Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 32 : Insiden Mall Berakhir


__ADS_3

"Bukankah begitu, Oita-san?"


Orang itu—Oita-san tersenyum misterius ketika namanya disebut oleh Herlin dan juga melihat ekspresi terkejut Nimis dan Ardenter.


Suasana hening dan canggung menyerang mereka berempat saat ini. Nimis dan Ardenter sudah tidak lagi mewaspadai pergerakan Herlin yang terluka dan fokus sepenuhnya pada Oita-san. Herlin dengan kepala yang berdarah kemudian bangun dan ikut memandang Oita-san.


"Murasaki ... Oita," ucap Nimis.


"Akhirnya kita bertemu juga, Assassin. Sayangnya pertemuan kali ini tidak terlalu tepat waktunya, ya? Dan juga kenapa kalian waspada seperti itu? Aku tidak sedang mengeluarkan aura apapun, lho."


"Jadi Oita-san, ada urusan apa sampai repot-repot datang kesini?" ucap Herlin.


Herlin tentu saja hanya berpura-pura menanyakan kedatangan Oita-san. Ia sudah tahu kalau Oita-san akan datang karena sudah merasakan auranya dari jauh, itu juga menjadi alasan kenapa ia tidak mengeluarkan Banshee.


"Pesananku tidak segera sampai, makanya aku langsung datang untuk mengeceknya secara langsung. Dan wah, wah, wah, tidak aku sangka aku menemukan sesuatu yang menarik."


Sementara Nimis dan Ardenter masih bersiap-siap dan waspada terhadap apa yang akan dilakukan oleh Oita-san selanjutnya. Mereka tidak bisa kabur secara sembarangan, bahkan untuk bergerak sedikit saja butuh pertimbangan tinggi. Insting kuat mereka menggema di dalam diri mereka berdua.


Jika kau kabur, kau akan mati.


Jantung mereka berdua berdebar kencang dan butiran keringat kekhawatiran muncul dari dahi mereka berdua. Dan karena merasa jenuh dengan keheningan yang membosankan ini, Oita-san pun ingin segera mengakhirinya.


Kedatangannya kesini memang untuk menyelamatkan Herlin dan Iraya dari mereka berdua. Tapi Oita-san memiliki rencana yang lebih jauh dari itu. Ia memiliki beberapa pertanyaan kepada Nimis dan Ardenter.


"Jadi untuk kalian berdua, aku ingin bertanya sesuatu kepada kalian," ucap Oita-san.


"Pertanyaan?"


"Benar, pertanyaan yang sangat mudah yang bahkan anak kecil saja bisa menjawabnya."


Kata-kata dari Oita-san itu justru malah membuat mereka semakin tegang. Mereka berdua tentu saja tahu konsekuensinya jika jawaban yang diberikan tidak sesuai dengan kemauan Oita-san.


"Apa tujuan kalian kemari? Dan apa yang kalian incar? Kuharap kalian menjawab dengan baik dan jujur."


"Kalau kami menolak?" tanya Ardenter.


"Hmm ...."


Zwuuushh...


Tiba-tiba sebuah aura yang kuat dan menjijikkan menghantam mereka berdua. Padahal itu hanyalah aura yang dikeluarkan oleh Oita-san saja, aura yang cukup kuat yang bahkan bisa membuat angin sebesar itu.


Herlin yang berada di belakang Nimis dan Ardenter juga tidak sengaja ikut merasakan aura mengerikan dari Oita-san yang membuatnya ikut ketakutan dan lebih banyak diam.


"... Kalian yang paling tahu akibatnya," ucap Oita-san.


Ucapan Oita-san seakan menjadi ultimatum bagi mereka berdua dan pada akhirnya Nimis pun menjelaskan kedatangan mereka berdua kesini.


"Tujuan kami adalah mengambil kembali apa yang telah dicuri dari perusahaan dan sekaligus memusnahkan pengendali The Beast yang menyerang Keisatsu School."


"Pengendali The Beast? Apa kau yang melakukannya?" Oita-san menatap kearah Herlin.


Sementara Herlin yang menyadari tatapan Oita-san dan kesalahannya langsung mengalihkan wajahnya ke arah lain dan tidak menjawab pertanyaannya. Oita-san yang melihat hal itu hanya bisa menghela nafas akibat perbuatan Herlin.


"Hah ... sepertinya aku harus menghukumnya. Lalu pertanyaan selanjutnya, apa benda yang dicuri oleh anak itu?"


"Tidak bisa kuberitahu."


"Kalau begitu, apa jenis kekuatanmu?"


"Aku memiliki kemampuan Elemental jenis api, sedangkan orang yang ada di sampingku adalah kemampuan Physical Strength."


"Apa jenis kekuatan Assassin yang lain?"


"Tidak bisa kuberitahu."


"Apa yang sedang dilakukan oleh perusahaan akhir-akhir ini?"


"Tidak bisa kuberitahu."


"Hmm ... kau cukup keras kepala juga, ya," ucap Oita-san.


Oita-san kemudian berjalan mendekati Ardenter dan Nimis dengan santai dan dalam posisi yang lengah. Melihat itu, mereka mencoba untuk mengambil kuda-kuda bertahan. Tapi, karena tekanan aura yang kuat dari Oita-san membuat mereka tidak bisa bergerak.


Oita-san terus berjalan mendekati mereka berdua dan saat berada sejajar dengan mereka berdua, Oita-san melewatinya begitu saja. Ardenter dan Nimis hanya bisa diam tanpa bisa melakukan apa-apa setelah Oita-san melewati mereka.


Lalu setelah sampai ke dekat Herlin dan merangkulnya, Oita-san kembali berbicara dengan Nimis dan Ardenter.


"Kalau begitu, aku punya permintaan untuk kalian."


**


Sementara Iraya dan orang yang baru ia temui kembali lagi ke tempat dimana Herlin dan Ardenter bertarung.


"Cukup jauh juga, ya?" ucap Paman itu.


"Sebentar lagi juga sampai, kok. Tempatnya ada di dekat outlet baju di—!"


Zwuuushh...


Saat aku sebentar lagi akan sampai ke tempatnya, kami berdua melihat dua orang melesat melewati dan berpapasan dengan kami.

__ADS_1


Saat berpapasan, mataku sempat bertemu dengan mata dari perempuan dengan Katana di pinggangnya, tapi ia tidak melakukan apapun dan terus pergi dari sini. Apa yang terjadi? Padahal aku yakin sekali kalau mereka kesini untuk menangkapku.


"Apa kau mengenalnya, nak?" tanya Paman itu.


"Tidak. Aku hanya pernah melihatnya."


"Sepertinya mereka juga sama seperti kita, ya?"


"Ya begitulah."


Aku terus berjalan menuju ke tempat pertarungan Herlin dan akhirnya sampai di sana. Saat sampai, aku terkejut dengan arena pertarungannya. Hampir semua tembok toko ini roboh dan puing-puingnya berserakan di lantai.


Yang membuatku tambah bingung juga adalah kehadiran Oita-san yang berada bersama Herlin yang kepalanya mengeluarkan darah.


"Herlin! Kepalamu—!"


"Aku baik-baik saja. Lagipula kenapa kau kembali kesini? Bukankah sudah aku suruh untuk pergi?"


"Y-Ya, itu ...." Aku tidak bisa bilang padanya kalau aku terpengaruh oleh orang yang baru aku temui di sampingku ini.


"Ya sudahlah, kebetulan juga ada yang ingin aku bicarakan denganmu sekarang juga."


Ekspresi Herlin terlihat jadi serius. Aku yang bingung kemudian menengok ke arah Murasaki-san yang hanya tersenyum dan mengangkat bahunya seperti menyuruhku untuk menghadapinya sendiri.


"Tapi sebelum itu, ngomong-ngomong siapa dia?" Herlin menyadari orang yang ada di sampingku dan bertanya tentangnya.


"Aku tidak sengaja bertemu dengannya saat ingin berjalan keluar. Namanya .... Oh iya, ngomong-ngomong, nama paman siapa?"


"Aku belum memperkenalkan diri, ya? Namaku Ishikawa Kyujiro. Umurku 27 tahun. Dan aku masih single. Hehehe ...." jawabnya percaya diri.


"Yang terakhir itu tidak penting. Hah ... mungkin kau tidak mempercayainya, tapi meskipun dia terlihat seperti orang aneh, dia adalah seorang Exception," jelasku.


"O-Orang aneh?!"


"Exception?"


Herlin menengok ke arah Oita-san dan Oita-san kemudian mengangguk seakan sudah mengerti apa yang dimaksud oleh Herlin. Mereka bertatap-tatapan seolah bisa berkomunikasi dengan cara seperti itu.


"Kalau begitu, Ishikawa-san ...."


"... Bisa ikut aku sebentar, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Oita-san.


"Tentu! Lagipula aku juga tidak ingin mengganggu hubungan kedua anak muda ini," ucap Ishikawa-san sambil mengacungkan jempolnya kepadaku.


Aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan hubungan tapi dia kemudian pergi bersama dengan Murasaki-san untuk membicarakan sesuatu. Setelah hanya tinggal kami berdua di sini, aku pun memulai pembicaraan. Herlin juga sempat mengelap darah yang keluar dari pelipisnya.


"Jadi apa yang ingin kau bicarakan, Herlin?"


"Aku kira kau sudah mempercayaiku sesungguhnya, tapi kau masih memiliki rahasia besar yang belum kau ceritakan, ya?"


Herlin berkeliling dan mengambil salah satu puing yang cocok dengan genggamannya. Ia lalu melemparnya cukup tinggi ke atas dan menangkapnya lagi.


"Saat aku bertarung dengan mereka, mereka bilang kau mencuri sesuatu yang berasal dari perusahaan. Aku memang masih belum mempercayainya, jadi aku ingin memastikannya sendiri darimu langsung."


Jadi 'rahasia' yang itu, ya. Aku memang belum memberitahu Herlin soal hal yang 'kucuri' dari perusahaan itu. Lagipula itu adalah masalah yang menyangkut tentang keluargaku. Jadi aku merasa tidak perlu untuk memberitahunya jika dia tidak bertanya.


"Jadi kau tahu soal perusahaan?"


"Ya, aku tahu."


"Lalu benda apa yang kau curi dari mereka?"


"Dibilang mencuri sih bagiku juga kurang tepat, karena itu datang sendiri ke hadapanku. Dan yang aku ambil bukanlah sebuah benda, melainkan sebuah Spirit."


"..."


"..."


"Kau bercanda?"


Setelah bilang begitu, Herlin terdiam cukup lama dan respon yang ia berikan setelah diam lama hanyalah 'kau bercanda?'.


"Aku serius, oi! Kenapa kau berpikir aku akan bercanda di saat-saat seperti ini. Kau tahu sendiri kalau The Spirit membutuhkan inang untuk tempat dia hidup, kan?"


"Aku tahu."


"Jadi singkat cerita dia memilihku untuk menjadi inangnya. Orang tadi bilang kalau namanya adalah Subject C, kan? Inilah yang mereka incar dariku."


"Subject C?"


"Akan kujelaskan dari awal."


Kemudian aku menjelaskan dari awal aku menyelamatkan Cecilia dari monster perusahaan dan akhirnya kami berbagi tubuh. Kami melakukan hubungan simbiosis mutualisme, Cecilia mengeluarkan potensi di dalam tubuhku sementara aku melindungi Cecilia.


Lalu saat di Pusat Kota Kyoto, aku tidak tertidur saat melawan monster kerdil humanoid dan pada saat itulah, aku bertemu dengan Herlin. Setelah mendengarkan ceritaku, Herlin terdiam sebentar untuk berpikir.


"Kau benar-benar menceritakan semuanya, ya." Cecilia berbicara di dalam kepalaku.


"Ini bukanlah suatu hal yang harus kututup-tutupi, dia harus mengetahui semuanya. Dari awal sampai akhir."


"Bahkan soal ciuman kita?"

__ADS_1


"...."


Aku terdiam sebentar mendengar pertanyaan dari Cecilia. Sepertinya aku terlalu semangat dalam bercerita sampai aku tidak sadar kalau aku juga menceritakan hal yang itu.


"... Apa aku menceritakan soal itu juga tadi?"


"Ya kau menceritakannya, kau tidak sebegitu bodohnya kan sampai melupakan apa yang baru saja kau ceritakan?"


"Mu-mungkin tidak apa-apa deh. Mungkin."


"Aku mengerti, jadi itu alasanmu mempunyai dua kemampuan?"


"Dua kemampuan?"


"Aku sempat memikirkannya, alasan kau bisa mempunyai kekuatan Transformation dan Elemental secara bersamaan, ternyata kau mempunyai rahasia yang sama denganku. Dengan begini semuanya jelas."


"Rahasia yang sama?"


"Mungkin maksudnya tentang Banshee," ucap Cecilia.


"Be-begitu, ya."


Herlin kemudian berjalan ke dalam ruang ganti pakaian dan mengambil belanjaan yang tadi kami berdua tinggalkan di sana. Dia mengambil dua kantong penuh belanjaan dan memberikan semuanya kepadaku.


"Ayo kita kembali ke cafe."


"Baiklah."


Herlin sepertinya tidak menyadari cerita ciumanku dengan Cecilia. Baguslah. Aku juga menyadari ada sesuatu di kantong celanaku yang seharusnya aku berikan pada Herlin dari tadi, mungkin ini adalah saat yang tepat untuk memberikannya.


"Herlin! Aku—"


"Oh iya, Iraya."


"Hmm?"


"Mencium wanita yang tidak kau kenal di pinggir jalan, kau ini benar-benar laki-laki rendahan, ya?"


"E-Eh ...?"


"Dia itu tidak sebodoh dirimu, tentu saja dia akan menyadarinya," ucap Cecilia.


Sepertinya dia menyadarinya. Aku menghela nafas berat, niatku untuk memberikannya sesuatu saat ini sepertinya harus aku tunda sampai waktu yang lebih tepat.


"Hah ... nanti saja deh."


**


*Ayakashi Corp.*


Nimis dan Ardenter sudah kembali ke depan kantor utama Ayakashi Corp., di Tokyo. Setelah bertarung dan tanpa istirahat, mereka langsung pergi ke sana untuk melaporkan apa saja yang telah terjadi kepada mereka dalam misi kali ini dan tentu saja melaporkan kegagalan mereka.


Mereka langsung masuk ke dalam gedung dan berjalan menuju ruangan Hasuki Nakamura, pemilik perusahaan ini. Setelah sampai di depan ruangan Nakamura, tanpa mengetuk pintu mereka langsung masuk ke dalam.


Blaamm...


"Ketua—"


Mereka melihat Nakamura yang sedang dikelilingi oleh dua wanita yang duduk dipangkuannya. Nakamura yang melihat itu terkejut dan berusaha tetap tenang lalu menyuruh kedua wanita itu untuk keluar. Dia kemudian berdiri dan memperbaiki dasinya yang sedikit berantakan.


"Apa kalian tidak pernah diajarkan untuk mengetuk pintu?"


"Maafkan aku."


"Lupakan saja, jadi bagaimana dengan misi kalian?" ucap Nakamura sambil menaruh cerutu di mulutnya dan menyalakannya.


"Kami gagal."


"Gagal?! Apa kau pikir aku akan memaafkanmu begitu saja setelah aku mengeluarkan uang banyak untuk membayar kalian berdua?!" ucap Nakamura dengan keras.


"Aku tidak menyangka kami akan berhadapan dengannya secara langsung," ucap Nimis.


"Dia? Jangan-jangan yang kau maksud adalah Murasaki Oita?"


"Benar."


"Selain Murasaki Oita, apakah ada yang lainnya di dekat inang Subject C?"


"Ada dua orang, salah satunya bisa mengimbangi kami berdua saat bertarung bersama dan satunya lagi aku belum tahu, yang pasti dia juga seorang Exception."


Nakamura menghisap cerutu dan mengeluarkan asap dari mulutnya. Dia kemudian terdiam dan berpikir sebentar. Setelah cukup lama berpikir, ia kemudian lanjut berbicara.


"Nimis, Ardenter, kelompok kalian beranggotakan tujuh orang kan?"


"Benar."


"Kalau begitu, aku akan memasukkan satu orang perwakilan dari Ayakashi Corp. untuk bergabung dengan kelompok kalian."


Hasuki Nakamura sepertinya memiliki rencana lain. Ia sudah mengetahui lokasi dan identitas dari Inang Subject C—Satou Iraya. Kebetulan sekali karena orang itu dekat dengan anaknya dan bahkan pernah datang ke rumahnya di Kyoto.


Nakamura mengeluarkan seringai ketika memikirkan kebetulan yang terdengar mustahil tapi juga menarik serta menguntungkan bagi dirinya.

__ADS_1


"Dunia ini ... benar-benar menarik, ya?"


Bersambung


__ADS_2