa sadar, ia memanggilnya dengan nama lain.
"O-Oita-sa—"
"Herlin! Ini pesanan pelanggan meja nomor lima!"
Tapi suasana itu diganggu oleh Iraya karena pesanan pelanggannya sudah siap. Jadi, terpaksa Herlin harus mengantarkannya.
"Kalau begitu aku pergi dulu."
"Y-ya, terima kasih telah berkunjung ke Haiiro Cafe."
Oita-san kemudian keluar dari Cafe sambil membawa pesanannya. Ia menggenggam makanannya dengan erat. Ini adalah terakhir kalinya ia melihatnya sebagai orang asing, karena di pertemuan selanjutnya. Mereka akan saling berhadapan.
__ADS_1
"Aku mengandalkan kalian, Black Rain."
**
Sementara itu beberapa jam sebelum kedatangan Oita-san ke Haiiro Cafe, di rumah Iraya terlihat sepi karena hanya ada dua orang yang berada di sana—Caramel dan Tetsu.
Tetsu sendiri setelah beres-beres rumah dan memasak, karena tidak ada yang bisa ia lakukan lagi selain menunggu Iraya, ia pun kembali ke dalam pedangnya. Jadi praktis hanya ada Caramel saja di rumah.
Setelah pindah ke rumah Iraya, Caramel ini seperti seorang istri yang menunggu suaminya pulang kerja. Yang bisa ia lakukan hanya nonton TV dan kadang-kadang menjemur serta melipat baju.
Piip...
"Uwaah ... aku bosan!"
Caramel mematikan TV lalu meregangkan tubuhnya yang tidak melakukan apa-apa dari tadi. "Aku mau masuk ke sekolah Iraya, tapi usiaku sudah lewat dari masa SMA," gumam Caramel.
Dia sebenarnya ingin bekerja di Haiiro Cafe membantu mereka. Tapi Herlin langsung menolaknya. Ia berpikir semakin banyak orang yang kerja di sini, maka semakin banyak orang yang harus di gaji.
"Tch! Herlin sialan itu, gara-gara dia aku jadi bosan sekarang."
Untuk menghilangkan kebosanan, ia berkeliling di dalam rumah ini mulai dari dapur, ruang tamu, ruang makan. Lalu ke lantai dua di kamar ibunya Iraya—yang kini menjadi kamarnya, lalu ke kamar Iraya.
Dia sudah sering ke sini sekedar untuk tiduran di tempat tidurnya atau melihat-lihat keadaan kamarnya. Tidak ada majalah 'spesial' yang biasa di miliki oleh anak laki-laki seumuran Iraya, jadi kamar ini terkesan biasa saja.
Setelah puas berada di kamar Iraya, Caramel turun lagi dan kembali ke ruang keluarga. Walaupun ingin bersih-bersih, tapi ruangan in sudah terlanjur bersih karena Tetsu yang membersihkannya pagi tadi. Jadi sama sekali tidak ada debu di meja TV.
Caramel kemudian mengambil salah satu foto Iraya dan ibunya. Caramel ingat kalau dirinya termasuk salah satu orang yang membunuh orang tuanya Iraya, tapi Iraya sepertinya belum tahu soal hal itu.
"Apa aku sembunyikan saja ya fakta itu?"
"Fakta apa?"
"...?!!"
Caramel terkejut karena ada suara yang menyaut gumamannya. Dan setelah ia melihat orang tersebut, ia sangat terkejut dengan orang yang ia lihat saat ini.
"B-Bos?"
"Apa kau merindukanku, Caramel?"
Tapi Caramel tidak menjawab pertanyaan Astaroth. Ia terdiam dan tubuhnya gemetar ketakutan. Padahal kalau mendengar cerita dari Iraya dan yang lainnya, mereka telah berhasil membunuh Astaroth.
"B-Bos masih hidup?"
"Aku tidak mungkin mati semudah itu. Apa jangan-jangan kau meremehkanku?"
"Ti-tidak ... tidak mungkin aku meremehkanmu, Bos."
Caramel membuang wajahnya dan tidak ingin menatap wajah Astaroth secara langsung. Astaroth yang melihat ekspresinya kemudian kembali berbicara.
"Ini pertemuan kita setelah beberapa lama, dan aku punya pertanyaan untukmu. Apa yang kau lakukan di sini?"
"...." Caramel sudah menduga kalau Astaroth akan menanyakan hal itu. Jantungnya berdetak sangat kencang saat ini karena Astaroth bisa dengan mudah membunuh pengkhianat seperti dirinya.
"Apa anak itu sebegitu menariknya sampai-sampai kau bisa berkhianat dariku?"
"A-aku—"
Swuushh...
"Kalau bicara dengan seseorang, tatap matanya. Apa kau sudah lupa dengan sopan santun yang aku ajarkan padamu?"
Astaroth dengan cepat melesat ke arah Caramel lalu mengangkat dagunya agar mata mereka dapat bertatapan secara langsung.
"Jawabanmu selanjutnya akan menentukan nasibmu. Pikirkan hal itu baik-baik."
Caramel mengerti itu. Jika berbohong pada Astaroth sama saja dengan bunuh diri, makanya ia harus menjawabnya dengan jawaban yang memuaskan Astaroth.
Astaroth kemudian melepaskan dagu Caramel dan membiarkannya berbicara. Caramel juga sudah tahu jawaban yang akan diberikan kepada Astaroth.
"Aku ... aku menyukainya. Aku menyukai Satou Iraya, makanya aku memilihnya dari pada dirimu. Ia membuatku merasakan apa yang telah lama tidak aku rasakan lagi, aku bisa memberitahu semua keburukanku padanya dan dia tetap mau menerimaku.
Meskipun pada awalnya yang dikatakan olehnya terdengar seperti omong kosong belaka, tapi perlahan dia dapat membuktikan ucapannya yang terdengar mustahil itu. Aku ... aku sudah membulatkan tekadku. Aku memilihnya daripada kau, Bos."
Caramel benar-benar mengatakannya. Sambil menatap mata yang ia anggap tidak bisa ia tatap dengan tatapan yakin serta pembangkangan. Sementara Astaroth yang mendengar jawaban itu hanya bisa menghela nafas dan berjalan pergi dari sana.
Tapi sebelum pergi, ia sempat menengok dan berbicara sesuatu. "Jika kau memilihnya, baiklah. Tapi yang akan kau hadapi adalah aku. Kau lebih memilih jalan sulit daripada duduk manis di sampingku. Kebodohanmu melebih dugaanku."
"Ya, aku memang bodoh. Tapi jika kebodohan itu menuntunku pada jalan yang aku impikan, meskipun berat dan terlihat mustahil sekalipun, aku akan tetap menjadi bodoh."
"Lakukan semaumu. Tapi ingat kata-kataku ini. Orang yang kau pilih itu, kau akan menyaksikan kematiannya di depan matamu."
Astaroth pun kemudian pergi dari sana, meninggalkan Caramel dalam keheningan ruang tamu itu. Setelah dirasa sudah aman, Caramel kemudian terduduk di lantai dan menyandarkan tubuhnya pada meja TV.
__ADS_1
"Hah .... Aku hampir mati."
Bersambung