Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 53 : Anggota Baru Black Rain, Kurobane Mei


__ADS_3

Tiinit… Tiinit…Tiinit…


Bunyi alarm di ponselku berbunyi. Menandakan kalau waktu sudah pagi dan ini adalah waktunya aku untuk berangkat sekolah. Entah kenapa, pagi ini terasa sangat damai sekali. Tidak ada panggilan misi atau semacamnya. Hah… Aku ingin menikmati pagi ini lebih lama lagi sebelum siap-siap ke sekolah.


Gumpraaang… Praaang… Praaang…


Dan pagiku yang indah dan tenang pun hancur seketika bersamaan dengan bunyi ribut tadi.


"Aaarrrgghh!! Siapa yang mengganggu ketenangan pagi yang jarang kurasakan ini?!" Aku berteriak sekeras-kerasnya walaupun aku tahu kalau itu tidak ada gunanya.


"Sebaiknya kau periksa apa yang terjadi dibawah," ucap Cecilia.


"Grrghh…"


Aku pun berjalan kebawah dan bersiap untuk menghantam siapapun yang membuat suara gaduh tadi. Tapi saat aku baru turun dari tangga, suara itu kembali terdengar lagi.


Praaang… Praaang…


"Sialan! Kalau ngajak berantem jangan merusak rumahku!"


Aku yang sudah memasang pose siap untuk berkelahi terkejut karena keadaan ruang bawah yang berantakan. Panci dan wajan yang berada di lantai, piring-piring kotor yang tidak pada tempatnya dan beberapa diantaranya pecah, dan ada seorang anak kecil yang dengan riangnya bersenandung sambil terus mengacak-acak rumahku.


"Tetsu… apa yang sedang kau lakukan…?" ucapku gemetar menahan amarah.


"Hn? Ah… kau sudah bangun! Etto… siapa namamu lagi?"


Dia bertanya dengan wajah tanpa dosa dengan pensil yang sudah setengah dimakan di mulutnya.


"Namaku Iraya! Dan juga kenapa kau mengacak-acak rumahku?!"


Aku berteriak dengan sangat keras sampai membuat Tetsu dan Cecilia—mungkin menutup telinganya.


"Tidak usah marah-marah begitu. Aku hanya sedang mencari makanan di tempat ini."


"Terus kenapa kau mengacak-acaknya?!"


"Aku tidak begitu kok, saat aku melihat-lihat sekitar, yang kutemukan hanyalah wajan dan panci yang kebanyakan sudah gosong. Aku tidak menyukai wajan yang gosong ini, kerak bekas pembakarannya membuat cita rasa aslinya berkurang. Dan piring dan gelas di tempat ini rata-rata terbuat dari kaca dan plastik. Hah… tempat ini sungguh buruk."


"Aku tidak butuh informasi seperti itu!"


Rumahku sudah menjadi seperti tempat pembuangan sampah bagian piring dan panci.


"Ya ampun … pokoknya cepat kau bereskan. Rumah ini sudah cukup berantakan bahkan sebelum ada dirimu, jangan buat hal itu semakin buruk lagi."


"Eh~ tapi—"


"Sudah cepat kerjakan!"


"Cih …."


Tetsu memasang wajah cemberut, ia kemudian mengambil wajan dan piring-piring yang berserakan di lantai dengan malas dan sambil menggerutu. Tapi tunggu sebentar… apa ini tidak apa-apa? Maksudku seharusnya aku berteman dengannya agar kekuatan kami bisa maksimal, 'kan. Tapi bagaimana caranya?


Aku berpikir sebentar dan tiba-tiba saja aku mendapat sebuah ide yang brilian.


"Nee, Tetsu …."


"Hn? Apa lagi?"


"Bagaimana kalau kita membuat perjanjian?"


"Perjanjian?"


"Yap, perjanjiannya mudah sekali. Jika rumah ini sudah bersih saat aku pulang sekolah nanti, aku akan memberikanmu satu pack penuh pensil."


"Be-Benarkah?!"


Tetsu yang tadinya lemas langsung bersemangat dan menjadi kembali aktif. Matanya berbinar-binar ketika mendengar kalau aku akan memberikannya satu pack pensil.


"Tapi! Kau harus membereskan ini semua, jika tidak perjanjian kita batal."


Dia mengangguk-anggukan kepalanya dengan kencang.


"Jangan lupa untuk mencuci juga ya!"


"Baik~"


Ia mulai menaruh piring-piring dan wajan yang berserakan di lantai. Ia mengerjakannya dengan cepat dan gesit sekali, seperti seorang profesional. Hehe… dengan begini aku bisa terus membangun kepercayaan dengannya sekaligus rumah rapih.


"Kau menyuruh sebuah Spirit untuk melakukan pekerjaan rumah? Terlebih lagi dia adalah Spirit yang dulu menjadi legenda di negeri ini. Apa otakmu baik-baik saja?" ucap Cecilia.


"Hehehe … Kau tidak akan paham Cecilia. Ini seperti melempar dua burung dengan satu batu! Hahaha!"


"Aku benar-benar tidak mengerti."


"Kalau begitu kau lanjutkan saja bersih-bersihnya, aku ingin bersiap ke sekolah," ucapku sambil berjalan pergi.


"Ah … hati-hati, karena disitu—"


Gumpraaang…


Sebelum Tetsu menyelesaikan kata-katanya, aku sudah terjatuh duluan karena minyak tumpah yang berasal entah dari mana.


"—licin …."


"Kenapa tidak bilang dari tadi !!!" teriakku yang masih tergeletak di lantai.


**


"Grrghh … Sepertinya Spirit itu hanya bawa masalah saja!"


Aku pun berangkat sekolah dengan perasaan kesal. Orang-orang disekitarku menjauhiku karena tanpa sadar aku mengeluarkan aura menyebalkan.


"Awas nak, orang itu kayaknya abis bunuh orang," ucap seorang ibu-ibu sambil menyuruh anaknya menjauh dariku.


"Bu, akhir-akhir ini penjahat banyak yang kabur dari penjara. Saya takut kalau salah satu dari mereka ada di dekat sini."


"Iya Bu, saya juga khawatir."


Tatapan mereka mengarah kepadaku. Apa yang mereka maksud adalah aku? Orang-orang ini.


"Grrgh …."


Aku langsung menatap balik mereka dengan tatapan yang menyeramkan. Kedua ibu-ibu itupun langsung berteriak dan lari ketakutan.


"Hah … Dasar ibu-ibu."


"Apa sih yang dari tadi kau lakukan?"


Tiba-tiba ada seseorang yang memanggilku dari belakang. Aku menengok dan melihat seorang perempuan berseragam sekolah dengan rambut pirang kuncir kuda dan kacamata—Herlin.


"Apanya?"


"Lagian dari tadi aura yang kau keluarkan membuatmu menjadi seperti seorang penculik yang sedang mencari mangsanya."


"Mana ada!"


Aku pun mencoba untuk menjadi biasa lagi dan memperbaiki suasana hatiku. Dan setelah itu kulakukan, akhirnya Herlin ingin berjalan di sampingku lagi.


Hening yang terjadi beberapa saat dipecahkan oleh Herlin dengan berbicara sesuatu tentang latihan.


"Hari ini kita latihan di tempat biasa."

__ADS_1


"Iya."


Keheningan kembali terjadi lagi setelah pertanyaan itu. Sekarang giliran ku yang memecah keheningan dengan mengajaknya bicara.


"Kau tidak mengajak senpai?"


"Tadinya aku ingin mengajaknya, tapi aku tidak tau nomor teleponnya. Jadi sekalian saja nanti aku ajak kalau bertemu."


"Begitu."


Setelah itu kami tidak berbicara lagi sampai di sekolah dan pada saat jam pelajaran.


**


Saat jam istirahat, seperti biasa aku, Herlin, dan Hasuki-san makan makanan kami bersama ditemani oleh tatapan-tatapan cemburu dari teman-teman kelasku yang lainnya. Saat aku sedang menikmati tatapan iri mereka, tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke kelas dan mencari aku dan Herlin.


Orang itu masuk dengan santainya seakan itu adalah kelasnya sendiri. Seorang kakak kelas yang menjadi primadona di sekolah ini dengan prestasi dan kecantikannya—Kurobane-senpai.


Kedatangannya ke kelas ini menjadi pertanyaan bagi orang-orang yang ada di kelas. Sedang apa seorang yang sangat di kagumi di sekolah datang ke kelas biasa ini—meskipun di kelas ini ada Hasuki sih, si gadis idaman sekolah.


"Jadi apa yang ingin kau katakan kepadaku?"


"Ah soal itu, aku minta id LINE dan nomor telepon senpai. Karena kedepannya itu akan sangat dibutuhkan," ucap Herlin.


"Begitu."


Kurobane-senpai langsung mengeluarkan Smartphone nya dan bertukar nomor telepon dan id LINE dengan Herlin. Setelah selesai, ia kemudian menengok kearahku.


"Apa kau mau juga?"


"Eh? Y-Ya boleh saja sih."


Setelah itu aku pun juga mendapatkan kontak milik Kurobane-senpai.


"Apa hanya begitu saja? Kalau begitu sampai jumpa."


Kurobane-senpai langsung pergi begitu saja setelah urusannya selesai. Sepertinya karema sifat tak acuh dan keanggunan itulah yang membuatnya menjadi primadona sekolah.


"Nee Herlin, Bagaimana caramu menghubunginya agar dia bisa kesini?"


"Itu …."


Herlin kemudian mengingat bagaimana caranya ia bisa menghubungi Kurobane-senpai. Dia menggunakan kekuatannya dan menerbangkan sebuah kertas kecil yang ia kirimkan ke Kurobane-senpai saat jam pelajaran.


"… Aku menggunakan kekuatanku."


"Heh~ …."


"Sa-Satou-kun …."


"Hn? Gekh!"


Aku tidak menyadarinya, tapi teman-teman sekelasku terutama yang laki-laki tiba-tiba mengelilingiku dengan jarak yang sangat dekat.


"Kau tadi mendapatkan kontak milik Kurobane-senpai, 'kan?"


"Ti-Tidak! Itu bukan seperti yang kalian pikirkan! Yang ia berikan tadi adalah …."


Aku mencoba berpikir cepat dan menjawab apa saja yang pertama kali terlintas di dalam pikiranku.


"… Itu daftar hutangku. Benar! Itu adalah daftar hutangku ke dia! Jadi dia ingin aku membayarnya dengan segera."


"Kau bohong …."


Sepertinya jalan pikiran mereka sudah tidak sehat. Aku sudah tidak aman lagi berada disini. Aku dengan perlahan berjalan menuju keluar kelas. Mereka semua mengikuti seperti orang-orang yang kelaparan.


"Ma-Maafkan aku! Tapi aku tidak bisa memberikannya!" ucapku sambil lari kabur dari kelas.


"Tunggu!"


"Berikan aku nomor teleponnya juga!"


Hari itu, waktu istirahat di kelas menjadi sangat tidak kondusif bagiku.


**


Setelah menjalani hari yang berat dan melelahkan di sekolah, akhirnya waktu pulang sekolah yang aku nantikan tiba. Entah apalagi yang akan terjadi nanti aku pun tidak tahu. Yang pasti saat ini aku ingin mandi lalu istirahat sebentar sebelum pergi latihan.


Cekrek…


"Aku pulang … Eh?"


Aku terkejut saat memasuki rumah. Rumah yang tadinya hampir tidak bisa dibedakan dengan pembuangan sampah akhir, kali ini benar-benar bersih dan rapi. Lantainya juga mengkilap dan wangi dari pembersih lantai semerbak mengeluarkan sensasi segar ketika masuk ke dalam rumah.


Seorang gadis kecil kemudian keluar dari ruang tamu menyambut kedatanganku.


"Selamat datang! Wah kau sudah pulang!" Tetsu muncul dengan wajah ceria.


"Tetsu … kau yang melakukan semua ini?"


"Nn! Sesuai yang sudah aku janjikan!"


Spirit ini benar-benar bisa diandalkan. Aku tidak perlu membersihkan rumah lagi mulai hari ini. Aku sudah memiliki asisten rumah tangga yang sempurna!


"Jadi kau menganggapnya asisten rumah tangga?" tanya Cecilia datar.


"Jadi—"


"Hmm?"


Tetsu tiba-tiba berbicara dengan wajah malu-malu dan nada yang rendah.


"—bagaimana dengan janjimu pagi tadi?"


Janji? Tadi pagi? Apa aku menjanjikan sesuatu dengannya? Semua kejadian di sekolah tadi tiba-tiba membuat kemampuan ingatanku berkurang. Aku pun berusaha untuk mengingat janji yang tadi mungkin sudah kami buat.


Setelah mencoba untuk mengingatnya, akhirnya aku berhasil mengingat janji kami tadi pagi.


"Akh! Aku lupa …."


Ekspresi Tetsu langsung berubah. Keceriaan yang terpancar sejak aku pulang tiba-tiba langsung berubah saat aku bilang kalau aku lupa membelinya. Air mata keluar dari matanya.


"Ti-Tidak mungkin …."


"Waakh Te-Tetsu-chan! Ja-Jangan menangis! Aku akan membelinya! Aku akan membelinya! Tunggu sebentar! Kumohon tunggu sebentar!"


"Padahal a-aku sudah bekerja keras …."


"Kau membuat seorang gadis kecil menangis, kau yang terburuk," ucap Cecilia.


"Ak-Aku akan segera kembali!"


Tanpa mengganti baju seragam atau yang lainnya, aku pun langsung bergegas menuju ke toko ATK terdekat untuk membeli satu pack pensil.


**


Kurobane Mei PoV


Setelah menjadi seseorang yang selalu dikagumi di sekolah, di rumah aku tidak lebih hanyalah seorang anak gadis yang rapuh. Yang menangis hampir setiap hari melihat ayahnya yang dalam kondisi koma.


"Aku pulang."

__ADS_1


Tidak ada yang membalas dan menyambut kedatanganku dan hal itu sudah menjadi hal biasa bagiku. Melewati keheningan sisa-sisa hari tanpa hiburan atau hal lainnya.


Aku bergegas menuju kamarku untuk mengganti baju dan membereskan rumah. Walaupun keadaan rumah tidak terlalu kotor, tapi aku terus membersihkannya setiap harinya. Setelah selesai, aku ingin sedikit bersantai dengan menonton TV. Tapi rasa lapar di perutku berkata lain.


Aku berjalan ke arah dapur dan memeriksa lemari makan apakah ada yang bisa aku makan atau tidak. Hanya beberapa cup ramen instan saja yang tersisa saja di sana dengan beberapa jenis sayuran lainnya.


"Sepertinya cup ramen saja cukup," ucapku sambil mengambil sebuah cup ramen.


Aku menuangkan air panas ke dalam cup ramen itu dan menutupnya selama tiga menit. Tiba-tiba smartphone ku berdering.


LINE~


Aku mengambilnya dan membacanya. 'Ini Herlin. Segera datang ke tempat yang akan kuberikan' Setelah aku selesai membaca pesan pertama, ada pesan kedua yang berbentuk google maps. Ia memberikan lokasi tempatnya berada sekarang.


"Hah … Sepertinya aku tidak bisa istirahat lama-lama," desahku.


Aku pun memakan cup ramen itu dengan cepat dan langsung bersiap untuk pergi. Sebelum pergi, aku sempat berpamitan dengan ayahku.


"Aku pergi dulu, Ayah."


**


Aku berjalan mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Herlin. Aku terus berjalan sampai ke tempat yang belum pernah ku jelajahi sebelumnya. Tempat tersebut berada di bukit bagian belakang dari kota ini.


"Apa benar kesini?"


Aku kemudian memasuki sebuah jalan setapak untuk terus masuk lebih dalam. Setelah berjalan cukup dalam, aku bisa mendengar sayup-sayup suara teriakan


Itu adalah suara teriakan dari laki-laki yang aku berikan nomorku sebelumnya—Satou-kun dan temannya Herlin yang sedang dalam posisi berhadapan.


Mereka berdua sedang sangat fokus bahkan kehadiranku pun saat ini dihiraukan oleh mereka berdua. Kondisi Satou-kun yang kotor dan terengah-engah berbanding terbalik dengan Herlin yang masih bersih dan berdiri santai.


"Mana kemampuanmu saat melawan Hayashi saat itu?"


"Hah … hah … berisik!"


"Kukira aku sudah bisa mengakui kekuatanmu. Ternyata kau masih jauh dari kata-kata itu."


"Baiklah … Aku akan mengeluarkan semuanya sekarang."


Bzztt… Bzztt…


Satou-kun mengeluarkan percikan-percikan listrik dari sekujur tubuhnya. Aura yang kuat dan menyeramkan juga terasa di sekitarnya.


"Aku tidak akan diam saja loh."


Ziiing…


Herlin juga tidak tinggal diam. Aura yang ia keluarkan juga tidak kalah mengerikan dari Satou-kun. Tanah yang berada disekitarnya terangkat dan membentuk bongkahan-bongkahan tanah dengan ukuran yang bervariasi, bahkan ada yang lebih besar dari ukuran tubuhku.


"A-Ano … Etto … Aku sudah datang loh …" ucapku tapi tidak mereka hiraukan.


"Bersiaplah!" ucap mereka bersamaan.


Mereka berdua kemudian mulai menyerang. Satou-kun yang melesat dengan cepat, meninggalkan bekas percikan listrik di tanah yang ia pijak sebelumnya. Sementara Herlin dengan puluhan bongkahan batunya menerjang dengan kecepatan peluru.


Aku yang melihat mereka dan merasa diabaikan merasa sedikit kesal. Kemudian aku menarik nafas dalam-dalam dan berteriak sekeras-kerasnya.


"KALIAN DENGAR AKU TIDAK ?!!"


"Eh?"


Setelah aku berteriak, latihan—atau lebih tepat disebut pertarungan mereka pun berhenti. Satou-kun yang ditubuhnya masih terlihat percikan-percikan listrik yang perlahan menghilang dan Herlin yang melepaskan kekuatan ESPer pada bongkahan-bongkahan batu tersebut, kemudian menatapku dalam diam.


"Ah! Senpai sudah datang, selamat datang."


"Nn, selamat datang."


Mereka dengan santai menyambutku setelah hampir saja membunuh satu sama lain seolah itu bukanlah apa-apa.


"Etto … boleh aku bertanya sesuatu?" tanyaku.


"Apa itu?"


"Misalnya aku tidak menghentikan kalian tadi, apa yang akan terjadi?"


Mereka berdua saling memandang, lalu Satou-kun menjawab pertanyaanku sambil menggaruk kepala belakangnya.


"Ahaha … mungkin saja tempat ini akan hancur dan kita harus pindah tempat pertemuan dengan senpai. Ya kan, Herlin?"


"Tehe." Herlin menyebut kata itu dengan nada datar yang seharusnya dilakukan dengan ekspresi lucu.


"Hah …." Aku benar-benar tidak mengerti dengan anak-anak ini.


"Karena senpai sudah datang, bagaimana kalau kita melakukan latihannya? Apa senpai siap?" tanya Herlin.


"Y-Ya."


Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba aku menjadi takut setelah melihat pertarungan mereka berdua tadi. Tapi aku refleks mengiyakan saja.


"Kalau begitu aku akan membeli minum," ucap Satou-kun yang langsung pergi.


"Kalau begitu bisa kita mulai?"


"Baiklah."


"Senpai bisa mengarahkan serangan apapun kepadaku dan aku hanya akan menghindarinya saja. Jadi cobalah untuk serius, ya?"


"Aku mengerti."


Selama ini aku belum pernah merasa takut seperti ini. Tapi setelah dia bilang kalau ia hanya akan menghindari seranganku saja, aku jadi merasa sedikit lega.


Aku mengambil nafas panjang dan mengeluarkan aura yang cukup kuat. Hembusan angin sepoi-sepoi lama kelamaan berubah menjadi angin ribut yang berada dibawah kendaliku. Setidaknya aku akan coba melukainya.


Setelah 30 menit aku melakukan serangan bertubi-tubi kepadanya, tidak ada satupun yang berhasil mengenainya. Semua tenagaku sudah terkuras habis dan aku sudah berada pada batasku. Aku pun tergeletak di tanah begitu saja menandakan kalau aku sudah menyerah.


Herlin yang melihat itu langsung menghampiriku bersama dengan Satou-kun. Ia menawarkanku sebuah minuman kaleng supaya rasa lelahku sedikit menghilang.


"Senpai payah juga, ya."


Aku yang mendengar itu darinya tidak sengaja menyemburkan minuman yang baru saja aku minum. Tidak ada orang yang pernah bilang seperti itu padaku sebelumnya.


"A-Aku payah?!"


"Jika dibandingkan dengan Iraya pada saat pertama kali melakukannya, jarak kemampuan senpai cukup jauh."


"Herlin, kata-katamu …." ucap Satou-kun.


"Be-Begitu ya."


Aku memang memandangnya sebagai anak yang dingin. Tapi aku tidak menyangka kalau mulutnya bisa setajam ini kepada orang yang lebih tua darinya. Anak zaman sekarang memang kejam!


Setelah menghabiskan minumanku, aku kembali merebahkan diri di tanah. Herlin dan Satou-kun juga melakukan hal yang sama. Kami sama-sama memandang langit yang mulai berwarna kejinggaan saat ini.


"Ini baru permulaan, jangan terlalu pesimis dulu!" ucap Satou-kun.


"Ya, aku paham. Lagipula aku yang melatihnya, jadi aku akan memastikan kalau ia tidak gagal."


Melihat mereka berpikiran positif seperti itu, entah kenapa rasa geli menyerang perutku yang membuatku tidak bisa menahan tawa.


"Hehe … Kalian berdua benar-benar adik kelas yang lucu."

__ADS_1


Bersamaan dengan langit senja yang berubah menjadi gelap. Kami pun mengakhiri latihan hari itu.


Bersambung


__ADS_2