
*Malam Sebelum Black Rain Berangkat Ke Nagoya*
Di rumah susun tempat para Assassin tinggal sementara, mereka sedang dalam masa tidak melakukan apa-apa. Yang bisa mereka lakukan hanyalah menunggu ramuan buatan Seana selesai.
Ia dipercaya ambil bagian dalam misi kali ini karena kemampuannya meracik ramuan. Seana lebih percaya diri ketika berurusan dengan obat-obatan daripada dalam pertarungan.
Mereka memberikan sebuah ruangan tersendiri agar dia bisa fokus dalam meracik ramuannya. Tapi meski begitu, sudah beberapa hari Seana mencoba berbagai macam komposisi bahan, tapi masih belum ada yang memuaskannya.
Tapi hari ini sepertinya berbeda.
Beberapa hari ke belakang ini, Seana tidak keluar ruangan dan lupa waktu karena terlalu fokus. Ia bahkan sampai telat makan dan beberapa kali hampir jatuh pingsan karena perut kosong.
Dillon yang telah menjadi pelayannya sejak Seana kecil tentu saja khawatir dan memutuskan untuk menemani Seana di dalam ruangan itu sampai ia berhasil.
Seseorang kemudian masuk ke dalam dan menarik perhatian Dillon—orang itu adalah Astaroth. Ia ikut berdiri di samping Dillon memperhatikan Seana yang sedang dalam fokus tinggi dan tidak memperdulikan orang-orang di sekitarnya.
"Apa kau khawatir?" tanya Astaroth.
"Maaf?"
"Tentang Seana, dia kelihatan bekerja lumayan keras."
"Ah soal itu, aku memang selalu khawatir padanya dalam setiap hal. Tapi dia terus membantah dengan mengatakan, 'Jangan perlakukan aku seperti anak kecil, Dillon!' atau sebagainya."
"Kurasa aku bisa membayangkannya," ucap Astaroth dengan senyum kecil di ujung bibirnya.
"Meski begitu aku percaya satu hal ...." Mata Dillon tajam tertuju pada Seana seakan sangat yakin padanya. "... Walaupun Seana-sama kurang pandai dalam hal bertarung, tapi aku yakin ia akan menjadi hebat dengan caranya sendiri."
"Akhirnya!"
Teriakan Seana sedikit mengagetkan Dillon dan Astaroth. Senyuman lega dan bahagia dapat terlihat di wajah lelahnya sambil ia menengok ke arah Dillon dan Astaroth.
"Akhirnya aku berhasil menciptakannya!"
"Selamat, Seana-sama. Saya yakin anda akan berhasil."
"Hehe! Tentu saja!"
Astaroth kemudian memperhatikan dari dekat ramuan buatan Seana. Warnanya putih dan teksturnya seperti gula halus, tanpa bau dan mudah larut di dalam air.
"Dillon! Ambilkan aku gelas berisi air, lalu bangunkan yang lain juga!"
"Baik, Seana-sama!"
Seana ingin menguji ciptaannya di depan semua orang karena ini juga mempertaruhkan harga dirinya. Setelah seminggu mengurung diri, ia akhirnya berani untuk menunjukkannya di depan yang lainnya.
Setelah beberapa saat, akhirnya semuanya telah datang. Semuanya termasuk Delta yang baru datang beberapa hari lalu.
"Hoaamm .... Ada apa memanggil kami semua pagi buta begini?" ucap Lennova yang masih mengenakan piyamanya dan mengusap matanya karena baru bangun.
"Hehe! Ramuannya telah jadi dan aku akan memperlihatkannya langsung di depan kalian semua saat ini!"
"Seana-sama. Ini air yang anda minta." Dillon kemudian datang dengan segelas air di genggamannya dan langsung memberikannya kepada Seana.
"Terima kasih, Dillon."
"Dengan senang hati!"
Seana kemudian menuangkan ramuan buatannya ke dalam air putih itu. Ramuan itu langsung larut ke dalam air dan ketika Seana mengaduknya beberapa kali dengan sendok, ramuan itu pun terlarut dengan sempurna.
"Wah ... benar-benar terlarut dengan sempurna," ucap Lennova kagum.
"Sejauh ini berjalan lancar." Seana memperhatikan air yang ada di genggamannya sekarang. Ia menelan ludah keringnya berharap di dalam hati kecilnya ramuannya akan berhasil dan setelah itu ia pun meminumnya.
"A-Apakah bekerja, Seana-sama?" tanya Dillon.
"Aku tidak tahu." Seana kemudian menengok ke arah Lennova dan menunjuknya. "Kau, Lennova! Kau akan berlutut di hadapanku!"
"E-Eh?"
Lennova sempat khawatir karena dia menjadi bahan percobaan tiba-tiba Seana, tapi rasa khawatirnya perlahan memudar ketika setelah beberapa menit tidak terjadi perubahan apapun pada diri Lennova.
"Aku ... masih sadar?"
"Ga ... gal?"
Lennova memeriksa tubuhnya sendiri dan menyadari kalau tidak ada yang berubah dari dirinya. "Oi! Jangan seenaknya menjadikanku bahan percobaanmu, dong!" ucap Lennova.
Tapi Seana tidak mendengarkan protes Lennova. Ia masih tidak percaya karena ramuan yang sudah ia anggap seratus persen berhasil malah gagal total. Suasana menjadi hening dengan canggung dan Seana pun yang memulai pembicaraan setelah beberapa saat.
"Maaf, aku mengganggu tidur kalian hanya untuk hal sia-sia. Kalian boleh tidur lagi, aku masih punya pekerjaan yang harus aku urus."
"Se-Seana-sama."
__ADS_1
Dillon sadar kalau apapun yang ia katakan tidak akan membantu Seana, jadi ia memilih diam. Tapi tidak dengan Astaroth, ia menghela nafas lalu kemudian menghampiri Seana.
"Hah ... inilah bukti kalau kau itu masih naif."
"Paman ...?"
"Kau melakukannya dengan polos dan terburu-buru, kau tahu."
"Polos ... dan terburu-buru?"
"Coba alirkan auramu ke seluruh tubuhmu dan pikirkan dengan tenang apa yang ingin kau lakukan."
Seana menuruti perkataan Astaroth dan kemudian mengulanginya lagi. Ia memejamkan matanya dan kemudian menatap tajam pada Lennova.
"??!!!" Lennova sedikit tersentak dan tubuhnya perlahan menunduk lalu kemudian mulai berlutut pada Seana.
Semuanya terkejut ketika Lennova benar-benar berlutut menuruti perintah dari Seana. Itu berarti ramuan yang ia buat telah berhasil. Meskipun setelah itu Lennova langsung lepas dari pengaruhnya.
"Aku berhasil! Kau lihat tadi, kan?! Dillon, Paman!"
"Tentu. Saya melihatnya dengan jelas sekali."
"Dengan begini, rencananya pasti akan sukses besar. Karena yang akan memakainya adalah kau kan, Paman?"
"Tidak, bukan Bos."
"Eh?"
Lennova kembali berdiri meskipun ia merasakan sedikit pusing dan masih memegangi kepalanya. Ia mencoba berdiri dari posisi berlututnya. "Ya ampun, aku tidak menyangka aku benar-benar terpengaruh. Tapi seperti yang aku bilang barusan, bukan Bos yang akan meminumnya," lanjutnya.
"Jadi, siapa yang akan meminumnya?"
"Para Idol itu. Dari lima orang itu aku mendapatkan informasi kalau ada satu orang yang merupakan seorang Exception, jadi aku akan menggunakannya."
"Tapi untuk apa menggunakan mereka?"
"Alasan pertama adalah kita tidak perlu melibatkan Bos dalam misi ini, karena ia masih dalam masa pemulihan. Kedua adalah konser mereka ditonton hampir di seluruh Jepang, jadi yang akan terkena pengaruhnya adalah satu negeri ini."
"Tapi radius kemampuanku tidak bisa seluas itu. Mungkin paling luas hanya sebatas kota ini saja."
"Begitu, kah? Itu sangat disayangkan tapi masih lumayan bagus, karena ini adalah salah satu daerah anggota Kuni no Hashira. Hal ini akan berdampak cukup besar bagi mereka."
"Kuni no Hashira?"
"Itu adalah organisasi Exception terbesar di Jepang. Black Rain yang merupakan organisasi milikku dulu masuk ke dalam situ, tapi semenjak aku mati, aku dengar mereka mengeluarkannya dari sana. Ryuzaki sialan itu," ucap Oita-san menjawab.
Meski sudah berada di dalam tim yang sama, tapi mereka berdua masih waspada dan tidak mempercayai satu sama lain.
"Kenapa kita membuat rencana yang seperti ini?"
"Sudah jelas, bukan? Karena menegangkan dan membuat jantungmu berdebar-debar. Ini hanya sebuah game lainnya yang telah aku buat, makanya nantikan saja hal menarik di dalamnya." Lennova menyeringai menjawab pertanyaan Seana.
Dan setelah ujicoba ramuan tersebut berhasil, mereka kembali tidur dan Seana membuat ramuan yang sama lagi. Persiapan para Assassin sudah hampir selesai.
**
*Kembali ke Saat Ini*
Kembali ke saat aku mendengar suara ketukan pintu saat aku ingin tidur siang. Aku berjalan untuk memeriksa siapa orang yang mengganggu tidur siangku yang berharga.
"Siapa sih—Eh?"
Orang yang tak kusangka berdiri di depan pintuku saat ini. Dengan perawakan yang lebih tinggi dariku dan tubuh yang lebih berotot, ia menatap ke bawah dengan tatapan serius.
"Ka-kau ... Oukami?"
Yap. Dia adalah Oukami Yuu. Aku tidak tahu apa tujuannya datang kesini tapi kelihatannya ia sedang tidak senang, tidak ada senyuman yang keluar dari mulutnya saat ini dan sepertinya tidak ada niatan untuk mentraktirku makan atau semacamnya—karena untuk misi dimulai masih sekitar dua hari lagi.
"A-Apa yang kau lakukan di sini?"
"...."
Tidak ada jawaban darinya. Suasana sangat canggung saat ini dan harus ada yang memecahkan suasana ini. Tapi beruntungnya Oukami lah yang memecahkannya.
"Ikuti aku." Tapi cara memecahkannya sangat aneh dan dia langsung pergi tanpa masuk ke dalam ruanganku dulu.
Sepertinya dia ingin mengajakku ke suatu tempat. "Eh?" Hanya itu reaksi yang bisa aku berikan kepadanya karena sikap random yang ia tunjukkan saat ini.
"Dan jangan lupa bawa senjatamu."
"Ha ...?" Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dia maksudkan. Jadi aku masih berdiri di depan pintuku saat ini melihat dia yang mulai berjalan menjauh.
"Apaan sih dia itu?"
__ADS_1
"Aku rasa kau harus ikut dengannya," ucap Cecilia.
"Hah?! Apa kau tidak lihat kalau dia sangat mencurigakan? Bagaimana kalau dia merencanakan sesuatu yang buruk kepadaku?"
"Jika benar begitu, kau bisa langsung kabur, kan? Sudahlah ikuti saja maunya."
"Kenapa malah kau yang ngotot, sih? Aku kan—"
"Oi. Kenapa kau bisik-bisik dari tadi? Apa ada orang di sana?"
"Itu ... tidak ... ada orang, kok. Hehe."
Meskipun sempat curiga, tapi Oukami tidak memperdulikannya lebih lanjut lagi dan kembali berjalan. Sementara aku sendiri setelah dipaksa oleh Cecilia, akhirnya aku pun mengikuti kemauannya—Tentu saja dengan membawa pedang Tetsu.
Kami kemudian keluar dari hotel dan berjalan menuju ke kantor White Cloud—tapi tidak masuk lewat pintu depan, melainkan memutari gedung lalu masuk ke sebuah gerbang bawah tanah yang kelihatannya seperti sebuah parkiran.
Tapi aku salah.
Tempat ini jauh dari yang namanya parkiran. Lebih ke arah sebuah arena yang terbuat dari beton dan pilar-pilar beton sebagai penopang atap tempat ini.
Oukami kemudian berhenti berjalan dan membalikkan badannya ketika kami sudah berada di tengah arena dan berjarak beberapa meter. Tunggu sebentar .... Entah kenapa perasaanku tidak enak.
"Satou Iraya. Aku mengajakmu kesini untuk menantangmu berduel!"
Tuh kan aku benar! Sialan. Ternyata dia memang masih menyimpan dendam padaku, padahal di turnamen kemarin dia sudah menang. "Tu-tunggu sebentar, Oukami Yuu-san. Apa aku tidak salah dengar?"
"Tidak. Aku memang ingin mengajakmu duel ulang."
Tentu saja, ya. "Tapi kenapa? Bukannya waktu itu kau yang memenangkan pertandingan? Kenapa kau sampai mau repot-repot tanding ulang?"
"Di momen terakhir pertandingan, aku merasa kalau aku sudah kalah darimu dan ingin berteriak 'aku menyerah' ...."
Jadi dia mau menyerah saat itu. Kalau saja aku bertahan sekitar satu menit lagi, mungkin aku tidak akan di sini sekarang. Tunggu? Tapi dia kan kesini mau balas dendam. Arrgh! Sialan! Aku memang sudah ditakdirkan bertarung dengannya. Dasar takdir sialan!
"... Tapi karena kau pingsan, makanya aku bisa menang darimu. Dan tentu saja aku tidak terima dengan kemenangan kotor seperti itu!"
"Wah ... dia ini sangat merepotkan," ucapku datar.
"Sepertinya dia tipe orang yang punya harga diri yang tinggi," lanjut Cecilia.
Aku rasa juga begitu. Tapi aku paling malas bertemu dengan tipe orang sepertinya, aku tidak akan pernah berhenti berurusan dengannya sampai ia puas.
"Kalau begitu aku menyerah." Aku mencoba mengangkat tangan dan menyerah.
"Tidak boleh! Aku tidak akan membiarkanmu pergi sampai aku mendapatkan hasil yang aku inginkan!"
"Menyerah juga tidak berhasil. Ya ... meskipun aku sudah menduganya, sih."
"Kalau begitu ...."
Oukami mulai mengumpulkan auranya dan membentuk sebuah tombak dengan ujung belati dan perisai di tangan kanan dan kirinya. Tidak hanya itu, ia juga membuat sebuah zirah dari aura dengan model Zirah Domaru—zirah model samurai Jepang tempo dulu yang menutupi seluruh tubuhnya.
"... Aku mulai!"
"Apa-apaan itu?! Aku belum pernah lihat dia melakukan ini sebelumnya?!"
Zwuushh... Triiingg...
Oukami melesat dengan cepat lurus kepadaku dan menusukkan tombaknya ke perutku, beruntungnya aku masih sempat mencabut pedangku dari sarungnya dan membelokkan sedikit arahnya sehingga ia tipis melesat ke samping pinggangku.
Aku pun melompat mundur ke belakang untuk menjaga jarak.
"Oi! Kau mau membunuhku, kah?! Tadi itu bahaya sekali, tahu! Lalu apa-apaan zirah aura itu?!"
"Setelah memenangkan turnamen The One itu, aku berlatih lebih keras untuk menciptakan sesuatu yang bisa aku kenakan sebagai pelindung. Dan aku berhasil menciptakan zirah ini!"
Dia ini bodoh, kah?! Kita masih punya misi dua hari lagi dan dia malah mengajakku berduel sekarang. Tapi mau kabur pun sepertinya percuma, tidak ada orang di sini selain kami berdua dan sepertinya dia sudah mengunci pintu keluarnya.
"Niat banget sih, otak otot satu ini," gumamku.
"Sekarang mau bagaimana?" tanya Cecilia.
"Tidak ada pilihan lain. Sebenarnya aku masih lelah karena perjalanan dan kurang tidur. Hah ... apes banget sih aku ini."
Aku kemudian memasang kuda-kuda dan mengalirkan auraku ke kedua tangan, kaki, dan mataku, serta tidak lupa juga ke pedang Tetsu. Sepertinya aku harus serius melawan orang dengan harga diri tinggi ini.
"Tetsu, apa kau bisa mendengarku?"
"Kencang dan jelas! Tapi sepertinya kau sedang kurang beruntung ya, Iraya?"
"Ya mau bagaimana lagi, tapi untuk sekarang kita akan melawannya. Apa kau siap, Tetsu?!"
"Tentu saja!"
__ADS_1
Kali ini aku siap. Dan sepertinya aku akan membuatnya puas dan tidak akan mengganggu hidupku lagi setelah ini.
Bersambung