
Menjemput member Rainbow Cookies sudah kami lakukan. Mereka juga sudah masuk ke dalam ruangan tempat mereka menunggu di belakang panggung.
Konsernya memang dimulai pada pukul 7 malam, tapi mereka datang jam segini karena harus melakukan beberapa hal lain seperti rehearsal, mengatur urutan lagu, latihan di atas panggung sungguhan, dan lainnya.
Benar-benar pekerjaan yang melelahkan pikirku. Padahal konser sebenarnya masih beberapa jam lagi. Aku bahkan merasa kalau tugasku sebagai bodyguard lebih mudah karena hanya perlu menjaga konser ini tetap kondusif— yang mungkin sepertinya jarang terjadi kerusuhan di konser idol seperti ini.
Tapi mereka harus terus tersenyum mulai dari jam 7 sampai selesai, mempertahankan gerakan dance mereka tetap serasi, dan hal lainnya. "Ternyata mereka memang benar-benar hebat, ya?" Aku menggumam, ketika melihat mereka saat ini berada di atas panggung sedang latihan.
"Kau sudah bilang itu sebelumnya," jawab Herlin.
"Tapi tetap saja aku harus bilang begitu." Herlin kemudian juga melihat ke arah mereka yang kini telah berada di akhir gerakannya.
Mereka berlima kemudian mendekat perlahan dan gerakan mereka diakhiri dengan mengangkat tangan kanan secara bersamaan lalu menunjuk ke atas seolah kalau mereka adalah nomor satu dan bintang acara ini.
"Uwaahh!!"
"Hebat! Hebat! Rainbow Cookies memang hebat!"
"Wangi! Arisu-chan, Ayamy-chan, Pecola-chan wangi!"
"Ria-chan dan Edna-chan juga tidak kalah wangi, woi!"
"Kau benar, mereka semua memang wangi!"
Sorakan dan tepuk tangan para staff memenuhi dome ini ketika Rainbow Cookies selesai melakukan latihannya. Orang-orang ini benar-benar penggemar berat mereka, ya? Pantas saja tidak ada yang memenuhi persyaratan Arisu.
Herlin dan Oukami kemudian naik ke atas panggung sambil membawa beberapa botol minum untuk mereka. Aku menengok ke sampingku dan menyadari kalau Herlin sudah tidak ada di sana.
Arisu, Ayamy, dan Pecola mengambil minuman yang dibawakan oleh Oukami. Sementara Ria dan Edna berlari ke arah Herlin dan mengerumuninya, Ria bahkan memeluk Herlin terlebih dahulu sebelum mengambil minumannya.
"Wah! Herlin-chan!" ucap Ria semangat.
Sementara Herlin yang dipeluk hanya menjauhkan kepalanya sedikit dan tidak bisa apa-apa selain membiarkannya. "Ke-kerja bagus." Hanya itu yang bisa Herlin katakan saat ini.
Mereka sepertinya sudah akrab— atau lebih tepatnya Ria dan Edna yang tertarik pada Herlin dan terus mendekatinya dan mengajaknya bicara. Meskipun sudah diperingatkan oleh Arisu untuk tidak mengganggu Herlin, tapi sepertinya mereka tidak memperdulikan hal itu.
"Bagaimana penampilanku barusan? Apa bagus?! Apa terlihat keren?!"
"Ya, kau telah melakukan yang terbaik."
Herlin kemudian mengelus kepala Ria yang terlihat senang diperlakukan seperti itu dan respon 'Yey!' keluar sebelum akhirnya Ria meminum air yang dibawakan Herlin. Selain itu, Herlin juga sadar kalau ada satu orang lagi yang memperhatikannya.
Edna terus melihat Herlin yang sedang mengelus kepala Herlin dengan ekspresi iri dan menggembungkan pipinya. Tentu saja Herlin menyadari hal itu. Ia memanggilnya dengan tangannya beberapa kali dan Edna mengerti maksud Herlin.
Wajahnya langsung berubah ceria dan dengan cepat mendekat ke Herlin supaya juga bisa dielus. Aku melihat wajah Herlin dari atas panggung seolah bisa menebak apa yang dipikirkan olehnya saat ini.
'Kenapa bisa jadi seperti ini?' Kira-kira seperti itu wajah Herlin yang bisa aku baca. Padahal umur Ria setara dan Edna lebih tua satu tahun, tapi kenapa mereka jadi manja padanya. Aku tidak mengerti.
"Sejak kapan mereka jadi akrab seperti itu?" tanya Ayamy melihat pemandangan langka di depannya.
"Entahlah, padahal mereka baru bertemu sekitar ... entahlah, dua jam?" Pecola juga bingung. "Lebih tepatnya satu setengah jam." Dan Arisu membenarkan tebakan Pecola. Meskipun mereka masih belum tahu penyebab keduanya bisa manja begitu pada Herlin.
Tapi mereka bertiga sepertinya paham satu hal tentang hal ini. Benar, ini adalah hal yang bagus. Para staff juga menyukai pemandangan hangat seperti ini. Aku melihat ke belakangku dan ekspresi mereka seakan merasa diberkahi karena melihat hal itu.
Tapi Arisu menghampiri mereka lagi agar mereka bisa latihan ke lagu selanjutnya, dan Herlin pun juga turun dari panggung. Gladiresik Rainbow Cookies berjalan lancar tanpa ada hambatan berarti dan waktu tanpa sadar sudah hampir menunjukkan jam 7 malam.
Penonton sudah mulai masuk ke dalam dome dan secara teratur duduk di barisan mereka masing-masing sesuai tiket yang mereka beli. Padahal konsernya akan dimulai setengah jam lagi, tapi sudah tidak ada lagi kursi kosong yang tersisa.
Sementara di belakang panggung, para anggota Rainbow Cookies sudah memakai kostumnya dan hanya menunggu waktunya untuk tampil saja. Jadi tidak ada yang bisa dilakukan selama setengah jam ini selain menunggu.
Sementara aku berjaga tepat di bawah panggung untuk menghalau jika ada orang-orang anarkis yang ingin menerobos naik ke atas panggung. Di tempat ini ada aku, Ishikawa-san, Akihito-san, dan Mei-senpai.
Herlin, Caramel, dan Nigiyaka-san berjaga di tempat lain seperti lorong ke ruangan menunggu Rainbow Cookies, pintu masuk, dan juga pintu keluar. Dan tentu saja kami juga mendapat tambahan orang dari divisi keamanan yang berbeda.
Semua persiapan, rasa berdebar, keramaian, dan semua ketegangan itu membuat waktu berlalu dengan cepat dan konser pun akan segera dimulai.
"Wooaah!"
Penonton terkejut kagum karena lampu konser padam secara berurutan dan samar-samar dalam kegelapan mereka bisa melihat lima orang berlari kecil naik dari arah belakang panggung.
Aku dapat mendengar suara seseorang menarik nafasnya lembut di depan mic dan bersamaan dengan itu, lampu panggung yang tadinya padam secara berurutan kali ini menyala bersamaan ditambah dengan kembang api di samping panggung.
"SEMUANYA, APA KALIAN SUDAH SIAP?!!"
"YYEEAAAHHH!!"
"Terima kasih telah datang ke konser kami, dan silahkan .... NIKMATI PERTUNJUKKANNYA!"
"BERSAMA KAMI ...."
"... Ria Aderia, Si kecil manis kesayangan semua orang!"
__ADS_1
"... Akai Edna, kecantikan merahku akan terus membuatmu terjaga!"
"... Oniri Ayamy, jangan terlalu lama melihatku, loh! Nanti kamu jatuh cinta!"
"... Usagi Pecola, aku akan memberikan pengalaman yang tidak akan bisa kalian dapatkan dari orang lain!"
"... Dan yang terakhir adalah aku! Koyomi Arisu, Idol nomor satu seantero Jepang!"
"UWWOOOGHHH!!"
Mereka semua memperkenalkan diri dengan gaya dan catchphrase mereka masing-masing. Dan setelah itu, mereka pun mulai bernyanyi.
Penonton menggila ketika bait pertama lagu mulai dinyanyikan oleh Arisu. Musik yang dibawakan pun juga terdengar catchy sehingga penonton sampai berjingkrak-jingkrak karena nadanya.
Sementara aku yang berada tepat di depan panggung tidak bisa memalingkan mataku. Ini adalah pertama kalinya aku datang ke konser seperti ini. Tapi aku tahu kenapa mereka dijuluki sebagai Idol grup nomor satu di Jepang.
"Hebat."
Kata-kataku tenggelam bersama dengan riuh keramaian penonton. Mungkin kata-kata itu sudah basi. Tapi aku tidak bisa berhenti mengatakannya, bahkan mulutku tidak bisa berhenti menutup dan tanpa sadar tubuhku merinding kagum.
"A-RI-SU-CHAN!"
"RIA! RIA! ADERIA!"
Sorakan serta chant tidak berhenti dikumandangkan oleh penonton selama lagu berjalan. Dan setelah empat menit lebih telah berlalu yang aku lewati dengan rasa kagum, lagu pertama telah selesai.
"UWOOOGHH!!"
Lagu pertama mereka berakhir dengan iringan tepuk tangan dari penonton. Meskipun sedikit terengah-engah dan keringat yang mulai mengucur, senyuman di wajah mereka dari awal lagu tidak pernah hilang.
"APA KALIAN SIAP DENGAN LAGU SELANJUTNYA?!!!"
"SIIIAAPPP!!"
"Eh? Tanpa istirahat sedikit pun?" tanyaku.
"Itulah yang menjadi ciri khas mereka, jeda antara satu lagu dengan lagu berikutnya sangat singkat atau bahkan tidak ada jeda sama sekali seperti saat ini. Jeda paling lama mereka kira-kira sekitar lima menit."
"Jadi begitu." Aku semakin kagum dengan fakta itu. Tapi ada satu hal yang janggal. "Tunggu, kau ini siapa?" Aku baru sadar kalau dia adalah orang yang tidak kukenal.
"Aku? Aku hanya sukarelawan yang menjadi bantuan di divisi keamanan. Sekaligus aku fans berat mereka! Pada akhirnya aku berhasil bisa menjadi sukarelawan dan menonton dalam jarak sedekat ini!"
Mengabaikan itu, mataku kembali fokus pada penonton di depanku. Tapi selama satu jam atau satu sesi, tidak ada kejadian yang terlalu menyulitkanku. Paling hanya penonton yang dorong-dorongan atau terlalu heboh sampai jatuh.
"Sampai jumpa sebentar lagi di sesi kedua!" ucap Arisu yang kemudian berjalan ke belakang panggung bersama dengan yang lainnya.
Satu sesi berlangsung selama satu jam, setelah itu mereka akan beristirahat selama sepuluh sampai dua puluh menit. Setelah itu, mereka akan masuk ke sesi kedua yang berlangsung selama dua jam dan acaranya pun berakhir.
Karena ini konser tunggal, oleh karena itu tidak ada penampil lain yang diundang ke acara ini. Jadi di sela acara, penyelenggara mengisinya dengan games dan sekedar bagi-bagi souvenir bagi beberapa orang yang beruntung.
Kembali lagi ke para member Rainbow Cookies yang saat ini sedang beristirahat. Kebanyakan mereka tidak melakukan apapun selain istirahat dan mengembalikan stamina mereka. Karena lagu dengan intensitas tinggi yang mereka nyanyikan sebelumnya, wajar kalau mereka kelelahan.
"Fyuuh .... Cukup melelahkan juga, ya?"
"Iya. Tapi entah kenapa aku tidak terlalu lelah seperti sebelumnya. Aku tidak percaya ini, tapi latihan neraka untuk meningkatkan stamina yang dilakukan oleh harus kuakui berhasil."
"Aku rasa kau benar."
Ayamy dan Pecola melihat ke arah Arisu yang sedang mengelap keringatnya dengan handuk kecil. Tidak ada ekspresi kelelahan sedikit pun darinya meskipun keringat memang banyak pada wajah dan tubuhnya.
"Ada apa?"
Arisu yang menyadari kalau dia diperhatikan oleh mereka berdua kemudian bertanya. Tapi tidak ada yang mau memberitahu jawaban sebenarnya.
"Tidak, aku berpikir kalau kau mirip iblis."
"Benar, aku setuju."
"Kalian ini tidak sedang menghinaku, kan?" ucap Arisu datar.
"Uwaah! Aku lelah sekali! Aku ingin Herlin-chan ada di sini dan memberikanku minuman."
"Ooh! Aku juga mau!"
Sementara Ria dan Edna yang kelelahan masih terus mengeluh dan meminta hal yang tidak masuk akal seperti tadi. "Dia sedang ada di tempat lain, lagipula kenapa kalian berdua bisa dekat dengannya, sih?" tanya Arisu.
"Habisnya ini pertama kalinya aku punya bodyguard yang seumuran denganku dan wajahnya juga sangat cantik seperti boneka! Apa kita bisa merekrutnya menjadi anggota ke-enam, Arisu-senpai?" pinta Ria.
"Jangan minta hal yang tidak mungkin." Arisu memukul lembut kepala Ria yang kemudian bereaksi 'aduh' dan membuat semuanya tertawa.
Selagi mereka beristirahat dan bercanda, di luar ruangan Nigiyaka-san sedang menjaga ruangan itu agar tidak ada orang yang tidak menerobos masuk ke dalam situ.
__ADS_1
Tiba-tiba seorang laki-laki membawa sebuah jinjingan yang berisi beberapa botol minuman berenergi yang sengaja disiapkan untuk para member Rainbow Cookies.
"Permisi, di mana aku bisa menaruhnya?"
"Ya, kau bisa menaruhnya di situ."
"Baik."
Setelah interaksi singkat itu, laki-laki tadi pergi dengan tenang melewati Nigiyaka-san. Tapi sekilas Nigiyaka-san sempat memandanginya dengan lebih teliti. Meskipun ia tidak yakin, tapi ada sesuatu yang mengganggu benaknya ketika melihat orang itu.
"Apa aku pernah bertemu dengannya sebelumnya?" ucap Nigiyaka-san kecil.
Tapi lagi-lagi ia tidak memperdulikannya dan membawa minuman energi tadi ke dalam. Sementara laki-laki tadi mengeluarkan telepon dari dalam sakunya ketika ia sudah cukup jauh dari lorong tadi.
"Semuanya sudah siap."
"Baik."
"Tapi aku masih tidak percaya kalau Nimis ada di sini, itu berarti ada kemungkinan kalau yang lainnya juga ada di sini."
"Ya." Lennova kali ini berada di antara kerumunan penonton. Ia juga ikut menyamar karena dia adalah otak dari rencana kali ini. Lennova kemudian menemukan sesuatu yang menarik. "Aku juga melihatnya. Black Rain, ya? Apa yang mereka lakukan di sini?"
"Aku ragu kalau mereka tahu rencana kita."
"Kau benar, mungkin itu hanya kebetulan saja. Tetap jalankan sesuai rencana."
"Aku mengerti."
Mereka pun mengakhiri pembicaraan mereka. Lennova kemudian berdiri dan berjalan mendekati panggung tapi masih dalam keadaan bercampur dengan penonton yang lain.
"Baiklah." Kali ini ia sudah di posisinya. Sekitar 10 meter dari panggung dan jarak yang cukup aman dan sulit untuk dilihat—terlebih tubuhnya juga kecil. "Saatnya giliranku."
Istirahat sebentar yang dilakukan oleh Rainbow Cookies telah selesai dan mereka kembali naik ke atas panggung. Suasananya juga mirip seperti sesi pertama dan para penonton sudah tidak sabar untuk mendengarkan nyanyian para Idol mereka lagi.
Dan suasananya persis seperti pada sesi pertama. Arisu yang memulai dan menyapa penonton, lampu juga menyala secara bersamaan, dan sebagainya. Tapi kali ini akan ada satu perbedaan.
Mula-mula Lennova melempar sebuah pisau lipat yang ia lakukan secara mendatar ke arah salah satu bodyguard sukarelawan. Ia pun mengambilnya dan mengamankannya karena merupakan barang yang berbahaya.
Setelah itu masih ke orang yang sama, Lennova kali ini melemparkan sebuah kartu remi dan jatuh tepat di depannya.
"Kartu?" Bodyguard itu bingung karena tiba-tiba ada sebuah kartu yang terlempar ke arahnya. "??!!" Tapi sesaat kemudian sinar di matanya memudar dan kendali tubuhnya bukan menjadi miliknya lagi.
Card Control.
Itu adalah kemampuan yang dimiliki oleh Lennova yang membuat seseorang yang memiliki kekuatan di bawah dirinya dapat dikontrol seenaknya oleh Lennova.
Secara aneh, ia mulai berjalan menuju ke atas panggung lewat tangga yang telah disiapkan. Dan tentu saja ada orang lain yang menyadari gerak gerik anehnya—kebetulan yang menyadari hal itu adalah aku.
Eh? Kenapa orang aneh itu naik ke atas panggung? Apa yang dia pikirkan. Tapi ketika aku memperhatikannya lebih teliti lagi, ada sesuatu di tangannya yang sangat berbahaya dan dia mengincar salah satu dari mereka.
Jarakku dengannya sudah terlalu jauh sehingga aku tidak sempat mengejarnya, jadi yang bisa aku lakukan adalah berteriak memberitahu Arisu.
"Arisu! Awas!"
"??!!"
"HEEYYAAHH!!!" Orang itu mengarahkan pisau lipatnya ke arah perut Ria yang hanya bisa terkejut dan terlambat untuk menghindar.
Mata Ria terbelalak dan sedetik kemudian ia menutup mata karena tidak ingin melihat apa yang akan terjadi padanya. Tapi ada sesuatu yang ia dengar ketika matanya tertutup.
Zwuuushhh...
Saat Ria membuka matanya, ternyata sudah ada Arisu yang menahannya dan membuat orang yang ingin menusuknya terpental.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Arisu.
"Te-terima kasih, Senpai."
Seketika waktu serasa berhenti berputar. Keheningan karena lagu yang tiba-tiba berhenti dan penonton yang masih kebingungan dengan apa yang terjadi.
Saat mereka pikir keadaannya sudah kondusif, tapi kenyataannya salah besar. Karena itu hanyalah awal dari sebuah bencana di tempat itu. Tiba-tiba satu penonton bertingkah aneh yang kemudian diikuti oleh penonton lainnya.
Tingkah mereka sangat aneh dengan sikap agresif seperti ingin melindungi sesuatu. Dan mereka semua menyebutkan sebuah kalimat yang terus diulang-ulang. "Lindungi Rainbow Cookies. Lindungi Rainbow Cookies. Lindungi Rainbow Cookies." Mereka semua terus mengulang kata-kata itu seolah dipengaruhi dan berpegang dengan perintah tersebut.
"A-apa yang telah terjadi?" ucap Arisu.
Sementara di luar dome, di atap sebuah gedung. Beberapa orang memperhatikan kalau kekacauan akan segera dimulai.
"Akhirnya dimulai juga, ya," ucap Astaroth.
Bersambung
__ADS_1