
"Selamat tinggal."
Suara itu menggema di dalam kepalaku. Bagaikan mimpi yang samar-samar, aku tidak bisa mengingatnya terlalu jelas.
"Aku titip Anna-san dan Black Rain kepadamu, Iraya. Lalu .... Nama 'Ririsaka Herlin' ini, akan aku buang jauh-jauh."
Aku membuka mataku dan melompat dari posisi tidurku. Tapi yang bisa aku rasakan adalah rasa sakit di perut dan punggungku. Dan mungkin aku terlambat menyadarinya, tapi kini aku berada di atas kasur di panti asuhan dengan banyak orang yang mengelilingiku— yang ternyata hanya anggota Black Rain.
"Iraya! Akhirnya kau bangun juga!"
Mei-senpai dengan khawatir langsung memelukku yang baru saja bangun, sepertinya kondisiku lumayan parah ya sampai mereka sebegitu khawatirnya?
"Me-Mei-senpai?"
"Kami menemukanmu pingsan dengan luka besar di bukit belakang. Apa kau diserang musuh? Siapa yang bisa menyerangmu sampai separah itu?" tanya Ishikawa-san.
Benar juga. Ingatan terakhirku adalah saat malam hari di bukit belakang, tapi hal itu juga samar-samar dan tidak terlalu jelas. Aku melihat perutku, masih ada sedikit bercak darah yang menembus lewat perban ini.
"Kemarin malam ...."
Aku mencoba mengumpulkan ingatanku sebanyak yang aku bisa. Di malam itu, seharusnya aku hanya berdua dengan Herlin saja. Kemarin adalah malam yang sangat indah karena aku bisa melihat tawa lepas dan senyuman Herlin yang sangat langka, tapi ....
Tiba-tiba perutku ditusuk oleh sebuah benda tajam. Aku tidak tahu apa tepatnya itu, tapi sekelebat aku ingat kalau yang menyerangku adalah sesosok wanita dengan gaun putih panjang.
Dengan kata lain, Banshee.
"Herlin ... menyerangku," ucapku.
"Apa?!"
"Apa kalian bertengkar? Tapi bukankah dia sedikit berlebihan untuk yang satu ini?" ucap Caramel.
Tentu saja mereka terkejut. Tidak ada yang menyangka kalau orang yang menyerangku separah ini adalah temanku sendiri.
"Jadi, sekarang dimana dia?" tanya Nigiyaka-san.
Lalu aku menceritakan semua hal yang aku ingat, perlahan ingatanku kembali lebih banyak daripada saat aku baru bangun. Aku menceritakan kalau sebelum menyerangku, Herlin sempat bercerita kalau ia bertemu dengan seseorang yang mengetahui nama aslinya.
Orang itu memberitahunya kalau Herlin harus pergi dari sini jika dirinya ingin mengetahui segalanya. Herlin kemudian memilih hal itu, lalu melakukannya secara diam-diam tanpa memberitahukannya kepada orang lain.
Aku sengaja tidak memberitahu mereka tentang pengakuan cinta Herlin karena hal itu memalukan dan juga tidak penting.
"Tapi kenapa harus menyerangmu?!" tanya Mei-senpai dengan nada kesal.
"Sepertinya dia berpikir kalau tidak melumpuhkanku, aku akan menghentikannya. Tapi memang itu yang akan kulakukan, sih."
"Lalu apa kau memiliki sebuah petunjuk? Entah itu orang yang ada di atas radio, siapa yang ingin dia temui, atau kemana Herlin pergi?" Ishikawa-san juga ikut bertanya.
Tapi aku menggeleng. "Sayangnya aku tidak tahu apa-apa." Herlin tidak memberitahuku apapun, ia benar-benar menutup rapat masalahnya dan tidak ingin ada yang ikut campur.
Aku tiba-tiba teringat tangisannya malam itu. Mengingat hal itu membuatku menggigit bibir bawahku kesal, padahal sudah jelas kalau ada yang aneh dengan sifatnya semalam, tapi aku dengan bodohnya malah terbawa suasana.
Suasana menjadi hening, tidak ada yang tahu harus melakukan apa. Karena mereka tidak memiliki sedikitpun petunjuk. Tapi saat kami sudah hampir putus asa, tiba-tiba seseorang datang.
"Akhirnya dia memutuskan untuk pergi, ya?" Orang itu adalah Yuuki-san. Dia datang dengan membawa air untuk semua orang di sini.
"Yuuki-san?!"
Yuuki-san kemudian duduk dan ikut mengobrol bersama kami. "Sudah cukup lama dia tinggal di sini, bahkan saat pertama kali datang, dia masih berusia sekitar tiga bulan." Yuuki-san mulai bercerita.
"Oh iya, kalau boleh tahu, apa Yuuki-san tahu siapa orang yang membawa Herlin ke panti asuhan? Sepertinya dia datang saat usianya masih sangat kecil."
"Yang membawanya adalah ... orangtuanya sendiri bersama dengan Oita-san. Mereka menitipkan Herlin-chan— tidak, itu nama yang diberikan oleh Oita-san untuknya dan juga sebagai penyamaran agar yang diminta oleh orang tuanya langsung supaya dia bisa hidup dengan aman di sini. Lalu mereka berdua membuatku mengurusnya sampai sekarang."
"Apa?!"
"Jadi soal namanya ...?"
Mei-senpai bertanya dan Yuuki-san mengangguk. "Itu adalah nama palsu. Saat melihatnya aku juga tahu kalau dia dan orang tuanya bukan berasal dari Jepang, malaikat secantik dia membuatku terpana saat pertama kali melihatnya dengan bulu mata lentik dan rambut pirang lurus indahnya itu," jelas Yuuki-san lebih lanjut.
"Lalu ... apa Yuuki-san tahu dari mana Herlin berasal?"
__ADS_1
Yuuki-san menggeleng. "Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apapun tentangnya. Oita-san berpesan kalau yang perlu aku lakukan adalah merawatnya seperti aku merawat anakku sendiri."
"Jadi yang tahu semuanya hanya Oita-san saja?"
Dan Yuuki-san pun mengangguk. Benar. Itu yang aku takutkan. Tidak ada informasi yang bisa aku dapatkan meskipun hanya sedikit, semuanya begitu cepat terjadi padahal aku pikir kami akhirnya bisa sedikit memperdalam hubungan kami. Sialan.
Akhirnya kami semua memutuskan untuk mengesampingkan masalah ini terlebih dahulu, karena tidak ada juga yang bisa kami lakukan. Aku pun juga segera pamit pulang. Meskipun lukaku belum sembuh sempurna, tapi aku tidak ingin merepotkan Yuuki-san lebih jauh lagi.
**
Pada pagi hari, beberapa hari setelah kejadian itu, kehidupanku harus tetap berjalan. Aku sudah siap dengan seragamku dan hanya tinggal berangkat saja.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Caramel.
"Ah ... iya," ucapku lemas.
"Jika kau masih tidak enak badan, kau bisa tidak masuk sekolah dulu."
"Tidak apa-apa. Aku sudah terlalu banyak tidak masuk, dan aku tidak mau absensi ku jadi kacau."
Aku tidak tahu darimana dia bisa menebaknya, tapi sepertinya itu tertulis jelas di wajahku. Aku kemudian berangkat tanpa sepatah kata pun sambil diantar oleh Caramel sampai di depan pintu rumahku.
Ketika aku berjalan ke sekolah pun, kebanyakan tatapan yang aku berikan kosong dan tidak fokus pada jalan.
"... Ya?"
Tadi sebenarnya aku bisa tidak masuk sekolah dulu, tapi kenapa aku bersikeras untuk masuk, ya? Tidak. Jika aku hanya berdiam diri di rumah maka aku akan semakin kepikiran, jadi sebisa mungkin aku harus menyibukkan diriku.
"Iraya!"
Mataku membelalak. Suara seseorang memanggilku beberapa kali dari belakang yang membuatku menengok. Harapanku sedikit meninggi ketika ada yang memanggilku, karena biasanya yang melakukan hal itu adalah Herlin. Tapi ternyata kenyataan tidak seperti harapanku.
"Bukankah sudah kubilang jangan suka melamun kalau sedang berjalan?"
"Kami memanggilmu loh dari tadi."
Yang memanggilku ternyata Kudou dan Hira.
"Iya, ini kami. Memangnya siapa yang kau harapkan?" tanya Hira.
"Ti-tidak ...."
"Hmm?"
Mereka berdua pun kembali berjalan yang kemudian aku ikuti langkahnya beriringan. Suasana menjadi lebih dingin dan canggung dari biasanya, tidak ada obrolan-obrolan ringan yang biasa kami lakukan selama perjalanan.
Tapi tiba-tiba Hira berhenti berjalan dan mulai berbicara dengan nada kesal. "Baiklah. Sekarang ada apa lagi?"
"Hira?"
"Ada sesuatu yang terjadi dan kau tidak memberitahukannya kepada kami, kan? Apa kami memang sudah tidak bisa dipercaya lagi sebagai temanmu sampai kau tidak mau memberitahukan masalahmu?"
"Tidak. Bukan itu ...."
"Lalu apa?! Aku sudah muak dengan omong kosong ini! Jika kau punya masalah, ceritakan kepada kami! Apa hal itu sangat sulit untuk kau lakukan?!"
Masalahnya sekarang benar-benar bukan itu. Jika pun aku cerita, tidak ada yang bisa mereka lakukan. Ini adalah masalah yang berada diluar jangkauan mereka dan tidak ada hubungannya dengan mereka sama sekali.
"Apa ini soal Exception itu? Apa itu? Kami yang orang biasa terlalu lemah untuk mengetahuinya, begitu?"
Hira mengangkat kerah bajuku tinggi-tinggi saking kesalnya, tapi itu tidak terlalu tinggi dari tanah karena perbedaan kekuatan kami. "Jawab dan lihat mataku, sialan!" Aku tidak berani menatap matanya langsung. Maafkan diriku yang seorang pengecut ini.
"Su-sudahlah Hira!" Kudou kemudian bergerak di antara kami dan langsung melerainya. "Iraya, yang perlu kau ketahui kalau kami adalah temanmu sebelum kau menjadi seperti sekarang. Jadi aku mohon setidaknya jangan lupakan kami," lanjut Kudou.
Dia memang ada benarnya. Sebelum bertemu Cecilia, aku sama seperti mereka. Pikiranku jadi sedikit lebih tenang berkat Kudou. Meskipun mereka tidak bisa membantu, tapi kalau dengan memberitahunya bisa membuatku lebih tenang ... kurasa tidak ada salahnya.
"Aku mengerti."
"Hn?"
"Herlin telah pergi. Dan sepertinya, kita tidak akan bisa melihatnya lagi." Pada akhirnya aku memberitahu mereka apa yang menjadi kegundahanku dari tadi.
__ADS_1
"Eh?"
Tapi perhatian kami bertiga teralihkan oleh suara sebuah tas jatuh di belakang kami. Ternyata itu adalah Anna-san yang sepertinya mendengar pembicaraan kami berdua.
"Itu bohong ..., kan?" Anna-san masih tidak percaya.
"...."
"Kumohon katakan kalau itu bohong! Herlin-san ..., Herlin-san tidak mungkin pergi begitu saja!" Anna-san mencengkeram seragamku erat, lalu air mata jatuh ke pipinya.
Aku melepaskan cengkeraman Anna-san lembut. "Maafkan aku, Anna-san. Aku sudah mencoba untuk menahannya, tapi dia tetap bersikeras."
"Tapi! Dia tidak bilang apa-apa kepadaku! Aku juga tidak tahu kalau dia punya masalah! Lagipula kenapa dia menyembunyikannya dariku?!"
"Maaf ... ini salahku yang tidak menyadarinya lebih awal. Aku juga tidak punya petunjuk kemana dia pergi." Padahal jika aku tahu, keadaannya tidak akan menjadi seperti ini. Ini semua salahku karena aku terlalu bodoh!
"Aku ... aku yakin Herlin-san punya alasan. Yang bisa kita lakukan adalah mempercayai Herlin-san."
"Eh?"
"Aku rasa tidak ada pilihan lain selain itu," ucap Hira.
"Aku juga berpikir begitu." Kudou juga setuju.
"Begitu, ya?"
Sepertinya memang sudah tidak ada harapan lagi. Mereka bisa menerimanya lebih baik dari aku. Dan kini yang bisa aku lakukan adalah tetap fokus pada tujuanku— yaitu melindungi rumahku dan orang-orang berharga bagiku yang masih tersisa di sini.
Aku menghela nafas dalam-dalam lalu melihat teman-temanku. Kini aku punya satu tujuan tambahan lagi di dalam hidupku dan untuk mencapainya, masih banyak yang harus aku lewati.
"Terima kasih, teman-teman. Maaf membuat kalian khawatir." Dan mereka semua tersenyum.
Kami kemudian berjalan menuju ke sekolah bersama dengan perasaan yang lumayan lebih baik, walaupun perasaan sedih dan mengganjal di dalam hati kami ini masih belum bisa hilang begitu saja.
**
Setelah pulang sekolah, aku berjalan sendirian menuju ke bukit belakang— tempat aku dan Herlin biasa berlatih.
Aku masih mengingat dengan jelas apa yang ia ucapkan setelah dia menyerangku. Perpisahan dan menyerahkan semua yang ada di sini kepadaku. Kalau dipikir lagi, seenaknya saja dia bilang begitu.
"Egois sekali kau," gumamku.
Aku memfokuskan auraku dan menciptakan pedang aura berwarna hijau yang biasa aku pakai. Berkat Kenshin-san, kini aku memiliki gagang pedang yang tepat untuk memegang pedang ini.
Gagangnya memang tidak seperti gagang pedang lainnya— malah lebih cocok dikatakan sebagai sarung gagang yang melindungi genggamanku, karena terbuat dari kulit.
Dan melihat hal ini membuatku teringat kalau aku juga masih harus membayar pedang seharga 800.000 Yen ini. Dia meninggalkan sesuatu yang sangat besar dan mahal yang harus aku tanggung sendirian. Apa-apaan itu.
Aku mengalirkan auraku dan menguatkan kuda-kuda, lalu setelah itu menebaskan pedang itu ke depanku menciptakan hembusan angin kuat yang memotong beberapa pohon besar.
Apa begini saja sudah cukup? Apa aku sudah bisa menyombongkan diriku dan berkata pada Oita-san di atas sana kalau aku sudah bisa melindungi Herlin dan yang lainnya dengan kekuatanku yang segini?
"Tidak ... ini masih belum cukup." Aku sadar akan hal itu. Teknik pedangku masih kurang, aku bahkan kalah oleh Herlin yang bukan seorang pengguna pedang. Kekuatanku juga sama, staminaku juga, intelejensi dalam bertarung, konsentrasi, pembacaan kekuatan lawan, dan yang paling penting, keinginan membunuh dalam setiap pertarungan.
Aku tidak memiliki itu semua. Aku masih mentah, lemah, dan bodoh. Apa ini yang hasil yang Herlin ajarkan setelah hampir satu tahun? Tidak, aku yakin dia pasti kecewa. Makanya dia tidak mengajakku, dia pasti merasa kalau aku hanya akan menjadi beban yang menghambatnya.
"Akhirnya kau mengerti." Tiba-tiba Cecilia berbicara.
"Huh?"
"Kau bocah mentah yang baru terjun ke lubang tanpa dasar, dan kau sudah merasa kalau kau yang paling kuat? Jangan buat aku tertawa."
"Kau payah sekali dalam menghibur seseorang. Tapi kurasa memang itu yang aku butuhkan, harus ada seseorang yang menampar kenyataan ke wajahku."
"Maka dari itu, berhenti mengeluh dan gerakkan tubuhmu. Herlin akan berjalan semakin jauh jika kau hanya meringkuk mengasihani diri sendiri."
Cecilia benar. Tidak ada waktu untuk mengeluh. Aku harus berlatih, berlatih, dan berlatih setengah mati. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk mengejar ketertinggalanku dari Herlin. Lalu satu hal lagi yang bisa membuatku semakin menyusul adalah ....
Membangkitkan Unique Skill milikku sendiri.
Bersambung
__ADS_1