
Mereka berkembang.
Itu yang dapat aku pastikan setelah bertarung dengan mereka. Entah kenapa aku kesal karena mereka begitu berkembang ketika aku tidak melihatnya.
Padahal itu lah alasanku merekrut mereka dulu. Herlin-chan yang kedua orang tuanya sudah tidak ada, sementara Iraya-kun yang mencari kekuatan untuk melindungi ibunya. Dan mereka semua terus berkembang setelah itu.
Sial. Kesibukanku mengurus Kuni no Hashira bodoh itu membuatku tidak punya banyak waktu untuk memperhatikan mereka.
Setelag pulang sekolah, Iraya-kun dan Herlin-chan beristirahat sejenak di Cafe lalu setelah itu mereka pergi untuk latihan. Di bukit belakang, ya? Aku seharusnya banyak mengecek mereka ketika latihan di sana.
Penyesalan demi penyesalan terus tergambar di kepalaku ketika memikirkan tentang mereka berdua. Mereka adalah anggota yang paling aku sayangi— bukan berarti yang lainnya tidak aku perhatikan.
Tapi sebagai duo paling muda di organisasi membuat mereka menarik untuk diperhatikan perkembangannya. Bakat mereka masih sangat mentah, tapi potensi yang dipancarkan begitu menyilaukan membuatku tidak bisa tidak memicingkan mataku ketika melihatnya.
Kita katakan saja, Herlin-chan. Dia bergabung ketika masih SMP kelas 2. Lalu setelah itu mengikuti Turnamen The One untuk pertama kalinya karena aku memberitahukannya dan dia tertarik untuk mengikutinya.
Lalu setelah itu apa? Dia lolos ke delapan besar meskipun sebagai peserta paling muda di turnamen tahun itu. Walaupun pada akhirnya dia kalah karena kelengahannya sendiri dan Herlin-chan sangat menyesal akan hal itu. Ia ditipu trik yang tidak pernah ia hadapi sebelumnya. Unique Skill. Saat itu dia belum mengerti apa-apa soal itu dan dihancurkan olehnya.
Tapi setelah kekalahannya dia terus berlatih, berlatih, dan berlatih. Mengalahkan monster di bukit belakang yang awalnya adalah kawasan berbahaya dan sekarang dapat dimasuki oleh anak kecil sekalipun. Semuanya berkat Herlin-chan.
Lalu rahasia lain yang dimiliki adalah The Unseen miliknya, yang selalu mengikutinya selama yang pernah aku ingat. Bahkan saat dirinya sangat kecil ketika aku mengunjunginya di panti asuhan Yuuki-san, monster itu telah mengikutinya.
Awalnya aku tidak mengerti apa yang membuat monster itu terus mengikutinya, tapi setelah penjelasan dari orang yang ahli tentangnya, baru kemudian aku mengerti. The Unseen itu— Banshee adalah sebuah warisan. Warisan yang diberikan kepada Herlin-chan untuk terus menjaganya.
Aku bertemu langsung dengan mereka— dengan kedua orang tua Herlin-chan, ketika sedang berada di panti asuhan. Pada tengah malam, mereka dengan kondisi lusuh dan penuh luka berdiri kelelahan di depan pintu asuhan sambil menggendong bayi berusia 3 bulan yang langsung mereka berikan kepada Yuuki-san.
Lalu pesan terakhir yang ayah Herlin-chan berikan kepadaku adalah sesuatu yang sangat sederhana, 'Tolong jaga dia untuk kami'. Lalu mereka pergi, tanpa jejak dan menghilang seolah tidak pernah ada di sana.
Kemudian Iraya-kun. Heh .... Pertemuanku dengannya adalah yang paling lucu dari semua orang yang pernah aku temui. Herlin-chan membawakannya kepadaku dan memintaku untuk memeriksanya apakah ada yang aneh dengannya atau tidak.
Dan yang aku temukan lebih dari aneh. Itu luar biasa. Memang ada rumor kalau subjek percobaan milik Astaroth berhasil melarikan diri dari laboratorium, tapi aku tidak percaya begitu saja. Namun, setelah melihat anak ini barulah mataku terbuka.
Aku bahkan hampir tertawa saat mengetahui kalau subjek yang hilang itu ada di dalam tubuh Iraya-kun. Bukankah hal itu terlalu bagus untuk dibilang kebetulan? Itu adalah keajaiban— tidak, mukjizat bahkan.
Jadi aku mencoba merekrutnya masuk ke dalam Black Rain bagaimana pun caranya. Meskipun awalnya dia menolak, tapi aku yakin kalau dia pasti akan kembali. Dan perkiraanku benar. Dia secara tidak sengaja telah masuk ke dalam neraka yang mustahil untuk keluar dari sana.
Lalu pada akhirnya, dia pun bergabung bersama kami dan dilatih oleh Herlin-chan. Pada dasarnya, dia hanyalah anak SMA biasa yang memiliki kelebihan pada fisiknya. Kenapa aku tahu? Dia bisa menahan makhluk sehebat Subject C di dalam tubuhnya dan tidak mati karenanya.
Tapi itu tetap saja tidak cukup untuk membuatnya bertahan di sisi dunia ini. Dia bahkan baru mengaktifkan auranya ketika bergabung bersama kami, jadi dia benar-benar mentah.
Dan semua itu telah berlalu hampir setahun lamanya.
Kini aku sedang melawan mereka berdua dengan bukan menggunakan tubuh asliku. Benar. Sebenarnya aku sudah mati saat melawan Astaroth waktu itu, tapi entah bagaimana aku bisa hidup lagi dan terlebih lagi tubuhku berbeda.
Tapi aku menyadari kalau Astaroth juga sudah mati, itu berarti mereka semua berhasil mengalahkannya tanpa diriku? Itu membuatku tersenyum tanpa henti dan rasa bangga bermekaran di dadaku.
Aku yang dengan egoisnya menyerahkan tanggung jawabku kepada mereka untuk mengalahkan Astaroth yang jauh dari kemampuan mereka saat itu. Tapi mereka bisa menang! Aku tidak peduli bagaimana caranya, tapi mereka menang! Membunuh seseorang yang membahayakan negeri ini, mereka sudah setara dengan legenda Jepang lainnya.
Siapapun cetak poster dan pajang wajah mereka di setiap sudut jalan di negara ini! Mereka baru saja menyelamatkan negara dari penjajah luar! Tapi sayangnya itu tidak akan terjadi. Karena tidak ada saksi— kecuali mungkin anggota Black Rain lain, jadi mereka tidak akan diakui semudah itu.
Ehem ...! Kita lupakan cerita tentang bagaimana senangnya diriku karena menemukan mereka. Kembali ke kondisiku saat ini, aku sedang bertarung dengan mereka menggunakan tubuh orang lain. Wajar jika mereka tidak menyadarinya, tapi sepertinya auraku sedikit berubah, ya? Auraku bercampur dengan tubuh anak ini dan mereka tidak bisa mengenalinya.
Keponakan Astaroth yang membuatku menjadi seperti ini dan dia sekarang sedang menontonku dari tempat yang aman bersama dengan pelayannya. Aku tidak tahu tepatnya lokasi mereka di mana, tapi aku bisa merasakan keberadaannya.
Sialan. Menyadari kalau aku tidak bisa menggerakkan tubuhku secara bebas dan dikendalikan seseorang membuatku ingin bunuh diri— tapi itu tetap tidak bisa kulakukan.
Hah ..., baiklah. Kita kembali lagi ke pertarungan untuk sementara. Untuk sementara waktu aku menggunakan aura yang aku bentuk menjadi utas benang yang keluar dari ujung jariku.
Bagaimana cara aku melakukannya, kau bertanya? Mudah saja. Teknik Invisible Hands milikku sebenarnya adalah aura fleksibel yang bisa aku ubah ke bentuk apa saja sesuai kemauanku. Dan karena tangan adalah bentuk paling efisien untuk melakukan apapun, jadi aku memilih bentuk itu.
Herlin-chan mencoba menimpaku dengan reruntuhan yang besarnya hampir tiga kali besar tubuhku. Beruntungnya aku bisa menghindarinya, dia tidak tahu kalau lawannya adalah Oita-san yang sangat dia kagumi itu.
Kini aku bersandar di belakang reruntuhan puing dan memikirkan apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Kecepatan Iraya-kun memang mengejutkanku, tapi masih bisa aku ikuti. Lalu soal Herlin-chan yang memakai pedang, sepertinya bukan masalah besar.
__ADS_1
Aku menyeringai. Aku sudah menyusun rencana agar serangan ini bisa mengejutkan mereka. Lagipula aku punya rencana tersendiri dalam pertarungan ini, aku tidak akan lupa dengan hal itu.
Aku membalikkan badanku dan benang aura kembali keluar dari semua jari tanganku. Benang aura kemudian memanjang dan dengan cepat mengelilingi puing itu, setelah itu memotongnya secara kasar sehingga ia hancur berkeping-keping.
Aku berjalan melewati puing reruntuhan yang aku hancurkan barusan. Debu yang beterbangan perlahan menghilang membuat penglihatanku jelas dapat memandangi wajah terkejut mereka berdua.
Seringai di wajahku belum menghilang. Sementara aku membentuk 'X' kedua tanganku di depan dadaku dan benang aura yang tadi memanjang kembali memendek tetapi masih menari bebas di setiap jariku.
"Baiklah, apa bisa kita mulai lagi?"
"Jadi itu tidak cukup, ya?"
"Aku kira memang tidak akan semudah itu."
Mereka menyadarinya. Tidak mungkin semudah itu untuk mengalahkanku, jadi cobalah lebih keras! Buat aku berusaha keras dan mengakui kekuatan kalian!
"Sepertinya ini adalah pertama kalinya kalian bertarung bersama, ya? Terlihat kalian masih banyak sekali kekurangan!"
"Herlin, apa kau siap?"
"Ya."
Mereka tidak mendengarkanku. Terlebih lagi sepertinya sudah ada sesuatu yang mereka persiapkan. Ya, akan aku ladeni apapun rencana mereka, sih. Meskipun kekuatanku tidak seratus persen, tapi aku tidak akan kalah mudah dengan kalian!
Ia memejamkan matanya. Lalu percikan listrik kembali muncul di kaki Iraya-kun, sepertinya ia akan mulai bergerak cepat lagi. Sayangnya itu percuma, selama aku bisa mengetahui di mana aura kalian berada, maka serangan kalian tidak akan ada yang kena.
Eh?
Dia tidak menyerangku?
Sudah lumayan lama percikan listrik muncul di kaki Iraya-kun dan bahkan sudah menjalar ke pahanya. Sebentar! Ada yang salah dengan ini! Ini berbeda dari yang sebelumnya, apa yang akan dia lakukan?!
"Aku sudah siap, Herlin," ucapnya fokus.
Zwuushh...
Dia melesat. Lebih cepat dari yang tadi. Seolah kilat baru saja menyambar ke arahku. Mataku tidak bisa mengikuti pergerakannya, apa-apaan itu?! Aku baru tahu dia bisa bergerak secepat itu. Apa tubuhnya tidak apa-apa? Tidak terbakar, kan?! Apa Subject C di dalamnya yang melindunginya? Benar, aku rasa itu jawabannya. Tapi bagaimana kalau tidak?!
Saat aku sedang melamun dan berpikir, tiba-tiba instingku menyuruhku melihat ke belakang. Sebuah bayangan menutupi sinar bulan di belakangku dan membuatku menengok dan refleks menghindar.
Dia kembali menebasku. Tekniknya berbeda dari yang dimiliki oleh Iraya-kun, lebih ke zaman Jepang kuno? Entahlah, mungkin begitu. Tapi pengalamannya tidak bisa bohong. Meskipun dia jenius, ada beberapa gerakan yang terlihat jelas masih kasar dan mentah.
Aku membalas serangannya, mencoba untuk menyerang leher dan wajahnya, dan berhasil menyayat telinga serta pipinya. Tapi itu tidak mengendurkan serangannya, ia seakan tidak peduli dengan luka di tubuhnya.
"Kau bakal membunuh dirimu sendiri dengan serangan mentah seperti itu, kau tahu!"
"Benarkah?"
Jawabannya dingin seperti sifatnya yang biasa. Dan setelah itu, tubuhku kaku tidak bisa bergerak, Herlin-chan kembali menggunakan kekuatannya padaku. Tapi itu terlalu mudah untuk dinetralkan.
"Ughh ...!"
Meskipun aku berhasil melepaskan diriku dari efek Mind Power, tapi dia menggunakan waktu semilidetik itu untuk menyerangku dan berhasil. Bekas tebasan diagonal tercipta cukup besar dari dada sampai ulu hatiku. Dia memang benar-benar hebat. Tapi ....
"Cukup."
"??!!"
Matanya melebar ketika tendanganku mengenainya tepat di ulu hatinya dan membuat dia meringis sekaligus terpental jauh sampai menabrak tembok.
"Kalian sudah mulai serius, sepertinya aku juga tidak boleh terus main-main."
Dari balik debu puing, Iraya-kun muncul di sampingku dan bersiap untuk menebasku secara vertikal. Meskipun ia cepat, suara percikan listrik di tubuhnya membuatku menyadari keberadaannya dan tahu dari mana dia akan datang.
__ADS_1
Aku membiarkannya menyerang, tapi aku melebarkan kedua tanganku dan benang aura melebar di depan dadaku. Tebasannya diterima oleh benang aura dan tertahan di sana. Aku menyadari kalau bilahnya terbuat dari aura, jadi Iraya-kun sudah bisa mempertahankan aura dalam waktu yang cukup lama, ya? Bagus sekali.
"A-apa?!"
Dia mencoba menarik kembali bilah pedangnya, tapi itu seakan menempel di sana.
"Masih kurang."
Aku menarik benang aura dan otomatis Iraya-kun yang sedang memegang pedang terbawa ke bawah, lalu tanpa jeda aku menendang wajahnya dengan lutut dan masuk telak ke sana. Membuat hidungnya mimisan deras— sepertinya patah.
"Akhh ...!"
Bilah pedangnya perlahan menghilang menjadi sebuah partikel hijau yang terbang ke udara lalu menghilang, menyisakan gagangnya yang tidak pernah lepas dari genggamannya sejak tadi. Kurasa ia sudah lulus pelajaran pertama menjadi seorang pendekar pedang— tidak pernah lepaskan genggamanmu dari pedang.
Tapi tetap saja, tendangan lutut ke hidung tentu saja melemahkannya begitupun genggamannya. Aku kemudian langsung menendang perutnya dan Iraya-kun pun terpental jauh ke belakang— masih mencoba untuk bangun.
Hoo~ semangat juang yang bagus. Setidaknya itu yang patut ku acungi jempol. Wajahnya berantakan tapi aku masih bisa melihat tatapan murka dan kemarahan terlukis di sana. Ayo! Jangan kehilangan fokus!
Kemarahan memang diperlukan, tapi jangan sampai itu membuatmu dibutakan olehnya. Herlin-chan masih menempel di kawah dinding akibat benturan serangan yang aku berikan, sementara Iraya-kun juga sudah mulai kelelahan. Aku melipat tanganku di dada dan berteriak kepada mereka.
"Apa kalian yakin bisa menang melawanku dengan kemampuan kalian yang hanya segini?! Itu berarti kalian tidak lebih dari bocah naif!"
"Si-sialan."
Iraya-kun masih baik-baik saja karena masih bisa mengumpat kepadaku. Sementara Herlin-chan .... Dia tidak bergerak— juga darah mengucur dari pelipisnya.
Memang dia adalah seseorang yang memiliki tubuh yang kurang baik dalam pertarungan fisik, itu adalah kelemahan seorang Mind Power yang tidak terelakkan. Makanya aku masih bingung dengan keputusannya untuk belajar berpedang.
Oh iya, aku masih ingat. Demi menyelamatkan Iraya-kun yang diculik waktu itu, ya? Lalu di saat dia bertemu denganku, aku sedikit merasakan aura Subject C di dalam tubuhnya.
Apa karena itu? Itu berarti Subject C berhasil keluar dari tubuh Iraya-kun tepat waktu dan kemudian untuk sementara berpindah ke tubuh Herlin-chan. Tapi bukankah itu berbahaya? Maksudku, manusia dan Spirit tidak bisa begitu saja bersatu di dalam satu tubuh.
Mereka butuh kecocokan. Bahkan Heiwa Pharmacy membutuhkan banyak manusia percobaan untuk mencari manusia yang cocok dengan Subject C. Dan dua anak kecil di tempatku dengan super duper kebetulannya memiliki kecocokan dengan Subject C.
Itu sudah bukan keajaiban lagi. Itu pengaturan namanya. Aku menggelengkan kepalaku menolak percaya. Tidak, itu tidak mungkin. Sesuatu seperti itu hanya terjadi di novel ringan fantasi remaja atau semacamnya.
Tapi jika misalkan saja itu benar, apa hubungannya dengan Herlin-chan yang mempelajari ilmu berpedang? Tidak, memangnya dari awal mereka itu berhubungan?
"?!!"
Mataku membelalak terkejut. Tiba-tiba aku mengetahui jawabannya begitu saja. Jawabannya begitu mudah bahkan sampai aku ingin mengutuk diriku sendiri karena tidak menyadarinya.
Tidak ada suatu keajaiban yang membuat dua anak di tempatku tiba-tiba cocok dengan Subject C. Karena ketidakcocokan itu yang membuat Herlin-chan belajar berpedang.
Benar!
Karena dia tidak bisa menggunakan auranya!
Aku bagaikan menemukan jackpot ketika berhasil menemukan jawabannya. Dia mencoba menutupi kekurangannya itu dengan ilmu berpedang, karena Exception tipe Mind Power tanpa kemampuannya hanya setara manusia biasa.
Tapi tetap saja itu tindakan nekat. Jika dia memiliki Subject C di dalam tubuhnya, itu berarti Herlin-chan bertarung tanpa menggunakan aura.
Melawan Assassin tanpa aura? Itu sih menantang maut namanya. Menyadari hal itu membuatku tanpa sengaja tersenyum getir. Kau masih kecil, sialan. Perbuatan buang-buang nyawa begitu sangat tidak cocok bagimu.
Kau pernah meminta bantuanku secara langsung. Dan aku menolaknya secara halus karena melawan Astaroth dan para Assassin bawahannya secara terang-terangan adalah bunuh diri. Dan kemudian kau berbuat hal senekat itu tanpa memberitahuku.
Demi Iraya-kun, ya? Memangnya siapa dia bagimu sampai kau berbuat sejauh itu. Teman sekelas? Teman satu organisasi? Keluarga? Atau mungkin sepasang kekasih? Menikah saja sana kalian berdua!
Memikirkannya terlalu lama membuat kepalaku semakin pusing. Aku tidak tahu alasan yang tepat mengapa Herlin-chan melakukan hal itu, tapi aku senang hal itu berjalan lancar. Kemudian aku menengok ke luar, ke jendela yang sudah hancur dan membuat bulan purnama terlihat jelas.
"Enaknya masa muda~" Hanya itu yang keluar dari mulutku setelah pemikiran panjang tentangnya.
Bersambung
__ADS_1