Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 84 : Serangan di Tokyo


__ADS_3

Saat Murasaki Oita dan Astaroth sedang bertarung di langit kota Kyoto, di tiga tempat yang berbeda sudah terdapat satu anggota dari Assassin yang bersiap untuk menunggu perintah dari bos mereka, yaitu Astaroth.


Dan salah satu dari mereka adalah Lennova. Dia adalah anggota Assassin termuda yang disusul oleh Caramel. Usianya yang masih sekitaran anak SMP tidak membuatnya berperilaku seperti anak-anak biasa.


Anak laki-laki dengan penampilan rambut acak-acakan berwarna ungu muda. Ditambah dengan sticker 'love' yang berada di pipi kirinya.


Ia saat ini sedang duduk di pinggiran gedung lima belas lantai yang cukup tinggi. Bagaikan tidak ada takutnya, ia menggoyang-goyangkan kakinya yang menggantung di tepi bangunan.


Sambil memandangi langit malam yang diterangi bulan, ia juga bersenandung pelan seakan hal yang menyenangkan baru saja terjadi kepada dirinya. Hembusan angin malam yang kencang juga mengibarkan rambutnya yang acak-acakan tadi.


"Hmm … kenapa Bos lama sekali, ya? Padahal yang dilawannya hanyalah sekelompok anak kecil saja," gumamnya.


"Oh iya, aku baru ingat kalau ada pemimpin mereka yang katanya merepotkan itu, mungkin saja Bos sedang berurusan dengannya."


Lennova telah menjawab pertanyaannya sendiri saat ini dan ia pun kembali terdiam. Lalu setelah beberapa lama, ia melihat ke belakangnya yang terdapat beberapa mayat pria berseragam tergeletak di sana.


"Tapi tetap saja ini terlalu lama. Darahnya bahkan sudah mau kering saat ini."


Kondisi mayat itu sudah terlihat pucat pasi dengan darah yang kebanyakan berada di wajahnya. Ada juga beberapa kartu yang terjatuh di sebelah leher salah satu dari mereka yang tergorok dan kebanyakan lukanya seperti itu sehingga mereka akan mati kehabisan darah. Tapi ada juga salah satu korban yang kartunya menancap di bagian matanya.


Lennova kemudian melihat kearah HPnya yang dari tadi ia taruh di sampingnya. Ia melihat kearah jam digital di HP tersebut dan waktu sudah menunjukkan pukul 02.03. Ini sudah lewat tiga menit dari waktu yang Astaroth rencanakan sebelumnya.


Blaamm…


Tiba-tiba dari pintu yang digunakan untuk masuk ke dalam gedung pun terbuka dengan keras. Dari dalam terlihat banyak pria dewasa bersenjata dengan pakaian rapi menghampiri Lennova.


"Itu dia orang yang membunuh security di sini!"


"Ta-Tapi dia hanya seorang anak kecil."


"Jangan hiraukan hal itu! Apa kau tidak lihat apa yang sudah ia lakukan?!"


Orang-orang dewasa itu terlihat sedang berdebat satu sama lain karena yang saat ini mereka lihat hanyalah seorang anak kecil yang kelihatannya lemah dan tidak bersalah.


Sementara Lennova yang melihat kedatangan mereka sama sekali tidak menunjukkan wajah terkejut dan masih santai seakan mereka bukanlah ancaman yang berarti. Ia pun kemudian berdiri dan turun dari tepi bagian gedung itu lalu bersiap untuk menghadapi mereka semua.


"Untung kalian datang! Aku jadi bisa menghilangkan rasa bosanku!"


Seringai tercipta di wajah Lennova yang membuat bulu kuduk mereka berdiri. Meskipun masih ragu dengan apa yang akan ia lakukan, tapi salah satu dari mereka mengeluarkan pistol jenis 9mm yang langsung ia arahkan kepada Lennova.


Dorr…


Lennova masih belum bergerak dari tempatnya. Sebaliknya ia malah menyilangkan tangan kanannya ke depan dan membuat sebuah kartu joker yang ia buat dari auranya. Dan ia pun melemparkannya kearah dimana peluru tadi ditembakkan.


Sryiing…


Dengan tepat kartu yang Lennova lemparkan membelah peluru yang sedang melesat itu menjadi dua bagian kecil dan kartunya menancap di dinding di samping kepala mereka.


"A-Apa?! Bagaimana bisa?!"


"Sudah tidak usah banyak tanya! Cepat habisi saja dia!"


Lalu yang lainnya juga ikut mengeluarkan pistol mereka dan mulai menembakkannya ke arah Lennova secara bersamaan dan bertubi-tubi.


Dorr… Dorr… Dorr…


Tapi Lennova juga masih belum bergerak dan hanya membuat kartu dari auranya lebih banyak lagi. Ia membuat delapan kartu sekaligus yang ia apit dengan semua jarinya lalu ia lemparkan secara bersamaan.


Braakk… Braakk…


Ada sekitar lima orang yang menyerangnya secara bersamaan, tapi mereka semua tidak bisa melukai atau bahkan menyentuh Lennova sama sekali. Malahan pistol mereka hancur karena serangan kartu Lennova yang membelah peluru sekaligus menghancurkan pistolnya.


Lalu sisa tiga kartu tadi menyerang kearah dada tiga orang berbeda yang membuat mereka ambruk dan mati seketika.


"Ti-Tidak mu—"


Satu lagi dari mereka yang tidak bisa mempercayai apa yang ia lihat, tiba-tiba terjatuh karena ada satu kartu tambahan yang Lennova lemparkan mengarah tepat ke daerah di tengah-tengah kedua matanya.


"Si-Siapa kau sebenarnya …?"


"Siapa aku?! Ahahaha! Memangnya itu penting bagimu?! Lagipula kau itu bakal mati, loh!"


"Hiii …!!!"


Lennova kemudian membuat satu kartu lagi dan bersiap untuk membunuh satu orang yang tersisa ini. Tapi tiba-tiba dering telepon menghentikan seringai lebar yang ia buat dan ia kemudian mengarahkan fokusnya ke HP yang masih berada di tempat sebelumnya.


"Hallo, Bos? … Ah iya, persiapannya sudah siap, tinggal menunggu perintah darimu saja …. Aku mengerti, aku akan memberitahu kepada Baram dan Ivis kalau kita sudah bisa memulainya …. Baiklah, bye~"


Lennova kemudian mematikan telepon dari Astaroth tadi dan mulai memberitahukan pengumuman Astaroth tadi kepada Ivis dan Baram yang sedang berada di tempat lain. Setelah selesai memberitahu mereka, Lennova kembali melihat kearah orang yang menyerangnya.


"Hei, kau …."

__ADS_1


"Hii …!"


"… Nampaknya kau cukup beruntung hari ini, ya?"


"A-Ampuni aku!!"


"Kartu yang dipegang oleh Lennova kemudian menghilang dan ia menaruh HPnya di kantung celananya dan mengambil sebuah tombol pemicu di kantung celana lainnya. Tombol pemicu merah itu cukup besar dan hanya terdiri dari satu tombol saja.


Menghiraukan orang tadi, Lennova kemudian berdiri di tepi bangunan dan bahkan sudah hampir jatuh. Hembusan angin malam yang kencang meniup baju dan rambutnya berkibar kencang dan ia pun mengucapkan kata terakhir sebelum ia menjatuhkan dirinya ke bawah.


"Nikmati saja pertunjukan yang ini!"


Lennova kemudian menekan tombol pemicu merah itu saat ia sedang berada di udara. Sementara satu orang tadi berlari ke arah tepi gedung dan melihat ke bawah berniat mengecek keadaan Lennova. Tapi sayangnya Lennova sudah menyatu dengan kerumunan orang di trotoar dan lepas dari pandangan orang itu.


Beberapa saat setelah Lennova menekan tombol pemicu tadi, tiba-tiba terjadi sebuah ledakan besar dari jarak yang cukup jauh dari gedung lima belas lantai tadi. Orang dewasa itu hanya bisa menganga dan terduduk lemas dengan apa yang dilihatnya saat ini.


Sebuah kerangka manusia raksasa tiba-tiba muncul di tengah kota Tokyo bersamaan dengan monster-monster setinggi tiga meter yang mulai menyerang para masyarakat.


"A-Apa yang sebenarnya sedang terjadi sekarang?"


**


Sementara di tempat Ryuzaki, di dojo Red Flame. Keadaannya saat ini sedang sangat kacau dan panik. Banyak para Exception-Exception yang berada di bawah naungan Red Flame melesat menuju tempat-tempat monster tadi menyerang.


Salah satunya ada Hayashi Satou, ia saat ini sedang sibuk mengarahkan para Exception lain agar menyebar di tempat-tempat yang paling banyak terkena dampak serangan. Saat ia sedang sibuk-sibuknya, tiba-tiba datang Ryuzaki menghampirinya.


"Apa semuanya terkendali?" tanya Ryuzaki.


"Monster-monster itu sudah menyebar dengan cepat dan aku sedang menyuruh mereka untuk memprioritaskan penyelamatan warga terlebih dahulu."


"Baik, memang itu yang paling penting. Saat ini orang-orang biasa seperti tentara atau polisi tidak akan bisa apa-apa menghadapi bencana kali ini. Meskipun belum diakui oleh pemerintah, tapi kita akan melakukan sebisa kita."


"Aku mengerti. Tapi …."


Hayashi Satou melihat ke arah Gashadokuro yang berjalan-jalan dengan langkah berat nan lambatnya sambil menghancurkan apapun yang dilewatinya.


"… Bagaimana dengan The Unseen besar itu?" tanya Hayashi.


"Untuk sekarang aku akan mencoba mengurangi kerusakan yang ia buat. Jika kalian sudah mengevakuasi para warga, aku ingin kalian membantuku melawannya."


"Baiklah."


Ryuzaki kemudian melesat dan menghilang dari pandangan Hayashi. Lalu Hayashi kembali fokus untuk mengarahkan para Exception lainnya. Sementara Ryuzaki saat ini berhenti dan berdiri di gedung paling tinggi agar bisa mendapatkan perhatian dari Gashadokuro itu.


Tapi makhluk itu dengan cepat menyadarinya dan menangkis serangan Ryuzaki dengan tangan besarnya. Ia pun berhasil menarik perhatian Gashadokuro tersebut dan ia pun berjalan ke arah Ryuzaki.


"Aku bagaikan lalat yang mengganggu bagimu, ya?" gumam Ryuzaki.


**


Sementara itu di jalan kota Tokyo, dimana para monster-monster itu menyerang masyarakat. Masyarakat yang tidak bisa apa-apa hanya bisa berlari menyelamatkan diri dari sana, salah satunya adalah seorang ibu hamil yang juga ikut berlari menyelamatkan diri. Tapi sayangnya ia tersandung dan terjatuh di tanah tertinggal oleh yang lainnya.


Ibu hamil itu tiba-tiba melihat sebuah bayangan yang tercipta oleh sesosok makhluk yang menghalangi lampu jalan di belakangnya. Ia pun menengok ke belakang dan wajah ketakutannya tercipta ketika melihat sosok monster setinggi tiga meter bersiap untuk menghabisinya.


"Oi, kau!"


Tiba-tiba seseorang memanggilnya dari belakang monster itu dan berjalan menuju ke depannya, menghalangi ibu hamil itu agar tidak bisa langsung diserang oleh monster tadi.


"Padahal aku cuma bekerja sebagai komentator, kenapa tiba-tiba harus ikut bertarung seperti ini," gumamnya lesu.


Monster itu tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh perempuan itu, tapi yang ia paham adalah ia harus membunuh semua orang. Monster itu pun berniat menyerang perempuan itu saat sedang tidak siap.


Tapi perempuan itu tidak sebodoh itu, ia menghindari serangan monster tadi sekaligus menyerangnya dengan menusukkan dua jarinya masuk ke dalam sela-sela tulang rusuk monster dan melepasnya dengan cepat lagi.


Monster itu terdiam ketika luka kecil itu tercipta di tubuhnya. Sementara perempuan itu hanya melihat dua jarinya yang terdapat darah monster tadi, darah kental berwarna merah kehitaman.


"Hmm … warna darahnya agak berbeda dari manusia biasa."


"GrrRrouggHh …!!!"


Setelah terdiam selama beberapa detik, monster itu tiba-tiba ambruk ke tanah dan meronta-ronta kesakitan seperti sedang disiksa dari dalam tubuhnya. Ia tidak berhenti meronta-ronta dan memegangi kepalanya, lalu darah keluar dari mulutnya dan pada akhirnya monster itu pun berhenti meronta sekaligus juga berhenti bernafas.


"Tapi tidak ada bedanya dengan manusia biasa jika sudah kelebihan zat besi."


Perempuan itu kemudian menghampiri ibu hamil dan jongkok untuk menanyakan keadaannya. Tapi sepertinya ia baik-baik saja karena perempuan itu datang sebelum monster tadi menyerang ibu hamil itu.


"Anda tidak apa-apa, kan?"


"Aku tidak apa-apa, terima kasih, …?"


"Mitsu, panggil saja aku Mitsu."

__ADS_1


"Terima kasih, nak Mitsu."


Mitsu mengangguk dan memberikan senyuman lega ketika tahu kalau ibu hamil itu baik-baik saja. Lalu ada seseorang dari dojo Red Flame yang baru datang ke lokasi. Perempuan itu—Mitsu menyuruhnya untuk mengevakuasi ibu hamil itu terlebih dahulu.


"Hei kau, cepat bantu dia, aku yang akan mengurus mereka disini."


"Baik!"


Setelah mereka berdua pergi, Mitsu kemudian berdiri dan membalikkan badannya. Ia masih memiliki sedikit urusan disini dengan monster-monster jelek ini.


"Sekarang, darimana kalian berasal dan apa yang membuat kalian menyerang kota?"


Kalimat retoris itu tentu saja hanya menjadi pertanyaan yang tidak akan pernah dijawab karena monster-monster itu sudah mulai menyerang lagi. Tapi dari belakang Mitsu tiba-tiba datang beberapa orang yang entah berasal dari mana.


Tap… Swuuushh…


"Eh?"


Sryiiingg… Craaassh… Craaassh…


Seseorang dengan menggunakan pedangnya melesat melewati Mitsu dan langsung membelah salah satu dari monster itu menjadi dua bagian diagonal di arah dadanya. Tidak berhenti sampai disitu saja, ia masih terus menebas monster-monster yang berada di dekatnya lalu melompat kembali mendekat ke arah Mitsu.


"Apa kau mau pamer?" tanya Mitsu.


"Kenapa kau menyebut hal itu pamer? Aku mau membantumu, loh."


Orang yang baru datang tadi adalah Hayashi Satou. Sepertinya ia telah menyelesaikan tugasnya dalam membagi kelompok di dojo Red Flame, oleh karena itu ia langsung menuju kesini karena mendengar kalau disini adalah tempat yang paling parah dampaknya.


"Hmph!"


Mereka berdua memalingkan wajahnya seperti anak kecil yang sedang bertengkar dan tanpa sadar kalau ada monster yang ingin menyerang mereka dari belakang.


"GroaAakHh …!!!"


Craaasshh…


Saat mereka berdua sadar, ternyata monster itu sudah terpenggal dan kepalanya jatuh menggelinding ke dekat kaki mereka. Orang yang memenggalnya pun mendekat dan hanya bisa menggelengkan kepala karena sifat mereka berdua.


"Ya ampun, kalau ingin bertengkar jangan disini."


Orang itu adalah Shima Rui, dengan rambut biru muda dan mata biru berlian yang berkilau, ia datang terlambat karena Hayashi Satou yang melesat terlalu cepat. Kemampuannya adalah Elemental yang berfokus pada air dan terlihat dari caranya memenggal monster tadi dengan air yang bertekanan dan berkecepatan tinggi.


"Hei Onii-chan, jangan jalan terlalu cepat! Melelahkan, tahu!"


"Ah, maaf, maaf. Aku hanya berjalan menyusul Hayashi jadi aku berjalan sedikit terlalu cepat."


"Kau menyalahkanku?!" ucap Hayashi.


Lalu dibelakangnya adalah adik dari Shima Rui, yaitu Shima Sui. Ia memiliki rambut berwarna biru muda sama dengan kakaknya lalu matanya yang berkilau berwarna biru berlian semakin memancarkan kecantikannya. Ia membawa beberapa belati yang ia taruh di pinggangnya dan jenis kemampuannya adalah Physical Strength.


"Tentu saja! Itu salahmu karena berjalan terlalu cepat!" jawab Sui.


Selain mereka berempat, ternyata ada satu lagi yang datang ke area pertempuran ini. Dengan rambut berwarna abu-abu dan kacamata kotak yang membuatnya terlihat seperti seorang otaku akut. Tapi dibalik penampilannya yang tidak keren, ia adalah seorang Mind Power yang cukup hebat. Namanya adalah Nabara Yosuke.


"Sudah, sudah, Sui-chan. Kita sedang dalam medan pertempuran, bukankah lebih baik kalau kita bekerja sama?"


Satu monster tiba-tiba menyerang Yosuke dari depan saat ia sedang berbicara dengan Sui-chan. Monster itu ingin mencakar Yosuke dengan kuku besar dan tajamnya, tapi dengan cepat Yosuke menerbangkan sebuah retakan aspal jalanan dan menjadikannya sebagai tameng.


Lalu disusul dengan Sui-chan yang langsung mencabut satu belati pada pinggangnya dan menyerang tengkuk monster itu dan menyeret pisaunya ke bagian punggung monster itu yang menyebabkan luka besar dan seketika monster itu mati.


"Nice job, Sui-chan!" Yosuke memberikan jempol kepada Sui-chan.


"Yey!" Dan dibalas dengan simbol 'peace' menggunakan jarinya.


"Jadi semuanya ada disini? Ya biarkanlah, dengan begitu urusan bisa lebih cepat selesai," gumam Mitsu.


Mereka berlima kemudian berkumpul dan memunggungi satu sama lain. Karena saat ini mereka sudah dikepung oleh banyak monster yang tertarik dengan keberadaan mereka yang kuat.


"Bagaimana kalau bergabung dengan Red Flame, Rui?" ajak Hayashi.


"Maaf saja, tapi aku masih tidak ingin meninggalkan adik lucuku ini dalam waktu dekat. Apalagi dia baru masuk SMA sekarang, jadi aku harus mengawasinya agar tidak ada laki-laki yang mendekatinya di sekolahnya nanti."


"Kau terlalu khawatir, Nii-chan. Tentu saja aku tidak akan meninggalkan Nii-chan, kita akan terus bersama selamanya!"


"Dasar siscon …," ucap Hayashi kecil.


"… Kalau begitu apa kalian sudah siap?!"


"Ya!"


Pertarungan mereka pun akan segera dimulai. Ryuzaki yang melawan Gashadokuro, sementara Exception-Exception lain melawan kumpulan monster yang menyerang kota Tokyo.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2