Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 26 : Sukses Besar


__ADS_3

Makhluk itu kemudian melesat dan bersiap menusukku dengan cakarnya yang tajam. Aku kemudian menutup mata dengan pasrah dan sudah siap menerima hal ini.


Craasshh…


Eh …?


Apa yang … baru saja terjadi?


Aku bisa merasakan cairan kental dengan bau anyir ini menyentuh kulit wajahku. Aku yakin sekali kalau itu adalah darah, tapi aku tidak merasakan sakit sama sekali. Aku juga tidak merasa kalau tubuhku terkena serangan atau sebagainya. Yang berarti itu bukanlah darahku.


Aku membuka mataku secara perlahan, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lalu saat mataku menyesuaikan dengan cahaya siang ini, aku bisa melihatnya. Aku bisa melihat kalau makhluk itu telah mati di depanku.


Dan saat makhluk itu ambruk, aku bisa melihat orang berdiri tepat dibelakangnya. Dengan perasaan kacau yang masih menyerangku, aku memanggil nama orang itu pelan.


"Satou … kun?"


Makhluk itu mati, kemungkinan besar karena dibunuh oleh Satou-kun. Aku masih belum mempercayai dan belum mengerti dengan hal yang dilakukannya, tapi disisi lain aku merasa sangat bersyukur. Kakiku yang sedari tadi tidak bisa digerakkan, akhirnya melemas dan aku pun terduduk sambil bersandar.


Ia berjalan tenang melewati bangkai monster yang dia kalahkan tadi. Lalu bertanya kepadaku dengan wajah merah dan ekspresi malu-malu bodoh. Ia bahkan memalingkan wajahnya dan tidak berani menatap wajahku.


"Ka-Kau tidak apa?"


Aku tidak mengerti. Aku benar-benar tidak mengerti. Kehidupannya disini sudah hancur karena fitnah yang telah kusebarkan. Teman-temannya di kelas juga sudah menjauhinya dan tidak mau berbicara kepadanya lagi.


Tapi kenapa dia masih mau menolongku? Dia bisa saja menyaksikanku dibunuh oleh makhluk itu. Tapi kenapa? Kenapa dia malah menolongku?


"Oi, aku bertanya kepadamu! Apa kau baik-baik saja?"


Orang ini. Sebelum dia, aku selalu berhasil untuk membuat seseorang yang tidak mau menurutiku dikucilkan orang lain. Kehidupan mereka akan hancur dan hal yang bisa mereka lakukan hanyalah dua hal, bunuh diri atau pergi jauh dari sini. Hal itu selalu berhasil selama ini. Tapi kenapa dengannya, itu tidak berpengaruh sama sekali?


Aku yang masih bingung, bukan menjawabnya malah meneriaki dan memakinya.


"Apa kau bodoh?!"


"Hah?! Kenapa kau malah marah?! Aku sudah menolongmu, kau tahu!"


"Tentu saja aku marah! Aku sudah membuat hidupmu, masa mudamu disini hancur! Aku memfitnahmu dan membuatmu dikucilkan! Tapi kau …! Tapi … kau …. Apa hal itu tidak membuatmu membenciku?! Seharusnya kau mengutukku dan membenciku sampai mati! Harusnya seperti itu! Tapi kenapa kau malah …. Aku tidak mengerti! Aku tidak mengerti! Aku tidak mengerti!"


Tiba-tiba air mata keluar dari mataku tanpa aku sadari. Kata-kataku yang keluar dari mulutku juga semakin tidak jelas. Tapi setelah semua kata-kata dariku itu, ia masih saja bertingkah seperti orang bodoh yang tidak tau apa-apa.


"Kenapa … kenapa kau masih mau menolongku?"


Ia terdiam sebentar. Bertingkah seperti sedang memikirkan sesuatu. Dan setelah beberapa saat, ia kemudian menjawabnya dengan ragu.


"Mm … itu … karena kau adalah teman sekelasku, mungkin?"


"Ja-Jawaban macam apa itu?! Apa kau bercanda?! Sebenarnya apa yang ada di dalam kepalamu?! Kau ini bodoh?! Dungu?! Atau jangan-jangan sangat bodoh?!"


Satou-kun tiba-tiba terdiam lalu menatapku. Ia kemudian berjalan mendekat kearahku dan berlutut agar wajah kami sejajar.


Aku yang masih tenggelam dalam rasa campur aduk antara takut, bingung, dan sedih pun kemudian menatap balik wajahnya. Ia kemudian mengatakan sesuatu kepadaku.


"Karena itu adalah kau …."


"Ap-Apa …?"


"Aku menolongmu karena itu adalah dirimu. Karenamu yang selalu baik kepada semua orang di sekolah. Karena hal-hal kecil yang telah kau lakukan padaku dulu, meskipun aku tau kau pasti sudah melupakannya. Dirimu yang seperti itulah yang membuatku ingin menolongmu.


Meski aku tidak bisa bohong kalau aku marah kepadamu saat kau memfitnahku. Tapi tetap saja aku ingin menolongmu. Lagipula aku tidak perlu alasan untuk menolong orang yang sedang kesulitan, kan?"


Ia membuat sebuah senyum kecil di akhir kalimatnya. Aku hanya bisa terdiam sambil menahan tangisanku. Aku menunduk dan menghindari kontak mata dengannya lalu bertanya satu hal untuk memastikannya.


"Bahkan setelah semua yang kulakukan padamu?"


"Nn."


"Setelah kau melihat diriku yang sebenarnya?"


"Nn."


"Apa kau bodoh? Aku bisa saja menghianatimu lagi, mencoba menyingkirkanmu dari sini lagi. Aku sudah berbuat hal jahat kepadamu. Meski begitu … apa kau … masih mau menolongku?"


"Aku ingin mengajarkanmu tentang dunia ini. Tidak semua hal yang kau inginkan bisa kau dapatkan. Kadang-kadang dunia juga bisa kejam, bahkan untuk orang sepertimu, Hasuki-san."


Begitu ya. Dia menyelamatkanku dan melupakan hal buruk yang aku perbuat di masa lalu kepadanya hanya untuk memberitahuku akan hal itu. Dasar … orang bodoh ini.


Plak…


"Oi! Kenapa kau menampar—"


"Kumohon diamlah sebentar saja! Biarkan aku seperti ini dulu!"


Ucapannya terhenti saat aku memeluknya dan menangis keras di pelukannya. Dia sepertinya sedikit terkejut dengan perubahan sikap yang aku lakukan kepadanya. Tentu saja, aku adalah orang yang menghancurkan hidupnya di sekolah ini, tapi malah berakhir menangis seperti bayi di pelukannya.


"Iya, iya, lakukan sesukamu," ucapnya sambil sedikit tertawa.


Di belakang kami berdua, tanpa kusadari ada yang sedang memperhatikan kami yang kemudian langsung pergi menuju ke bawah.


**

__ADS_1


Iraya PoV


Mengajarimu tentang dunia? Ahaha … kenapa ucapan seperti itu bisa keluar dari mulut orang sepertiku. Mungkin aku telah jadi sedikit sombong.


Kesampingkan dulu hal itu. Saat ini aku telah berhasil menjalankan rencana utamanya, yaitu membalaskan dendamku kepada Hasuki Chifu. Sepertinya kata-kata 'ingin mengajarinya tentang dunia ini' hanyalah omong kosong belaka. Pada akhirnya, yang aku lakukan tidak lain hanyalah balas dendam.


Aku tidak tau apakah ini hal yang baik atau tidak. Tapi melihatnya menangis seperti tadi di pelukanku mungkin adalah kejadian yang tidak akan pernah aku alami lagi. Mungkin.


Setelah beberapa lama saat dia sudah lelah menangis. Hasuki-san kemudian berdiri—begitu juga denganku. Kami berdua memutuskan untuk kembali ke kelas.


"Ayo kita kembali ke kelas."


"Ayo."


Kami berdua pun kembali ke kelas. Dan saat sampai disana, kami disambut oleh teman sekelas lainnya. Tubuh Hasuki-san saat aku bertemu dengannya sudah lecet dan kotor, mungkin Lizard itu yang melakukannya. Tapi selama dia baik-baik saja, kurasa tidak akan ada masalah.


Para anak perempuan yang khawatir melihat keadaan Hasuki-san kemudian menanyakan keadaannya.


"Hasuki-san, kau tidak apa-apa? Tubuhmu penuh luka!"


"Aku tidak apa-apa. Lagipula ada seseorang yang menolongku jadi aku sudah tidak apa-apa," ucapnya dan tanpa kusadari melihat kearahku.


"Siapa yang melindungimu?"


"Ahaha … bukan siapa-siapa!"


Sementara para anak laki-laki yang dari tadi bersiaga di dalam kelas berjaga-jaga apabila ada Lizard lagi yang muncul, kali ini bisa beristirahat sedikit. Karena aku sudah memberitahu mereka kalau semuanya sudah dikalahkan. Kudou dan Hira kemudian bertanya kepadaku.


"Iraya, apa kau baik-baik saja?" tanya Kudou.


"Sebenarnya apa yang kau lakukan sampai meninggalkan kelas? Kami jadi harus bersiaga terus disini." Hira juga ikut bertanya.


"Ahaha … maafkan aku karena membuatmu harus berurusan dengan hal seperti ini. Tapi tenang saja, semuanya sudah baik-baik saja saat ini."


Setelah berbicara dengan Kudou dan Hira, aku melihat Herlin yang sedang duduk sendirian di tempat duduknya sambil memainkan hp miliknya. Aku pun menghampirinya.


"Yo."


"Sepertinya rencanamu berjalan lancar, ya?"


Herlin tidak menjawabku dan malah bertanya balik kepadaku. Ia juga tidak melihat kearahku dan hanya fokus ke hp nya.


"Apa ada sesuatu yang salah, Herlin?"


"Apa kau bersenang-senang diatas sana?"


"Bersenang-senang?"


"Iya, sepertinya begitu. Hehe …."


"Begitu."


Herlin tiba-tiba berdiri dan memasukkan HP-nya ke dalam tas. Ia kemudian menatapku seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Jangan lupa latihan seperti biasa sore ini."


A-Apa ini? Sebenarnya nada bicaranya biasa saja. Tapi kenapa aku merasakan perasaan ingin membunuh di dalam tatapan biasa dan kata-kata biasanya itu. Apa aku sudah berbuat kesalahan? Karena aku yakin kalau itu ditujukan kepadaku.


Hasuki-san tiba-tiba berjalan ke depan kelas dan kemudian mengumumkan sesuatu.


"Ehehem …. Semuanya! Untuk merayakan kita semua selamat dari kejadian ini, bagaimana kalau malam ini kita mengadakan pesta di rumahku? Anak laki-laki juga boleh datang kok."


"Benarkah?"


"Ini hebat sekali, aku belum pernah ke rumah Hasuki-san."


"Apa ada makanan yang bisa kubawa pulang kerumah ya disana?"


Beberapa reaksi para murid yang terkejut karena Hasuki-san tiba-tiba mengajak mereka kerumahnya. Sementara aku malah terbayang kejadian buruk yang pernah kualami dirumahnya. Membayangkan hal itu hanya membuatku tersenyum getir. Oh iya, bagaimana kalau aku mengajak Herlin juga.


"Herlin, apa kau—"


"Aku tidak ikut."


"…."


Dia menolakku bahkan sebelum aku sempat mengatakan sesuatu.


**


*Rumah Hasuki, 19.45*


Malam harinya, kami berdua akhirnya datang ke rumah Hasuki-san dan Herlin datang dengan paksaan dariku dan sedikit mantra dari Aiza-san. Aku tidak tahu apa yang dikatakan oleh Aiza-san sampai akhirnya Herlin mau datang. Tapi yang penting kami berdua sudah sampai dirumahnya. Walaupun sepertinya kami yang paling terakhir datang.


"Ternyata kau mau datang, ya? Apa-apaan penolakan sebelumnya."


"Aku pulang, nih."


"Ja-Jangan! Kumohon maafkan aku."

__ADS_1


Herlin juga kali ini memakai pakaian yang beda dengan sehari-harinya. Biasanya ia hanya memakai hoodie hitam dan rok pendek hijaunya. Tapi sekarang ia memakai pakaian yang lebih rapi dan lebih bagus.


Ia juga masih memakai gaya rambut ponytail dan kacamatanya. Entah kenapa hanya ada satu kata untuk mendeskripsikan penampilannya sekarang. 'SUPER IMUT' tapi aku tidak bisa memberitahunya.


Kami disambut oleh para maid dan servant milik keluarga Hasuki. Aku mengenal wajah beberapa dari mereka, tapi aku mencoba melupakan apa yang mereka perbuat padaku sebelumnya. Meskipun aku yakin kalau mereka masih ingat denganku, tapi mereka masih melayaniku dengan baik. Seperti yang diharapkan dari pelayan keluarga kelas atas.


Saat masuk ke dalam rumah, kami langsung disambut oleh Hasuki-san yang sepertinya sudah menunggu kami dari tadi.


"Wah Satou-kun! Ririsaka-san! Akhirnya kalian datang juga."


"Ya, ada sedikit masalah di jalan tadi."


"Kalau begitu silahkan naik ke atas, pestanya ada di lantai atas."


Kami berdua mengikutinya dan saat diatas aku melihat hampir semua teman sekelasku ada disana. Sepertinya mereka tidak mau melewatkan kesempatan langka ini. Apalagi makanan disini semuanya enak dan mahal. Orang bodoh mana yang mau melewatkan hal seperti ini.


"Silahkan nikmati pestanya, aku akan bergabung dengan mereka duluan. Hei! Sedang membicarakan apa?"


Hasuki-san kemudian pergi bergabung dengan teman-temannya yang sedang asik berbincang. Aku juga berniat begitu dan menengok ke belakang, berniat mengajak Herlin untuk ikut bergabung bersama mereka.


"Herlin, bagaimana kalau kita—"


Tapi dia sudah menghilang. Anak itu, baru lepas dari pandangan sedikit saja sudah hilang entah kemana. Aku mencari kemana kiranya dia pergi dan menemukan kalau pintu ke balkon terbuka. Aku pun keluar dari pintu itu dan melihat Herlin yang sedang termenung melihat ke arah langit malam.


"Herlin, ayo kita kembali ke dalam."


"Aku tidak mengerti."


"Hn?"


"Kenapa kau mau menolongnya? Sebelumnya aku memang bilang kalau aku akan membantumu, tapi dari yang kudengar di atap tadi, perlakuannya kepadamu sudah keterlaluan. Apa kau tidak apa-apa dengan semua itu? Apa kau tidak membencinya?"


"Tentu saja aku marah saat ia menyebar rumor itu. Dan hal itu tidak bisa dianggap sepele. Tapi …."


"Tapi?"


"Tapi entahlah, aku merasa kalau aku memang harus melakukannya. Bukankah sudah kubilang kalau aku ingin mengajarinya tentang dunia ini? Lagian dengan membuatnya ketakutan dan kotor seperti saat di atap itu, kurasa aku sudah cukup puas."


"Aku masih belum mengerti, bukankah itu sama sekali tidak sebanding?"


"Bukankah sudah kubilang saat kita berada di depan gua itu?"


Herlin kemudian mengingat kata-kata yang aku ucapkan saat ingin menangkap beberapa Lizard. Ia kemudian menggumamkannya sendiri.


"'Bodoh', ya?"


"Nn! Itu adalah hal yang bodoh."


"Aku masih tidak mengerti. Aku hanya akan semakin bodoh jika terus bertanya padamu."


"Ahahaha … tenang saja, bodoh itu tidak menular."


"Apa kalian berdua adalah temannya Chifu?"


Tiba-tiba ada seseorang yang muncul dibelakang kami. Aku refleks menengok kearahnya. Aku sama sekali tidak merasakan keberadaannya di belakangku selama ini. Aku melirik kearah Herlin dan sepertinya dia juga terkejut dengan hal ini. Berarti dia bukan orang biasa. Apakah Exception?


Seorang pria yang berumur sekitar 40-an tahun. Dengan sedikit rambut putih di sekitar akar rambut dan kerutan yang tidak terlalu banyak. Membuatnya terlihat berkharisma ditambah pakaian jas yang sangat rapi. Apa dia salah satu servant disini? tapi tadi dia memanggil Hasuki-san dengan sebutan Chifu. Apa mungkin jabatannya lebih tinggi?


"Be-Benar, kami berdua adalah teman sekelas dari Hasuki-san."


"Bukankah pestanya ada di dalam? Sangat tidak etis jika seorang tamu yang sudah diundang tiba-tiba pergi dari pesta tanpa izin."


"Ma-Maafkan kami. Herlin, kau juga minta maaf!"


"A-Aku minta maaf."


Ia kemudian memperhatikanku dari atas sampai bawah. Seperti memikirkan sesuatu. Pria itu kemudian berbicara lagi.


"Hmm … kalau tidak salah, kamu adalah orang yang menyelamatkan Chifu dari serangan makhluk buas itu pagi tadi, ya? Chifu cerita sedikit tentang dirimu. Aku mengucapkan terima kasih karena telah menyelamatkannya. Aku sangat menghargai hal itu."


"Ahh …! I-Itu bukan apa-apa, aku juga senang bisa membantunya."


Tiba-tiba seseorang memanggil pria itu dari dalam ruangan. Ia adalah Hasuki-san.


"Ayah! Ayah dari mana saja? Aku mencari ayah dari tadi. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan ayah. Eh? Satou-kun dan Ririsaka-san?"


"Ayah?"


"Baiklah, ayah akan segera kesana. Kau temani saja temanmu ini, ya?"


Sebelum ia benar-benar pergi, Pria itu—Ayah Hasuki-san sempat menggumamkan hal yang membuatku dan Herlin terkejut. Tapi setelah itu ia berjalan pergi dari situ.


"Makhluk yang menyerang sekolah kalian itu. Dia buta, biasa bergerak sendirian, dan sebagian besar hidupnya dihabiskan di dalam gua. Aneh sekali jika mereka menyerang gedung sekolah secara bersamaan, mereka seperti sedang dikendalikan oleh seseorang."


"Oi, Herlin …."


"Tenang saja, itu hanya dugaannya. Sekarang ayo kita nikmati pestanya."


Sifatnya berubah cepat sekali. Tapi kehadiran orang misterius itu menggangguku. Dia mengetahui kalau Lizard itu dikendalikan oleh Herlin. Ayah Hasuki-san, aku tidak terlalu merasakannya dengan jelas, tapi auranya benar-benar berbeda dari orang biasa.

__ADS_1


Meskipun begitu aku tidak memikirkannya terlalu lama dan pada akhirnya bergabung dengan yang lainnya untuk menikmati pesta ini.


Bersambung


__ADS_2